Friday, 20 March 2026

Cerpen - Takbiran yang Sunyi, By: Khoirul Taqwim


Malam takbiran kembali datang.

Langit bertabur gema takbir yang bersahutan dari masjid ke masjid, dari pengeras suara kecil hingga yang menggema ke seluruh penjuru kampung. Dulu, suara itu terasa seperti panggilan pulang—menggetarkan hati dengan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Namun malam ini, semua terasa berbeda.

Aku terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhku belum sepenuhnya pulih. Obat-obatan masih tersusun rapi di meja kecil di sampingku, menjadi saksi bahwa tahun ini bukan tahun yang biasa.

Tak ada suara ayah yang biasanya sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Tak ada bunda yang mondar-mandir di dapur, memasak hidangan khas lebaran dengan penuh cinta.

Semua itu… kini hanya tinggal kenangan.

Aku memejamkan mata.

Sejenak, aku mencoba kembali ke masa kecil itu. Saat aku masih berlarian di halaman rumah, memegang kembang api, tertawa tanpa beban. Ayah tersenyum melihatku dari kejauhan, sementara bunda memanggilku masuk karena hari sudah larut.

“Besok kita sholat Ied bersama, ya,” kata ayah waktu itu.

Dan aku mengangguk penuh semangat.

Kini, suara itu hanya bergema dalam ingatan.

Tak terasa, air mata mengalir perlahan. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku rindu—rindu yang tak punya tempat untuk pulang.

Lebaran dulu terasa begitu penuh. Sekarang… terasa ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh apa pun.

Apalagi tahun ini, aku bahkan tak bisa mudik.

Tak bisa menjejakkan kaki di tanah kampung. Tak bisa berziarah. Tak bisa sekadar duduk diam di halaman rumah lama sambil mengenang.

Aku benar-benar sendiri dalam sunyi.

Namun di tengah kesunyian itu, suara takbir tetap mengalun. Pelan… tapi pasti. Seolah mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang tidak pernah berubah.

Aku menarik napas panjang.

Mungkin benar, lebaran bukan hanya tentang berkumpul. Bukan hanya tentang pulang secara fisik.

Tapi tentang kembali… kepada hati yang lebih sabar. Kepada jiwa yang lebih ikhlas.

Aku menatap langit dari balik jendela kecil di kamarku.

“Pak… Bu…,” bisikku lirih, “aku rindu.”

Angin malam berhembus lembut, seolah membawa pesan yang tak terdengar, tapi terasa.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum kecil.

Karena aku sadar— meski mereka telah pergi, cinta mereka masih tinggal di sini.

Di dalam dadaku.

Lebaran ini memang sunyi, tapi tidak sepenuhnya hampa.

Masih ada kenangan. Masih ada doa. Dan masih ada harapan…

bahwa suatu hari nanti, aku akan merasakan hangatnya “pulang” lagi— meski dengan cara yang berbeda.

Takbiran terus bergema.

Dan di antara sunyi, aku belajar…

untuk tetap kuat.

No comments:

Post a Comment