Hari itu terasa berbeda. Udara begitu sunyi, seolah dunia ikut menahan napas. Aku terbaring lemah di atas ranjang, tubuhku terasa asing, seakan bukan lagi milikku sepenuhnya. Di antara suara detak alat dan bisikan waktu yang berjalan pelan, aku sadar—aku sedang berada di antara dua alam: kehidupan dan kematian.
Namun anehnya, aku tidak merasa takut.
Yang ada justru satu keinginan sederhana yang terus berulang di dalam pikiranku—menulis untukmu.
Tanganku gemetar saat meraih kertas di sampingku. Nafasku berat, tetapi hatiku terasa ringan. Aku ingin meninggalkan sesuatu, bukan tentang kesedihan, bukan tentang perpisahan yang menyakitkan, melainkan tentang kebahagiaan… tentangmu.
Aku mulai menulis.
Setiap kata yang kutorehkan terasa seperti denyut terakhir yang penuh makna. Aku menuliskan bagaimana pertemuan kita, yang mungkin bagi dunia biasa saja, justru menjadi luar biasa bagiku. Aku menuliskan bagaimana kehadiranmu mampu mengubah hari-hari yang dulu terasa sepi menjadi penuh arti.
Di luar, waktu terus berjalan. Namun di dalam diriku, semuanya melambat. Seolah semesta memberiku kesempatan terakhir untuk menyelesaikan perasaan yang belum sempat terucap sepenuhnya.
Aku berhenti sejenak, menutup mata, merasakan kehadiranmu dalam ingatan. Senyummu. Suaramu. Cara sederhana kau membuatku merasa hidup.
Jika ini adalah akhir, aku tidak ingin mengakhirinya dengan air mata.
Aku ingin pergi dengan rasa syukur.
Tulisan itu pun selesai. Sebuah puisi—tentang kebahagiaan karena pernah mengenalmu. Tentang cinta yang tidak menuntut untuk memiliki selamanya, tetapi cukup hadir dan memberi arti.
Aku tersenyum kecil.
“Jika Tuhan mengambil nyawaku hari ini,” bisikku dalam hati, “aku rela… karena aku sudah sempat menulis untukmu.”
Mataku mulai terasa berat. Suara di sekitarku perlahan menghilang. Namun anehnya, hatiku justru terasa semakin terang.
selamanya.







0 comments:
Post a Comment