Showing posts with label Ilmuwan Muslim. Show all posts
Showing posts with label Ilmuwan Muslim. Show all posts

Thursday, 9 July 2015

Ibnu Al-Baitar - Apoteker, Ahli botani, Dokter dan ilmuwan Muslim

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Malaqi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Al Ibnu Al-Baitar - Apoteker, Ahli botani, Dokter dan ilmuwan Muslim
Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Al-Baitar adalah ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada abad pertengahan. Ia juga dokter dan ilmuwan. Ibnu Al-Baitar juga telah mengungkapkan tentang potasium nitrat pada tahun 1240 M.


Biografi

Ibnu Al-Baitar lahir pada akhir abad 12 (1197) di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut. Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.

Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia.

Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan dipercaya menjadi kepala ahli tanaman obat. Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan.

Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi di sana.


Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrad (kitab mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab)

Malaqi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Al Ibnu Al-Baitar - Apoteker, Ahli botani, Dokter dan ilmuwan Muslim
Buku Al-Baitar
Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada. Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad 16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758.


Kitab al-Mughni fi al-adwiya al-mufrada (ensiklopedia obat-obatan dan khasiat tanaman)

Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mlughni fi al-Adwiya al-Mufrada yakni ensiklopedia obat-obatan. Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi.

Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan. Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta pengklasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain yakni kitab Al-Jami baru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahasan dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.


Karya lain
  • Mizan al-Tabib.
  • Risalah fi'l-aghdhiya wa-adwiya.
  • Maqāla fi'l-laymūn, Risalah tentang Lemon, juga telah dikaitkan dengan Ibn Jumac ; diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Andrea Alpago.
  • Tafsir Kitab Diyusqūrīdis, sebuah komentar pada empat buku pertama Dioscorides .

Wafat

Ibnu Al-Baitar meninggal di Damaskus pada tahun 1248. Dunia mengenangnya sebagai seorang yang paling berjasa dalam bidang ilmu tumbuh-tumbuhan, dan berpengaruhpenting dalam perkembangan ilmu botani.

Sebagian besar buku karya Ibnu al-Baitar berasal dari hasil penelitiannya selama beberapa tahun terhadap berbagai jenis tumbuhan. Tak hanya berisi hasil penelitian, buku tersebut juga di lengkapi penjelasan & komentar panjang. Di kemudian hari, karya-Karya Ibnu al-Baitar menjadi buku rujukan ilmu botani yang sangat penting. Kontribusi Ibnu al-Baitar tersebut sangat mempengaruhi perkembangan ilmu botani & kedokteran selanjutnya, baik di Eropa maupun Asia.

(berbagai sumber)

Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 19 March 2015

Mahbub ul Haq - Pengembang Human Development Index & Pendiri Human Development Report

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Mahbub ul Haq adalah Pakistani game theorist Mahbub ul Haq - Pengembang Human Development Index & Pendiri Human Development Report
Mahbub ul Haq 
Lahir: 24 Februari 1934 Jammu, Jammu dan Kashmir, India Kerajaan Inggris

Meninggal: 16 Juli 1998 (umur 64) New York, Amerika Serikat

Kebangsaan: Pakistan

Lembaga: Komisi Perencanaan ; Kementerian Keuangan ; Program Pembangunan PBB ; Bank Dunia ; University of Karachi ; Divisi Statistik

Bidang: Ekonomi ( Mikro )

Sekolah: Ekonomi heterodoks dan Teori Permainan

Alma mater: Universitas Punjab (BA) ; Kings College di Cambridge (BA) ; Yale University (Ph.D.)

Kontribusi: Teori permainan ; Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ; Laporan Pembangunan Manusia (HDR) ; Filosofi Pembangunan Manusia
Dr. Mahbub ul Haq adalah Pakistani game theorist, ekonom dan profesor ekonomi mikro di University of Karachi, Menteri Keuangan Pakistan ke- 13 yang menjabat dari 10 April 1985 sampai 28 Januari 1988.

Ia terlibat dalam teori pembangunan manusia (HDP), dan pendiri Human Development Report (HDR). Menurut buku Haq tahun 1996 Refleksi Pembangunan Manusia membuka jalan baru untuk proposal kebijakan untuk paradigma pembangunan manusia, seperti 20:20 Global Compact dan pembentukan Dewan Keamanan PBB Ekonomi yang menjadi inspirasi bagi pembentukan Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menjabat sebagai kepala ekonom dari Komisi Perencanaan selama 1960-an, dan thr direktur Bank Dunia Departemen Perencanaan Kebijakan pada 1970-an. Dia dikenal sebagai "juru bicara paling mengartikulasikan dan persuasif untuk negara berkembang".


Biografi

Mahbub ul Haq lahir sebelum kemerdekaan provinsi Punjab pada 24 Februari 1934. Di usia remaja ia melihat kekerasan agama yang terkait dengan independensi dari Pakistan dan India pada Agustus 1947. Ia dan keluarganya salah satu yang lolos dari pembunuhan oleh Sikh di salah satu kereta menuju Pakistan. Sifat dari kekerasan agama meninggalkan kesan abadi pada Mahbub ul Haq. Setelah mencapai Lahore, Haq diberi perumahan yang disponsori pemerintah dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Pada tahun 1954, ia diterapkan dan diterima di Universitas Punjab di mana ia terdaftar di departemen ilmu-ilmu sosial.

Pada tahun 1958 ia mendapatkan BS di bidang Ekonomi dan beasiswa yang diterima untuk melanjutkan studinya di Inggris. Dia melanjutkan studi di Cambridge University dan meraih gelar BA lain dalam disiplin yang sama.Di Cambridge, Haq memperoleh gelar BA bersama Amartya Sen yang menjadi sahabatnya seumur hidup. Setelah memperbarui beasiswa, Haq pergi ke Amerika Serikat untuk studi doktornya, Sistem ekonomi Amerika nantinya akan mempengaruhi dia untuk advokasi panjang bagi kapitalisme. Ia masuk dalam program doktor dari Universitas Yale dan memperoleh PhD di bidang Ekonomi dari Yale, yang diikuti oleh kerja pasca-doktoral di Harvard University. Setelah menyelesaikan studi pasca-doktoral, Haq kembali ke negaranya untuk bergabung dengan layanan pemerintah.


Kerja pemerintah

Setelah kembali ke Pakistan, Haq bergabung dengan Komisi Perencanaan.  Saat masih berusia 20-an ia menjadi kepala ekonom Komisi Perencanaan. Dia mempertahankan hubungan dengan Departemen Keuangan dan terus melayani sebagai penasehat ekonom pemerintah Pakistan.

Pada tahun 1960-an ia memberikan pidato di seluruh negeri. Dia mendukung kebijakan Presiden Ayub Khan. Haq menganjurkan kapitalisme sebagai basis ekonomi nasional dan membantu membimbing pemerintah untuk menerapkan prinsip-prinsip pasar bebas untuk meningkatkan perekonomian.

Dalam konferensi pers publik pada tahun 1965, Haq menuduh bahwa "22 kelompok keluarga industri telah datang untuk mendominasi siklus hidup ekonomi dan keuangan dari Pakistan dan mereka menguasai sekitar dua pertiga dari aset industri, 80% dari perbankan dan 79% dari aset asuransi dalam domain industri." Perkembangan ekonomi yang cepat membuat tim Haq meragukan kelangsungan hidup jangka panjang dari pola seperti pertumbuhan. Sementara masyarakat internasional memuji Pakistan sebagai model pembangunan, Haq memiliki kekhawatiran dan menimbulkan pertanyaan bahwa semua itu tidak baik dengan manfaat distribusi dari pertumbuhan. Ia datang sebagai kejutan untuk Haq bahwa oligarki yang kuat dari 22 keluarga memiliki kendali perekonomian nasional dan sektor swasta. Sementara mendukung menambahkan perpajakan keluarga berkuasa kuat, Haq meninggalkan negara itu pada tahun 1971, tepat sebelum perang 1971 yang memisahkan Pakistan Timur dari Bangladesh.

Di Inggris, Haq dipanggil oleh Bhutto untuk bergabung dengan Departemen Keuangan, tapi akhirnya menolak karena ia memiliki pandangan yang berlawanan dengan ekonomi sosialis. Bhutto, sebagai tanggapan, mulai menyerang keluarga berkuasa kuat dalam program nasionalisasi. Pada tahun 1973 Bhutto kembali meminta Mahbub untuk kembali ke Pakistan dan bergabung dengan pemerintahannya dalam merancang strategi yang akan mengangkat sejumlah besar Pakistan keluar dari kemiskinan dan stagflasi, namun ideologi perbedaan membujuk Haq untuk tidak kembali.

Pada tahun 1982 Haq kembali atas permintaan Jenderal Zia-ul-Haq, dan diasumsikan bertanggung jawab atas Departemen Keuangan. Dia menjadi terkait dengan Kementerian Pertahanan. Dia adalah ketua pertama dari Komite Eksekutif dari Komisi Space Research dan membantu dalam kebijakan senjata nuklir dengan Munir Ahmad Khan.


Karir Profesional 

Haq juga menjabat sebagai Direksi Perencanaan Kebijakan Bank Dunia (1970-1982) dan menuju Kementerian Keuangan Pakistan sebagai yang menteri keuangan dan perencanaan (1982-1988). Pada tahun 1989, ia diangkat sebagai Penasihat Khusus kepada UNDP Administrator, di mana dia memimpin tim ilmuwan internasional untuk menghasilkan Laporan Pembangunan Manusia pertama.


Bank Dunia (1970-1982)

Selama masa jabatannya di Bank Dunia (1970-1982), Haq mempengaruhi pengembangan  filsafat Bank dan kebijakan pinjaman, kemudian lebih banyak perhatian terhadap pengentasan kemiskinan dan program peningkatan alokasi untuk produksi pertanian kecil, gizi, pendidikan, air bersih dan sektor sosial lainnya. Dia menulis sebuah penelitian yang berfungsi sebagai prekursor untuk kebutuhan dasar dan pembangunan pendekatan manusia tahun 1980-an.


Menteri Keuangan, Pakistan (1982-1988)

Menjabat sebagai Menteri Keuangan, Perencanaan dan Perdagangan Pakistan (1982-1988), Haq dikreditkan dengan reformasi signifikan pajak, deregulasi ekonomi, peningkatan penekanan pada pembangunan manusia dan beberapa inisiatif untuk pengentasan kemiskinan. Menurut Parvez Hasan di bawah arahan Mahbub itu, Komisi Perencanaan sekali lagi menjadi tempat hidup dan mulai memberikan pengaruh yang kuat pada isu-isu sektor sosial, termasuk pendidikan dan keluarga berencana, banyak diabaikan dalam awal tahun - sebagai Menteri Keuangan.


Penasihat United Nations Development Programme (UNDP) (1989-1995

Dalam kapasitasnya sebagai Penasehat Khusus untuk Administrator UNDP, Haq memprakarsai konsep Pembangunan Manusia dan Human Development Report sebagai Direktur Proyek nya. Ia mengumpulkan Paul Streeten , Inge Kaul , Frances Stewart, Amartya Sen dan Richard Jolly untuk mempersiapkan Laporan Pembangunan Manusia tahunan.


Pembentukan Manusia Development Center (1996)

Pada tahun 1996, Haq mendirikan Pusat Pengembangan Manusia di Islamabad , Pakistan - sebuah lembaga penelitian kebijakan yang berkomitmen untuk mengorganisir penelitian profesional, kajian kebijakan dan seminar di bidang pembangunan manusia, dengan fokus khusus pada wilayah Asia Selatan.


Prestasi

Haq merancang Indeks Pembangunan Manusia, yang telah menjadi salah satu indeks yang paling berpengaruh dan banyak digunakan untuk mengukur pembangunan manusia di seluruh negara. IPM telah digunakan sejak tahun 1990 oleh United Nations Development Programme untuk Laporan Pembangunan Manusia tahunan.

Dia juga memberikan rencana 5 tahun ke Korea Selatan yang membantu Korea Selatan untuk maju pesat.


Kematian

Haq meninggal pada tanggal 16 Juli 1998 di New York, meninggalkan istrinya Khadijah Haq, putra dan putri Farhan Toneema.


Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 16 February 2015

Ibnu Miskawaih - Cendekiawan Muslim Ahli Sejarah, Teologi, Ilmu Kedokteran, Filsafat Akhlak

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Ibnu Miskawaih adalah salah seorang cendekiawan Muslim asal Iran yang berkonsentrasi pada Ibnu Miskawaih - Cendekiawan Muslim Ahli Sejarah, Teologi, Ilmu Kedokteran, Filsafat Akhlak
Gelar: Ibn Miskawaih
Nama: Ahmad Ibn Muhammad Miskawaih Razi
Lahir: 330 H /932 M Ray, Ziyarid Iran
Wafat: 421 H /1030M Isfahan, Kakuyid Iran
Etnis: Persia
Zaman: Zaman Kejayaan Islam
Wilayah aktif: Iran
Minat utama: Sejarah, Teologi, Ilmu Kedokteran, Filsafat Akhlak
Karya terkenal: Tadhib al-akhlaq, Al-Fawz al-Asghar, Tajarib al-umam
Ibnu Miskawaih adalah salah seorang cendekiawan Muslim asal Iran yang berkonsentrasi pada bidang filsafat akhlak. Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filsuf akhlak daripada sebagai cendekiawan muslim yang ahli dalam bidang kedokteran, ketuhanan, maupun agama. Dia adalah orang yang paling berjasa dalam mengkaji akhlak secara ilmiah. Bahkan pada masa dinasti Buwaihi, dia diangkat menjadi sekretaris dan pustakawan. Dulu sebelum masuk Islam, Ibnu Miskawaih adalah seorang pemeluk agama Magi, yakni percaya kepada bintang-bintang.

Ibnu Miskawaih lahir di Iran pada tahun 330 H/932 M dan meninggal tahun 421 H/1030 M.Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Maskawaih.

Ibnu Miskawaih melewatkan seluruh masa hidupnya pada masa kekhalifahan Abassiyyah yang berlangsung selama 524 tahun, yaitu dari tahun 132 sampai 654 H /750-1258 M.


Konsep Pemikiran Ibnu Miskawaih

Gayanya yang menyatukan pemikiran abstrak dengan pemikiran praktis membuat pemikirannnya sangat berpengaruh. Terkadang Ibnu Miskawaih hanya menampilkan aspek-aspek kebijakan dari kebudayaan-kebudayaan sebelumnya, terkadang dia hanya menyediakan ulasan praktis tentang tentang masalah-masalah moral yang sulit untuk diuraikan. Filosofinya sangat logis dan menunjukkan koherensi serta konsistensi.


Konsep tentang Tuhan

Bagi Ibnu Miskawaih, Tuhan adalah Zat yang jelas atau tidak jelas; jelas karena Tuhan adalah yang haq (benar), sedang tidak jelas karena kelemahan akal manusia untuk menangkap keberadaan Tuhan serta banyaknya kendala kebendaan yang menutupinya. Tentu saja ketidaksamaan wujud manusia dengan wujud Tuhan menjadi pembatas. Menurutnya, entitas pertama yang memancar dari Tuhan adalah akal aktif, yaitu tanpa perantara sesuatu pun yang bersifat kekal, sempurna, dan tak berubah.


Konsep tentang Akhlak

Menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Karakteristik pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pendidikan akhlak secara umum dimulai dengan pembahasan tentang akhlak (karakter/watak). Menurutnya watak itu ada yang bersifat alami dan ada watak yang diperoleh melalui kebiasaan atau latihan. Dia berpikir bahwa kedua watak tersebut hakekatnya tidak alami meskipun kita lahir dengan membawa watak masing-masing, namun sebenarnya watak dapat diusahakan melalui pendidikan dan pengajaran.


Konsep tentang Manusia

Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang manusia tidak jauh berbeda dengan para filosof lain. Menurutnya di dalam diri manusia terdapat tiga daya, yakni daya nafsu (al-nafs al-bahimiyyat) sebagai daya paling rendah, daya berani (al-nafs al-sabu'iyyat sebagai daya pertengahan, dan daya berpikir (al-nafs al-nathiqah)sebagai daya tertinggi. Dia sering menggabungkan aspek-aspek Plato, Aristoteles, Phytagoras, Galen, dan pemikir lain yang telah dipengaruhi filosofi Yunani. Namun ini bukanlah suatu penjarahan budaya,melainkan usaha kreatif menggunakan pendekatan-pendekatan berbeda ini untuk menjelaskan masalah-masalah penting.


Karya-karya Ibnu Miskawaih
  • Tahdzibul achlaq wa tathhirul a'raaq merupakan karya terkenal milik Ibnu Miskawaih.
  • Tartib as Sa'adah, buku ini berisi tentang akhlak dan politik.
  • Al Musthafa (syair pilihan)
  • Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak)
  • As Syaribah (tentang minuman).

Dalam bidang sejarah, karyanya Tajarib Al-Umam (pengalaman bangsa-bangsa) menjadi acuan sejarah dunia hingga tahun 369 H. Karya-karya Ibnu Miskawaih dalam bidang etika dinilai jauh lebih penting daripada karya-karyanya dalam bidang metafisika. Bukunya Taharat Al A'raq (Purity of Desposition), yang lebih dikenal dengan nama Tahdhib Al Akhlaq ( Cultivation of Morals), menjelaskan tentang jalan untuk meraih kestabilan akhlak yang tepat dalam perilaku yang teratur dan sistematis. (Wikipedia)
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 10 January 2015

Abu Musa Jabir bin Hayyan - Bapak Kimia Modern

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Abu Musa Jabir bin Hayyan
  • Lahir: 721 Tus, Kekhalifahan Umayyah
  • Meninggal: 815
  • Etnis: Arabatau Persia
  • Era: masa keemasan Islam
  • Minat utama: Alchemy dan Kimia, Astronomi, Astrologi, Kedokteran dan Farmasi, Filsafat, Fisika, filantropis
  • Karya terkenal: Kitab al-Kimya, Kitab al-Sab'een, Kitab Kerajaan, Kitab Saldo ,Kitab Mercury Timur, dll
Abu Musa Jabir bin Hayyan juga dikenal sebagai Geber, adalah seorang tokoh Muslim polymath : ahli kimia dan alkemis, astronom dan astrolog, insinyur, ahli geografi, filsuf, fisikawan, dan apoteker dan dokter. Lahir dan dididik di Tus, ia kemudian melakukan perjalanan ke Kufah dan ayahnya berasal dari Suriah ( Bilad al-Sham ).

Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.


Penemuan

Beberapa penemuan Jabir Ibn Hayyan diantaranya adalah: asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.

Jabir Ibn Hayyan mampu mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Dia jugalah yang pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.

Jabir Ibn Hayyan juga pertama kali mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.

Jika kita mengetahui kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan kelompok senyawa, maka lihatlah apa yang pertamakali dilakukan oleh Jabir. Dia mengajukan tiga kelompok senyawa berikut:

  1. “Spirits“ yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida.
  2. “Metals” seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan
  3. “Stones” yang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.

 “The first essential in chemistry, is that you should perform practical work and conduct experiments, for he who performs not practical work nor makes experiments will never attain the least degree of mastery.” (Jabir Ibn Hayyan)

Pada abad pertengahan, penelitian-penelitian Jabir tentang Alchemy diterjemahkan kedalam bahasa Latin, dan menjadi textbook standar untuk para ahli kimia eropa. Beberapa diantaranya adalah Kitab al-Kimya (diterjemahkan oleh Robert of Chester – 1144) dan Kitab al-Sab’een (diterjemahkan oleh Gerard of Cremona – 1187). Beberapa tulisa Jabir juga diterjemahkan oleh Marcelin Berthelot kedalam beberapa buku berjudul: Book of the Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury. Beberapa istilah tehnik yang ditemukan dan digunakan oleh Jabir juga telah menjadi bagian dari kosakata ilmiah di dunia internasional, seperti istilah “Alkali”, dsb.

Jabir adalah seorang filsuf alam yang tinggal sebagian besar di abad ke-8; ia lahir di Tus, Khurasan, di Iran ( Persia ), kemudian diperintah oleh Kekhalifahan Umayyah. Jabir dalam sumber-sumber klasik telah berjudul berbeda sebagai al-Azdi al-Barigi atau al-Kufi atau al-Tusi atau al-Sufi.  Ada perbedaan pendapat apakah ia adalah seorang Persia dari Khurasan yang kemudian pergi ke Kufah atau apakah ia, karena beberapa telah menyarankan, asal Suriah dan kemudian tinggal di Persia dan Irak. latar belakang etnis-Nya tidak jelas, tetapi kebanyakan sumber referensi mengungkapkan dia sebagai Persia. Dalam beberapa sumber, dia dilaporkan merupakan anak Hayyan al-Azdi, seorang apoteker dari Arab Azd suku yang beremigrasi dari Yaman ke Kufah (sekarang Irak ) selama Khilafah Umayyah. Sementara Henry Corbin percaya Geber tampaknya telah menjadi klien dari 'suku Azd. Jabir menjadi seorang alkemis di istana Khalifah Harun al-Rasyid,  ia menulis Kitab al-Zuhra ("The Book of Venus" , pada "seni mulia alkimia"). Hayyan telah mendukung pemberontakan Abbasiyah melawan Bani Umayyah, dan dikirim oleh mereka untuk provinsi Khorasan (sekarang Afghanistan dan Iran) untuk mengumpulkan dukungan bagi perjuangan mereka. Dia akhirnya ditangkap oleh Bani Umayyah dan dieksekusi. Keluarganya melarikan diri ke Yaman, di mana Jabir dibesarkan dan mempelajari Al-Quran, matematika dan mata pelajaran lain.  profesi ayah Jabir mungkin telah memberikan kontribusi besar terhadap minatnya dalam alkimia.

Setelah Abbasiyah berkuasa, Jabir kembali ke Kufah. Dia memulai karirnya dan melakukan praktek kedokteran, di bawah perlindungan dari wazir (dari keluarga Persia mulia Barmakids ) Khalifah Harun al-Rasyid. Tahun 803, Jabir ditempatkan di bawah tahanan rumah di Kufah, di sana ia tinggal sampai kematiannya.

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Jabir_ibn_Hayyan
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 24 November 2014

Qutb al-Din al-Shirazi - Ilmuwan Muslim ahli Matematika, Astronomi, obat-obatan, ilmu pengetahuan dan filsafat

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 dokter dan ilmuwan Muslim Persia abad ke Qutb al-Din al-Shirazi - Ilmuwan Muslim ahli Matematika, Astronomi, obat-obatan, ilmu pengetahuan dan filsafat
Qutb al-Din Shirazi
Lahir: 1236 Kazerun

Meninggal: 7 Februari 1311 Tabriz

Yurisprudensi: Sufi

Minat utama: Matematika, Astronomi, obat-obatan, ilmu pengetahuan dan filsafat

Karya: Almagest, The Royal Hadir, Pearly Crown, dll
Qutb al-Din al-Shiraz adalah seorang ulama, penyair, dokter dan ilmuwan Muslim Persia abad ke-13, yang membuat kontribusi untuk astronomi , matematika, kedokteran, fisika, teori musi , filsafat dan tasawuf. Ia juga master pemain catur dan memainkan alat musik yang dikenal sebagai Rabab, instrumen favorit dari penyair Rumi Persia.


Biografi

Ia lahir di Kazerun pada bulan Oktober 1236 dari keluarga dengan tradisi tasawuf. Ayahnya, Zia 'al-Din Mas'ud Kazeruni adalah seorang dokter  dan juga memimpin Sufi dari tatanan Kazeruni. Zia Al-Din menerima Kherqanya (jubah Sufi) dari Shahab al-Din Suhrawardi Omar. Qutb al-Din yang berpakaian Kherqa (jubah Sufi) sebagai berkah dari ayahnya pada usia sepuluh. Kemudian, ia juga menerima jubahnya sendiri dari tangan Najib al-Din Bozgush Shirazni, Sufi terkenal di zamannya. Quthb al-Din mulai belajar kedokteran di bawah asuhan ayahnya. Ayahnya melatih dan mengajar kedokteran di rumah sakit Mozaffari di Shiraz. Saat Quthb al-Din berusia 14 tahun, ayahnya meninggalnya dunia, sehingga pamannya dan master lainnya melatihnya kedokteran. Ia juga mempelajari Qanun (the Canon ) yang dikenal karena komentarnya sarjana Persia, Ibnu Sina. Secara khusus ia membaca komentar dari Fakhr al-Din Razi di Canon of Medicine dan Quthb al-Din mengangkat banyak isu sendiri. Hal ini menyebabkan keputusan sendiri untuk menulis komentarnya sendiri, di mana ia memutuskan banyak masalah di perusahaan Nasir al-Din al-Tusi .

Qutb al-Din kehilangan ayahnya pada usia empat belas tahun sehingga menjadi dokter mata di rumah sakit Mozaffari di Shiraz menggantikan posisi ayahnya tersebut. Pada saat yang sama, ia menimba ilmu dari pamanny,a Kamal al-Din Abu'l Khayr, Sharaf al-Din Zaki Bushkani, dan Shams al-Din Mohammad Kishi. Ketiganya adalah guru ahli dari Canon of Avicenna. Dia berhenti dari profesi medis sepuluh tahun kemudian dan mulai mencurahkan waktu untuk pendidikan lanjutan di bawah bimbingan Nasir al-Din al-Tusi. Ketika Nasir al-Din al-Tusi, sarjana-wazir terkenal dari Mongol Holagu Khan mendirikan observatorium dari Maragha, Qutb al-Din Shirazi menjadi tertarik ke kota. Dia meninggalkan Shiraz beberapa saat setelah tahub 1260 dan di Maragha sekitar tahun 1262. Di Maragha Qutb al-din kembali mendapat pendidikan dalam bimbingan Nasir al-Din al-Tusi , dengannya ia mempelajari al-Esharat wa-Tanbihat of Avicenna. Dia membahas kesulitan dia dengan Nasir al-Din al-Tusi pada pemahaman kitab pertama dari Canon of Avicenna. Saat bekerja di observatorium baru, ia belajar astronomi di bawahnya. Salah satu proyek ilmiah yang penting adalah penyelesaian tabel astronomi baru ( zij ). Dalam wasiat (wasiat), Nasir al-Din al-Tusi menyarankan anaknya sil-a-Din untuk bekerja dengan Qutb al-Din dalam penyelesaian Zij.

Selanjutnya, ia melakukan perjalanan ke Khorasan di perusahaan Nasir al-Din al-Tusi di mana ia tinggal untuk belajar di bawah Najm al-Din Katebi Qazvini di kota Jovayn dan menjadi asistennya. Setelah tahun 1268, ia berangkat ke Qazvin, Isfahan, Baghdad dan kemudian Konya di Anatolia. Ini adalah saat ketika penyair Persia Jalal al-Din Muhammad Balkhi ( Rumi ) mendapatkan ketenaran di sana dan melaporkan bahwa Qutb al-Din juga bertemu dengannya. Di Konya, ia mempelajari Jam'e al-Osul Ibn Al-Atsir dengan Sadr al-Din Qunawi. Gubernur Konya, Mo'in al-Din Parvana menunjuknya sebagai hakim Sivas dan Malatya. Selama waktu ini ia menyusun buku-buku Mefta' al-meftah, Ekhtiarat al-mo'affariya, dan komentarnya tentang Sakkaki. Pada tahun 1282, ia utusan atas nama Ilkhanid Ahmad Takudar ke Sayf al-Din Qalawun, Mamluk penguasa Mesir. Dalam suratnya kepada Qalawun, penguasa Ilkhanid menyebutkan Qutb al-Din sebagai hakim ketua. Qutb al-Din selama ini mengumpulkan berbagai kritik dan komentar tentang Avicenna 's Canon dan menggunakannya pada komentarnya di Kolliyat. Bagian terakhir dari karir aktif Quthb al-Din mengajar Canon of Avicenna dan Shefa Avicenna di Suriah. Ia segera berangkat ke Tabriz dan meninggal tak lama setelahnya.

Shirazi mengidentifikasi pengamatan oleh sarjana Avicenna di abad ke-11 dan Ibnu Bajjah di abad ke-12 sebagai transit dari Venus dan Merkurius.  Namun, Ibnu Bajjah tidak bisa mengamati transit Venus, karena tidak terjadi dalam hidupnya.


Wafat

Qutb al-Din al-Shirazi meninggal di Tabriz pada 7 Februari 1311. Ia dimakamkan di pemakaman kota Carandab.


Karya-karyanya
Quthbuddin asy-Syirazi memiliki banyak karya, antara lain:
  • Nihayatu al-Idrak fi Dirayati al-Aflak, sebuah Kitab yang didalamnya terdapat berbagai disiplin ilmu seperti Ilmu Falak, geologi, oseanologi, klimatologi, meteorologi, mekanika dan optik
  • Kitab at-Tuhfatu asy-Syahiyyah, tentang kinematika
  • Kitab at-Tabshirah, tentang kinematika
  • Kitab Nuzhatu al-Hukama' wa Raudhatu al-Athibba, merupakan penjelasan dan komentar terhadap kitab Al-Qanun milik Ibnu Sina, kitab ini merupakan penjelasan tentang kebutuhan terhadap dokter dan adab serta nasehat di bidang kedokteran
  • At-Tuhfatu as-Sa`diyyah, penjelasan keseluruhan kitab Al-Qanun fi ath-Thibb
  • Sebuah tulisan tentang penyakit kusta
  • Tulisan dalam bidang ilmu falak dan berbagai sains lainnya
  • Tulisan dalam ilmu al-Qur'an dan al-Hadits
(Sumber:Wikipedia) 

Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 21 November 2014

Nasiruddin Al-Tusi - Ilmuwan Muslim Serba Bisa Abad Ke-13

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 atau yang bernama lengkap Abu Jafar Muhammad ibn Muhammad ibnu al Nasiruddin Al-Tusi - Ilmuwan Muslim Serba Bisa Abad Ke-13
Oberservatorium Maragha karya Al-Tusi
[http://en.wikipedia.org/wiki/Maragheh_observatory]
Nasiruddin Al-Tusi atau yang bernama lengkap Abu Jafar Muhammad ibn Muhammad ibnu al-Hasan Nasiruddin al-Tusi, adalah seorang ilmuwan serbabisa yang berasal dari Persia.  Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya, seperti  astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran hingga ilmu agama Islam.


Awal

Al-Tusi lahir di kota Tus yang terletak di dekat Meshed,  Persia  sekarang sebelah timurlaut Iran pada 18 Februari 1201 (awal abad ke-13 M). Ia terlahir ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat terus menginvansi wilayah kekuasaan Islam. Satu demi satu, kota-kota Islam dihancurkan dan jatuh ke tangan bangsa Mongol. Dihadapkan pada situasi sulit seperti itu, al-Tusi pun tak dapat mengelak. Al-Tusi tetap belajar dengan segala keterbatasan yang dihadapi.


Pendidikan

Ayahnya adalah guru pertama baginya. Sejak belia, al-Tusi  digembleng ilmu agama oleh sang ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas. Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, al-Tusi juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman.

Pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual al-Tusi. Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain; logika, fisika, metafisika. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.

Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.

Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, al-Tusi hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur sebuah kota yang berjarak 75 km di sebelah barat Tus. Di kota itulah, sang saintis agung menyelesaikan pendidikannya filsafat, kedokteran dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur.


Menjadi pejabat di Istana Ismailiyah

Pada tahun 1220, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung. Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah.

Selama mengabdi di istana itu, ia mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan  cucu Jengis Khan  pada tahun 1251 akhirnya menguasai istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa al-Tusi selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukannya dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya al-Tusi tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan metropolis intelektual dunia, Baghdad pada tahun 1258. Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta'sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya.


Membangun Observatorium di Malagha

Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Malagha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan Malagha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259, al-Tusi pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.

Observatorium Malagha mulai beroperasi pada tahun 1262. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantum astronom dari Cina. Tekonologi yang diunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah kuadran azimuth.

Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, al-Tusi tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematikan serta filsafat.

Di Observatorium yang dipimpinnya itu, al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab  Zij-i Ilkhaniyang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin obeservatorium Malagha.

Selain itu, al-Tusi juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berudul Al-Tadhkira fi'ilm Al-hay'a (Memoir Astronomi). Nasiruddin mampul memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Ia wafat pada 26 Juni 1274 di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang.  hri


Karya dan Pencapaian Sang Ilmuwan Besar

Selama mendedikasikan hidupnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Nasiruddin Al-Tusi telah menulis beragam kitab yang mengupas bermacam ilmu pengetahuan. Di antara kitab yang berhasil ditulisnya itu antara lain; kitab Tajrid-al-'Aqaid, sebuah kajian tentang Ilmu Kalam; serta Al-Tadhkirah fi'ilm al-hay'ah, sebuah memoir tentang ilmu astronomi.

Kitab tentang astronomi yang ditulis Nasiruddin itu banyak mendapat komentar dari para pakar astronomi. Komentar-komentar itu dibukukan dalam sebuah buku berjudulSharh al-Tadhkirah (Sebuah Komentar atas Al-Tadhkirah) yang ditulis Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi dan Nazzam Nishapuri.

Selain itu, Nasiruddin juga menulis kitab berjudul Akhlaq-i-Nasri yang mengupas tentang etika. Kitab lainnya yang terbilang populer adalah Al-Risalah Al-Asturlabiyah (Risalah Astrolabe). Kitab ini mengupas tentang peralatan yang digunakan dalam astronomi. Di bidang astronomi, Nasiruddin juga menulis risalah yang amat populer, yakni Zij-i ilkhani (Ilkhanic Tables). Ia juga menulis Sharh Al-Isharat, sebuah kritik terhadap hasil kerja Ibnu Sina.

Selama tinggal di Nishapur, Nasiruddin memiliki reputasi yang cemerlang, sebagai ilmuwan yang beda dari yang lain. Pencapaian mengagumkan yang berhasil ditorehkan Nasiruddin dalam bidang matematika adalah pembuatan rumus sinus untuk segitiga, yakni; a / sin A = b / sin B = c / sin C.  hri


Kontribusi

Astronomi - Ia menulis beragam kitab yang mengupas tentang Astronomi. al-Tusi juga membangun observatorium yang mampu menghasilkan tabel pergerakan planet secara akurat. Model sistem plenaterium yang dibuatnya diyakini paling maju pada zamannya. Dia juga berhasil menemukan sebuah teknik geometrik yang dikenal dengan al-Tusi-couple. Sejarah juga mencatat, al-Tusi sebagai astronom pertama yang mengungkapkan bukti observasi empiris tentang rotasi Bumi.

Biologi - Ia juga turut memberi sumbangan dalam pengembangan ilmu hayat atau biologi. Ia menulis secara luas tentang biologi.  Al-Tusi  menempatkan dirinya sebagai perintis awal dalam evolusi biologi. Dia memulai teorinya tentang evolusi dengan alam semesta yang terdiri dari elemen-eleman yang sama dan mirip. Menurutnya, kontradiksi internal mulai tampak , dan sebagai sebuah hasil, beberapa zat mulai berkembang lebih cepat dan berbeda dengan zat lain.

Dia lalu menjelaskan bagaimana elemen-elemen berkembang menjadi mineral kemudian tanaman, kemudian hewan dan kemudian manusia. Di juga menjelaskan bagaimana variabilitas heriditas merupakan faktor penting dalam evolusi biologi mahluk hidup.

Kimia - Al-Tusi  mengungkapkan versi awal tentang hukum kekekalan massa. Inilah salah satu kontribusinya yang paling penting dalam ilmu kimia. Zat dalam tubuh tak bisa sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya mengubah bentuk, kondisi, komposisi, warna dan bentuk lainnya yang berbeda.

Matematika - Selain menghasilkan rumus sinus pada segitiga,  al-Tusi  juga  seorang  matematikus pertama yang memisahkan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari matematika.


Wafat

Abu Jafar Muhammad ibn Muhammad ibnu al-Hasan Nasiruddin al-Tusi wafat di Baghdad, Irak pada 26 Juni 1274. (Sumber: www.suaramedia.com)
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 17 November 2014

Ibnu khaldun - Bapak Pendiri Ilmu Historiografi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


 atau yang memiliki nama asli Abdurrahman ibnu Khaldun al Ibnu khaldun - Bapak Pendiri Ilmu HistoriografiIbnu khaldun atau yang memiliki nama asli Abdurrahman ibnu Khaldun al-Magribi al-Hadrami al-Maliki adalah seorang yang dikenal sebagai sejarawan muslim dan bapak sosiologi Islam. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.


Awal kehidupan

Ibnu khaldun lahir di Tunisia pada bulan Ramadhan tahun 732 H/1332 M. Keluarga Ibnu Khaldun adalah para ilmuwan dan pejabat tinggi pemerintahan. Tidak mengherankan jika beliau telah hafal Al-Qur’an semenjak masih kecil, serta mendalami berbagai bidang ilmu pengetahuan semenjak remaja. Ketika berusia 18 tahun, wabah pes menyerang negara-negara Islam, tak terkecuali Tunisia. Akibat wabah pes ini, kedua orang tua Ibnu Khaldun dan sebagian gurunya meninggal. Sedangkan gurunya yang selamat mengungsi ke Maroko. Karena hal itu, maka Ibnu Khaldun tidak bisa menyelesaikan pendidikannya.  Pada usia 20 tahun, beliau diminta Sultan menjadi sekertaris. Jabatan sebagai sekertaris Sultan Tunisia selama empat tahun.


Perjalanan hidup

Selama hidupnya, Ibnu Khaldun sering berpindah tempat. Sejak lahir hingga usia 20 tahun, beliau hidup di Tunisia. Pada periode ini, Ibnu Khaldun memperoleh berbagai ijazah ilmiah dari guru-gurunya.

Selanjutnya beliau bekerja pada jabatan-jabatan administrasi, selama kurang lebih 25 tahun. Setelah jabatan sebagai sekertaris Sultan Tunisia, jabatan selanjutnya adalah sebagai anggota majelis ilmu dan sekertaris Sultan Maroko. Kepindahan Ibnu Khaldun ke Maroko ini juga membawa dampak positif bagi Ibn Khaldun, karena beliau dapat melanjutkan pendidikannya yang sempat terhenti.

Pada tahun 1358 M/758 H saat usia Ibnu Khaldun 26  tahun, beliau di tuduh melakukan sabotase terhadap Sultan Maroko, sehingga beliau dipenjara selama dua tahun di kota Fez. Setelah bebas dari penjara, beliau diangkat kembali menjadi sekertaris pribadi Sultan. Setelah bekerja selama 12 tahun (752 H-764H) pada lebih dari tiga sultan di Maroko, Ibnu Khaldun berpindah ke Andalusia (Spanyol). Alasan Ibnu Khaldun pindah adalah kondisi politik yang sudah tidak kondusif, disampi itu Sultan Andalusia meminta bantuan Ibnu Khaldun mengatur negara, terutama sebagai duta besar.

Ibu Khaldun berhasil mengadakan perjanjian perdamaian dengan Raja Castilia, sehingga tercapai hubungan damai antara Granada dengan Castilia. Akan tetapi banyak pejabat yang iri atas keberhasilan Ibnu Khaldun. Menyadari situasi yang tidak menguntungkan, Ibnu Khaldun meninggalkan Andalusia tahun 1376M/776 H menuju Bougie (Bejaya).

Pada periode ini, Ibnu Khaldun berhasil menulis karya fenomenalnya yaitu Mukaddimah (1376 M-1384M/ 776H-784H). Itulah yang disebut sebagai periode Kontemplasi (uzlah)

Setelah ia menulis karyanya, Ibnu Khaldun mengajar dan menjadi hakim. Pada periode ini, Ibnu Khaldun berada di Mesir untuk mengajar di Al-Azhar University dan menjabat sebagai hakim sebanyak 6 kali. Ibnu Khaldun menetap di Mesir hingga akhir hayatnya, yaitu tanggal 25 Ramadhan 808 H / 19 Maret 1406M


Karya Ibnu Khaldun:
  • Mukaddimah, merupakan buku pertama dari kitab  Al-Ibar. Buku pertama ini memuat inti dari kitab Al-Ibar. Mukaddimah ini berisi tentang masyarakat, pemerintahan, kekuasaan, penghidupan, keahlian dan ilmu pengetahuan.
  • Kitab Al-Ibar, yang terdiri atas tiga buku, yaitu Mukaddimah, buku kedua terdiri atas empat jilid (berisi tentang sejarah bangsa Arab dan bangsa Eropa seperti Syiria, Persia) dan buku ketiga terdiri atas dua jilid (berisi tentang sejarah bangsa  Zinata dari Afrika Utara).
  • Kitab At-Ta’rif, merupakan outobiografi Ibnu Khaldun.

Muqaddimah (pendahuluan) adalah satu tulisan yang sangat menonjol dan popule yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini.

Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.

Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan ke
lima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.


Pemikiran

Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.

Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”

Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan
Ibnu Khaldun.


Wafatnya Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M.

Referensi:
-
- http://jacksite.wordpress.com/2007/04/17/biografi-ibnu-khaldun/
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 13 November 2014

Sharaf al-Din al-Tusi - Menemukan solusi aljabar dan numerik dari persamaan kubik

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Sharaf al-Dīn al-Muẓaffar ibn Muḥammad ibn al-Muẓaffar al-Ṭūsī adalah matematikawan dan astronom Islam dari Persia. al-Tusi menemukan solusi aljabar dan numerik dari persamaan kubik dan yang pertama kali menemukan turunan polinomial kubik, hasil yang penting dalam kalkulus diferensial.

Sharif al-Din mengajar berbagai topik matematika, astronomi dan yang terkait, seperti bilangan, tabel astronomi, dan astrologi.


Biografi

Tusi lahir di Tus, Iran. Dia mengajarkan berbagai topik matematika termasuk ilmu angka, tabel astronomi dan astrologi, di Aleppo dan Mosul. Murid terbaiknya adalah Kamal al-Din bin Yunus. Pada gilirannya Kamal al-Din bin Yunus melanjutkan untuk mengajar Nasir al-Din al-Tusi, salah satu yang paling terkenal dari semua ulama periode Islam. Pada saat ini Tusi tampaknya telah memperoleh reputasi yang luar biasa sebagai guru matematika, untuk beberapa perjalanan jauh berharap untuk menjadi murid-muridnya.

Al-Tusi menulis beberapa makalah tentang aljabar. Dia memberikan metode yang kemudian dinamakan sebagai metode Ruffini-Horner untuk menghampiri akar persamaan kubik. Meskipun sebelumnya metode inini telah digunakan oleh para matematikawan Arab untuk menemukan hampiran akar ke-n dari sebuah bilangan bulat, al-Tusi adalah yang pertama kali yang menerapkan metode ini untuk memecahkan persamaan umum jenis ini.

Dalam Al-Mu'adalat (Tentang Persamaan), al-Tusi menemukan solusi aljabar dan numerik dari persamaan kubik dan yang pertama kali menemukan turunan polinomial kubik, hasil yang penting dalam kalkulus diferensial. (wikipedia)


 adalah matematikawan dan astronom Islam dari Persia Sharaf al-Din al-Tusi - Menemukan solusi aljabar dan numerik dari persamaan kubik
Polinomial derajat 3
Fungsi kubik

Untuk kegunaan lain dari kubik, lihat kubik.
Dalam matematika, sebuah fungsi kubik atau lebih dikenal sebagai fungsi pangkat tiga adalah suatu fungsi yang memiliki bentuk

 adalah matematikawan dan astronom Islam dari Persia Sharaf al-Din al-Tusi - Menemukan solusi aljabar dan numerik dari persamaan kubik

dengan a bernilai tidak nol; atau dengan kata lain merupakan suatu polinomial orde tiga. Turunan dari suatu fungsi kubik adalah suatu fungsi kuadrat. Integral dari suatu fungsi kubik adalah fungsi pangkat empat (kuartik).

Menetapkan ƒ(x) = 0 menghasilkan persamaan kubik dengan bentuk:

 adalah matematikawan dan astronom Islam dari Persia Sharaf al-Din al-Tusi - Menemukan solusi aljabar dan numerik dari persamaan kubik


Biasanya, koefisien a, b, c, dan d merupakan bilangan riil. Untuk menyelesaikan persamaan kubik, caranya dengan mencari akar (nilai nol) dari fungsi kubik. (Wikipedia)
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 23 September 2014

Bigrafi Ibnu Yunus - Astronom dan Matematikawan Muslim dari Mesir

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Astronom dan Matematikawan Muslim dari Mesir Bigrafi Ibnu Yunus - Astronom dan Matematikawan Muslim dari Mesir
Pendulum
Ibnu Yunus adalah astronom dan matematikawan Muslim dari Mesir. Dia termasuk ilmuwan yang paling teliti dalam melakukan penelitian. Ia telah memberi inspirasi dan pengaruh bagi para astronom di dunia Muslim maupun Barat. Salah satu astronom Muslim terkemuka yang banyak menerapkan buah pemikiran Ibnu Yunus adalah al-Tusi.  Lewat Ilkhani zij yang ditulis al-Tusi, hasil penelitian  Ibnu Yunus tentang bulan dan matahari masih tetap digunakan.


Biografi

Ibnu Yunus hidup di Mesir pada abad keempat Hijriyah (abad kesepuluh Masehi). Tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui secara pasti, sekalipun sebagian sumber ada yang mengatakan bahwa dia dilahirkan pada tahun 341 H (952 M).

Ibnu Yunus mengabdikan dirinya kepada khalifah dari Dinasti Fatimiyyah bernama Al-Aziz Billah. Dia mengetahui potensi ilmiah Ibnu Yunus dan untuk itu dia selalu memotivasinya, memberinya jabatan dan membangunkan untuknya teropong bintang di gunung Al-Mugaththam.

Setelah wafatnya Al-Aziz Billah, Ibnu Yunus melanjutkan pengabdiannya kepada anaknya, Al-Hakim Biamrillah yang disebutkan di dalam buku-buku sejarah bahwa dia mencintai ilmu dan memperhatikan ilmu astronomi. Dia juga memberikan jabatan yang sesuai kepada para ilmuwan.

Dalam buku "Sirah" karangan Ibnu Hisyam, bagaimana Al-Hakim Biamrillah memperhatikan artikel Ibnu Yunus tentang Nil dan memanggilnya untuk merealisasikan proyeknya dan dia sendiri yang mengawasinya. Al-Hakim Biamrillah juga telah membangun "Darul Hikmah" di Kairo sebagai tempat bertemunya para ulama' dan sebagai tandingan "Baitul Hikmah" yang dibangun oleh Khalifah Al-Ma’mun di Baghdad. Al-Hakim membekali Darul Hikmah dengan perpustakaan besar yang disebut perpustakaan Darul Ilmi, dan melengkapi peralatan teropong bintang yang ada di Gunung Al-Mugaththam. Ibnu Yunus menghadap ke haribaan Tuhannya pada tahun 399 H (1009 M).


Penemuan Ilmiah Ibnu Yunus

Astronomi

Dari teropong bintang di Gunung Al-Mugaththam, Ibnu Yunus meneropong dua kali gerhana matahari, yaitu pada tahun 977 dan tahun 978 M. Pada tahun yang sama dia juga meneropong gerhana bulan dan mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam tabel astronominya.

Ibnu Yunus menghitung kecondongan daerah gugusan bintang-bintang dengan tingkat ketelitian yang sangat mengagumkan. Karena hasil peneropongan Ibnu Yunus yang tepat, maka para astronom Barat pada masa sekarang mengambilnya dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menghitung gravitasi bulan.

Ibnu Yunus menemukan bandul jam mendahului seorang ilmuwan Itali, Galileo, enam ratus tahun sebelumnya. Mereka mempergunakannya untuk mengukur waktu ketika sedang melakukan peneropongan bintang karena lebih akurat dari pada jam mesin yang telah banyak digunakan pada masa itu.

Ibnu Yunus adalah penemu Bandul (ayunan) yang berguna untuk mengetahui deti-detik waktu ketika seseorang sedang meneropong benda angkasa. Fungsi bandul ciptaan Ibnu Yunus hampir serupa dengan bandul pada jam dinding. Karya Ibnu Yunus ini telah dikenal 6 abad sebelum Galileo Galilei menemukan pendulum (1564-1642). Ibnu Yunus juga menemukan Rubu Berlubang (Gunners Quadrant), sebuah alat untuk mengukur gerakan bintang.

Banyak sumber mengklaim bahwa Ibnu Yunus menggunakan sebuah bandul untuk mengukur waktu. Hal itu dicatat Gregory Good dalam Sciences of the Earth: An Encyclopedia of Events, People, and Phenomena. Penemuannya itu juga diakui Roger G Newton dalam Galileo's Pendulum: From the Rhythm of Time to the Making of Matter.

Ibnu Yunus juga telah membuat rumus waktu. Ia menggunakan nilai kemiringan sudut rotasi bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 23,5 derajat.  Tabel tersebut cukup akurat, walaupun terdapat beberapa error untuk altitude yang besar. Ibnu Yunus juga menyusun tabel yang disebut Kitab as-Samt berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude matahari untuk kota Kairo. Selain itu, disusun pula tabel a(h) saat equinox untuk h = 1, 2, …, 60 derajat.

Tabel untuk menghitung lama siang hari (length of daylight) juga disusun  Ibnu Yunus.  Ia juga menyusun tabel untuk menentukan azimuth matahari untuk kota Kairo (latitude 30 derajat) dan Baghdad (latitude 33:25), tabel sinus untuk amplitude terbitnya matahari di Kairo dan Baghdad. Ibnu Yunus juga disebut sebagai kontributor utama untuk penyusunan jadwal waktu di Kairo.


Matematika

Ibnu Yunus mampu menyelesaikan sebagian permasalahan yang ada dalam hitungan trigonometri berbentuk bola (spherical trigonometri) dengan bantuan garis vertikal bola langit pada masing-masing level, baik yang bersifat horisontal maupun vertikal.

Ibnu Yunus menemukan kaedah-kaedah dan hubungan matematis yang mungkin dapat dijadikan alat untuk merubah proses perkalian menjadi proses tambahan. Penemuan ini telah banyak memudahkan proses penghitungan. Dan, tidak diragukan bahwa penemuan ini telah memacu lahirnya ilmu hitung logaritma yang ada pada matematika modern.


Karya tulis Ibnu Yunus

"Az-Zaij Al-Hakimi," atau "Az-Zaij Al-Kabir Al-Hakimi." - Ibnu Yunus memberi nama buku ini sebagai penghormatan kepada khalifahnya, Al-Hakim Biamrillah. Menurut Ibnu Khalkan, buku ini merupakan buku yang paling tebal pada bidangnya. Karena, pengantarnya saja sangat panjang ditambah dengan delapan puluh satu pasal. Buku ini terdiri dari tabel-tabel astronomi yang berisi basil penelitian astronomi Ibnu Yunus dan basil penelitian astronomi para astronom sebelumnya setelah dikoreksi dan mengalami perbaikan. Nilai penelitian astronomi yang ada pada buku ini dijamin kebenarannya hingga tujuh angka desimal, dan tingkat akurasi seperti ini tentu sangat mengagumkan sekali. Di antara isi buku ini juga adalah berupa penjelasan Ibnu Yunus mengenai cara yang digunakan oleh para astronom pada masa Khalifah Al-Ma'mun dalam mengukur lingkaran bola bumi. Perlu diberitahukan bahwa buku "Az-Zaij Al-Hakimi" merupakan buku rujukan terpercaya bagi para ulama' Mesir dalam menetapkan kalender dan masalah-masalah yang berhubungan dengan perbintangan. Akan tetapi yang disayangkan, buku ini tidak sepenuhnya sampai kepada kita, karena sebagian bab-babnya masih berserakan di berbagai perpustakaan di beberapa negara.

Beberapa bab dari buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh seorang orientalis Prancis, Kausan, pada tahun 1804 M. Berkomentar tentang Ibnu Yunus, seorang filsuf dan sosiolog Prancis, Gustav Le Bon mengatakan, "Ibnu Yunus menulis buku "Az-Zaij Al-Hakimi" di Mesir dan buku itu lebih akurat dari pada semua buku pada bidang yang sama."

"Az-Zaij Ash-Shaghir." - Buku ini juga dikenal dengan nama "Zaij Ibnu Yunus." Secara khusus buku ini memuat tabel-tabel astronomi dan basil penelitiannya di Mesir. Salah satu dari kopi salinan buku ini terdapat di perpustakaan Darul Kutub Mesir.

"Kitab Bulugh Al-Umniyyah Fima Yata'allaq Bithulu'i Asy-Sya'ri Al-Yamaniyyah."

"Kitab Fiihi As-Sumtu."


Kontribusinya bagi peradaban Islam

Kontribusi yang diberikan Ibnu Yunus bagi peradaban Islam bahkan kepada dunia sangat besar. Hal tersebut bisa diketahui dari hasil karya-karyanya. Ia telah membuat rumusan waktu yang cukup akurat. Ia juga menyusun tabel dalam kitab as-Samt yang berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude untuk kota Kairo. Tabel untuk menghitung lamanya siang hari dan untuk menentukan azimuth matahari. Rumusannya sangat membantu umat Islam dalam menentukan waktu sholat dan hari-hari besar.

Hasil penelitian dan karya-karyanya telah memberikan inspirasi bagi astronom muslim maupun non-muslim. Hasil penelitiannya tentang matahari dan bulan sampai sekarang masih digunakan. Ia telah mengobservasi lebih dari 10.000 tempat posisi matahari dengan menggunakan astrolable yang besar berdiameter 1,4 meter.  Bahkan diklaim bahwa Ibnu Yunus merupakan orang pertama yang menggunakan pendulum untuk mengukur waktu.

Kehidupan Ibnu Yunus dan dedikasinya menjadi inspirasi para ilmuan sesudahnya. Hasil penelitiannya yang akurat dijadikan rujukan. Maka tidak heran jika sampai sekaran namanya tetap harum dilubuk hati para ilmuan. Penelitiannya tentang matahari dan bulan serta catatan-catatan observasinya memberikan manfaat bagi umat Islam untuk mengetahui waktu sholat, kiblat dan hari-hari besar Islam.

Referensi
  • Astronomi an Overview (PDF), http://code.pediapress.com
  • JJ O’Connor, EF Robertson, Abu’l-Hasan Ali ibn ‘Abd al-Rahman ibn Yunus (article), http://www.gap-system.org/ history/Biographies/Yunus.html
  • Robert, Groundbreaking Scientific Experiments, Inventions and Discoveries through the Ages, 2004,London: Greenwood Press, (PDF)
  • http://ensiklopedi-alquran.com/index.php/tokoh-tokoh-islam/1745-ibnu-yunus-al-mishri

Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 19 September 2014

Abul Wafa Muhammad Al Buzjani - Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan Abul Wafa Muhammad Al Buzjani - Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan
Abul Wafa Muhammad Al Buzjani
Lahir: 10 Juni, 940 Buzhgan

Meninggal: 997 atau 998 M, Baghdad

Era: Masa keemasan Islam

Kepentingan utama: Matematika dan Astronomi

Gagasan penting: Fungsi Tangent, Hukum sinus, Beberapa identitas trigonometri

Karya-karya besar: Almagest dari Abu al-Wafa 
Abu al-Wafā', Muḥammad ibn Muḥammad ibn Yahya bin Ismail bin al-Abbas al-Būzjānī atau Abū al-Wafa Būzhgānī  adalah Matematikawan dan Astronom Persia yang bekerja di Bagdad.

Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani lahir 10 Juni tahun 940 M/328 H di kota kecil bernama Buzhgan, (sekarang Torbat-e Jam ) di Khorasan (Sekarang Iran). Sejak masih kecil, kecerdasannya sudah mulai nampak dan hal tersebut ditunjang dengan minatnya yang besar di bidang ilmu alam.

Ia belajar matematika dari pamannya bernama Abu Umar al- Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan, ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala’ Ibn Karnib.

Masa sekolahnya dihabiskan di kota kelahirannya itu. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, pada usia 19, di tahun 959M Abul Wafa pindah ke Baghdad mengenyam pendidikan dan tinggal di sana selama empat puluh tahun.

Abul Wafa tumbuh besar di era bangkitnya sebuah dinasti Islam baru yang berkuasa di wilayah Iran. Dinasti yang bernama Buwaih itu berkuasa di wilayah Persia — Iran dan Irak ñ pada tahun 945 hingga 1055 M. Kesultanan Buwaih menancapkan benderanya di antara periode peralihan kekuasaan dari Arab ke Turki. Dinasti yang berasal dari suku Turki itu mampu menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.


Kontribusi

Di bidang ilmu geometri, Abul Wafa memberikan kontribusi signifikan bagi pemecahan soal-soal geometri dengan menggunakan kompas; konstruksi ekuivalen untuk semua bidang, polyhedral umum; konstruksi hexagon setengah sisi dari segitiga sama kaki; konstruksi parabola dari titik dan solusi geometri bagi persamaan.

Konstruksi bangunan trigonometri versi Abul Wafa hingga kini diakui sangat besar kemanfaatannya. Dia adalah yang pertama menunjukkan adanya teori relatif segitiga parabola. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan metode baru tentang konstruksi segi empat serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan desimal. Abul Wafa pun mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2)

Di samping itu, Abul Wafa membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan tabel penghitungan tangen. Dia memperkenalkan secan dan cosecan untuk pertama kalinya, berhasil mengetahui relasi antara garis-garis trigonometri yang mana berguna untuk memetakannya serta pula meletakkan dasar bagi keberlanjutan studi teori conic.

Abul Wafa bukan cuma ahli matematika, namun juga piawai dalam bidang ilmu astronomi. Beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari perbedaan pergerakan bulan dan menemukan "variasi". Dia pun tercatat sebagai salah satu dari penerjemah bahasa Arab dan komentator karya-karya Yunani.


Karya tulis ilmiah

Banyak buku dan karya ilmiah telah dihasilkannya dan mencakup banyak bidang ilmu. Namun tak banyak karyanya yang tertinggal hingga saat ini. Sejumlah karyanya hilang, sedang yang masih ada, sudah dimodifikasi.

Kontribusinya dalam bentuk karya ilmiah antara lain dalam bentuk kitab Ilm al-Hisab (Buku Praktis Aritmatika), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Kitab al-Handsa (Geometri Terapan).

Abul Wafa pun banyak menuangkan karya tulisnya di jurnal ilmiah Euclid, Diophantus dan al-Khawarizmi, tetapi sayangnya banyak yang telah hilang. Kendati demikian, sumbangsihnya bagi teori trigonometri amatlah signifikan terutama pengembangan pada rumus tangen, penemuan awal terhadap rumus secan dan cosecan. Maka dari itu, sejumlah besar rumus trigomometri tak bisa dilepaskan dari nama Abul Wafa.

Untuk memantau bintang dari observatorium itu, secara khusus Abul Wafa membangun kuadran dinding. Sayang, observatorium tak bertahan lama. Begitu Sultan Sharaf ad-Dawlah wafat, observatorium itu pun lalu ditutup. Sederet karya besar telah dihasilkan Abul Wafa selama mendedikasikan dirinya di istana sultan Buwaih.

Beberapa kitab bernilai yang ditulisnya antara lain; Kitab fima Yahtaju Ilaihi al- Kuttab wa al-Ummal min ‘Ilm al-Hisab sebuah buku tentang aritmatika. Dua salinan kitab itu, sayangnya tak lengkap, kini berada di perpustakaan Leiden, Belanda serta Kairo Mesir. Ia juga menulis “Kitab al-Kamil”.

Dalam geometri, ia menulis “Kitab fima Yahtaj Ilaih as-Suna’ fi ‘Amal al-Handasa”. Buku itu ditulisnya atas permintaan khusus dari Khalifah Baha’ ad Dawla. Salinannya berada di perpustakaan Masjid Aya Sofya, Istanbul. Kitab al-Majesti adalah buku karya Abul Wafa yang paling terkenal dari semua buku yang ditulisnya. Salinannya yang juga sudah tak lengkap kini tersimpan di Perpustakaan nasional Paris, Prancis.

Sayangnya, risalah yang di buatnya tentang kritik terha dap pemikiran Euclid, Diophantus serta Al-Khawarizmi sudah musnah dan hilang. Sungguh peradaban modern berutang budi kepada Abul Wafa. Hasil penelitian dan karya-karyanya yang ditorehkan dalam sederet kitab memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahun, terutama trigonometri dan astronomi.


Wafatnya Abul Wafawafat

Abul Wafawafat pada 15 Juli 998 di kota Baghdad, Irak. Untuk menghormati pengabdian dan dedikasinya dalam mengembangkan astronomi namanya pun diabadikan di kawah bulan. Di antara sederet ulama dan ilmuwan Muslim yang dimiliki peradaban Islam, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970 dan 1976. salah satunya Abul Wafa.

Kebanyakan, ilmuwan Muslim diadadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat. Abul Wafa adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama asli. Kawah bulan Abul Wafa terletak di koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Diameter kawah bulan Abul Wafa diameternya mencapai 55 km. Kedalaman kawah bulan itu mencapai 2,8 km.

Lokasi kawah bulan Abul Wafa terletak di dekat ekuator bulan. Letaknya berdekatan dengan sepasangang kawah Ctesibius dan Heron di sebelah timur. Di sebelah baratdaya kawah bulan Abul Wafa terdapat kawah Vesalius dan di arah timur laut terdapat kawah bulan yang lebih besar bernama King. Begitulah dunia astronomi modern mengakui jasa dan kontribusinya sebagai seorang astronom di abad X.

Abul Wafa menemukan relasi identitas trigonometri berikut ini:

 Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan Abul Wafa Muhammad Al Buzjani - Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan



dan menemukan rumus sinus untuk geometri sferik (yang tampak mirip dengan hukum sinus)

 Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan Abul Wafa Muhammad Al Buzjani - Ilmuwan yang Pertama Mengenalkan Secan dan Cosecan




Referensi:
http://archive.kaskus.us/thread/3450909/20
en.wikipedia.org
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 14 September 2014

Abu Mahmud Hamid ibn al-Khidir Al-Khujandi - Penemu Sekstan Mural

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 adalah astronom Asia Tengah dan ahli matematika asal Mongol yang tinggal di akhir abad ke Abu Mahmud Hamid ibn al-Khidir Al-Khujandi - Penemu Sekstan Mural
Sekstan
Abu Mahmud Hamid bin Khidr Khojandi (dikenal sebagai Abu Mahmood Khojandi, Alkhujandi atau al-Khujandi) adalah astronom Asia Tengah dan ahli matematika asal Mongol yang tinggal di akhir abad ke-10 dan membantu membangun sebuah observatorium dekat kota Ray (sekarang Teheran) di Iran.

Al Khunjadi dilahirkan pada tahun 940 di sebuah wilayah yang bernama Khunjand, Kota Khunjand terletak di sepanjang kedua tepi sungai Syrdarya, menuju pintu masuk ke Lembah Fergana yang sangat subur dan menghijau. Sehingga pada masa itu, pertanian di wilayah tersebut cukup maju. Pada masa modern saat ini, kota Khunjand merupakan negara Tajikistan yang terletak di Eropa Timur.

Beberapa fakta tentang kehidupan Khujandi yang diketahui berasal dari tulisan-tulisan yang masih hidup maupun dari komentar yang dibuat oleh seorang ilmuwan sekaligus ahli matematika dari kota Khurasan Iran, Nasiruddin Al-Tusi (Nassereddin Tusi). Dari komentar Tusi itu cukup yakin bahwa Khujandi, selain merupakan seorang ilmuwan yang ahli astronomi dan matematika juga salah satu dari penguasa yang berasal dari keturunan suku Mongol di wilayah Khujand. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Al Khunjadi berasal dari kaum bangsawan.

Dalam melakukan penelitian maupun pengembangan berbagai macam karya-karya ilmiahnya, Al-Khujandi didukung oleh para anggota dinasti Buwaih. Dinasti Buwaih tersebut sangat berkuasa pada tahun 945 ketika pemimpinnya yang bernama Ahmad ad-Dawlah berhasil menduduki Abbasiyah yang merupakan ibukota Baghdad. Anggota keluarga Ahmad ad-Dawlah sendiri menjadi para penguasa di berbagai provinsi. Sehingga tidak ada banyak perlawanan terhadap Dinasti Buwaih. Al-Khujandi sendiri banyak mendapatkan perlinduangan dari Fakhr ad-Dawlah yang memerintah antara tahun 976 hingga 997.

Selain memberikan perlindungan bagi Al Khunjadi, Fakhr ad-Dawlah juga memberikan dukungan yang kuat terhadap proyek besar yang menjadi obsesi Al-Khujandi untuk membangun sekstan mural yang sangat besar bagi observatoriumnya di Rayy, yang saat ini dekat Kota Teheran, Iran. Para ilmuwan Arab mempercayai bahwa semakin besar alat tersebut maka semakin akurat pula hasil penelitian dan pengamatan yang akan diperoleh. Bahkan sekstan mural penemuan Al-Khujandi tersebut mampu menunjukkan akurasi hingga ke level detik di mana para ilmuwan sebelumnya, belum pernah mendapatkan penemuan seperti itu.


Penelitian Astronomi

Selama tahun 994 Al-Khujandi melakukan berbagai macam penelitian. Dalam sebuah penelitiannya, dia menggunakan instrumen yang sangat besar untuk mengamati serangkaian transit meridian matahari yang dekat dengan titik balik matahari. Dalam pengamatan yang dilakukannya pada tanggal 16 dan 17 Juni tahun 994 dia gunakan untuk melihat titik balik matahari musim panas. Sedangkan pengamatan pada tanggal 14 dan 17 Desember tahun 994, dia gunakan untuk melihat titik balik matahari musim dingin, untuk menghitung arah kemiringan dari Ekliptika, dan lintang dari Rayy. Dia menjelaskan pengukurannya secara rinci dan sangat mendetail dalam sebuah risalah yang berjudul On the obliquity of the ecliptic and the latitudes of the cities (Arah kemiringan dari Ekliptika dan garis lintang kota-kota).

Dari berbagai macam pengamatan dan penelitian yang dia lakukan, Al Khunjadi memperoleh kemiringan sebesar 23 ° 32 '19 " dari Ekliptika. Nilai yang ditemukan Al Khunjadi ini rupanya lebih rendah dari pada nilai-nilai yang diperolehnya pada pengamatan sebelumnya.

Al-Khujandi mengatakan bahwa orang India menemukan kemiring yang paling besar dari Ekliptika yakni sebesar 24 °, sedangkan Ptolemeus menemukan kemiringan sebesar 23 ° 51 ', dan dia sendiri menemukan kemiringan sebesar 23 ° 32' 19 ". Menurut Al Khunjadi, nilai-nilai kemiringan yang berbeda dari Ekliptika ini terjadi bukan karena rusak atau cacatnya instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap kemiringan ekliptika. Tetapi, kemiringan dari Ekliptika sendiri, baginya tidak konstan alias berubah-ubah. Hal itu terjadi akibat menurunnya kuantitas.

Namun menurut sejumlah ilmuwan lain, tetap terdapat kesalahan dalam pengamatan dan penghitunga Al-Khujandi saat menilai kemiring dari Ekliptika, di mana dia melakukan penghitungan dua menit terlalu rendah. Kesalahan tersebut dibahas oleh kedua ilmuwan lain yang juga ahli dalam bidang astronomi dan matematika yaitu Al-Biruni dalam Tahdid di mana mereka mengklaim bahwa instrumen yang digunakan oleh Al Khunjadi terlalu berat. Mungkin Al-Biruni benar dalam menunjukkan penyebab kesalahan yang dilakukan oleh Al Khunjadi dalam penghitungannya. Tetapi, penghitungan Al-Khujandi untuk menentukan lintang kota Rayy sebesar 35 ° 34 '38,45 " sangatlah akurat, meskipun dihitung dengan menggunakan nilai yang salah untuk menunjukkan kemiringan dari Ekliptika.


Matematika

Al-Khazin menuliskan, Abu Muhammad al-Khujandi merupakan ilmuwan dan seorang pemikir yang sangat maju dan semoga Allah SWT memberikan berkah kepadanya. Dari demonstrasi yang dilakukan oleh Al Khunjadi bahwa jumlah dari dua bilangan kubik bukanlah sebuah kubus adalah tidak benar. Meski demikian, setidaknya Al Khunjadi merupakan ilmuwan yang tidak pernah menyerah dan terus-menerus melakukan penelitian dan pembelajaran demi kemajuan ilmu pengetahuan. Tanpa adanya sebuah kesalahan, maka peradaban di dunia tidak mungkin mengalami kemajuan.

Dalam matematika Islam, ia menyatakan kasus khusus dari teorema terakhir Fermat untuk n = 3, walaupun bukti-nya tidak sepenuhnya benar. Hukum bola sinus mungkin juga telah ditemukan oleh Khujandi, tetapi tidak pasti apakah ia menemukan pertama kali, atau apakah Abu Nasr Mansur, Abul Wafa atau Nasir al-Din al-Tusi yang menemukan terlebih dahulu? [untuk lebih jelasnya baca: "Pertentangan Tentang Siapa Penemu Teorema Sinus"]


Sumber:
en.wikipedia.org
metakerenz.blogspot.com
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.