Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, 22 June 2025

Tuhan, dalam perang suci ini

 



Aku tak pernah takut kematian.

Darah dan debu telah lama jadi saudaraku,

dan denting pedang bagai doa-doa yang melangit.


Namun, Tuhan,

yang mengguncang dadaku bukan akhir,

melainkan kemungkinan bahwa kemenangan

jatuh ke tangan mereka

yang tak pernah menyebut nama-Mu,

yang tak pernah bersujud dalam gelap,

yang tak pernah menangis karena rindu pada-Mu.


Jika panji mereka dikibarkan lebih tinggi,

apakah aku harus meragukan rencana-Mu?

Atau inikah ujian iman yang paling dalam,

saat Engkau diam

dan surga seolah menunduk?


Tuhan,

berikan padaku keteguhan,

bukan hanya untuk bertahan,

tapi untuk percaya

bahwa di balik kekalahan pun,

Engkau tetap menang.

Monday, 16 June 2025

puisi: Doamu dan Doaku




Doamu dan doaku
berangkat dari sunyi yang sama,
tapi entah apakah tujuannya satu
atau hanya saling melambai
di langit yang tak pernah kita bagi.

Kau menyebut namaku dalam hening,
aku menyebut namamu dalam harap.
Apakah doa itu saling menemukan
atau justru bersilang jalan
menuju takdir yang berbeda?

Mungkin kita berdoa untuk cinta yang sama
dengan kata yang tak serupa.
Mungkin aku berdoa agar kau tetap tinggal,
sedang kau berdoa agar aku bisa melepaskan.

Jika benar cinta itu saling mendoakan,
biarlah doamu dan doaku
menjadi puisi yang tak harus serupa,
asal tak saling meluka.

Sunday, 8 June 2025

Hujan Puisi di Muara Hati yang Luka

 


Di pelataran sunyi, aku duduk sendiri,
membawa sisa-sisa rindu yang tak sempat menjadi.
Langit menggantung awan kelabu,
seperti dadaku yang penuh pilu.

Aku menulis dengan air mata,
bukan karena ingin dikenang,
tapi karena tiap kata adalah doa
yang lahir dari luka yang tak bisa terang.

Hujan turun — bukan air, tapi aksara.
Lembut, lirih, menggugurkan nestapa.
Ia mengetuk jendela hati yang lama tertutup,
membisikkan harapan dari tempat yang redup.

Setiap bait menyusuri luka-luka lama,
menyentuh perih yang sengaja kusimpan.
Dan tiba-tiba, aku mengerti,
bahwa puisi adalah cara hati berbicara diam-diam.

Muara itu,
tempat segala sakit bermuara,
kini tak lagi pekat,
karena hujan puisi telah melembutkannya pelan-pelan.

Kini aku tahu —
luka tak harus hilang untuk sembuh,
ia hanya butuh ruang untuk menjadi indah,
dalam bait, dalam sajak, dalam cinta yang tak harus utuh.

Saturday, 7 June 2025

Puisi: Rendang dan Tongseng di Hari Kurban

 



Di pagi sunyi lepas takbir membumbung,
tangan-tangan menyingsing lengan dengan santun,
daging kurban dibagi rata tanpa bimbang,
rezeki Tuhan yang jatuh dari langit terang.

Kulit disamak, tulang disisihkan,
tapi daging—ah, daging itu ditimbang harapan.
Ada yang menyisih untuk rendang tua,
ada pula yang menunggu tongseng di tungku bara.

Rendang dimulai dengan kesabaran,
santan direbus perlahan hingga berminyak keemasan,
rempah turun satu per satu seperti doa:
lengkuas, serai, dan cabe yang bicara cinta.

Daging tenggelam dalam pelukan bumbu,
berjam-jam ia luluh, menghitam, membisu,
hingga jadi puisi yang tak perlu kata,
karena rasa telah bicara segalanya.

Tongseng lain pula ceritanya,
di wajan tanah liat yang ringkih dan hangat,
daging muda direbus bersama kol dan tomat,
gula merah, kecap, dan harum yang menyengat.

Ada cabai rawit sembunyi di balik kuah,
seperti kenangan lebaran yang tak mudah diluah.
Sendok pertama—manis, pedas, penuh semangat,
tongseng ini adalah pesta di tiap suap.

Di bawah langit Dzulhijjah yang jernih,
keluarga duduk mengelilingi meja warisan,
rendang dan tongseng menyatukan jiwa-jiwa,
dalam masakan, kurban menjadi berkah nyata.

Puisi: Daging di Balik Rambut





Di sudut sunyi pasar tua,
terselip seonggok daging merah muda,
tertutup helaian rambut hitam pekat,
panjang, basah, dan meringkuk erat.

Tak ada yang tahu dari mana asal,
apakah tumbuh dari kepala atau ritual,
daging itu diam namun terasa hidup,
berdenyut pelan di bawah tirai hitam yang kusut.

Orang-orang berbisik,
“Jangan disentuh, itu bukan milik manusia.”
Ada yang bilang itu kutukan lama,
jelmaan hasrat yang tak pernah padam.

Pada malam purnama ketiga,
seorang anak menyingkapnya diam-diam,
dan rambut itu menggulung lengan,
membisikkan kata-kata dari dunia dalam.

“Daging ini bukan untuk dimakan,
tapi untuk diingat,
adalah luka yang ditumbuhkan,
dan rambut—adalah ingatan yang tak bisa dicukur.”

Lalu lenyaplah anak itu di antara riuh,
tinggal daging dan rambut,
semakin lebat, semakin biru,
mengendap dalam kisah yang tak lagi diburu.

Thursday, 5 June 2025

Gemuruh Takbir di Gelora Bung Karno

 



Nanti malam, langit Jakarta merunduk syahdu,
di antara bintang yang menanti dentum rindu,
Gelora Bung Karno bersiap jadi saksi,
derap langkah Garuda melawan raksasa Timur negeri.

Gemuruh takbir naik dari dada ribuan jiwa,
menggema membelah malam, menggigilkan cakrawala.
Allahu Akbar—teriak bersahutan,
bukan hanya doa, tapi tekad yang disematkan.

Merah putih berkibar di tiap sorot mata,
cinta tanah air tak butuh kata.
Di atas rumput hijau yang basah oleh harapan,
Timnas berdiri, membawa beban dan kebanggaan.

Cina di seberang, raksasa yang tak mudah ditundukkan,
tapi malam ini bukan tentang siapa paling kuat,
melainkan tentang semangat yang tak bisa dipadamkan,
tentang tanah air yang tak kenal menyerah walau berat.

Suara tribun menggelegar,
menjadi gendang perang yang tak gentar.
Gemuruh takbir berpadu dengan sorak,
menjadi puisi perjuangan tanpa titik, tanpa jeda, tanpa retak.

Nanti malam, kita bukan sekadar menonton,
kita bersatu dalam napas satu perjuangan.
Semoga takbir jadi lentera dan kemenangan,
untuk Indonesia—bangkit, berani, dan tak tertundukkan.

Monday, 26 May 2025

Bayang-Bayang Luka

 


Dalam sepi aku mencintaimu,
seperti bayang pada malam tanpa cahaya,
tak terlihat, tak dihiraukan,
namun tetap setia merangkak di dinding jiwa.

Cinta ini bukan nyala api,
melainkan asap yang tercekik angin,
mengambang di ruang hampa,
antara harapan dan kehancuran yang diam.

Jiwaku tak lagi bernyanyi,
sejak kau tanam sunyi di nadinya.
Setiap denyut adalah jerit
yang tak sempat jadi kata.

Aku mencintaimu
seperti tawanan mencintai kebebasan—
dengan rasa takut
bahwa harapan hanyalah cambuk
yang kian mengoyak daging keyakinan.

Biarlah aku mencintaimu
dalam gelap, dalam diam,
di ruang di mana tak ada yang menindas
selain diriku sendiri.

Senandung Hati Putri Kyai


Di antara dinding pesantren teduh nan suci,

Bersemayam putri Kyai, parasnya berseri.

Bukan hanya ilmu agama yang ia selami,

Namun ada rasa halus, mengusik dalam hati.


Pandangannya tertuju, bukan pada rupa semata,

Namun pada akhlak mulia, insan berjiwa ksatria.

Santri pilihan, atau mungkin pemuda dari kota,

Yang getarkan kalbu, tanpa banyak berkata.


Dalam setiap tahajud, namanya ia sebut lirih,

Memohon petunjuk Ilahi, agar cinta tak tersisih.

Bukan nafsu duniawi yang membuatnya perih,

Tapi rindu suci, yang ingin ia rengkuh bersih.


Ia tahu adat menjaga, maruah keluarga terpandang,

Cinta dalam diam, bagai kuncup yang tak kunjung kembang.

Namun di balik kerudung, hatinya tak henti berdendang,

Menyimpan asa, kelak bersanding di jalan yang lapang.


Malu menyelimuti, setiap kali berpapasan,

Degup jantung kian kencang, tak mampu ia sembunyikan.

Ayat-ayat cinta Ilahi menjadi sandaran,

Agar rasa ini tak melampaui batasan Tuhan.


Oh, Tuhanku Yang Maha Membolak-balikkan Hati,

Jika ini adalah takdir, mudahkanlah jalan kami.

Namun jika hanya ujian, kuatkanlah iman di diri,

Agar cinta pada-Mu tetap yang paling hakiki

Ketika Rasa Sakit Sudah Mati

 


Aku pernah berjalan,
menyusuri luka demi luka
dengan namamu tergenggam
seperti doa yang tak pernah sampai.

Kupikir, kau adalah rumah.
Tempat segala rindu pulang,
tempat luka reda,
dan perjuangan menemukan makna.

Tapi kau memilih arah lain—
mendekap pria yang tak pernah
berdarah demi kehadiranmu.
Dan di situ, aku belajar:
cinta tak pernah adil pada yang benar-benar tulus.

Kini,
tak ada tangis yang bisa pecah,
tak ada sesak yang bisa tumbuh.
Karena rasa sakit…
sudah lama mati.

Yang tersisa hanya diam.
Dan diam tak pernah mengkhianati
seperti kau mengkhianati
segala hal yang aku perjuangkan untukmu.

Sunday, 25 May 2025

Puisi Pelantikan: Ribuan Hari Menuju Satu Hari

 


Di ufuk fajar 26 Mei 2026,
bergetar bumi oleh langkah pasti.
Pelantikan terbesar dalam sejarah negeri,
ribuan jiwa berdiri, hati bersaksi.

Air mata jatuh tanpa malu,
bukan tangis duka, tapi bahagia yang membuncah pilu.
Bertahun menanti dalam sunyi,
kini nama dipanggil, tugas negeri menanti.

Dalam barisan itu, ada harapan yang dulu nyaris padam,
ada doa ibu, ada peluh ayah yang tak pernah diam. 

Ada do'a Ibu dan Ayah yang sudah tiada, Ada janji pada diri sendiri,

bahwa hari ini akan tiba, meski ribuan kali diuji.

Ini bukan sekadar seremoni,
ini sakral—sebuah babak baru pengabdian diri.
ASN bukan gelar, tapi amanah
yang dititipkan oleh rakyat yang berharap penuh pasrah.

Ribuan hari kami menunggu,
dan di satu hari ini, semua terbayar penuh restu.
Pelantikan ini adalah awal,
menuju abdi sejati, dalam terang maupun kesal.

Wahai negeri, lihatlah kami,
putra-putrimu siap menepi ego, merawat bumi pertiwi.
dengan sumpah suci di dalam dada,
kami akan jaga Indonesia—dengan setia, sepanjang masa.

Dunia Sudah Tak Punya Tempat

 


Itu bukan sekadar penderitaan,
bukan cuma perih yang bisa kau redam dengan tidur panjang,
itu luka yang menolak sembuh,
meski waktu terus menambal dengan hari-hari baru.

Lapar, kau tahu akhirnya akan kenyang—
tapi bagaimana dengan rindu yang ditolak masuk?
Dengan cinta yang dipaksa bungkam,
meski jantung masih mengetuk pintu yang sama?

Ada orang yang berdiri meski dihantam badai,
tapi ada pula yang jatuh hanya karena satu kata: "tidak".
Dan sejak itu, lututnya gemetar,
tak bisa lagi menyangga nama yang pernah ia bawa dalam do'a.

Sampai akhirnya,
ia tidak rebah karena lelah,
tapi karena dunia sudah tak punya tempat
bagi hati yang tak lagi ingin melawan.

Dan matanya menutup,
bukan karena tidur,
tapi karena akhirnya ia memilih
diam sebagai tempat paling aman untuk mencinta diam-diam.

Zaid Tak Pernah Meminta Royalti

 


Di kala malam sunyi bersaksi,
tinta mengalir di lembaran suci,
Zaid duduk dengan hati berseri,
menulis wahyu, bukan untuk diri.

Bukan emas yang ia cari,
bukan upah, bukan sanjungan tinggi,
tapi ridha dari Ilahi,
dan amanah Rasul yang ia penuhi.

Bersama sabda, ia teliti,
setiap huruf, ia jaga rapi,
bukan hak cipta yang ia lindungi,
tapi kesucian Kalam Rabbi.

Zaid bin Tsabit, penulis wahyu sejati,
namanya abadi dalam sejarah suci,
tanpa royalti, tanpa pamrih duniawi,
karena surga lebih ia nanti.

Zaid Tak Tahu Apa Itu Royalti



Zaid bin Tsabit, duduk bersila,
di tangannya lembar-lembar wahyu mulia.
Tak ada kontrak, tak ada hak cipta,
tak pula stempel “best seller dunia”.

Ia menulis demi langit,
bukan demi lembaran kertas kredit.
Ia hafal tiap lafaz dan titik,
tanpa berharap jadi tokoh iklan etik.

Kini zaman telah berganti,
kitab suci pun masuk percetakan resmi.
Ada versi mewah, ada bonus CD,
ada yang jualan dengan dalil cerdik bestie.

“Royalti mana, Zaid?”
Andai kau hidup di abad ini, mungkin kau heran dan sedikit pahit.
Yang dulunya amanah kini jadi bisnis,
yang suci kadang diperdagangkan secara manis.

Tapi tenang, wahai penulis wahyu,
namamu bersih, tetap jernih seperti embun subuh.
Engkau tak butuh royalti dunia fana,
karena engkau sudah dibayar surga.

Zaid Bin Tsabit, Royalti Bukan Jadi Tujuan

 



Jika pena menari hanya demi bayaran,
Jika hak cipta dijunjung lebih dari kebenaran,
Apa arti tulisan yang lahir dari hati,
Jika hanya dihitung dengan angka dan royalti?

Zaid bin Tsabit, penyalin wahyu suci,
Bukan untuk emas, bukan untuk duniawi.
Ia menulis demi langit yang abadi,
Tak menagih sepeser untuk tugas ilahi.

Bayangkan jika ia menuntut hak,
Atas tiap huruf yang dibaca di tiap waktu salat,
Berapa limpahan dunia akan ditagih,
Berapa lembar akan habis untuk menggantinya?

Namun ia diam, dan tulisannya abadi,
Bukan di kas, tapi di hati dan bumi.
Karena tak semua warisan harus berwujud materi,
Ada yang kekal, karena tulus dan suci.

Maka, wahai penulis zaman kini,
Ukurlah pena bukan hanya dari profit yang menghampiri,
Tanyakan pada nurani—untuk siapa engkau menulis?
Untuk abadi, atau hanya untuk habis?

Cinta yang Tinggal, Tak Pernah Pergi



Ada cinta, tak bisa kumiliki,
namun ia diam, tak pernah lari.
Seperti bayang di ujung hari,
setia menunggu, meski tak pasti.

Kita pernah dekat dalam angan,
berbagi tawa, menepis keraguan.
Tapi takdir punya pilihan lain,
membiarkan kita jadi kenangan.

Meski tangan tak bisa menggenggam,
hatiku tak bisa lepas dari namamu.
Kau tinggal di relung terdalam,
bagai nyala kecil yang tak pernah padam.

Aku tak meminta kau kembali,
hanya ingin kau tahu satu hal ini:
ada cinta yang tak pernah mati,
meski tak pernah jadi milik sejati.

Namamu di Ujung Doa, Bukan di Pelaminan


Aku menulis namamu dalam diam,
di antara bait doa yang tak pernah usai.
Bukan untuk memiliki,
hanya agar semesta tahu, aku pernah berharap.

Tatapanmu teduh, tapi tak bisa kutambatkan,
karena langkahmu telah lebih dulu diarahkan.
Bukan oleh cinta,
melainkan oleh janji yang bukan milikku.

Kau bilang, “Maaf,” dengan mata berkaca,
seakan luka ini hanya satu arah.
Padahal hatimu juga terbelah,
antara restu dan rasa yang tak bisa bersuara.

Aku tak membenci takdir,
meski ia mencoret namaku dari kisahmu.
Karena mencintaimu,
tak pernah meminta balasan, hanya pengertian.

Jika esok kau tersenyum di pelaminan,
biarlah bayangku menjadi angin di antara taburan bunga.
Tak terlihat, tak terdengar,
tapi pernah ada — dalam diam yang setia.

Kutitipkan Cintamu pada Tuhan




Aku jatuh hati,
bukan untuk merebutmu dari takdir,
hanya ingin mengenalmu
sebagai ladang doa yang tak lelah kusiram.

Namun Qadarullah,
kau bukan milikku,
bukan untuk digenggam,
tapi untuk dilepaskan—dengan ikhlas yang kusebut ibadah.

Kau sudah dijodohkan,
bukan karena tak ada cinta,
tapi karena cinta kami tak mendapat restu dari langit.

Maka aku undur diri,
bukan karena lemah,
tapi karena tahu,
cinta sejati adalah yang mampu mendoakan,
meski tak bisa memiliki.

Semoga rumahmu kelak jadi surga kecil,
dan langkahmu dipimpin imam yang diridhoi.
Sedang aku,
akan kembali mencintai Allah lebih dulu,
sebelum aku meminta cinta yang halal dari-Nya lagi.

Sunyi yang Mengetuk Langit




Telah kutitipkan cinta pada doa,
Lewat malam yang panjang dan dingin.
Kupinta hatinya, bukan untuk dunia,
Tapi untuk bersanding dalam ridha-Mu, Rabb.

Namun takdir berkata lain,
Ia menjauh, dan hatiku luruh.
Bukan karena benci,
Hanya karena suratan yang Engkau tulis lebih dulu.

Sunyi kini bersuara lirih,
Mengalun dalam sujud yang basah.
Tuhan, jika cinta ini bukan jalan menuju-Mu,
Maka cabutlah perlahan tanpa melukai iman.

Kupahami, cinta sejati bukan hanya memiliki,
Tapi merelakan demi ketenangan hati.
Dan Engkau, ya Rabb,
Adalah tempat segala cinta kembali.

Maka biarlah aku mencintai dalam diam,
Menyembuhkan diri dalam pelukan-Mu.
Karena aku yakin,
Tak ada penolakan yang tak bermakna,
Jika Engkau yang mengaturnya.

Bayangmu di Setiap Nafasku




Aku mencintaimu — lebih dari yang bisa kupinta pada langit,
dalam diam, dalam sepi, dalam doa yang tak kau tahu.
Namun kau berjalan, tak menoleh,
sementara aku tinggal, terhenti di belakang waktu.

Cintaku bukan puisi indah bagimu,
hanya gema yang tak pernah sampai ke telingamu.
Kau memilih dunia tanpaku,
dan aku tersesat dalam dunia yang hanya ada bayangmu.

Rasa sakit ini… bukan luka,
tapi hidup yang tak pernah sembuh.
Setiap tarikan napas membawa namamu,
setiap hela adalah perih yang baru.

Aku tahu kau tak pernah mencinta,
tapi bagaimana bisa aku berhenti mencintai?
Jika rinduku adalah takdir,
maka biarlah aku menderita seumur hidup — dengan setia.

Dalam Nafas yang Tak Kau Hirup

 


Aku jatuh cinta padamu — tanpa syarat, tanpa pinta,
Seperti hujan mencintai tanah, walau akhirnya hanya luka.
Kau adalah senja yang kupandangi tiap hari,
Namun tak pernah menyadari — aku di sini, sendiri.

Kutulis namamu di tiap doa malam,
Dalam sepi yang menggigit, dalam harap yang diam.
Tapi kau tak pernah menoleh, tak pernah tahu,
Bahwa aku hidup hanya untuk mencintaimu.

Kau tertawa untuk dunia yang bukan aku,
Sementara aku menunggu, di pintu yang tak pernah kau buka itu.
Cintaku padamu seperti napas — tak bisa berhenti,
Tapi kau bagai angin, menghilang tanpa janji.

Setiap pagi aku bangun dengan bayangmu,
Dan setiap malam aku tidur dengan rindu.
Aku mencintaimu — meski tak berbalas,
Meski hatiku retak, hancur, dan lemas.

Dan kini kutahu, kau tak akan pernah memilihku,
Tapi bagaimana caranya berhenti mencintaimu?
Jika setiap detak jantung menyebut namamu,
Dan setiap hembus napas membawa bayangmu.

Akan kupikul cinta ini sampai akhir waktu,
Biar luka ini jadi teman di sepanjang hidupku.
Meski kau tak mencinta, aku tak menyesal,
Karena mencintaimu — meski sendiri — tetaplah hal yang paling kukenal.