Di pelataran sunyi, aku duduk sendiri,
membawa sisa-sisa rindu yang tak sempat menjadi.
Langit menggantung awan kelabu,
seperti dadaku yang penuh pilu.
Aku menulis dengan air mata,
bukan karena ingin dikenang,
tapi karena tiap kata adalah doa
yang lahir dari luka yang tak bisa terang.
Hujan turun — bukan air, tapi aksara.
Lembut, lirih, menggugurkan nestapa.
Ia mengetuk jendela hati yang lama tertutup,
membisikkan harapan dari tempat yang redup.
Setiap bait menyusuri luka-luka lama,
menyentuh perih yang sengaja kusimpan.
Dan tiba-tiba, aku mengerti,
bahwa puisi adalah cara hati berbicara diam-diam.
Muara itu,
tempat segala sakit bermuara,
kini tak lagi pekat,
karena hujan puisi telah melembutkannya pelan-pelan.
Kini aku tahu —
luka tak harus hilang untuk sembuh,
ia hanya butuh ruang untuk menjadi indah,
dalam bait, dalam sajak, dalam cinta yang tak harus utuh.







0 comments:
Post a Comment