Showing posts with label Majas. Show all posts
Showing posts with label Majas. Show all posts

Sunday, 3 April 2016

Contoh Majas Repetisi dan Penjelasannya Lengkap

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-CONTOH REPETISI DALAM SANG PEMIMPI

Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat  yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang nyata. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat  gaya bahasa repetisi, yaitu sebagai berikut. 

1) Oh, aku melambung tinggi, tinggi sekali (SP, 14). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “tinggi”.  

2) Maka aria adalah seorang pemimpi yang sesungguhnya seorang pemimpi sejati. (SP, 52). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “tinggi”.  

3) Dan selama bertahun-tahun itu pula, tak pernah lagi—tak pernah walau sekali—orang melihat Laksmi tersenyum (SP, 78). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “tak pernah”.  

4) Laksmi semakin datar karena kuda sama sekali asing baginya, asing bagi semua orang Melayu (SP, 80). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “tak pernah”.  

5) Aku jengkel, jengkel sekali (SP, 129). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “jengkel”.  

6) Aku sudah muak, Bron!! Muak!! Muaaakk…dengan cerita kudamu itu!! (SP, 133). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “muak”.  

7) Aku sedih menyadari ada sosok lain dalam diriku yang diam-diam sembunyi, sosok  yang tak kukenal. Sosok itu menjelma dengan cepat…(SP, 134-135). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “sosok”.  

8) Bersalah pada Jimbron, bersalah pada Pendeta Geo, bahkan pada Arai (SP, 135). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “bersalah”.

9) Marah, tak habis mengerti, dan ada satu kilatan kecewa, kecewa yang sakit jauh di dalam hatinya (SP, 148). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “kecewa”.  

10) Aku kecewa, kecewa yang sakit jauh di dalam hatiku (SP, 149). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “kecewa”.  

11) Kalau ada gitaris yang pacarnya buruk rupa. Tak ada…tak ada, Boy!! (SP, 199). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “tak ada”.  


12) …yang terlihat hanya horizon buih, bahkan kaki langit tak tampak, hanya biru, biru, dan biru, lalu silau menusuk mata (SP, 223). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “biru”.  

13) Bagiku jilbab adalah piagam kemenangan gilang-gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan Islam atas dirinya, atas imannya, dan atas dunia (SP, 247). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yang dianggap penting yang member penekanan pada sebuah konteks yang nyata yaitu kata “kemenangan”. 

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Contoh Majas Oksimoron dan Penjelasannya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Majas Oksimoron dalam novel SANG PEMIMPI

Oksimoron adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan  kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa oksimoron, yaitu sebagai berikut. 

1) Jika sebelum kuda-kuda itu datang ia jadi pendiam dan giat bekerja,  sekarang ia jadi lebih pendiam dan malas pendiam. (SP, 175). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa oksimoron karena adanya suatu acuan yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan yaitu kata tersebut adalah “giat bekerja dan malas pendiam”.  

2) Aku takjub karena Bang Zaitun mampu menertawakan kepedihannya sekaligus demikian bahagia gara-gara dua bilah gigi palsu (SP, 193). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa oksimoron karena adanya suatu acuan yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan yaitu kata tersebut adalah “menertawakan kepedihannya”.

3) Di balik senyum dan tawa di panggung itu ada siksaan tertentu yang tak dilihat orang dari luar…(SP, 193). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa oksimoron karena adanya suatu acuan yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan yaitu kata tersebut adalah “ada dan siksaan”.

MAJAS EPONIM

Eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yang namanya  begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa eponim, yaitu sebagai berikut. 

1) Bukan main SMA ini segera menjadi negara gading tahta tertinggi  intelektualitas di pesisir timur,…(SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “negara gading tahta tertinggi inteletualitas” menggambarkan sebuah SMA yang menjunjung tinggi intelektual manusia yaitu mengedepankan ilmu.  


2) Dan seminggu berikutnya, los kontrakan kami menjadi kuburan euphoria karena Jimbron mendadak lesu darah (SP, 175). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “kuburan euphoria” menggambarkan keadaan yang sangat sepi dan hening karena Jimbron yang mendadak lesu. 

3) Sang ksatria langit ke tujuh itu terkekeh-kekeh girang memamerkan gigigigi  tonggosnya (SP, 178). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “ksatria langit ke tujuh” menggambarkan sosok penolong yaitu yang dimaksud adalah Arai.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Contoh Majas Antitesis serta Penjelasannya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Majas Antitesis dalam NOVEL SANG PEMIMPI

Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan- gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat  gaya bahasa antitesis, yaitu sebagai berikut. 

1) Dada Pak Mustar turun naik menahan marah tapi Pak Balia terlanjur  jengkel (SP, 9). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “naik turun”.  

2) Mereka yang kuat tenaga dan kuat nyalinya siang malam mencedok pasir gelas untuk mengisi tongkang,...(SP, 68). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “siang malam”.  

3) Makhluk berkaki empat yang pandai tersenyum itu adalah jiwa raganya (SP, 166). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan katakata yang berlawanan yaitu “jiwa raga”.  

4) Terbukti banyak sekali wanita cantik sehat walafiat jiwa raganya, rela diusir keluarganya gara-gara jatuh cinta setengah mati pada pemain gitar (SP, 198). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan katakata yang berlawanan yaitu “jiwa raga”.  

5) Tapi pembicaraan sederhana berdasarkan pengalaman pahit manis seseorang justru memberi member petunjuk praktis manual kehidupan (SP, 199). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “pahit manis”.  

6) Keringat Arai bercucuran, dadanya turun naik (SP, 203). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “turun naik”.  

7) Hujan sore tadi tapi sekarang langit cerah, purnama timbul tenggelam di antara gumpalan-gumpalan awan (SP, 203). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “timbul tenggelam”.  

8) Dan butir-butir lampu kecil yang merambat-rambat ke sana kemari, naik turun berputar-putar sampai keluar…(SP, 230). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “naik turun”. 


 9) Ketika melihatku tadiia sedang tertawa-tawa dengan temannya, pria dan wanita, yang semua hal dalam diri mereka menunjukkan kemasakinian…(SP, 246). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “pria dan wanita”.  

10) …, dan penghargaan ilmiah dari dalam dan luar negeri (SP, 251). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yang bertentangan denga menggunakan kata-kata yang berlawanan yaitu “dalam dan luar”.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 2 April 2016

Contoh Majas Anafora dan Epifora serta Penjelasannya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Contoh majas anafora dan epifora dalam novel sang pemimpi

Anafora adalah repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama  pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat  gaya bahasa anafora, yaitu sebagai berikut. 

1) “Tak ada pengecualian, tak ada kompromi, tak ada kata belece, dan tak ada  akses istimewa untk mengkhianati aturan (SP, 9). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “tak”.  

2) Aku gugup bukan main saat pertama kali keluar kamar dengan gaya rambut Toni Koeswoyo itu. Aku berdiri mematung di ambang pintu…(SP, 24). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “aku”.  

3) Aku terbengong-begong melihat tingkah Arai. Ibuku sibuk menggulung kabel telpon yang kami campakkan. Aku semakin tak mengerti waktu Arai bergegas membuka tutup peregasan…(SP, 40). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “aku”.  

4) Mei Mei terdiam menatap Arai. Kami juga terdiam, serentak menoleh padanya (SP, 47). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “terdiam”.  

5) Juwita malam, siapakah gerangan puan. Juwita malam, dari bulankah puan….(SP, 53). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “puan”.  

6) …sebab kenyataannya penguasa tertinggi kampong kami, tak lain tak bukan, de facto, tak dapat diganggu gugat, tetaplah penggawa masjid (SP, 58). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “tak”.  

7) Jika ia panik atau sedang bersemangat maka ia gagap. Jika suasana hatinya sedang nyaman, ia berbicara senormal orang biasa (SP, 60). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “jika”.  

8) Aku selalu berlari. Aku menyukai berlari. Para kuli ngambat adalah pelari (SP, 141)). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal dan kalimat berikutnya yaitu kata “aku”. 

Epifora adalah pengulangan kata pada akhir kalimat atau di tengah kalimat. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 2 data gaya bahasa epifora, yaitu sebagai berikut. 


1) Ia mengejar layangan untukku, memetik buah delima di puncak pohonnya  hanya untukku, mengajariku berenang, menyelam, dan menjalin pukat (SP, 32). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epifora karena terdapat pengulangan kata di tengah kalimat yaitu kata “untukku”  

2) Ia tahu teknik mengendarai kuda, asal muasal kuda, dan mengerti makna ringkikan kuda (SP, 62). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epifora karena terdapat pengulangan kata di akhir  kalimat yaitu kata “kuda”.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Contoh Majas Aliterasi, Anadiplosis, Epizeukis, Mesodiplosis

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Contoh Majas Aliterasi, Anadiplosis, Epizeukis, Mesodiplosis Pada NOVEL SANG PEMIMPI

Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama.
 
1) Aku merasa tampan, aku merasa jadi pahlawan (SP, 14). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa alitersi karena adanya pemanfaatan kata ulang pada permulaan yang sama bunyinya yaitu “aku”.  b. Anadiplosis  

Anadiplosis adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau  kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.

1) Pemotongan pita peresmian SMA ini adalah hari bersejarah bagi kami  orang Melayu pedalaman, karena saat pita itu terkulai putus,… (SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anadiplosis karena ada kata yang digunakan atau menjadi kata pertama pada kalimat berikutnya, yaitu kata “pita”.

Epizeukis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata-kata  yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.

1) Dan yang paling sial adalah aku, selalu aku! (SP, 13). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa epizeukis karena terdapat kata-kata yang diulang dipentingkan diulang berturut-turut, yaitu kata “aku”.  

2) …agar tak memendam harap, ia terpuruk, terpuruk dalam sekali (SP, 81). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epizeukis karena terdapat kata-kata yang diulang dipentingkan diulang berturut-turut, yaitu kata “terpuruk”.  

3) Dan sampai di los kontrakan, melongok ke dalam kaleng celenganku yang penuh, penuh oleh uang receh darah masa mudaku yang berapi-api perlahan padam (SP, 144). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epizeukis karena terdapat kata-kata yang diulang dipentingkan diulang berturut-turut, yaitu kata “penuh”.  

Mesodiplosis adalah repetisi di tengah-tengah baris atau beberapa  kalimat berurutan.  

1) Jasamu yang tak kenal pamrih itu, ketulusanmu yang tak kasat mata itu  (SP, 186). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa mesodiplosis karena terdapat repetisi di tengah baris yaitu kata “tak”.  


2) …aku jadi mendapat bahan untuk meledak Arai sepanjang waktu, sepanjang hidupnya malah (SP, 234). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa mesodiplosis karena terdapat repetisi di tengah baris yaitu kata “sepanjang”.  

3) Setiap bangun subuh aku berlari, tengah hari aku sebelum makan berlari, sepanjang sore berlari, dan tak boleh tidur jika belum berlari (SP, 242). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa mesodiplosis karena terdapat repetisi di tengah baris yaitu kata “berlari”.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Contoh Majas Eponim dan Penjelasannya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-contoh majas eponim

Eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yang namanya  begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa eponim, yaitu sebagai berikut. 

1) Bukan main SMA ini segera menjadi negara gading tahta tertinggi  intelektualitas di pesisir timur,…(SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “negara gading tahta tertinggi inteletualitas” menggambarkan sebuah SMA yang menjunjung tinggi intelektual manusia yaitu mengedepankan ilmu.  

2) Dan seminggu berikutnya, los kontrakan kami menjadi kuburan euphoria karena Jimbron mendadak lesu darah (SP, 175). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “kuburan euphoria” menggambarkan keadaan yang sangat sepi dan hening karena Jimbron yang mendadak lesu.  

3) Sang ksatria langit ke tujuh itu terkekeh-kekeh girang memamerkan gigigigi  tonggosnya (SP, 178). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “ksatria langit ke tujuh” menggambarkan sosok penolong yaitu yang dimaksud adalah Arai. 


Pars pro toto adalah gaya bahasa yang melukiskan sebagian untuk  keseluruhaan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 1 data gaya bahasa pars pro toto, yaitu sebagai berikut. 

1) …ia merasa sedikit takut saat keinginannya akan segera terwujud di depan  batang hidungnya (SP, 169). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa pars pro toto karena “batang hidungnya” sudah mewakili keseluruhan yaitu kata “ia”.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Contoh Majas Asosiasi dalam Novel Sang Pemimpi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Contoh Majas Asosiasi dalam Novel Sang Pemimpi

Asosiasi adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat  memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa asosiasi, yaitu sebagai berikut. 

1) …, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur  ke laut seperti reign of fire, lingkaran api (SP, 1). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan di laut tersebut telah dilukiskan secara nyata, yaitu diibaratkan oleh reign of fire yang artinya zaman api.  

2) Wajah Jimbron yang bulat jenaka merona-rona seperti buah mentega (SP, 11). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan wajah jimbron diibaratkan seperti buah mentega yaitu berbentuk bulat dan merona.  

3) …sebab tak seorangpun ingin memedulikan laki-laki yang berbau seperti ikan pari (SP, 12). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan laki-laki tersebut yang sangat bau diibaratkan seperti bau ikan pari.  

4) Tak sempat kusadari, secepat terkaman macan akar,…(SP, 12). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan yang sangat cepat. Oleh karena itu, diibaratkan seperti terkaman macan akar.  

5) Mulut mungilnya yang dari tadi berkicau kini terkunci lalu pelan-pelan menganga seperti ikan mas koki (SP, 49). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan mulut mungil yang menganga dapat diibaratkan seperti ikan mas koki.  

6) Mei Mei pucat pasi karena terpukau dalam ketakutan yang indah (SP, 49). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan Mei Mei yang terpukau dalam ketakutan yang indah. Oleh karena itu, wajah Mei Mei menjadi pucat pasi.  

7) …anak kelas empat SD itu, kehabisan napas dan pucat pasi ketakutan (SP, 61). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan anak kelas empat yaitu wajahnya pucat pasi.  

8) Lalu seperti di bioskop dulu, para penonton pria gegap gempita mendukung sang majikan (SP, 124). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keaadaan di bioskop dengan para penonton yang gegap gempita dengan mendukung sang majikan.  

9) Jimbron berdiri mematung, pucat pasi (SP, 134). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keaadaan Jimbron yang berdiri mematung dengan wajah yang pucat pasi.  

10) Ia seperti orang yang baru sadar dari sebuah mimpi yang gelap gulita (SP, 137). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan orang yang baru sadar dari sebuah mimpi yang terlihat gelap gulita.  

11) Ekspresinya jelas mengesankan bahwa ia telah meninggalkan masa lalu yang kelam mencekam dan siap menyongsongsong masa depan yang cerah bercahaya (SP, 139). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan seseorang yang telah meninggalkan masa lalu, dengan keadaan masa lalu yang kelam mencekam, seseorang tersebut siap menghadapi masa depan yang cerah.  


12) Seisi kampung tumpah ruah ke dermaga, ratusan jumlahnya, di antara mereka tampak bupati, camat, lurah, kepala desa, dan para dukun…(SP, 168). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan penghuni kampung yang tumpah ruah yaitu kumpul jadi satu. 

13) Abang malang melintang dari panggung ke panggung…(SP, 192). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan seseorang yang sangat sibuk dari panggung ke panggung dengan mengibaratkan kata yang “malang melintang” 

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Majas Simile pada Novel Sang Pemimpi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Majas simile dalam novel sang pemimpi

Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit atau langsung  menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa simile, yaitu sebagai berikut. 

1) Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uanp lengket yang  terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi (SP, 1). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran langit pada kalimat di atas sudah sangat jelas karena penggambaran tersebut keadaannya adalah “gelap gulita”  

2) Dahinya yang kukuh basah oleh keringat, berkilat-kilat (SP, 2). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran dahi yang berkilat-kilat itu karena kukuh basah oleh keringat.  

3) Ia westerling berwajah tirus manis (SP, 5). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran wajahnya sangat jelas, yaitu berwajah tirus manis.  

4) Pulau timah yang kaya raya itu, memiliki sebuah SMA Negeri (SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran SMA Negeri tersebut adalah sekolah yang sangat kaya, oleh karena itu kalimat di atas memakai kata “kaya raya”.  

5) Ia petantang-petenteng hilir mudik sambil bertelekan pinggang (SP, 9). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran petantang-petenteng mondar mandirnya mempunyai perbandingan yang implisist yaitu hilir mudik.  

6) Lalu tukang parker terpana melihat ratusan sepedayang telah dirapikan susah payah (SP, 14). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu susah payah yang digambarkan dalam kalimat di atas.  

7) Rambutnya tebal, disemir hitam pekat (SP, 17). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu hitam pekat yaitu telah digambarkan dalam kalimat di atas bahwa rambutnya yang tebal dan yang disemir hitam pekat.  

8) …wajah beliau sembap dan matanya semerah buah saga. (SP, 26). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu semerah buah saga untuk menggambarkan wajahnya.  

9) Meskipun perasaannya telah luluh lantak pada usia sangat muda tapi ia selalu positif dan berjiwa seluas langit (SP, 33). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu berjiwa seluas langit yang mempunyai arti sabar yang luar biasa.  

10) Ia tersedu sedan (SP, 40). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu tersedu sedan dengan menggambarkan keadaanya.  

11) Ibunya hilir mudik ketakutan (SP, 47). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu hilir mudik ketakutan dengan menggambarkan keadaan ibunya.  

12) Kaki-kakinya kukuh besar seperti pilar (SP, 171). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu kukuh besar seperti pilar yang menggambarkan keadaan kaki-kakinya.  

13) Surainya laksana jubah putih yang mengibas mengikuti tubuhnya yang menggelinjang-gelinjang (SP, 172). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit menggambarkan surainya yang mengibas seperti jubah.  

14) Kini hatinya yang lugu itu hampa, hampa seperti tong-tong aspal tempatnya berdiri (SP, 174). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu hatinya yang lugu itu hampa hal tersebut menggambarkan suasana hati yang kesepian. 

15) Keajaiban yang mengejutkan seperti jutaan bintang meledak, …(SP, 176177).  Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu melukiskan keajaiban dengan mengibaratkan jutaan bintang yang meledak.  

16) Dini hari itu sunyi sepi di dermaga (SP, 177). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yang implisit yaitu sunyi sepi yang menggambarkan keadaan dini hari di dermaga.   

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Majas Persinifikasi pada Novel Sang Pemimpi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Personifikasi dalam novel sang pemimpi

Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang  menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa personifikasi, yaitu sebagai berikut. 

1) Dataran ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yang dilantakkkan  tenaga dahsyat kataklismik (SP, 1). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena menganggap dataran bisa mencuat dan keluar dari kulit bumi, jadi seakan-akan dataran bisa keluar sendiri seperti benda hidup.  

2) Sedangkan di belahan yang lain, semburat ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu berlapis minyak (SP, 1) .Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena semburat ultraviolet diibaratkan seperti benda hidup yang bisa menari-nari di atas permukaan laut, padahl  kalimat tersebut menjelaskan bahwa menggambarkan sinar ultraviolet yang memancarkan sinarnya.  

3) Jantungku berayun-ayun seumpama punchbag yang dihantam beruntun beruntun seorang petinju (SP, 2). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kata “jantungku” diibaratkan seperti benda hidup yang bisa berayun-ayun, padahal kata berayun-ayun tersebut menggambarkan keadaan jantung yang berdetak kencang.  

4) Pancaran matahari menikam lubang-lubang dinding papan seperti batangan baja stainless, dan menciptakan pedang cahaya, putih berkilauan, tak terbendung melesat-lesat menerobos sudut-sudut gelap yang pengap. (SP, 4). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “pancaran matahari” diibaratkan sebagai benda hidup, yaitu bisa menikam lubang-lubang dinding papan, padahal kalimat tersebut menggambarkan terik matahari yang sangat panas. 

5) Mendung menutup separuh langit (SP, 4). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “mendung” di atas diibaratkan sebagai benda idup yang dapat menutup langit, padahal kalimat tersebut menjelaskan bahwa dengan adanya mendung maka separoh langit terlihat gelap.  

6) Kapitalis itu meliuk-liuk pergi seperti dedemit dimarahi raja hantu (SP, 8). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “kapitalis” diibaratkan sebagai benda hidup yang bisa meliuk-liuk, padahal kata “kapitalis” di atas menggambarkan kata sifat.  

7) Maka muncullah bongkahan jambul berbinar-binar (SP, 11). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kata “jambul” diibaratkan sebagai benda hidup yang bisa berbinar-binar.  

8) Sayangnya, gadis-gadis kecil itu rupanya telah dikaruniai Sang Maha Pencipta semacam penglihatan yang mampu menembus tulang-tulang. (SP, 12). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “penglihatan” diibaratkan sebagai benda hidup yang mampu menembus tulang-tulang.  

9) Suara peluit menjerit-jerit (SP, 14). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “suara” diibaratkan benda hidup yang bisa berteriak-teriak.  

10) Otakku berputar cepat mengurai satu persatu perasaan cemas (SP, 18). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena  kata “otakku” diibaratkan hidup yang bisa berputar, tetati kalimat di atas menggambarkan bahwa menggambarkan pikiran yang tidak karuan dan sangat cemas.  


11) Suara Nyonya Pho kembali menggelegar seperti pengkhotbah di puncak Bukit Golgota (SP, 20). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personfikasi karena suara diibaratkan hidup yang bisa menggelegar seperti pengkhotbah di puncak Bukit Golgota.  

12) Sekarang delapan orang memikul peti dan peti meluncur menuju pasar pagi yang ramai (SP, 20). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kata “peti” diibaratkan seperti benda hidup yang bisa meluncur menuju pasar.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Majas Metonimia dan Sinekdoke Pada Novel Sang Pemimpi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guruberbahasa.com-Majas Metonimia dan Sinekdoke Pada Novel Sang Pemimpi

Metonomia adalah penggunaan bahasa sebagai sebuah atribut sebuah  objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa metonomia, yaitu sebagai berikut. 

1) Khawatir jagoannya ditangkap garong (SP, 13). Kalimat tersebut  dikategorikan sebagai gaya bahasa metonomia karena kata “garong” dipakai untuk mengganti atribut objek yaitu Pak Mustar yang terkenal sangat keras,galak, dan disiplin tinggi.  

2) Pangeran Mustika Raja Brana dan rombongannya dibawa ke ranch capo di pinggir kampong (SP, 173). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa metonomia karena kata “Pangeran Mustika Raja Brana” dipakai untuk mengganti atribut objek yaitu seekor kuda dari aria yang diberikan kepada Jimbron.  

3) Berdebar-debar Jimbron meletakkan kakinya di pijakan sangga wedi untuk menaiki pangeran (SP, 179). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa metonomia karena kata “pangeran” dipakai untuk mengganti atribut objek yaiitu seekor kuda dengan julukan lengkap Pangeran Mustika Raja Brana. 

Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan  sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 4 data gaya bahasa sinekdoke, yaitu sebagai berikut. 

1) Setelah empat puluh tahun bumi merdeka…(SP, 6). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “bumi” sudah mewakili secara keseluruhan yaitu Negara Indonesia.  

2) Anak cucunya malah malu membicarakan ilmu unik yang mungkin hanya dikuasainya sendiri sejagad raya ini (SP, 55). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “sejagad raya” sudah mewakili secara keseluruhan yaitu yang artinya seluruh dunia ini.  


3) Ialah bintang kejora pertunjukan sore ini (SP, 172). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “bintang kejora” sudah mewakili secara keseluruhan yaitu mempunyai arti bintangnya bintang sore ini.  

4) …demi menyampaikan jeritan hatinya pada belahan hatinya (SP, 201)). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “buah hati‟ sudah mewakili secara keseluruhan yaitu mempunyai arti orang yang sangat dicintai dan itu adalah bagian dari hidupnya.

Sumber http://www.guruberbahasa.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 7 March 2016

Pengertian Majas Perumpamaan atau Simile dan Contohnya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pengertian Majas Perumpamaan atau Simile

Simile merupakan perbandingan secara eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingn secara eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain. (Keraf, 2010: 138). 

Lihat juga:
Majas perumpamaan atau simile adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan yang sengaja dianggap sama (Tarigan, 2009: 9).

Perumpamaan atau simile disebut juga dengan majas "persamaan".

Perbandingan dalam simile secara eksplisit menggunakan kata-kata pembanding: seperti, ibarat, bak, bagai, sebagai, umpama, laksana, penaka, serupa, dll.

Contoh Majas Perupamaan atau Simile
Contoh majas perbandingan atau simile seperti berikut ini:

Seperti air dengan minyak
Seperti air di daun keladi
Seperti bunga kembang setaman
Seperti abu di atas tunggul
Seperti anjing menggonggong bangkai
Seperti anjing berebut tulang
Seperti anak ayam kehilangan induk
Seperti ayam gadis bertelur
Seperti biduk dikayuh hilir
Seperti delima merekah
Seperti harimau menyembunyikan kuku
Seperti menghasta kain sarung
Seperti kutu dengan daging
Seperti katak di bawah tempurung
Seperti lampu kekurangan minyak
Seperti mayang menolak selodang
Seperti pipit makan jagung
Seperti telur di ujung tanduk

Ibarat mencencang air
Ibarat mengejar bayangan
Ibarat burung dalam sangkar, mata lepas badan terkurung

Bak cacing kepanasan
Bak merpati dua sejoli   

Sebagai mencari kutu dalam ijuk
Sebagai anjing dengan kucing

Umpama memadu minyak dengan air
Umpama memadu mentimun denan durian
Umpama kesturi karena bau hilang nyawa

Laksana bulan kesiangan
Laksana bulan purnama raya
Laksana bunga dedap, sungguh merah berbau tidak
Laksana kera dapat bunga
Laksana pahat dengan pemukul
Laksana kunyit dengan kapur

Penaka ombak merindukan pantai
Penaka malam tiada berbintang

Serupa perahu tiada berawak
Serupa kuda sepak belalang

Bagai membendarkan air ke bukit
Bagai minum air bercacing
Bagai air titik ke batu
Bagai api dengan asap
Bagai memakai baju dipinjam
Bagai belanda minta tanah
Bagai bumi dengan langit
Bagai Cina karam
Bagai anak dara sudah berlaki
Bagai sayur tanpa garam
Bagai ikan kena tuba
Bagai mendapat gunung intan
Bagai kera diberi kaca
Bagai si lumpuh pergi merantau

Bak anjung berat sebelah
Bak alu pencungkil duri
Bak birah dengan keladi
Bak Cina kehilangan dacin

Pintarnya seperti Plato
Cepatnya seperti seputnik Rusia
Lucunya seperti Jojon
Gayanya seperti Euis Darliah
Padatnya seperti Cina
Nasibnya seperti Sengkon dan Karta
Ramahnya seperti Adam Malik
Miskinnya seperti Ethiopia
Ramainya seperti Jakarta
Megahnya seperti Monas
Rakusnya seperti babi
Borosnya seperti air terjun
Kikirnya seperti kepiting batu
Pipinya seperti pauh di layang
Jarinya seperti duri landak
Wajahnya seperti bulan kesiangan
Matanya seperti bintang timur
Bibirnya seperti delima merekah
Alis matanya seperti semut beriring
Rambutnya seperti mayang mengurai

Semanis madu
Sepahit empedu
Selangsing pohon pinang
Selebar daun kelor
Sebanyak bintang di langit
Segagah burung garuda
Sepanas bara
Sejorok babi
Selicin belut
Semerdu buluh perindu
Seputih melati
Setipis daun toba
Sekuning emas
Serapuh kerupuk
Semerah saga
Seterang siang hari
Segagah arjuna
Sesegar udara pagi

Sumber http://basindon.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.