Tuesday, 23 June 2026

Lagu - Mencintaimu Tanpa Wujud, Karya: Khoirul Taqwim

 

Di seberang jalan duniaku bermula Menatap jendela di lantai kedua Ada tirai putih yang selalu terjaga Menyimpan rahasia yang tak pernah kubuka. Aku tak pernah tahu warna matamu Juga tak pernah mendengar tawamu Hanya bayanganmu yang bergerak syahdu Saat lampu malam mulai menyapamu. Setiap Selasa ada bunga matahari Diletakkan tenang di ambang jemari Seolah kau kirim pesan yang tersembunyi Untuk jiwaku yang setia menanti. Mereka bilang ini cinta yang gila Mencintai bayang yang tak kasat mata Namun hati ini punya bahasanya Mengenal hadirmu lewat petikan nada. Aku mencintaimu di dalam senyap Tanpa ada kata yang sanggup kuucap Bagai puisi lama yang kian mengendap Tulus dan pasrah, namun tetap menetap. Namun di dada ada satu harapan Bukan meminta sebuah keajaiban Hanya percaya pada takdir Tuhan Bahwa jarak ini kan berujung pertemuan. Suatu hari nanti tirai kan tersingkap Angin kan membawa tatapan yang genap Hingga cerita yang kumulai senyap Akan kita selesaikan dengan pelukan erat.

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu - Rindu Beratap Doa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Hatiku usang, rapuh ditelan zaman Aku ingin tenggelam di sungai cintamu Biar hanyut, biar patah, biar remuk Karena tanpamu, aku sudah mati sebelum mati Rindu tak berbentuk tapi seberat gunung Ia duduk di dadaku, tak mau pergi meski kuusir Setiap detik tanpa dirimu adalah satu abad Dan aku masih menghitung — sampai kapan? Jarak bukan penghalang — hati punya sayap Setiap malam aku terbang menuju pelukmu Setiap sujud kuselipkan namamu dalam doa Doa menjadi atap yang teduh dan tak pernah bocor Aku bukan pilihan kedua Bukan pelabuhan sementara Jika kau tak bisa memilihku sepenuh hati Lebih baik aku pergi — dengan hati utuh meski remuk Rindu ini seperti luka yang tak pernah sembuh total Tapi anehnya, bekas itu tak terasa sakit Dia hanya menjadi pengingat di dinding dada Bahwa aku pernah benar-benar mencintai — dan masih Jika suatu hari kau bahagia tanpaku Aku tak akan marah — aku akan tersenyum Karena bahagiamu adalah bahagiaku Meskipun artinya aku patah hati terus-menerus Sungai tak pernah berhenti mengalir Rindu tak pernah benar-benar pergi Doa menjadi atap yang melindungi Aku masih ada — di ujung sungai yang sama Masih mencintaimu, masih berharap, masih di sini Masih ada jalan untuk rindu ini Sampai sungai ini kering — atau sampai kamu kembali

Lagu - Panitia Surga, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langkah kaki tegap di atas sajadah Memandang dunia dengan tatapan rendah Merasa paling suci, paling tak bernoda Menghitung dosa orang dengan jemari yang ada Kau sebut dirimu pemegang kunci gerbang Menghakimi yang sesat, menilai yang bimbang Siapa masuk neraka, siapa yang mulia Seolah kau ketua dari segala panitia Namun ingatkah kau pada kisah yang lama? Sebelum bumi riuh oleh anak cucu Adam Ada yang paling taat di antara para malaikat Berdiri di saf depan, memimpin segala berkat Iblis terusir bukan karena dia mabuk Bukan karena judi yang membuatnya terpuruk Bukan pula zina yang meruntuhkan tahta Tapi satu penyakit yang tak kasat mata Dia keluar dari indahnya surga Bukan karena maksiat lahiriah yang nyata Namun karena setitik ego di dalam dada "Aku lebih baik dari dia yang dari tanah!" Maksiat raga mungkin berujung tangis tobat Namun sombongnya hati membuat hidayah tersumbat Merasa lebih mulia dari sesama manusia Adalah warisan nyata dari sang pendosa pertama Maka turunkan sedikit dagumu yang mendongak Jangan jadi panitia surga yang suka berteriak Sebab penentu akhir bukanlah jubah dan gelar Melainkan hati yang bersih saat dunia mulai pudar

Lagu - Setenang Embun Pagi Tiba, Karya Khoirul Taqwim

 

Kota yang riuh mematikan rasa dan nalar, Manusia menjadi robot mengejar angka fana. Di balik senyum profesional, gundah kian menjalar, Memaksa jiwa pergi mencari pelukan desa sana. Aroma tanah basah menyambut langkah yang lelah, Secangkir kopi hitam menghidupkan isi kepala. Di kamar sastra yang sunyi, puing jiwa dibenah, Menanti ziarah batin yang menghapus segala cela. Mengikuti jejak sufi, ia menjauh dari duniawi, Bersujud di atas batu kali pada sepertiga malam. Mengetuk pintu rahmat-Mu dalam pasrah yang suci, Membuang segala cemas ke dalam keheningan dalam. Kebekuan aksara pecah bersama derasnya arus, Pena menari lincah melahirkan sungai puisi. Fajar tiba membawa merdu burung berkicau tulus, Menghidupkan ruang rindu dengan melodi alam suci. Di kaki gunung, buruh memecah batu dengan godam, Bertarung fisik demi sesuap nasi keluarga di rumah. Menampar keluhan kota yang selama ini terendam, Membakar rasa malas menjadi rasa hormat yang megah. Gerimis malam membawa bayang perih masa lalu, Tentang cinta lama yang melukai lewat bait sajak. Kertas-kertas duka dibakar di atas lilin yang pilu, Kini ia pulang pada pelukan istri yang paling bijak. Di tepi laut Selatan, desau angin menyapa mesra, Menatap masa depan bersama keluarga kecil tercinta. Lumpuh sudah gundah yang dulu bertahta di dada, Hati bersih dan merdeka, setenang embun pagi tiba.

Lagu - Sinopsis Buku Tinta, Karya: Khoirul Taqwim

 

"Dia tidak punya apa-apa. Bukan siapa-siapa. Tidak lahir dari keluarga kaya. Tidak mewarisi harta atau jabatan. Yang dia punya hanyalah: sebatang pensil tinggal separuh, sebuah buku tulis yang halamannya menguning, dan mimpi yang terus-menerus dikatakan gila oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi dia tidak peduli. Karena dia tahu: setiap orang akan mati. Tapi tulisannya... tulisannya akan tetap hidup. Ini adalah kisah tentang seorang pemuda dari desa yang memilih menulis di atas kardus daripada diam di atas kenikmatan. Tentang seorang guru tua yang memberikan pusaka berupa pena murah. Tentang seorang kakak yang tidak pernah lelah menyemangati. Dan tentang sebuah negeri imajiner — 'Negeri Para Penulis' — tempat di mana setiap orang bebas menggores aksaranya masing-masing. Apakah kamu juga punya mimpi yang ingin kau tuliskan? Bacalah buku ini. Lalu ambil pena. Karena sekarang giliranmu yang menulis."

Lagu Duet - Tinta, Karya: Khoirul Taqwim


Dia tak punya apa-apa di dunia ini, Bukan siapa-siapa yang dikenal hari ini, Pensil separuh dan buku yang menguning, Namun mimpinya tetap terbang menjulang tinggi. Orang berkata mimpinya hanyalah khayalan, Menertawakan langkah dan harapan, Tapi hatinya tak pernah goyah sedikit pun, Karena ia percaya pada tujuan kehidupan. Setiap manusia pasti akan pergi suatu hari, Meninggalkan jejak yang tak kembali, Namun tulisan akan terus hidup dan bernyanyi, Menembus waktu, mengarungi abad demi abad nanti. Di atas kardus ia menulis cerita, Saat yang lain larut dalam kenyamanan semata, Dari desa kecil lahir cahaya cita-cita, Mengubah luka menjadi rangkaian kata. Seorang guru tua memberikan pena sederhana, Bukan emas, bukan pula permata, Namun di dalamnya tersimpan makna luar biasa, Bahwa mimpi besar bisa lahir dari yang sederhana. Ada kakak yang selalu memberi semangat, Saat langkah lelah dan hati terasa berat, Menjadi pelita di malam yang pekat, Menguatkan mimpi agar terus melekat. Di Negeri Para Penulis semua bebas berkarya, Menorehkan aksara sesuai warna jiwanya, Jika kau punya mimpi, jangan hanya menyimpannya, Ambillah pena sekarang, karena giliranmu menulis cerita. Tulislah mimpimu di langit yang luas, Jangan biarkan takut membatasi langkah, Walau dunia berkata kau tak pantas, Tetaplah menulis hingga sejarah bersaksi jelas. Ambillah pena, jangan ragu melangkah, Biarkan aksaramu hidup selamanya, Karena saat semua telah tiada, Tulisanmu akan tetap menyala.

Lagu - Novel Setenang Embun Pagi Tiba, Karya: Khoirul Taqwim

 

Di kota riuh nalar mati terbunuh Langkah pulang ke desa yang sunyi Sujud di batu kali sepertiga malam Mencari Tuhan di antara hening yang nyata Kau Arumi telaga penuh rahasia Surat-surat tua di lemari usang Kau pilih aku di antara dua cinta Kini aku belajar mencintaimu dengan sungguh Para pemecah batu di kaki gunung Keringat darah untuk keluarga tercinta Musuh datang dengan niat jahat Aku berdiri melawan meskipun takut Gerimis malam membawa Rayya kembali Cinta pertama yang pernah hancurkan hati "Maafkan aku," katanya dengan sesal Namun masa lalu takkan kembali lagi Di tepi sungai kau dan aku berdiri Antara dua dunia yang berbeda Aku menatap matamu yang basah "Cintaku telah pulang," kataku lirih Maret tiba dengan hujan yang deras Kebersamaan di warung kopi desa Kau Arumi dan Alif kecilku Adalah pelabuhan terakhir jiwaku Setenang embun pagi yang tiba Menyegarkan hati yang gundah Kepasrahan pada Sang Maha Kuasa Keluarga adalah cinta sejati kita Pulanglah, pulanglah kau jiwa Kepada cinta yang tak pernah dusta Setenang embun pagi tiba Membawa damai dari-Nya

Perenungan - Sinopsis Buku Tinta, Karya: Khoirul Taqwim

 


"Dia tidak punya apa-apa.

Bukan siapa-siapa.

Tidak lahir dari keluarga kaya.

Tidak mewarisi harta atau jabatan.

Yang dia punya hanyalah:

sebatang pensil tinggal separuh,

sebuah buku tulis yang halamannya menguning,

dan mimpi yang terus-menerus dikatakan gila oleh orang-orang di sekitarnya.

Tapi dia tidak peduli.

Karena dia tahu:

setiap orang akan mati.

Tapi tulisannya...

tulisannya akan tetap hidup.

Ini adalah kisah tentang seorang pemuda dari desa yang memilih menulis di atas kardus daripada diam di atas kenikmatan.

Tentang seorang guru tua yang memberikan pusaka berupa pena murah.

Tentang seorang kakak yang tidak pernah lelah menyemangati.

Dan tentang sebuah negeri imajiner — 'Negeri Para Penulis' — tempat di mana setiap orang bebas menggores aksaranya masing-masing.

Apakah kamu juga punya mimpi yang ingin kau tuliskan?

Bacalah buku ini.

Lalu ambil pena.

Karena sekarang giliranmu yang menulis."