Monday, 11 March 2019
Thursday, 10 January 2019
Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S2 di New York (Dok: Robinson Sinurat)Karena cerita ini sangat baik untuk dibaca para siswa yang mempunyai mimpi berkuliah di luar negeri tetapi ekonomi orangtua tidak mendukung jadi cerita inspiratif ini sangat baik kita simpan dan bagikan kembali disini.
Perjuangan Robinson Sinurat (Obin), anak petani di Tanjung Beringin, Sumatera Utara, berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dari universitas ternama, Columbia University, di New York, Amerika. Dengan berpegang teguh dengan pedoman hidupnya, "Be Honest. Be Brave. Be Willing", Obin berhasil mencapai impiannya.
WASHINGTON, D.C. — Kisah perjuangan seorang anak dari keluarga petani asal Tanjung Beringin di Sumatera Utara untuk meraih pendidikan S2 di universitas bergengsi di Amerika Serikat merupakan sebuah bukti pencapaian sebuah impian. Robinson Sinurat yang akrab dipanggil Obin berhasil lulus dari universitas prestisius, Columbia, di kota New York, NY.
"Be honest. Be brave. Be willing." Itulah moto hidup yang selalu ia tanamkan.
Gigih Berjuang Demi Pendidikan
Perjuangan gigih Obin untuk meraih pendidikan pun tidak lepas dari semangat orang tuanya yang adalah petani kopi dan sayur. Sejak kecil Obin yang adalah anak ke-5 dari tujuh bersaudara terpaksa tinggal berjauhan dari orang tua di kota Medan, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik
Selama bersekolah pun Obin yang punya keinginan untuk bisa masuk ke sekolah bonafit seperti sekolah swasta berfasilitas lengkap, mengaku selalu terkendala masalah keuangan, mengingat orang tuanya sudah kehabisan biaya setelah menyekolahkan kakak-kakaknya. Namun, Obin percaya bahwa rezeki masing-masing pasti berbeda.
“Ketika di giliran aku mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP, mau masuk SMA, selalu terkendala dengan keuangan. Jadi mereka selalu bilang coba ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keuangan kita bisa mencukupi,” papar Obin saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.
Selagi duduk di bangku SMP di Medan, ia juga sempat tinggal bersama adik-adiknya yang masih SD. Belajar, memasak, dan mencuci baju menjadi tugas hariannya, hingga akhirnya orang tua Obin memutuskan untuk memindahkan adik-adiknya ke tempat kakaknya di pulau Jawa.
Mengikuti pesan Bapak dan Mamak, begitulah Obin memanggil orang tuanya, ia selalu semangat untuk belajar hingga menjadi juara. Saat kelas 3 SMA, Bapak dan Mamak berpesan kepadanya.
“Kalo kamu enggak masuk negeri kuliahnya, kita enggak sanggup biayain. Jadi kamu harus masuk negeri. Kalau enggak ya belajar lagi setahun lagi,” kenangnya.
Pesan itu menjadi semangat baru baginya untuk berjuang masuk ke universitas negeri. Ia mengikuti ujian SMBPTN dan mendaftar ke Universitas Padjadjaran, Bandung dan Universitas Sriwijaya, Palembang. Awalnya, ia mengira akan berakhir kuliah di Bandung. Namun, akhirnya ia diterima di Universitas Sriwijaya di Palembang, jurusan Fisika, jurusan yang bukan ia inginkan.
“Menurut aku pribadi bukan masalah apa pun jurusannya, tapi pola pikirnya, mindset kita itu gimana ketika kita kuliah, jauh dari orang tua juga. Jadi OK ambil ajalah, yang pasti masuk perguruan tinggi negeri, orang tua sanggup membayar,” kata pria kelahiran tahun 1990 ini.
Namun, saat sudah diterima, Obin kembali dihadapi kendala biaya. Orang tua Obin mengatakan tidak ada biaya dan menganjurkannya untuk mencoba lagi tahun depan. Mengingat banyak anak-anak Indonesia yang bercita-cita masuk ke perguruan tinggi negeri tetapi tidak lolos, Obin menganggap ini merupakan kesempatan berharga baginya. Ia pun memutuskan untuk meminjam uang tiga juta rupiah ke teman dekatnya, untuk membayar uang pendaftaran sekitar 2,4 juta rupiah dan tiket naik bis dari Bandung ke Palembang.
Awal Baru di Kampus Sriwijaya
Setibanya ia di kampus Universitas Sriwijaya, ia pun harus memikirkan cara untuk membayar uang kos dengan sisa uangnya yang tinggal sekitar 250 ribu rupiah. Siapa yang menyangka ketika menemani temannya mencari rumah kos, ia lalu ditawari untuk tinggal bersama salah seorang penjaga kos di salah satu tempat yang mereka datangi.
“Kalau memang kamu mau, kamu tinggal sama saya aja, tapi ya namanya juga kamar penjaga kos-an ya, enggak ada apa-apa, dan sempit. Nanti kamu bayarnya terserah aja berapa dan kapan. Kalau kamu ada uang aja dibayar, tapi kalau uang listrik bayarlah ya, maksudnya paling cuman 10 apa 20 puluh ribu per bulan gitu,” katanya.
Satu masalah selesai, ia pun harus memikirkan uang untuk membayar buku praktikum dan biaya hidup, khususnya untuk makan. Untuk menyiasati hal ini, Obin membuat strategi hanya makan satu kali sehari di kantin kampus di waktu sore hari, agar bisa mengganjal rasa lapar hingga keesokan harinya. Untuk sepiring nasi dengan lauknya, Obin harus membayar sekitar 6-7 ribu rupiah.
“Jadi dulu itu strateginya adalah aku beli nasi banyak, sepiring gede terus pakai sayur, pakai ikan atau daging apa gitu bayarnya kan cuman itu doang,” jelasnya.
Untuk mengatasi rasa lapar yang biasa melanda di tengah malam, Obin menyimpan biskuit kelapa di kamarnya.
“Aku ambil 1-3 biji, makan, sambil nangis,” kenangnya.
“Aku enggak pernah kasih tahu (orang tua), kalau aku itu nggak makan. Tapi kalau yang bahagia-bahagianya aku kasih tahu. Karena kalau menurut aku, kalaupun aku kasih tahu aku susah segala macam, toh memang kalo mereka enggak ada (biaya) ya mau gimana, kan?” lanjutnya.
Agar bisa meneruskan kuliah, Obin lalu dianjurkan oleh dosen pembimbing dan dekan untuk mendaftar beasiswa dari PPA (Peningkatan Prestasi Akdemik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). Nilainya yang selalu bagus sejak SMA serta doa orang tua membuahkan beasiswa di semester dua hingga lulus. Untuk bertahan hidup, ia pun mencari peruntungan kerja dengan mengajar fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat kota Palembang, yang berjarak sekitar satu jam dari kampusnya. Pernah satu kali ia mengirimkan batik untuk orang tuanya dari hasil kerjanya.
“Mereka terharu dong,” ujar pria yang hobi jogging dan berenang ini.
Terjun ke Bidang Sosial di Palembang
Minat Obin di bidang sosial tumbuh saat tinggal di Palembang. Obin yang supel dikenal sangat aktif berorganisasi. Ia tergabung di Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist, menjadi ketua perkumpulan warga Batak, dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika.
Setelah lulus, ia pindah ke Jakarta untuk menerima tawaran kerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation. Setelah itu di Jakarta ia juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan. Kerap kali ia mengikuti konferensi-konferensi baik di tingkat nasional maupun internasional yang pernah membawanya hingga ke Malaysia.
Mengejar Impian Hingga ke Negeri Paman Sam
Obin lalu memiliki cita-cita yang baru, yaitu pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Setelah empat kali mencoba mendaftar beasiswa untuk program Young Southeast Asian Leaders Initiative dari pemerintah Amerika Serikat, ia lalu berhasil memperolehnya. Selama lima minggu ia digodok di University of Nebraska di kota Omaha, untuk belajar mengenai pengembangan keterlibatan warga (Civic Engagement) dan kepemimpinan.

“Yang pertama itu sih aku merasa bangga, karena aku pola pikirnya berubah, lebih baik, terus leadership skils-nya juga, dan public speaking juga, karena harus ngomong di depan teman-teman dan yang paling pentingnya lagi adalah aku harus practice bahasa inggris setiap hari sama teman-teman yang lain,” cerita Obin yang pernah bertemu dengan mantan presiden Amerika, Barack Obama saat mengikuti konferensi di Malaysia.
Tahun 2015 Obin kemudian terpilih untuk mengikuti program dari Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI) untuk pergi ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari 45 ribu orang yang mendaftar hanya 33 yang terpilih, termasuk dirinya. Kunjungannya ke Ende kemudian mendatangkan gagasan untuk membuat perpustakaan untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA di Ende.
Sesuai dengan rencananya, tak lama kemudian Obin memutuskan untuk mendaftar beasiswa untuk studi S2.
“Karena aku dulu waktu pertama kerja aku udah membuat semacam goal satu target, dalam waktu dua tahun aku mau lanjut lagi s2 di bidang sosial, karena pekerjaan aku selama ini sosial tapi karena background aku itu fisika kadang orang merasa kalau aku prakteknya udah banyak, cuman di teori enggak ada. Nggak ada degreenya di teorinya,” jelas Obin yang juga pernah bekerja untuk organisasi nirlaba American Voices di Indonesia dan mengikuti program Rumah Perubahan Rhenald Kasali.
Melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan), Obin berhasil diterima di berbagai universitas di Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Inggris.
"(Mamak) kalau enggak salah lagi metik cabe, terus katanya dia langsung kayak berlutut gitu, ucapan syukur gitu lho. Di deket pohon cabe,” kenangnya sambil tertawa.
“Terus dia nangislah, (katanya) ‘selamat ya nak’,” lanjutnya.
Dari seluruh universitas yang menerimanya, Obin memutuskan untuk memilih Columbia University, sebuah universitas prestisius atau Ivy League di New York. Jurusan 'social work' (pekerjaan sosial) menjadi pilihannya.
“Yang lucunya aku cerita ke orang tua, ke Bapak sama Mamak kan, aku lolos Columbia University di Amerika. Terus kata mereka, bukannya di ucapin selamat, ini enggak. ‘Loh kenapa ke Amerika lagi? Bukannya kemaren mau ke inggris?” ujarnya lagi sambil tertawa.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya di depan Gedung Putih, Washington, D.C. (Dok: Robinson Sinurat)Sesampainya di Amerika Serikat dan memulai kuliah di tahun 2016, Obin mendapat tantangan baru. Bacaan yang banyak dan tugas yang menumpuk sempat membuatnya patah semangat dan ‘badan kurus kerempeng.’ Tetapi, dengan kemampuan bahasa Inggris yang menurutnya masih menjadi kendala, ia tetap berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus Amerika. Kali ini strateginya adalah mempersiapkan diri dan berpartisipasi di dalam kelas.
“Aku udah targetin, setiap mata kuliah itu aku at least nanya satu atau jawab satu. Kalau memang bisa lebih lebih bagus, tapi at least satu,” jawabnya.

Robinson Sinurat lulusan Columbia University di AS (Dok: Robinson Sinurat)
Menurutnya dosen di Amerika Serikat sudah seperti teman sendiri. Jika ada pertanyaan, boleh langsung mengirim e-mail atau datang ke kantornya di saat jam kerja.
Seperti saat kuliah di Universitas Sriwijiaya dulu, Obin kembali aktif di kampus. Ia menjadi salah satu tim pemasaran untuk PERMIAS (Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dan mendirikan International Student Caucus di kampus bersama teman-temannya.
Cita-cita Obin untuk lulus S2 pun tercapai di tahun 2018. Impian lainnya? Mendatangkan Bapak dan Mamak ke Amerika untuk wisudanya, dengan hasil tabungannya selama ini.
“Akhirnya tercapailah mimpi aku itu. Aku bilang harus berdua, karena waktu S1 kan cuman (Mamak). Jadi kalau kali ini harus berdua,” paparnya.

Robinson Sinurat bersama artis Tasya Kamila (tengah) dan Kania (kanan) saat wisuda S2 (Dok: Obin)
Lulus dari Columbia University, Obin kini bekerja di lembaga nirlaba, Queens Community House di New York, sebagai Counseling Specialist.
Pencapaian Obin selama ini kembali lagi kepada pedoman hidupnya. “Be honest. Be brave. Be willing.” Jujur. Berani. Mau berjuang.
“Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup. Dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana? Karena jujur sama diri sendiri itu penting. Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” ujarnya.
Tak lupa menurut Obin, yang juga tak kalah penting adalah kemauan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
“Jadi aku sih berharapnya gitu. Makanya aku bikin itu jadi moto aku sendiri. Be honest. Be brave. Be willing,” pungkasnya. [di]
Cerita yang sangat mengsinspirasi ini sebelumnya sudah dishare oleh www.voaindonesia.com. Semoga Robinson Sinurat yang dikenal dengan panggilan Obin, semakin sehat dan sukses sehingga bisa memberikan inspirasi lebih banyak lagi kepada generasi muda.
Jangan Lupa Untuk Berbagi 🙏Share is Caring 👀 dan JADIKAN HARI INI LUAR BIASA! - WITH GOD ALL THINGS ARE POSSIBLE😊
Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Everything Starts With A Dream;

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
Wednesday, 23 May 2018
Download Kisi-kisi USBN dan UN 2019 Untuk Semua Tingkatan (*Update POS UN dan USBN)
Hari ini, Selasa, 27 November 2018, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) merilis Kisi-Kisi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan Ujian Nasional (UN) tahun 2019. Keputusan ini ditetapkan dalam Surat Keputusan BSNP Nomor 0296/SKEP/BSNP/XI/2018 untuk Kisi-Kisi UN dan Nomor 0297/SKEP/BSNP/XI/2018 untuk Kisi-Kisi USBN. Fungsi Kisi-kisi tersebut adalah sebagai acuan pengembangan dan perakitan naskah soal ujian, baik soal USBN maupun soal UN. Kisi-kisi disusun berdasarkan kriteria pencapaian Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, dan kurikulum yang berlaku.
Menurut Bambang Suryadi Ketua BSNP, kebijakan USBN dan UN tahun 2019 secara umum tidak jauh berbeda dengan dengan kebijakan USBN dan UN tahun 2018. Perbedaan ada pada jumlah peserta dan jadwal ujian.
"Bentuk soal USBN meliputi soal pilihan ganda sebanyak 90 persen dan soal esai sebanyak 10 persen. Masih ada soal dari Pusat sebanyak 20-25 persen untuk USBN, sedangkan untuk soal UN, 100 persen disiapkan oleh Pusat", ucapnya seraya menambahkan penerapan soal yang berorientasi pada penalaran atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Kisi-kisi USBN dan UN dapat diunduh pada laman berikut;
Kisi-kisi Ujian Nasional (UN)
- Kisi-kisi Ujian Nasional SMK (*download)
- Kisi-kisi Ujian Nasional SMA (*download)
- Kisi-kisi Ujian Nasional SMA Luar Biasa (*download)
- Kisi-kisi Ujian Nasional SMP (*download)
- Kisi-kisi Ujian Nasional SMP Luar Biasa (*download)
- Kisi-kisi Ujian Nasional Paket B dan Paket C (*download)
Kisi-kisi Ujian Sekolah Berstandard Nasional (USBN)
- Kisi-kisi USBN Kurikulum 2006 (*download)
- Kisi-kisi USBN Kurikulum 2013 (*download)
- Kisi-kisi USBN Mata Pelajaran Agama dan Program Keagamaan (*download)
- Kisi-kisi USBN PKLK (Sekolah Luar Biasa)Kurikulum 2013 (*download)
- Kisi-kisi USBN Pondok Pesantren Salafiyah (*download)
- Kisi-kisi USBN USBN Sekolah Dasar (Irisan) (*download)
UPDATE
Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S2 di New York (Dok: Robinson Sinurat)Karena cerita ini sangat baik untuk dibaca para siswa yang mempunyai mimpi berkuliah di luar negeri tetapi ekonomi orangtua tidak mendukung jadi cerita inspiratif ini sangat baik kita simpan dan bagikan kembali disini.
Perjuangan Robinson Sinurat (Obin), anak petani di Tanjung Beringin, Sumatera Utara, berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dari universitas ternama, Columbia University, di New York, Amerika. Dengan berpegang teguh dengan pedoman hidupnya, "Be Honest. Be Brave. Be Willing", Obin berhasil mencapai impiannya.
WASHINGTON, D.C. — Kisah perjuangan seorang anak dari keluarga petani asal Tanjung Beringin di Sumatera Utara untuk meraih pendidikan S2 di universitas bergengsi di Amerika Serikat merupakan sebuah bukti pencapaian sebuah impian. Robinson Sinurat yang akrab dipanggil Obin berhasil lulus dari universitas prestisius, Columbia, di kota New York, NY.
"Be honest. Be brave. Be willing." Itulah moto hidup yang selalu ia tanamkan.
Gigih Berjuang Demi Pendidikan
Perjuangan gigih Obin untuk meraih pendidikan pun tidak lepas dari semangat orang tuanya yang adalah petani kopi dan sayur. Sejak kecil Obin yang adalah anak ke-5 dari tujuh bersaudara terpaksa tinggal berjauhan dari orang tua di kota Medan, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik
Selama bersekolah pun Obin yang punya keinginan untuk bisa masuk ke sekolah bonafit seperti sekolah swasta berfasilitas lengkap, mengaku selalu terkendala masalah keuangan, mengingat orang tuanya sudah kehabisan biaya setelah menyekolahkan kakak-kakaknya. Namun, Obin percaya bahwa rezeki masing-masing pasti berbeda.
“Ketika di giliran aku mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP, mau masuk SMA, selalu terkendala dengan keuangan. Jadi mereka selalu bilang coba ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keuangan kita bisa mencukupi,” papar Obin saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.
Selagi duduk di bangku SMP di Medan, ia juga sempat tinggal bersama adik-adiknya yang masih SD. Belajar, memasak, dan mencuci baju menjadi tugas hariannya, hingga akhirnya orang tua Obin memutuskan untuk memindahkan adik-adiknya ke tempat kakaknya di pulau Jawa.
Mengikuti pesan Bapak dan Mamak, begitulah Obin memanggil orang tuanya, ia selalu semangat untuk belajar hingga menjadi juara. Saat kelas 3 SMA, Bapak dan Mamak berpesan kepadanya.
“Kalo kamu enggak masuk negeri kuliahnya, kita enggak sanggup biayain. Jadi kamu harus masuk negeri. Kalau enggak ya belajar lagi setahun lagi,” kenangnya.
Pesan itu menjadi semangat baru baginya untuk berjuang masuk ke universitas negeri. Ia mengikuti ujian SMBPTN dan mendaftar ke Universitas Padjadjaran, Bandung dan Universitas Sriwijaya, Palembang. Awalnya, ia mengira akan berakhir kuliah di Bandung. Namun, akhirnya ia diterima di Universitas Sriwijaya di Palembang, jurusan Fisika, jurusan yang bukan ia inginkan.
“Menurut aku pribadi bukan masalah apa pun jurusannya, tapi pola pikirnya, mindset kita itu gimana ketika kita kuliah, jauh dari orang tua juga. Jadi OK ambil ajalah, yang pasti masuk perguruan tinggi negeri, orang tua sanggup membayar,” kata pria kelahiran tahun 1990 ini.
Namun, saat sudah diterima, Obin kembali dihadapi kendala biaya. Orang tua Obin mengatakan tidak ada biaya dan menganjurkannya untuk mencoba lagi tahun depan. Mengingat banyak anak-anak Indonesia yang bercita-cita masuk ke perguruan tinggi negeri tetapi tidak lolos, Obin menganggap ini merupakan kesempatan berharga baginya. Ia pun memutuskan untuk meminjam uang tiga juta rupiah ke teman dekatnya, untuk membayar uang pendaftaran sekitar 2,4 juta rupiah dan tiket naik bis dari Bandung ke Palembang.
Awal Baru di Kampus Sriwijaya
Setibanya ia di kampus Universitas Sriwijaya, ia pun harus memikirkan cara untuk membayar uang kos dengan sisa uangnya yang tinggal sekitar 250 ribu rupiah. Siapa yang menyangka ketika menemani temannya mencari rumah kos, ia lalu ditawari untuk tinggal bersama salah seorang penjaga kos di salah satu tempat yang mereka datangi.
“Kalau memang kamu mau, kamu tinggal sama saya aja, tapi ya namanya juga kamar penjaga kos-an ya, enggak ada apa-apa, dan sempit. Nanti kamu bayarnya terserah aja berapa dan kapan. Kalau kamu ada uang aja dibayar, tapi kalau uang listrik bayarlah ya, maksudnya paling cuman 10 apa 20 puluh ribu per bulan gitu,” katanya.
Satu masalah selesai, ia pun harus memikirkan uang untuk membayar buku praktikum dan biaya hidup, khususnya untuk makan. Untuk menyiasati hal ini, Obin membuat strategi hanya makan satu kali sehari di kantin kampus di waktu sore hari, agar bisa mengganjal rasa lapar hingga keesokan harinya. Untuk sepiring nasi dengan lauknya, Obin harus membayar sekitar 6-7 ribu rupiah.
“Jadi dulu itu strateginya adalah aku beli nasi banyak, sepiring gede terus pakai sayur, pakai ikan atau daging apa gitu bayarnya kan cuman itu doang,” jelasnya.
Untuk mengatasi rasa lapar yang biasa melanda di tengah malam, Obin menyimpan biskuit kelapa di kamarnya.
“Aku ambil 1-3 biji, makan, sambil nangis,” kenangnya.
“Aku enggak pernah kasih tahu (orang tua), kalau aku itu nggak makan. Tapi kalau yang bahagia-bahagianya aku kasih tahu. Karena kalau menurut aku, kalaupun aku kasih tahu aku susah segala macam, toh memang kalo mereka enggak ada (biaya) ya mau gimana, kan?” lanjutnya.
Agar bisa meneruskan kuliah, Obin lalu dianjurkan oleh dosen pembimbing dan dekan untuk mendaftar beasiswa dari PPA (Peningkatan Prestasi Akdemik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). Nilainya yang selalu bagus sejak SMA serta doa orang tua membuahkan beasiswa di semester dua hingga lulus. Untuk bertahan hidup, ia pun mencari peruntungan kerja dengan mengajar fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat kota Palembang, yang berjarak sekitar satu jam dari kampusnya. Pernah satu kali ia mengirimkan batik untuk orang tuanya dari hasil kerjanya.
“Mereka terharu dong,” ujar pria yang hobi jogging dan berenang ini.
Terjun ke Bidang Sosial di Palembang
Minat Obin di bidang sosial tumbuh saat tinggal di Palembang. Obin yang supel dikenal sangat aktif berorganisasi. Ia tergabung di Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist, menjadi ketua perkumpulan warga Batak, dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika.
Setelah lulus, ia pindah ke Jakarta untuk menerima tawaran kerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation. Setelah itu di Jakarta ia juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan. Kerap kali ia mengikuti konferensi-konferensi baik di tingkat nasional maupun internasional yang pernah membawanya hingga ke Malaysia.
Mengejar Impian Hingga ke Negeri Paman Sam
Obin lalu memiliki cita-cita yang baru, yaitu pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Setelah empat kali mencoba mendaftar beasiswa untuk program Young Southeast Asian Leaders Initiative dari pemerintah Amerika Serikat, ia lalu berhasil memperolehnya. Selama lima minggu ia digodok di University of Nebraska di kota Omaha, untuk belajar mengenai pengembangan keterlibatan warga (Civic Engagement) dan kepemimpinan.

“Yang pertama itu sih aku merasa bangga, karena aku pola pikirnya berubah, lebih baik, terus leadership skils-nya juga, dan public speaking juga, karena harus ngomong di depan teman-teman dan yang paling pentingnya lagi adalah aku harus practice bahasa inggris setiap hari sama teman-teman yang lain,” cerita Obin yang pernah bertemu dengan mantan presiden Amerika, Barack Obama saat mengikuti konferensi di Malaysia.
Tahun 2015 Obin kemudian terpilih untuk mengikuti program dari Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI) untuk pergi ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari 45 ribu orang yang mendaftar hanya 33 yang terpilih, termasuk dirinya. Kunjungannya ke Ende kemudian mendatangkan gagasan untuk membuat perpustakaan untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA di Ende.
Sesuai dengan rencananya, tak lama kemudian Obin memutuskan untuk mendaftar beasiswa untuk studi S2.
“Karena aku dulu waktu pertama kerja aku udah membuat semacam goal satu target, dalam waktu dua tahun aku mau lanjut lagi s2 di bidang sosial, karena pekerjaan aku selama ini sosial tapi karena background aku itu fisika kadang orang merasa kalau aku prakteknya udah banyak, cuman di teori enggak ada. Nggak ada degreenya di teorinya,” jelas Obin yang juga pernah bekerja untuk organisasi nirlaba American Voices di Indonesia dan mengikuti program Rumah Perubahan Rhenald Kasali.
Melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan), Obin berhasil diterima di berbagai universitas di Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Inggris.
"(Mamak) kalau enggak salah lagi metik cabe, terus katanya dia langsung kayak berlutut gitu, ucapan syukur gitu lho. Di deket pohon cabe,” kenangnya sambil tertawa.
“Terus dia nangislah, (katanya) ‘selamat ya nak’,” lanjutnya.
Dari seluruh universitas yang menerimanya, Obin memutuskan untuk memilih Columbia University, sebuah universitas prestisius atau Ivy League di New York. Jurusan 'social work' (pekerjaan sosial) menjadi pilihannya.
“Yang lucunya aku cerita ke orang tua, ke Bapak sama Mamak kan, aku lolos Columbia University di Amerika. Terus kata mereka, bukannya di ucapin selamat, ini enggak. ‘Loh kenapa ke Amerika lagi? Bukannya kemaren mau ke inggris?” ujarnya lagi sambil tertawa.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya di depan Gedung Putih, Washington, D.C. (Dok: Robinson Sinurat)Sesampainya di Amerika Serikat dan memulai kuliah di tahun 2016, Obin mendapat tantangan baru. Bacaan yang banyak dan tugas yang menumpuk sempat membuatnya patah semangat dan ‘badan kurus kerempeng.’ Tetapi, dengan kemampuan bahasa Inggris yang menurutnya masih menjadi kendala, ia tetap berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus Amerika. Kali ini strateginya adalah mempersiapkan diri dan berpartisipasi di dalam kelas.
“Aku udah targetin, setiap mata kuliah itu aku at least nanya satu atau jawab satu. Kalau memang bisa lebih lebih bagus, tapi at least satu,” jawabnya.

Robinson Sinurat lulusan Columbia University di AS (Dok: Robinson Sinurat)
Menurutnya dosen di Amerika Serikat sudah seperti teman sendiri. Jika ada pertanyaan, boleh langsung mengirim e-mail atau datang ke kantornya di saat jam kerja.
Seperti saat kuliah di Universitas Sriwijiaya dulu, Obin kembali aktif di kampus. Ia menjadi salah satu tim pemasaran untuk PERMIAS (Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dan mendirikan International Student Caucus di kampus bersama teman-temannya.
Cita-cita Obin untuk lulus S2 pun tercapai di tahun 2018. Impian lainnya? Mendatangkan Bapak dan Mamak ke Amerika untuk wisudanya, dengan hasil tabungannya selama ini.
“Akhirnya tercapailah mimpi aku itu. Aku bilang harus berdua, karena waktu S1 kan cuman (Mamak). Jadi kalau kali ini harus berdua,” paparnya.

Robinson Sinurat bersama artis Tasya Kamila (tengah) dan Kania (kanan) saat wisuda S2 (Dok: Obin)
Lulus dari Columbia University, Obin kini bekerja di lembaga nirlaba, Queens Community House di New York, sebagai Counseling Specialist.
Pencapaian Obin selama ini kembali lagi kepada pedoman hidupnya. “Be honest. Be brave. Be willing.” Jujur. Berani. Mau berjuang.
“Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup. Dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana? Karena jujur sama diri sendiri itu penting. Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” ujarnya.
Tak lupa menurut Obin, yang juga tak kalah penting adalah kemauan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
“Jadi aku sih berharapnya gitu. Makanya aku bikin itu jadi moto aku sendiri. Be honest. Be brave. Be willing,” pungkasnya. [di]
Cerita yang sangat mengsinspirasi ini sebelumnya sudah dishare oleh www.voaindonesia.com. Semoga Robinson Sinurat yang dikenal dengan panggilan Obin, semakin sehat dan sukses sehingga bisa memberikan inspirasi lebih banyak lagi kepada generasi muda.
Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Everything Starts With A Dream;

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
Sunday, 20 May 2018
Hasil OSK Kabupaten Humbang Hasundutan 2019 (*Mereka Berhasil)
Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kabupaten yang lebih dikenal dengan OSK pada tahun 2019 sudah selesai dilaksanakan pada hari ini Rabu, 27 November 2019. Pelaksanaan OSK ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia, jadi selain di Kabupaten Humbang Hausundutan OSK ini juga dilaksanakan di kabupaten-kabupaten lainnya.Katanya pelaksanaan OSK di Humbang Hasundutan ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peserta OSK berasal dari semua SMA negeri atau swasta yang berada pada daerah Kabupaten Humbang Hasundutan dan setiap sekolah boleh mengirimkan peserta didik maksimum 3 siswa per bidang lomba.
Adapun bidang lomba yang di pertandingkan adalah sebagai berikut:
Bagaimana hasil OSK di kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2019 ini mari kita lihat para peserta didik yang merupakan Calon tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) Provinsi Sumatera Utara tahun 2019. Semoga mereka-mereka yang terbaik hari ini dapat juga menjadi yang terbaik di tingkat provinsi.
MATEMATIKA
- SMA Negeri 2 Lintongnihuta [Yose Harahata Siregar]
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Rade Ompusunggu]
- SMA Negeri 2 Dolok Sanggul [Appriadi Situmorang]
FISIKA
- SMA Negeri 1 Lintongnihuta [Rut Ferwati Lumbantoruan]
- SMA Negeri 1 Lintongnihuta [Astuti B.P. Simanullang]
- SMA Negeri 2 Lintongnihuta [Jumarito Narwastu Purba]
KIMIA
- SMA Negeri 1 Doloksanggul [Giovani Sari Siahaan]
- SMA Negeri 1 Pakkat [Merryana Christien Rambe]
- SMA Swasta St. Maria Pakkat [Mega Susanty MAnalu]
BIOLOGI
- SMA Negeri 1 Pakkat [Ferdinand]
- SMA Negeri 1 Doloksanggul [Tri Yohana R. Munthe]
- SMA Swasta RK St. Maria Pakkat [Roman Arryanto Marbun]
KOMPUTER
- SMA Negeri 2 Lintongnihuta [Van Bosten T Lumban Gaol]
- SMA Swasta HKBP Lintongnihuta [Tutur Yulia Napitupulu]
- SMA Negeri 1 Paranginan [Rotua Siregar]
ASTRONOMI
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Fetty Sigalingging]
- SMA Negeri 1 Pollung [Lenita NT Lumban Gaol]
- SMA Negeri 1 Baktiraja [Delima Sitanggang]
EKONOMI
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Lewi Boas Purba]
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Valen Margaretta Purba]
- SMA Negeri 2 Dolok Sanggul [Reinaldo Gultom]
KEBUMIAN
- SMA Negeri 1 Pollung [Priska E. Lumban Batu]
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Veronika R. Silaban]
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Thirza Eunike Silaban]
GEOGRAFI
- SMA Swasta RK St. Maria Pakkat [Bonardo Sitanggang]
- SMA Negeri 1 Paranginan [Netty Togatorop]
- SMA Negeri 1 Dolok Sanggul [Dian Banjar Nahor]
Selamat kepada semua peserta Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kabupaten Humbang Hasundutan yang sudah mewakili sekolahnya masing-masing, kalian adalah yang terbaik. Untuk yang berhasil menjadi yang terbaik hari ini, SELAMAT kalian sudah terpilih dari yang terpilih, teruslah BELAJAR, BERLATIH dan BERDOA karena perjuangan belum selesai😂.
Bagi yang penasaran dengan soal OSN tingkat kabupaten tahun 2019 atau sebagai bahan latihan dalam menghadapi OSN tingkat provinsi silahkan dipelajari Soal dan Kunci Jawaban OSN SMA Tingkat Kabupaten 2019 (*Lengkap 9 Mapel).
Jadwal Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi (OSP)
- Selasa, 9 April 2019 : Matematika, Fisika dan Kimia
- Rabu 10 April 2019 : Komputer, Astronomi dan Biologi
- Kamis, 11 April 2019 : Ekonomi, Geografi dan kebumian
Jadwal Olimpiade Sains Nasional Tingkat Nasional (OSN)
Tanggal: 30 Juni s.d 06 Juli 2019 di Manado, Sulawesi UtaraSelamat Berjuang.
Jangan Lupa Untuk Berbagi 🙏Share is Caring 👀 dan JADIKAN HARI INI LUAR BIASA! - WITH GOD ALL THINGS ARE POSSIBLE😊
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Ternyata ini Sebab Guru jadi Galak;
Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
Saturday, 19 May 2018
Tuesday, 14 March 2017
Sunday, 16 October 2016
Menjadi Bagian Dari Matematika Nusantara (MN)
Menjadi bagian dari Matematika Nusantara (MN) bagi calon guru, guru dan dosen matematika sepertinya sudah sangat perlu. Matematika Nusantara (MN) adalah kumpulan Guru Matematika dengan Motto Belajar dan Berbagi sebagai Guru Pembelajar.
Kumpulan guru matematika yang bisa diajak berdiskusi atau sharing tentang masalah-masalah yang dihadapi dalam matematika, baik itu dalam pembahasan soal atau metode-metode dalam proses belajar mengajar.
Menjadi bagian dari MN tidak harus melakukan banyak hal, menjadi penyimak budiman seperti saya juga sudah baik [istilah kerennya 'silent Rider']. Karena dengan menyimak apa yang sedang didiskusikan oleh rekan-rekan guru yang sedang diskusi maka dengan sendirinya pengetahuan kita tentang matematika itu akan bertambah.
Saya sendiri masih anak baru di MN dan tidak terlalu aktif pada ruang diskusi Matematika Nusantara (*karena saya masih calon guru matematika).
Beberapa waktu lalu saya dipertemukan dengan beberapa angota MN, ada sekitar 15 orang waktu itu, tapi tidak ingat semua namanya, yang ingat namanya hanya pak Dudi Wahyudi, pak Cahyo Nugroho, pak Fatkoer Rohman, dan pak Anang.
Beberapa hasil jepretan teman-teman di kopdar matematika nusantara pada kegiatan Rapat Kordinasi Teknis Moda Daring Murni yang dilaksanakan oleh PPPPTK Matematika di Yogyakarta.



Pertanyaan sederhana, Apa keuntungan bergabung di Matematika Nusantara?. Saya tidak akan jawab dengan panjang lebar, silahkan Anda rasakan sendiri keuntungannya [*jika Anda rasakan ada] karena yang saya rasakan sendiri keuntungannya sangat banyak. Jawaban sederhana saya, menjadi anggota MN itu seperti prinsip ekonomi yaitu, dengan modal kecil untungnya besar.
Untuk coba bergabung di grup Matematika Nusantara
Silahkan masuk melalui beberapa link berikut:- Website Matematika Nusantara: matematikanusantara.id
- Facebook Grup Matematika Nusantara: FB Matematika Nusantara
- Telegram Matematika Nusantara: Telegram Matematika Nusantara
Jika ada yang sesuatu yang ingin ditanyakan, silahkan ditinggalkan saja pertanyaannya😊
Video pilihan khusus untuk Anda 💗😊 Mengenal salah satu matematikawan Indonesia;

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.





