Nanti malam, langit Jakarta merunduk syahdu,
di antara bintang yang menanti dentum rindu,
Gelora Bung Karno bersiap jadi saksi,
derap langkah Garuda melawan raksasa Timur negeri.
Gemuruh takbir naik dari dada ribuan jiwa,
menggema membelah malam, menggigilkan cakrawala.
Allahu Akbar—teriak bersahutan,
bukan hanya doa, tapi tekad yang disematkan.
Merah putih berkibar di tiap sorot mata,
cinta tanah air tak butuh kata.
Di atas rumput hijau yang basah oleh harapan,
Timnas berdiri, membawa beban dan kebanggaan.
Cina di seberang, raksasa yang tak mudah ditundukkan,
tapi malam ini bukan tentang siapa paling kuat,
melainkan tentang semangat yang tak bisa dipadamkan,
tentang tanah air yang tak kenal menyerah walau berat.
Suara tribun menggelegar,
menjadi gendang perang yang tak gentar.
Gemuruh takbir berpadu dengan sorak,
menjadi puisi perjuangan tanpa titik, tanpa jeda, tanpa retak.
Nanti malam, kita bukan sekadar menonton,
kita bersatu dalam napas satu perjuangan.
Semoga takbir jadi lentera dan kemenangan,
untuk Indonesia—bangkit, berani, dan tak tertundukkan.







0 comments:
Post a Comment