Di sudut sunyi pasar tua,
terselip seonggok daging merah muda,
tertutup helaian rambut hitam pekat,
panjang, basah, dan meringkuk erat.
Tak ada yang tahu dari mana asal,
apakah tumbuh dari kepala atau ritual,
daging itu diam namun terasa hidup,
berdenyut pelan di bawah tirai hitam yang kusut.
Orang-orang berbisik,
“Jangan disentuh, itu bukan milik manusia.”
Ada yang bilang itu kutukan lama,
jelmaan hasrat yang tak pernah padam.
Pada malam purnama ketiga,
seorang anak menyingkapnya diam-diam,
dan rambut itu menggulung lengan,
membisikkan kata-kata dari dunia dalam.
“Daging ini bukan untuk dimakan,
tapi untuk diingat,
adalah luka yang ditumbuhkan,
dan rambut—adalah ingatan yang tak bisa dicukur.”
Lalu lenyaplah anak itu di antara riuh,
tinggal daging dan rambut,
semakin lebat, semakin biru,
mengendap dalam kisah yang tak lagi diburu.







0 comments:
Post a Comment