Di pagi sunyi lepas takbir membumbung,
tangan-tangan menyingsing lengan dengan santun,
daging kurban dibagi rata tanpa bimbang,
rezeki Tuhan yang jatuh dari langit terang.
Kulit disamak, tulang disisihkan,
tapi daging—ah, daging itu ditimbang harapan.
Ada yang menyisih untuk rendang tua,
ada pula yang menunggu tongseng di tungku bara.
Rendang dimulai dengan kesabaran,
santan direbus perlahan hingga berminyak keemasan,
rempah turun satu per satu seperti doa:
lengkuas, serai, dan cabe yang bicara cinta.
Daging tenggelam dalam pelukan bumbu,
berjam-jam ia luluh, menghitam, membisu,
hingga jadi puisi yang tak perlu kata,
karena rasa telah bicara segalanya.
Tongseng lain pula ceritanya,
di wajan tanah liat yang ringkih dan hangat,
daging muda direbus bersama kol dan tomat,
gula merah, kecap, dan harum yang menyengat.
Ada cabai rawit sembunyi di balik kuah,
seperti kenangan lebaran yang tak mudah diluah.
Sendok pertama—manis, pedas, penuh semangat,
tongseng ini adalah pesta di tiap suap.
Di bawah langit Dzulhijjah yang jernih,
keluarga duduk mengelilingi meja warisan,
rendang dan tongseng menyatukan jiwa-jiwa,
dalam masakan, kurban menjadi berkah nyata.







0 comments:
Post a Comment