Monday, 25 November 2019

Cara Mengatasi Tidak Bisa Print Di Ms. Word dan Excel 100% Work

Jangan lupa membaca artikel kami sebelumnya, mengenai > Panduan Bisnis Online bagi Pemula.

apa jadinya jika anda tidak bisa Nge-Print dokumen melalui Word? terlebih lagi jika ada banyak tumpukan berkas-berkas tugas yang ingin kita selesaikan, hal ini tentnya selain membuat kita sedikit kesal, juga menghambat aktivitas kita yang lainnya.

Nah, sesuai dengan judul yang anda lihat di atas, pada thread kali ini kita akan coba mengupas tuntas serta memberikan solusi bagaimana cara mengatasi tidak bisa print di word serta di Excel. berkat adanya beberapa pertanyaan yang masuk ke admin dari berbagai user yang menemukan masalah seperti ini dan akhirnya setelah di coba mencari solusinya, akhirnya ketemu juga.

olehnya itu jika saudara juga merasa menemukan kendala yang serupa, semoga dengan adanya tutorial sederhana ini, saya selaku admin sangat berharap untuk bisa memberikan solusi yang pas,buat anda.

Baca Juga :

Terkait dengan hal tersebut,  biasanya kita akan menemukan sebuah peringatan atau notivikasi error seperti gambar di bawah ini



"We couldn't Print because doesn't seems to be a printer installed" yang mana jika kita telaah dari notivikasi tersebut menyatakan bahwa file tidak bisa kita cetak dikarenakan tidak ada printer yang terinstal. tentunya jika kita terpaku hanya pada notivikasnya saja, secara otomatis kita pasti beranggapan bahwa yang bermasalah itu ada pada printer, dalam hal ini  Printer Tidak bisa terdeteksi.

sebetulnya bukan printer anda yang bermasalah melainkan ada sedikit kesalahan pada Ms.word atau Excel saudara untuk tahapannya bisa anda ikuti Caranya di bawah sebagai berikut,


  • Langsung saja masuk pada start menu lalu cari Shortcut MS.WORD saudara kalau ketemu, Klik Kanan Kemudian bagian bawah Klik Properties


  • kalau sudah terbuka pada menu Shortcut langsung saja klik lagi pada bagian Advance, maka muncul lagi jendela baru, beri tanda centang pada dialog box,  run as administrator, setelah itu OK Saja, kalau ternyata terkunci dalam hal ini tidak bisa kita centang, maka Balik lagi ke menu utama.


  • KLik Pada Bagian Compatibility, pada bagian bawah beri lagi tanda centang run as administrator ,



    lalu Aply dan OK
  • Untuk Excel. Caranya sama dengan steep di atas
sekarang coba anda buka file agan, normalnya akan muncu notivikasi AUC

klik saja OK. kemudian lakukan Print, Pilih printer yang anda gunakan , dan selamat anda sudah bisa melakukan aktivitas cetak mencetak lagi.

Sekian dulu, terkait dengan apa yang kita bahas kali ini, jika ada hal yang ingin di sampaikan atau di pertanyakan, anda bisa meninggalkan pertanyaan di kolom komentar yang telah di siapkan di bawah. sebisa mungkin dan secepatnya akan kami bantu. Akhir kata wassalam



Selain sebagai media informasi teknologi, kami juga berbagi artikel tentang bisnis online.

Friday, 22 November 2019

Belajar Saham: Investasi Saham Jangka Panjang

Pada beberapa tulisan saya sebelumnya, bisa anda baca disini: Strategi & Cara Investasi Saham dan Belajar Investasi Saham untuk Pemula, kita sudah membahas tentang apa saja yang harus anda pelajari jika anda ingin memulai investasi saham. 

Jika anda sudah memahami apa saja yang perlu dipelajari dalam investasi, kini anda juga harus memahami poin-poin penting dalam investasi saham. Banyak investor saham yang masih salah persepsi dengan "investasi saham". 

Maka dari itu, kita akan bahas di pos ini. Dalam investasi saham, terdapat poin-poin penting yang harus anda pahami, yaitu sebagai berikut: 

1. Membeli saham = membeli perusahaan 

Dalam investasi saham, membeli saham berarti anda membeli (kepemilikan) perusahaan. Dengan kata lain, anda ikut menjadi bagian dari perusahaan. Tentu saja, yang anda harapkan pasti adalah profit jangka panjang. 

Dengan investasi saham, anda mengharapkan untuk bisa dapat keuntungan dari kenaikan harga saham jangka panjang, termasuk dividen itu sendiri (jika anda pengincar dividen). 

Itu artinya, belilah perusahaan yang punya kinerja sehat (laporan keuangan), dan belilah perusahaan yang anda pahami. Ketika investasi, anda harus paham produk perusahaan tersebut, anda harus paham tata kelolanya, anda harus paham apakah produk perusahaan mudah ditemui secara umum. 

Banyak investor yang tidak melakukan analisis perusahaan secara komprehensif sebelum investasi. Akhirnya investor hanya membeli saham berdasarkan analis, berdasarkan kata Si A, kata "pakar". 

Kalau anda investasi saham namun tidak tahu perusahaan apa yang anda simpan, ini ibaratnya anda membeli barang namun anda tidak tahu kegunaan barang yang anda beli. 

2. Orientasi jangka panjang, bukan jangka pendek 

Kebanyakan investor yang terburu menjual saham ketika harga sahamnya baru naik 10% dalam satu bulan. Padahal orientasi investasi saham itu adalah untuk jangka panjang (minimal 1 tahun).

Kalau saham baru naik dua minggu dan anda take profit, maka anda bukan melakukan investasi, tapi anda melakukan aktivitas trading. 

Seorang investor harus memiliki kesabaran dan tekad untuk menyimpan saham, dan tidak terburu menjual walaupun anda sudah profit diatas kertas (floating profit). 

Jika anda tidak tahan untuk menjual saham yang naik beberapa persen, maka anda harus pertimbangkan kembali, apakah anda lebih cocok menjadi investor atau trader saham.  

3. Investasi bisa dilakukan dengan membeli saham secara bertahap 

Membeli saham dengan tujuan investasi tidak harus dilakukan dengan sekali beli dengan modal besar. Investasi saham bisa dilakukan dengan modal kecil, dengan membeli secara bertahap. 

Anda bisa menerapkan praktik nabung saham untuk investasi. Baca juga tentang nabung saham yang pernah saya tulis disini: Penjelasan Cara Menabung Saham.  

Jadi untuk anda yang punya modal kecil, anda tidak perlu memaksakan menunggu duit anda banyak / kaya baru investasi. Anda bisa membeli saham bertahap. 

Poin-poin penting dalam investasi ini perlu anda terapkan jika anda ingin membeli saham untuk jangka panjang. Persepsi investasi saham yang benar, juga sangat mempengaruhi keputusan anda dalam memilih saham yang berkualitas. 

Wednesday, 20 November 2019

Cara Mengelola Keuangan dengan Baik - Saham Gain

Di pos kali ini saya ingin menceritakan sedikit banyak pengalaman tentang bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik. Kok nggak nyambung sama saham? 

Memang sih, topik yang saya tulis ini sedikit melenceng dari saham tapi tetap ada korelasinya. Dan saya memang dari dulu ingin menyampaikan hal ini, karena melihat sekarang banyak generasi milenial yang belum mampu mengelola keuangan dengan baik. 

Dalam dunia keuangan, kita selalu mengenal istilah "tanggal muda" dan "tanggal tua". Ketika anda baru menerima gaji di akhir / awal bulan, maka orang-orang akan menyebutnya sebagai tanggal muda. Tanggal muda ini identik dengan awal bulan karena di awal bulan anda baru menerima gaji full anda, sehingga anda masih punya banyak uang di tanggal muda. 

Sebaliknya, pada saat uang anda banyak dipakai dan mulai masuk akhir bulan, orang akan menyebutnya sebagai tanggal tua. Tanggal tua selalu identik dengan: Bokek, dompet tipis, duit habis, makan mi instan. 

Disinilah kita bisa melihat pola atau siklus mengelola keuangan masyarakat Indonesia yang masih belum teratur. 

Banyak orang yang ketika baru mendapat gaji bulanan, maka di awal - pertengahan bulan, duit-nya cenderung dihabiskan, bahkan untuk kegiatan2 konsumtif yang sebenarnya kurang diperlukan atau bisa ditunda. 

Banyak persepsi bahwa kalau sudah dapat gaji, maka uangnya bisa dipakai untuk hal2 yang diinginkan. Nah, ketika masuk akhir bulan, mindsetnya langsung berubah: Mulai harus berhemat, makan irit, tunggu gajian lagi. 

Sehingga, dengan cara seperti ini, siklus keuangan anda tidak akan berkembang: Tanggal muda banyakin pengeluaran, tanggal tua banyak berhemat. Nanti tunggu gajian, habis gajian senang2 lagi. Lalu tanggal tua, balik berhemat lagi karena uang sudah habis di tanggal muda. 

Ibaratnya seperti lari marathon. Karena di awal anda sudah sprint dan menghabiskan tenaga (tidak membagi stamina), di beberapa kilometer terakhir sebelum finish anda sudah kelelahan dan tidak ada tenaga untuk berlari lebih baik. 

Sehingga finish anda tidak memuaskan. Padahal kalau anda mau mengatur stamina sejak pertama start, anda bisa kuat sampai di finish. 

Hal ini sama seperti orang yang langsung menghabiskan uang di tanggal muda ketika menerima gaji, akhirnya di tanggal tua harus berhemat setengah mati dan tidak bisa menabung dengan maksimal.

Kalau begitu, kapan bisa kaya? Kapan ada modal buat investasi? 

Memang penghasilan dan pengeluaran setiap orang itu variatif, sehingga hal ini pasti akan menentukan seberapa besar anda bisa menabung dan investasi. 

Tapi dalam praktikknya banyak orang yang belum bisa mengatur keuangannya dengan baik, di mana 
sebenarnya kalau mereka mau mengelola keuangannya dengan lebih taktis dan cermat, maka mereka bisa mengumpulkan uang lebih banyak. 

MENGELOLA KEUANGAN 

Banyak orang yang baru mengatur keuangan saat sudah memasuki tanggal tua. Mindset ini yang mulai harus anda tinggalkan.

Mengelola keuangan harus anda lakukan sejak anda MENERIMA GAJI. Artinya, di tanggal muda anda harus mulai mengatur keuangan anda dengan taktis agar di tanggal tua anda tidak perlu berhemat setengah mati apalagi sampai bokek. 
Mengelola keuangan harus dimulai sejak tanggal muda, sejak anda menerima gaji. Jangan mulai mengelola keuangan pada saat tanggal tua saja. 
Setelah menerima gaji, anda harus punya mindset investasi, bukan mindset konsumtif. Artinya, ketika mendapat gaji, anda harus mulai merancang seberapa gaji yang akan anda sisihkan, sehingga anda bisa mengontrol pengeluaran anda. 

Saran saya, hendaknya anda bisa men-targetkan MINIMAL 10% dari gaji anda untuk anda sisihkan / ditabung. Kalau bisa lebih dari 10% lebih baik lagi. 

Jadi, kurangilah pengeluaran2 yang bisa anda minimalkan di tanggal muda sampai pertengahan bulan. Agar di akhir bulan uang anda tidak habis (anda nggak perlu sampai bokek atau cuma makan mi instan)... 

Dan tentunya.... Anda bisa menabung lebih banyak. Dari tabungan anda itu nantinya bisa anda sisihkan buat INVESTASI. 

Entah investasi di reksadana. Masukkan deposito. Atau investasikan di saham. Kalau saya pribadi lebih memilih saham, karena cocok dengan profil risiko saya. 

Apakah berarti sifat konsumtif itu sama sekali nggak dibutuhkan? 

Tentu saja butuh. Ingat juga bahwa perekonomian itu bisa bergerak, berkembang dan dinamis karena adanya kegiatan konsumsi. Nah, kalau tidak ada kegiatan konsumsi, tidak ada sifat konsumtif, gimana caranya sektor bisnis bisa berkembang? Betul kan? 

Tapi yang ingin saya tekankan disini adalah anda harus membatasi kegiatan konsumtif sesuai kemampuan. Jangan sampai kegiatan konsumtif tersebut justru membuat keuangan anda berantakan. 

Jadi kalau anda mulai mengatur keuangan sejak tanggal muda, percayalah nggak ada istilah tanggal muda atau tanggal tua, karena anda tetap bisa menjaga pengeluaran anda secara konsisten. 

Kalau anda sekarang punya niat untuk INVESTASI (investasi sekarang sudah jadi kebutuhan), misalnya investasi saham atau trading saham, maka anda harus mulai atur dengan benar keuangan anda.

Karena kalau pemasukan anda sekarang masih tergantung dari gaji, anda harus bisa menyisihkan gaji anda untuk membeli saham-saham yang berkualitas. 

PENGALAMAN PRIBADI MENGELOLA KEUANGAN

Tulisan saya yang cukup panjang ini juga didasarkan atas pengalaman saya pribadi dalam mengelola keuangan.

Ketika saya mulai mencoba mengelola keuangan sejak tanggal muda, maka di tanggal tua pun saya tidak perlu terlalu berhemat, dan bahkan tetap ada sisa uang untuk ditabung dan diinvestasikan ke instrumen tertentu. 

Termasuk ketika mendapatkan untung di saham, maka keuntungan di saham tidak saya gunakan 100% untuk kegiatan konsumtif. Tetapi profit di saham sebagian saya investasikan dan tradingkan kembali (strategi compounding).

Dengan adanya pos ini, saya berharap agar anda semua mulai mengelola keuangan anda sedini mungkin. Tentu manfaatnya adalah untuk diri anda sendiri. 

Nah, kalau anda sekarang merasa nggak bisa menabung. Bokek terus di tanggal tua, coba baca lagi pos ini dan evaluasi pengeluaran-pengeluaran anda di tanggal muda dan pertengahan bulan. 

Sehingga, nantinya anda juga punya kesempatan untuk investasi, mungkin di reksadana atau nabung saham. 

Pengalaman Beli Saham Unilever

Salah satu saham blue chip yang produknya bisa kita temukan dimanapun, serta digunakan oleh banyak orang adalah saham perusahaan PT Unilever Tbk (UNVR). Saya sering menerima pertanyaan rekan-rekan: "Pak Heze apakah saham UNVR sudah layak beli atau belum?" "Kalau mau beli UNVR di harga berapa?"

Tapi di satu sisi, banyak juga yang menghindari saham UNVR karena nominal harga sahamnya yang sudah cukup tinggi, sehingga harga sahamnya nggak terjangkau untuk trader ritel yang punya modal kecil. Kabar baiknya, UNVR ini rencananya akan melakukan stock split. Anda bisa baca pos saya disini: Analisis Saham: Saham UNVR Stock Split. 

Maka dari itu, saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman beli saham UNVR terutama untuk trading (swing trading). UNVR adalah tipikal saham yang pergerakan harganya cukup lambat, namun kalau kita lihat tren jangka panjang misalnya 10 tahun, trennya cenderung naik (uptrend). 

Saham UNVR 10 tahun
Pergerakan saham UNVR yang lambat ini salah satunya karena UNVR harga sahamnya sudah cenderung tinggi, sehingga kenaikan-penurunannya tidak akan secepat saham-saham yang harganya rendah. 

Sebagai contoh, jika saham UNVR harganya 45.000, tentu akan lebih sulit menaik-turunkan saham ini dengan cepat dibandingkan dengan saham yang harganya hanya 1.000 per saham. 

Secara fundamental, PER UNVR juga sangat tinggi, namun tetap saja harga sahamnya bisa naik terus. Namun bukan berarti UNVR ini kebal koreksi. Ada saat-saat di mana UNVR harga sahamnya koreksi drastis. Kita bisa perhatikan chart UNVR dalam jangka lebih pendek: 

Saham UNVR
UNVR beberapa kali juga mengalami koreksi drastis, sebanyak dua kali pada chart diatas, di mana UNVR sempat turun dari 50.000 ke 41.000. Tentu ini adalah penurunan yang cukup besar. Demikian juga UNVR pernah turun dari 49.000 ke 42.000. 

Saham UNVR biasanya mudah / berpotensi koreksi ketika terjadi dua hal: Ada berita negatif. Kedua, Harga saham sideways di puncak / resisten dalam waktu lama. 

Sebagai contoh, ketika laba bersih UNVR turun, maka harga sahamnya langsung anjlok dengan cepat (tanda lingkaran pertama). Demikian juga ketika saham UNVR sudah mulai sideways di puncak resisten, maka saat itu sahamnya sudah mulai berpotensi untuk turun lagi.

Saya pribadi biasanya lebih suka membeli UNVR dengan menunggu harga sahamnya turun koreksi. Sedangkan kalau UNVR sudah mulai ada di harga puncak, ada baiknya tunggu sahamnya koreksi. 

Untuk saham2 yang pergerakannya tidak terlalu seperti UNVR, lebih baik sahamnya anda simpan paling tidak untuk swing trading, karena fluktuatifnya tidak terlau enak untuk trading cepat. 

Oleh karena itu, frekuensi trading di UNVR saya memang tidak terlalu banyak. Selain itu, kalau UNVR harganya sudah tinggi dan sulit naik, dibutuhkan waktu agak lama (beberapa minggu) agar sahamnya benar-benar koreksi sampai di harga murah. Pelajari juga: Panduan Menemukan Saham Diskon & Murah Secara Teknikal. 

Itulah pengalaman beli saham UNVR yang pernah saya praktikkan sendiri. Semoga rekan-rekan ada gambaran mengenai pergerakan / fluktuatif saham UNVR untuk trading. 

Nah, kalau UNVR stock split dan harganya jauh lebih murah, maka mungkin polanya beda lagi. UNVR bisa jadi akan jauh lebih fluktuatif daripada harganya yang sekarang. 

Tuesday, 19 November 2019

Belajar Investasi Saham untuk Pemula

Banyak pertanyaan teman-teman yang ingin memulai investasi saham, namun masih belum paham apa saja yang harus dipelajari. Investasi saham berarti anda membeli saham untuk disimpan dalam jangka panjang (minimal satu tahun). 

Itu artinya, dalam investasi saham, anda harus bisa memilih saham-saham yang punya kinerja bagus, karena saham2 yang memiliki kinerja baik, harga sahamnya punya potensi naik dalam jangka panjang. 

Bagi anda investor pemula, berikut adalah hal-hal yang harus anda pelajari agar anda bisa mengambil keputusan investasi saham: 

1. Analisis fundamental: Mempelajari perusahaan 

Untuk bisa memilih saham yang baik, anda sebagai investor saham harus bisa mempelajari perusahaan apa yang ingin anda beli sahamnya. Pelajari tata kelola perusahaan. Pelajari analisis sektoral. Pelajarilah apakah sektor perusahaan sedang bermasalah atau tidak. 

Pelajari apakah sektor perusahaan sedang booming. Pelajari ketersediaan produk2 perusahaan di pasar. Artinya, untuk memilih perusahaan dalam investasi, anda bukan hanya melihat kinerja, tetapi ukuran2 kualitatif ini juga perlu anda perhatikan. 

Poin penting ini yang terkadang dilewatkan oleh investor saham pemula. Oleh karena itu, dalam investasi, anda harus memahami perusahaan yang ingin anda beli sahamnya. 

2. Analisis fundamental: Belajar laporan keuangan 

Analisis fundamental berikutnya barulah anda bisa pelajari kinerja keuangan melalui laporan keuangan perusahaan. Anda bisa mencarinya melalui situs IDX. Baca juga: Cara Mendapatkan Laporan Keuangan Perusahaan. 

Melalui laporan keuangan, anda bisa mengetahui kondisi sehat tidaknya perusahaan, sehingga disitulah anda bisa memutuskan apakah suatu perusahaan layak investasi atau tidak melalui kinerja keuangannya. 

3. Analisis fundamental: Valuasi saham 

Karena anda membeli saham, maka dalam investasi saham anda harus memahami valuasi saham. Valuasi saham bertujuan untuk mengetahui mahal murahnya harga saham perusahaan. 

Kalau secara valuasi saham perusahaan sudah terlalu mahal, maka ada baiknya anda menunggu momen yang tepat untum investasi, salah satunya menunggu mayoritas valuasi saham menjadi murah / diskon. 

Salah satu analisis untuk valuasi saham yang paling banyak digunakan adalah Price Earning Ratio (PER). Anda bisa pelajari disini: Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER). 

Dengan memahami kondisi harga saham perusahaan itu sendiri melalui valuasinya, anda bisa memutuskan apakah akan membeli saham dalam jumlah lebih banyak, membeli sedikit dulu, atau wait and see. 

4. Mengelola modal dan diversifikasi saham untuk pemula 

Dalam investasi saham, anda tidak hanya sekedar menganalisis perusahaan. Anda harus bisa melakukan manajemen modal anda dengan bijak, termasuk diversifikasi saham untuk investasi. 

Sebagai pemula, gunakan modal kecil untuk investasi di kisaran Rp500 ribu - Rp3 juta tergantung saham yang anda beli. Walaupun anda memiliki modal besar, karena anda masih pemula, anda harus memulai secara bertahap, agar psikologis anda bisa lebih terkontrol dalam investasi. 

Mengelola dan diversifikasi saham harus anda terapkan baik untuk investor maupun trader jangka pendek. Kalau anda sering berkunjung ke web Saham Gain ini, saya sudah sering membahas tentang pentingnya modal dan diversifikasi saham untuk pemula. 

5. Nabung saham 

Jika modal anda masih sedikit, anda bisa menerapkan investasi dengan cara nabung saham alias membeli saham yang sama secara bertahap. Kalau anda ingin mengetahui ilustrasi nabung saham, saya pernah mengulasnya disini: Penjelasan Cara Menabung Saham. 

Itulah 5 hal penting yang harus anda pelajari dan praktikkan terutama untuk anda yang ingin memulai investasi saham (investasi saham untuk pemula).

Poin-poin yang saya tuliskan diatas ini memang kedengarannya basic banget. Tapi justru itulah praktik2 dan analisa fundamental yang perlu anda pelajari, karena nantinya akan anda pakai terus dalam memilih saham. 

Jangan sampai anda belum memiliki ilmu analisis fundamental, namun anda sudah berangan-angan untuk kaya seperti Warren Buffet. Jadi, pelajari dan terapkan dulu kelima poin tersebut untuk investasi saham.  

Sunday, 17 November 2019

Strategi & Cara Investasi Saham

Membeli dan menyimpan saham untuk investasi dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang (diatas 1 tahun) dari saham-saham yang anda beli. Dengan investasi saham, anda bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham yang lebih masif, serta dividen sebagai 

Banyak anggapan salah bahwa dengan "Kalau mau untung, jangan trading jangka pendek, simpan saja saham untuk jangka panjang, karena dalam jangka panjang harga pasti akan naik".

Anggapan ini benar, namun kurang tepat. Tidak semua saham harganya bakalan naik dalam jangka panjang. Faktanya, banyak saham yang justru selama tren 1, 3, 5 tahun harga sahamnya cenderung turun. 

Oleh karena itu, investasi saham harus dilakukan dengan cara dan strategi yang benar, bukan hanya sekedar membeli dan menyimpan saham selama mungkin. 

Agar anda bisa menghasilkan keuntungan maksimal dari investasi saham, anda harus memilih saham yang tepat. Kita semua tahu baik dalam trading maupun investasi, tidak semua saham itu layak buat dibeli. 

Berikut adalah strategi dan cara investasi saham yang harus anda terapkan mulai dari investor pemula - expert: 

1. Pahami perusahaan yang ingin anda beli 

Investasi saham sama dengan 'membeli perusahaan'. Itu artinya, anda harus mengerti perusahaan apa yang anda beli. Anda harus pahami produk utama perusahaan, ketersediaan produk di pasar, tata kelola, perusahaan tersebut bergerak di bidang apa, seberapa mudah produk perusahaan ditemukan dan lain2. 

Kalau anda investasi saham tetapi anda tidak tahu perusahaan apa yang anda beli, itu ibaratnya anda membeli barang tetapi anda tidak tahu kegunaan dan mengapa anda membeli barang tersebut. 

Pada akhirnya kalau anda investasi saham dan tidak mengerti dengan baik saham apa yang anda beli, anda justru akan meningkatkan risiko dalam investasi saham. 

2. Analisis fundamental kuantitatif (analisa laporan keuangan)

Investasi saham berarti anda harus mengetahui kinerja perusahaan. Belilah perusahaan yang punya kinerja baik dan sehat, karena investor saham akan mengincar perusahaan yang kinerjanya sehat. 

Untuk mengetahui kinerja perusahaan, anda harus melakukan analisis laporan keuangan, baik analisis laporan posisi keuangan hingga laporan laba rugi, ekuitas dan ukuran2 rasio keuangan untuk menilai apakah perusahaan layak investasi atau tidak. 

3. Pilih perusahaan terbaik di sektornya

Anda harus membandingkan kinerja keuangan satu perusahaan dengan perusahaan2 lain di satu sektor industrinya. Dari situlah anda bisa melihat saham mana yang terbaik dan layak diinvestasikan. 

Pilihlah perusahaan yang memiliki kinerja terbaik di sektornya. Kalau anda tipikal investor yang mencari saham2 growth, maka carilah perusahaan yang punya pertumbuhan paling baik di sektor industri tersebut. 

4. Manajemen modal dengan benar 

Sukses dalam investasi saham harus dilakukan dengan manajemen modal yang benar. Manajemen modal berarti anda harus diversifikasi saham yang layak, menambah modal dengan cara yang benar, dan jangan rakus dalam investasi saham. 

Manajemen modal bukan hanya bicara tentang besar kecilnya modal anda, tetapi pengelolaan modal seperti yang saya sebutkan diatas tadi. Tanpa manajemen modal, portofolio saham anda tidak akan bisa berkembang secara optimal. 

5. Orientasi pada jangka panjang

Investasi saham adalah menyimpan saham untuk jangka panjang. Artinya, dalam investasi anda harus memiliki orientasi dan tujuan jangka panjang. Kalau saham anda baru naik 1 minggu, jangan dijual. 

Inilah yang sering dilakukan oleh investor saham. Nah, kalau anda tidak tahan dengan fluktuatif harga saham (saham naik sedikit dan anda langsung jual), maka kemungkinan besar anda lebih cocok menjadi trader daripada investor. 

6. Valuasi saham

Sebagai opsi, anda bisa memilih perusahaan yang memiliki valuasi murah di sektor industrinya untuk investasi. Hal ini penting untuk anda yang ingin memilih saham-saham yang harganya sedang murah / terdiskon secara fundamental. 

Enam strategi dan cara investasi saham ini haruslah anda terapkan ketika anda ingin 'membeli perusahaan' untuk disimpan jangka panjang. Jangan lupa untuk selalu menganalisa sendiri perusahaan yang ingin anda beli. Jangan membeli saham hanya karena pendapat orang lain.

Penurunan IHSG: Saham Apa Yang Bagus?

Pada saat-saat IHSG sedang bergerak turun, banyak ketidakpastian global, tidak sedikit trader saham yang mulai panik, khawatir jika IHSG akan down terus, dan banyak trader yang bingung harus apa ketika IHSG lagi turun. 

Penurunan IHSG yang saya maksud disini bukan hanya sekedar koreksi normal, tetapi penurunan yang membuat tren IHSG menjadi downtrend atau sideways. Intinya, penurunan IHSG yang membuat tren IHSG sulit bergerak naik. Contohnya seperti ini: 

Historis IHSG
Sebenarnya, secara historis, IHSG kita sudah pernah beberapa kali mengalami penurunan yang cukup tajam. Jadi ketika anda menemukan IHSG yang sedang berada dalam tren turun, anda tidak perlu panik, karena kita sudah pernah mengalami hal tersebut. 

1998 --> IHSG pernah turun 50% lebih dari titik tertinggi sebelum koreksi
2008 --> IHSG mengalami penurunan dari titik tertinggi (sebelum koreksi) sekitar -25%
2013 & 2015 --> IHSG mengalami penurunan sekitar 15-18%
2019 --> IHSG mengalami penurunan sekitar 14% (dari 6.638 ke 5.800), tapi setelah itu IHSG naik lagi. 

Dan setelah IHSG mengalami koreksi besar, IHSG tidak langsung naik, melainkan sideways dulu dan setelah benar-benar berada di titik jenuhnya, barulah IHSG bisa naik. Disitu kemudian saham2 yang sudah murah akhirnya naik lagi bahkan melebihi harga sebelum koreksi besar. 

Jadi kalau anda berada dalam masa-masa penurunan IHSG, anda tidak perlu panik, karena jika anda melihat IHSG dalam jangka panjang, maka IHSG SELALU bergerak naik alias uptrend. Kita bisa lihat grafik historis IHSG berikut: 

IHSG 10 tahun
IHSG selalu uptrend dalam jangka lebih panjang. Walaupun di dalam tren naiknya, anda bisa perhatikan tetap saja ada tren-tren turun yang terjadi. 

Itu artinya, setelah IHSG turun banyak, pasti ada masa di mana IHSG naik, dan karena perkembangan zaman semakin maju, ekonomi semakin maju, maka pelaku pasar akan semakin percaya untuk berinvestasi dan trading di pasar saham Indonesia juga. 

Nah, kalau IHSG mengalami koreksi besar tetapi bukan crash market, anda harus melihat pergerakan IHSG saat itu. Artinya, kalau IHSG cenderung koreksi tapi masih banyak technical reboundnya, maka anda bisa manfaatkan untuk trading. 

Crash market biasanya terjadi kalau IHSG sudah turun 25% lebih dari harga sebelum koreksi seperti tahun 1998 dan 2008. Kalau IHSG masih turun 15% misalnya, maka IHSG belum dikatakan crash market. 

Tetapi jika IHSG sudah crash market atau koreksi tajam dan jarang rebound (seperti yang terjadi tahun 2015), maka memang anda harus banyak wait and see, terutama buat swing dan positioning trader. 

Jika koreksi IHSG masih banyak didukung dengan technical rebound, maka anda bisa memilih saham-saham yang mudah rebound, dan saham2 yang pergerakannya mengikuti IHSG. 

Anda bisa pelajari juga cara-cara memilih saham yang sedang diskon disini: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Karena IHSG masih turun, maka anda bisa menggunakan strategi trading dengan time frame yang lebih pendek. Misalnya trading harian atau trading mingguan. Hal ini karena ketika IHSG turun, maka mayoritas kenaikan saham biasanya tidak bertahan lama, dan setelah itu akan cenderung koreksi lagi. 

Selama penurunan IHSG, anda juga perlu memperhatikan isu, sentimen yang terjadi di market. Penurunan IHSG bisa jadi menjadi titik balik uptrend atau justru sebaliknya, IHSG semakin turun karena sentimen2 negatif yang masih terus gencar berada di market. 

Tapi intinya disini saya ingin menyampaikan bahwa pada saat IHSG turun tajam, anda tidak perlu panik, karena bukan pertama kali IHSG turun tajam, dan ketika IHSG turun, IHSG selalu balik uptrend dalam waktu lebih panjang. 

Anda tetap bisa trading dengan strategi2 tersebut. Tentunya anda harus disiplin dalam take profit dan cut loss. Dan anda harus tetap perhatikan sentimen2 market saat itu.