Monday, 23 March 2026

Cerpen - Bahasa Jiwa, By: Khoirul Taqwim


Malam turun perlahan, membawa sunyi yang tak pernah benar-benar sepi. Di sudut kamar yang temaram, aku duduk sendiri dengan secarik kertas di tangan. Tak ada suara, kecuali detak jam yang terdengar seperti mengetuk-ngetuk isi hatiku yang tak kunjung tenang.

Aku mencoba mengucapkan namamu. Namun, seperti biasa, kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Ada rasa yang terlalu dalam, terlalu rumit untuk sekadar diucapkan. Maka aku memilih diam… dan menulis.

Katanya, kata-kata lebih tajam dari pisau. Aku mulai percaya itu. Sebab setiap huruf yang kutulis tentangmu, terasa seperti mengiris pelan perasaanku sendiri. Namun anehnya, di saat yang sama, kata-kata itu juga menjadi pelipur—seperti luka yang tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri.

Aku menulis bukan karena pandai merangkai kalimat. Aku menulis karena hatiku tak lagi punya ruang untuk menyimpan semua rasa ini sendirian.

Namamu hadir di setiap baris. Bukan sekadar sebagai seseorang yang pernah singgah, tapi sebagai makna—yang diam-diam mengubah caraku memandang hidup. Kau mungkin tak pernah tahu, betapa kehadiranmu sederhana, namun mampu menenangkan segala yang bergejolak dalam diriku.

Malam semakin larut. Angin menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang entah kenapa terasa akrab. Seperti kenangan tentangmu—yang tak pernah benar-benar pergi.

Aku berhenti menulis sejenak, menatap kalimat-kalimat yang telah tercipta. Di sana ada aku, dan ada kamu. Ada rasa yang tak pernah sempat menemukan jalannya untuk diucapkan.

“Jika kau membaca ini…” bisikku pelan, meski aku tahu tak ada siapa pun di ruangan itu, “kau sedang menyentuh jiwaku.”

Aku tersenyum tipis. Bukan karena bahagia sepenuhnya, tapi karena akhirnya aku mengerti—bahwa tak semua rasa harus dimiliki. Sebagian cukup dituliskan, lalu dibiarkan hidup dalam diam.

Kertas itu kulipat perlahan, lalu kusimpan di dalam buku yang tak pernah kubuka untuk siapa pun. Bukan karena aku takut, tapi karena aku tahu… tidak semua orang mampu memahami bahasa jiwa.

Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa. Dunia terus bergerak, seolah tak peduli pada satu hati yang sedang belajar merelakan.

Dan aku…

masih di sini,

menulis namamu dalam diam,

dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang mau merasa.

0 comments:

Post a Comment