Monday, 23 March 2026

Cerpen - Kata yang Tertinggal, By: Khoirul Taqwim




Langit sore itu berwarna jingga, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang perlahan akan berakhir. Di sudut meja kayu yang mulai lapuk, seorang lelaki duduk dengan pena di tangannya. Di depannya, lembaran-lembaran kertas berserakan, penuh dengan tulisan yang tak pernah ia kirimkan kepada siapa pun.

Namanya Sauqi.

Ia bukan penulis terkenal, bukan pula penyair besar. Ia hanya seseorang yang menyimpan terlalu banyak kata—kata yang tak pernah sempat ia ucapkan kepada satu orang: perempuan yang diam-diam ia cintai.

“Aku tidak butuh banyak waktu,” gumamnya pelan, “aku hanya butuh keberanian… yang tak pernah datang.”

Namun waktu tak pernah menunggu.

Sejak lama Sauqi tahu, tubuhnya tidak akan bertahan lama. Penyakit itu perlahan menggerogoti dirinya, seperti malam yang pelan-pelan memakan cahaya senja. Tapi yang lebih menyakitkan dari semuanya bukanlah rasa sakit di tubuhnya—melainkan kata-kata yang terjebak di dadanya.

Tentang dia.

Tentang perempuan yang selalu hadir dalam doanya, tapi tak pernah tahu bahwa namanya disebut dengan begitu lembut dalam diam.

Sauqi menulis lagi.

“Tuhan, jika ragaku ini berhenti… biarlah kata-kataku tetap hidup.”

Tangannya gemetar, tapi ia tetap melanjutkan. Ia menulis tentang rindu yang tak pernah sampai, tentang cinta yang tak pernah berani ia ungkapkan, dan tentang harapan sederhana—agar suatu hari nanti, perempuan itu membaca semua ini.

Bukan untuk membalas.

Hanya untuk tahu.

Hari-hari berlalu, dan lembaran-lembaran itu semakin banyak. Ia menyusunnya rapi, mengikatnya dengan benang sederhana, lalu menaruhnya dalam sebuah map cokelat.

Di bagian depan, ia menulis satu kalimat:

“Untukmu, yang tak pernah tahu.”

Beberapa minggu kemudian, sauqi tak lagi terlihat di meja itu.

Kursinya kosong.

Pena itu mengering.

Dan senja tetap datang seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Namun, di sebuah sudut perpustakaan nasional, tersimpan sebuah naskah tanpa nama penulis yang dikenal. Hanya kumpulan puisi, catatan, dan potongan hati yang tak sempat terucap.

Waktu berjalan.

Hingga suatu hari, seorang perempuan datang. Ia bukan siapa-siapa—hanya pembaca yang mencari ketenangan di antara rak-rak buku. Tangannya berhenti pada sebuah map tua yang sedikit berdebu.

Ia membukanya.

Halaman demi halaman ia baca.

Dan tanpa ia sadari, matanya mulai basah.

Ada sesuatu yang terasa begitu dekat. Seolah setiap kata mengenalnya. Seolah setiap kalimat memanggil namanya.

Saat ia sampai pada halaman terakhir, ia terdiam lama.

Di sana tertulis:

“Jika suatu hari kamu membaca ini, semoga kamu mengerti… pernah ada seseorang yang mencintaimu, dalam diam, sampai akhir.”

Perempuan itu menutup naskah itu perlahan.

Dadanya sesak.

Karena untuk pertama kalinya… ia tahu.

Bahwa semua kata itu—

ditujukan untuknya.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah kata.

Dan cinta yang abadi… dalam diam.




0 comments:

Post a Comment