Sunday, 11 August 2024

Kisah Gus Wim Bertemu Nabi Muhammad SAW




Pada saat menginjakkan kaki di Yogyakarta Gus Wim atau Khoirul Taqwim  bertemu dengan dunia pustaka “selaksa lautan Ilmu berhamburan di pikiran maupun dalam pergerakan”. Maka tak heran rambut gondrong menjadi ciri khas anak-anak muda yang bergejolak dengan Ilmu pengetahuan di Kota pelajar tersebut.


Pertarungan pemikiran dan pergerakan mengarungi di setiap langkah para Mahasiswa yang penuh dengan tantangan yang masih jauh berjalan di jalan yang penuh duri dan licin, walaupun kadang hidup di kota pelajar yang terkenal dengan istilah “nyaman”. 


Namun ternyata di kota pelajar menjadi sebuah pertarungan jati diri dalam membentuk sebuah karakter “Akankah menjadi seorang pemikir liberal, Marxis, Sosialis, kapitalis, Tradisionalis, Khilafah, Modern atau tidak menjadi itu semua”.


Kota Yogyakarta populer dengan berbagai Ilmu pengetahuan terserak di kampus-kampus ternama. Sehingga belajar berbagai Ilmu Pengetahuan di Kota Yogyakarta tidak ada kata habisnya. 


Bahkan semakin mendalami hidup di Kota Yogyakarta “Pendidikan semakin menjadi candu”. Maka jangan heran Kota Yogyakarta di tahun 2010 ke bawah tak jarang Mahasiswa yang lama tak menamatkan diri. Karena terbukti terlalu nyaman dalam pergolakan Ilmu Pengetahuan.


Kota Yogyakarta menjadi kota impian para Mahasiswa tidak hanya di Indonesia, tetapi para Mahasiswa di berbagai negara di dunia berkumpul di Kota Yogyakarta. Bahkan Yogyakarta menjadi sebuah simbol peradaban dan budaya di tingkat Asia Tenggara.


Pada awal di Kota Yogyakarta Gus Wim bergolak dengan berbagai Ilmu Pengetahuan, berawal dari Ilmu-ilmu tradisional tentang keagamaan, apalagi Gus Wim di besarkan di lingkungan Pesantren Asy-Syamsi di Nganjuk Jawa Timur tak jarang bergolak Ilmu-ilmu yang di anggap sudah mapan, tetapi saat menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta tidak ada istilah Ilmu mapan. Karena Yogyakarta tempat lautan Ilmu sebagai simbol peradaban Ilmu pengetahuan di Kawasan Asia Tenggara.


Kota Yogyakarta tempat sebuah pergolakan paradigma pemikiran dan pergerakan dalam menghadapi sebuah pemahaman Ilmu Pengetahuan, baik Agama, Filsafat, Seni, Sosial, Budaya, Ekonomi, Hukum, Sosiologi, Antropologi, Arkeologi, Sejarah, Ilmu Pendidikan, Ilmu Pengetahuan Tekhnologi dan Ilmu-ilmu Pengetahuan lainnya.


Pada tahun 2001 di Kampus-kampus Yogyakarta, khususnya kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atau yang sekarang berganti nama menjadi menjadi kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, telah menjadi pusaran dalam pencarian berbagai Ilmu-ilmu pengetahuan.


Keberadaan kampus Islam telah menjadi pergolakan paradigma pemikiran antara Islam Tradisional, Islam Khilafah dan Islam Liberal. Keberadaan Gus Wim saat kuliah di semester awal maupun akhir telah menghadapi goncangan berbagai Ilmu barat. Bahkan saat diperkuliahan menganggap “Nabi itu sama dengan manusia biasa secara fisik”. Sehingga menolak bahwa “Nabi secara fisik itu suci tanpa ada dosa”.


Pada saat Dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu suci dan tidak mempunyai dosa dan salah. Maka berangkat dari situlah Gus Wim menolak pendapat Dosen tersebut. Sehingga memunculkan perdebatan yang panjang antara Gus Wim dengan Dosen yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu suci tanpa dosa.


Akibat dari perdebatan keras antara Gus Wim dengan Dosen tersebut. Membuat Gus Wim di suruh membuat tulisan 10 kesalahan Nabi Muhammad. Berangkat dari sinilah pergolakann Gus Wim dalam paradigma pemikiran tak terelakkan untuk membuat 10 tulisan tentang “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia”.


Gus Wim dalam  membuat tulisan itu tak lepas dari gejolak pemahaman pemberontakan tentang pemahaman agama yang di anggap mapan. Maka butuh pembaharuan dan penyegaran dalam mengkaji tentang Nilai-nilai agama Islam.


Pencarian dan perenungan Gus Wim tentang tulisan “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia”. menjadi cikal bakal Gus Wim bergolak dengan Ilmu-ilmu sekuler. Sehingga ketika masuk di ruang belajar Gus Wim tak lepas dari deretan buku-buku yang terserak dan tidak terhitung jumlah bukunya.


Bahkan Gus Wim dalam pencarian jati diri menjadi pertarungan yang sangat brutal dalam paradigma pemikiran, pergerakan, dan gagasan maupun ide-idenya.


Eksistensi Gus Wim bertahun-tahun mengkaji Ilmu pengetahuan barat maupun Ilmu pengetahuan timur untuk menemukan sebuah racun dan sebuah penawar dalam sebuah Ilmu Pengetahuan yang di anggap mapan, padahal dibutuhkan sebuah diskontruksi maupun rekonstruksi di dalam Ilmu Pengetahuan tersebut.


Bahkan Gus Wim setiap hari di saat waktu senggang telah menyempatkan diri di gedung-gedung perpustakaan dari pagi sampai hampir gelap. Lalu dilanjutkan di malam hari Gus Wim berdiskusi dengan Kawan-kawan di Sapen dan juga dengan Kawan-kawan yang tergabung dalam kumpulan Study Forum Mahasiswa Dakwah, Liga Forum Study Yogyakarta, Forum Mahasiswa Demokrasi, dan berbagai Forum-forum lainnya.


Setelah seminggu berlalu akhirnya Gus Wim menyerahkan tulisan tentang 10 kesalahan “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia” kepada Dosennya. Setelah menyerahkan tulisan Gus Wim di persilahkan membaca tulisan itu di depan Kawan-kawan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Gus Wim salah satu tokoh Mahasiswa yang berani mendobrak, hingga tulisannya masuk di berbagai jurnal kampus maupun di berbagai media dan juga tulisan Gus Wim telah dibukukan dan diterbitkan menjadi karya yang mengagumkan. 


Maka tidak heran setelah Gus Wim berburu Ilmu pengetahuan barat maupun Ilmu pengetahuan timur. Hingga Gus Wim memutuskan membuat buku “Kajian Keislaman Gus Wim Islam Tradisional, Liberal, Khilafah”.  buku tersebut menjadi cikal bakal Gus Wim dalam membendung pemikiran paham liberal dari gerakan barat maupun membendung pemikiran paham khilafah dari gerakan Islam radikal.


Dalam upaya membendung paham liberal maupun paham khilafah yang tak jarang menghakimi dan memberikan Ilmu-ilmu sampah yang dianggap sebuah pencerahan. Namun paradigma pemikiran yang di bawa bangsa barat dan paham khilafah, ternyata merupakan Ilmu-ilmu sampah yang ingin mengkerdilkan dan  membuat kasta Nusantara sebagai kasta inferior.


Gejolak Gus Wim dalam membuat 10 tulisan tentang “Nabi Muhammad pernah mempunyai kesalahan secara fisik sebagai lahiriah manusia” membuat pemikiran Gus Wim semakin kacau balau. Hingga pada akhirnya Gus Wim bertemu Nabi Muhammad SAW melalui mimpi di sekitar jam 3 pagi pada tahun 2002.


Berangkat dari sinilah Gus Wim bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di tahun 2002 melalui jalan mimpi di sekitar jam 3 dini hari, telah menjadi sejarah besar bagi perkembangan paradigma pemikiran Gus Wim.


Saat Gus Wim bermimpi Nabi Muhammad SAW di langit dan berjumpa Tuhan Allah SWT di waktu Isra’ Mi’raj.


Gus Wim saat bertemu Nabi Muhammad SAW lewat mimpi terlihat jelas wajah Nabi Muhammad SAW dengan pakaian serba putih dan berparas tampan yang indah sekali. Sedangkan Tuhan Allah SWT hanya nampak terhalang di balik tabir dalam bentuk gumpalan cahaya yang bersinar terang benderang. 


Berangkat dari mimpi Gus Wim bertemu Nabi Muhammad SAW di tahun 2002, akhirnya Gus Wim terus mengkaji Ilmu dari bangsa Timur dan mengkhususkan diri membaca Maha Karya Ibn Khaldun di dalam buku Muqaddimah. Hingga pada akhirnya Gus Wim di akhir kuliah menyusun tugas akhir dengan judul “Relevansi Pemikiran Ibn Khaldun dengan Ekonomi Islam”.


Bahkan Gus Wim sampai hari ini telah menulis 13 buku


1. Buku Sabda Cinta 

2. Buku Geguritan Gaib

3. Buku Kajian KeIslaman Gus Wim, Islam Tradisional, Liberal, Khilafah

4. Buku Sahabat Balai Jogja

5. Buku Mengarungi Tinta Keabadian

6. Buku Negeri Para Penulis

7. Buku Rahasia wanita di balik jilbab

8. Buku Antologi Sang Khutbah (Kritik Nalar Konstruktif)

9. Buku Wanita Mungil Dari Desa (Antara Cinta dan Kasta)

10. Buku Antologi Sajak Yang Terkubur

11. Buku Muqaddimah Kerudung

12. Buku Penyair Barzakh dan Luka

13. Saat ini menghasilkan karya kembali dengan buku yang berjudul “Penyair Agung”


Sekian tulisan singkat Kisah Gus Wim Bertemu Nabi Muhammad SAW ini dan terima kasih atas perhatiannya.

Kepada Syeikh Asy-Syamsi

 



Kerinduanku kepada Syeikh Asy-Syamsi yang selalu hadir di dalam jiwaku. Saat aku sedang mengalami beragam permasalahan, engkau tak jarang selalu hadir lewat mimpi-mimpi indahku.


Syeikh Asy-Syamsi salam hormat dari cucumu, aku telah merindukanmu begitu lama, lewat sajak dan artikel tak jarang namamu kusebut. Engkaulah kakek yang selalu aku banggakan, lewat kata dan aksara namamu kutulis sebagai bentuk penghargaanku kepadamu.


Salam hormat kepada Syeikh Asy-Syamsi, tak jarang namamu kusebut lewat nafas do'a-do'aku, engkau orang yang punya jati diri dalam membangun pondok pesantren. Hingga namamu masih agung di antara jejak-jejak kemuliaan yang engkau torehkan, baik untuk anak cucumu maupun untuk para santrimu.


Syeikh Asy-Syamsi namamu luhur diabadikan lewat tinta sejarah, tentangmu yang berhasil dalam berjuang di setiap detak nafas perjuanganmu penuh dengan jalan heroik. Engkau adalah pahlawan yang tertulis di lembaran hati dan jiwaku.


Salam hormat kepada Syeikh Asy-Syamsi dari lubuk hatiku yang terdalam. Walaupun engkau sudah tiada, tetapi semangat api perjuanganmu masih mengharu biru penuh semangat mewarnai di setiap gerak nafas mereka yang mengagumimu.


Duhai Syeikh Asy-Syamsi salam hormat selalu dari cucumu. Lewat do'a ini malam aku selalu berharap semangat jiwa dan perjuangan yang engkau torehkan di tinta emas. Semoga aku dapat mengambil hikmah di setiap detak sisa-sisa nafasku dalam melangkah menuju kehidupan yang penuh dengan ujian.


Aku bisikkan lewat angin malam teruntukmu wahai panutanku Syeikh Asy-Syamsi, engkau adalah: Sosok yang mulia, engkau selalu mengajarakan kepada para santrimu tentang kesabaran dan keikhlasan. Karena kedua hal inilah! Sebagai bentuk di dalam melangkah di setiap detak kehidupan.


Salam hormat kepadamu, duhai yang mulia Syeikh Asy-Syamsi guru besar tentang memahami agama maupun tentang memahami kehidupan yang penuh dengan keberagaman. Maka engkau tak jarang lewat mimpi-mimpiku, tuk selalu mengajarkan tentang "tepa selira" dalam menyikapi beragam keadaan.


Lewat mimpi malam aku menemukan jiwamu, wahai yang terhormat Syeikh Asy-Syamsi manusia yang berbudi luhur, bahwa kesabaran dan ketulusan yang engkau torehkan lewat karya-karyamu. Menjadi jalan di setiap detak nafas ini untuk selalu mengikuti titahmu.


Lewat udara ini malam menjadi saksi tentang keagunganmu, bahwa engkau adalah: manusia yang berbudi luhur dan mampu mencetak para santri, tuk menjadi santri yang penuh dengan jiwa semangat dalam membela keyakinan yang kita perjuangkan.


Duhai engkaulah! Syeikh Asy-Syamsi manusia yang penuh dengan keteladanan, kesabaranmu seperti matahari, walaupun matahari terbakar sekalipun, dia matahari tetap hadir tuk menerangi semesta alam raya.


Salam hormat kepada Syeikh Asy-Syamsi dari cucumu yang selalu merindukanmu.

Thursday, 8 August 2024

Sistem Kasta dan Warna Kulit di Zaman Hindia Belanda

 


Selama masa penjajahan Belanda di Hindia Timur (sekarang Indonesia), sistem kasta memainkan peran penting dalam struktur sosial masyarakat. Sistem kasta, yang dikenal sebagai "Sistem Kasta", didasarkan pada konsep hierarki sosial Hindu dan diterapkan oleh Belanda untuk menjaga kontrol atas penduduk asli.


Sistem kasta di Hindia Timur Belanda terdiri dari empat kasta utama: Eropa, Indo-Eropa, aristokrasi pribumi, dan penduduk pribumi. Eropa, yang terdiri dari penjajah Belanda dan pemukim Eropa lainnya, menduduki kasta tertinggi dan memegang kekuasaan dan hak istimewa paling besar dalam masyarakat. Mereka mengendalikan pemerintahan, ekonomi, dan lembaga sosial, dan mampu menegakkan otoritas mereka atas kasta lainnya.


Indo-Eropa, juga dikenal sebagai mestizo, adalah orang keturunan campuran Eropa dan pribumi. Mereka menduduki posisi tengah dalam sistem kasta, karena sering diberikan lebih banyak hak dan kesempatan daripada penduduk pribumi tetapi masih menghadapi diskriminasi dan marginalisasi dari para penjajah Eropa. Indo-Eropa sering bekerja sebagai perantara antara Eropa dan penduduk pribumi, bertindak sebagai penerjemah, administrator, dan perantara.


Aristokrasi pribumi, atau "priyayi", membentuk tingkat berikutnya dalam sistem kasta. Mereka adalah penguasa tradisional dan elit kerajaan pribumi dan sering dimanfaatkan oleh Belanda untuk membantu pemerintahan dan mengontrol penduduk asli. Priyayi diberikan beberapa hak istimewa dan otonomi oleh Belanda, tetapi pada akhirnya melayani sesuai dengan keinginan penguasa kolonial mereka.


Di bagian bawah sistem kasta adalah penduduk pribumi, yang mencakup berbagai kelompok etnis dan komunitas. Mereka terkena kondisi kerja keras, pengusiran paksa, dan penindasan budaya oleh penjajah Belanda. Penduduk pribumi sering menghadapi diskriminasi dan kekerasan dari tangan penjajah Eropa, yang melihat mereka.


Dalam hierarki sosial yang kompleks di Hindia Belanda, atau Zaman Belanda, terdapat sistem kasta yang dikenal sebagai Kasta. Sistem ini didasarkan pada ras dan warna kulit seseorang, dengan kasta tertinggi diperuntukkan bagi mereka dengan keturunan putih atau Eropa. Sistem kasta ini menciptakan hierarki yang jelas yang memberi keistimewaan bagi mereka dengan kulit lebih terang daripada mereka dengan kulit lebih gelap.


Di puncak sistem Kasta berada orang-orang Eropa, atau Belanda, yang memegang status sosial tertinggi dan memiliki kekuasaan dan keistimewaan terbesar. Mereka dianggap sebagai suku yang superior dibandingkan dengan semua ras lain dan diberi perlakuan istimewa dalam segala aspek masyarakat. Pemerintah kolonial Belanda dan perusahaan Eropa juga memiliki kekuasaan ekonomi dan politik yang signifikan, yang lebih mengukuhkan posisi mereka di puncak sistem kasta.


Di bawah orang Eropa berada orang Arab, Tionghoa, dan Cina baru, yang dianggap memiliki status lebih tinggi daripada penduduk asli Hindia Belanda, atau Pribumi. Kelompok-kelompok ini seringkali dapat mencapai tingkat pendidikan dan keberhasilan ekonomi yang lebih tinggi daripada Pribumi karena koneksi mereka dengan penjajah Eropa. Namun, mereka masih menjadi korban diskriminasi dan prasangka berdasarkan ras dan warna kulit mereka.


Di bagian bawah sistem Kasta berada Pribumi, yang seringkali dipinggirkan dan ditindas oleh penjajah Eropa. Mereka dianggap lebih rendah dari orang Eropa dan dikenakan kondisi kerja yang keras, kemiskinan, serta akses terbatas terhadap pendidikan dan kesempatan. Pribumi juga tunduk pada undang-undang dan peraturan diskriminatif yang memperkuat status sosial mereka yang lebih rendah.


Sistem Kasta di zaman Hindia Belanda memiliki implikasi yang luas terhadap perkembangan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Ini memperpanjang ketidaksetaraan dan perpecahan di antara kelompok ras yang berbeda, menyebabkan ketegangan dan konflik dalam masyarakat. Warisan sistem kasta ini terus berdampak pada masyarakat Indonesia dewasa ini, karena masalah ras dan warna kulit terus memainkan peran penting.

Wednesday, 7 August 2024

Orientalisasi Wajah Pribumi


Orientalisasi Wajah Pribumi adalah fenomena kompleks dan berbagai aspek yang telah banyak terjadi dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah. Proses ini melibatkan penggambaran masyarakat pribumi dengan cara yang mengesotisasi, mengadaikan, dan mengobjektifikasi mereka, seringkali memperpetuasi stereotip dan kesalahpahaman tentang budaya, identitas, dan penampilan mereka.


Konsep Orientalisasi memiliki akar dalam kolonialisme Eropa, di mana kekuatan Barat mencoba untuk menegaskan dominasi atas masyarakat non-Barat dengan menggambarkannya sebagai primitif, tidak beradab, dan perlu "dipencerahkan." Hal ini sering melibatkan penggambaran masyarakat pribumi sebagai eksotis dan misterius, menekankan ciri-ciri fisik mereka seperti kulit gelap, fitur wajah "asing," dan pakaian dan hiasan tradisional.


Dalam konteks Asia Tenggara, Orientalisasi Wajah Pribumi telah diamati dalam berbagai bentuk, termasuk dalam sastra, seni, media, dan budaya populer. Masyarakat pribumi di wilayah ini sering digambarkan sebagai "Lainnya," dilihat sebagai berbeda dan inferior dibandingkan dengan budaya Barat atau perkotaan yang dominan. Hal ini dapat memiliki dampak negatif terhadap bagaimana komunitas ini dipandang dan diperlakukan, memperkuat stereotip dan prasangka yang dapat menyebabkan diskriminasi dan marginalisasi.


Salah satu masalah utama dengan Orientalisasi adalah bahwa hal tersebut mengurangi kompleksitas dan keragaman budaya dan identitas pribumi menjadi representasi yang sempit dan seringkali distorsi. Dengan fokus pada penampilan fisik dan aspek-aspek kultural yang dangkal, kekayaan dan kedalaman tradisi, kepercayaan, dan praktik pribumi sering diabaikan atau direpresantasikan secara salah.


Penting bagi kita untuk mengenali dan menantang Orientalisasi Wajah Pribumi, karena hal ini memperpetuasi stereotip berbahaya dan memperkuat ketimpangan kekuatan antara kelompok etnis dan budaya yang berbeda. Dengan mempromosikan penggambaran yang lebih nuansa dan penuh rasa hormat terhadap masyarakat pribumi, kita dapat membantu melawan diskriminasi dan mempromosikan pemahaman.

Orientalisasi Wajah Barat


Orientalism in the Western Face, atau Orientalisasi Wajah Barat, adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena budaya Barat yang melihat dan menggambarkan budaya Timur melalui lensa yang bias dan seringkali distorsi. Istilah ini diciptakan oleh pakar terkenal Edward Said dalam bukunya yang revolusioner "Orientalism" yang diterbitkan pada tahun 1978, konsep ini menggali kedalaman dinamika kekuatan, stereotip, dan penyajian budaya yang telah lama mendominasi persepsi Barat terhadap Timur.


Salah satu aspek kunci dari Orientalisasi Wajah Barat adalah gagasan Barat yang menempatkan dirinya sebagai superior dan beradab "lain" dalam kontras dengan Timur yang eksotis, primitif, dan misterius. Dikotomi ini terus dipertahankan melalui berbagai bentuk produksi budaya seperti sastra, seni, film, dan media, di mana budaya Timur seringkali diramalkan, difetisisasi, atau dimonikkan demi memenuhi pandangan Barat.


Kepintaran Barat dengan Orient telah berlangsung berabad-abad, didorong oleh kolonialisme, imperialisme, dan keinginan untuk menegaskan dominasi atas Timur yang "barbar" dan "belum beradab". Mentalitas ini telah menyebabkan penciptaan berbagai stereotip Orientalis yang terus membentuk persepsi Barat terhadap budaya Timur hingga saat ini. Contohnya adalah penggambaran perempuan Timur Tengah sebagai tertindas dan patuh yang membutuhkan pembebasan Barat, atau gambaran budaya Asia sebagai tanah mistis dan eksotis yang penuh dengan kearifan kuno dan rahasia.


Lebih lanjut, Orientalisasi Wajah Barat memiliki konsekuensi nyata dalam kehidupan nyata, karena dapat berkontribusi pada penyebaran stereotip berbahaya, xenofobia, dan diskriminasi terhadap individu dari budaya Timur. Dengan mempersempit masyarakat yang beragam dan kompleks menjadi representasi yang terlalu disederhanakan dan monolitik, Orientalisme dapat memperkuat ketidaktahuan dan prasangka, menghambat pemahaman dan dialog lintas budaya.


Secara kesimpulannya, Orientalisasi Wajah Barat adalah sebuah fenomena yang merayap dan berlangsung, yang menyoroti cara budaya Barat secara historis telah memutar dan merusak budaya Timur.

Friday, 2 August 2024

Air Mata Terakhir



Saat ku hubungi di malam yang gelap 

Ku luapkan segala resah

Akan dirimu yang tak pernah menjadi takdir

Namun engkau selalu memberi harapan 

Hingga aku harus jatuh tertatih-tatih 

Sampai tak mampu berdiri kembali 

Karena rasa yang engkau beri

Begitu dalam menusuk di sanubari jiwaku


Perhatianmu 

Aku menganggap sebuah arti tentang rasa

Namun ternyata perhatianmu

Seperti racun yang terlihat madu

Karena perhatian yang semu

Tetapi aku terlalu berlebihan 

Menganggap perhatianmu adalah: cinta


Jika waktu bisa berputar

Mungkin aku tak ingin bertemu engkau

Namun waktu sudah terlanjur

Merasuk di segala ruh dan jiwaku

Hingga aku harus menumpahkan

Air mata Terakhir 

Sebagai rasa kesedihan dan rasa yang kan kau ingat

Disepanjang nafas ini menghirup kehidupan


Air mata terakhir 

Saksi kan membasahi sebuah lembaran hidup

Mengais tentang sebuah rasa

Namun rasa itu

Sudah terlanjur menjadi luka 

Terbawa dalam alunan ini malam yang gelap gulita

Wednesday, 31 July 2024

Pesan dari Langit




Dalam keheningan malam, pesan dari atas

Bisikan lembut dalam angin, dikirim dengan kasih yang lembut

Pesan dari langit, hadiah dari langit

Membimbing kita dengan bijaksana, seiring berjalannya waktu


Pesan dari langit, pesan harapan

Cahaya dalam kegelapan, membantu kita bertahan

Di saat kesulitan, di saat putus asa

Pesan dari langit ini, mengingatkan kita bahwa seseorang selalu ada


Dalam ketenangan fajar, saat dunia terbangun

Kita merasakan keberadaan sesuatu yang lebih besar, hati kita gemetar

Pesan dari langit, inspirasi abadi

Pengingat akan tujuan hidup kita, sebuah panggilan untuk bertindak


Jadi marilah kita dengarkan pesan ini, mari kita jawab panggilan itu

Untuk menyebarkan cinta dan kebaikan, untuk tegak berdiri

Karena Pesan dari langit, adalah pengingat dari atas

Bahwa kita telah terhubung, oleh ikatan mata hati dan jiwa