Sunday, 25 May 2025

Bayangmu di Setiap Nafasku




Aku mencintaimu — lebih dari yang bisa kupinta pada langit,
dalam diam, dalam sepi, dalam doa yang tak kau tahu.
Namun kau berjalan, tak menoleh,
sementara aku tinggal, terhenti di belakang waktu.

Cintaku bukan puisi indah bagimu,
hanya gema yang tak pernah sampai ke telingamu.
Kau memilih dunia tanpaku,
dan aku tersesat dalam dunia yang hanya ada bayangmu.

Rasa sakit ini… bukan luka,
tapi hidup yang tak pernah sembuh.
Setiap tarikan napas membawa namamu,
setiap hela adalah perih yang baru.

Aku tahu kau tak pernah mencinta,
tapi bagaimana bisa aku berhenti mencintai?
Jika rinduku adalah takdir,
maka biarlah aku menderita seumur hidup — dengan setia.

Dalam Nafas yang Tak Kau Hirup

 


Aku jatuh cinta padamu — tanpa syarat, tanpa pinta,
Seperti hujan mencintai tanah, walau akhirnya hanya luka.
Kau adalah senja yang kupandangi tiap hari,
Namun tak pernah menyadari — aku di sini, sendiri.

Kutulis namamu di tiap doa malam,
Dalam sepi yang menggigit, dalam harap yang diam.
Tapi kau tak pernah menoleh, tak pernah tahu,
Bahwa aku hidup hanya untuk mencintaimu.

Kau tertawa untuk dunia yang bukan aku,
Sementara aku menunggu, di pintu yang tak pernah kau buka itu.
Cintaku padamu seperti napas — tak bisa berhenti,
Tapi kau bagai angin, menghilang tanpa janji.

Setiap pagi aku bangun dengan bayangmu,
Dan setiap malam aku tidur dengan rindu.
Aku mencintaimu — meski tak berbalas,
Meski hatiku retak, hancur, dan lemas.

Dan kini kutahu, kau tak akan pernah memilihku,
Tapi bagaimana caranya berhenti mencintaimu?
Jika setiap detak jantung menyebut namamu,
Dan setiap hembus napas membawa bayangmu.

Akan kupikul cinta ini sampai akhir waktu,
Biar luka ini jadi teman di sepanjang hidupku.
Meski kau tak mencinta, aku tak menyesal,
Karena mencintaimu — meski sendiri — tetaplah hal yang paling kukenal.

Saturday, 24 May 2025

Bayangan Puisiku

 



Puisi rasa sakit dan kecewaku
akan membayangi seumur hidupmu.
Meski jiwa dan nyawaku harus mati,
bayangannya tak akan ikut pergi.

Ia akan menari di setiap mimpimu,
menggoreskan luka yang tak sembuh waktu.
Menjadi suara lirih di tengah sunyi,
menjadi darah yang terus mengalir—sepi.

Tak kau lihat, tapi selalu ada.
Tak kau sentuh, tapi menghujam jiwa.
Itulah warisan dari hati yang tersakiti:
puisi yang menjadi luka abadi.

Pusat Semesta


Ia duduk diam,
di pojok malam,
kitab-kitab terbuka
tapi tak lagi dibaca
—ia sudah jadi huruf-hurufnya.

Orang bilang,
ia hilang akal.
Padahal pikirnya
sudah meleleh
menyatu dalam dzikir
yang tak butuh kata.

Tak peduli waktu,
tak kenal makan,
ia hidup dalam napas
yang tak lagi milik tubuh.

Tuhan bukan lagi arah,
bukan atas atau dalam—
tapi pusat segalanya
yang kini menetap
di dadanya.

Puisi: Aku Pemuda Jawa

 



Aku pemuda Jawa,
yatim piatu yang terasingkan.
Kemiskinan menggurat wajahku,
mengikis harapan, memendekkan pikirku.

Kadang ingin kutumpahkan amarah,
menghancurkan sekeping hati ini
agar sirna segala lara
yang diam-diam menetap di dada.

Puisi: Gus Wim Mahasiswa Tanpa Wisuda




Dari lorong-lorong Sunan Kalijaga
Langkahmu menapak, tak selalu lurus jalannya
Menyusuri jejak sunyi para pencari makna
Di ruang kuliah yang penuh tanya

Gus Wim, engkau datang bukan untuk gelar
Tapi menimba hikmah dari tiap kitab yang mekar
Menjadi murid bagi waktu yang sabar
Mengaji hidup, di antara debu dan sabar

Surakarta menyambutmu seperti halaman baru
UIN Raden Mas Said kau jejaki tanpa ragu
Namun wisuda tak menjadi akhir bagimu
Karena bukan toga yang kau kejar, tapi ilmu

Tak ada panggung, tak ada selempang
Tapi ada bekas jejak yang takkan hilang
Di dada mereka yang pernah kau ajar dan dengar
Di ruang-ruang sunyi tempatmu berpikir dan berzikir

Gus Wim, engkau mahasiswa sejati
Yang lulus bukan dari rapor atau ijazah resmi
Melainkan dari hidup yang kau jalani sendiri
Dengan niat suci dan hati yang bersih

Puisi: Penangkapan Gus Wim di Kartosuro




Di Kartosuro malam menggigil,
angin membawa kabar yang tak terbilang.
Gus Wim, pejalan sunyi dari Nganjuk,
cucu darah dari Syeikh Asy-Syamsi,
hingga Syeikh Arfiyak, leluhur langit bumi.

Langkahnya tenang memikul do'a,
di balik baju putih dan kopyah sederhana.
Namun malam itu, tangan besi mencengkeram,
tak paham akan hikmah dalam diam.

Ia bukan pencuri harta dunia,
tapi penjaga warisan kalbu dan do'a.
Darahnya mengalirkan zikir para auliya,
namun ditanya, dihukum, seakan lara.

Wahai Kartosuro, kau saksi luka sejarah,
tempat para wali pernah mengajar pasrah.
Kini cucunya ditangkap dalam diam,
adakah yang paham apa makna yang dalam?

Gus Wim bukan hanya nama,
ia getar dari silsilah yang membawa cahaya.
Dari Nganjuk ia berjalan, membawa amanah,
hingga Kartosuro, tempat sunyi berubah gundah.

Dan langit bersaksi tanpa suara,
bahwa kadang para kekasih diuji di dunia.
Tapi warisan para wali tak pernah punah,
meski tubuh diborgol, ruh tetap bebas melangkah.