Tuesday, 20 August 2024

Akhir Hubungan Haruskah Diblokir?



Kenapa berakhir cinta harus memblokir?
Pernahkah engkau merasakan itu?
Jika pernah berarti itu kata akhir dari sebuah hubungan
Boleh saja tidak berhubungan komunikasi?
Namun sanggupkah engkau melupakan sebuah hati?
Jika hati sudah terlanjur punya ruang tersendiri

Blokir
Tindakan yang kadang tepat
Namun juga kadang malah sulit melupakan
Karena blokir itu hanya hubungan komunikasi semata
Namun sejatinya
Hati sudah terlanjur memberi ruang
Kepada dia yang pernah punya ruang rasa

Blokir
Akhir hubungan haruskah di blokir?
Jika blokir itu masih tersemat
Maka yang ada akan menambah luka
Luka sebuah hubungan yang putus di tengah jalan

Jika putus hubungan harus di blokir
Mungkin itu hanya jalan sesaat
Karena blokir
Bukan jawaban sebuah hati yang sudah punya ruang dan tempat

Hati Ribuan Wajah

 



Gemetar suaraku saat membaca puisi ini

Engkau yang kuteguhkan di hati

Namun engkau campakkan dengan luka sedemikian rupa

Akankah engkau akan memutus segala hrapanku?

Atau engkau akan membunuh aku pelan-pelan dengan harapan kepalsuan?

Sungguh engkau yang ku anggap jiwa penenang

Namun kurasakan di setiap kata dan senyummu

Hambar seketika merajut dalam keangkuhan


Duhai jiwa-jiwa yang terkapar

Tak tahukah engkau telah mejadi luka api?

Membakar di setiap puisi dan sajakku

Engkau memberi harapan

Namun harapan yang penuh dengan samudra air mata


Hebatkah engkau dengan wajah elokmu?

Namun wajahmu tak seindah hatimu yang terus membuat luka

Walaupun luka itu nampak perlahan-lahan

Namun luka itu mematikan di setiap nafas dan jiwaku

Sungguh hatimu bersembunyi di ribuan wajah

Engkau pandai mengambil peran yang tersembunyi


Hati ribuan wajah

Hati yang bersembunyi di balik harapan

Mati bersama aliran nanah

Menjadi luka tanpa pengampunan

Dengarkan Suaraku

 


Dengarkan suaraku
Memanggil namamu di ujung subuh
Ku sebut namamu dalam do'a
Supaya engkau mengerti tentang hati
Masih bergetar di jiwa yang mulai ringkih
Seperti tubuh yang mulai menua
Seperti jantungku yang mulai berdetak pelan

Dengarkan suaraku
Rasaku akan abadi
Seperti keabadaian puisi yang ku tulis untukmu
Supaya engkau mengerti
Setiap ketukan nafasku
Tertoreh namamu yang ku rindu di balik luka
Karena luka ini masih nampak hitam
Walaupun ribuan hari di basuh oleh air hujan
Luka tetap ada di hati kecil hitamku

Aku ingin engkau mengerti
Lewat diksi yang ku tulis
Supaya hatiku tenang
Sebelum nafasku berakhir dalam pengasingan
Menuju istirahat terakhir
Bersama panggilan Tuhan

Dengarkan suaraku
Suara hati di dalam jiwaku
Engkau selalu ada dalam bayanganku
Bersama harapan dalam penantian di setiap detak nafasku

Cinta di Ujung Subuh


Ku tulis beribu-ribu puisi untukmu
Tentang bunga di ujung subuh
Bunga mawar mekar di taman embun hati
Engkau hati yang menjadi pendingin di seluruh jiwaku
Sungguh engkau Bidadari di ujung subuh
Membawa kabar tentang hati
Hati yang di landa asmara cinta

Andaikan waktu tak berputar
Ingin sekali aku di ujung subuh
Kan ku habiskan waktu ku
Tuk menulis beribu-ribu puisi untukmu
Tentang puisi cinta yang ada permata jiwaku

Cinta di ujung subuh
Ku tulis beribu-ribu puisi
Tentang hati yang rindu
Lama tak tahu tentang kabarmu
Masihkah engkau seperti dulu?
Setelah engkau menikah dengan pilihan Abahmu
Ku hanya berdo'a lewat beribu-ribu puisi
Tentang cinta tak harus bersama
Cinta tak harus tertawa
Namun cinta jika sudah menjadi luka
Berarti itulah cinta yang sudah punya tempat di hati

Cinta di ujung subuh
Ku lantunkan lewat beribu-ribu puisi
Bukan puisi bahagia
Namun puisi luka tentang rindu
Karena rindu sudah terbayar antara air mata dan luka

Monday, 19 August 2024

Perempuan Kehilangan Lelaki yang Mencintainya

 



Duh perempuan yang ada disana

Saat engkau menolak cinta
Sebenarnya, itu hari engkau kehilangan lelaki yang mencintaimu
Karena dia tak akan menemuimu lagi
Bukan karena takut memperjuangkan cinta
Namun itu isyarat cinta tak harus memiliki

Duh perempuan disana
Tahukah saat engkau menolak cinta dari sebaik falsafah cinta
Sebenarnya, engkau telah kehilangan lelaki yang mencintaimu
Engkau tak akan pernah mendengar kabar lagi
Apalagi bertemu wajahnya
Karena hati lelaki sudah merelakan kepergianmu
Seperti kepergian angin di malam ini hari

Duh perempuan disana
Saat engkau menolak lelaki yang mencintaimu
Sebenarnya, engkau telah kehilangan
Dia lelaki yang berjuang untukmu
Karena dia lelaki
Tak akan kau temui lagi
Walau hanya sebatas kedipan tatapan mata saja
Karena dia sudah lari dari kehidupanmu
Menuju langkah kehidupan cinta berikutnya

Duh wanita disana
Engkau telah kehilangan lelaki yang mencintaimu
Saat engkau menolak cintanya
Seperti engkau kehilangan embun pagi di udara
Pada waktu matahari telah tiba di kala itu

Bisikan Untuk Tuhan


 


Perjuangan ini terlalu berat
Kadang terasa tak mampu
Melawan para pemilik kuasa
Dia mampu mengubah segala aturan dengan cepat
Sesuai dengan keinginan dan kepentingannya

Tuhan
Tanpa kekuatanMu
Tanpa tangan-tangan kuasaMu
Seluruh aliran darah dan keringat ini tak akan mampu
Melawan mereka pemilik aturan dan tahta
Karena dia punya segala kuasa di semesta tanah dan udara
Namun jika Engkau Tuhan Sang maha pemilik titah
Tak ada yang tak mungkin
Semua bisa saja berubah dalam sekejap
Seperti Fir'aun Sang penguasa daratan dan lautan
Seketika di lahap air bah lautan
Saat mengejar Nabi Musa tercinta

Tuhan
Perjuangan ini berat
Seberat perjuangan melawan segala kekuatan semesta
Karena mereka mempunyai segala kuasa
Sedangkan kami hanya debu di balik gumpalan gunung dan gurun

Tuhan
Jika perjuangan ini terlalu berat
Maka bantulah dengan kuasaMu
Seperti Engkau membantu Musa
Saat mengalahkan Fir'aun di kala itu

Satu Enam


 


Duhai satu enam
Bukan angka keramat atau angka kebetulan
Namun angka ini
Angka yang lama telah hilang di makan waktu
Namun kini hadir kembali
Bersama pusaran kecanggihan alat komunikasi
Hingga yang dulu hilang
Kini dapat berkumpul kembali

Satu enam
Sahabat dan saudaraku
Semasa menginjak di Madrasah Aliyah
Kelas yang penuh dengan perjuangan
Antara sepi dan ramai
Antara keringat dan air mata
Antara cinta dan luka
Menjadi langit di hati yang penuh dengan haru biru

Satu enam
Engkau sahabat yang lama telah hilang
Namun kini engkau muncul kembali
Bersama tangan-tangan kuasa Tuhan
Karena kami lama tak berjumpa
Kini hadir kembali
Walaupun umur sudah mulai menua
Namun hati dan jiwa
Terasa baru di hari kemarin
Kita berjabat tangan
Lalu kita berucap salam perpisahan

Satu enam
Kelas yang penuh dengan keringat dan air mata
Engkau kelas yang kan ku kenang di sepanjang zaman
Hingga hati ini berdetak dalam kesunyian maupun dalam keramaian
Hingga dititik waktuku
Sampai aku menutup mata selamanya