Showing posts with label Ekosistem. Show all posts
Showing posts with label Ekosistem. Show all posts

Monday, 21 August 2017

Pengertian dan Contoh Komponen Biotik dan Abiotik dalam Ekosistem

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pengertian Komponen Biotik dan Abiotik dalam Ekosistem beserta Contohnya Lengkap- Suatu ekosistem memiliki suatu komponen penyusun. Suatu ekosistem mempunyai dua komponen pokok, yaitu komponen yang berupa makhluk hidup yang disebut komponen biotik dan komponen yang berupa sumber energi, misalnya, cahaya matahari, suhu/temperatur, udara, air, tanah dan lain-lain disebut komponen abiotik.


1. Komponen Biotik
Komponen biotik adalah komponen ekosistem berupa berbagai makhluk hidup yang ada di dalam suatu ekosistem. Hewan, tumbuhan, manusia, dan mikroorganisme termasuk komponen biotik. Tiap komponen memiliki peranan masing-masing yang erat kaitannya dalam pemenuhan kebutuhan akan makanan. Hal ini menyebabkan terjadinya keseimbangan di dalam ekosistem. Di dalam ekosistem, komponen biotik memiliki peranan (relung) dan tugas tertentu. Komponen biotik dalam ekosistem berdasarkan peranannya dikelompokkan  menjadi tiga, yaitu sebagai produsen, konsumen, dan pengurai (dekomposer).

a. Produsen
Produsen mencakup semua makhluk hidup yang mampu membuat makanannya sendiri. Di dalam ekosistem semua tumbuhan hijau adalah produsen. Tumbuhan dapat membuat makanannya sendiri dengan melakukan fotosintesis. Contoh makhluk hidup yang mampu membuat makanannya sendiri adalah tumbuhan, fi toplankton (anggota kelompok Protista), dan Cyanobacteria. Tumbuhan merupakan produsen di daratan sedangkan fi toplankton (  tumbuhan hijau yang amat kecil yang melayang-layang di dalam air ) merupakan produsen di perairan.. Fitoplankton bisa menghasilkan berton-ton makanan yang menjadi sumber makanan bagi hewan-hewan air yang lain.

Manusia dan hewan sangat bergantung kepada tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya. Mengapa hal itu terjadi? Sinar matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan di bumi. Sinar matahari digunakan oleh tumbuhan yang memiliki klorofil untuk membantu proses fotosintesis. Pada proses ini, karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) diubah dan diproses secara kimia sehingga menghasilkan karbohidrat sebagai bahan makanan. Oleh karena itu, tumbuhan berperan sebagai produsen, yaitu menyediakan makanan bagi makhluk hidup lainnya.

Tumbuhan dapat membuat makanan sendiri, sehingga disebut organisme autotrof. Tumbuhan yang menggunakan sinar matahari untuk membantu proses fotosintesis disebut fotoautotrof. Contoh tumbuhan yang termasuk fotoautotrof antara lain pohon pisang, pohon jati, palem, pakis haji, ganggang (alga), dan berbagai tumbuhan biji lainnya.

Sementara itu, bakteri tidak menggunakan sinar matahari untuk proses pembuatan makanannya, melainkan menggunakan cadangan energinya dalam senyawa kimia. Proses pembuatan makanan pada bakteri tersebut disebut kemoautotrof. Kemoautotrof adalah organisme sel tunggal yang membuat makanannya tidak dengan bantuan sinar matahari tetapi dengan menggunakan cadangan energi dalam senyawa kimia.


b. Konsumen
Manusia dan hewan tidak dapat membuat makanan sendiri. Oleh karena itu, manusia dan hewan memperoleh makanan dari tumbuhan. Organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri tetapi menggunakan makanan yang dihasilkan oleh organisme lain disebut konsumen.

Konsumen mencakup semua makhluk hidup yang mendapatkan makanannya dengan cara memakan makhluk hidup lain. Hewan merupakan kelompok makhluk hidup yang bertindak sebagai konsumen. Zooplankton (anggota kelompok Protista yang memakan fi toplankton) juga termasuk konsumen. Konsumen yang mencari mangsa secara aktif disebut juga sebagai predator.

Konsumen sangat tergantung pada produsen, begitu juga sebaliknya, konsumen mempengaruhi kelangsungan hidup produsen. Karbon dioksida dari sisa pernapasan hewan dan manusia dibutuhkan tumbuhan untuk proses fotosintesis (membuat makanan).

Hampir semua golongan hewan, tumbuhan yang tidak berklorofil, dan manusia termasuk sebagai konsumen. Oleh karena tidak dapat membuat makanan sendiri, konsumen disebut heterotrof. Organisme yang langsung memakan produsen disebut herbivora. Oleh karena itu, herbivora disebut konsumen tingkat pertama. Contoh herbivora diantaranya kerbau,  sapi, kambing, kelinci, dan belalang. Makhluk hidup yang memakan konsumen tingkat pertama disebut konsumen tingkat kedua. Semua konsumen tingkat kedua merupakan pemakan daging, disebut karnivora. Selanjutnya karnivora yang memakan konsumen tingkat kedua disebut konsumen tingkat ketiga. Demikian juga, konsumen tingkat keempat merupakan pemakan konsumen tingkat ketiga, dan seterusnya.

Berdasarkan jenis makanannya, konsumen dibagi menjadi tiga macam, yaitu herbivora, karnivora, dan omnivora.

1) Herbivora
Pengertian Komponen Biotik dan Abiotik dalam Ekosistem beserta Contohnya Lengkap Pengertian dan Contoh Komponen Biotik dan Abiotik dalam Ekosistem

Herbivora adalah hewan pemakan tumbuhan. Hidupnya sangat bergantung pada tumbuhan secara langsung. Makhluk hidup yang memakan langsung tumbuhan disebut juga sebagai konsumen tingkat pertama. Contoh hewan-hewan pemakan tumbuhan adalah kambing,  kerbau, kambing, kelinci, sapi, dan lain sebagainya.

2) Carnivora
Carnivora adalah makhluk hidup yang memakan daging makhluk hidup yang lain. Biasanya, carnivora memakan makhluk hidup herbivora. Dengan kata lain, carnivora adalah konsumen tingkat kedua. Contoh
hewan yang termasuk carnivora adalah singa, harimau, dan buaya.

3) Omnivora
Makhluk hidup yang memakan tumbuhan dan daging makhluk hidup lain disebut omnivora. Manusia termasuk omnivora.  Hewan omnivora merupakan pemakan segalanya (tumbuhan dan hewan). Contohnya adalah babi,  tikus, ayam, dan itik.

c. Pengurai
Pengurai mencakup semua makhluk hidup yang mendapatkan makanannya dengan cara menguraikan makhluk hidup lain yang telah mati. Pengurai atau dekomposer adalah organisme atau makhluk hidup yang berfungsi menguraikan sampah atau sisa-sisa makhuk hidup yang mati. Pengurai berfungsi sebagai penghubung peredaran zat dari konsumen ke produsen. Zat yang telah diambil oleh konsumen dari produsen akan kembali lagi ke produsen melalui proses penguraian oleh pengurai. Pengurai terdiri atas makhluk hidup berukuran kecil yang hidup di tanah, air, maupun di udara. Beberapa makhluk hidup dari kelompok bakteri dan jamur merupakan contoh makhluk hidup yang berperan sebagai pengurai.

Dengan peristiwa pembusukan dengan bantuan pengurai ini, zat-zat yang dulu menjadi bagian dari tumbuhan dan hewan diuraikan dan dirombak. Hasilnya digunakan oleh tumbuhan untuk membuat makanan.

Peristiwa suatu makhluk hidup memakan makhluk hidup lain kemudian dia dimakan makan hidup yang lainnya akan membentuk suatu urutan yang disebut dengan rantai makanan. atau konsumen, setelah mati akan diuraikan oleh pengurai.
Benarkah dalam ekosistem tersebut hanya ada satu rantai makanan? Dalam suatu ekosistem, jarang hanya ada satu rantai makanan sebab makhluk hidup yang ada di sana sangat beragam.
Dalam suatu ekosistem terdapat banyak rantai makanan. Rantai makanan- rantai makanan tersebut tidaklah terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, rantai makan selalu berhubungan dengan rantai makanan lain sehingga membentuk suatu jaring yang disebut jaring-jaring makanan.

2. Komponen Abiotik
Makhluk hidup tidak terlepas dari makhluk tidak hidup atau komponen abiotik. Komponen abiotik merupakan komponen ekosistem berupa benda tak hidup yang terdapat di sekitar makhluk hidup. Dalam suatu ekosistem ada beberapa faktor yang memengaruhi makhluk hidup, misalnya sinar matahari, air, udara dan mineral, dan temperatur.

a) Sinar Matahari
Cahaya matahari merupakan faktor abiotik yang terpenting untuk menunjang kehidupan di bumi. Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi tumbuhan yang diperlukan dalam proses fotosintesis. Cahaya matahari juga memberikan rasa hangat untuk semua makhluk. Keberadaan sinar matahari merupakan faktor penting dalam ekosistem. Tanpa sinar matahari, produsen tidak akan dapat membuat makanan. Tanpa produsen, konsumen juga tidak akan bisa bertahan hidup. Walaupun produsen membutuhkan sinar matahari, namun masing-masing memerlukan intensitas yang berbeda. Ada tumbuhan yang membutuhkan sinar matahari yang banyak, seperti jagung dan rumput. Akan tetapi, ada juga tumbuhan yang membutuhkan sinar matahari dengan intensitas rendah, seperti anggrek dan tumbuhan paku.
Sinar matahari juga memengaruhi kehidupan hewan. Ada hewan yang memerlukan suasana terang untuk melihat, namun ada juga hewan yang hanya memerlukan sedikit cahaya untuk melihat.

b) Udara dan mineral
Udara merupakan komponen abiotik yang sangat diperlukan makhluk hidup. Hewan dan manusia menggunakan oksigen yang terdapat di udara untuk bernapas dan mengeluarkan karbon dioksida ke udara. Sedangkan, tumbuhan mengambil karbon dioksida dari udara untuk proses fotosintesis dan menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan. Oksigen ini dilepaskan ke udara untuk digunakan oleh semua makhluk hidup.

Dengan demikian, terjadilah perputaran zat yang berlangsung terus menerus. Peristiwa ini menunjukkan adanya saling keter-gantungan dan saling membutuhkan antara makhluk hidup dan lingkungannya.

Zat-zat kimia dalam bentuk gas maupun mineral sangat diperlukan makhluk hidup. Sebagian besar makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup tanpa oksigen. Sementara itu, ada makhluk hidup yang tidak membutuhkan karbon dioksida, akan tetapi tumbuhan justru membutuhkannya untuk membuat makanan (fotosintesis).

c) Air
Air merupakan faktor abiotik yang sangat penting untuk menunjang suatu kehidupan. Semua sel dan jaringan terdiri atas air. Air merupakan media pelarut zat-zat yang dibutuhkan dan media pengangkut dalam tubuh hewan dan tumbuhan. Air juga merupakan suatu bentuk habitat bagi makhluk hidup, seperti: danau, sungai, dan laut. Air sangat mempengaruhi proses kehidupan.

Air merupakan salah satu faktor biotik yang sangat penting peranannya. Air bukan hanya berperan sebagai tempat hidup bagi makhluk hidup yang hidup di air, namun juga diperlukan oleh makhluk hidup yang hidup di darat. Tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan hidup tanpa air. Meskipun demikian, kebutuhan makhluk hidup terhadap air sangat beragam. Ada makhluk hidup yang harus hidup di air, misalnya ikan. Ada juga makhluk hidup yang bisa bertahan hidup walau hanya tersedia air dalam jumlah yang sedikit, misalnya kaktus.

d) Temperatur/Suhu
Suhu sangat mempengaruhi lingkungan dan kehidupan makhluk hidup di lingkungan tersebut. Makhluk hidup hanya dapat hidup pada temperatur tertentu. Ada makhluk hidup yang mampu hidup di lingkungan dengan suhu rendah, ada pula makhluk hidup yang mampu hidup di lingkungan dengan suhu tinggi.  Misalnya, makhluk hidup yang hidup di daerah dingin sulit dan bahkan tidak dapat hidup di daerah tropis yang panas, demikian juga sebaliknya.
Pada daerah dingin atau bersalju akan ditemukan burung penguin, panda, dan beruang salju.  Di padang pasir akan ditemukan unta dan pohon kurma.

Burung penguin, panda, dan beruang salju tidak akan ditemukan di daerah gurun atau padang pasir yang suhunya panas. Begitu juga unta dan pohon kurma tidak akan ditemukan di daerah dingin.
e. Tanah
Tanah adalah faktor abiotik yang tersusun oleh kombinasi mineral, air, udara, dan bahan organik yang
berasal dari penguraian tumbuhan atau hewan. Perbedaan zat penyusun tanah akan menghasilkan jenis tanah yang berbeda. Tanah berfungsi sebagai tempat hidup berbagai makhluk hidup dalam suatu ekosistem. Di dalam tanah terdapat zat hara yang merupakan mineral penting untuk mempertahankan proses di dalam tubuh, terutama bagi tumbuhan. Jenis tanah akan memengaruhi jenis makhluk hidup yang berada pada ekosistem. Di tanah yang tandus akan ditemukan sedikit organisme. Adapun di daerah yang tanahnya subur dan gembur akan ditemukan banyak organisme.
Sumber https://www.websitependidikan.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 21 November 2016

Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


 Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebi Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis

Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebihi ambang batas. Penentuan kualitas air dapat dilakukan dengan melakukan analisa kimiawi, fisika, dan biologi. Dalam artikel ini akan dijelaskan bagaimana aspek pencemaran air dianalisa dengan menggunakan indikator biologi atau bioindikator. Pendekatan yang digunakan dalam penentuan kualtias air secara biologi yakni:
  1. Pendekatan spesies, yaitu menggunakan spesies indikator 
  2. Pendekatan komunitas, yaitu menggunakan berbagai macam indeks biotik (biotic index)


A. Pendekatan Spesies

Pendekatan spesies yang sering digunakan adalah makroavertebrata berupa bentik yang biasanya digunakan sebagai  spesies indikator kualitas air yang baik, berikut spesies yang sering digunakan sebagai bioindikator pencemaran air.

Nimfa Lalat Capung (Mayfly Nymphs). Nimfa hewan ini sering melimpah di perairan yang jernih. Sensitif terhadap berbagai tipe pencemaran air, termasuk pencemaran amoniak, biosida, logam, dan rendahnya kandungan DO (Dissolved Oxygen). Ciri-ciri nimfa lalat capung yakni ukuran tubuh 15 mm dengan tiga ekor panjang dan antena yang pendek (Gambar 1).

 Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebi Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis
Gambar 1. Nimfa lalat capung (mayfly).

Nimfa Lalat Batu (Stonefly Nymphs). Nimfa serangga ini biasanya hanya terdapat di perairan yang tidak tercemar dan kaya oksigen. Walaupun biasanya tidak terdapat dalam jumlah yang melimpah seperti mayfly, kehadiran nimfa serangga ini di suatu perairan menunjukkan kualitas air yang bagus.

 Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebi Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis
Gambar 2. Nimfa lalat batu (Stonefly). Credit: Kris H. Light

Larva Lalat Kadis (Caddisfly Larvae). Larva hewan ini beberapa diantaranya membuat selubung/pelindung dari batu-batuan, pasir dan detritus lain, karena tidak toleran/sensitif terhadap pencemaran air. Kehadiran larva caddisfly di suatu perairan menunujukkan kualitas air yang bagus (Gambar 3).

 Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebi Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis
Gambar 3.  Larva lalat kadis.

Kumbang Air (Aquatic beetles). Hewan ini pada umumnya terdapat di perairan yang kaya oksigen, dan berarus deras. Beberapa spesies dinyatakan sebagai "riffle beetles". Indikator perairan jernih, karena sensitif terhadap sabun, detergen dan berbagai bahan pencemar yang lain (Gambar 4). 

 Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebi Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis
Gambar 4. Kumbang air. Credit: Tom Murray


Black fly larvae. Larva ini menangkap dan mencerna plankton dan bakteri yang berasal dari perairan sekitarnya dengan antena khusus. Beberapa spesies sangat toleran terhadap kualitas perairan yang buruk, sehingga dapat digunakan sebagai indikator pencemaran perairan (Gambar 5).

 Pencemaran air adalah peristiwa dimana menurunnya kualitas air akibat polutan yang melebi Penentuan Kualitas Perairan Melalui Indikator Biologis
Gambar 5. Larva black fly.

Lintah sangat umum dtemukan di berbagai danau dan sungai. Lintah toleran terhadap kualitas air yang buruk dan pencemaran berat.



B. Pendekatan Komunitas

Berbagai macam Indeks telah digunakan untuk menilai/menentukan tingkat pencemaran suatu perairan, antara lain:

  1. Indeks saprobik
  2. Indeks diversitas
  3. Indeks EPT (Ephemeroptera-Plecoptera-Trichoptera)
  4. Indeks rasio EPT/C (Ephemeroptera – Plecoptera – Trichoptera/Chironomidae)
  5. Indeks ETO (Ephemeroptera -Trichoptera – Odonata) 
  6. FBI (Family Biotic Index)
  7. IBI (Integrated Biotic Index) 

FBI (Famili Biotic Index) adalah modifikasi dari Indeks Biotik (Biotic Index) yang dikembangkan oleh Hilsenhoff (1982). Seperti terlihat dari namanya, FBI menggunakan data famili (bukan spesies). Berdasarkan toleransinya terhadap pencemaran organik, setiap famili yang terdapat dalam suatu komunitas diberi nilai toleransi yang berkisar antara 0 (sangat tidak toleran) dan 10 (sangat toleran). Melalui rumus, nilai FBI dapat dipakai untuk menilai kualitas air sungai atau danau. FBI dihitung dengan menggunakan rumus berikut:


FBI = ∑ Xi ti / n


Keterangan:
Xi = jumlah individu dalam famili ke i
ti = nilai toleransi famili ke i (lihat: Tabel 1)
n = jumlah total organisme dalam sampel


Tabel 1. Nilai toleransi indikator famili untuk menghitung nilai FBI

Nilai tole-ransi

Nilai tole-ransi

Nilai tole-ransi
Ephemeroptera:

Plecoptera:

Trichoptera:

1. Baetidae
4
1. Capniidae
1
1. Brachycentridae
1
2. Baetiscidae
3
2. Chloroperlidae
1
2. Calamoceratidae
3
3. Caenidae
7
3. Leuctridae
0
3. Glossosomatidae
0
4. Ephemerellidae
1
4. Nemouridae
2
4. Helicopsychidae
3
5. Ephemeridae
4
5. Perlidae
1
5. Hydropsychidae
4
6. Heptageniidae
4
6. Perlodidae
2
6. Hydroptilidae
4
7. Leptophlebiidae
2
7. Pteronarcyidae
0
7. Lepidostomatidae
1
8. Metretopodidae
2
8. Taeniopterygidae
2
8. Leptoceridae
4
9. Oligoneuriidae
2


9. Limnephhilidae
4
10. Polymitarcyidae
2


10. Molanidae
6
11. Potomanthidae
4


11. Odontoceridae
0
12. Sipphlonuridae
7


12. Philpotamidae
3
13. Tricorythidae
4


13. Phryganeidae
4




14. Polycentropodidae
6




15. Psychomyiidae
2




16. Rhyacophilidae
0




17. Sericostomatidae
3




18. Uenoidae
3
Odonata:

Diptera:

Coleoptera:

1. Aeshnidae
3
1. Athericidae
2
Dryopidae
5
2. Calopterygidae
5
2. Blephariceridae
0
Elidae
4
3. Coenagrionidae
9
3. Ceratopogonidae
6
Psephenidae
4
4. Cordulegastridae
3
4. Chironomidae
    (Blood-red)

8


5. Corduliidae
5
5. Chironomidae
    (Others)

6


6. Gomphidae
1
6. Dolochopodidae           
4


7. Lestidae
9
7. Empididae
6


8. Libellulidae
9
8. Ephydridae
6


9. Macromiidae
3
9. Muscidae
6




10. Psychodidae
10




11. Simuliidae
6




12. Syrphidae
10




13. Psychodidae
6




14. Simuliidae
3


Collembola:

Lepidoptera:

Megaloptera:

1. Isotomurus sp.
5
1. Pyralidae
5
1. Corydalidae
0




2. Sialidae
4
Neuroptera:





1. Sisyridae
(Climacia sp.)

5




Amphipoda:

Isopoda:

DECAPODA:
6
Gammaridae
4
Asellidae
8


Hyalellidae
8




Talitridae
8




OLIGOCHAETA
8
Polychaeta:

Turbellaria:



1. Sabellidae
6
1. Platyhelminthidae    
4
Mollusca:





1. Lymnaeidae
6
Coelenterata:

Hirudinea:

2. Physidae
8
Hydridae (Hydra sp.)
5
Bdellidae
10
3. Sphaeridae
8


Helobdella
10



Tabel 2. Kriteria kondisi sungai 
Nilai FBI
Kondisi sungai
Tingkat  pencemaran
0,00 – 3,75
 Bagus sekali (Excellent)
 Tidak tercemar samasekali
3,76 – 4,25
 Sangat bagus (Very good)
 Sangat tidak tercemar
4,26 – 5,00
 Bagus (Good)
 Tidak tercemar
5,01 – 5,75
 Sedang (Fair)
 Tercemar ringan
5,76 – 6,50
 Agak jelek (Fairly poor)
 Tercemar sedang
6,51 – 7,25
 Jelek (Foor)
 Tercemar berat
7,26 -10,00
 Sangat jelek (Very poor)
 Tercemar sangat berat


IBI (Integrated Biotic Index)
Berbagai aktivitas manusia berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap   ekosistem akuatik yaitu berupa penurunan kondisi kualitas lingkungan perairan atau kesehatan ekosistem akuatik. Kesehatan suatu ekosistem akuatik dapat diprakirakan dengan pendekatan komunitas biota akuatik secara terintegrasi atau yang disebut Karr (1991) sebagai”biological integrity” (integritas biologi). Integritas biologi yaitu suatu komunitas biota yang seimbang, terintegrasi, dan adaptif. Komunitas tersebut memiliki suatu komposisi spesies, diversitas, dan organisasi fungsional yang dapat disamakan/identik dengan habitat alami dari suatu wilayah (Karr & Dudley 1981) 

Karr (1991) mengembangkan suatu indeks yang disebut IBI (Index of Biotic Integrity) dan mengaplikasikan indeks tersebut pada komunitas ikan, karena ia banyak mengetahui tentang ikan dan habitatnya serta relatif mudah pengambilan sampelnya. Untuk pemberian peringkat (skoring) kondisi suatu sungai, IBI memerlukan 3 kategori karakter komunitas yaitu: Komposisi dan jumlah spesies mencakup 6 atribut biologi (Tabel 3), Komposisi pakan (trophic composition) yang mencakup 3 atribut biologi yaitu prosentase ikan karnivor (insektivor/piscivor), herbivor, dan omnivor, serta Kelimpahan dan kondisi ikan (fish abundance and condition) yang mencakup 3 atribut biologi yaitu jumlah individu dalam sampel, prosentase individu ikan eksotik, dan prosentase individu yang abnormal (sakit, ektoparasit, tumor, buta, deformities, hibrid)

Dalam kategori yang pertama jumlah spesies ikan asli (native) dan prosentase ikan yang tidak toleran terhadap pencemaran atau gangguan perlu dipertimbang-kan. Aktivitas manusia yang berdampak besar umumnya mengurangi jumlah spesies ikan asli dalam suatu komunitas.  Kehadiran spesies ikan asli dalam jumlah yang banyak di suatu sungai menunjukkan kualitas lingkungan/ kesehatan sungai yang sangat baik (Molles, 2004)

Beberapa spesies ikan tidak toleran (sensitif) terhadap kualitas air yang buruk, sedangkan spesies yang lain sangat toleran terhadap kualitas air yang buruk.  Banyaknya jumlah jenis ikan yang tidak toleran terhadap degradasi lingku-ngan, menunjukkan kualitas lingkungan/kesehatan sungai yang sangat baik (Molles 2004). Kondisi suatu sungai juga ditentukan oleh prosentase individu ikan yang toleran. Semakin besar prosentase individu ikan yang toleran, semakin buruk kesehatan suatu sungai.

Dalam kategori kedua, karakter/atribut-atribut yang diberi skor adalah prosentase ikan omnivor, insektivor, piscivor. Kebiasaan makan (food habit) ikan mereplek sikan jenis-jenis pakan yang tersedia di suatu sungai. Degradasi ekosistem akuatik umumnya meningkatkan proporsi ikan omnivor dan menurunkan proporsi ikan insektivor dan piscivor dalam komunitas. Prosentase insektivor dan piscivor yang tinggi menunjukkan kualitas lingkungan/kesehatan sungai yang baik, sedangkan prosentase omnivor yang tinggi menunjukkan kualitas lingku-ngan/kesehatan sungai yang buruk (Molles 2004). 

Dalam katagori ketiga yang diperhatikan adalah kelimpahan dan kondisi ikan. Ikan seringkali kelimpahannya rendah dalam situasi yang terdegradasi dan kondisinya seringkali terpengaruh. Dua aspek kondisi ikan yang perlu dipertim-bangkan untuk IBI.yaitu: Pertama, berapa prosen individu yang merupakan hibrid antara dua spesies yang berbeda ? Kedua, berapa prosen dari individu-individu yang sakit/ abnormal (sirip rusak, tumor, kelainan bentuk otot). 

Kelimpahan ikan yang tinggi menunjukkan kualitas lingkungan/kesehatan sungai yang baik. Prosentase individu ikan hibrid dan ikan sakit/abnormal yang rendah menunjukkan kualitas lingkungan/kesehatan sungai yang baik (Molles 2004)

Pendekatan komunitas yang menggunakan sejumlah atribut biologi atau metrik disebut ”Multimetric Approach”. Metrik yaitu karakteristik sekelompok biota yang menggambarkan kondisi ekologis suatu ekosistem, terutama yang terkena dampak berbagai aktivitas manusia (Barbour et al. 1995). Gray (1989) menyatakan bahwa tiga respons utama terhadap tekanan lingkungan (environmental stressor) adalah reduksi keakayaan spesies, perubahan komposisi spesies sampai dominansi oleh spesies yang opportunistik, reduksi ukuran rata-rata dari suatu organisme.

Tabel 3. Komposisi dan jumlah spesies

Metrik
Skor metrik
5
3
1


A.
  Kekayaan dan komposisi  
  jenis
 Skoring dengan membandingkannya
 dengan “reference-sites” yaitu  
 sungai/danau yang belum tercemar.
1
 Jumlah total spesies ikan asli



2
 Jumlah jenis ikan yang hidup di
 strata dasar perairan/bentik



3
 Jumlah jenis ikan yang hidup di
 strata tengah perairan (kolom
 air)



4
 Jumlah jenis ikan hidup di strata
 permukaan perairan



5
 Jumlah jenis ikan yang tidak
 toleran terhadap pencemaran/
 gangguan



6
 Prosentase individu dari jenis  
 ikan toleran

< 5

5-20
.
 > 20
B.
 Komposisi tingkat trofik



7
 Prosentase individu ikan
 Omnivor

< 20

20-45

> 45
8
 Prosentase individu ikan  
 Karnivor

> 45

45-20

< 20
9
 Prorsentase individu ikan  
 Herbivor

> 5

5-1

< 1
C.
 Kelimpahan dan kondisi ikan



10
 Jumlah individu dalam sampel



11
 Prosentase individu ikan eksotik
0
> 0-1
>1
12
 Prosentase individu yang
 sakit/abnormal/hibrid

0-2

> 2-5

>5

Pemberian peringkat (Skoring):
  • Total skor IBI = Ss + Sf + Sa + Sh.
  • Nilai IBI berkisar antara 12 dan 60 atau 12
  • Ss = jumlah total jenis ikan asli + jumlah jenis ikan yang hidup di (strata atas + strata  tengah + dasar perairan) + jumlah jenis ikan yang tidak toleran +  jumlah individu dalam sampel
  • Sf = prosentase individu ikan omnivor + insektivor + dan piscivor 
  • Sa = kelimpahan jenis (prosentase individu dari jenis ikan toleran + prosentase individu  ikan asing/ikan eksotik)   
  • Sh = prosentase individu ikan hibrid atau ikan abnormal/sakit
  • Prosentase individu = jumlah individu dalam setiap atribut biologi hasil survei dibandingkan dengan jumlah individu dalam setiap atribut biologi di sungai yang dijadikan referensi (reference river)
  • Skor IBI yang tinggi menunjukkan kualitas lingkungan/ kesehatan sungai yang baik 
  • (12 = kondisi terburuk; 60 = kondisi terbaik)

Tabel 4. Atribut Nilai IBI
Total
nilai IBI
Kelas
integritas biologi
Atribut
 (Karakteristik integritas biologi dari komunitas ikan)
58—60
Sangat baik
 Kondisi terbaik tanpa adanya gangguan & manusia,
 struktur trofik seimbang.
48—52
Baik
 Kekayaan jenis di bawah standar yang diharapkan,
 terutama karena kehilangan sebagian besar bentuk
 intoleran, struktur trofik menunjukkan adanya
 tekanan
40—44
Sedang
 Tanda adanya penambahan deteriorasi termasuk
 kehilangan bentuk yang tidak toleran, jenis lebih
 sedikit, predator tertinggi jarang
28—34
Buruk
 Didominasi oleh omnivor, bentuk toleran, bersifat
 generalis dalam kebutuhan habitat, sering ditemukan
 jenis ikan eksotik dan yang berpenyakit/abnormal.
12—22
Sangat buruk
 Ikan yang ditemukan sangat sedikit, sebagian jenis
 intoduksi atau bentuk toleran
    
Tidak ada ikan
 Pengambilan sampel yang berulang kali tetap tidak
 ditemukan adanya ikan





Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.