Showing posts with label Botani. Show all posts
Showing posts with label Botani. Show all posts

Saturday, 23 February 2019

Botani, Manfaat, dan Kandungan Kawista

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Kawista adalah tumbuhan yang termasuk suku jeruk yang berasal dari India, Sri Langka, Myanmar, dan Indo-Cina yang kemudian banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di Jawa dan Bali.

Nama Lokal
Inggris: Wood apple, elephant apple
Jawa: Kawista, Kinco
Bali: Kusta

Manfaat 
Daging buah yang sudah masak biasanya dicampur dengan gula kemudian dimakan seperti serbat beserta bijinya. Beberapa komoditi buah kawista diolah menjadi sirup. Kawista juga dapat digunakan untuk krim yang berasal hasil olahan daging buahnya.

Buah kawista yang sudah masak dapat dimanfaatkan sebagai obat antara lain sebagai penurun deman, bersifat tonikum, serta dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit perut. Duri dan kulit batang kawista dijumpai dalam berbagai ramuan obat tradisional di kawasan Indo-Cina untuk obat haid yang berlebihan, gangguan liver, gigitan dan sengatan binatang, dan untuk obat mual.

Kayu kawista dapat dipakai untuk bahan bangunan rumah, tiang serta perabotan pertanian. Getah pohon kawista yang berasal dari kulit kayu juga memiliki manfaat sebagai obat.

Kandungan 
Komposisi daging buah kawista sekitar sepertiga dari keseluruhan buah. Pada buah segar mengandung pektin 3-5%. Tiap 100 g daging buah kawista memiliki kandungan: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, serta 7,5 g karbohidrat. Tiap 100 g biji yang dapat dimakan memiliki kandungan: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, dan 35 g karbohidrat. Daging buah kawista kering memiliki kandungan 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam, kalium, kalsium, dan zat besi. Kayu kawista memiliki warna putih kekuningan, keras, agak berat, serta memiliki serat kasar, namun urat kayunya rapat dan dapat dipoles hingga mengkilap.

Botani 
Habitus kawista berupa pohon kecil dan daun-daunnya dapat meluruh, tingginya dapat mencapai 12 meter, memiliki cabang banyak dan berbentuk ramping-ramping, terdapat duri tajam dan lurus yang panjangnya hingga 4 cm. Daun kawista majemuk dengan ukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan rakhis dan tangkainya yang bersayap sempit; anak daun saling berhadapan, 2-3 pasang anak daun ujung memiliki bentuk bulat telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, terdapat kelenjar minyak dan jika daun diremas akan keluar sedikit aroma. Bunga jantan dan bunga sempurnanya berbilangan lima, memiliki warna putih, hijau atau jingga kemerahan, pada umumnya bergerombol dalam perbungaan yang kendur yang tereletak di ujung ranting atau di ketiak daun. Tipe buah adalah buni, dengan kulit keras, dan memiliki diameter hingga 10 cm; permukaan kulit buah bersisik, terlepas-lepas, dengan warna keputih-putihan; daging buahnya yang harum itu memiliki banyak biji yang berlendir. Bijinya berukuran panjang 5-6 mm dan berbulu, berkeping biji tebal dan berwarna hijau; perkecambahannya epigeal. Batang anakannya ramping, sedikit zig-zag; 1-4 lembar daun pertama berbentuk daun tunggal Pohon kawista memperlihatkan pola perkembangan yang sederhana, yaitu berdaun, berbunga, dan berbuah dalam tahun yang sama. Di kawasan Asia Tenggara, daun tanaman kawista umumnya gugur pada bulan Januari, kemudian pembungaan diawali pada bulan Februari atau Maret, kemudian berbuah matang pada bulan Oktober atau November. Pohon tumbuh agak lambat dan tidak akan menghasilkan buah pada saat berumur 15 tahun atau lebih.

Ekologi 
Pohon kawista dapat hidup di iklim tropik muson atau pada kondisi yang sewaktu-waktu kering. Tanaman ini dapat tumbuh sampai di ketinggian 450 mdpl.

Klasfikasi
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae
Genus: Limonia
Spesies: Limonia acidissima

Referensi: PROSEA. 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara: Buah-buahan yang dapat dimakan.
Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 15 July 2018

Cadangan Makanan pada Tumbuhan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Tumbuhan merupakan organisme yang dapat membuat makanannya sendiri atau yang disebut sebagai organisme autrotof. Tumbuhan membuat makanannya sendiri dengan memanfaatkan pigmen hijau yang dapat menyerap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi. Energy tersebut digunakan untuk proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis akan dihasilkan produk berupa karbohidrat yang dapat digunakan tumbuhan sebagai cadangan makanan. Tumbuhan dapat menyimpan cadangan makanan dalam berbagai bentuk seperti pati, gula atau minyak. Cadangan makanan ini biasanya disimpan oleh tumbuhan dalam bentuk umbi-umbian seperti pada tanaman kentang, bawang singkong dan sebagainya.

Tumbuhan memiliki alat yang berperan sebagai panel sinar matahari. Alat ini tersusun atas sel-sel yang berukuran sangat kecil, yang biasanya disebut dengan kloroplas. Satu sel dapat terdiri atas lebih dari 100 kloroplas. Di dalam kloropastersebut terdapat pigmen hijau yang dapat menangkap cahaya matahari. Pigmen hijau ini disebut dengan klorofil. Prinsip kerja pada kloroplas menyerupai panel matahari yang bekerja dengan mengumpulkan sinar matahari kemudian diubah menjadi energi yang bisa digunakana untuk pembuatan makanan.

Bawang
Bawang pada tahun pertama akan menyimpan cadangan makanannya yang berupa gula pada umbi. Umbi bawang ini terbentuk dari daun yang menggembung di sekitar batang yang memendek. Pada tahun kedua, gula yang disimpan di dalam umbi bawang selanjutnya akan digunakan untuk pertumbuhan dan pembentukan bunga. Gula berubah warna menjadi cokelat saat dipanaskan, proses ini disebut dengan karamelisasi. Karamelisasi ini dapat menyebabkan warna bawang menjadi kecokelatan (gelap) ketika digoreng.

Kentang
Kentang merupakan batang di bawah tanah yang membesar, atau yang dikenal sebagai umbi batang yang menyimpan cadangan makanan hasil fotosintesis. Makan ini tersimpan dalam bentuk pati yang berperan sebagai makanan cadangan bagi akar muda yang baru tumbuh dari tunas umbi batang. Dengan adanya cadangan makanan ini akar muda dapat tumbuh dengan cepat. 

Ketika di dalam kondisi yang sangat gelap atau hanya ada sedikit cahaya, tumbuhan tidak dapat membuat makanan melalui fotosintesis, karena tidak ada energy cahaya yang bisa diserap. Namun kentang dapat tetap bertahan hidup dan menghasilkan beberapa akar dan tunas. Tunas kentang muda mengambil cadangan makanan yang disimpan pada akar umbi kentang yang dihasilkan oleh tumbuhan induk sebelumnya untuk pertumbuhannya. Ketika cadangan makanan digunakan umbi akar tersebut akan mulai mengkerut. Kentang muda yang ditumbuhkan di tempat gelap memiliki daun dengan sedikit klorofil, sehingga membuat warnanya menjadi pucat (etiolasi). Namun setelah tiga minggu dalam tempat gelap kentang akan mengalami pemulihan yang cepat. Kentang akan tumbuh dengan cepat dan daunnya akan mulai menghijau. Hal ini terjadi karena klorofil telah banyak dibuat untuk menangkap energy cahaya matahari yang mengenainya. Kentang yang telah tumbuh ini dapat membuat cadangan makanannya sendiri yang akan disimpan pada akar umbi kentang yang baru. Sehingga akar umbi yang lama akan mengerut dan mati.

Penulis: Ni’ma Haida

Referensi: Burnie, David. 2010. Eyewitness Plant. Jakarta : Penerbit Erlangga

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Agen Penyerbuk Bunga

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Kebanyakan orang mungkin hanya mengetahui kalau penyerbukan pada tumbuhan berbunga dibantu oleh serangga seperti kupu-kupu dan lebah saja. Namun ternyata ada beberapa jenis tumbuhan berbunga yang penyerbukannya dibantu oleh makhluk hidup lain yang kurang diketahui oleh kebanyakan orang. Beberapa jenis tumbuhan diserbuki oleh spesies lalat yang tertarik dengan bau busuk. Ada juga tumbuhan yang mengandalkan burung yang tertarik pada warna bunga yang mencolok dan nektar yang manis sebagai penyerbuknya. Tumbuhan-tumbuhan tersebut memiliki morfologi yang khas untuk beradaptasi dengan jenis penyerbuk tertentu. Jenis penyerbuk selain serangga dan burung diantaranya adalah kelelawar, tikus, posum dan bahkan siput pun juga bisa berperan sebagai penyerbuk.

Warna Bunga Mencolok
Tumbuhan berbunga yang diserbuki oleh burung pada umumnya memiliki mahkota atau kepala bunga yang berwarna merah atau merah muda. Burung memiliki indera penglihatan yang baik, oleh karena itu saat melihat bunga yang berwarna merah cerah dan mengandung nektar, burung akan tertarik untuk mendatanginya dan mengambil nektarnya. Dan saat itulah polen akan terbawa ke tumbuhan lain melalui burung tersebut. Sebagai contoh bunga Aechmea fascinate, tumbuhan berbunga ini hidup di bagian pohon yang tinggi dan mempunyai penampilan bunga yang mencolok untuk menarik perhatian burung penyerbuk. Bunga ini memiliki daun pelindung (braktea) yang berwarna merah muda yang bisa menarik perhatian burung. Dan juga memiliki bunga yang awalnya berwarna ungu namun saat bunga terbuka akan berubah menjadi warna merah. Bunga-bunga merah tersebut muncul diantara bunga pelindung. Kebanyakan serangga selain kupu-kupu tidak dapat melihat warna merah sehingga warna pada bunga ini tidak biasa bagi serangga penyerbuk. Oleh karena itu Aechmea fascinate lebih mengandalkan burung sebagai penyerbuknya.


Pemikat Lalat
Tanaman Aristolochia brasiliensis merupakan tanaman menjalar yang berasal dari Amerika Selatan. Bunga dari tanaman ini dapat memikat lalat melalui baunya yang menyerupai bau ikan busuk. Bunga ini memiliki sepal dengan bentuk memanjang yang dapat berfungsi sebagai tempat mendarat untuk lalat. Lalat yang masuk ke dalam bunga akan jatuh ke dasar tabung dan terjebak oleh rambut-rambut yang mengarah ke bawah. Lalat tersebut akan terjebak di dalamnya sepanjang malam. Saat bunga mulai layu lalat yang dipenuhi oleh polen baru dapat keluar dengan terbang mengikuti arah cahaya yang berasal dari sel “jendela” pada bunga yang memungkinkan masuknya cahaya.

Lili Kuning
Penyerbukan bunga Lili kuning dengan nama latin Zantedeschia elliottiana dibantu oleh serangga yang disebut dengan agas jamur. Putik dan benang sarinya tumbuh pada bagian tengah bunga yang dibungkus oleh daun pelindung berwarna kuning. Serangga yang membawa polen dari tumbuhan lain akan merayap ke dasar daun pelindung yang berwarna kuning tersebut hingga akhirnya terperangkap rambut-rambut yang mengarah ke bawah. Ketika bergerak polen yang dibawa oleh serangga akan menyerbuki bunga betina, rambut kemudian menjadi layu bersamaan dengan keluarnya serangga dari dalam yang berlumuran polen yang sudah matang dan siap untuk dipindahkan ke tumbuhan lain.

Penyerbukan oleh Posum
Possum madu Australia atau Tarsipes rostratus merupakan marsupialia kecil yang hidup dengan memakan nektar dari bunga, seperti tumbuhan banksia. Possum memperoleh makanannya dengan cara mengambil nektar menggunakan moncongnya yang panjang dan lidah yang menyerupai kipas. Selain possum, mamalia yang dapat menyerbuki bunga ini adalah rodensia dan kelelawar.

Penulis: Ni’ma Haida

Referensi: Burnie, David. 2010. Eyewitness Plant. Jakarta : Penerbit Erlangga

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Macam-macam Penyerbukan pada Bunga

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Penyerbukan pada sebagian besar tumbuhan berbunga biasanya dibantu oleh beberapa jenis serangga seperti lebah dan kupu-kupu. Bunga memiliki warna yang menarik dan bentuk yang khas untuk menarik perhatian serangga. Tumbuhan memikat serangga melalui warna bunga yang mencolok dan makanan dalam bentuk nektar. Ketika serangga menghisap nektar, polen akan menempel di tubuh serangga, biasanya pada bagian punggung atau kepala. Bentuk bunga yang khas akan membantu agar polen bisa dengan mudah menempel pada tubuh serangga.

Bunga Linaria vugaris diserbuki oleh lebah dengung. ketika lebah datang, leher bunga akan tertutup erat, sehinggga untuk mencapai nektar di belakang bunga , lebah harus membuka bunga dengan cara mendorongnya ke depan. Lebah akan menyapu antera di dalam bunga sehingga polen dapat menempel di punggungnya. Warna kuning cerah pada mahkota bunga Linaria vulgaris berfungsi sebagai pemandu lebah untuk mendarat serta berfungsi sebagai landasan. Pada saat menghisap nektar, polen yang terbawa di punggung lebah tersebut akan berpindah ke stigma dan penyerbukan pun terjadi.

Beberapa bunga anggrek menggunakan tipuan yang cerdas untuk menarik serangga supaya bunga dapat diserbuki. bunga memiliki kenampakan dan bau seperti betina dari lalat, ataupun lebah, seperti bunga anggrek Ophrys insectivera memiliki bentuk bunga dan bau yang mirip dengan lebah betina. Penyamaran tersebut dapat menarik lebah jantan, karena lebah jantan akan mengamggap bahwa bunga tersebut adalah lebah betina yang siap untuk dikawini. Pada saat itu terjadi, polen akan menempel di tubuh lebah dan akan terbawa ke bunga lainnya ketika lebah tersebut terbang.

Selain itu ada juga tumbuhan berbunga yang lebih memilih dan mengandalkan serangga penyerbuk tertentu, yang mana serangga tersebut tidak bisa digantikan dengan serangga lain. Misalnya beberapa spesies tanaman yucca, dimana tanaman ini secara eksklusif diserbuki oleh ngengat kecil yang disebut dengan ngengat yucca yaitu Tegeticula maculate. Sebagai imbalannya tanaman yucca akan menyediakan makanan dan tempat tinggal untuk ngengat kecil tersebut. Hal ini bisa juga disebut sebagai hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Bunga yucca diuntungkan dengan dibantu penyerbukannya, dan ngengat dapat memperoleh makanan serta tempat hidup.

Kupu-kupu merupakan salah satu serangga penyerbuk yang penting. Ketika mendarat di bunga untuk mengambil nektar, polen dari antera akan menempel di tubuh kupu-kupu dan akan terbawa ke bunga lainnya saat kupu-kupu tersebut terbang. Karena serangga ini memiliki indera penciuman yang baik, bunga yang diserbuki oleh kupu-kupu biasanya memiliki bau yang harum. Saat musim tumbuhan mulai berbunga tiba akan terdapat kupu-kupu dengan jumlah yang banyak yang siap membantu proses penyerbukan. Kupu-kupu dan ngengat menghisap nektar melalui belalainya yang berlubang, seperti sedang minum menggunakan sedotan. Panjang dari belalai serangga ini sangat beragam mulai dari 1 mm sampai 30 cm. Saat beristirahat belalainya yang panjang akan melingkar di bawah kepalanya.

Penulis: Ni’ma Haida

Referensi: Burnie, David. 2010. Eyewitness Plant. Jakarta : Penerbit Erlangga



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Mekanisme Gerak Tumbuhan Skototropisme

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

epipremnumgiganteumatthetopofarockyoutcroptiomanmalaysia Mekanisme Gerak Tumbuhan Skototropisme

Pandangan umum masyarakat mengenai gerak tumbuhan pasti selalu mengarah kepada sumber cahaya. Bukti yang sering diungkapkan contohnya bunga matahari. Gerak tumbuhan yang mengarah atau mendekati sumber cahaya dikenal dengan istilah fototropisme. Umumnya, tumbuhan bergerak mendekati arah cahaya, tetapi ada tumbuhan yang bergerak menjauhi cahaya. Hal ini terlihat diluar kebiasaan umum. 

Epipremnum giganteum adalah tumbuhan pemanjat dan berada di area kanopi pohon inangnya. Tumbuhan ini bergerak menjauhi cahaya, padahal cahaya dibutuhkan untuk fotosintesis. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana tumbuhan ini hidup? E. giganteum dewasa yang tumbuh di kanopi pohon berbuah dan buah ini jatuh ke permukaan tanah hutan. Buah ini mengandung biji yang berisi embrio E. giganteum . Biji berkecambah dan bergerak menjauhi cahaya dan mengarah pada bayangan pohon terdekat di sekitar kecambah. Kecambah ini tumbuh ke arah bayangan pohon dan mulai memanjat. E. giganteum bergerak, membengkok, dan tumbuh ke arah objek dengan kemampuan dark sensing.

Skototropisme adalah cara kecambah tanaman rambat yang tumbuh di tanah untuk menemukan tanaman inang. Presisi dan standar deviasi dari pertumbuhan tanaman rambat menurun seiring dengan pertambahan jarak tanaman inang. Semua kecambah tumbuh ke segala arah secara langsung mengarah ke tanaman inang. Pergerakan kecambah tidak selalu 180º berlawanan dengan arah datangnya cahaya, tetapi tumbuhan rambat ini beradaptasi untuk mengarahkan pergerakannya secara langsung ke arah inang.

Skototropisme bukan berarti tanaman takut cahaya. E. giganteum pun tetap membutuhkan cahaya untuk fotosintesis, namun ketika dalam fase kecambah memiliki orientasi gerak yang berbeda. Tanaman ini akan berfotosintesis secara sempurna setelah membentuk daun dan menemukan inang. Pengetahuan terkait skototropisme masih sangat sedikit. Mekanisme gerak ini pun belum diketahui secara pasti, namun hal ini tetap terjadi pada tumbuhan bernama E. giganteum. Penelitian terkait simbiosis antara E. giganteum dengan pohon inang, bahkan pengetahuan terkait inang bagi tanaman pemanjat ini masih belum diketahui. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi bidang ilmu lain seperti genetika untuk merekayasa gen dari tumbuhan ini, sehingga lebih bermanfaat.

Istilah yang digunakan untuk menyebutkan gerak menjauhi cahaya adalah skototropisme. Kata skoto berarti gelap dan digabungkan dengan kata tropism menjadi skototropisme. Istilah lain yang memiliki makna sama, yaitu negatif fototropisme atau apheliotropisme. Kemampuan tumbuhan pemanjat ini adalah cara untuk beradaptasi. Apabila kecambah E. giganteum  tidak mengikuti atau mencari bayangan inang maka kemungkinan spesies ini akan terseleksi. Kebutuhan terhadap inang terlihat jelas pada tumbuhan pemanjat, terutama E. giganteum.


Penulis: Indra Maulana

Referensi: Strong DRJ, Thomas SR. 1975. Host tree location behavior of a tropical vine (Monstera gigantea) by skototropism. Science. 190: 804-806.


Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Adaptasi Mangrove pada Asam Absisat dan Pengaruh Berbiji Vivipar

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Buah adalah bagian yang sering dikonsumsi masyarakat karena umumnya memiliki rasa manis dan asam. Buah-buahan menjadi salah satu produk yang bernilai ekonomi tinggi di dunia, semisal pisang, pepaya, dan buah lainnya. Dalam Biologi, buah adalah struktur yang dihasilkan sebagai perkembangan dari bunga setelah fertilisasi. Buah umumnya mengandung biji yang berisi embrio. Embrio ini yang akan menjadi penerus generasi suatu tumbuhan berbuah.

Biji akan berkecambah setelah masak dan umumnya jatuh ke tanah. Biji berkecambah membentuk radikula dan plumula. Hal seperti ini tidak berlaku untuk tumbuhan mangrove dari Rhizophora dan Ceriops (Robert et al. 2015). Embrio tumbuhan ini berkecambah pada pohon secara langsung dengan membentuk struktur seperti calon akar. Berbeda dengan tumbuhan secara umum, tumbuhan mangrove berbuah dan embrio-nya berkecambah ketika buah masih menempel pada pohon induk. Kejadian seperti ini umum bagi mangrove. Istilah yang digunakan untuk menyebut peristiwa ini adalah biji vivipar.

Buah yang di dalamnya berisi biji yang baru berkecambah

Semua mahluk hidup memiliki strategi untuk mempertahankan spesies-nya tetap hidup. Mangrove pun melakukan hal tersebut. Biji mangrove yang lahir (vivipar) merupakan cara tanaman mangrove untuk menyebar ke daerah sekelilingnya. Cara penyebaran seperti ini menyebabkan mangrove selalu berkumpul seperti membuat suatu koloni atau hutan mangrove. Selanjutnya, pertanyaan yang muncul adalah kenapa hal ini dapat terjadi?

Faktor utama penyebab biji mangrove berkecambah di pohon induk adalah kegiatan zat pengatur tumbuh berupa asam absisat. Asam absisat (ABA) diketahui menghambat perkecambahan biji. Hal ini berarti ABA memiliki aktivitas yang berlawanan dengan auksin dan giberelin. Pada tumbuhan secara umum, konsentrasi ABA tinggi pada bagian biji, sehingga embrio tidak akan berkecambah sebelum konsentrasi ABA rendah. Embrio akan tumbuh dan berkecambah ketika ada imbibisi dari air dan melarutkan ABA, sehingga giberelin diinduksi. Peristiwa yang berbeda dialami oleh mangrove. Biji mangrove memiliki ABA dalam konsentrasi yang rendah. Faktor ABA menentukan dormansi atau berkecambahnya suatu biji.



Biji mangrove berkecambah untuk menginisiasi pembentukan akar setelah menyentuh lumpur. Bagian struktur kecambah yang menyentuh lumpur akan memicu pembentukan akar lanjutan dan menegakkan batang. Hal yang perlu diketahui adalah tidak semua mangrove bersifat vivipar (Robert et al. 2015). Kondisi lingkungan memicu tumbuhan untuk beradaptasi. Mangrove berada di daerah payau dan dekat dengan laut. Arus laut yang bergerak ke daerah pantai juga memicu mangrove untuk dapat tumbuh tetap tegak. Hal ini dapat terlihat dari morfologi akar mangrove. Biji mangrove yang memiliki kandungan ABA rendah memungkinkan terbentuknya struktur calon organ tumbuhan. Hal ini juga menyebabkan tumbuhan anakan sudah mempersiapkan diri untuk hidup ketika induk sudah melepaskan tangkai buah. Aktivitas tanaman terbentuk karena adanya interaksi dengan lingkungan. Adaptasi yang tidak biasa merupakan cara untuk tetap hidup di lingkungan yang berbeda.

Penulis: Indra Maulana

Referensi: Robert EMR, Oste J, et al. 2015. Viviparous mangrove propagules of Ceriops tagal and Rhizophora mucronata, where both Rhizophoraceae show different dispersal and establishment strategies. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology. 468 (2015) 45–54.

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 28 June 2018

Pengertian dan Sistem Akuaponik

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Populasi penduduk dunia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan pemukiman, pertokoan, tempat wisata, dan lain sebagainya. Peningkatan-peningkatan tersebut tidak relevan dengan lahan pertanian yang semakin berkurang serta beragamnya fertilitas tanah yang tersebar di seluruh belahan dunia. Banyak lahan yang kurang cocok dijadikan sebagai lahan pertanian sehingga berdampak terhadap berkurangnya lahan untuk bercocok tanam. Pencemaran lingkungan perairan pun saat ini juga menjadi momok bagi masyarakat karena dapat berdampak pada kualitas perairan dan makhluk hidup di dalamnya. Hal tersebut menyebabkan kualitas ikan serta sumber makanan perairan lainnya menurun. Penangkapan ikan yang tidak terkontrol juga semakin marak terjadi sehingga dikhawatirkan dapat berdampak terhadap produksi ikan. Selain itu, kebutuhan masyarakat terhadap sayuran dan ikan kian melonjak seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat serta meningkatnya gaya hidup masyarakat.

Berbagai inovasi dikembangkan oleh orang-orang kreatif untuk mengatasi problematika tersebut. Salah satunya yaitu dengan teknik perkebunan akuaponik. Teknik ini sangat digemari terutama oleh masyarakat yang tinggal di wilayah yang tanahnya kurang subur serta perkotaan yang mayoritas memiliki lahan terbatas karena dalam pemanfaatannya teknik perkebunan akuaponik ini tanpa menggunakan tanah, dapat dilakukan pada lahan sempit, dan dapat dibuat di dalam ruangan . Teknik perkebunan akuaponik merupakan teknik perpaduan antara memelihara ikan dan menanam sayuran secara bersamaan pada tempat yang sama. Prinsipnya, teknik ini memanfaatkan sistem simbiosis mutualisme bagi ikan, tumbuhan serta mikroba-mikroba yang ada di dalam kolam. Biasanya ikan yang dipelihara merupakan ikan air tawar yang dapat dikonsumsi. Ikan tersebut menghasilkan sisa pembuangan seperti kotoran, kemudian sisa hasil pembuangan diubah menjadi sumber nutrisi bagi tumbuhan oleh mikroba. Sementara itu, tanaman dapat berperan sebagai penyaring air sehingga habitat ikan tetap bersih. Oleh karena itu teknik ini dikenal ramah lingkungan, kotoran ikan dan sisa makanan ikan dapat berperan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman serta tidak memerlukan penyaring untuk pergantian air serta pupuk untuk menyuburkan tanaman. Jadi, dapat diibaratkan sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.

Sistem perkebunan akuaponik memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan sistem pertanian tradisional. Sistem perkebunan akuaponik tidak memerlukan tanah sehingga tidak diperlukan traktor atau cangkul untuk membajak dan mengolah tanah. Begitu pula dengan konsumsi air yang dibutuhkan, teknik perkebunan akuaponik membutuhkan jumlah air yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan pertanian tradisional karena adanya sistem sirkulasi air dari kolam ke tanaman kemudian kembali lagi ke kolam. Penggunaan pupuk juga tidak diperlukan dalam teknik perkebunan akuaponik karena sumber nutrisi bagi tanaman berasal dari sisa pembuangan ikan. Berbeda dengan teknik pertanian tradisional yang banyak memanfaatkan pupuk, pestisida atau zat kimia lainnya yang dapat merusak lingkungan. Air yang merupakan habitat ikan juga tidak tercemar oleh kontaminan yang biasanya mencemari sungai-sungai atau danau. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa teknik perkebunan akuaponik dapat menghasilkan sayuran yang sehat serta ikan yang jauh dari kontaminasi.

Penulis: Devi Eka Lestari, M. Si.

Referensi: Bernstein S. 2011. Aquaponic Gardening, a step-by-step guide to raising vegetables and fish together. New Society Publishers.

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Pengertian Alelopati dan Alelokimia

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Tumbuhan memiliki senyawa hasil metabolit sekunder berupa fenolik, terpenoid, alkaloid, steroid, serta beberapa senyawa lain. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas alelopati. Beberapa metabolit primer seperti palmitat dan stereat juga diketahui memiliki kemampuan alelopati. Alelopati adalah peristiwa interaksi kimia yang terjadi antar tumbuhan ataupun tumbuhan dan mikroorganisme. Sedangkan alelokimia adalah senyawa yang dapat menghambat atau merangsang pertumbuhan tumbuhan lain yang ada disekitarnya. Tumbuhan yang memiliki kemampuan mengeluarkan alelokimia biasanya mendominasi populasi, karena senyawa yang dikeluarkan oleh tumbuhan tersebut dapat merugikan tumbuhan disekitarnya. Senyawa alelokimia dapat dikeluarkan melalui proses penguapan, eksudasi akar, dan dekomposisi kemudian mengenai organ tumbuhan disekitarnya. Mekanisme perusakan jaringan tumbuhan oleh senyawa alelokimia melalui proses yang kompleks. Senyawa-senyawa alelokimia tersebut merusak membran plasma tumbuhan lain kemudian berangsur pada kerusakan bagian sel lainnya sehingga dapat mengganggu proses metabolisme pada tumbuhan lain. Salah satu dampaknya yaitu terganggunya proses fotosintesis disebabkan penyerapan dan konsentrasi air serta ion terganggu sehingga memengaruhi pembukaan stomata.

Berbagai jenis tumbuhan memiliki kemampuan mengeluarkan senyawa alelokimia. Gulma, tanaman budidaya serta mikroorganisme memiliki kemampuan untuk mengeluarkan senyawa alelokimia. Setiap individu tumbuhan diketahui memiliki kemampuan alelokimia yang berbeda-beda bergantung pada faktor genetika dan lingkungan. Tumbuhan dengan spesies yang sama belum tentu memiliki kemampuan alelokimia yang sama. Faktor lingkungan seperti cuaca, iklim, waktu tanam, populasi, siklus hidupnya serta cekaman juga dapat memengaruhi kemampuan alelokimia suatu jenis tumbuhan. Semakin banyak jumlah individu target maka akan mengurangi kemampuan alelokimia suatu tumbuhan.

Kemampuan alelokimia tersebut menjadi daya tarik bagi para ilmuwan sehingga banyak dikaji. Alelokimia dapat dikeluarkan dari seluruh bagian tumbuhan termasuk serbuk sari. Alelopati dapat menjadi momok bagi para petani apabila alelokimia berasal dari tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar lahan pertanian. Hal tersebut dapat menurunkan hasil panen, namun tanaman budidaya seperti padi, jagung, kedelai, buncis serta ubi jalar juga dapat mengeluarkan senyawa alelokimia yang dapat menghambat pertumbuhan gulma yang tumbuh disekitarnya. Tumbuhan berkayu seperti akasia yang sering ditanam pada sistem pertanaman agroforestry juga dapat mengeluarkan senyawa alelokimia sehingga dapat mengurangi keragaman vegetasi di bawahnya. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa alelopati dampak berdampak positif serta negatif terutama bagi pertanian den perkebunan.

Pengaruh positif alelopati kemudian dijadikan sebagai acuan untuk mengontrol pertumbuhan tumbuhan liar atau yang tidak diinginkan pada lahan pertanian dan perkebunan. Hal tersebut dipertimbangkan oleh banyak pihak karena interaksi tersebut lebih ramah lingkungan. Alelopati diharapkan dapat mengendalikan pertumbuhan gulma yang tumbuh disekitar lahan pertanian dan perkebunan yaitu dengan memenggunakan varietas yang berpotensi mengeluarkan alelokimia tinggi. Selain itu, alelokimia dapat berperan sebagai herbisida alami, mengingat herbisida kimia yang marak di pasaran dapat menjadi sumber polutan lingkungan. Pertumbuhan patogen yang merusak tanaman budidaya juga dapat dikendalikan melalui alelopati. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh tumbuhan seperti Vitex negundo dan Curcuma amada dapat mengendalikan patogen Sclerotinia sclerotiorium. Berdasarkan hal tersebut, alelopati layak menjadi salah satu cara dalam pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Penulis: Devi Eka Lestari, M. Si.

Referensi: Junaedi A, Chozin MA, Kim K. 2006. Perkembangan Terkini Kajian Alelopati. Hayati. Vol. 13: pp. 79-84.





Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Nutrisi pada Tumbuhan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Makhluk hidup membutuhkan nutrisi untuk keberlangsungan hidupnya. Nutrisi yang dibutuhkan oleh setiap jenis makhluk hidup berbeda-beda. Manusia dan hewan memerlukan karbohidrat, protein, lemak serta mineral-mineral lainnya sedangkan tumbuhan bentuk nutrisinya berupa senyawa - senyawa kimia tertentu yang esensial untuk sistem metabolisme. Nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan biasanya diperoleh dari tanah maupun atmosfer. Ketersediaan nutrisi - nutrisi tersebut biasanya berbeda-beda bergantung banyak faktor. Namun, konsentrasinya dapat bertambah atau berkurang berkali - kali lipat disebabkan adanya faktor lingkungan seperti cuaca dan iklim, serta adanya faktor kimiafisik seperti erosi, jenis tanah dan pH tanah. Oleh karena itu, tanaman memiliki mekanisme tersendiri untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang menyebabkan perubahan kandungan nutrisi di dalam tanah.

Kebutuhan nutrisi utama pada tumbuhan meliputi macronutrient dan micronutrient atau yang biasa disebut elemen esensial. Macronutrient berupa nitrogen (N), fosfor (P), potasium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S) yang dibutuhkan dalam jumlah besar dan akumulasinya pada jaringan tumbuhan berkisar 0.1%. Micronutrient meliputi boron (Br), klorin (Cl), tembaga (Cu), besi (Fe), mangan (Mn), molybdenum (Mo), nikel(Ni), dan zinc (Zn) yang dibutuhkan dalam jumlah kecil dan akumulasinya pada jaringan tumbuhan berkisar 0.01%. Ketiadaan atau kurangnya elemen esensial pada tanaman dapat menyebabkan tanaman menjadi mati sebelum siklus hidupnya terlengkapi serta pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal. Hal itu terjadi karena defisiensi nutrisi dapat mengganggu siklus metabolisme pada tumbuhan. Selain itu terdapat pula elemen penting lainnya yang meliputi aluminium (Al), kobalt (Co), selenium, silikon (Si), sodium (Na), dan vanadium yang berperan menstimulasi pertumbuhan namun hanya dibutuhkan oleh tumbuhan-tumbuhan tertentu.

Tumbuhan yang mengalami kekurangan salah satu atau beberapa elemen-elemen tersebut dapat mengganggu proses reproduksi dan pertumbuhan tanaman. Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh tanaman akan berbeda bergantung jenis elemennya. Tanaman yang kekurangan salah satu elemen yang penting biasanya akan mengalami kematian sebelum siklus hidupnya terlengkapi. Gejala lain yang umum terlihat pada bagian organ tumbuhan yang mengalami difisiensi nutrisi yaitu berupa klorosis, nekrosis, dan warna daun berubah menjadi merah. Klorosis merupakan rusaknya jaringan terutama pada bagian daun akibat klorofil gagal terbentuk sehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning. Hal tersebut disebabkan tanaman kekurangan besi, sulfur, mangan, zinc, dan tembaga. Nekrosis dapat terjadi karena tanaman kekurangan nitrogen, potasium dan kalsium. Nekrosis dapat terjadi pada bagian daun ataupun batang tumbuhan dengan gejala organ daun mengalami kematian atau terhambatnya pertumbuhan daun sebagai akibat dari kematian jaringan tumbuhan. Perubahan warna daun menjadi merah dapat terjadi karena akumulasi antosianin akibat kurangnya kandungan fosfor.

Kekurangan satu atau beberapa elemen nutrisi terkadang menunjukkan gejala fisik yang sama. Oleh karena itu diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui dengan pasti penyebab terganggunya pertumbuhan dan reproduksi tanaman. Analisis yang dapat dilakukan berupa analisis tanaman (analisis kuantitatif, analisis jaringan tanaman, analisis biokimia) serta kandungan tanahnya. Analisis–analisis tersebut dapat mengonfirmasi gejala-gejala yang nampak pada tanaman, mengetahui elemen-elemen yang masuk ke jaringan tanaman, mengetahui konsentrasi elemen-elemen nutrisi pada jaringan tanaman, serta kandungan mineral tanah yang dapat diserap oleh tanaman.


Penulis: Devi Eka Lestari, M. Si.

Referensi: Handbook of Plant Nutrition. Edited by: Allen V. Barker and David J. Pilbeam. 2007. CRC Press.

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 14 April 2018

Zona Pembagian Daerah Pertumbuhan pada Akar

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Akar adalah organ yang berfungsi menambatkan tanaman di tanah, menyerap mineral dan air, menghantarkan air dan nutrisi untuk kemudian disalurkan keseluruh bagian tanaman serta menyimpan makanan. Berdasarkan pembagian zona, daerah akar dibagi menjadi tiga zona yaitu: zona pembelahan sel (meristematik), zona pemanjangan (elongasi), dan zona pematangan.



Gambar 1. Diagram penampang membujur akar. Pembagian daerah akar meliputi: zona pembelahan sel, pemanjangan, dan pematangan (Taiz & Zeiger 2010).


Zona pembelahan sel meliputi meristem apikal dan turunannya yaitu meristem primer. Meristem apikal terletak di pusat zona pembelahan sel, menghasilkan sel-sel meristem primer. Berdekatan dengan pusat meristem apikal terdapat pusat tenang (quiescent center) yaitu populasi sel-sel yang membelah lebih lambat dibandingkan dengan sel-sel meristematik lainnya. Setelah beberapa generasi pembelahan sel melambat, sel-sel akar sekitar 0,1 mm dari ujung mulai membelah lebih cepat. Pembelahan sel berangsur-angsur melambat lagi sekitar 0,4 mm dari ujung akar. Sel-sel ini dapat berfungsi sebagai suatu cadangan yang dapat digunakan untuk memulihkan meristem jika terjadi kerusakan. Hal tersebut dikarenakan sel-sel di pusat tenang relatif sangat resisten terhadap kerusakan akibat radiasi dan zat kimia beracun.

Zona pemanjangan (elongasi) adalah daerah dimana sel-sel mengalami pemanjangan dan pembentangan. Zona elongasi dimulai 0,7-1,5 mm dari ujung akar. Zona ini sebagian besar bertanggung jawab terhadap pendorongan ujung akar. Ketika sel mengalami pemanjangan maka bagian zona mersitematik akan terdorong ke depan sehingga akar akan memanjang. Disisi lain, meristem akan mendukung pertumbuhan secara terus menerus dengan menambahkan sel-sel ke ujung termuda zona pemanjangan.

Zona pematangan adalah daerah sel-sel akar yang mulai mengalami spesialisasi struktur dan fungsinya. Pada daerah ini sistem jaringan yang dihasilkan oleh pertumbuhan primer menyelesaikan dan menyempurnakan diferensiasinya. Jadi pada zona ini sel-sel akar sudah membentuk jaringan yang berbeda-beda.

Pembelahan sel yang cepat terjadi di zona meristematik. Setiap sel epidermis meristematik membelah sekitar 5-6 kali untuk menghasilkan sel-sel baru, setelah keluar dari zona meristematik sel-sel akar kemudian berhenti membelah dan masuk pada zona elongasi dan sel memanjang ke arah pertumbuhan akar. Ketika proses pemanjangan sel berhenti, rambut akar muncul dari epidermis. Rambut akar berfungsi khusus untuk meningkatkan luas permukaan akar dan membantu tanaman dalam penyerapan nutrisi, penyerapan air, dan interaksi mikroba. Pertumbuhan pemanjangan akar terjadi di zona elongasi. Peningkatan pemanjangan sel diikuti oleh peningkatan pembesaran ukuran vakuola dan peningkatan perluasan dinding sel ke arah lateral. Selama pemanjangan sel, perubahan sifat dinding sel memungkinkan dinding menjadi cukup kuat untuk mengatasi tekanan internal pada saat sel tumbuh, tetapi cukup elastis untuk memungkinkan pertumbuhan sehingga memperluas dinding sel.

Penulis: Lili Andriyani

Referensi:
  1. Campbell NA, Jane BR, Lawrence GM. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.
  2. Gregory PJ. 2006. Plant Roots Growth Activity and Interaction with Soil. Australia: Blackwell Publishing.
  3. Taiz L & Zeiger E. 2010. Plant Physiology 3rd. Sunderland: Sinauer Associates Inc Publisher Massachusetts.

Penelusuran terkait:



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Ciri-ciri dan Klasifikasi Kembang Bokor (Hydrangea macrophylla)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Genus Hydrangea mencakup 25 spesies tanaman hias berbunga, dari jumlah tersebut Hydrangea macrophylla merupakan spesies yang paling banyak ditanam, dengan lebih dari 600 kultivar. Beberapa daerah di Indonesia juga banyak yang membudidayakan spesies ini, khususnya di daerah dataran tinggi. Tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman hias pada taman dan bunganya dapat dijadikan rangkaian bunga papan maupun dekorasi ruangan. Kedudukan taksonomi Hydrangea macrophylla menurut USDA (2008) adalah sebagai berikut.

Kingdom : Plantae
_Sub Kingdom : Tracheobionta
__Super Divisi : Spermatophyta
___Divisi : Magnoliophyta
____Kelas : Magnoliopsida
_____Sub Kelas : Rosidae
______Ordo : Rosales
_______Famili : Hydrangeaceae
________Genus : Hydrangea
_________Spesies : Hydrangea macrophylla (Thunb.) Ser.

Deskripsi Kembang Bokor: Tanaman ini memiliki tinggi 2-6 kaki, memiliki daun yang cukup lebar dan bergerigi di bagian tepi. Permukaan daun mengkilap berwarna hijau sampai hijau tua dan bertekstur kasar. Hydrangea macrophylla memiliki bentuk bunga globular dengan dua tipe bunga yaitu bunga steril dan bunga fertil. Bunga fertil terletak di bagian tengah bunga dan tersembunyi didalam kluster, sedangkan kluster bunga steril terletak di bagian tepi dari bunga fertil. Bunga dapat berwarna biru atau merah muda tergantung pada media tanamnya.

Tanaman Hydrangea macrophylla biasa dikenal juga dengan sebutan tanaman hortensia, panca warna maupun kembang bokor. Sebutan bunga panca warna sendiri memiliki makna panca yang berarti lima, jadi dapat diartikan bunga panca warna memiliki lima macam warna. warna putih kehijaun saat bunga baru muncul, kemudian semakin berkembang menjadi putih dan selanjutnya akan berubah warna menjadi biru, ungu, atau pink. Hal yang unik dari bunga panca warna adalah terjadinya perubahan warna pada bunga disebabkan oleh kondisi media. Jika kondisi media asam atau pH berada pada rentang yang rendah, bunga akan berwarna pink, sebaliknya jika kondisi media asam atau pH tinggi maka bunga akan berwarna biru.

Kondisi lingkungan yang baik untuk pertumbuhan Hydrangea macrophylla yaitu pada ketinggian 560-1.400 m dibawah permukaan laut (mdpl) dengan intensitas cahaya matahari penuh dan temperatur 16-24°C serta kelembaban udara berkisar antara 60-80%. Perbanyakan generatif Hydrangea macrophylla dengan biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dengan stek batang yang lunak. Pada umumnya budidaya Hydrangea macrophylla menggunakan stek batang, karena pembentukan biji pada tanaman ini cenderung sulit, sebab bunga biasanya terlanjur kering sebelum biji terbentuk. Tanaman ini menghendaki persediaan air yang cukup tinggi tetapi tidak tergenang, karena jika terlalu banyak air akan membuat tanaman busuk. Frekuensi penyiraman tergantung musim dan pada saat pembungaan membutuhkan air yang lebih banyak.

Penulis: Lili Andriyani

Referensi:

  1. Djoni. 2014. Pengembangan Tanaman Hias. Sumatera Barat: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat.
  2. Smith K, Jerry AC, Kenneth T. 2013. Hydrangeas. Alabama A & M University and Auburn University: Alabama Cooperative extension System.
  3. Tang J, Harper SJ, Wei T, Clover GRG. 2010. Characterization of hydrangea chlorotic mottle virus a new member of the genus Carlavirus. Arch Virol 155:7-12.


Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 14 July 2017

BOTANI PEPAYA: Ciri-ciri, Klasifikasi dan Manfaat, LENGKAP

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pepaya adalah tanaman buah yang dibudidayakan secara luas di dunia. Pada beberapa bagian di dunia, seperti Australia dan beberapa wilayah di Kepulauan Hindia Barat, tanaman ini dikenal dengan nama papaw atau paw paw. Di Perancis, buah pepaya umumnya disebut papaye dan tanamannya disebut papayer. Masyarakat Brazil biasa menyebut tanaman ini dengan mamao, sedangkan di Asia Selatan dan Hindia Timur menyebutnya kapaya, kepaya, lapaya, atau tapaya. Wilayah asal dari tanaman pepaya belum diketahui pasti. Tanaman ini diduga berasal dari wilayah Amerika Tropika, tepatnya di dataran rendah Amerika Tengah bagian timur, yaitu dari Meksiko Selatan sampai Panama (Nakasone & Paull, 1998). 

Biji pepaya dapat bertahan dan memiliki daya hidup (viable) selama bertahun-tahun jika disimpan dalam keadaan kering, sehingga sangat memungkinkan persebaran tanaman ini melalui biji. Pada pertengahan abad ke-16, orang-orang Spanyol yang melakukan eksplorasi ke seluruh dunia turut berperan dalam penyebaran pepaya dengan membawa bijinya ke Kepulauan Karibia dan wilayah Asia Tenggara (Filipina). Selanjutnya, tanaman tersebut menyebar ke wilayah Pasifik, Malaka, India dan Afrika (Morton, 1987; Villegas, 1997). Sumber lain juga menyebutkan bahwa tanaman ini dibawa dari wilayah Hindia Barat atau Kepulauan Karibia (Prihatman, 2000).


Taksonomi

Nama latin/ilmiah pepaya adalah Carica papaya LPepaya adalah tanaman dikotil yang merupakan anggota famili Caricaceae dan berkerabat dekat dengan Passifloraceae (Morton, 1987). Famili Caricaceae terdiri dari 39 spesies yang terdiri dari 5 genus yakni Carica, Cylicomorpha, Jacaratia, Jarilla, dan Vasconcellea.

Genus Carica merupakan genus yang paling penting di antara genus yang lain karena terdiri dari spesies yang dapat dikonsumsi dan dibudidayakan secara luas. Genus Carica terdiri dari empat spesies yakni Carica aprica, Carica augusti, Carica cnidoscoloides, Carica papaya.

Tamanan pepaya yang sering dibudidayakan yakni jenis Carica papaya karena memiliki nilai ekonomi tinggi karena buahnya dapat dikonsumsi dan bagian-bagian yang lain juga dapat dimanfaatkan untuk industri dan obat-obatan. Klasifikasi ilmiah dari tanaman pepaya menurut http://www.catalogueoflife.org yakni:

Kingdom: Plantae
_Filum: Tracheophyta
__Kelas: Magnoliopsida
___Ordo: Brassicales
____Famili: Caricaceae
_____Genus: Carica
______Spesies: Carica papaya L.


Morfologi Pohon Pepaya

Deskripsi mofologi dan ciri-ciri pohon pepaya dari akar hingga daunya dijelaskan sebagai berikut:



Habitus. Deskripsi pohon pepaya berupa tumbuhan berbatang tunggal tegak dan basah dengan payungan daun di ujungnya, dapat tumbuh setinggi 270 – 900 cm serta mengandung getah putih di seluruh bagian pohonnya. Ciri-ciri tumbuhan pepaya tersebut juga dipengaruhi varietas.

Daun. Bentuk daun pepaya yakni tunggal, menjari 5-9 bagian. Tangkai daun panjang berongga 50-100 cm (tergantung umur).

Batang pepaya berbentuk silinder dengan diameter 30 – 40 cm, semi berkayu, berongga dan bergabus dengan kulit yang lembut berwarna abu-abu. Permukaan batang dipenuhi dengan bekas tangkai daun. Arah pertumbuhan batang tegak lurus ke atas dan tidak bercabang, kecuali bagian ujung pucuk mengalami pelukaan atau titik tumbuhnya terpotong. Tanaman ini mulai berbuah 8 – 9 bulan setelah penanaman dan berlangsung sepanjang tahun selama tanaman terus berbunga.

Bunga: Berdasarkan tipe bunganya, bagian-bagian bunga pepaya dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu pepaya jantan, pepaya betina dan pepaya hermafrodit. Pepaya jantan memiliki bunga jantan yang majemuk dan tersusun menggantung pada malai. Bunganya berwarna putih atau kuning cerah dengan mahkota berbentuk terompet dan benang sari tersusun sempurna yang melekat pada leher tabung mahkota. Pepaya betina memiliki bunga betina yang dapat soliter atau berada dalam karangan. Bunganya bertangkai pendek dengan mahkota berwarna hijau kekuningan yang melekat pada bagian dasar bunga, tidak memiliki benang sari serta mempunyai bakal buah yang besar dan sempurna. Sedangkan pepaya hermafrodit memiliki bunga sempurna dengan benang sari dan bakal buah.

Buah pepaya berbentuk oval hingga hampir bundar, dengan diameter 15 – 30 cm, dan banyak dikonsumsi sebagai buah segar. Buah memiliki rongga di bagian tengah yang berisi banyak biji kecil. Kulit buah tipis dan daging buah tebal.

Biji berwarna hitam keabu-abuan. Jumlah banyak dan ditutupi oleh lendir yang menjaga agar biji tetap lembab.

Akar pohon pepaya adalah serabut.


Habitat 

Tanaman pepaya terdistribusi secara luas di dunia, terutama daerah tropis dan subtropis hangat. Tanaman ini membutuhkan irigasi dan curah hujan yang berlimpah, tetapi dengan didukung pula sistem drainase yang baik (Morton, 1987).


Kandungan Pepaya

Buah dan getah pepaya mengandung papain, chymopapain A, B, C, benzyl glucosinolate, biphenyl, asam benzoat, dan asam malat. Biji mengandung glucotropaeolin, dan phosphatidyl choline. Daun mengandung alkaoid seperti dehydrocapaine, kolin, asam chlorogenic, dam kuersetin. Buah mengandung vitamin c, fenol, karotenoid, likopen, dan beta karoten.


Manfaat Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya bernilai ekonomi tinggi karena mempunyai banyak kegunaan, baik bagian buah, akar, batang, daun, maupun bunganya. Buah pepaya yang masak biasa disajikan sebagai pencuci mulut dan penyuplai nutrisi, terutama karoten, kalsium, zat besi, vitamin A dan B, serta kaya akan vitamin C. Buah pepaya juga dapat diolah menjadi bentuk makanan lain, seperti sari pepaya dan dodol. Buah ini juga sering dijadikan campuran dalam pembuatan saus tomat untuk menambah cita rasa, warna dan kadar vitamin. Dalam bidang farmasi, akar pepaya dimanfaatkan sebagai obat penyakit ginjal dan kandung kemih, sedangkan daunnya sebagai obat penyakit malaria, kejang perut dan demam. Daun muda dan bunganya juga biasa dijadikan lalapan dan urap untuk menambah nafsu makan. Bunga pepaya seringkali dijadikan alternatif pengganti bunga melati sebagai bunga rangkai. Selain itu, batang dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai campuran untuk pakan ternak. Batang dan daun pepaya yang masih muda mengandung papain yang banyak digunakan sebagai pelunak daging, bahan kosmetik, penjernih dalam industri minuman, serta dimanfaatkan juga dalam industri farmasi,
pengolahan makanan dan tekstil (Mowlick et al., 2007; Prihatman, 2000).


Aktivitas Farmakologis

Pepaya memiliki manfaat sebagai obat herbal dengan beberapa aktivitas farmakologisnya antara lain:

  • Antioksidan: buah dan bijinya memiliki manfaat sebagai antioksidan.
  • Penyembuh luka: Hasil penelitian dengan menggunakan epikarp pepaya muda menunjukkan pemulihan luka pada mencit lebih cepat.
  • Konstrasepsi: Percobaan pada hewan uji menunjukkan bahwa ekstrak biji pepaya dapat merusak sperma.
  • Antifertilitas. Ektrak biji pepaya juga mempu menurunkan motilitas sperma pada hewan uji.
  • Mengatasi demam berdarah: Daun pepaya bisa digunakan untuk meningkatkan trombosit.
  • Hepatoprotektor: Daun pepaya mampu melindungi fungsi liver/hati.




Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 18 June 2017

Biologi Serbuk Sari (Polen)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Serbuk sari adalah bagian kelamin jantan. Serbuk sari biasanya berupa butiran dalam keadaan dikeringkan dan kelembabannya kurang dari 20%. Pada saat perkecambahan, serbuk sari menjadi 2 macam sel, ada suatu sel vegetatif besar yang menutupi sel generatif, atau dapat pula menjadi 3 sel, terdiri dari suatu sel vegetatif dan 2 sel sperma yang dibentuk melalui pembelahan sel generatif Ukuran dan bentuk serbuk sari bervariasi. Walaupun kebanyakan serbuk sari itu bulat, pada beberapa Angiosperrma laut seperti Amphibolis dan Zostera, berbentuk seperti rambut (sampai 5 cm). 

Gambar 1. Anatomi serbuk sari (polen)

Dinding serbuk sari tersusun atas 2 lapis: lapisan luar "Eksin" yang resisten terhadap asetolisis dan tersusun atas sporopollenin dan intin. Lapisan sebelah dalam bersifat pectosellulosic (tersusun atas pektin dan selulosa). Ada satu hal yang menonjol pada struktur serbuk sari, yakni adanya ornamentasi dinding yang dibentuk oleh bagian luar dari eksin. Biologi serbuk sari meliputi pengertian yang menyeluruh tentang aspek-aspek struktural dan fungsional serbuk sari. 

Gambar 2. Ornamentasi berbagai macam serbuk sari.

Fungsi utama benang sari yakni memunculkan gamet jantan pada kantung embrio untuk fertilisasi dan untuk kelanjutan perkembangan biji dan buah. Fungsi tersebut tergantung pada kesuksesan keseluruhan sejumlah kejadian-kejadian yang berurutan. Berikut ini merupakan peristiwa-peristiwa utama dalam biologi benang sari:
  1. Perkembangan benang sari 
  2. Fase penyebaran bebas 
  3. Polinasi atau penyerbukan 
  4. Interaksi benang sari-putik 
  5. Fertilisasi atau pembuahan 
Serbuk sari berkembang di dalam kepala sari (antera) dan penyebarannya menggunakan kekuatan yang berasal dari kepala sari. Setelah tersebar, serbuk sari tetap sebagai unit-unit fungsional yang bebas dan didedah pada kondisi lingkungan biasa selama periode yang bervariasi. Kualitas serbuk sari terutama viabilitas dan kemampuannya tergantung pada periode dan keragamn lingkungan, hal ini mungkin mempengaruhi fase prepolinasi (sebelum penyerbukan). Selanjutnya, serbuk sari akan menempel pada kepala putik/stigma (terjadi penyerbukan) melalui agen atau pembawa baik bersifat biotik maupun abiotik.

Tumbuhan berevolusi dengan cara yang sangat beragam dan beradaptasi agar mengalami penyerbukan. Penyerbukan adalah peristiwa kritis dan berperan utama dalam produktivitas tanaman pertanian. Pada alhir-akhir ini, kemungkinan untuk menangani rekayasa gen dari tanaman pertanian sampai spesies lainnya iuga telah meningkatkan minat dalam studi biologi penyerbukan.

Jika suatu penyerbukan berhasil, maka butir atau serbuk sari berkecambah di dalam kepala putik dan menghasilkan tabung kecambah yang tumbuh melalui jaringan pada kepala putik dan tangkai putik, yang akhirmya masuk ke kantung embrio. Proses dari penyerbukan sampai masuknya tabung serbuk sari sampai ke dalam kantung embrio dinyatakan sebagai interaksi benang sari putik atau fase progamik. Fase tersebut memainkan peranan penting dalam menentukan metode persilangan suatu spesies atau populasi.

Selama interaksi benang sari-putik. benang sari diseleksi kualitas dan kecocokannya. Serbuk sari sebagai suatu generasi gametofit. Sebagian gen-gen diekspresikan selana proses perkembangan benang sari maupun selama fase setelah pekecambahan benang sari. Studi mengenai ekspresi gen-gen tersebut penting untuk penerapan seleksi serbuk sari, untuk teknologi Rekombinan DNA dan untuk industri embrio serbuk sari. Hal lain yang dibahas dalam biologi serbuk sari, yakni hal-hal yang terkait langsung dengan fungsi serbuk sari, bahasan lain yang sama pentingnya meliputi kaitannya dengan taksonomi dan filogeni, palinologi fosil, aeropalinologi, alergi serbuk sari, dan penggunaan serbuk sari untuk menganalisis pengaruh kimia ekotosik. 

Referensi:
Shivana, K. R. & V. K. Sawhney. 1997. Pollen Biotechnology for Crop Production and Improvement.


Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 17 October 2016

Bunga Edelweiss Jawa yang Dilindungi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Anaphalis spp. adalah jenis tumbuhan dari suku Asteraceae yang hidup di daerah pegunungan dengan ketinggian antara 800–3400 m di atas permukaaan laut. Tumbuhan ini dikenal sebagai bunga abadi karena sangat tahan lama dan tidak mudah rusak, sehingga orang menyebutnya sebagai edelweis yang mengacu pada nama tumbuhan Leontopodium alpinum Cass. yang berasal dari pegunungan di Eropa.

Penyebarannya terutama di Asia Tengah dan Selatan sebanyak 110 jenis. Di Asia Tenggara termasuk New Guinea, hanya terdapat 6 jenis Anaphalis yaitu: A. javanica, A. longifolia, A. maxima, A. viscida, A. helwigii dan A. arfakensis. Jenis A. javanica dan A. longifolia sangat berkerabat dekat dengan bentuk morfologi yang hampir serupa. Diduga A. javanica berdekatan dengan jenis yang terdapat di Sri Langka.

Berdasarkan IUCN redlist, Anaphalis spp. termasuk dalam kategori threatened atau tumbuhan dalam kondisi terancam keberadaannya. Kondisi ini didukung dengan adanya gangguan aktivitas manusia, karena tumbuhan ini hidup di sekitar jalur pendakian di pegunungan. Di samping itu, tercatat bahwa sebuah semai edelweis memerlukan waktu lebih kurang 13 tahun untuk mencapai tinggi 20 cm dan sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana biologi reproduksi tumbuhan tersebut, sehingga banyak aspek yang perlu diketahui untuk melestarikannya, baik pelestarian secara in situ maupun ex situ.

Dalam tulisan ini akan difokuskan mengenai bunga Edelweiss Jawa atau Bunga Senduro dengan nama latin Anaphalis javanica. Bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica) adalah tumbuhan dengan ciri morfologis, merupakan tumbuhan perdu dengan bulu putih, bercabang lebat, ranting-rantingnya berdaun kering putih kelabu, bunganya berbentuk bonggol kecil, pada tengah bunga yang berwarna kuning dan daun tidak lengket. Berbagai jenis serangga seperti lebah, diptera, hemiptera dan kupu-kupu  menyukai bunga ini. 

Gambar Bunga Edelweiss

Anaphalis javanica merupakan tanaman endemik zona alpine/montana yang terdapat dipegunungan tinggi. Tanaman ini hanya dapat tumbuh pada ketinggian tertentu yaitu pada ketinggian 1600 sampai 3600 mdpl. Bunga dari edelweiss merupakan sumber makanan bagi serangga-serangga tertentu, sehingga keberadaannya dapat mempengaruhi kelestarian serangga dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap rantai makanan. Penelitian Van Leeuwen (1933)  mengemukakan bahwa terdapat ± 300 spesies serangga yang berasal dari ordo Hemiptera, Thysanoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera, yang ditemukan pada bunga tersebut.

Pemanfaatan tanaman A. javanica diantaranya sebagai tanaman obat dan juga sebagai pelindung untuk menahan hempasan air hujan sehinga dapat mengurangi erosi di lereng pegunungan. Menurut Messner et al. (2013) dalam edelweiss terdapat lignin berupa senyawa 5-Methoxyleoligin yang berfungsi merangsang angiogenesis (proses pembentukan pembuluh darah) pada penyakit myocardial infarction (MI).  Penelitian pada jenis lain yaitu edelweiss jenis Leontopodium alpinum berfungsi sebagai tanaman obat dan kosmetik (Dweck, 2004).

  
Klasifikasi Bunga Edelweiss Jawa / Senduro
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Bangsa: Gnaphalieae
Genus: Anaphalis
Spesies: Anaphalis javanica

Referensi:
  1. Dweck, A.C. (2004). A Review of Edelweiss.
  2. Mesner, B.,et al.(2013). 5-Methoxyleoligin, a Lignan from Edelweiss, Stimulates CYP26B1-Dependent Angiogenesis In Vitro and Induces Arteriogenesis in Infarcted Rat Hearts In Vivo
  3. Taufiq, A., dkk. 2013. Analisis Morfometri dan Biologi Reproduksi Anaphalis javanica dan A. longifolia (Asteraceae) di Sumatera Barat
  4. Van Leeuwen W.M.D.1933. Biologi of plant and Animal Occursing in the higher Parts of Mount pangrango-Gede in West Java. 





Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 3 October 2016

Nama Latin Kangkung Air, Klasifikasi, dan Deskripsi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Deskripsi kangkung air (Ipomoea aquatica  Forsk) yang segar mengandung hormon tumbuh (auksin,sitokinin, giberelin) dan mempunyai kandunan gizi yang tinggi, diantaranya kalsium, natrium, zat besi, vitamin A, vitamin B, vitamin C, serat, niasin, dan air (Rukmana,1994). Kalsium berperan dalam pembentukan rambut-rambut akar dan mengeraskan batang tanaman, sedangkan fosfor berperan dalam merangsang pertumbuhan akar dan membantu asimilasi. Zat besi dan kalium berperan dalam mekanismetranslokasi asimilasi dari daun ke bagian organ penyimpanan juga berperan untuk membantu fotosintesis dan respirasi (Salisbury dan Cleon,1995).


Kangkung dapat hidup di air karena morfologi kangkung air terdapat jaringan aerenkim yang berongga dan juga menyebabkan kangkung dapat terapung di air karena adanya jaringan parenkim aerenkim. Menurut Rohmah (1999) bagian pucuk kangkung air merupakan tempat akumulasi hormon tanaman berupa auksin, sitokinin, dan giberelin yang berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman. Kangkung air dapat digunakan sebagai stimulant alami karena selain mengandung hormon tumbuh dan kandungan gizi tinggi, kangkung air juga mampu merespon perubahan lingkungan yang tinggi, sehingga tanaman ini mampu tumbuh dan bertahan hidup pada kondisi lingkungan yag jelek
.

Kangkung air juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada beberapa jenis habitat, yaitu dengan cara berkembang biak secara efisien dan memiliki daya serap unsure hara yng efektif, sehingga tanaman tersebut mampu berkompetisi dengan tanaman lain dalam satu habitat. Fungsi kangkung air dalam ekosistem perairan air tawar berperan sebagai fitoremediasi, yakni mampu membersihkan beberapa jenis poulutan. Adaptasi kangkung air tersebut menjadikan kangkung sebagai penjernih air. 

Taksonomi dan klasifikasi kangkung air adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
..Divisi : Magnoliophyta
....Kelas : Magnoliopsida
......Ordo : Solanales
........Famili : Convolvulaceae
..........Genus : Ipomoea
............Spesies : Ipomoea aquatica


Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 2 October 2016

Nama Latin Adenium, Klasifikasi, Morfologi, dan Deskripsinya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Deskripsi morfologi tanaman Adenium atau Kamboja Jepang adalah: Perdu; batang tegak, bulat, bergetah, hijau keputihan; percabangan dikotomi. Daun tunggal tidak sempurna, bertangkai, menyebar, tangkai daun bulat, menebal pada pangkalnya, panjang daun 3-8 cm, licin; helaian daun bulat telur terbalik, 0,3-0,6 cm x 1-3,5 cm, pangkal runcing, tepi rata, ujung meruncing, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, hijau tua, permukaan bawah licin, hijau muda, tebal seperti kertas. Perbungaan semosa, tandan; Bunga sempurna, bertangkai, aktinomorf, hermafrodit, merahmuda; Kelopak 5 sepal, berlekatan, berkarang, merah muda;  Mahkota  5 petal, berlekatan, merah muda. Benang sari bertukal 5, tangkai sari sangat pendek. Polen tetrazonocorporate, permukaan bercelah 4. Putik 1, tangkai putik 1.




Rumus Bunga: *  ♀ K5, C(5), [A5, G1] 

Diagram Bunga :
Klasifikasi Adenium
Kingdom : Plantae
...Divisi : Magnoliophyta
......Kelas : Magnoliopsida
.........Ordo : Gentianales
............Famili : Apocynaceae
...............Genus : Adenium
..................Spesies : Adenium obesum

Nama binomial
Adenium obesum (Forssk.) Roem. & Schult.

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.