Di bangku lama yang kini jadi kenangan
Namamu masih diam di sudut ingatan
Tak sengaja hadir dalam tidur malam
Membawa rasa yang pernah kupendam
Kita dulu hanya dua insan biasa
Bertukar tawa tanpa banyak kata
Namun hatiku diam-diam berbicara
Menyimpan cinta yang tak sempat terucap
Kini kau datang lewat mimpi semu
Menyapaku seolah tak pernah berlalu
Ada tanya yang tak pernah terjawab
Tentang kita yang hilang tanpa sebab
Mengapa kamu hadir lagi
Saat aku mulai pergi
Apakah ini hanya mimpi
Atau hatiku yang belum berhenti
Penasaran ini kian mengganggu
Tentang dirimu yang dulu ku rindu
Apakah kau baik-baik saja di sana
Atau juga pernah ingat tentang kita
Aku sadar waktu tak bisa kembali
Dan kita bukan seperti dulu lagi
Biarlah rasa ini jadi cerita
Yang tersimpan rapi tanpa suara
Jika suatu hari kita bertemu
Cukup senyum tanpa membuka waktu
Karena yang dulu biarlah berlalu
Dan mimpi itu… cukup aku yang tahu
Aku berdiri di sisi yang sunyi
Melihat dunia tak pernah adil
Mereka datang dengan segalanya
Aku hanya bawa hati yang tulus
Kau memilih jalan yang terang
Bersama dia yang penuh harta
Aku hanya bisa diam menatap
Menelan luka tanpa suara
Katanya cinta tak pandang rupa
Tak lihat harta dan juga tahta
Namun kenyataan berbicara lain
Aku tertinggal di belakang cerita
Aku bukan tak mampu mencinta
Aku hanya belum punya dunia
Yang bisa membuatmu yakin
Bahwa aku layak untuk dipilih
Tapi malam mengajarkanku kuat
Bahwa luka bukan akhir cerita
Yang pergi bukan berarti salahku
Mungkin kita memang tak sama
Biarlah aku berjalan perlahan
Membawa mimpi yang sederhana
Suatu hari kan ada seseorang
Yang mencinta tanpa bertanya harta
Kini ku tahu nilai diriku
Bukan dari apa yang kupunya
Jika kau pergi karena dunia
Berarti aku pantas yang lebih setia
Di bangku sekolah kita pernah tertawa,
Membawa buku, pena, dan mimpi sederhana,
Tak pernah tahu rasa akan ikut hadir,
Diam-diam tumbuh tanpa kita sadar.
Di sela waktu dan suara bel berbunyi,
Ada tatap yang sulit tuk dimengerti,
Cinta datang tanpa pernah diundang,
Mengisi hati yang masih bimbang.
Kita simpan rasa dalam diam,
Tak berani mengungkapkan semua harapan,
Hanya senyum yang jadi perantara,
Walau hati penuh tanda tanya.
Namun tak semua kisah berakhir indah,
Ada luka yang perlahan menyapa,
Harapan jatuh tanpa arah,
Meninggalkan kenangan yang tak biasa.
Air mata pernah jadi saksi,
Saat hati belajar mengerti,
Bahwa cinta tak selalu memiliki,
Dan perpisahan adalah bagian dari arti.
Kini semua tinggal cerita,
Tentang kita di masa yang berbeda,
Tawa dan luka jadi satu,
Menghias kenangan yang tak berlalu.
Bangku sekolah jadi saksi bisu,
Tentang cinta pertama yang dulu,
Walau perih pernah menyentuh,
Namun kenangan itu tetap utuh.
Di bangku lama yang kini jadi kenangan
Namamu masih diam di sudut ingatan
Tak sengaja hadir dalam tidur malam
Membawa rasa yang pernah kupendam
Kita dulu hanya dua insan biasa
Bertukar tawa tanpa banyak kata
Namun hatiku diam-diam berbicara
Menyimpan cinta yang tak sempat terucap
Kini kau datang lewat mimpi semu
Menyapaku seolah tak pernah berlalu
Ada tanya yang tak pernah terjawab
Tentang kita yang hilang tanpa sebab
Mengapa kamu hadir lagi
Saat aku mulai pergi
Apakah ini hanya mimpi
Atau hatiku yang belum berhenti
Penasaran ini kian mengganggu
Tentang dirimu yang dulu ku rindu
Apakah kau baik-baik saja di sana
Atau juga pernah ingat tentang kita
Aku sadar waktu tak bisa kembali
Dan kita bukan seperti dulu lagi
Biarlah rasa ini jadi cerita
Yang tersimpan rapi tanpa suara
Jika suatu hari kita bertemu
Cukup senyum tanpa membuka waktu
Karena yang dulu biarlah berlalu
Dan mimpi itu… cukup aku yang tahu
Kutulis kisah di balik jendela
Kerudung hijau ikut bercerita
Tentang dia yang diam bersandar
Menatap senja yang kian memudar
Sepotong kursi jadi saksi
Sunyi yang tak pernah pergi
Tatapannya jauh menembus waktu
Seolah menyimpan rindu yang kelu
Oh dia wanita sederhana
Namun indahnya tak biasa
Dalam diamnya ia bicara
Lewat hati yang tak bersuara
Kerudung hijau membalut lembut
Menyimpan rahasia yang kalut
Anggun langkahnya penuh cahaya
Seperti mimpi yang jadi nyata
Dia bukan sekadar bayangan
Dia adalah keindahan
Yang Tuhan titipkan diam-diam
Di hati yang tak terungkapkan
Banyak mata yang terpikat
Namun hatinya tetap terjaga kuat
Dia hadir bukan untuk dimiliki
Namun untuk dikagumi sepenuh hati
Dan saat senja benar menghilang
Namanya tetap terkenang
Kerudung hijau jadi cerita
Tentang cinta yang tak pernah bersuara
Indah namamu di antara tulisan
Di lembar maya yang tak bertepi
Seperti bintang di gelap malam
Menghias sunyi di dalam hati
Aku membaca tiap aksaramu
Perlahan masuk ke relung jiwa
Mata hati pun ikut tertegun
Dalam kagum yang tak bersuara
Engkau bagai penyair jauh di sana
Dari tanah Timur penuh cahaya
Merangkai kata jadi doa-doa
Menghubungkan hati pada-Nya
Tulisanmu seperti ombak tenang
Tak riuh tapi terasa dalam
Setiap makna yang kau titipkan
Menyentuh jiwa paling terdalam
Aku di sini masih merenung
Menafsir rasa di balik kata
Seolah kau kirimkan rindu
Lewat huruf yang sederhana
Ada cinta yang tak terucap
Tersimpan rapi di setiap bait
Meski tak pernah saling menyapa
Rasa ini terus terjahit
Jika suatu saat kita bertemu
Di antara doa dan harapan
Biarlah tulisan jadi saksi
Bahwa rasa ini pernah ada dan dalam