Showing posts with label Cut loss. Show all posts
Showing posts with label Cut loss. Show all posts

Friday, 7 June 2019

Cara Menekan Cut Loss untuk Trader Pemula

Dalam trading saham, tahapan sebagai seorang trader pemula itu sangatlah penting dan krusial. Trader pemula dengan pengalaman trading yang masih minim, modal yang masih kecil / terbatas, harus mampu untuk menekan kerugian dan mengembangkan modal trading.  

Itu artinya, dalam tahapan pemula ini jangan sampai anda salah melangkah. Banyak sekali trader saham yang modal habis (bangkrut) karena mereka tidak memahami bagaimana cara menekan kerugian (cut loss). 

Sehingga menekan kerugian di saham untuk trader pemula ini menjadi tantangan tersendiri untuk anda. Belum lama ini, ada salah seorang rekan trader yang komentar dan bertanya di salah satu pos Facebook Belajar Saham saya. Berikut pertanyaannya: 


Oke kalau anda bertanya gimana cara menekan / meminimalkan cut loss untuk pemula dengan modal yang masih terbatas, kunci utamanya sebenarnya satu: Anda harus bisa memilih saham yang tepat buat trading.

Beneran itu kunci utamanya Pak Heze? Tanya anda ragu-ragu. 

Iya benar, itu kunci utamanya. Untung ruginya anda trading saham, semuanya ditentukan dari saham yang anda pilih. Kalau saham yang anda pilih naik, anda untung. Modal anda bertambah.

Tapi kalau saham yang anda pilih salah, saham yang anda pilih adalah saham2 jelek, ya otomatis risiko saham anda turun lebih besar. Disitulah modal anda akan berkurang. Kalau terus-menerus terjadi... Modal anda lama-kelamaan akan habis. 

Jadi kalau anda tanya bagaimana cara menekan cut loss, anda nggak perlu cari jawaban panjang lebar, mikirin metode yang aneh2 buat menghindari cut loss misalnya beli software pendeteksi sinyal trading yang harganya puluhan juta, atau ikut rekomendasi berbayar dengan harapan bisa untung terus. Trust me, itu nggak akan ngefek. Semua kembali ke analisa anda pribadi. 

Jawabannya dari dulu cuma satu: Pilih saham yang layak buat trading. Supaya anda bisa memilih saham yang layak buat trading, maka sebelum anda mau beli saham, anda harus lakukan tiga hal: 

1. Lakukan analisa teknikal, riset saham yang mau anda beli 
2. Lakukan dulu screening saham, untuk menyaring saham yang layak trading
3. Never trust anyone in stock market

Poin pertama, sebelum anda beli saham anda harus punya pengetahuan analisa teknikal. Jangan pernah beli saham kalau anda belum mengerti bagaimana cara baca grafik, bagaimana mengetahui saham2 yang berpotensi naik, bagaimana memahami saham2 yang layak trading.  Baca juga: Ebook Saham Analisa Teknikal

Poin kedua, jumlah saham di pasar saham itu banyak sekali. Anda yang masih pemula, sangat mungkin anda akan bingung ketika dihadapkan pada pilihan ratusan saham yang ada. Masalahnya, nggak semua saham itu bagus buat trading. 

Jadi sebelum anda terjun ke pasar saham, lakukan screening / menyaring saham2 yang potensial untuk trading.  Baca juga: Panduan Simpel & Efektif Screening Saham Bagus.   

Saring beberapa saham dulu, dan saham2 yang berisiko jangan coba2 nekad trading, kecuali kalau nanti anda sudah mulai pengalaman, anda bisa belajar lebih banyak di saham2 yang berisiko ini tadi.  

Poin ketiga, anda boleh saja membaca, mempelajari analisa-analisa trader lain. Tapi ingatlah, jangan pernah 100% percaya pada analis lain. Jangan beli saham karena anda mendengar trader A bilang saham tersebut akan naik, kemudian langsung anda beli. 

Sebelum beli saham, lakukan dua hal itu tadi: Analisa teknikal (melihat momentum trading yang baik), kedua adalah screening saham. 

Ya sebenarnya tiga poin itu saja sih yang terpenting agar anda bisa menekan cut loss. Soalnya yang banyak sekali saya temui, trader-trader saham yang bangkrut dan akhirnya berujung menyalahkan pasar saham sebagai arena judi, sebagai penyebab kerugian karena mereka: Tidak melakukan analisa teknikal, tidak screening saham, dan banyak percaya dengan si ini si itu plus nekad trading pakai modal gede. 

Disamping itu, memang kemampuan mengelola modal dan psikologis trading juga sangat penting. Dua hal ini juga sudah saya bahas disini: Manajemen Modal & Psikologis Trading. Tapi dua hal ini harus jalan berbarengan dengan poin2 diatas itu tadi. 

Dengan kata lain begini: Kalau anda pingin trading tapi anda belum paham dengan analisa teknikal dan memilih saham, JANGAN TRADING DULU. Itu hanya akan membawa anda pada risiko kerugian yang berbahaya. 

Pahami dulu yang namanya analisa teknikal dan cara memilih saham yang benar terutama buat pemula. Nah, kalau anda masih ragu-ragu, anda bisa melakukan virtual (demo) trading dulu. Caranya pernah saya tulis disini: Cara Trading dengan Demo (Virtual) Trading Saham.

Virtual trading ini adalah cara yang dulu saya lakukan. Saya melakukannya selama 1,5-2 bulan sebelum trading beneran. 

Jadi dulu saya nggak langsung trading, tapi saya benar2 memahami dulu bagaimana caranya milih saham, dan setelah paham, sudah ada gambaran mau trading saham apa, sudah siap... Barulah saya trading pakai modal beneran. 

Apa efeknya? Efeknya sangat bagus, yaitu saya bisa menekan kerugian, karena saya sudah nggak bingung lagi harus beli saham apa, harus pilih saham apa, harus analisa yang seperti apa. 

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman, di mana pertama kali saya trading dengan modal kecil yaitu Rp1-3 juta, dari 30 kali transaksi trading selama beberapa bulan pertama, 27 kali saya profit dan 3 kali cut loss. Tetapi nominal cut loss saya tetap jauh lebih sedikit dibandingkan profit.  

Lalu kenapa saya bisa cut loss? Cut loss yang saya lakukan mayoritas di saham-saham lapis tiga, karena saya waktu itu nekad, maka saham yang saya beli akhirnya berujung pada cut loss. 

Dan harus diakui, pemula pasti berisiko juga untuk salah mengambil posisi, tapi hal ini setidaknya bisa diminimalkan dengan analisa teknikal dan kemampuan memilih saham itu tadi. 

Jadi seandainya kalau nanti anda dalam posisi di mana anda harus cut loss, maka untuk pemula anda bisa cut loss dulu 2-3% dari harga beli anda, supaya kerugian anda tidak terlalu besar, dan modal anda tetap bisa berkembang nantinya.

Di satu sisi yang ingin saya sampaikan pada anda, sebenarnya trader pemula itu ada keuntungannya, yaitu trader pemula biasanya (dan selalu saya sarankan juga) biasnaya akan menggunakan modal kecil dulu.

Mengelola modal kecil, dari sisi psikologis itu jauh lebih mudah dibandingkan mengelola modal besar. Mengelola modal besar, berarti anda punya tanggung jawab yang lebih besar juga untuk menjaga portofolio yang sehat. 

Itulah mengapa anda yang masih pemula, anda harus pakai modal sekecil mungkin, supaya anda nggak stres, kepikiran kalau-kalau anda harus cut loss. 

Jika modal anda Rp2 juta dan anda cut loss 2%, maka kerugian anda adalah Rp40.000. Tapi kalau anda nekad main saham pakai duit Rp50 juta dan anda cut loss 2%, maka anda sudah rugi Rp1 juta. Apakah sebagai pemula anda siap dengan hal ini? 

Jadi itulah cara-cara menekan cut loss untuk trader pemula. Intinya semua ada pada pemilihan saham yang anda lakukan. 

Tuesday, 26 March 2019

Batas Cut Loss Saham

Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang rekan trader mengenai cut loss saham. Berikut pertanyaannya: "Pak Heze, kira-kira menurut  bapak, berapa batas maksimal dan minimal untuk cut loss trading?"

Pertanyaan ini cukup bagus dan saya rasa sifatnya general, karena memang dalam pratiknya, memang cukup banyak trader saham yang seringkali bingung menentukan level cut loss suatu saham. 

Sebagai contoh, kalau anda beli saham A di harga 1.000. Berapakah level cut loss minimal yang harus ditetapkan? Apakah saat saham A turun ke 900 harus cut loss? 

Bagaimana kalau waktu di cut loss ternyata sahamnya malah naik terus ke 1.200? Bukannya lebih baik hold saja.. Nah, bingung kan?

Jadi untuk menjawab pertanyaan ini, maka sebenarnya anda harus paham dulu dengan tipe saham yang anda tradingkan, dan momentum trading. Karena kalau saya jawab jujur, batas cut loss saham itu nggak bisa ditentukan dengan persentase yang baku

Misalnya, cut loss saham harus ditetapkan 2% dari harga beli. Tidak seperti itu rumusnya. Sebenarnya tidak ada patokan cut loss yang baku, karena anda juga harus fleksibel dalam trading. 

So, kalau anda mendengar "pakar saham" yang mengajarkan level cut loss saham harus ditetapkan 5%, 3% dari harga beli dan seterusnya, maka saya dapat pastikan apa yang dikatakan tersebut hanya mengacu pada teori. Karena penerapan riil di pasar saham tidaklah seperti itu. 

Sama seperti kalau trader ditanya: "Berapa untung saham yang bisa didapatkan sebulan?" Dan kalau trader menjawab: "Saya dapat Rp25 juta per bulan".. Maka itu hanyalah jawaban tanpa dasar, karena kondisi market, saham tiap bulan bisa jadi berbeda-beda, sehingga keuntungan yang anda dapat tidak mungkin flat, pasti akan naik-turun. 

Oke, jadi cut loss saham harus anda tetapkan secara disiplin apabila: Anda membeli saham dengan momentum yang tidak tepat. Momentum tidak tepat ini adalah anda beli saham di harga terlalu tinggi, anda belum melakukan analisa teknikal, anda beli saham karena anda saat itu tidak tenang, anda beli saham karena ikut-ikutan, anda beli saham gorengan, anda beli saham2 yang tidak likuid.

Kalau anda beli saham karena faktor2 tersebut, maka anda harus segera disiplin menetapkan batasan cut loss. Berapa level cut lossnya? Saran saya sih sedini mungkin, yaitu bisa anda tetapkan 2-3% dari harga beli anda. 

Apabila anda sudah salah posisi, jangan sampai anda berlarut-larut membiarkan saham anda nyangkut, dan kemudian baru anda cut loss kalau sahamnya sudah turun sangat banyak. Baca juga: Cara Menentukan Take Profit dan Cut Loss Saham yang Tepat. 

Hal ini juga berlaku terutama kalau anda beli saham2 gorengan, anda harus jauh lebih disiplin menetapkan level cut loss. Berdasarkan pengalaman saya, level cut loss yang ideal, adalah 2-3% baik untuk saham2 yang anda beli karena salah posisi, maupun saham2 gorengan. 

Karena dengan level cut loss sekian, kerugian anda tidak terlalu besar, dan ketika saham turun 1-2%, anda masih punya kesempatan untuk menunggu apakah saham bisa berbalik naik.  

Catatan: Level cut loss ideal saya bisa jadi berbeda untuk anda. Ada baiknya anda juga mencoba mempraktikkan dan menerapkan sendiri batasan cut loss yang ideal untuk anda. Apa yang saya tulis ini, mengacu pada pengalaman pribadi saya. 

Tetapi seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa cut loss tidak bisa disama-ratakan level / persentasenya. Karena ada kondisi di mana anda tidak sebaiknya tidak terburu menetapkan cut loss. 

Kondisi tersebut terjadi kalau: Anda sudah membeli saham berdasarkan momentum yang tepat, anda membeli saham karena anda tahu alasannya, karena anda menggunakan analisa teknikal yang tepat, maka anda tidak perlu terburu cut loss kalau saham anda belum naik.   


Nah, kalau anda sudah beli saham berdasarkan momentum yang tepat. Saham yang anda beli juga saham2 yang memang sudah masuk di stock pick anda, maka jika saham tersebut turun, itu adalah hal yang wajar. 

Karena yang namanya pasar saham itu pasti ada fluktuatif. Tidak selalu saham yang anda 100% langsung naik. Tetapi kalau anda beli saham di momen yang tepat, anda sudah paham apa yang harus anda tradingkan, then anda nggak usah panik atau buru2 cut loss hanya karena saham anda turun sesaat. 

Anda hanya perlu bersabar dan menunggu sedikit waktu agar saham anda bisa rebound lagi, dan sepengalaman saya, tidak dibutuhkan waktu yang lama, ketimbang anda beli saham2 yang berisiko itu tadi. Saya juga pernah menuliskannya disini: Saham Turun: Pilih Hold atau Cut Loss? 

Dengan kata lain, kalau kita simpulkan bersama, memang ada saatnya anda harus cut loss, dan ada saatnya tidak perlu cut loss (cukup menunggu momen saham anda naik). Level cut loss setiap trader juga bisa berbeda satu sama lain. Intinya, kalau anda salah ambil posisi, anda harus cut loss sedini mungkin (bisa mengacu pada titik2 support terdekatnya). 

Nah, untuk pemula kemungkinan besar anda akan sering salah memilih momentum trading, salah memilih saham. Maka dari itu, untuk pemula anda harus memahami strategi2 trading serta psikologis trading itu sendiri. Baca juga: Belajar Saham Pemula - Expert.  

Wednesday, 9 January 2019

Dua Cara Mengontrol Kerugian di Saham

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pertanyaan dari salah seorang rekan trader tentang mengontrol kerugian di saham. Pertanyaan sebagai berikut: 

"Pak Heze, bagaimana cara agar kerugian di saham bisa ditekan seminimal mungkin, karena fluktuasi harga saham bisa membuat trader mengalami kerugian yang cukup besar. Apakah Pak Heze bisa share pengalamannya?"

Mengontrol kerugian di saham sebenarnya bisa anda lakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut: 

1. Cut loss 

Yup, cut loss adalah metode / strategi yang PALING UMUM digunakan oleh semua trader untuk memproteksi kerugian. Jadi ingat bahwa kata kunci cut loss adalah PROTEKSI kerugian. 

Karena tujuan cut loss adalah proteksi kerugian, maka cut loss adalah cara untuk mengontrol kerugian di saham. So katakanlah anda membeli saham A di harga 2.000. Saham A terus turun ke 1.900. Beberapa hari kemudian saham A terus anjlok sampai 1.000, dan akhirnya saham A nggak stagnan di 1.000. 

Bisa anda bayangkan jika anda tidak melakukan cut loss / proteksi kerugian ketika saham anda turun ke 1.900-an misalnya. Maka saham anda akan nyangkut.  Secara hitung2-an anda mungkin belum rugi  karena anda belum jual, tetapi modal anda akan 'terpenjara'. 

Tapi cut loss tidak boleh asal anda lakukan. Anda harus tahu kapan anda cut loss, kapan anda hold. Kalau anda cut loss hanya karena terbawa emosi, maka yang terjadi adalah saham anda 

Anda bisa baca tulisan saya disini: Saham Turun: Pilih Cut Loss atau Hold?. Di pos tersebut saya memberikan banyak pandangan berdasarkan pengalaman saya, tentang kapan anda harus melakukan cut loss, dan kapan sebaiknya saham tidak perlu di cut loss. 

2. Tradingkan saham yang risikonya kecil 

Jika anda ingin mengontrol kerugian di saham, maka cara efektif yang bisa anda lakukan adalah: Tradingkan saham-saham yang risikonya kecil. 

Saham yang risikonya kecil berarti: Saham tersebut adalah saham yang polanya anda pahami secara pribadi. Maksudnya adalah, anda sudah sering mentradingkan saham tersebut, atau secara analisa yang biasa anda gunakan, anda menilai bahwa saham tersebut punya potensi naik. 

Dengan cara ini anda bisa meminimalkan risiko dari kerugian saham. Sebagian besar trader mengalami rugi yang besar karena trader nekad membeli suatu saham, hanya karena returnnya terlihat menggiurkan.. 

Contoh, anda membeli saham hanya karena saham tersebut lagi booming. But actually saham tersebut sudah di ujung tren naiknya sehingga saat anda beli harganya langsung anjlok. Atau anda beli saham, hanya karena saham tersebut sering naik puluhan persen dalam sehari, padahal anda sebenarnya  tidak memahami bagaimana karakteristik saham tersebut. 

Kalau anda sudah tahu bahwa ada saham yang memiliki risiko yang besar. Kalau anda sudah tahu bahwa ada saham yang anda tidak yakin dengan saham tersebut akan naik, kalau anda sudah tahu saham tersebut adalah saham gorengan, maka ada baiknya anda tidak mentradingkannya jika anda ingin kerugian anda bisa lebih dikontrol. Itulah mengapa anda harus punya stock pick dalam trading. Baca juga: Saham Pilihan Hari Ini - Apa Saham Pilihan Anda? 

Jadi dengan mentradingkan saham2 yang risikonya kecil, dalam hal ini adalah saham2 yang likuid, saham2 yang anda paham pergerakannya, saham2 yang bisa anda analisa dengan analisis teknikal, maka anda bisa mengontrol kerugian dari trading saham. Baca juga: Strategi Memilih Saham untuk Trading. 

Dua cara ini selalu saya gunakan untuk meminimalkan kerugian pada saat trading. Dan cara ini memang sangat efektif untuk menekan loss. 

Kerugian dari trading saham semakin bisa anda kontrol ketika anda semakin berpengalaman dalam trading. Jadi kalau anda sekarang masih sering rugi, maka jangan cepat putus asa, karena dulu saya saat masih satu-dua tahun pertama trading, juga mengalami hal yang sama. Asah terus analisa anda, dan terapkan kedua cara yang saya tuliskan tadi, terutama untuk poin kedua.

Tuesday, 4 December 2018

Menghitung Kerugian Cut Loss Saham

Di pos ini, saya punya pertanyaan untuk anda (tentunya pertanyaan ini juga berasal dari kisah-kisah riil trader): Jika anda beli saham di harga 2.000, dan kemudian saham anda turun sampai 1.700. Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan cut loss atau tunggu aja sampai harga saham naik? 

Jawabannya saya yakin akan bermacam-macam. Beberapa dari anda mungkin akan jawab cut loss. Beberapa trader lainnya akan jawab hold. Atau bahkan ada yang jawab averaging down dan sebagainya. 

Time frame juga menentukan. Kalau anda investor, harga saham turun dari 2.000 ke 1.700 atau bahkan ke 1.200 sekalipun, anda tidak perlu jual. Toh, orientaasi anda adalah jangka panjang. Tapi bagaimana dengan trader? 

Bagi trader yang kritis mungkin anda akan menganalisa pertanyaan ini lebih dalam: Tergantung sahamnya. Kalau sahamnya bagus, tunggu saja. Kalau sahamnya junk stock, lebih baik cut loss dan pindahkan ke saham yang lebih oke. 

Terlepas dari semua jawaban ini, saya sebenarnya ingin menekankan pada anda bahwa cut loss dalam trading itu penting, karena cut loss adalah bentuk proteksi modal. Tapi bukan berarti anda asal melakukan cut loss. Saham turun dikit langsung cut loss. Saham turun beberapa poin langsung cut loss. 

Terus kalau nggak lama kemudian saham anda naik, apakah anda tidak rugi melakukan cut loss? Jika anda mau sedikit menunggu, anda sebenarnya nggak perlu rugi, malahan anda dapat untung. 

Di pos ini: Saham Turun: Pilih Cut Loss atau Hold? Saya juga pernah menuliskan tentang kapan anda harus cut loss, dan kapan anda sebaiknya menunggu saham anda naik. 

Intinya, selama saham yang anda pegang adalah saham yang bagus, analisa yang anda gunakan benar, percayalah, anda nggak perlu terburu-buru untuk cut loss. 

Beda cerita kalau saham yang anda pegang adalah saham-saham junk stock, atau saham yang anda beli tanpa anda riset dahulu (misalnya anda beli cuma ikut-ikutan), maka anda harus segera ambil tindakan PROTEKSI MODAL (cut loss). 

Jadi penting untuk anda mengetahui momen cut loss, karena faktanya tidak selalu saham yang kita beli akan selalu langsung naik (Kalau ada penjual seminar atau penjual grup saham premium yang bilang saham yang direkomendasikan selalu naik puluhan persen sehari, saran saya, anda jangan ikuti).

Sebagai trader, anda harus bisa menghitung perbandingan kerugian anda akibat cut loss, dan waktu yang anda butuhkan untuk mengganti kerugian akibat cut loss yang anda lakukan. Mari saya perjelas. 

Misalnya anda beli saham yang sebenarnya saham itu bagus, misalnya saham JSMR. Di satu sisi, analisa yang anda gunakan juga sudah benar. Anda beli JSMR di harga 4.000 sebanyak 80 lot. Kemudian JSMR anda turun dengan cepat, dan closing di harga 3.920. 

Keesokan hari JSMR turun lagi ke 3.850. Dan beberapa hari kemudian JSMR turun lagi ke 3.800. Saat itu sebenarnya JSMR harganya sudah di bottom. Namun kemudian, anda berpikir untuk cut loss di 3.800 karena khawatir JSMR akan turun lebih dalam. Tapi jika cut loss, kerugian anda akibat cut loss adalah Rp1,7 juta. 

Dengan floating loss tersebut, anda harus menganalisa, apakah kerugian Rp1,7 juta ini bisa anda ganti dari trading anda dalam waktu dekat? Bagaimana caranya anda tahu? 

Anda bisa melihat dari historis trading anda. Apakah anda bisa mendapatkan profit Rp1,7 juta dalam kurun waktu satu minggu saja? Apakah anda bisa mendapatkan profit Rp1,7 juta dalam waktu hanya 3 hari? Kalau anda bisa mendapatkan profit yang lebih besar dari kerugian cut loss anda dalam waktu singkat, maka itu tidak jadi masalah untuk anda. 

Tapi bagaimana kalau anda baru bisa mendapatkan profit Rp1,7 juta dalam waktu 5 bulan? Nah, kalau dari historis trading, anda butuh waktu yang lama untuk dapat profit Rp1,7 juta, bukankah lebih baik anda menunggu saham anda naik daripada anda cut loss? 

Jika anda tidak cut loss, maka selama waktu 5 bulan itu anda bisa mendapatkan profit dari saham (anda tidak perlu menutup kerugian anda dari cut loss tersebut). Plus "bonus'-nya nanti, ketika saham JSMR anda naik, anda dapat profitnya juga. Jadi anda tidak perlu cut loss, dan justru anda bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. 

Karena seperti yang saya katakan tadi, bahwa tidak selalu harga saham yang kita beli selalu naik. Ada kalanya anda perlu menunggu sesaat, agar saham yang anda beli naik diatas harga beli anda. 

Artinya, anda yang terburu cut loss di saham2 yang bagus anda akan rugi, bukan hanya rugi modal tapi anda juga rugi waktu. Rugi waktu yang anda butuhkan untuk mengganti kerugian cut loss. Tentu saja ini tidak worth it untuk anda. 

Pengalaman saya pribadi. Saya pernah beberapa kali mengalami saham-saham bagus yang saya cut loss hanya karena fluktuatif pasar sesaat. Ternyata setelah saya cut loss, sahamnya tidak lama kemudian naik. Dan saya sendiri rugi, karena saya butuh waktu untuk mengganti kerugian dari cut loss tersebut melalui trading selama 2 bulan. 

Yap, seandainya saja saya mau bersabar menunggu, maka saya tidak perlu rugi, dan justru saya bisa dapat profit selama 2 bulan tersebut.

Pesan saya: Tidak ada trader yang ingin cut loss, semua pasti ingin untung. Tapi di dalam trading saham, pasti ada yang namanya risiko. Risiko itu adalah risiko turunnya harga saham. 

Anda yang ingin bisa meminimalkan kerugian dari cut loss, belilah saham-saham yang bagus. Baca juga: Panduan Simpel & Efektif Menemukan Saham Bagus. Dan jangan lupa gunakan analisa teknikal yang benar, sesuaikan dengan karakter trading. Dengan cara ini, anda bisa meminimalkan risiko cut loss. 

Monday, 19 November 2018

Kenapa Trader Sering Terjebak Cut Loss?

Dalam dunia trading saham, cut loss bisa diartikan sebagai tindakan trader menjual sahamnya secara rugi, karena saham yang dibeli tidak bergerak sesuai harapan alias turun. Nah, tujuan trader cut loss adalah sebagai bentuk proteksi modal, agar saham tidak turun terus dan berpotensi menggerus modal, maka trader melakukan cut loss lebih awal. 

Tapi apapun alasannya, terlalu banyak melakukan cut loss dalam trading, menunjukkan bahwa trading anda belum berjalan dengan efektif. 

Nah sekarang anda perlu mengetahui penyebab kenapa trader seringkali terjebak dalam cut loss berkali-kali. Ada dua alasan trader sulit keluar dari "lingkaran cut loss" 

1. Belum mampu mempraktikkan analisis teknikal 

Di web Saham Gain ini saya sudah berkali-kali menekankan pada anda tentang pentingnya analisis teknikal. Apabila anda tidak bisa menerapkan analisis teknikal dengan benar, maka hal ini bisa menjadi penyebab utama anda sering mengalami cut loss. 

Praktik analisa teknikal pemula - expert bisa anda lihat disini: Praktik Analisis Teknikal Saham. Maka dari itu, sebelum anda memutuskan untuk terjun ke dunia trading saham, anda harus mendalami praktik2 analisa teknikal. 

Mulailah dahulu dengan mempelajari basic2 analisis teknikal, dan mulailah dengan modal sekecil mungkin. Analisa2 sederhana ini nantinya bisa terus anda kembangkan secara bertahap, sehingga anda nantinya bisa menemukan pola trading yang cocok untuk anda. Baca juga: Cara Menganalisa Saham yang Baik (Tingkat Lanjut). Dengan cara ini, anda bisa meminimalkan risiko cut loss. 

2. Trader tidak mau mengakui kesalahannya sendiri 

Penyebab trader yang selalu berakhir dengan cut loss ternyata sering sekali dikarenakan mereka tidak mau mengakui kesalahannya sendiri. 

"Apa nih maksudnya Bung Heze?" Tanya anda 

Saya banyak menemukan trader yang ketika mereka rugi, mereka langsung menyalahkan pasar saham, menyalahkan broker, menyalahkan analis saham, menyalahkan grup saham dan sebagainya. Banyak sekali trader yang tidak berani mengakui kesalahannya ketika mereka cut loss. 

Banyak trader yang belum berani mengatakan: "Oh iya memang saya yang salah dalam analisis. Harusnya lain kali saya jangan beli saham yang seperti ini."

Kebanyakan trader masih sering mencari kambing hitam yang membuat mereka cut loss. Sekarang coba anda bayangkan. Yang trading anda sendiri. Yang pencet tombol buy dan sell anda sendiri. Trading juga pakai duit anda sendiri. Maka harusnya seluruh keputusan trading 100% ada di tangan anda, dan bukan tanggung jawab orang lain. 

Pada saat anda mencari kambing hitam ketika rugi, anda tidak akan bisa fokus dan mencari celah-celah kesalahan trading anda. 

Sehingga trader yang tidak berani mengakui kesalahannya sendiri dan melakukan evaluasi, akan kerap mengulangi kesalahan2 yang sama. Pada akhirnya trader akan terus jatuh di lubang yang sama (cut loss berkali-kali). 

Kalau anda mengalami hal ini, mulai sekarang lakukanlah evaluasi dalam trading anda. Anda boleh-boleh saja mengikuti rekomendasi dari analis. Namun seluruh keputusan tetap ada di tangan anda. Ini artinya seluruh keputusan trading harus dilakukan oleh analisa subjektif dari anda sendiri. 

Dan kalau ternyata anda cut loss, maka anda harus akui dan evaluasi. Karena sesungguhnya trading saham itu adalah sebuah SENI untuk mendapatkan profit. Seni bisa tercipta apabila anda mau mencoba, anda mau menganalisa. Dengan menganalisa, cepat atau lama anda akan menciptakan pola trading yang nyaman untuk anda. 

Oleh karena itu, di web ini, saya selalu memberikan praktik2 trading pada anda yang bertujuan untuk mengarahkan anda pada trading mandiri, bukan menggantungkan analis, grup dan lain-lain. Baca juga: Belajar Saham Pemula - Expert. 

Itulah dua penyebab utama yang sering saya temukan mengapa trader cut loss mulu. Terutama poin nomor dua ini benar-benar harus anda renungkan dan jadikan bahan evaluasi, karena ketidaksiapan trader untuk mengakui kesalahannya sendiri biasanya tidak disadari secara langsung. 

Monday, 22 October 2018

Saham Turun: Pilih Cut Loss atau Hold?

Saham yang anda beli, terkadang bisa jadi tidak bergerak sesuai kenyataan dan harapan anda. Semua trader pasti menginginkan saham yang dibeli akan langsung naik. Namun, faktanya bisa saja saham yang anda beli bukannya naik, justru turun. 

Saya sebenarnya sudah cukup lama menerima pertanyaan rekan-rekan trader, dan para pembaca setia web Saham Gain ini. Banyak trader yang bertanya: "Bung Heze, kalau saham yang kita beli turun, kita harus cut loss atau hold? Cut lossnya sebaiknya berapa persen dari harga beli?"

Anda mungkin sudah sering membaca tulisan2 lain yang membahas tentang strategi yang harus dilakukan saat saham turun. Ada yang menganjurkan untuk cut loss. Ada juga yang mengajurkan untuk hold saja. Ada juga yang menganjurkan untuk averaging down dan lain2. 

Nah lho? Jadi mana nih yang benar? Kalau saham kita turun, baiknya cut loss saja atau gimana? Di pasar saham kan juga ada prinsip cut loss untuk memproteksi modal? Bagaimana kita menerapkannya dalam trading?  

Tidak sedikit trader yang cut loss setelah sahamnya turun. Namun nggak lama kemudian, harganya malah naik sampai diatas harga beli. Sekarang coba anda renungkan.. Kalau anda mau bersabar menunggu, anda nggak perlu rugi, kan? Mungkin saham anda butuh waktu beberapa waktu untuk naik. But at least anda nggak perlu rugi, dan ini hanya masalah WAKTU saja. Hanya masalah fluktuatif harga saham.

Sebelum anda memutuskan untuk cut loss atau hold saat saham turun, anda harus bisa berpikir RASIONAL. 

Jangan asal melakukan cut loss, padahal saham anda adalah saham yang bagus, di mana anda sebenarnya hanya perlu menunggu untuk naik. Sebaliknya jangan sampai anda membiarkan saham2 jelek  mengisi portofolio anda. 

Kalau saham yang anda beli turun, anda harus melakukan analisa lebih dalam apakah: Saham yang anda beli bagus atau tidak? Anda beli saham pakai analisa yang biasa anda gunakan atau hanya beli saham asal-asalan?

Prinsipnya, selama saham yang anda beli bagus. Saham anda likuid (buyer-sellernya banyak), anda menggunakan analisa teknikal dengan benar, anda hanya perlu menunggu waktu untuk naik. 

Terlebih lagi kalau saham anda turun hanya karena sentimen negatif sesaat, maka saham tersebut biasanya akan balik naik lagi. Itu adalah hal yang biasa terjadi di pasar saham. 

Cara mencari saham-saham yang bagus secara analisa teknikal dan punya potensi naik dalam jangka pendek, anda bisa baca disini: Buku Saham. 

Beda cerita jika anda beli saham yang tidak likuid misalnya. Atau anda beli saham tanpa melakukan analisis. Bahkan anda sendiri bertanya-tanya setelah membeli sahamnya: "Ini saham apaan sih yang saya beli?"

Maka anda harus cut loss untuk PROTEKSI MODAL. Jangan sampai anda beli saham yang sama sekali anda tidak tahu saham tersebut, anda sendiri merasa 'aneh' dengan sahamnya, tapi anda bersikeras untuk hold terus sahamnya. Inilah penyebab trader banyak yang sahamnya sering nyangkut dan akhirnya nggak balik modal.  

Saya pernah mengalami sendiri ketika saya memutuskan untuk beli saham AALI, karena AALI akan membagikan dividen. Setelah melakukan analisa2 lebih lanjut, saya memutuskan untuk buy AALI di harga 12.200. Perhatikan rincian transaksi AALI saya dan dividen AALI yang pernah saya terima. 



(klik gambar untuk memperbesar)

Setelah saya beli AALI, faktanya AALI tidak langsung naik. AALI koreksi sejenak sampai ke harga 11.250-an. Secara hitung2an, meskipun saya sudah dapat dividen, tapi kalau saya terburu cut loss saat itu, maka kerugian di AALI akan jauh lebih besar dibandingkan dividen yang saya dapatkan. 

Karena AALI secara grafik, analisa, harga historis adalah saham yang harganya mudah rebound cepat, dan sahamnya juga termasuk saham yang bagus secara analisa teknikal, maka saya hold saham AALI. 

Dan walaupun koreksi, namun AALI tidak butuh waktu lama untuk rebound. Praktik trading diatas adalah salah satu contoh di mana jika kita sudah melakukan analisa yang benar, sebenarnya kita tidak perlu terburu untuk cut loss. 

Karena ada kalanya harga saham bisa jadi bergerak tidak sesuai harapan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu.  Tapi kalau yang anda beli adalah saham yang, misalnya, tidak likuid, sahamnya sering digoreng, maka anda harus tegas untuk melakukan cut loss ketika saham anda turun. 

Sepengalaman saya, saham-saham yang pola pergerakannya bagus, likuid, dan analisa yang anda gunakan sudah benar, anda hanya perlu menunggu. Saham tersebut cepat atau lama akan naik kembali. 

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$


Salah satu penyebab trader saham bangkrut ternyata karena trader tersebut tidak bisa sabar menunggu momen, bukan karena saham yang dibeli jelek. Saya beberapa kali menemukan kisah trader yang bangkrut karena trader cut loss saat harganya sudah benar2 turun, dan floating lossnya sudah gede banget. 

Trader awalnya takut untuk cut loss. Namun karena dari waktu ke waktu saham yang dipegang harganya turun, dan turun terus. Akhirnya pada satu titik, trader menyerah dan cut loss. Akhirnya kerugiannya sangatlah besar, dan modal yang digunakan habis. 

Padahal setelah turun terus mencapai titik tertentu, tidak lama kemudian, sahamnya mulai naik secara berangsur, dan walaupun harus menunggu agak lama, sahamnya akhirnya bisa naik jauh diatas harga beli awalnya. 

Kalau trader mau menunggu (selama saham yang dipegang adalah saham yang bagus), trader tidak perlu rugi besar. Waktu yang diperlukan untuk menunggu harga saham naik, ternyata lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengganti kerugian akibat cut loss. Pernahkah anda mengalaminya?

Masalahnya banyak trader yang sudah 'didoktrin' dahulu dengan kata-kata: "Saham itu bisa untung besar tanpa risiko". "Join-lah bersama kami pasti profit". 

Waktu tiba saatnya trader dihadapkan dengan kondisi ini, trader langsung down, karena kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan.

Anda harus mengerti bahwa pasar saham itu fluktuatif. Harga saham naik dan turun, anda harus punya mental untuk menunggu saham anda panen, dan tidak terlalu cepat cut loss. Hal ini bisa dilakukan jika anda memilih saham-saham yang tepat untuk trading. Baca juga: Memilih Saham Bagus untuk Trading. 

Dari pengalaman saya, saat saham2 yang kita pegang bagus, analisa kita benar, actually kita hanya butuh sedikit waktu untuk menunggu saham rebound. Jadi ketimbang anda cut loss, bukankah lebih baik anda menunggu sedikit waktu agar bisa untung? 

Apa yang saya tulis di pos ini merupakan pengalaman pribadi saya sendiri dalam trading. Tulisan di pos ini bukan teori (kalau di teori anda diajarkan saham turun ya cut loss.. Tapi faktanya praktiknya nggak semudah itu. Sebagai trader, anda harus cerdas melihat situasi). 

Melalui tulisan ini saya sebenarnya juga ingin mengajak anda untuk melihat fakta lebih dalam di pasar saham itu sendiri  melalui kacamata seorang trader, bukan seorang teoretis. 

Nanti dalam praktikknya, anda bukan hanya dihadappkan profit saja. Tapi suka nggak suka, anda juga akan dihadapkan pada situasi di mana saham yang anda beli ternyata harganya turun dulu.. Dan anda harus memilih antara cut loss atau hold.. 

Pilihan ini memang tidak mudah, apalagi kalau saham anda turun, floating loss anda sudah besar, dan market lagi bearish. Tapi kalau anda siap menghadapi kenyataan, dan tidak hanya termakan promosi2 'saham itu bebas risiko dan bisa untung terus', percayalah anda akan bisa mengambil keputusan dengan jernih. 

Anda akan tahu saat yang tepat apakah anda harus cut loss di saham tersebut, atau anda hold saja dan menunggu untuk naik. 

Semakin pengalaman anda trading, memang kemungkinan prediksi salah itu akan semakin kecil. Tapi harus anda ingat, sekali-dua kali anda akan menghadapi situasi seperti ini. 

Jangan sampai profit anda berubah menjadi rugi hanya karena anda cut loss dalam jumlah besar. Padahal jika anda menunggu sedikit, saham anda sudah balik naik lagi. 

Kalau anda sering mengalami saham yang anda cut loss.. Ehhh ternyata nggak lama kemudian saham anda berbalik naik, maka sebenarnya persoalannya hanya  dua: BELAJARLAH SABAR dan belajarlah memahami fluktuatif harga saham. 

Ibarat anda seorang petani. Untuk mendapatkan panen padi, ada kalanya anda harus menunggu. Jika anda tidak sabar untuk menunggu musim panen, maka tentu anda tidak bisa mendapatkan padi yang berkualitas.