Showing posts with label Metode Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Metode Mengajar. Show all posts

Tuesday, 11 July 2017

Tugas Pokok Guru

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 52 ayat (1) kewajiban guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan tugas pokok. 

Dalam penjelasan Pasal 52 ayat (1) huruf (e), yang dimaksud dengan “tugas tambahan”, misalnya menjadi pembina pramuka, pembimbing kegiatan karya ilmiah remaja, dan guru piket.


Uraian jenis kerja guru tersebut di atas adalah sebagai berikut:

a. Merencanakan Pembelajaran

Guru wajib membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal semester, sesuai dengan rencana kerja sekolah/madrasah.

b. Melaksanakan Pembelajaran

Melaksanakan pembelajaran merupakan kegiatan interaksi edukatif antara peserta didik dengan guru. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tatap muka sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. 

Penjelasan kegiatan tatap muka adalah sebagai berikut:
  • Kegiatan tatap muka atau pembelajaran terdiri dari kegiatan penyampaian materi pelajaran, membimbing dan melatih peserta didik terkait dengan materi pelajaran, dan menilai hasil belajar yang terintegrasi dengan pembelajaran dalam kegiatan tatap muka,
  • Menilai hasil belajar yang terintegrasi dalam proses pelaksanaan pembelajaran tatap muka antara lain berupa penilaian akhir pertemuan atau penilaian akhir tiap pokok bahasan merupakan bagian dari kegiatan tatap muka,
  • Kegiatan tatap muka dapat dilakukan secara langsung atau termediasi dengan menggunakan media antara lain video, modul mandiri, kegiatan observasi/eksplorasi,
  • Kegiatan tatap muka dapat dilaksanakan antara lain di ruang teori/kelas, laboratorium, studio, bengkel atau di luar ruangan,
  • Waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran atau tatap muka sesuai dengan durasi waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum sekolah/madrasah
Sebelum pelaksanaan kegiatan tatap muka, guru diharapkan melakukan persiapan, antara lain pengecekan dan/atau penyiapan fisik kelas/ruangan, bahan pelajaran, modul, media, dan perangkat administrasi.

c. Menilai Hasil Pembelajaran

Menilai hasil pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Melalui penilaian hasil pembelajaran diperoleh informasi yang bermakna untuk meningkatkan proses pembelajaran berikutnya serta pengambilan keputusan lainnya. Menilai hasil pembelajaran dilaksanakan secara terintegrasi dengan tatap muka seperti ulangan harian dan kegiatan menilai hasil belajar dalam waktu tertentu seperti ujian tengah semester dan akhir semester.

Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes. Penilaian nontes dapat berupa pengamatan dan pengukuran sikap serta penilaian hasil karya dalam bentuk tugas, proyek fisik atau produk jasa.

1) Penilaian dengan tes.
  • Tes dilakukan secara tertulis atau lisan, dalam bentuk ulangan harian, tengah semester, dan ujian akhir semester. Tes ini dilaksanakan sesuai dengan kalender pendidikan atau jadwal yang telah ditentukan.
  • Tes tertulis dan lisan dilakukan di dalam kelas.
  • Pengolahan hasil tes dilakukan di luar jadwal pelaksanaan tes.
2) Penilaian nontes berupa pengamatan dan pengukuran sikap.
  • Pengamatan dan pengukuran sikap sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses pendidikan, dilaksanakan oleh guru dengan tujuan untuk melihat hasil pendidikan yang tidak dapat diukur dengan tes tertulis atau lisan.
  • Pengamatan dan pengukuran sikap dapat dilakukan di dalam kelas menyatu dengan proses tatap muka, dan atau di luar kelas.
  • Pengamatan dan pengukuran sikap yang dilaksanakan di luar kelas merupakan kegiatan di luar jadwal tatap muka.
3) Penilaian nontes berupa penilaian hasil karya.
  • Penilaian hasil karya peserta didik dalam bentuk tugas, proyek fisik atau produk jasa, portofolio, atau bentuk lain dilakukan di luar jadwal tatap muka.
  • Adakalanya dalam penilaian ini, guru harus menghadirkan peserta didik agar untuk menghindari kesalahan pemahaman dari guru, jika informasi dari peserta didik belum sempurna.
d. Membimbing dan Melatih Peserta Didik
Membimbing dan melatih peserta didik dibedakan menjadi tiga kategori yaitu membimbing atau melatih peserta didik dalam proses tatap muka, intrakurikuler, dan ekstrakurikuler.

1) Bimbingan dan latihan pada proses tatap muka

Bimbingan dan latihan pada kegiatan pembelajaran adalah bimbingan dan latihan yang dilakukan agar peserta didik dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

2) Bimbingan dan latihan pada kegiatan intrakurikuler
  • Bimbingan dalam kegiatan intrakurikuler terdiri dari pembelajaran perbaikan (remedial teaching) dan pengayaan (enrichment) pada mata pelajaran yang diampu guru.
  • Kegiatan pembelajaran perbaikan merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang belum menguasai kompetensi yang harus dicapai.
  • Kegiatan pengayaan merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang telah menguasai kompetensi yang ditentukan lebih cepat dari alokasi waktu yang ditetapkan dengan tujuan untuk memperluas atau memperkaya perbendaharaan kompetensi.
  • Bimbingan dan latihan intrakurikuler dilakukan dalam kelas pada jadwal khusus, disesuaikan dengan kebutuhan, tidak harus dilaksanakan dengan jadwal tetap setiap minggu.
3) Bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakurikuler.
  • Kegiatan ekstrakurikuler bersifat pilihan dan wajib diikuti peserta didik.
  • Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
  • Jenis kegiatan ekstrakurikuler antara lain adalah:
    • Pramuka,
    • Olimpiade/Lomba Kompetensi Siswa,
    • Olahraga, – Kesenian
    • Karya Ilmiah Remaja,
    • Kerohanian, – Paskibra,
    • Pecinta Alam,
    • Palang Merah Remaja (PMR),
    • Jurnalistik,
    • Unit Kesehatan Sekolah (UKS),
    • Fotografi,
e. Melaksanakan Tugas Tambahan

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 24 ayat (7) menyatakan bahwa guru dapat diberi tugas tambahan sebagai kepala satuan pendidikan, wakil kepala satuan pendidikan, ketua program keahlian satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi. Selanjutnya, sesuai dengan isi Pasal 52 ayat (1) huruf e, guru dapat diberi tugas tambahan yang melekat pada tugas pokok misalnya menjadi pembina pramuka, pembimbing kegiatan karya ilmiah remaja, dan guru piket.


Sumber: Depdiknas. 2009.  Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas: Jakarta, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan


Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 13 December 2016

Pengertian Dari Menanya (Questioning), Fungsi Bertanya, Kriteria Pertanyaan Yang Baik, Dan Tingkatan Pertanyaan Dengan Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Menanya merupakan aktivitas / kegiatan bertanya yang berbentuk kalimat tanya merupakan kalimat yang mengandung makna sebuah pertanyaan. 

Arti Kalimat tanya adalah kalimat yang berisi pertanyaan / pernyataan kepada pihak lain yang bertujuan untuk memperoleh jawaban dari pihak yang ditanya.

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya.


Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik

Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri norma hukum? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri norma hukum!

Fungsi dari Bertanya, diantaranya :
  1. Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topikpembelajaran.
  2. Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
  3. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
  4. Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
  5. Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
  6. Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
  7. Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
  8. Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
  9. Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.


Kriteria Pertanyaan yang Baik, diantaranya :

1.   Singkat dan jelas. Contoh: 
  • Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang?
  • Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua ini lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama.

2.   Menginspirasi jawaban. Contoh: 
  • Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama, akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan.
  • Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul, jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?

Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta didik menjawab pertanyaan

3.   Memiliki fokus. Contoh: 

Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? 

Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. 

Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan sumber daya alam, dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain, peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai jawaban. Pertanyaan  yang luas seperti di atas dapat dipersempit, misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.

4.   Bersifat probing atau divergen. Contoh: 
  • Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta didik harus rajin belajar?
  • Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? 

Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh  peserta didik dengan Ya atau Tidak. Sebaliknya, pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya, yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.

5.   Bersifat validatif atau penguatan

Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik  yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu  dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama, sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda, namun sifatnya menguatkan. Contoh:

Guru                     : “Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”?
Peserta didik I      : “Karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja.”
Guru                     : “Siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
Peserta didik II     : “Karena lebih banyak diam ketimbang bekerja, orang yang malas tidak produktif”
Guru                      : “Siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
Peserta didik III  : “Orang malas tidak bertindak aktif, sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja, karena itu dia tidak produktif.”
Dan seterusnya.

6.   Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.

Untuk menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Karena itu, setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. 

Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: 
  • Apa faktor pepicu utama Belanda menjajah Indonesia?; 
  • Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? 

Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan, ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.

7.   Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif

Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi, seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif  yang lebih tinggi, seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini, seperti: apa, mengapa, bagaimana, dan seterusnya.

Tingkatan (level) Pertanyaan


Tingkatan-tingkatan pertanyaan, yaitu :

1.  Kognitif yang lebih rendah - Pengetahuan (knowledge) :
  • Apa...?
  • Siapa...?
  • Kapan...?
  • Di mana...?
  • Sebutkan...
  • Jodohkan atau pasangkan...
  • Persamaan kata...
  • Golongkan...
  • Berilah nama...
  • Dan lain-lain.

2.  Kognitif yang lebih tinggi - Analisis (analysis) :
  • Analisislah...
  • Kemukakan bukti-bukti…
  • Mengapa…?
  • Identifikasikan…
  • Tunjukkanlah sebabnya…
  • Berilah alasan-alasan…

3.  Sintesis (synthesis) :
  • Ramalkanlah…
  • Bentuk…
  • Ciptakanlah…
  • Susunlah…
  • Rancanglah...
  • Tulislah…
  • Bagaimana kita dapat memecahkan…
  • Apa yang terjadi seaindainya…
  • Bagaimana kita dapat memperbaiki…
  • Kembangkan…

4.  Evaluasi (evaluation) :
  • Berilah pendapat…
  • Alternatif mana yang lebih baik…
  • Setujukah anda…
  • Kritiklah…
  • Berilah alasan…
  • Nilailah…
  • Bandingkan…
  • Bedakanlah…

5.  Mengevaluasi :
  • Temukan inkonsistensi atau kesalahan…
  • Tentukan apakah suatu proses/produk memiliki konsistensi…
  • Temukan efektivitas suatu prosedur…

6.  Mencipta :
  • Buatlah hipotesis berdasarkan kriteria …
  • Rencanakan (proposal) penelitian tentang…
  • Ciptakan/buat suatu produk…


Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Mengamati (Observation) – Langkah Observasi, Jenis / Bentuk Keterlibatan Peserta Didik Dalam Observasi, dan Prinsip Observasi Pembelajaran Kurikulum 2013

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pengamatan atau observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.

Di dalam penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.


Metode mengamati / observasi mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning).

Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.

Dalam pelaksanaannya, proses mengamati memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.

Namun metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik karena peserta didik yang terlibat dalam proses mengamati akan dapat menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Langkah-Langkah Mengamati / Observasi adalah :
  1. Menentukan objek apa yang akan diobservasi
  2. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
  3. Menentukan  secara jelas  data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
  4. Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
  5. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
  6. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

Jenis Jenis Observasi, di antaranya:
  1. Observasi biasa (common observation). 
  2. Observasi terkendali (controlled observation). 
  3. Observasi partisipatif (participant observation). 
  4. Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
  5. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.
  6. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

Kegiatan observasi  dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi :

1.   Observasi biasa (common observation)

Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran,peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati.

2.   Observasi terkendali (controlled observation)

Seperti halnya observasi biasa, pada observasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Mereka juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada observasi terkendalipelaku atau objek  yang diamati ditempatkan pada ruang atau            situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen  atas diri pelaku atau objek yang diobservasi.

3.   Observasi partisipatif (participant observation)

Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk  mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.

Selama proses pembelajaran, peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. Kedua cara pelibatan dimaksud  yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur, seperti dijelaskan berikut ini :

1.   Observasi berstruktur

Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, fenomena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru.

2.   Observasi  tidak berstruktur

Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Dalam kerangka ini, peserta didik membuat catatan, rekaman, atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek, objektif, atau situasi yang diobservasi.

Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran adalah :

1.   Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran.

2.   Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek, objek, atau situasi yang diobservasi. Makin banyak dan hiterogensubjek, objek, atau situasi yang           diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. Sebelum obsevasi dilaksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.

3.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, direkam, dan sejenisnya,  serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi



Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Definisi & Contoh Model Pembelajaran Kolaboratif Kurikulum 2013, Serta Langkah-Langkah Penerapan Model Pembelajaran Card Sort, Tim Siswa Kelompok Prestasi, Jigsaw, Group Investigation, Circ, Dan Inkuiri Dasar

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pembelajaran Kolaboratif atau Collaborative Learning adalah situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama.

Tidak seperti belajar sendirian, orang yang terlibat dalam collaborative learning memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dll).


Lebih khusus, collaborative learning didasarkan pada model di mana pengetahuan dapat dibuat dalam suatu populasi di mana anggotanya secara aktif berinteraksi dengan berbagi pengalaman dan mengambil peran asimetri (berbeda).

Dengan kata lain, collaborative learning mengacu pada lingkungan dan metodologi kegiatan peserta didik melakukan tugas umum di mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain.

Hal ini juga termasuk percakapan dengan tatap muka dan diskusi dengan komputer (forum online, chat rooms, dll.). Metode untuk memeriksa proses collaborative learning meliputi analisis percakapan dan analisis wacana statistik.

Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.

1.   Guru dan peserta didik saling berbagi informasi,
2.   Berbagi tugas dan kewenangan,
3.   Guru sebagai mediator,
4.   Kelompok peserta didik yang heterogen.

Contoh - Contoh Pembelajaran Kolaboratif


A. Model Pembelajaran Card Sort (Sortir Kata)

Guru ingin mengajarkan tentang konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).  Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini :
  1. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
  2. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
  3. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekannya.
  4. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Sortir Kata / Card Sort :
  1. Motivasi
  2. Membagi kertas berisi tulisan secara acak
  3. Menempelkan induk tulisan di papan tulis
  4. Mengelompokkan siswa sesuai kelompok
  5. Menyesuaikan dengan induk kata
  6. Presentasi 
Kartu disimpan di atas meja, siswa di suruh ke depan satu persatu, dan mencocokkan anak kata dengan kuncinya.

B. Model Pembelajaran Tim Siswa Kelompok Prestasi (Student Teams Achievement Divisions / Stad)

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Tim Siswa Kelompok Prestasi (Student Teams Achievement Divisions / STAD) adalah  :
  1. Menyajikan pelajaran (presentasi).
  2. Belajar dalam tim:
    • Bagi siswa dalam kelompok (terbagi habis).
    • Tugaskan untuk menguasai materi yang telah dipresentasikan.
    • Bagikan LKS aatu materi lain.
    • Anjurkan pada tiap tim bekerja dalam duaan atau tigaan (anjurkan saling mengecek)
    • Beri penekanan, mereka tidak boleh mengakhiri sebelum yakin seluruh anggota paham/menjawab benar 100%.
    • Pastikan siswa memahami bahwa LKS itu untuk belajar – bukan hanya untuk diisi dan dikumpulkan.
    • Berikan lembar kunci jawaban LKS.
    • Berikan kesempatan saling menjelaskan jawaban, tidak hanya mencocokkan.
    • Bila ada pertanyaan, mintalah dulu kepada teman, baru ke guru.
    • Pada saat siswa bekerja dalam tim, berikan penguatan.
  3. Berikan kuis:
    • Beri waktu cukup.
    • Jangan biarkan bekerjasama.
    • Kumpulkan hasil atau mintalah bertukar jawaban (memeriksa hasil).
  4. Buatlah skor individu dan skor tim.
  5. Pengakuan kepada prestasi tim.

C. Model Pembelajaran Jigsaw (Model Tim Ahli)

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Tim Ahli / Jigsaw, yaitu :
  1. Siswa dikelompokkan (4 orang).
  2. Setiap siswa diberi materi yang berbeda.
  3. Setiap siswa membaca tugas bagiannya.
  4. Siswa yang memiliki nomor sama berkumpul dalam satu kelompok (tim ahli).
  5. Siswa kembali ke kelompok semula.
  6. Secara bergantian mempresentasikan hasil jawaban tim ahli kepada teman lainnya, semua anggota kelompok mencatat hasil.
  7. Kesimpulan – penguatan dari guru

Pelaksanaan teknik Jigsaw dalam kegiatan pembelajaran:
  1. Menginformasikan kompetensi dasar secara jelas.
  2. Menginformasikan tema/topik ………………. disertai penjelasan singkat atau meminta  siswa mengamati, membaca, dan lain-lain, yang sama sesuai tema/ topik ...…………
  3. Menempatkan siswa secara heterogen dalam kelompok kecil (kelompok koopratif):
    • Kelas dibagi menjadi ……….. kelompok.
    • Tiap kelompok terdiri dari ………. siswa.
  4. Menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa:
    • Tugas individu sebanyak …….. tugas (sesuai jumlah siswa tiap kelompok).
    • Tugas kelompok sebanyak ……… tugas (sesuai jumlah kelompok).
  5. Meminta siswa menemui anggota kelompok lain yang mempunyai tugas individu yang sama  untuk:
    • Belajar bersama.
    • Menjadi ahli informasi.
    • Merencanakan cara memberikan informasi.
  6. Meminta siswa untuk kembali ke kelompok kooperatif (………. serangkai):
    • Berbagai informasi (sesuai tugas individu).
    • Mengerjakan tugas kelompok.
  7. Meminta kelompok menginformasikan hasil tugas kelompok dilanjutkan tanggapan dari kelompok lain.
  8. Pembenaran/pelurusan hasil kerja kelompok.

D. Model Pembelajaran Group Investigation (Sharan, 1992)

Model pembelajaran Group Investigation merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Langkah-langkah penerapannya adalah :
  1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen 
  2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok 
  3. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
  4. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif  yang bersifat penemuan 
  5. Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok 
  6. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan 
  7. Evaluasi
  8. Penutup


EModel Pembelajaran Cooperative Integrated Reading  And Composition (Circ) Kooperatif Terpadu Membaca Dan Menulis (Steven & Slavin, 1995)

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading  And Composition (CIRC)  :
  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  3. Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas
  4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama
  6. Penutup 


F. Model Pembelajaran Inkuiri Dasar

Langkah-langkah pembelajaran Inkuiri Dasar, yaitu :
  1. Pengalaman awal : Kegiatan eksplorasi.
  2. Pertanyaan : Mengajukan pertanyaan dan pembelajaran dikembangkan seputar pertanyaan.
  3. Alternatif : Mengusulkan sejumlah alternatif yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan (alternatif jawaban yang lain juga mungkin muncul pada tahap pengumpulan data selanjutnya.
  4. Data : Mengumpulkan data setiap alternatif jawaban yang diajukan.
  5. Sintesis :Menarik kesimpulan dengan memilih alternatif jawaban terbaik atas pertanyaan yang dikaji.
  6. Menilai kesimpulan : Menilai/mengukur apakah kesimpulan itu bisa menjawab pertanyaan  dengan   pas.
  7. Mengemukakan kesimpulan : Menyusun laporan dan presentasi kesimpulan.




Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Langkah-Langkah Pembelajaran Scientific / Saintifik Dengan Pendekatan Ilmiah Pada Kurikulum 2013 : Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, dan Membentuk Jejaring

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

A. MENGAMATI (OBSERVING)

Metode mengamati / observasi mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Dalam pelaksanaannya, proses mengamati memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.


Namun metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik karena peserta didik yang terlibat dalam proses mengamati akan dapat menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.


B. MENANYA (QUESTIONING)

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya.

Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik

Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri norma hukum? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri norma hukum!


3. MENALAR (ASSOCIATING)

Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata emiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.  

Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. 

Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara :
  1. Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.
  2. Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
  3. Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau   hierarkis, dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
  4. Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
  5. Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki.
  6. Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.
  7. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
  8. Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.


4. MENCOBA (EKSPERIMEN / EXPERIMENTING)

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. 

Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. 

Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: 

1.   menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;
2.   mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; 
3.   mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; 
4.   melakukan dan mengamati percobaan; 
5.   mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;
6.   menarik simpulan atas hasil percobaan; 
7.   membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.

Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka : 

1.   Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid 
2.   Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan 
3.   Perlu memperhitungkan tempat dan waktu 
4.   Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid 
5.   Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen 
6.   Membagi kertas kerja kepada murid
7.   Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan 
8.   Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. 

5. MEMBENTUK JEJARING PEMBELAJARAN / PEMBELAJARAN KOLABORATIF (NETWORKING)

Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. 

Untuk mengetahui definisi & contoh model pembelajaran kolaboratif Kurikulum 2013, serta langkah-langkah penerapan model pembelajaran Card Sort, Tim Siswa Kelompok Prestasi, Jigsaw, Group Investigation, CIRC, dan Inkuiri Dasar selengkapnya, silahkan baca pada artikel selanjutnya.

Demikian share singkat mengenai langkah-langkah pembelajaran pada implementasi kurikulum 2013. Semoga bermanfaat dan terimakasih.



Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Peran Guru Dengan Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Dalam implementasi kurikulum 2013, guru tidak hanya sekedar membiarkan peserta didik memperoleh/mengkonstruk pengetahuan sendiri, namun guru memberi setiap bantuan yang diperlukan oleh peserta didik, seperti : bertindak sebagai fasilitator, mengatur/mengarahkan kegiatan-kegiatan belajar, memberi umpan balik, memberikan penjelasan, memberi konfirmasi, dan lain-lain.


Peran guru dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik  pada implementasi kurikulum 2013 adalah sebagai berikut :

1. Tahap mengamati

Membantu peserta didik menemukan/mendaftar/menginventarisasi apa saja yang ingin/perlu diketahui sehingga dapat melakukan/menciptakan sesuatu.

2. Tahap Menanya

Membantu peseserta didik merumuskan pertanyaan berdasarkan daftar hal-hal yang perlu/ingin diketahui agar dapat melakukan/menciptakan sesuatu. 

3. Tahap Mencoba/mengumpulkan data (informasi)

Membantu peserta didik merencanakan dan memperoleh data/informasi untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan. 

4. Tahap Mengasosiasikan/menganalisis/mengolah data (informasi)

Membantu peserta didik mengolah/menganalisis data/informasi dan menarik kesimpulan.

5. Tahap Mengkomunikasikan

Manager, pemberi umpan balik, pemberi penguatan, pemberi penjelasan/ informasi lebih luas.

6. Tahap Mencipta

memberi contoh/gagasan, menyediakan pilihan, memberi dorongan, memberi penghargaan, sebagai anggota yang terlibat langsung.



Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Pengertian/Definisi Pendekatan Saintifik, Prinsip Pembelajaran Dan Langkah-Langkah Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.



Kurikulum 2013 mengembangkan sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik (Permendikbud Nomor 54/2013). Bagaimana Kurikulum 2013 memfasilitasi peserta didik memperoleh nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan secara berimbang?, bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan?


Prinsip-prinsip kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik kurikulum 2013, yakni :
  1. peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;
  2. peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
  3. proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah;
  4. pembelajaran berbasis kompetensi;
  5. pembelajaran terpadu;
  6. pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi;
  7. pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;
  8. peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills;
  9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
  10. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (Ing Ngarso Sung Tulodo), membangun kemauan (Ing Madyo Mangun Karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (Tut Wuri Handayani);
  11. pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
  12. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
  13. pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budaya peserta didik; dan
  14. suasana belajar menyenangkan dan menantang. 


Berikut contoh kegiatan belajar dan deskripsi langkah-langkah pendekatan saintifik pada pembelajaran kurikulum 2013 adalah:

1.  Mengamati

membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat) untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui - Mengamati dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat.

2.   Menanya

mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati - Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi.

3.   Mencoba/mengumpulkan data (informasi)

melakukan eksperimen, membaca sumber lain dan buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas, wawancara dengan narasumber - Mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan.

4.   Mengasosiasikan/mengolah informasi

SISWA mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi - mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau  menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.

5.   Mengkomunikasikan

SISWA menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya - menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan.

6.  (Dapat dilanjutkan dengan) Mencipta

SISWA menginovasi, mencipta, mendisain model, rancangan, produk (karya) berdasarkan pengetahuan yang dipelajari.



Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 11 December 2016

Metode Pembelajaran Demonstrasi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

A.  Pengertian atau Definisi Metode Demonstrasi

Metode  demonstrasi   merupakan metode mengajar yang sangat efektif, sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta yang benar. Demonstrasi yang dimaksud ialah suatu metode mengajar yang memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu.

Demonstrasi adalah peragaan atau pertunjukan untuk menampilkan suatu proses terjadinya peristiwa. Menurut Rusminiati (2007: 2) metode demonstrasiadalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa, pada sampai penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat dipahami peserta didik baik secara nyata maupun tiruan. Winarno (Moedjiono, 2005: 73) metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta untuk memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas.


Syaiful, 2008:210 menyatakan bahwa Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya 

Metode demonstrasi adalah salah satu metode – untuk menunjukan siswa untuk melihat apa yang dikerjakan. – Jadi demonstrasi adalah cara mengajar guru dengan menunjukan atau memperlihatkan suatu proses sehingga siswa dapat melihat, menghormati, mendengar, meraba-raba dan merasakan proses yang dipertunjukan oleh guru. ( Drs. M. Subana dan Sunarti. 2008 : 110- 112).

Menurut Muhibbin Syah (2000:22).Metode demonstrasi adalah metodemengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan” 


Sedangkan menurut Aminuddin Rasyad (2006: 8) mengemukakan metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan meragakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di hadapan murid di kelas atau di luar kelas.

Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukan suatu benda atau cara kerja sesuatu. Benda itu berupa benda sebenarnya atau suatu model. Hal-hal lain yang dapat dipertunjukan adalah cara menggunakan alat atau serangkaian percobaan yang terakhir ini dilakukan bila alat-alat yang digunakan itu jumlahnya tidak memadai atau percobaan itu mengandung hal-hal yang berbahaya atau ada alat yang mudah pecah. Dalam metode ini antara lain dapat dikembangkan kemampuan siswa untuk mengamati, menggolongkan, menarik kesimpulan, menerapkan konsep, prinsip atau prosedur dan mengkomunikasikannya kepada siswa-siswa lain. Demonstrasi dapat dilakukan oleh guru atau siswa yang sudah dilatih sebalumnya. (Depdikbud 1994/ 1995 : 50-51). 

Metode  demontrasi  juga merupakan  metode  mengajar  yang  cukup  efektif sebab  membantu  para  siswa  untuk  memperoleh  jawaban  dengan mengamati suatu proses atau peristiwa tertentu.  

B.  Ciri-Ciri Metode Demonstrasi
  1. Guru melakukan percobaan.
  2. Bertujuan agar siswa mampu memahami cara mengatur atau menyusun sesuatu.
  3. Bila siswa melakukan sendiri demonstrasi, mereka akan lebih berhasil, lebih mengerti dalam menggunakan sesuatu. alat.
  4. Siswa dapat memilih dan memperbandingkan cara terbaik. ( Drs.M. Subana dan Sunarti. 2008: 110-112).

C.  Tujuan dan Manfaat Metode Demonstrasi

Adapun Tujuan pengunaan metode demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk memperlihatkan proses terjadinya suatu peristiwa sesuai materi ajar, cara pencapaiannya dan kemudahan untuk dipahami oleh siswa dalam pengajarn kelas. Metode demonstrasi mempunyai beberapa kelebihan dan kelekurangan.

Metode demonstrasi sangat baik digunakan untuk mendapatkan deskripsi atau gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proes mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara engan cara lain dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.  Dengan demikian manfaaat penerapan metode demonstrasi adalah untuk 1) Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan; 2) Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari; 3) Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa. 

D.  Cara Penyajian Metode Demonstrasi

Demonstrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan penjelasan lisan. Demonstrasi akan menjadi aktif jika dilakukan dengan baik oleh guru dan selanjutnya dilakukan oleh siswa. Metode ini dapat dilakukan untuk kegiatan yang alatnya terbatas tetapi akan dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang oleh siswa.

Berikut ini Cara Penyajian Metode Demonstrasi
  1. Guru menyusun tujuan instruktursional untuk memberi motivasi yang kuat pada siswa untuk belajar.
  2. Guru mem pert 1 mbangkan bahwa pilihan teknik yang digunakannya mampu menjamin tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
  3. Guru mengamati apakah jumlah siswa memberi kesempatan untuk siswa demonstrasi yang berhasil. Bila tidak, is harus mengambil kebijaksanaan lain.
  4. Guru meneliti alai dan van yang akan digunakan mengenai jumlah, kondisi, dan tempatnya. Disamping itu, ia juga mengenal balk-balk atau mencoba terlebih dahulu agar demonstrasi yang dijalankannya dapat berhasil.
  5. Guru mampu menentukan garis besar langkah-langkah yang akan di lakukan.
  6. Guru meyakini tersedia waktu yang cukup sehingga dapat memberi keterangan bila perlu dan siswa bisa bertanya.
  7. Selama demonstrasi berlangsung guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk mengamati dengan balk dan bertanya.
  8. Guru perlu mengadakan evaluasi apakah demonstrasi yang dilakukan itu berhasil. Bila perlu demonstrasi bisa diulang. ( Drs.M. Subana dan Sunarti. 2008: 110-112).

E.  Keuntungan/ Kelebihan Metode Demontrasi

Berikut ini Keuntungan/ Kelebihan Metode Demontrasi
  1. Perhatian siswa lebih terpusat pada pelajaran yang sedang diberikan.
  2. Kesalahan yang terjadi bila dipelajaran ini diceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh kongkret.
  3. Kesan yang diterima siswa lebih mendalam dan tinggal lebih lama.
  4. Siswa dapat berpartisipasi aktif dan memperoleh pengalaman langsung serta dapat mengembangkan kecakapannya.
  5. Menghindari verbalisme.  
  6. Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari. 
  7. Proses pengajaran lebih menarik. 
  8. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara     teori dengan kenyataan dan mencoba melakukannya sendiri. 

F.  Kelemahan Metode Demonstrasi

Berikut ini Kelemahan Metode Demonstrasi
  1. Alat yang terlalu kecil atau penempatan yang kurang tepat menyebabkan demontrasi tidak dapat dilihat oleh siswa.
  2. Guru harus menjalankan kelangsungan demonstrasi dengan bahasa clan suara yang dapat ditangkap oleh siswa.
  3. Bila waktu sempit, demontrasi akan berjalan terputus-putus atau dijalankan tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak memuaskan.
  4. Bila siswa tidak diikutsertakan, proses demonstrasi akan kurang dipahami. (M. Subana dan Sunarti, 2008:112)
  5. Memerlukan keterampilan guru secara khusus.  
  6. Membutuhkan fasilitas yang memadai (barang atau alat yang akan didemontrasikan).  
  7. Membutuhkan waktu yang lama.  


G.  Langkah Metode Pembelajaran Demonstrasi

Metode domonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Demonstrasidapat digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam pelaksanaan demonstrasiguru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan dan mengamati terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Sebelumnya proses demonstrasi guru sudah mempersiapkan alat – alat yang digunakan dalam demonstrasi tersebut.

Menurut Hasibuan dan Mujiono (2006: 31) langkah-langkah metodePembelajaran demonstrasi adalah sebagai berikut: 
  1. Merumuskan dengan jelas kecakapan dan atau keterampilan apa yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan.
  2. Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar dipergunakan, dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan. 
  3. Alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi itu bisa didapat dengan mudah, dan sudah dicoba terlebih dahulu supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal. 
  4. Jumlah siswa memungkinkan untuk diadakan demonstrasi dengan jelas. 
  5. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan dilaksanakan, sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada waktunya. 
  6. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaanpertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi. 
  7. Selama demonstrasi berlangsung, hal-hal yang harus diperhatikan: 
    • Keterangan-keterangan dapat didengar dengan jelas oleh siswa.
    • Alat-alat telah ditempatkan pada posisi yang baik, sehingga setiap siswa dapat melihat dengan jelas.
    • Telah disarankan kepada siswa untuk membuat catatan-catatan seperlunya.


Dengan memperhatikan Langkah dalam Kegiatan Belajar Mengajar, Langkah-langkah yang ditempuh dalam menggunakan metode demonstrasi adalah sebagai berikut:
  1. Perencanaan
    • Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir
    • Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
    • Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan
  2. Pelaksanaan
    • Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.  
    • Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik.
    • Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
    • Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik.
    • Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan pertanyaan.
    • Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang harmonis.
  3. Penilaian atau Evaluasi
    • Kegiatan Penilaian atau Evaluasi dalam  pembelajaran yang menggunakan metode demonstrasi berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan

Hal-hal yang perlu diperhatikan agar penerapan metode demonstrasi dapat berjalan dengan baik adalah sebagai berikut :
  1. Persiapkan alat-alat yang diperlukan.
  2. Guru menjelaskan kepada anak-anak apa yang direncanakan dan apa yang akan dikerjakan.
  3. Guru mendemonstrasikan kepada anak-anak secara perlahan-lahan, serta memberikan penjelasan yang cukup singkat.
  4. Guru mengulang kembali selangkah demi selangkah dan menjelaskan alasan alasan setiap langkah.
  5. Guru menugaskan kepada siswa agar melakukan demonstrasi sendiri langkah demi langkah dan disertai penjelasan.




Sumber https://www.gurumapel.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.