Senja itu datang seperti biasa, pelan dan hangat. Langit berwarna jingga, seolah menyimpan cerita yang tak sempat diucapkan. Aku melangkah menuju rumahnya, rumah yang selama ini terasa seperti tujuan, tempat di mana harapan tumbuh diam-diam di dalam hati.
Tanganku sempat ragu mengetuk pintu. Entah kenapa, hari itu terasa berbeda. Ada perasaan tak tenang yang sulit dijelaskan.
Pintu terbuka.
Bukan dia yang menyambutku, melainkan ibunya. Senyumnya ramah seperti biasa, tapi entah mengapa terasa asing di mataku hari itu.
“Masuk, Nak,” ucapnya pelan.
Aku duduk di ruang tamu, menunggu. Mataku sesekali menatap ke arah pintu dalam, berharap dia muncul dengan senyum yang selama ini menjadi alasan aku bertahan.
Namun yang datang justru kata-kata yang tak pernah aku duga.
“Ia sudah dilamar… dan insyaAllah akan segera menikah.”
Kalimat itu sederhana. Tenang. Bahkan diucapkan tanpa beban. Tapi bagiku, kalimat itu seperti petir yang menyambar di tengah langit cerah.
Aku terdiam.
Sejenak dunia terasa berhenti. Suara jam di dinding seolah mengeras, berdetak lebih keras dari biasanya. Nafasku terasa berat, seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.
Aku ingin bertanya. Ingin memastikan. Ingin menyangkal.
Tapi bibirku kelu.
Dalam diam, aku mencoba tersenyum. Senyum yang kupaksakan agar tidak terlihat betapa hancurnya hatiku saat itu.
“Oh… begitu ya, Bu…” hanya itu yang mampu keluar.
Di dalam hati, ribuan pertanyaan berteriak: Kenapa aku tidak tahu? Kenapa tidak pernah dia bilang? Selama ini… aku ini apa?
Aku datang dengan harapan. Dengan langkah yang selama ini kupikir sedang menuju sesuatu. Tapi ternyata, aku hanya berjalan sendirian—tanpa pernah benar-benar ada di tujuan itu.
Senja di luar masih sama indahnya.
Tapi tidak dengan hatiku.
Aku pamit pulang lebih cepat dari biasanya. Langkahku terasa ringan, tapi kosong. Seperti tubuh berjalan tanpa jiwa.
Di sepanjang jalan, kenangan tentangnya datang silih berganti—tawa kecilnya, cara dia menatap, dan semua harapan yang diam-diam telah kubangun.
Kini semuanya runtuh… hanya dengan satu kalimat.
Aku sadar, mungkin aku datang terlambat. Atau mungkin, aku memang tidak pernah menjadi bagian dari cerita yang ia tulis.
Malam itu, aku belajar satu hal yang paling sulit dalam mencintai:
Di bawah langit yang mulai gelap, aku berhenti sejenak.
Menatap kosong ke arah yang entah.

















































