Di antara rimbun pohon jati, angin berdesir pelan seperti
bisikan lama yang pernah akrab di telinga. Di sanalah Sauqi berdiri, menatap
langit desa yang begitu luas—jauh berbeda dengan langit kota yang selama ini
menaunginya.
Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan tempat ini. Desa kecil
yang dulu ia anggap terlalu sempit untuk mimpi-mimpinya. Ia pernah percaya
bahwa kebahagiaan ada di gemerlap lampu kota, pada gedung-gedung tinggi, dan
pada kesibukan yang tak pernah tidur.
Dulu, dengan penuh keyakinan, ia melangkah pergi.
Meninggalkan sawah, meninggalkan suara adzan yang mengalun
lembut dari surau kecil, bahkan meninggalkan dirinya sendiri yang sederhana dan
penuh syukur.
Di kota, Sauqi mendapatkan segalanya—atau setidaknya, itulah
yang ia kira.
Pekerjaan mapan, pakaian rapi, dan kehidupan yang terlihat
sempurna dari luar.
Namun, setiap malam, ketika lampu kamar dipadamkan, ada
kehampaan yang tak bisa ia jelaskan.
Sunyi kota terasa dingin. Terlalu dingin.
Hingga suatu malam, dalam lelah yang menumpuk, ia
tersadar—bahwa yang ia kejar selama ini hanyalah bayangan. Ia kehilangan arah,
kehilangan rasa, dan perlahan… kehilangan Tuhan dalam setiap langkahnya.
Kini, ia kembali.
Langkahnya pelan menyusuri jalan tanah yang dulu sering ia
lewati tanpa makna. Aroma tanah basah menyambutnya seperti pelukan ibu yang
lama ditinggalkan.
Ia berhenti di bawah pohon jati tua—tempat ia dulu sering
duduk, membaca, atau sekadar merenung.
Angin lembah berhembus, membawa suara yang seakan berkata:
"Pulanglah…"
Sauqi menutup mata. Dadanya sesak, bukan karena lelah, tapi
karena rindu yang selama ini ia pendam.
“Aku terlalu jauh pergi…” bisiknya lirih.
Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian
lama, ia tidak malu menangis.
Langkahnya kemudian menuju surau kecil di ujung desa.
Bangunannya masih sama—sederhana, bahkan mungkin lebih rapuh. Namun, di situlah
dulu ia menemukan ketenangan yang kini sangat ia rindukan.
Ketika suara adzan berkumandang, hatinya bergetar.
Bukan karena suara itu asing—melainkan karena ia terlalu
lama menjauhinya.
Sauqi melangkah masuk.
Duduk.
Menunduk.
Dan di sanalah, dalam sujud yang lama ia tinggalkan, ia
akhirnya benar-benar pulang.
“Ya Allah… jika Engkau masih menerima hamba… aku ingin
kembali…”
Tangisnya pecah.
Namun kali ini, bukan tangis kehilangan—melainkan tangis
pertemuan.
Sejak hari itu, Sauqi tidak lagi mencari gemerlap yang
membutakan. Ia memilih hidup sederhana, dekat dengan tanah yang membesarkannya,
dan lebih dekat lagi dengan Tuhan yang tak pernah meninggalkannya.
Ia belajar bahwa rumah bukan hanya tempat—tetapi keadaan
hati yang kembali tenang.
Dan di antara rimbun pohon jati, ia akhirnya menemukan teduh
yang sejati.
Bukan di kota.
Bukan di dunia.
Melainkan… dalam perjalanan kembali kepada-Nya.







































































