Sunday, 25 October 2026

Lagu - Maaf, Aku Tak Datang ke Reuni, Karya: Khoirul Taqwim

 


Maafkan aku tak pernah hadir

Di antara tawa yang kau ukir

Bukan tak rindu, bukan menghindar

Hanya hatiku belum benar


Bangku kayu itu masih sama

Menyimpan cerita kita berdua

Namamu tertinggal di sana

Di sudut kelas dan air mata


Bukan karena aku tak cinta

Bukan karena tak ada rasa

Aku hanya takut terluka

Saat mata kita kembali bicara


Kau punya dunia yang berbeda

Aku pun hidup dengan cara

Biarlah kenangan jadi doa

Tak semua rindu harus bersama


Kupilih diam sebagai pelarian

Kupilih jauh demi ketenangan

Sebab jika aku berdiri di sana

Mungkin runtuh semua yang kupendam lama


Reuni hanyalah temu raga

Sedang jiwaku belum siap bersua

Ada luka yang belum selesai

Meski waktu sudah pandai menipu damai


Kukubur rasa dalam lagu

Kuabadikan namamu dalam puisi bisu

Jika kau dengar suaraku suatu waktu

Itulah aku… yang tak mampu bertemu


Bukan karena aku tak cinta

Bukan karena tak ada rasa

Aku hanya menjaga luka

Agar tak berdarah kembali nyata


Kau dengan dunia pilihanmu

Aku dengan jalanku yang baru

Biarlah hidup terus melaju

Tanpa harus kembali ke waktu itu

Lagu - Luka yang Masih Mengingatmu, Karya: Khoirul Taqwim

 


Aku melihatmu berjalan bersamanya,

Ada senyum yang dahulu pernah kukenal,

Ada bahagia yang kini bukan lagi milikku,

Namun entah mengapa, hatiku terasa begitu pilu.


Berpuluh-puluh tahun kita tak berjumpa,

Waktu telah membawa kita ke jalan berbeda,

Kukira semua telah selesai bersama senja,

Ternyata namamu masih menyisakan luka.


Aku mencoba mengikhlaskan segala cerita,

Menerima takdir yang tak memilih kita,

Namun hari ini, saat kulihat engkau dengannya,

Ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.


Apakah cinta memang sekejam itu?

Menyimpan kenangan meski waktu telah berlalu,

Mengajarkan hati untuk melepaskan seseorang,

Tetapi membiarkan rasa sakit datang berulang.


Wahai pujangga, benarkah katamu dahulu?

Bahwa bahagia yang terlalu dalam menyimpan rindu,

Jika suatu hari perpisahan datang menyapa,

Lukanya bisa menetap sepanjang usia.


Namun kini aku mulai memahami,

Tak semua yang hilang harus kembali,

Tak semua yang pernah dicintai harus dimiliki,

Dan tak semua air mata berarti gagal mengikhlasi.


Pergilah, jika bahagiamu memang bersamanya,

Aku tak akan mengusik indahnya cerita,

Biarlah luka ini menjadi rahasia jiwa,

Sebab pernah mencintaimu adalah bagian dari hidupku

LAGU DUET — Duh Perempuan di Sana, Karya: Khoirul Taqwim

 



Duh perempuan yang ada di sana, saat kau menolak cintaku perlahan,

Sebenarnya hari itu kau melepaskan, seorang lelaki yang mencintaimu diam-diam.


Bukan aku tak merasakan getaran, hanya waktu belum memihak harapan.


Cinta kadang harus merelakan, meski hati masih ingin bertahan.


Tahukah engkau saat menolak rasa, aku pergi tanpa suara.

Karena lelaki jika patah hatinya, memilih diam dan menghilang selamanya.


Aku tak pernah tahu sedalam itu luka yang kau jaga.


Seperti angin malam pergi tiba-tiba, meninggalkan sunyi di udara.


Saat engkau berkata tidak, aku mengerti batasnya dunia kita.

Karena cinta yang tak diterima harus belajar menyerah.


Aku pun kehilangan sesuatu, meski tak mampu menahannya.


Kita berpisah seperti dua arah yang tak pernah bersua.


Engkau telah kehilangan lelaki yang mencintaimu tulus di dada.

Karena aku tak akan datang lagi walaupun cuma sekejap mata.


Andai waktu memberi ruang, mungkin aku takkan membiarkanmu pergi.


Namun langkah sudah berbeda, kita hanyut di sungai takdir masing-masing.


Aku pergi bukan karena takut, tapi karena cinta tak boleh memaksa.


Dan aku tinggal dengan diamku, menyimpan nama yang pernah singgah.


Kita sama-sama terluka, hanya cara kita berbeda.


Aku berlari menuju hidup yang baru, membawa sisa kenanganmu.


Aku berdiri menatap malam, bertanya apakah aku terlalu cepat melepasmu.


Namun semua sudah terjadi, waktu tak bisa kembali.


Duh wanita di sana, kau kehilangan embun sebelum matahari tiba.


Dan aku kehilangan bayangmu, sebelum sempat kubilang aku juga cinta.


Lagu Sufistik — Neraka Hati Menuju Ilahi, Karya: Khoirul Taqwim

 


Di sepertiga malam kusebut namamu,

Bersujud pilu kepada Sang Maha Tahu,

Kusangka dirimu takdir yang dititipkan,

Ternyata hanya jalan menuju penghambaan.


Kulihat kau bersanding dalam akad suci,

Sementara hatiku luruh tak terperi,

Kau berlabuh di dermaga cinta insan,

Aku karam dalam samudra kehilangan.


Kusebut ini ujian dari Ilahi,

Namun nafsuku masih enggan memahami,

Lisan berzikir, tetapi hati terbelenggu,

Menyembah kenangan yang bukan milikku.


Ya Rabb, neraka ini begitu sunyi,

Api kerinduan membakar relung hati,

Setiap helaan napas membawa namanya,

Kapan jiwaku bebas dari bayangannya?


Baru kusadari dalam fana dunia,

Tiada yang abadi selain Dia,

Cinta kepada makhluk dapat berpisah,

Cinta kepada-Mu tak pernah berpindah.


Luruhkan egoku di hadapan-Mu,

Sucikan rinduku dari belenggu nafsu,

Bila kehilangan mendekatkanku kepada-Mu,

Jadikan air mata jalan mengenal-Mu.


Kini kuserahkan segala ketentuan,

Tak lagi kupaksa kehendak kehidupan,

Jika dia bukan takdir untuk kumiliki,

Biarlah cintaku kembali kepada Ilahi.


Allah, Allah, dengarlah rintihan jiwa,

Yang tersesat mencari cinta manusia,

Bimbinglah hati menuju hakikat cinta,

Hingga fana diriku, kekal kasih-Mu selamanya.

PEMBELAJARAN BERMAKNA : UBAH GURUNYA DULU, BARU MURIDNYA.

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Guru hampir tak bisa pernah lelap tidur, zaman berputar, dan teknologi selalu mati muda. Itulah yang terjadi ketika manusia menggunakan “mesin dahsyatnya”, berupa otak yang cerdik untuk selalu dan selalu berkreasi, inovasi ke dalam ranah teknologi.
Pembelajaran dengan segenap metodenya, yang beriringan dengan modelnya penyajian, adalah salah satu serpihan teknologi, yakni teknologi pembelajaran. Kini karya-karya unggul bidang pembelajaran muncul, konsekuensinya adalah lahirlah terminology alias istilah-istilah baru. Dalam proses pembelajaran, dari paradigma, model dan penerapannya, juga disentuh oleh kemajuan itu. Akhirnya orang mengenal istilah-istilah ini, mulai dari Quantum Teaching, Quantum Learning, Cooperative Learning, hingga Contextual Teaching Learning. Istilah yang kadang bikin pening, kadang pula juga mengundang tanggapan miring, adalah suatu realita yang menuntut adanya daya suai bagi profesi Guru. Rupanya hal itu menuntut suatu keharusan, dengan kata lain, Guru harus berubah. Pertanyaannya sudah siapkah sang Guru, merubah beton-beton mental yang telah lama membatu, dan sudah menjadi jati diri.

Teknologi secanggih apa pun tak akan mampu diaplikasi, ketika manusia sebagai aktornya enggan merubah mentalitasnya.
Hari ini kita dalam wahana sosialisasi, yang akan mengangkat sebuah materi pembelajaran bermakna, namun jika mentalitas kita memberi jawaban enggan berubah, maka wahana sosialisasi ini tidak memiliki arti.
MENGUBAH MENTALITAS YANG TERLANJUR BEKU & MEMBATU

Hadirnya sesuatu yang baru, serta merta membelah sikap mental seorang-orang, ada yang setuju, ada yang pula menggerutu. Sosialisasi kalau ini memiliki maksud untuk menjebatani belahan sikap tadi. Seperti lahirnya “PEMBELAJARAN BERMAKNA”, yang kini akan kita dicerna bersama, kita kunyah-kunyah berjama’ah. Kadang mengundang pertanyaan yang sangat menyeramkan, apakah selama ini pembelajaran tidak bermakna ?. Apakah pembelajaran yang kita lakukan selama ini sia-sia?. Tentu itu tidak benar. Pembelajaran yang kita lakukan sudah benar, namun kemajuan teknologilah yang menstimuli kita untuk beradaptasi, artinya mengadaptasikan proses pembelajaran sesuai zaman.
Bagaimana dengan profesi kita?, Tentunya yang harus kita kedepankan saat ini adalah kerelaan kita untuk berubah.
Model pembelajaran, adalah sebuah metodologi, atau sarana, lebih kasar kita sebut “alat” atau “piranti”. Guru adalah seorang profesionalis yang menjalankan fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi, kendatipun aturan telah dicanangkan, namun sikap mental masih pada pusaran yang rentan berubah, maka segalanya menjadi kalah dan “mentah”
Kuncinya adalah, saat ini kita harus berubah. Dari paradigma lama menju yang baru.
MODAL MENGGAPAI PARADIGMA BARU

Seorang Guru pasti memahami istilah yang satu ini. “Learning Process”. Manusia bisa berubah dan menerima paradigma baru, tidak serta merta. Tapi perlu tahapan. Tahapan itu adalah, “Know”, “Believe”, “Attitude”, “Behavior”, “Habit” dan ” Culture”.
Know:
Semua stimuli dari akibat interaksi kita dan lingkungan, akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya berfungsi untuk memicu munculnya perilaku. Workshop kali ini adalah wahana menstimuli, agar meransang munculnya perilaku baru.
Yakni menerima atau menolak, setuju dengan pembelajaran bermakna atau tidak
Believe:
Setelah kita mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinan kita. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan. Jika hal itu bermakna, maka kita pasti menerimanya.
Attitude :
Sinergi antara apa yang kita ketahui dengan apa yang kita yakini, dan akhirnya membuahkan perilaku. Hebatnya, metodologi yang baru, apakah Quantum Teaching, Learning, atau Cooperative leraning. Jika Guru tidak yakin akan hal itu, maka hampir dipastikan tidak akan lahir perilaku yang baru.
Behavior :
Perilaku yang ditampilkan oleh seorang Guru, adalah akumulasi dari Know, believe dan Attitude. Ketiga paduan tersebut, acapkali disebut sebagai “software”, sedangkan behavior adalah ‘hardwarenya” Jika seorang Guru dalam memahami pembelajaran bermakna tidak melalui proses know, believe, hingga attitude, maka bekerjanya akan setengah hati.
Habit :
Perilaku yang didemonstrasikan secara konsisten adalah kebiasaan [habit], merupakan bentuk kristalisasi perilaku. Jika hal ini terbentuk, maka Pembelajaran Bermakna, akan menjadi santapan, alias menu utama Guru. Semuanya akan menjadi jalan tanpa hambatan, metode pembelajaran ini kan popular, setara film “ayat-ayat cinta”
Cultutre:
Budaya adalah cerminan dari nilai-nilai yang diketahui dan diyakini. Budaya merupakan pemantapan dari kebiasaan [habit]. Pada tahapan inilah, perilaku seorang-orang sudah melekat dan sulit untuk diubah kembali, kendati ada nilai-nilai yang baru.
Jika ada intervensi nilai yang baru, harus melalui “Learning Process”. Pengalaman yang kita tarik dari pemahaman ini adalah, bahwa workshop ini, tidak serta merta langsung berubah budaya yang sudah membatu dan membeku. Namun tersimpan sebuah kesadaran, yang menyatakan bahwa workshop kali ini adalah utaian dari “learning process“
MEMBANGUN ABILITY TO RESPONSE
Guru juga manusia “. Manusia yang memiliki kemampuan untuk menanggapi adalah manusia yang mampu mengendalikan kehidupannya, sehingga dia mampu menentukan tindakannya sendiri. Terkait dengan profesi seorang Guru, maka dalam membangun citranya sedikitnya, ada lima kemampuan yang harus dikantongi.
Kemampuan-kemampuan itu adalah:

  • Ability to fact [kemampuan memahami fakta]
  • Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
  • Ablity to evaluation [kemampuan mengevaluasi]
  • Ability to analysis [kemampuan analisis]
  • Ability to response [kemampuan menanggapi]. adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis]
Ability to fact [kemampuan memahami fakta];
Jika kemampuan ini telah ada pada diri seorang Guru, maka pengalaman empirinya yang akan mengendalikan apakah sesuatu itu yang diterima inderanya memiliki nilai-nilai manfaat. Jika hal itu tidak menjadikan sebuah ancaman bagi dirinya, dan justru memiliki manfaat besar bagi dirinya, maka akan diterimanya.
Apakah Pembelajaran Bermakna itu, sebuah ancaman bagi eksistensi profesi, atau justru itu membantu Guru ?. Kemampuan inilah yang mengendalikannya.
  • Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, karena fakta telah menunjukkan eksistensinya
Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
Guru hampir semuanya telah memiliki kemampuan ini, tidak ada seorang pun yang mengatakan tidak. Semua Guru telah memilikinya, telah menyadarinya, dan merupakan bagian dari profesinya.
“Jika” selalu diikuti “Maka”. Jika seorang Guru enggan mengubah paradigmanya, maka akan disisihkan oleh zaman.
Hadirnya pengetahuan baru, model pembelajaran baru, tidak harus ditunggu, tapi diantisipasi.
  • Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, karena pengetahuan telah mengawalnya.
Ability to evaluation [kemampuan mengevaluasi]
Kemampuan ini adalah, bagian yang melekat pada profesi Guru. Setiap berpikir bertindak, dan berperilaku selalu mengedepankan kemampuan ini. Tentunya ketika menjalankan profesinya, seorang Guru selalu memberikan pertimbangan akan manfaat, dan keruginya. Menimbang kemungkinan risiko yang dihadapinya. Hadirnya model pembelajaran baru, hampir dipastikan merupakan “rekayasa nilai-nilai” [reengineering] atas model pembelajaran yang lama.
  • Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, tidak perlu diragukan lagi, karena merupakan rekayasa nilai-nilai atau metode yang mendahuluinya.
Ability to Analysis [kemampuan analisa]
Merupakan kemampuan dalam mengurai permasalahan secara detil, dan menggunakan berbagai dimensi ketika memandang sesuatu masalah. Guru sadar atau tidak telah lama memiliki dan menggunakannya. Guru setiap menjalankan profesinya, selalu melakukan tahapan ini. Bahkan Guru-guru telah lama melakukan Penelitian Tindakan Kelas [PTK], jauh sebelum PTK se-populer saat ini. Saat ini PTK populernya hampir menyamai seorang artis seperti Kridayanti. Namun Guru tidak mampu menuliskannya, kedalam bahasa tulis ilmiah.
Kalau di analisa lebih tajam, sebenarnya Guru-guru telah lama mengaplikasikan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan zamanya, termasuk metode pembelajaran bermakna. Namun Guru masih ragu apakah yang dilakukan itu telah memenuhi kaidah bermakna.
  • Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, karena yang sebenarnya Guru-guru telah lama melakukannya, tetapi ada keraguan apakah yang dilukukan itu, Pembelajaran yang bermakna.
Ability to response [Kemampuan menaggapi]
Adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis.
Bagi profesi seorang Guru, kemampuan managgapai adalah citra diri dalam melihat dirinya [self image].
Detilnya antara lain:
  1. Kemampuan dalam memahami kompetensi [competency]
  2. Kemampuan untuk meciptakan visi [Vision] sebagi harapan dan cita-cita
  3. Kemampuan untuk memberikan makna pada hidupnya yang diwujudkan dalam bentuk pemaknaan misi [Mission] hidupnya
  4. Kemamuan menggunkan kompetensinya untuk mewujudkan visi dan misinya dalam bentuk strategi yang dijalankan
  5. Kemampuan menterjemahkan strategi sebagai aksi.
  6. Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus respon secara positif, karena kompetensi Guru, yang didalamnya menggambarkan Visi, Misi, Startegi, dan Aksi. Semuanya adalah bagian dari kekuatan atau potensi profesi.
MENGAPA PEMBELAJARAN BERMAKNA

Kita diingatkan oleh adigium yang dibangun dari reklame minuman.
Pertama: Kapan saja, Dimana, saja “Minum” Metode Pembelajaran Bermakna
Kedua: Apapun “makanan” model pembelajarannya , “minumnya” model pembelajaran bermakna.
Tapi mengapa model pembelajaran bermakna ?
Tentunya harus dikembalikan pada fakta sebenarnya, karena jika dilacak sebuah pembelajaran harus diindikasikan pada tingkatan yang kondusif, menyenangkan, dan kontekstual.
Mencuplik dari buku “Menggagas Pendidikan Bermakna”, buah pikir Prof. Muchlas Samani, bahwa apapun model pembelajaran, maka harus bermakna [meaningful learning]. David Ausubel, adalah seorang orang ahli psikologi pendidikan, menurut Ausubel [1966] bahan pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ [meaning full]. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah sipelajari dan dingat siswa.
Suparno [1997] mengatakan, pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seorang-orang yang sedang dalam proses pembelajaan. Pembelajaran bermakan terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan pelajaran itu harus cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimilki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, factor intelektual emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran bermakna, adalah pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran yang menyenangkan, akan memiliki keunggulan dalam meraup segenap informasi secara utuh, konsekuensi akhirnya adalah meningkatkan kemampuan siswa.
Anlogi seperti yang ditulis oleh Taufiq Pasiak, dalam penelitiannya terhapad tikus yang mendapat perlakuan penekanan[stressor] dan tikus yang enjoy [tanpa stressor]. Hasil penelitian menujukkan bahwa intervensi dari luar [berupa stressor] akan mengubah struktur otak , terutama pada kadar reseptor dan neurotransmitter. Ringkasanya perlakuan stresoor [tidak] menyenangkan akan menurunkan kemampuan tangkapannya.
Sejalan dari pemikiran itu Bobbi DePorter, mengenalkan lompatan pembelajaran yang menyegarkan dan menyenangkan. Dengan mengubah energi potensial siswa menjadi cahaya, menjadikan semuanya bermakna. Oleh karenanya motede pembelajaran yang dikreasi Bobbi, memberikan jargon, T-A-N-D-U-R dan AMBAK.
Berikut kerangka rancangan Belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR
  1. TUMBUHKAN. Tumbuh- kan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaat BAgiKU ” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar
  2. ALAMI. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar
  3. NAMAI. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”
  4. DEMONSTRASIKAN. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk ‘menunjukkan bahwa mereka tahu”
  5. ULANGI. Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu ini”.
  6. RAYAKAN. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.
KAPAN KITA MENGGUNAKAN

Revolusi cara belajar mengubah segalannya, ketika citarasa yang menyenangkan menjadi atmosfir pembelajaran bermakna. Maka ketika menerapkaj harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah tertentu. “Warung Jamu”, adalah sebuah kaidah yang merupakan kepanjangan dari WAktu-RUaNG-JumlAh dan MUtu. Makna Warung Jamu adalah dimennsi ukur yang harus diperhatikan, ketika seorang Guru melakukan pembelajaran.
  • Kapan [waktu], kita melalukan pembelajaran
  • Pada rentangan bagaimana atau pada kondisi yang bagaimana [ruang], kita melakukan pembelajaran
  • Kuantitas audience [jumlah]
  • Kualitas yang diharapkan [mutu]
Sejalan dengan kaidah tersebut, kita diingatkan pula dengan kaidah “ABCD” –[Audience, Behavior, Condition and Degree]. Kaidah inilah, bagaikan bintang pengarah para guru untuk memilih metode pembelajaran yang EER[ Efektif, Efisien dan Rasional].
Saat ini terjadi revolusi pembelajaran, yang mengenarasi banyak metode pembelajaran, namun kita dicermati adalah berubahnya paradigma pembelajaran. Dari Guru sebagai pusat pembelajaran, atau semuanya sangat ditentutkan dari atas “driver company”, menuju pembelajaran yang memberikan ruang gerak secara utuh dan menyeluruh pada siswanya “driver customer“. Paradigma inilah yang menuntut setiap Guru untuk cermat dalam memilih metode pembelajaran. Tentunya metode pembelajaran Bermakna
PUSTAKA PEMBERI NUANSA:

  • Barbara K. Given [2007]. Brain Based Teaching [Merancang Kegiatan Belajar Mengajar yang Melibatkan Otak Emotional, Sosial, Kognitif, Kinetetis, dan Reflektif]. Penerbit Kaifa Bandung.
  • Ijoni [2007]. Cooperative Learning: Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Penerbit Alfabeta Bandung.
  • Muchlas Samani [2007]. Pendidikan Bermakna: integrasi Life Skill-KBK-CTL-MBS, Penerbit SIC Surabaya
  • Suprano,P.[1997]. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Penerbit Kanisius Yogyakarta.
  • Yosi Novian dan Faqih Syarif [2008]. Quantum Quotient, Learning Behavior, Ability To Respones & Training, PT Jaya Pustaka Media Utama, Surabaya
Posted by Nur Salim
Sumber : Djoko Adi Walujo [Pemerhati Buku

Sumber https://mtsmafaljpr.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Pakkar Walk Out dari Musrenbang

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

REMBANG - Paguyuban Kepala Desa dan Kepala Kelurahan Kecamatan Kota Rembang (Pakkar) memilih walk out dari musyawarah perencanaan pembangunan (musrenmbang) di aula Kecamatan Rembang Kota, kemarin.
Dalam musrenbang tersebut Pakkar juga memilih tidak memberikan usulan apa pun.
Ketua Pakkar Kasri mengatakan, walk out-nya kepala desa di Kecamatan Kota Rembang pada musrenbang itu karena selama ini aspirasi kepala desa tidak pernah direalisasikan dalam APBD.
’’Program-program di APBD selama ini bukanlah usulan dari desa. Program-program di APBD entah datang dari mana? Yang membuat kami prihatin, usulan dari desa malah tidak pernah diperhatikan di APBD,’’ ujar Kasri.

Menurutnya, desa adalah gerbang pertama yang mengerti kondisi masyarakat. ’’Kalau usulan dari pihak yang mengerti kondisi masyarakat paling bawah tidak diperhatikan, untuk apa memberikan usulan musrenbang?’’ kata Kepala Desa Pandean yang sudah menjabat dua periode itu.
Isa Anshori, Kepala Desa Telogomojo mengatakan, sebelum walk out, kepala desa se-Kecamatan Kota Rembang sempat mengikuti paparan dari tim musrenbang kabupaten, beberapa saat.
’’Namun kami diam saja dan tidak memberikan usulan. Karena kami anggap acara musrenbang itu percuma dan tidak pernah ada realisasinya,’’ jelas dia.
Isa menuturkan, di tengah acara, kepala desa memilih walk out. Selain itu, kepala desa juga mengembalikan uang transpor yang disediakan oleh panitia. ’’Kami yang ada di desa sudah tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap forum musrenbang ini,’’ kata dia.
Sementara itu, pihak Kecamatan Kota Rembang, Kamis pagi ini berencana mengundang kembali Pakkar untuk audiensi.
Secara terpisah, Wakil Ketua Paguyuban Rukun Petinggi Dampo Awang (Guru Pendawa) Rembang Wasiman juga mengatakan, anggotanya, yaitu kepala desa di Kecamatan Sulang dan Kaliori juga memilih tidak mengikuti musrenbang di kecamatan.
Menurutnya, musrenbang menjadi forum formalitas belaka untuk APBD Rembang. ’’Kami menganggap musrenbang sudah percuma,’’ tandas dia. (H19-60)

Sumber : Suaramerdeka.com

Sumber https://mtsmafaljpr.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tiga Hari Menyapa Hobart

Suasana dermaga Hobart malam hari. Foto oleh Anindito Aditomo
Ketika menerima berita Si Ayah akan konferensi di Hobart, saya ikut bersorak gembira. Artinya kami bisa ikut jalan-jalan ke ibukota Tasmania ini. Si Ayah yang nggak bisa jauh dari The Precils ini pasti minta ditemani :p

Tasmania adalah pulau yang terpisah dari daratan (mainland) Australia. Hobart, ibukota Tasmania terletak di ujung selatan pulau ini. Tasmania bisa dicapai dengan pesawat dari kota-kota di Australia melalui bandara di Hobart atau Launceston, atau dicapai dengan menggunakan ferry Spirit of Tasmania yang menghubungan pelabuhan Devonport dan Melbourne. Sayang sekali tidak ada penerbangan langsung dari Tasmania ke Indonesia, jadi kalau mau mengunjungi Tasmania harus transit dulu di kota-kota di mainland Australia. Kami terbang dari Sydney menuju Hobart menggunakan pesawat domestik Jetstar dan pulangnya mencoba naik kapal Spirit of Tasmania.

The Precils sangat menikmati suasana liburan pendek kami di Hobart. Menurut Big A, Hobart lebih sepi daripada Sydney dan cuaca di sana lebih dingin. Little A juga senang jalan-jalan di Hobart karena tinggal di hotel yang bagus :p Berulang kali dia bilang ingin pergi lagi ke hotel di Hobart. Menurut saya, anak-anak ini senang di Hobart karena kami benar-benar bisa santai di sini, kecuali Si Ayah tentunya yang ke sini untuk kerja :) Kami menginap di hotel di depan pelabuhan persis, dan kemana-mana tinggal jalan kaki. Saya tidak membuat itinerary yang padat sehingga The Precils bebas bermain-main. Hari pertama kami jalan-jalan di sekitar hotel, singgah di visitor centre dan menuju pusat kota (Mal). Hari kedua kami habiskan untuk mengunjungi pabrik coklat Cadbury, sekitar 1 jam dari kota dengan bis. Hari ketiga kami kembali jalan-jalan menyusuri pelabuhan, melewati Salamanca dan menemukan taman bermain yang asyik dan membuat The Precils betah.
Kantor Pos Besar di Hobart. Depannya adalah depot bis. Foto oleh Anindito Aditomo.
Mal Hobart di Elizabeth St. Foto oleh Anindito Aditomo.
Kota Hobart lebih kecil daripada ibukota negara bagian lainnya di Australia. Karena itu Hobart juga lebih gampang dijelajahi. Pusat kota atau Mal-nya ada di Elizabeth St. Seperti yang sudah sering saya ceritakan, Mal di sini adalah pedestrian, jalan khusus untuk pejalan kaki, yang di kanan kirinya ada toko-toko kecil dan kafe. Mal ini benar-benar nyaman untuk jalan-jalan, dalam arti sebenarnya. Dari hotel kami yang berada di dekat pelabuhan, kira-kira lima belas menit jalan kaki ke Mal ini. Sebelumnya, kami singgah dulu di visitor centre untuk bertanya rute menuju Pabrik Coklat Cadbury yang akan kami kunjungi besoknya. Mengunjungi pabrik coklat ini satu-satunya acara yang saya agendakan. Acara lainnya bebas, mengikuti kaki kami mengajak kemana :)

Visitor Centre Hobart terletak di Davey St, jalan yang sama dengan hotel kami, sekitar 5 menit jalan kaki. Pelayanan di Visitor Centre cukup bagus. Di sini kita juga bisa booking penginapan (kalau belum punya) dan tur. Tempat kecil ini menyediakan brosur dan peta gratis, dan menjual kartu pos dengan harga murah, mulai 50 sen. Oleh petugas, saya diberi tahu jalur bis umum yang menuju pabrik coklat Cadbury. Sebenarnya ada tur khusus ke pabrik coklat ini, tapi tentu saja saya memilih yang lebih murah. Depot atau terminal bis di tengah kota Hobart terletak di depan kantor pos besar. Gedung kuno nan megah yang dijadikan kantor pos ini mudah sekali ditemukan, hanya satu blok di seberang Visitor Centre dan satu blok sebelum mal Elizabeth St.

Selama tiga hari di Hobart, kami tidak menyewa mobil karena rencananya memang hanya akan jalan-jalan di dalam kota. Lagipula sopir yang biasa menyetir mobil (Si Ayah!) sedang sibuk konferensi :D Dari bandara Hobart, kami menuju hotel menggunakan shuttle bus yang tarifnya 'hanya' $10 untuk dewasa dan $5 untuk anak-anak. Jarak dari bandara Hobart menuju pusat kota sekitar 18 menit dan bisa dicapai kurang lebih 20 menit dengan taxi lewat jalan tol. Kalau mengendarai shuttle bus (seperti layanan 'travel' di Indonesia), waktu tempuh bisa dua kali lipatnya karena harus mengantar penumpang lain dulu.
 
Atraksi utama Hobart adalah dermaga tempat berlabuh kapal-kapal pengangkut ikan. Kita bisa berjalan menyusuri pelabuhan ini sampai Salamanca. Setiap Sabtu, ada pasar dadakan di Salamanca yang menjual barang-barang kerajinan dan makanan segar. Sayangnya kami tidak mengunjungi Hobart di akhir pekan sehingga tidak punya kesempatan main di Salamanca Market ini. Namun, tanpa ada pasar pun, Salamanca tetap menarik untuk dikunjungi. Daerah ini berisi bangunan-bangunan kuno dari sandstone yang dulunya merupakan gudang pelabuhan. Gudang-gudang tua ini disulap menjadi kafe, toko dan galeri cantik, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Hobart. Di tengah kawasan ini ada Salamanca Square yang di tengahnya terdapat taman dengan air mancur, papan catur raksasa, bangku-bangku tempat duduk dan toko-toko atau kafe. Sebenarnya mirip dengan kompleks ruko di Indonesia namun ditata dengan cantik dan lapang sehingga anak-anak punya ruang bermain. 

Saya singgah di Salamanca Square ini dengan tujuan utama mencuci baju! Ya, daripada buang-buang uang dengan mencuci baju di hotel, lebih baik mencari laundry koin yang murah. Dari saran di Lonely Planet, saya berhasil menemukan Machine Laundry Cafe, yang merupakan kafe dengan laundry di sebelahnya. Pukul 10 pagi, tempat ini sudah ramai dengan orang-orang yang sarapan sambil mencuci baju. Saya yang gagap karena belum pernah mencuci baju di laundry umum, merasa terbantu oleh pegawai kafe ini yang gantengnya mirip Jake Gyllenhaal ;) Tentu saya tidak terbantu dengan kegantengannya, tapi dengan pelayanan dan keramahannya. Untuk sekali mencuci baju diperlukan 5 koin $1 dan untuk mengeringkan baju diperlukan koin $1 per 7 menit. Kafe ini bersedia menukar koin dan juga menjual deterjen sachet seharga 50 sen. Sembari menunggu baju dicuci, saya dan The Precils nongkrong di kafe dan memesan makanan dan minuman.

Kelar mencuci baju kotor yang menumpuk tiga hari selama kami di Hobart, saya membawa anak-anak ke toko buku, Hobart Book Shop yang ada di Salamanca Square ini. Toko buku mungil ini nyaman dan tidak terlalu ramai. Big A membeli buku The Mysterious Benedict Society, serial detektif kesayangannya. Tidak sabar menunggu sampai di hotel, Big A membaca buku ini sepanjang jalan. Setelah menuruti keinginan Big A, giliran Little A yang perlu disenang-senangkan. Kami mengunjungi Faerie Shop yang isinya segala sesuatu tentang Fairy (peri), masih di kawasan Salamanca. Toko mungil berwarna pink yang desainnya unik ini merebut hati Little A. Setelah lama memilih dan melihat-lihat ini itu, akhirnya dia membeli notes berbentuk tas kecil, yang tentu saja bergambar peri, lengkap dengan glitter-nya :)

Toko buah segar di Salamanca. Foto oleh Anindya Amarakamini.
Pertokoan di Salamanca.
Di atas Salamanca, ada daerah perkampungan lain yang menarik dikunjungi, yaitu Battery Point. Di kawasan ini ada rumah-rumah kuno yang kecil dan cantik, khas rumah-rumah tepi pelabuhan. Untuk mencapai Battery Point, kita bisa naik tangga curam di Kelly Steps di Salamanca. The Precils terengah-engah sampai di atas dan sebel sama Emaknya yang sebenarnya tidak tahu jalan harus lewat mana :p Untungnya saya mengambil jalan yang benar yang ujungnya adalah taman bermain kecil bernama Arthur Circus. Di taman kecil ini hanya ada satu set ayunan, namun cukup membuat The Precils tersenyum kembali. Dari peta yang kami ambil di Visitor Centre, saya melihat ada taman bermain yang lebih besar bernama Princess Park, yang tidak jauh dari Arthur Circus. The Precils gembira dan menurut ketika saya ajak menuju Princess Park dan menghabiskan dua jam main di sana. Saya cukup leyeh-leyeh dan menikmati pemandangan pelabuhan dari taman yang ada di atas bukit ini.

Untuk melihat pemandangan kota Hobart yang lebih spektakuler, cobalah dari gardu pandang di Mt Wellington. Look out di Mt Wellington ini bisa dicapai dengan bermobil, sekitar 20 menit dari pusat kota. Sayang sekali kami tidak sempat naik ke Mt Wellington ini karena begitu kami menyewa mobil di hari keempat, harus segera melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman di jalan.

Selama tiga hari jalan-jalan menjelajah Hobart, Si Ayah tidak ikut kami. Baru sore atau malam hari setelah konferensi usai, Si Ayah bisa bergabung. Malam pertama, kami mengajak Si Ayah mencicipi seafood di depan warung terapung. Pilihan kami adalah Flippers, yang bentuk warungnya lucu seperti ikan :) Sebenarnya, siang harinya kami sudah jajan di warung yang harga makanannya cukup murah ini. Di tepi dermaga ada warung-warung apung yang menjual makanan laut dengan menu yang sama. Saya pilih Flippers karena warung ini paling ramai dikunjungi orang. Kami memesan Fisherman Basket Deluxe yang berisi macam-macam makanan laut. Hmm... rasanya enak banget dan fresh. Ini fish&chips terenak yang pernah saya coba. Saya suka banget dengan rasa gurih ikan Trevalla-nya. Mungkin karena ikannya segar hasil tangkapan pagi ini.

Kenyang, kami menemani Si Ayah yang sedang belajar memotret suasana malam, dengan berjalan-jalan keliling dermaga. Hasil belajar Si Ayah bisa dilihat dari foto utama artikel ini :) Bagaimana, udah secantik gambar di kartu pos kan? *memuji suami sendiri* 

Meskipun kami ke sana di musim panas, angin malam di tepi dermaga cukup kencang dan dingin, harus dilawan dengan mengenakan jaket. Malam kedua kami tidak keluar malam karena The Precils sudah capek usai berenang dengan Si Ayah di kolam renang hotel. Malam ketiga kami keluar lagi untuk makan malam di restoran India, The Saffron yang letaknya hanya selemparan batu dari hotel kami. Malam itu, angin yang bertiup lebih dingin lagi daripada malam yang pertama. Kami cepat-cepat menuntaskan makan malam, istirahat di hotel karena besoknya kami akan menempuh perjalanan panjang menuju tujuan kami selanjutnya: Cradle Mountain.

Emak dan The Precils nongkrong di warung fish & chips apung. Foto oleh Anindito Aditomo.
Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

~ The Emak