Malam selalu datang dengan cara yang sama—diam, pelan, dan menyesakkan.
Di sudut kamar yang remang, aku duduk sendiri, ditemani cahaya lampu kecil yang hampir redup. Tak ada suara, tak ada tawa, hanya detak waktu yang terasa lebih keras dari biasanya.
Sejak ayah pergi, hidupku berubah menjadi ruang kosong yang luas.
Dulu, suara beliau adalah pengisi hari-hariku. Sekarang, yang tersisa hanya kenangan yang berputar tanpa henti di dalam kepala.
Aku menjadi seseorang yang berbeda.
Bukan karena aku ingin, tapi karena dunia seolah kehilangan maknanya. Aku lebih banyak diam. Kata-kata terasa berat untuk diucapkan, seakan setiap huruf membawa luka yang belum sembuh.
Orang-orang mungkin mengira aku kuat.
Padahal, di dalam hati, aku sering runtuh tanpa suara.
Tubuhku pun tak lagi sekuat dulu. Rasa sakit datang tanpa permisi, menggerogoti perlahan. Namun aku tak punya pilihan selain bertahan. Aku belajar berjalan sendiri, meski berkali-kali terjatuh. Dan setiap kali jatuh, aku hanya punya satu pilihan—bangkit lagi, meski dengan sisa tenaga.
Di tengah kesunyian itu, aku menemukan cara untuk tetap hidup—menulis.
Awalnya hanya coretan sederhana. Kata-kata yang berantakan, seperti pikiranku. Tapi semakin lama, tulisan itu menjadi tempatku pulang. Di atas kertas, aku bisa menangis tanpa air mata. Aku bisa berbicara tanpa suara.
Tentang cinta pun begitu.
Aku tak pernah benar-benar memiliki seseorang untuk ku genggam tangannya. Namun aku percaya, cinta tak selalu harus hadir dalam wujud nyata. Kadang, ia cukup hidup dalam kata—dalam kalimat yang ku rangkai diam-diam, dalam bait yang ku simpan sendiri.
Aku pernah menulis tentang seseorang.
Bukan tentang wajahnya, bukan tentang suaranya, tapi tentang rasa yang ia tinggalkan. Rasa yang tak pernah benar-benar hadir, tapi juga tak pernah hilang.
Mungkin terdengar aneh.
Mencintai tanpa memiliki, merindu tanpa pernah benar-benar bertemu.
Tapi bagiku, itu nyata.
Setiap malam, aku membuka buku tua yang mulai usang. Di dalamnya, tersimpan ratusan kata yang pernah ku tulis. Setiap halaman adalah bagian dari diriku yang tak pernah bisa ku ceritakan pada dunia.
Di sana ada luka, ada rindu, ada harapan…
dan ada ayah.
Aku menulis tentang beliau seolah beliau masih membaca.
Seolah suatu hari nanti, di tempat yang tak bisa ku jangkau, beliau akan tersenyum melihatku yang masih bertahan.
“Maaf, aku masih sering jatuh…”
bisikku dalam hati.
Angin malam masuk perlahan melalui jendela yang sedikit terbuka. Membawa dingin yang menenangkan, sekaligus mengingatkan bahwa aku masih sendiri.
Namun kali ini, aku tak merasa sepenuhnya kosong.
Karena aku tahu, selama aku masih bisa menulis,
aku tak benar-benar sendirian.
Di antara sunyi dan kata,
aku masih hidup.