Friday, 14 August 2026

Lagu - Tuhan, Terima Kasih Bukan Aku, Karya: Khoirul Taqwim

 




Tuhan, kulihat senyumnya hari ini,

Bersanding mesra dengan pilihan hati.

Aku tersenyum meski hati bergetar,

Kulepas doa bersama air yang mengalir.


Bukan cintaku yang telah menghilang,

Hanya langkahku belum mampu berjuang.

Tanganku masih kosong tanpa kepastian,

Tak ingin cintaku menjadi beban.


Aku ingin memberinya langit yang cerah,

Namun hidupku masih penuh arah yang lelah.

Lebih baik aku mundur dengan ikhlas,

Daripada membuatnya menangis tanpa batas.


Terima kasih, Tuhan, atas keputusan-Mu,

Meski perih, kutahu ini yang terbaik bagiku.

Engkau memilih jalan yang berbeda,

Agar kami sama-sama menemukan bahagia.


Kini dia telah sah dengan pilihannya,

Semoga damai selalu menyertai rumahnya.

Tak ada dendam, tak ada sesal,

Hanya doa yang kupanjatkan setiap malam.


Bila suatu hari namaku teringat,

Biarlah hanya menjadi kisah yang hangat.

Karena cinta sejati bukan memiliki,

Melainkan rela melihat yang dicintai bahagia meski bukan dengan diri ini.


Tuhan, kuatkan langkahku menatap hari,

Percayaku takkan pernah berhenti.

Sebab di balik luka yang kini kurasa,

Engkau sedang menyiapkan cinta yang lebih indah pada waktunya.

Lagu - Maafkan Calonmu, Karya: Khoirul Taqwim

 





Maafkan calonmu 
Dulu pernah kupinjam hatinya
Menyusuri bahagia muda
Dalam cerita sederhana

Tawa pernah tercipta
Air mata berbicara
Cinta tanpa kepastian
Tetap hidup diam

Novel belum selesai
Aksara terus berjalan
Bait tak berujung
Kenangan tetap tinggal

Bila dia bahagia
Menjadi pendampingmu nanti
Jangan pernah marah
Itu masa lalu

Jika masih mengingat
Di sela sujudnya
Bersama air mata
Maafkan dirinya

Aku telah pergi
Membawa seluruh rindu
Meninggalkan kenangan
Tanpa kata benci

Api dan air
Tak pernah menyatu
Namun kisah kami
Abadi dalam doa

Tuesday, 23 June 2026

Lagu - Mencintaimu Tanpa Wujud, Karya: Khoirul Taqwim

 

Di seberang jalan duniaku bermula Menatap jendela di lantai kedua Ada tirai putih yang selalu terjaga Menyimpan rahasia yang tak pernah kubuka. Aku tak pernah tahu warna matamu Juga tak pernah mendengar tawamu Hanya bayanganmu yang bergerak syahdu Saat lampu malam mulai menyapamu. Setiap Selasa ada bunga matahari Diletakkan tenang di ambang jemari Seolah kau kirim pesan yang tersembunyi Untuk jiwaku yang setia menanti. Mereka bilang ini cinta yang gila Mencintai bayang yang tak kasat mata Namun hati ini punya bahasanya Mengenal hadirmu lewat petikan nada. Aku mencintaimu di dalam senyap Tanpa ada kata yang sanggup kuucap Bagai puisi lama yang kian mengendap Tulus dan pasrah, namun tetap menetap. Namun di dada ada satu harapan Bukan meminta sebuah keajaiban Hanya percaya pada takdir Tuhan Bahwa jarak ini kan berujung pertemuan. Suatu hari nanti tirai kan tersingkap Angin kan membawa tatapan yang genap Hingga cerita yang kumulai senyap Akan kita selesaikan dengan pelukan erat.

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu - Rindu Beratap Doa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Hatiku usang, rapuh ditelan zaman Aku ingin tenggelam di sungai cintamu Biar hanyut, biar patah, biar remuk Karena tanpamu, aku sudah mati sebelum mati Rindu tak berbentuk tapi seberat gunung Ia duduk di dadaku, tak mau pergi meski kuusir Setiap detik tanpa dirimu adalah satu abad Dan aku masih menghitung — sampai kapan? Jarak bukan penghalang — hati punya sayap Setiap malam aku terbang menuju pelukmu Setiap sujud kuselipkan namamu dalam doa Doa menjadi atap yang teduh dan tak pernah bocor Aku bukan pilihan kedua Bukan pelabuhan sementara Jika kau tak bisa memilihku sepenuh hati Lebih baik aku pergi — dengan hati utuh meski remuk Rindu ini seperti luka yang tak pernah sembuh total Tapi anehnya, bekas itu tak terasa sakit Dia hanya menjadi pengingat di dinding dada Bahwa aku pernah benar-benar mencintai — dan masih Jika suatu hari kau bahagia tanpaku Aku tak akan marah — aku akan tersenyum Karena bahagiamu adalah bahagiaku Meskipun artinya aku patah hati terus-menerus Sungai tak pernah berhenti mengalir Rindu tak pernah benar-benar pergi Doa menjadi atap yang melindungi Aku masih ada — di ujung sungai yang sama Masih mencintaimu, masih berharap, masih di sini Masih ada jalan untuk rindu ini Sampai sungai ini kering — atau sampai kamu kembali