Di seberang jalan duniaku bermula
Menatap jendela di lantai kedua
Ada tirai putih yang selalu terjaga
Menyimpan rahasia yang tak pernah kubuka.
Aku tak pernah tahu warna matamu
Juga tak pernah mendengar tawamu
Hanya bayanganmu yang bergerak syahdu
Saat lampu malam mulai menyapamu.
Setiap Selasa ada bunga matahari
Diletakkan tenang di ambang jemari
Seolah kau kirim pesan yang tersembunyi
Untuk jiwaku yang setia menanti.
Mereka bilang ini cinta yang gila
Mencintai bayang yang tak kasat mata
Namun hati ini punya bahasanya
Mengenal hadirmu lewat petikan nada.
Aku mencintaimu di dalam senyap
Tanpa ada kata yang sanggup kuucap
Bagai puisi lama yang kian mengendap
Tulus dan pasrah, namun tetap menetap.
Namun di dada ada satu harapan
Bukan meminta sebuah keajaiban
Hanya percaya pada takdir Tuhan
Bahwa jarak ini kan berujung pertemuan.
Suatu hari nanti tirai kan tersingkap
Angin kan membawa tatapan yang genap
Hingga cerita yang kumulai senyap
Akan kita selesaikan dengan pelukan erat.
Langit berhenti, dunia sejenak sunyi
Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi
Menggugah jiwa yang lama telah mati
Membasahi kalbu yang gersang dan sepi
Bukan sekadar kata manis di bibir
Tapi darah yang deras mengalir
Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku
Kubungkam ratap agar tak dengar perihku
Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna
Namun senyum ini tetap mekar di dada
Gedung menjulang jadi saksi yang bisu
Aku tetap tabah di ujung lukaku
Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati
Jangan kau biarkan layu dalam mimpi
Walau pintunya terkunci sangat rapat
Ketuklah kuat sampai seribu kali
Sebab menyerah adalah sebuah dusta
Dan kesatria takkan lari dari rasa
Biarlah samudra darah ini kuseberangi
Asal cinta suci kan kuraih nanti
Cukup satu pujaan untuk jiwa raga
Bukan semua hati yang kau coba sapa
Karena sabda rasa tak mengenal dusta
Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta
Garis takdir kita memang telah digariskan
Ada yang bersatu dalam kebahagiaan
Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan
Namun tertolak bukan akhir dari cerita
Ambil hikmahnya, balut setiap luka
Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa
Kau laksana bidadari di antara ribuan
Bukan karena parasmu yang menawan
Tapi jiwa lembutmu menembus malam
Dalam kerudung putih yang kau kenakan
Tersimpan keindahan yang tak terkatakan
Membuat runtuh seluruh pertahanan
Kuukir namamu dalam setiap sajakku
Terukir abadi di detak jantungku
Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga
Suka dan duka melebur satu warna
Air mata dan senyum dalam harmoni
Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi
Langit berhenti, dunia sejenak sunyi
Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi
Menggugah jiwa yang lama telah mati
Membasahi kalbu yang gersang dan sepi
Bukan sekadar kata manis di bibir
Tapi darah yang deras mengalir
Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku
Kubungkam ratap agar tak dengar perihku
Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna
Namun senyum ini tetap mekar di dada
Gedung menjulang jadi saksi yang bisu
Aku tetap tabah di ujung lukaku
Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati
Jangan kau biarkan layu dalam mimpi
Walau pintunya terkunci sangat rapat
Ketuklah kuat sampai seribu kali
Sebab menyerah adalah sebuah dusta
Dan kesatria takkan lari dari rasa
Biarlah samudra darah ini kuseberangi
Asal cinta suci kan kuraih nanti
Cukup satu pujaan untuk jiwa raga
Bukan semua hati yang kau coba sapa
Karena sabda rasa tak mengenal dusta
Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta
Garis takdir kita memang telah digariskan
Ada yang bersatu dalam kebahagiaan
Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan
Namun tertolak bukan akhir dari cerita
Ambil hikmahnya, balut setiap luka
Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa
Kau laksana bidadari di antara ribuan
Bukan karena parasmu yang menawan
Tapi jiwa lembutmu menembus malam
Dalam kerudung putih yang kau kenakan
Tersimpan keindahan yang tak terkatakan
Membuat runtuh seluruh pertahanan
Kuukir namamu dalam setiap sajakku
Terukir abadi di detak jantungku
Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga
Suka dan duka melebur satu warna
Air mata dan senyum dalam harmoni
Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi
Langit berhenti, dunia sejenak sunyi
Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi
Menggugah jiwa yang lama telah mati
Membasahi kalbu yang gersang dan sepi
Bukan sekadar kata manis di bibir
Tapi darah yang deras mengalir
Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku
Kubungkam ratap agar tak dengar perihku
Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna
Namun senyum ini tetap mekar di dada
Gedung menjulang jadi saksi yang bisu
Aku tetap tabah di ujung lukaku
Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati
Jangan kau biarkan layu dalam mimpi
Walau pintunya terkunci sangat rapat
Ketuklah kuat sampai seribu kali
Sebab menyerah adalah sebuah dusta
Dan kesatria takkan lari dari rasa
Biarlah samudra darah ini kuseberangi
Asal cinta suci kan kuraih nanti
Cukup satu pujaan untuk jiwa raga
Bukan semua hati yang kau coba sapa
Karena sabda rasa tak mengenal dusta
Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta
Garis takdir kita memang telah digariskan
Ada yang bersatu dalam kebahagiaan
Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan
Namun tertolak bukan akhir dari cerita
Ambil hikmahnya, balut setiap luka
Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa
Kau laksana bidadari di antara ribuan
Bukan karena parasmu yang menawan
Tapi jiwa lembutmu menembus malam
Dalam kerudung putih yang kau kenakan
Tersimpan keindahan yang tak terkatakan
Membuat runtuh seluruh pertahanan
Kuukir namamu dalam setiap sajakku
Terukir abadi di detak jantungku
Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga
Suka dan duka melebur satu warna
Air mata dan senyum dalam harmoni
Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi
Hatiku usang, rapuh ditelan zaman
Aku ingin tenggelam di sungai cintamu
Biar hanyut, biar patah, biar remuk
Karena tanpamu, aku sudah mati sebelum mati
Rindu tak berbentuk tapi seberat gunung
Ia duduk di dadaku, tak mau pergi meski kuusir
Setiap detik tanpa dirimu adalah satu abad
Dan aku masih menghitung — sampai kapan?
Jarak bukan penghalang — hati punya sayap
Setiap malam aku terbang menuju pelukmu
Setiap sujud kuselipkan namamu dalam doa
Doa menjadi atap yang teduh dan tak pernah bocor
Aku bukan pilihan kedua
Bukan pelabuhan sementara
Jika kau tak bisa memilihku sepenuh hati
Lebih baik aku pergi — dengan hati utuh meski remuk
Rindu ini seperti luka yang tak pernah sembuh total
Tapi anehnya, bekas itu tak terasa sakit
Dia hanya menjadi pengingat di dinding dada
Bahwa aku pernah benar-benar mencintai — dan masih
Jika suatu hari kau bahagia tanpaku
Aku tak akan marah — aku akan tersenyum
Karena bahagiamu adalah bahagiaku
Meskipun artinya aku patah hati terus-menerus
Sungai tak pernah berhenti mengalir
Rindu tak pernah benar-benar pergi
Doa menjadi atap yang melindungi
Aku masih ada — di ujung sungai yang sama
Masih mencintaimu, masih berharap, masih di sini
Masih ada jalan untuk rindu ini
Sampai sungai ini kering — atau sampai kamu kembali
Langkah kaki tegap di atas sajadah
Memandang dunia dengan tatapan rendah
Merasa paling suci, paling tak bernoda
Menghitung dosa orang dengan jemari yang ada
Kau sebut dirimu pemegang kunci gerbang
Menghakimi yang sesat, menilai yang bimbang
Siapa masuk neraka, siapa yang mulia
Seolah kau ketua dari segala panitia
Namun ingatkah kau pada kisah yang lama?
Sebelum bumi riuh oleh anak cucu Adam
Ada yang paling taat di antara para malaikat
Berdiri di saf depan, memimpin segala berkat
Iblis terusir bukan karena dia mabuk
Bukan karena judi yang membuatnya terpuruk
Bukan pula zina yang meruntuhkan tahta
Tapi satu penyakit yang tak kasat mata
Dia keluar dari indahnya surga
Bukan karena maksiat lahiriah yang nyata
Namun karena setitik ego di dalam dada
"Aku lebih baik dari dia yang dari tanah!"
Maksiat raga mungkin berujung tangis tobat
Namun sombongnya hati membuat hidayah tersumbat
Merasa lebih mulia dari sesama manusia
Adalah warisan nyata dari sang pendosa pertama
Maka turunkan sedikit dagumu yang mendongak
Jangan jadi panitia surga yang suka berteriak
Sebab penentu akhir bukanlah jubah dan gelar
Melainkan hati yang bersih saat dunia mulai pudar
Kota yang riuh mematikan rasa dan nalar,
Manusia menjadi robot mengejar angka fana.
Di balik senyum profesional, gundah kian menjalar,
Memaksa jiwa pergi mencari pelukan desa sana.
Aroma tanah basah menyambut langkah yang lelah,
Secangkir kopi hitam menghidupkan isi kepala.
Di kamar sastra yang sunyi, puing jiwa dibenah,
Menanti ziarah batin yang menghapus segala cela.
Mengikuti jejak sufi, ia menjauh dari duniawi,
Bersujud di atas batu kali pada sepertiga malam.
Mengetuk pintu rahmat-Mu dalam pasrah yang suci,
Membuang segala cemas ke dalam keheningan dalam.
Kebekuan aksara pecah bersama derasnya arus,
Pena menari lincah melahirkan sungai puisi.
Fajar tiba membawa merdu burung berkicau tulus,
Menghidupkan ruang rindu dengan melodi alam suci.
Di kaki gunung, buruh memecah batu dengan godam,
Bertarung fisik demi sesuap nasi keluarga di rumah.
Menampar keluhan kota yang selama ini terendam,
Membakar rasa malas menjadi rasa hormat yang megah.
Gerimis malam membawa bayang perih masa lalu,
Tentang cinta lama yang melukai lewat bait sajak.
Kertas-kertas duka dibakar di atas lilin yang pilu,
Kini ia pulang pada pelukan istri yang paling bijak.
Di tepi laut Selatan, desau angin menyapa mesra,
Menatap masa depan bersama keluarga kecil tercinta.
Lumpuh sudah gundah yang dulu bertahta di dada,
Hati bersih dan merdeka, setenang embun pagi tiba.