Wednesday, 18 March 2026

5 Tanda Tubuh Sudah Berlebihan Mengonsumsi Garam

garam-doktersehat

DokterSehat.Com– Garam adalah salah satu bumbu makanan yang hampir selalu kita gunakan saat memasak. Keberadaan garam juga bisa ditemukan di dalam makanan-makanan lainnya, termasuk di dalam makanan kemasan yang bisa kita temukan di toko atau swalayan. Masalahnya adalah pakar kesehatan menyebut konsumsi garam yang berlebihan bisa menyebabkan dampak kesehatan yang kurang baik.

Beberapa tanda tubuh sudah kelebihan asupan garam

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi garam yang berlebihan bisa menyebabkan datangnya masalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Mengingat masalah kesehatan ini bisa berujung pada berbagai macam masalah kesehatan yang lebih serius seperti penyakit jantung atau stroke, sebaiknya kita mulai mewaspadai tanda bahwa tubuh sudah kelebihan asupan garam.

Berikut adalah tanda-tanda tersebut.

  1. Makanan akan terasa jauh lebih hambar

Makanan yang memiliki kandungan garam tinggi memang cenderung lebih gurih dan asin. Sayangnya hal ini akan berimbas pada perubahan pada indera pengecap kita. Karena terbiasa mengonsumsi makanan yang gurih dan asin, makanan dengan kandungan garam lebih rendah akan terasa jauh lebih hambar dan tidak enak.

Pakar kesehatan Moloo Gazzaniga dari American Dietetic Association menyebut menambahkan garam pada berbagai makanan sehat yang rasanya kurang kuat seperti sayuran memang bisa membuatnya lebih enak, namun hal ini justru membuat lidah kita tak lagi mampu menerima rasa masakan yang lebih hambar.

  1. Sering merasakan sensasi kembung

Konsumsi garam yang berlebihan bisa membuat kadar natrium di dalam tubuh meningkat. Sayangnya, hal ini akan berimbas pada retensi cairan yang muncul pada berbagai bagian tubuh. Kondisi ini bisa menyebabkan berat badan seperti bertambah.

“Garam di dalam tubuh mampu menahan atau mengikat cairan. Jika hal ini terjadi pada bagian pencernaan, akan menyebabkan sensasi kembung yang tidak nyaman dan berlangsung cukup lama,” ucap Bonne Taub-Dix yan berasal dari Better Than Dieting.

Hanya saja, kondisi ini cenderung lebih sering terjadi pada mereka yang sudah dewasa atau berusia lanjut.

  1. Sering mengalami sakit kepala

Jika kita sering mengalami sakit kepala tanpa tahu apa penyebabnya, sebaiknya kita mulai mempertahankan kebiasaan mengonsumsi garam sehari-hari. Jika konsumsi garam relatif tinggi, bisa jadi memang garam penyebabnya.

Hal ini disebabkan oleh kemampuan kandungan di dalam garam, tepatnya natrium yang bisa memicu perubahan ukuran pada pembuluh darah, khususnya yang ada di kepala dan menuju otak. Jika sampai pembuluh darah menyempit, maka aliran darah juga akan terganggu sehingga akhirnya memicu sakit kepala.

  1. Lebih sering buang air kecil

Ternyata, kebiasaan mengonsumsi garam dengan berlebihan juga bisa membuat frekuensi buang air kecil meningkat. Fakta ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan dr. Matsuo Tomohiro yang berasal dari Nagasaki University, Jepang, pada tahun 2017.

Dalam penelitian ini, asupan garam dalam jumlah yang tinggi bisa membuat frekuensi buang air kecil naik dengan drastis. Bagi orang yang sudah berusia lanjut, kondisi ini bahkan bisa membuat mereka bolak-balik ke toilet di tengah malam, saat mereka sebenarnya sedang tidur malam.

“Mengurangi konsumsi garam hingga 25 persen sudah cukup untuk menurunkan frekuensi buang air kecil di malam hari,” saran dr. Tomohiro.

  1. Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh

Konsumsi garam berlebihan akan menyebabkan retensi cairan yang berujung pada pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti jari-jari, mata, atau bahkan kaki.

Demi mencegah datangnya hipertensi atau berbagai kondisi kesehatan lainnya, sebaiknya memang kita menurunkan asupan garam setiap hari.

Benarkah Susu Unta Bisa Atasi HIV?

susu-unta-doktersehat

DokterSehat.Com– Kita tentu pernah mendengar banyak sekali informasi kesehatan yang cukup menghebohkan di berbagai media sosial. Sebagai contoh, belakangan ini disebutkan bahwa minum susu unta bisa melawan virus HIV, penyebab penyakit AIDS yang mematikan. Apakah berita ini memang benar?

Kemampuan susu unta dalam melawan HIV

Pakar kesehatan dr. Sidgi Syed Anwar Abdo Hasson dan Prof. Ali Abdullah Hasan Al Jabri yang berasal dari Sultan Qaboos University, Muscat, Oman menemukan formula khusus yang diklaim bisa melawan virus HIV. Salah satu kandungan dari formula ini adalah susu unta. Penemuan mereka bahkan sudah diajukan ke merek dagang dari Amerika Serikat (USPTO) dan disetujui pada 8 April 2019 silam.

Kedua ahli ini menyebut penemuan ini sebagai terobosan yang baik bagi perkembangan dunia kesehatan. Sebagai informasi, mereka melakukan penelitian selama 16 tahun sebelum menemukan formula yang kemudian disebut sebagai antibody anti-HIV ini.

Penelitian ini melibatkan beberapa orang yang sudah terinfeksi HIV. Setelahnya, dilakukan pula percobaan klinis pada mereka yang belum mengidap HIV untuk mengetahui apakah formula ini memang cukup ampuh untuk mencegah datangnya infeksi.

Hasilnya adalah, para partisipan mampu mendapatkan manfaat positif dari formula ini dan tidak mengalami efek samping, apapun jenis kelaminnya, gaya hidup, usia, dan dari mana ras mereka berasal. Bagi pasien HIV, formula ini bahkan bisa membuat kondisi kesehatannya semakin membaik seperti mengalami kenaikan berat badan dan sistem kekebalan tubuh.

Kedua peneliti menyebut penggunaan susu unta berasal dari fakta bahwa sistem kekebalan unta cenderung lebih kuat dari sistem kekebalan manusia.

“Kami berharap penemuan ini bisa menjadi pembuka bagi penelitian lain untuk mencegah dan mengobati HIV atau penyakit lain dengan konsep yang sama,” ungkap Sidgi.

Melihat fakta ini, susu unta harus diformulasikan dengan berbagai bahan-bahan lainnya terlebih dahulu demi membuatnya mampu melawan HIV. Hal ini berarti, minum susu unta tidak serta merta membuat kita mencegah atau melawan infeksi HIV.

Berbagai manfaat susu unta bagi kesehatan

Pakar kesehatan menyebut ada banyak sekali manfaat kesehatan yang bisa didapatkan jika kita rutin minum susu unta. Bahkan, ada yang menyebut susu ini bisa memberikan dampak yang lebih besar bagi kekuatan sistem kekebalan tubuh.

Berikut adalah berbagai manfaat susu unta bagi kesehatan.

  1. Bisa mengatasi anemia

Susu unta memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Keberadaan zat besi ini akan mendukung proses produksi sel darah merah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi ke berbagai organ dan jaringan tubuh. Hal ini juga akan membantu mencegah datangnya anemia, masalah kesehatan yang membuat badan terasa lesu dan lemah seharian.

  1. Bisa membantu mencegah datangnya diabetes

Kandungan di dalam susu unta ternyata bisa membantu meningkatkan sensivitas insulin di dalam tubuh. Padahal, insulin memiliki peran besar dalam menjaga kadar gula darah tetap normal. Hal ini tentu akan membantu mencegah diabetes.

  1. Bisa memperkuat sistem imun tubuh

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kandungan di dalam susu unta, tepatnya berupa protein dan sifat antimikrobanya yang tinggi bisa membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Rutin mengonsumsinya tentu akan membantu mencegah datangnya infeksi atau penyebab penyakit lainnya.

  1. Bisa mencegah penuaan dini

Kandungan asam alpha-hydroxyl di dalam susu unta bisa membantu mencegah munculnya keriput dan garis-garis halus pada kulit. Hal ini tentu akan mencegah datangnya penuaan dini.

  1. Baik dikonsumsi oleh anak-anak

Kandungan proteinnya yang tinggi bisa membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dengan maksimal. Bahkan, susu unta juga bisa membantu perkembangan tulang dan berbagai organ tubuh dengan baik.

7 Tanda Usus Sudah Mulai Bermasalah, Salah Satunya Mudah Sakit!

sindrom-iritasi-usus-besar-doktersehat

DokterSehat.Com– Usus adalah salah satu organ paling penting bagi tubuh kita. Tanpa adanya usus di saluran pencernaan, kita akan kesulitan untuk menyerap nutrisi makanan. Masalahnya adalah karena gaya hidup yang tidak sehat, kondisi kesehatan usus bisa semakin menurun. Hal ini tentu akan memberikan dampak pada kondisi tubuh kita secara keseluruhan

Berbagai tanda yang menunjukkan usus sudah mulai bermasalah

Pakar kesehatan menyebut usus sebagai organ yang bisa memberikan pengaruh besar bagi sekresi beberapa jenis hormon dan sistem kekebalan tubuh.

Berikut adalah beberapa gejala kesehatan yang akan muncul jika organ ini mengalami masalah.

  1. Mudah sakit

Di dalam usus terdapat bakteri yang memiliki peran dalam menyerap makanan sekaligus menjaga kekuatan sistem kekebalan tubuh. Jika sampai usus mulai mengalami masalah, maka keseimbangan bakteri atau mikrobioma ini juga akan terganggu. Dampaknya adalah sistem kekebalan tubuh akan menurun dan akhirnya membuat kita rentan terkena infeksi atau jatuh sakit.

Jika kita cenderung rentan terkena masalah kesehatan seperti flu, pilek, batuk, atau meriang tanpa alasan yang jelas, jangan ragu untuk memeriksakan kondisi usus demi memastikan penyebab pastinya.

  1. Mengalami gangguan suasana hati

Tak hanya sistem kekebalan tubuh, kesehatan mental juga akan semakin menurun jika usus kita mulai bermasalah. Hal ini disebabkan oleh 70 persen produksi hormon serotonin berasal dari usus. Sebagai informasi, hormon ini dikenal sebagai hormon bahagia yang bisa mempengaruhi kesehatan mental atau suasana hati kita. Jika sampai produksi hormon ini terganggu, maka kita pun akan lebih mudah mengalami stres, depresi, hingga kecemasan.

  1. Mengalami peningkatan kadar gula darah

Memang, peningkatan kadar gula darah seringkali terkait dengan masalah resistensi insulin yang terkait dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kandungan kalori atau gula dan gangguan pada pankreas, namun pakar kesehatan menyebut tingginya kadar gula darah bisa jadi juga terkait dengan gangguan pada usus.

Kondisi ini akan membuat keseimbangan bakteri terganggu dan akhirnya mempengaruhi proses metabolisme gula menjadi energi. Hal ini tentu akan membuat gula tidak terpakai dan jumlahnya akan terus meningkat di dalam tubuh.

  1. Masalah kesehatan kulit

Selain karena faktor malas menjaga kebersihan kulit, munculnya masalah seperti gatal-gatal, jerawat, eksim, dan lain-lain bisa jadi juga terkait dengan masalah pada usus. Hal ini disebabkan oleh terjadinya peradangan pada tubuh akibat tidak sempurnanya proses penyerapan nutrisi makanan.

  1. Gangguan pencernaan

Masalah pencernaan seperti perut kembung berkepanjangan, nyeri perut yang sering muncul, hingga diare terkait dengan adanya perubahan pada keseimbangan bakteri pada usus. Jika kita sering mengalami gangguan pencernaan meskipun sudah menerapkan pola makan yang sehat, bisa jadi penyebabnya adalah masalah pada usus sehingga sebaiknya segera memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter.

  1. Bau mulut

Jangan salah, bau mulut tidak selalu disebabkan oleh kebiasaan malas membersihkan gigi. Bisa jadi hal ini terkait dengan kondisi kesehatan yang lebih serius seperti masalah pada usus. Jika sampai di dalam perut terjadi gangguan pencernaan, maka akan memproduksi aroma yang kurang sedap yang bisa saja keluar melalui mulut.

Meski kita sudah berusaha untuk membersihkan mulut dengan lebih baik, biasanya masalah bau mulut ini akan terus muncul sehingga membuat sensasi tidak nyaman.

  1. Terus ingin mengonsumsi makanan manis

Ketidakseimbangan bakteri usus akan membuat kita cenderung ingin mengonsumsi makanan manis atau tinggi gula. Masalahnya adalah hal ini bisa memicu peningkatan berat badan atau bahkan risiko diabetes.

Cerpen - Bayangan di Antara Aksara, By: Khoirul Taqwim



Aku tak pernah tahu sejak kapan semuanya bermula.

Mungkin sejak pertama kali aku membaca namanya di sebuah tulisan. Atau sejak kata-katanya menyelinap pelan ke dalam pikiranku, lalu menetap diam-diam di hati. Yang jelas, aku mengenalnya tanpa pernah bertemu—dan anehnya, itu terasa cukup untuk membuatku terus mengingatnya.

Dia… seorang wanita yang tak pernah kujumpai, namun begitu dekat.

Di ujung waktuku, namanya masih tinggal.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri—dan kadang pada Tuhan dalam diam—tentang skenario apa yang sedang dijalankan dalam hidupku. Tak ada pertemuan, tak ada percakapan panjang, bahkan tak ada ikatan yang bisa kusebut sebagai alasan untuk mengingatnya.

Namun, mengapa justru dia yang selalu tinggal?

Belakangan aku tahu, dia bukan perempuan biasa.
Dia anak seorang ulama besar.
Tumbuh dalam lingkaran doa, dalam penjagaan ilmu, dalam kehormatan yang tak semua orang mampu menjangkaunya.

Dan lebih dari itu—dia adalah seorang penghafal Al-Qur’an.

Sejak saat itu, aku mulai mengerti mengapa lidahku terasa kelu setiap kali ingin menyebut namanya. Seolah ada batas tak kasat mata yang menjaga jarak antara aku dan dirinya. Bukan jarak fisik—tapi jarak takdir.

Sedangkan aku?

Aku hanyalah kuli tinta.

Seorang pengais kata.
Yang memungut makna dari tanah,
dan berharap menemukan cahaya dari langit.

Tak ada yang istimewa dariku—kecuali kebiasaan menulis. Aku menulis apa saja yang terasa di hati. Tentang rindu, tentang sepi, tentang hal-hal yang bahkan tak pernah benar-benar terjadi.

Termasuk tentang dia.

Tanpa kusadari, satu tulisan menjadi dua, dua menjadi sepuluh, hingga akhirnya lima belas buku telah lahir dari jemariku. Dan di antara semua itu, ada bayangnya yang terselip diam-diam. Tidak pernah kusebutkan secara terang, namun hadir di setiap kalimat yang terasa lebih hidup dari biasanya.

Dia menjadi inspirasi yang tak pernah meminta untuk diakui.

Kadang aku berpikir—bagaimana jika suatu hari dia tahu?

Bagaimana jika suatu saat, tanpa sengaja, ia membaca salah satu tulisanku… dan menemukan dirinya di sana? Di antara bait-bait yang kutulis dengan hati yang tak pernah berani menyapa.

Apakah dia akan tersenyum?

Atau justru tak merasa apa-apa?

Atau mungkin… tak pernah tahu sama sekali.

Namun, semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa semua ini memang bukan tentang diketahui atau tidak. Ini tentang rasa yang tumbuh tanpa izin, lalu memilih untuk tinggal tanpa tuntutan.

Tentang cinta yang tidak membutuhkan pertemuan.

Ada saat-saat di mana aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Mengapa aku bisa begitu memikirkan seseorang yang bahkan tak pernah hadir di hadapanku?

Namun setiap kali aku mencoba melupakan, justru namanya kembali dengan cara yang lebih halus—melalui tulisan, melalui doa, melalui keheningan yang tiba-tiba terasa penuh.

Seolah Tuhan mempertemukan hatiku dengannya…
bukan di dunia nyata,
melainkan di ruang yang kosong.

Ruang tanpa wujud.
Tanpa suara.
Namun penuh rasa.

Dan di ruang itulah aku hidup bersamanya—dalam diam.

Aku tak pernah berharap lebih. Tak pernah berani membayangkan sesuatu yang melampaui batasku. Aku tahu, aku hanya bayangan dalam kisahnya—bahkan mungkin bukan apa-apa.

Namun bagiku, itu sudah cukup.

Cukup untuk membuatku terus menulis.
Cukup untuk membuatku terus mengingat.

Aku hanyalah bayangan,
yang berjalan di antara huruf-huruf,
diiringi air mata
yang menjelma menjadi aksara.

Dan jika pada akhirnya ia tak pernah tahu…
biarlah.

Karena dunia ini pernah terasa begitu indah—
meski cinta itu tak pernah bertemu.

Monday, 16 March 2026

Cerpen - Duel Kata di Langit Maya, By: Khoirul Taqwim

 


Tahun 2009.
Dunia maya masih seperti kota kecil yang baru tumbuh. Tidak banyak orang yang berkeliaran di dalamnya, tetapi mereka yang ada di sana membawa pikiran yang tajam dan keberanian untuk berbicara.

Aku memasuki ruang itu lewat Facebook.
Awalnya hanya sebuah tulisan pendek—sebuah pendapat tentang kehidupan, tentang masyarakat, tentang sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.

Namun ternyata tulisan itu seperti batu kecil yang jatuh ke dalam danau.

Gelombangnya melebar.

Satu komentar datang, lalu dua, lalu sepuluh.
Sebagian setuju.
Sebagian lain menolak dengan kata-kata yang keras.

Di antara semua komentar itu, ada satu nama yang selalu muncul.
Seorang penulis yang tajam. Kalimat-kalimatnya teratur seperti pasukan yang rapi.

Ia membantah tulisanku.

Aku membaca dengan hati yang berdebar.
Bukan marah, tetapi tertantang.

Malam itu aku menulis balasan.
Kata demi kata kususun seperti menyusun batu-batu argumen.

Sejak saat itu, setiap tulisan menjadi duel gagasan.

Pertarungan itu tidak berhenti di sana.
Kami berpindah ke Kaskus, tempat forum-forum ramai dengan diskusi panjang.

Di sana, thread kami menjadi semakin panjang.
Orang-orang dari berbagai latar belakang ikut masuk: mahasiswa, aktivis, bahkan mereka yang mengaku akademisi.

Sebagian menyemangati.
Sebagian menertawakan.
Sebagian lagi mencoba menjadi penengah.

Namun duel kami terus berlanjut.

Kadang ia menyerang argumenku dengan logika yang dingin.
Kadang aku menjawab dengan kalimat yang lebih tajam.

Aneh sekali.
Semakin keras perdebatan itu, semakin aku merasa menghargainya.

Seolah-olah kami adalah dua orang petarung di arena yang sama,
yang saling menguji kekuatan pikiran.

Perjalanan itu akhirnya membawa kami ke Kompasiana.

Di sana, pertarungan berubah menjadi tulisan panjang.
Artikel demi artikel muncul seperti bab-bab dalam sebuah buku yang tak pernah selesai.

Kadang ia memuji satu bagian dari tulisanku.
Kadang aku mengakui satu argumennya yang kuat.

Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang diam-diam tumbuh:

rasa hormat.

Suatu malam aku menatap layar komputer yang redup.
Komentar masih berdatangan.

Aku tersenyum kecil.

Betapa anehnya dunia ini.

Kami tidak pernah bertemu.
Tidak pernah berjabat tangan.
Bahkan mungkin tidak pernah tahu wajah satu sama lain.

Namun lewat kata-kata,
kami telah saling mengenal cara berpikir, keberanian, dan batas-batas keyakinan.

Di dunia nyata mungkin kami hanya orang biasa.

Tetapi di dunia tulisan itu,
kami pernah menjadi petarung gagasan yang menjaga api diskusi tetap hidup.

Dan hingga hari ini, ketika aku mengingat masa itu,
aku tahu satu hal:

Di langit maya yang sederhana pada tahun 2009,
kami pernah membuat kata-kata hidup seperti api.

Cerpen - Mimpi yang Datang Setelah Lagu, By: Khoirul Taqwim

 


Malam itu sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar perlahan di kamar kecilku. Di atas meja, sebuah lagu baru saja selesai kutulis. Judulnya sederhana: Suhesti, Penutup yang Tenang.

Aku membaca kembali setiap baitnya. Ada kenangan masa muda di sana, ada cinta yang pernah tumbuh, dan ada keikhlasan yang akhirnya kupilih. Setelah puluhan tahun, aku mencoba menutup cerita itu dengan damai.

Suhesti.

Nama itu dulu begitu sering hadir dalam hari-hariku. Kami pernah berjalan di lorong kampus yang sama, tertawa di perpustakaan, dan berbagi cerita tentang mimpi-mimpi yang masih jauh dari kenyataan. Tapi hidup selalu punya jalannya sendiri. Kami tidak pernah benar-benar menjadi satu cerita.

Lagu itu kutulis bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menutupnya dengan baik.

Malam semakin larut. Setelah menatap layar ponsel beberapa saat, aku akhirnya memejamkan mata.

Dan di situlah sesuatu yang aneh terjadi.

Aku bermimpi.

Dalam mimpi itu, aku melihat sebuah rumah yang sangat familiar—rumahku sendiri. Pintu depan terbuka perlahan, dan seseorang berdiri di sana. Ketika aku mendekat, wajah itu menjadi jelas.

Suhesti.

Dia berdiri dengan senyum yang tenang, seolah tidak ada jarak waktu puluhan tahun di antara kami. Tidak ada kemarahan, tidak ada pertanyaan. Hanya tatapan yang hangat, seperti dua orang yang pernah saling mengenal dengan baik.

Kami tidak banyak bicara. Dalam mimpi itu, rasanya kata-kata tidak terlalu penting. Kehadirannya saja sudah cukup.

Lalu mimpi itu berubah.

Kini aku yang berjalan di sebuah jalan kecil menuju rumahnya. Rumah yang dulu pernah kudatangi hanya dalam bayangan. Di depan pintu rumah itu aku berhenti, seperti seseorang yang datang membawa kenangan lama.

Aku tidak mengetuk pintu. Aku hanya berdiri sebentar, lalu tersenyum kecil.

Seolah hatiku berkata, “Cukup sampai di sini.”

Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar. Aku terbangun perlahan, masih mengingat jelas mimpi semalam.

Aku duduk sejenak di tepi tempat tidur.

Aneh memang. Setelah menulis lagu tentangnya, justru dia hadir dalam mimpi. Tapi kali ini rasanya berbeda. Tidak ada kegelisahan seperti dulu. Yang ada hanya perasaan tenang.

Mungkin benar, hati manusia kadang butuh cara sendiri untuk menyelesaikan cerita yang lama.

Aku mengambil ponselku lagi dan membaca lirik lagu itu sekali lagi.

Lalu aku tersenyum.

Mungkin Suhesti tidak pernah tahu bahwa sebuah lagu pernah ditulis untuknya. Mungkin dia tidak akan pernah membacanya. Tapi itu tidak lagi penting.

Karena pada akhirnya, yang benar-benar selesai bukanlah cerita di dunia luar.

Melainkan cerita di dalam hati.

Cerpen - Rindu dan Benci Jadi Satu, By: Khoirul Taqwim

 


Di suatu pagi yang biasa di kampus Jogja, aku pertama kali melihatnya. Namanya Suhesti. Wajahnya tenang, sikapnya terlihat cuek, seolah tidak mudah didekati. Ia bukan tipe wanita yang banyak bicara atau mudah akrab dengan siapa saja. Namun entah mengapa, sejak awal aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya.

Aku sendiri bukan laki-laki yang terbiasa berjalan bersama wanita. Hidupku lebih banyak diisi dengan belajar dan kegiatan kampus. Karena itu, ketika Suhesti suatu hari tiba-tiba mengajakku berjalan di sekitar kampus, aku merasa sedikit heran sekaligus canggung.

“Temani aku sebentar,” katanya singkat.

Kami berjalan menyusuri jalan kampus, lalu naik mobil angkut yang biasa membawa mahasiswa dari satu gedung ke gedung lain. Percakapan kami tidak banyak, tetapi entah mengapa suasana terasa hangat. Sejak hari itu, ia beberapa kali mengajakku berjalan lagi.

Suatu hari, ia mengajakku pergi ke pameran buku. Aku setuju tanpa banyak berpikir. Bagiku, itu sudah terasa seperti sesuatu yang istimewa.

Di tengah keramaian pameran buku, tanpa sadar aku melihat wajahnya dari dekat. Ia terkejut, wajahnya memerah, lalu mencoba melepaskan pandangannya dengan malu. Aku pun segera mengerti bahwa mungkin aku terlalu berani menatap wajahnya.

Namun yang aneh, saat hari mulai sore dan kami hendak pulang, justru ia berkata pelan,

“Jalan sebentar lagi, ya.”

Kalimat sederhana itu membuat hatiku semakin bingung.

Di lain waktu, seorang teman wanita melihat kami bersama dan bercanda,

“Kalian ini pacaran, ya?”

Aku langsung menjawab, “Tidak.”

Aku tahu Suhesti tidak ingin menjalin hubungan cinta saat kuliah. Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin hubungan seperti itu mengganggu masa depannya.

Namun bagiku, hubungan harus jelas. Jika hanya sahabat, menurutku tidak perlu sampai sering berjalan berdua seperti ini. Aku takut jika perasaan ini terus dibiarkan, suatu hari nanti akan menjadi luka yang lebih dalam.

Akhirnya aku membuat keputusan yang berat.

Aku memilih pergi.

Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku peduli. Aku tidak ingin hubungan yang tidak jelas ini menyakiti kami berdua.

Waktu berlalu. Kami menempuh jalan hidup masing-masing.

Beberapa tahun kemudian aku mendengar bahwa Suhesti telah menikah dan memiliki anak. Aku juga telah menjalani kehidupanku sendiri.

Namun suatu hari aku membaca tulisan-tulisannya. Dalam kata-katanya, aku merasa seperti menemukan bayangan diriku di masa lalu. Ia menulis tentang seseorang yang meninggalkannya. Tentang perasaan yang bercampur antara rindu dan benci.

Mungkin ia masih mengingatku.

Aku pernah mencoba membicarakan masa itu dengannya. Ia hanya diam dan mendengarkan. Tidak ada penjelasan, tidak ada perdebatan. Hanya keheningan yang panjang.

Kini ia bahkan memblokirku dan memilih tidak berinteraksi lagi. Seolah aku benar-benar hilang dari hidupnya.

Namun dari tulisannya, aku tahu satu hal.

Kenangan itu masih hidup.

Aku meninggalkannya karena aku ingin cinta yang jelas. Ia mungkin hanya ingin persahabatan yang dekat. Perbedaan itulah yang membuat kami akhirnya berjalan di arah yang berbeda.

Dan sekarang, semua itu tinggal menjadi cerita lama.

Sebuah kisah yang tidak pernah benar-benar dimulai, tetapi juga tidak pernah benar-benar berakhir.

Kisah tentang dua orang yang pernah berjalan bersama di kampus Jogja, di antara buku-buku dan mimpi-mimpi muda.

Kisah tentang rindu dan benci yang akhirnya menjadi satu.