Showing posts with label Injil. Show all posts
Showing posts with label Injil. Show all posts

Saturday, 24 March 2018

Kenapa Nabi Muhammad Tidak Bisa Membaca & Menulis?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Nabi Muhammad tidak bisa membaca?, Loh,.. nabi kok tidak bisa membaca.

Jadi tetmen-temen beberapa minggu yang lalu ada yang berkomentar di channel youtube saya, jadi ada umat Muslim yang murtad hanya karena Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis, kebetulan komentarnya lupa saya screen shoot karena uda tenggelem...

Nah, saya rasa alasan murtad karena hanya Nabi tidak bisa membaca merupakan alasan yang sangat sepele. Apalagi ia belum mengerti alasan, hikmah dan kenapa Rasulullah tidak bisa membaca maupun menulis.

Sehingga ia mudah terpengaruh dengan syubhat-syubhat seperti, “lihat nabi Muhammad gabisa membaca, masa seorang nabi gabisa membaca?”. Ingat temen-temen, para pendengki Islam selalu memiliki cara untuk menanamkan kegundahan dalam hati-hati kita ini yang Muslim dengan retotika cara bicaranya, apalagi yang awam.

Itulah sebabnya dalam Al-Quran memerintahkan agar bertanya kepada orang yang mengerti jika ada hal-hal yang meragukan seperti ini. Dan juga ini menunjukkan agar kita Muslim lebih banyak mengenal lagi agama Islam lebih dalam. Nah, seharusnya kita muslim mengenal banyak agama kita supaya tidak mudah ditipu dan dibodoh-bodohi oleh orang lain.

Nah, lalu kenapa sih Muhammad sebagai Nabi Allah tidak menjadikannya bisa membaca dan menulis?. Informasi bahwa Nabi tidak bisa membaca dan menulis juga termuat dalam surat Al-Araf ayat 157 dan Al-Angkabut ayat 48.

Oke jadi begini temen-temen. Pada masa itu, bahkan sebelum lahirnya Muhammad bangsa Arab belum mengenal struktur dan tata-bahasa yang baku. Maksudnya begini, jika kita pelajari bahasa Inggrs ada yang namanya grammar sbgai ilmu yang mempelajari tata bahasa inggris sehingga kita tahu bagaimana cara menulis dan membaca bahasa inggris yang bener. Begitu juga bahasa Indonesia, kita pernah mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia yang berisi aturan dalam bahasa-bahasa indonesia baik cara menulis maupun membaca. Jadi gimana cara baca yang bener, cara menulis yang bener ada patronnya, ada aturannya, ada ilmu yang membahasnya.

Namun Bahasa Arab pada masa itu, khususnya dimasanya Rasulullah, belum ada yang namanya ilmu begini nih. Kalau sekarang ilmu tata-bahasa Arab disebut Nahwu dan Sharaf, dulunya pada masa Nabi belum ada ilmu ini temen-temen.

Oleh karenanya pada masa itu sangat jarang orang menulis, ya karena tidak ada aturan bakunya. Nah, kalau orang yang menulis aja jarang. Gimana lagi dengan orang membaca? Apanya yang mau dibaca kalau tulisannya langka. Sehingga banyak orang yang tidak dapat membaca ketika itu karena tidak ada tulisan untuk dibaca maupun dipelajari.

Jadi ketika itu hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menulis dan membaca. Namun walaupun mayoritas mereka disebut masyarakat yang ummiy yakni tidak bisa menulis. Faktanya Rasulullah dikelilingi oleh para sahabat-sahabatnya yang mahir menulis yang disebut dengan Kaatib Rasul atau Sekretaris Rasulullah. Diantaranya Zaid bin Tsabit yang bertugas menulis surat-surat kepada Raja, Ali bin Abi Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, Mughirah bin Syu'bah yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang mendadak. Abdullah ibn Arqam yang bertugas menulis utang piutang dan akad-akad lainnya. Dan Hanzalah yang digelari Al-Kaatib karena berprofesi sebagai sekretaris umum.

Selain bisa menulis, sahabat Nabi juga ada yang bisa menterjemahkan bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit. Beliau kerap kali bertugas sebagai penerjemah surat-surat yang berbahasa non-arab kepada Rasul seperti bahasa Ibrani dan Suryani. Dan Zaid mampu mempelajari bahasa Ibrani selama 16 hari serta bahasa Suryani selama 17 hari saja. atas permintaan rasulullah SAW.

Dan sahabat wanita atau Shahabiyah yang dapat membaca dan menulis salah satunya Asy-Syifa binti Abdullah. Sedangkan Istri Nabi yang dapat membaca dan menulis adalah Hafsah dan Ummu Kultsum, sedangkan Aisyah hanya bisa membaca saja.

Dalam Kitab Al-Intishar disebutkan rasulullah memiliki 43 sekretaris. Namun sekarang temen-temen dapat membaca buku 65 Sekretaris Nabi SAW karya Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami yang nama berisi ke-65 biografi sekretaris Rasul.

Nah, oleh karena faktor tadi jadinya pada masa itu orang-orang arab mengagung-agungkan penyair. Karena para penyair dapat menulis dan menciptakan sebuah sastra Arab yang indah, yang mana pada saat itu belum ada aturan baku dalam bahasa Arab. Oleh karenanya mereka mengagung-agungkan penyair. Bahkan orang-orang yang dapat menulis pada masa Itu digelari Al-Kamiil yakni orang-orang yang sempurna.

Selain itu, pada masa itu tulis-menulis itu juga hanya untuk hal-hal yang penting saja seperti tulisan syair, hukum, aturan maupun surat. Nah dibawah ini merupakan contoh surat-surat yang ada pada masa itu. Dapat kita lihat bagaimana tulisan bahasa Arab ketika itu sangat berbeda dengan masa sekarang, tidak ada baris maupun titik. Sehingga selain orang Arab ketika itu tidak bisa membedakan huruf ba, ta, tsa, kha, ja, da, dza dan lain-lain karena tidak ada titik.


Nah, Sehingga karena jarang orang yang menulis dan membaca maka langka pula alat tulis seperti pena dan kertas. Oleh karenanya ketika itu saat Al-Quran turun para sahabat menulis ayat-ayat mereka dengar dalam media-media yang tersedia ketika itu seperti lempengan, tulang, kulit kayu, pelepah kurma dan lain-lain. Jadi salah jika ada yang mengatakan Al-Quran ditulis pada masa Utsman, karena faktanya Al-Quran sudah ditulis sejak masa rasulullah hidup dengan mendektekannya yang kemudian pada masa Abu bakar dikumpulkan hingga masa Utman di bukukan secara resmi.

Nah walaupun mayoritas bangsa Arab ketika itu tidak bisa membaca maupun menulis. Mereka terkenal dengan tradisi menghafalnya. Jadi bangsa Arab terkenal dengan kekuatan hafalan. Itulah sebab Al-Quran ketika di kumpulkan lebih banyak diambil dari hafalan sahabat. Nabi Muhammad sendiri sering mengulang-ngulang hafalan pada bulan ramadhan bersama Jibril.

Disisi lain dapat kita lihat bagaimana ulama kalau mau melihat keotentikan suatu hadits yang dinilai itu kualitas hafalan perawi sanadnya. Oke begini, temen-temen pasti pernah mendengar hadits dan ada bunyinya seperti “Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair berkata, Telah menceritakan kepadaku Al Laits berkata, Telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Hamzah bin Abdullah bahwa Ibnu Umar berkata: aku mendengar Rasulullah saw. ”

Itu artinya hadits ini diceritakan oleh Sa’id bin ‘Ufair, dia mendengar ceritanya kepada Al Laits, dan Al Laits mendengar ceritanya dari ‘Uqail, ‘Uqail dari Ibn Syihab, Ibn Syihab dari Hamzah dan beliau mendengar langsung dari Rasulullah.

Nah ini namanya sanad hadits. Jadi lafadz haditsnya dihafal oleh fulan, fulan fulan, fulan. Jadi kalau mau melihat keotentikan Hadits bukan dari tanggal kapan ditulisnya, tapi dari tokoh perawi sanadnya. Misalnya apakah mereka kuat hafalannya dsb.

Nah, itulah alasan secara sosial-historisnya kenapa Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis. Bahwa ketika itu memang mayoritas orang Arab tidak bisa menulis dan membaca. Loh apanya yang mau dibaca? Tulisannya aja langka? Dan mau tulis gimana? Aturan tulis yang baku aja ga ada. Maksdnya begini, saya mau tulis buku nih, nah masalahnya gimana cara saya nulisnya kalau aturan dalam menulisnya aja tidak ada? Oleh karenanya orang-orang Arab saat itu mengagungkan syair-syair indah. Mereka berfikir, kok ada yang bisa buat bahasa yang begitu indah, kurang lebih begitu lah. Contohnya Labeid bin Rabia, jika ia membacakan puisinya menyebabkan orang-orang Arab bersujud di hadapannya karena merasa kagum dengan syairnya itu. Segitu agungnya syair ketika itu.

Nah, alasan lain kenapa Rasul tidak bisa membaca dan menulis untuk membuktikan bahwa Al-Quran ini dari Tuhan. Maksudnya begini, bagaimana bisa seorang yang tidak bisa membaca dan menulis bisa menciptakan suatu kalimat yang memiliki sastra tinggi melebihi syair-syair bangsa Arab ketika itu, Nabi Muhammad kan tidak dikenal sebagai penyair.. lah nulis aja gabisa apalagi mebaca tulisannya. Tapi kok bisa loh menciptakan ayat dengan syair-syair indah seperti Quran?

Jadi ada cerita dimana pembesar-pembesar mekkah yang kafir ketika itu sering nguping bacaan-bacaan Quran Nabi Muhammad secara diam-diam dimalam hari. Suatu malam Abu Jahal keluar secara diam-diam ke rumah ponakannya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Dia diam-diam secara sembunyi2 menyimak bacaan Al Qur’an keponakannya itu, dan saking nikmatnya tanpa terasa hari menjelang subuh. Merasa kuatir tindakannya diketahui orang lain, Abu Jahal pulang dengan langkah yang hati-hati. Akan tetapi pucuk dicinta ulam pun tiba ditengah perjalanannya itu ia bertemu dengan dua temannya, yaitu Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq.

Kaget dong sekaligus menggelikan, ternyata mereka baru saja melakukan hal yang sama, mencuri-curi lantunan bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan mereka.

Namun nyatanya, malam kedua mereka kembali lagi. Mereka mengingkari janji mereka lagi. Dan Allah pun mempertemukan mereka kembali di jalan, semakin malulah mereka. Lalu mereka membuat janji lagi untuk tidak mengulanginya. Tapi apa yang terjadi?

Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri lantunan bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di rumahnya. Dan, mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, berjanji lagi, dan lagi. Masing-masing mereka berjanji akan mengakhiri perbuatan mereka itu.

Kejadian itu membuat Akhnas bin Syuraiq bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti itu? Akhnas bin Syuraiq tidak bisa menahan dirinya untuk meminta pendapat tentang apa yang dirasakan oleh kedua temannya. Abu Sofyan juga mengakui kehebatan ayat Al-Quran, hanya saja Abu Jahal dengan sombong tidak mau mengakuinya.

Akhirnya Akhnas dan Abu Sofyan masuk Islam bahkan Abu Sofyan temasuk tokoh yang menulis Al-Quran, namun tidak Abu Jahal dengan kesombongannya.

Hal ini juga membuat Labeid bin Rabia tokoh penyair ulung terkagum-kagum dengan Quran. Membuat Tufayl penyair ulung dari suku Douse masuk Islam setelah mendengat surat Al-Falaq. Inilah juga sebab yang menjadi Umar, manusia yang paling ditakuti pada masa itu masuk Islam. Karena mendengar adiknya membaca Quran pada surat Thaha. Ya, temen-temen bisa nonton di youtube tentang eksperimen non-muslim mendengar Al-Quran. Nah, itu orang non-arab yang mendengar saja takjub. Apalagi orang-orang arab ketika itu.

Pembesar-pembesar Arab itu tidak ingin masuk Islam bukan karena faktor agamanya. Mereka tidak mau masuk Islam karena mereka menganggap nanti jabatan mereka akan turun, jabatan mereka akan diambil oleh Nabi Muhammad, atau faktor kelas sosial yang saling gengsi satu sama lain. Padahal tidak begitu. Itulah sebabnya di awal-awal dakwah, yang masuk Islam dari kalangan orang miskin dan lemah.

Nah, inilah yang namanya Mukjizat Al-Quran. Dimana bahasa-bahasa Al-Quran hadir begitu indah dari orang yang kalau difikir-fikir tidak mungkin dapat menciptakan syair seindah ini.

Lalu dari mana juga ilmu tata bahasa Arab yang sekarang. Tahukah temen-temen, ilmu tata bahasa Arab ini diekstrak dari Al-Quran oleh Abu Aswad Ad-Duali, Yahya bin Ya’mur, Khalil Fahadiri, Subawaiyh dan tokoh-tokoh terkenal lainnya. Jadi bukannya Al-Quran yang mengikuti aturan kebahasaan Arab, melainkan aturan tata bahasa arab mengikuti aturan yang dikestrak dalam Al-Quran. Termasuk Alkitab atau Bible dalam bahasa Arab. Jadi kalau ada yang bilang ada ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan tata bahasa Arab, ya.. malah faktanya tata bahasa Arab dikestrak dari Al-Quran.

Dan kalau ada yang tanya kenapa sih Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab? Salah satu jawabannya; malah Al-Quran sediri yang menciptakan bahasa Arab. Iya, kalau kalian ke negara-negara Arab. Ternyata, bahasa Arab dengan bahasa Al-Quran sangat berbeda. Bahkan jika kalian berbicara dengan bahasa Arab seperti bahasa Arab yang kalian pelajari di sekolah dan pesantren mereka akan bilang Shadaqallahul ‘azdhim karena dikira kita membacakan Ayat Al-Quran.

Di Arab itu ada dua model bahasa Arab. Bahasa ‘Amiyah atau bahasa sehari-hari dan bahasa Fushah yakni bahasa formal. Nah secara tata bahasa juga berbeda antara bahasa ‘amiyah atau bahasa sehari-hari dengan bahada fushah atau bahasa formal yang diekstrak dari Al-Quran. 

Contohnya, jika saya bertanya dimana alamatmu? dalam bahasa arab sehari-hari ‘Unwaanak feyn dalam bahasa arab fushah Ma ‘unwaanuka. Ya, jauh yaa antara ‘Unwaanak feyn dan Ma ‘unwaanuka. Antara bahasa Arab sehari2 dengan bahasa Arab yang diekstrak dari Quran.

Jadi jika ada yang mengatakan Al-Quran itu berbahsa Arab, sebenarnya bahasa Al-Quran sesuatu yang berbeda dengan bahasa Arab orang Arab sehari-hari. Itu faktanya.

Terus kalau Nabi tidak bisa membaca, bagaiaman beliau membaca Al-Quran? Nabi tidak perlu membaca teks Al-Quran. Karena beliau menghafal seluruh isi Al-Quran temen-temen. Jadi Al-Quran ini sebenarnya kitab berbasis hafalan. Berbeda dengan Alkitab yang berbasis teks, artinya kalau ada teks yang hilang maka hilanglah dia. tetapi jika kitab Al-Quran ini hilang maka dalam jangka waktu 2 hari bisa dikembalikan dan ditulis kembali, ini bentuk bukti bahwa Allah menjaga Al-Quran dengan menjadikan kitab ini berbasis hafalan bukan berbasis teks. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk menghafal Al-Quran.

Oleh karenanya ketidak mampuan nabi Muhammad dalam membaca bukan suatu bentuk kecacatan seorang Nabi, tetapi sebagai bentuk bukti dan kemukjizatan atas status kerasulan beliau bahwa Al-Quran yang dibawakan oleh beliau benar-benar dari Tuhan.

Nah, semoga jawaban saya bisa menjawab kegundahan-kegundahan hati temen-temen selama ini. Dan juga kalau misalnya temen-temen menjumpai syubhat-syubhat yang menimbulkan kegundahan dalam hati. Jangan langsung dipercayai, bertanya dulu, dan berilmu dulu supaya kita mengerti dan faham apa hikmah dibalik itu semua.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kalau Taurat & Injil Sudah Diubah, Kenapa Kita Muslim Wajib Mengimaninya?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Kita tahu jika Taurat dan Injil merupakan kita yang diperuntukkan bagi umatnya Nabi Musa dan Nabi Isa pada masanya. Namun sekarang di era modern kedua kitab ini merupakan bagian dari kitab-kitab suci umat Yahudi maupun Nasrani.

Dalam Islam sendiri khusus Al-Quran memerintahkan umatnya agar menginami kitab-kitab yang diturunkan Allah seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran. Sebagai mana yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 136 dan 285, Ali-Imran ayat 84, An-Nisa ayat 136, Al-Maidah ayat 48 dan Al-Angkabut ayat 46. Ayat-ayat ini memerintahkan kita agar mengimani kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil.

Artinya, kesempurnaan iman kepada kitabullah adalah disaat kita mengimani jika Allah sudah mewahyukan kitab kepada Nabi Muhammad dan kepada Nabi-Nabi terdahulu.

Hanya saja, karena pendeknya akal. Ayat-ayat ini kemudian digunakan oleh pemeluk agama terkait sebagai dalil mereka dan propaganda mereka untuk mendoktrin umat muslim, atau untuk mempengaruhi umat muslim agar meninggalkan Islam dan beriman kepada keyakinan mereka dan kitab-kitab mereka saat ini.

Jadi cara mereka pengaruhi begini,..

Kamu muslimya?
iya!
Mengimani Al-Quran dong?
iya!
Nah, Dalam Al-Quran disuruh umat muslim agar mengimani Taurat Dan Injil, ini ayatnya loh..
wah…
Nah ini Injil!, dalam Injil nabi Isa itu Tuhan loh! Kalau kamu mengimani injil juga seperti yang diperintahkan Quran kamu harus mengimani Isa sebagai tuhan loh!

Yap, kalau kamu muslim yang awam pastinya mudah terpengaruh. Nah, hanya saja mereka ini menggunakan standar ganda. Artinya, ketika mereka menggunakan ayat-ayat tadi sebagai dalil untuk “membenarkan” kandungan kitab agama mereka untuk saat ini. Mereka lupa jika dalam Al-Quran Isa disebutkan sebagai Nabi dan haram menyebutnya tuhan. Jadi mereka hanya mengambil ayat-ayat yang dikira cocok untuk doktrin mereka, lalu membuang ayat-ayat yang dapat mengamcam keyakinan mereka untuk memurtadkan umat Muslim.

Disisi lain, disaat mereka mengklaim bahwa kitab-kitab mereka harus diimani umat Muslim, mereka malah membuang ayat-ayat yang menyatakan kalau Taurat dan Injil sudah diubah-ubah. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 79, Ali-Imran ayat 78, Al-Maidah ayat 41 dan An-Nisa ayat 46.

Sehingga ada yang mengatakan, Al-Quran tidak konsisten. Disatu ayat menyuruh mengimani Taurat dan Injil, di ayat Lain disebutkan kalau kitab ini tidak otentik, gimana ini.

Lucunya begini, disatu kondisi mereka menampilkan diri sebagai orang yang setuju dengan ayat Al-Quran seperti kasus yang pertama tadi, dimana mereka menggunakan dalil-dalil Quran untuk membenarkan doktrin mereka. Nah, saat kedoknya ketahuan disatu kondisi yang lain mereka malah menyerang Al-Quran dengan alasan yang lain seperti yang sudah kita jelaskan tadi. Disatu sisi mereka mengatakan, woh kitab kami masih otentik, lihat saja Al-Quran suruh mengimaninya. Disatu disisi mereka tampil dengan wajah lain dengan menyerang Al-Quran. Ini namanya standar ganda, standar ganda ini ciri-ciri orang munafik.

Terus pertanyaanya, kenapa disatu sisi Al-Quran memerintahkan kita mengimani kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Namun disisi yang lain Al-Quran juga mengatakan kitab-kitab yang tersebutkan tadi tidak lagi otentik karena sudah diubah-ubah oleh penganutnya. Sebenarnya apa sih, yang ingin Allah sampaikan? sebenarnya apa maksud dari ayat-ayat ini. Jika memang kitab-kitab ini sudah tidak otentik, lalu kenapa kita disuruh mengimaninya?

Dengan pertanyaan tadi, Sebagian orang yang memiliki sumbu pendek terlalu labil untuk mengambil kesimpulan, ditambah lagi doktrin-doktrin oleh orang-orang sebelah sana.

Sebenarnya, jawabannya sangat sederhana temen-temen. sangat sderhana.

Jadi sebenarnya Allah menginginkan kita agar mengimani dan meyakini bahwa Allah pernah mewahyukan kitab kepada umat terdahulu, khususnya kepada umat nabi Musa dan Nabi Isa. Bahwa Allah tidak mentelantarkan mereka, dan memerikan kitab kepada mereka sebagai wahyu dari tuhan dan pedoman hidup bagi mereka pada saat itu.

Artinya Allah menyuruh kita mengimani khabarnya, jika Allah memang pernah menurunkan kitab-kitab ini. Namun bukan mengimani isi kandungannya seperti yang ada sekarang. Sekali lagi, Allah memerintahkan kita mengimani jika Allah pernah mewahyukan kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Namun bukan menimani isi dan hukum-hukumnya yang ada sekarang.

Itu dikarenakan kitab-kitab terdahulu tidak lagi otentik, kemudian kitab-kita itu juga hanya diperuntukkan bagi bani Israil termasuk juga Injil. Makanya dalam al-maidah ayat 46 mengatakan kalau Injil itu petunjuk dan cahaya, loh kok begitu? iya bagi umatnya Nabi Isa ketika itu. Taurat juga petunjuk, bagi umat Nabi Musa pada saat itu.

Lalu apakah umat selain Bani Israil tidak diberikan kitab? berdasarkan Surat Al-Hadid Ayat 25 menyebutkan bahwa umat-umat lain juga diberikan wahyu dan kitabnya. Hanya saja kita tidak tahu apa-apa saja kitab itu karena tidak disebutkan dalam Al-Quran.

Alasan lain kenapa kita hanya boleh mengimani bahwa Allah pernah menurunkan kitab-kitab kepada umat terdahulu, namun tidak boleh mengimani isi kandungannya adalah, karena Allah telah mewahyukan Al-Quran, dan disaat Al-Quran telah diwahyukan hukum-hukum dalam kitab-kitab terdahulu tidak lagi berlaku. Yang berlaku adalah isi kandungan Quran seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Maa’idah :48. Petunjuk dan cahaya sekarang ini adalah Al-Quran, dan hukum yang dipakai adalah hukum Al-Quran.

Jadi jelas, ngga ada yang salah disini. Yang salah itu salah dalam memahaminya. Setelah ini jika ada orang yang mengatakan seperti diatas kita cukup senyum-senyum aja, karena lagi-lagi mereka salah kaprah. Dan kita sudah mengetahui alasannya, sudah tahu jawabannya. Maka setelah ini kita tidak akan lagi dibohong-bohongi serta dibodoh-bodohi oleh mereka-mereka ini.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 2 March 2013

Nabi Muhammad Dalam Injil (Bible), Terbongkar Rahasia!!

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (QS. as-Shaf : 6)


Assalamualaikum ikhwah fillah!!. Ada satu hal yang membuat saya merasa bahagia dan senang, diantaranya disaat Terbongkarnya Rahasia dan Tersingkapnya Kebenaran dan kitatu berada di pihak kebenaran. Dan salah satu rahasia yang terbongkar adalah "Tebuktinya Nubuwat Nabi Muhammad didalam Injil atau Bible atau Alkitab". Benar mahasuci Allah terhadap apa yang Allah wahyukan dalam firmannya tepatnya dalam surat As-Shaf ayat 6 yang berbunyi "...(datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)...". Subhanallah.

Tapi yang jadi masalah kita apakah didalam Alkitab Injil/Bible ada disebutkan nama Rasul Muhammad SAW? kita ketahui Al-Quran itu benar, dan tentu jika Al-Quran mengatakan bahwa kitab-kitab terdahulu menyebutkan bahwa benar nubuwat akan hadirnya Rasul Muhammad. Kenapa para Ahlul kitab (Taurat & Injil) tidak segera berbondong masuk Islam?.

Jawabannya, Kitab Taurat dan Injil sekarang ini telah di otak-atik oleh para "peseleweng", sehingga tersembunyilah kebenara selama beribu-ribu tahun. Allah itu maha melihat! Allah itu maha mengetahui! Allah itu maha kuasa!

"Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat." (Surat An-Nasr)

Lalu, Apakah Benar Ada Nubuwat Nabi Muhammad Didalam Alkitab Injil Atau bible?
Oke, sekarang mari kita masuk ke dalam ruang lingkup Kristen yang mengklaim Injil itu punya mereka dan masih sempurna. Loh, kenapa mengklaim? iya, soalnya injil itu bukan untuk ummat kristen tapi untuk ummat Nasrani (Nazareth).


Saya berupaya mencari dan menelaah Alkitab, dan saya temukan tepatnya di Injil/Bible/Alkitab Barnabas.

Injil Barnabas mengklaim bahwa Yesus meramalkan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w., sehingga cocok dengan Qur'an yang menyebutkan: "Dan (ingatlah) ketika 'Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata!" (As-Shaf : 6)

Ahmad adalah nama lain dari Muhammad, jika Ahmad itu artinya terpuji maka Muhammad artinya sangat terpuji. Sebuah tradisi ilmiah Islam mengaitkan nas Qur’an ini dengan rujukan-rujukan Perjanjian Baru kepada Parakletos (Yohanes 14:16, 14:26, 15:26, 16:7). Kata Yunani "parakletos" dapat diterjemahkan menjadi "Penghibur"; dan dalam tradisi Kristen, kata ini dikatakan merujuk kepada Roh Kudus. Sebagian sarjana Muslim telah mencatat kemiripannya dengan kata Yunani "periklutos" yang dapat diterjemahkan sebagai "yang terpuji"; atau dalam bahasa Arab, "Ahmad".

Nama "Muhammad" seringkali disebutkan secara tegas dalam Injil Barnabas, seperti dalam kutipan berikut:
"Yesus menjawab: `Nama sang Mesias adalah yang terpuji, karena Allah sendiri telah memberikan nama itu ketika Ia menciptakan jiwanya, dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: "Nantikanlah Muhammad; demi engkau, Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan begitu banyak makhluk, yang akan Aku serahkan kepadamu sebagai hadiah, sedemikian rupa sehingga barangsiapa memberkai engkau, dia akan diberkati, dan barangsiapa mengutuk engkau, ia akan dikutuk. Ketika Aku mengutus engkau ke dalam dunia, Aku akan mengutus engkau sebagai utusan keselamatan-Ku dan kata-katamu akan menjadi kenyataan, sedemikian rupa sehingga meskipun langit dan bumi akan gagal, imanmu tidak akan pernah gagal." Muhammad adalah namanya yang diberkati.' Kemudian khalayak itu mengangkat suara mereka, lalu berkata, `O Allah, utuslah kepada kami utusan-Mu: O Yang Terpuji, datanglah segera demi perdamaian dunia!'" Barnabas 97:9-10. Manuskrip Italia mengganti "Yang Terpuji" dengan "Muhammad" [4].
Namun demikian, sementara ada banyak nas di mana Injil Barnabas memberikan bacaan alternatif terhadap perikop-perikop yang terdapat dalam Injil-injil kanonik, tak ada satupun rujukan kepada Muhammad yang langsung menyebut namanya muncul dalam nas-nas sinoptik; dan khususnya, tak ada satupun rujukan kepada "Muhammad" di dalam Barnabas yang sesuai dengan rujukan "Parakletos" dalam Injil Yohanes yang kanonik. Hanya ada satu kesempatan di mana Injil Barnabas dapat dianggap "mengoreksi" sebuah perikop kanonik yang dikenal, sehingga mencatat sebuah nubuat oleh Yesus tentang seorang Utusan Allah (yang tidak disebutkan namanya):
Lalu Yesus berkata: "Akulah suara yang berseru-seru di seluruh Yudea, dan berkata: "Persiapkanlah jalan untuk utusan Tuhan," bahkan sebagaimana tertulis dalam Yesaya." Mereka berkata: "Bila engkau bukanlah Mesias atau Elia, atau nabi manapun juga, mengapa engkau mengajarkan suatu ajaran yang baru, dan membuat dirimu lebih penting daripada Mesias?" Yesus menjawab: "Mujizat yang Allah kerjakan melalui tanganku membuktikan bahwa aku berbicara tentang apa yang Allah kehendaki; akupun tidak membuat diriku sebagai dia yang engkau katakan. Karena aku tidak layak untuk melepaskan tali kasut ataupun pengikat sepatu Utusan Allah yang engkau sebut "Mesias," yang telah diciptakan sebelum aku, dan datang setelah aku, dan akan membawa firman kebenaran, sehingga imannya tidak akan pernah berakhir." (Pasal 43):
Nas ini sangat mirip dengan ayat-ayat dalam Injil Yohanes 1:19-30 yang kanonik, kecuali bahwa dalam nas ini, kata-kata tersebut diucapkan oleh Yohanes Pembaptis (di dalam Qur'an; Yahya ibn Zakariya) dan merujuk kepada Yesus.

Menurut salah satu versi dari Injil Barnabas:

'Kemudian imam itu berkata: "Dengan nama apakah Mesias itu akan dipanggil?" {Yesus menjawab} "Muhammad adalah namanya yang diberkati" ' (ps. 97).

danYesus mengaku, dan mengatakan kebenaran: "Aku bukanlah Mesias itu." (ps. 42:2)

Seperti telah disebutkan di atas, pernyataan-pernyataan ini tampaknya mengkontradiksikan keyakinan Islam. Namun demikian, seorang apologet Muslim terkenal, Ahmed Deedat berpendapat bahwa karena "Mesias" artinya sekadar "dia yang diurapi", maka kata itu dapat dihubungkan dengan nabi manapun, dan Yesus tentu memaksudkan bahwa Muhammad diurapi oleh Allah.

Namun demikian, mengenai Mesias sebagai sinonim dengan orang yang diurapi, hal ini tidak konsisten dengan konotasi yang kompleks dari Mesias menurut orang-orang Yahudi dari abad ke-1. Lihat Mesias. Mesias merujuk kepada seorang pribadi; dua orang tidak mungkin bersama-sama menjadi Sang Mesias. Mesias adalah seorang pemimpin Yahudi, yang berjuang dengan orang-orang Yahudi untuk memulihkan mereka menjadi suatu bangsa yang aman. Islam tidak mengatribusikan sifat ini kepada Muhammad.

Bila penulis Injil Barnabas telah berpengalaman dalam sebuah komunitas Kristen, ia akan paham makna Mesias yang berbeda. Dalam Dunia Kristen, kata ini telah mengandung konotasi dari seorang penguasa yang telah dinubuatkan yang menyelamatkan orang-orang percaya dari penghukuman. Deskripsi ini cocok sekali dengan pandangan Islam mengenai Muhammad.

Menurut salah satu versi dari Injil Barnabas, Yesus menyangkal bahwa dialah sang Mesias itu, dan mengklaim bahwa Mesias akan datang dari kalangan keturunan Ismael (Nabi Isma'il as - yakni, Arab):
"Pada saat itu Yesus berkata: 'Engkau menipu dirimu sendiri; karena Daud di dalam Roh menyebutnya Tuan, dan dengan demikian berkata: "Allah berkata kepada tuanku, duduklah di sebelah kananku, sampai musuh-musuhmu kutaruh di bawah kakimu lawan-lawanmu pijakan kakimu. Allah akan mengirimkan tongkatmu sehingga engkau berkuasa di antara lawan-lawanmu." Bila utusan Allah yang engkau sebut Mesias adalah anak Daud, bagaimana mungkin Daud menyebutnya tuan? Percayalah padaku, karena sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa janji itu telah dibuat dalam diri Ismael, bukan Ishak.'" (Barnabas 43:10)
Hajj Sayed (Anggota Senior dari CIMS), dalam bukunya yang baru di Mesir, membandingkan hal ini dengan pernyataan berikut dari Alkitab yang kanonik :
"Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?" Kata mereka kepada-Nya: "Anak Daud." Kata-Nya kepada mereka: "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Matius 22:42-46

Menurut Injil-injil kanonik, Yesus adalah "anak" (keturunan) Daud; karenanya, Hajj Sayed berpendapat bahwa pernyataan ini menguatkan pendapat Injil Barnabas.

Gagasan tentang Mesias sebagai seorang Arab juga ditemukan dalam pasal yang lain dari Injil Barnabas:
"Bila aku melakukan kejahatan, tegurlah aku, dan Allah akan mengasihimu, karena engkau melakukan kehendak-Nya, akan tetapi bila tak seorang pun dapat menegur dosaku, maka itu adalah tanda bahwa engkau bukanlah anak-anak Abraham sebagaimana yang engkau katakan, dan engkau bukanlah bagian dari Dia yang ke dalamnya Abraham terhisab. Sebagaimana Allah yang hidup, demikianlah dalamnya kasih Abraham kepada Allah, sehingga ia tidak hanya menghancurkan semua berhala dan meninggalkan ayah dan ibunya, tetapi juga bersedia mengurbankan anaknya sendiri dalam ketaatan kepada Allah.Imam agung menjawab: "Aku menanyakan hal ini kepadamu, dan aku tidak berusaha membunuh engkau, karena itu katakanlah kepada kami: Siapakah putra Abraham itu?" Yesus menjawab: "Semangat kehormatan-Mu, ya Allah, membakar diriku, dan aku tidak dapat berdiam diri. Sesungguhnya aku berkata, putra Abraham adalah Ismael, dan daripadanya akan datang Mesias yang dijanjikan kepada Abraham, bahwa di dalam dia semua suku di muka bumi akan diberkati." Mendengar hal itu, imam agung murka, dan berseru: "Baiklah kita merajam orang yang durhaka ini, karena ia adalah seorang keturunan Ismael, dan ia telah menghujat Musa dan Hukum Allah." (Barnabas 208:1-2)
Di sini, salah satu versi Injil Barnabas juga mengutip Yesus yang mengatakan bahwa anak Abraham yang dikurbankan adalah Ismael, bukan Ishak, sesuai dengan keyakinan Islam tetapi berlawanan dengan keyakinan Yahudi dan Kristen yang menyatakan Ishaklah yang dikurbankan. Dapat pula ditarik kaitan antara pernyataan dalam alinea terakhir bahwa "di dalam dia semua suku di muka bumi akan diberkati", dengan makna nama "Muhammad", yang "Dipuji (atau Berbahagia)". (Bdk.Life of Prophet Muhammad).

Maka Terbongkarlah Rahasia dan Tersingkaplah Kebenaran Bahwa Yesus Bukan Tuhan dan Bukan Anak Tuhan
Menurut Injil Barnabas, Yesus meramalkan dan menolak penyembahan dirinya sebagai Allah:
dan setelah mengatakan hal ini, Yesus memukul wajahnya dengan kedua tangannya, dan kemudian menutupi tanah dengan kepalanya, sambil berkata: "Terkutuklah barangsiapa yang memasukkan ke dalam ucapan-ucapanku bahwa aku adalah anak Allah" (53:6)

dan setelah berkata demikian Yesus keluar dari Bait Allah. Dan rakyat mengagungkannya, karena mereka membawa semua orang yang sakit yang dapat mereka kumpulkan, dan Yesus setelah berdoa memulihkan kesehatan mereka: oleh karena itu, pada hari itu di Yerusalem tentara-tentara Romawi, melalui pekerjaan Setan, mulai menghasut rakyat, sambil berkata Yesus adalah Allah Israel, yang telah datang untuk melawat umat-Nya." (69:6)

Yesus menjawab: "Dan engkau; menurut engkau siapakah aku?" Petrus menjawab: "Engkau adalah Kristus, anak Allah". Lalu Yesus menjadi marah, dan dengan murka Yesus menegurnya sambil berkata: "Pergilah dari padaku, karena engkau adalah iblis yang berusaha membuat aku berdosa" (70:1)

Yesus berkata lagi: "Aku mengaku di hadapan surga, dan meminta kesaksian dari semua yang hidup di muka bumi, bahwa aku adalah seorang asing bagi semua orang yang telah berkata tentang aku, yakni, bahwa aku lebih daripada seorang manusia biasa. Karena aku, yang lahir dari seorang perempuan, takluk kepada penghakiman Allah; yang hidup di sini seperti semua orang lainnya, sama-sama dapat mengalami penderitaan yang sama." (94:1)

Kemudian imam itu menjawab, dengan gubernur dan raja: "Jangan sesali dirimu, O Yesus, yang kudus dari Allah, karena pada masa kita pemisahan ini tidak akan ada lagi, karena kami akan menulis kepada senat Romawi yang suci dengan cara yang sedemikian bijaksana sehingga dengan dekrit kaisar tak seorangpun akan menyebut engkau Allah atau anak Allah." Kemudian Yesus berkata: "Kata-katamu tidak menghibur aku, karena ketika engkau mengharapkan terang, kegelapanlah yang akan datang; tetapi penghiburanku terdapat dalam kedatangan sang Utusan, yang akan menghancurkan setiap pandangan yang salah tentang aku, dan imannya akan menyebar dan akan menguasai seluruh dunia, karena demikianlah yang telah Allah janjikan kepada Abraham bapak kita." (97:1)
Hal ini sepenuhnya cocok dengan keyakinan Islam yang menyatakan bahwa Yesus ini adalah manusia dan seorang nabi. Menurut sejumlah hadits, Yesus akan kembali ke muka bumi pada masa depan dan menyatakan kepada dunia bahwa ia adalah "seorang hamba Allah". Menurut Imam Anwar Al-Awlaki dalam ceramah audionya Lives of the Prophets, hal pertama yang dikatakan oleh nabi Isa ketika ia berada di buaiannya adalah "Sesungguhnya aku ini hamba Allah", dan hal pertama yang akan dikatakan oleh Isa ketika ia kembali ke muka bumi adalah hal yang sama, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah". Menurut Qur'an:
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", Maryam dipanggil "saudara perempuan Harun", karena ia seorang wanita yang shaleh seperti keshalehan Nabi Harun a.s. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. (Surat Maryam:27-35)
Ditemukannya Injil Barnabas Kuno 1500 Tahun Yang Menyatakan Kedatanga Nabi Muhammad Setelah Isa, Di Turki
Untuk informasi lengkap seputar penemuan injil barnabas kuno ini silahkan klik  .

Dan inilah dia apa yang saya sebut Rahasia telah terbongkar, Kebenaran telah tersingkap, Kepalsuan telah terungkap..Allahu akbar!!

Bunyi dari isi Injil Barnabas tentang kerasulan Muhammad
Penemuan Injil kuno yang diyakini berusia 1500 tahun telah membuat heboh. Yang membuat gempar, Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

#ixzz2MM4zVd1J
Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 22 February 2013

Injil Barnabas Kuno Bertinta Emas Menyatakan Kedatangan Nabi Muhammad Setelah Isa Ditemukan Di Turki

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.





Bunyi dari isi Injil Barnabas tentang kerasulan Muhammad
Penemuan Injil kuno yang diyakini berusia 1500 tahun telah membuat heboh. Yang membuat gempar, Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Sebagian orang memprediksi injil tersebut adalah Injil Barnabas. Menurut mailonline, injil yang tersimpan di Turki itu ditulis tangan dengan tinta emas menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.
Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad:
  • Bab 39 Barnabas: ”Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita… Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad adalah utusan-Nya”.
  • Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ”…Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?”
  • Bab 41 Barnabas: “Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga ‘Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah…”
  • Bab 44 Barnabas: Pada bab ini Yesus atau Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad. ”Oh, Muhammad Tuhan bersamamu…”
  • Bab 97: Yesus menjawab, “Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: ‘Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak makhluk… Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..”
  • Bab 112: Dalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah aka membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Isi Injil Barnabas di atas dikutip dari barnabas.net.
Dan Protes Dari Paus Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).

Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.

Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.

Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.

Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.

Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).

Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.