Showing posts with label Public Figure. Show all posts
Showing posts with label Public Figure. Show all posts

Saturday, 9 June 2018

Iwan Pranoto: Kemandirian Masyarakat Bernalar

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

evolusi Industri sekaligus secara umum kemajuan sains dan teknologi hari ini tak dapat dil Iwan Pranoto: Kemandirian Masyarakat BernalarRevolusi Industri sekaligus secara umum kemajuan sains dan teknologi hari ini tak dapat dilepaskan dari buah keberhasilan gerakan pelibatan masyarakat dalam proses bernalar, yang dikenal sebagai Age of Reason atau Pencerahan.

Ini keberanian manusia meremukkan pasung mental yang diciptakan sendiri: bahwa dirinya masih ingusan sehingga tak layak berpikir mandiri [Kant, 1784].

Kemandirian Bernalar

Yang sebelumnya kegiatan belajar dan bernalar dikuasai kalangan agamawan dan ningrat, kemudian Pencerahan menyadarkan manusia bahwa dirinya, bahkan yang dari kalangan pinggiran, berhak dan perlu mengetengahkan buah olahan benaknya sendiri. Ini alasannya Zaman Pencerahan bermoto: "Berani menggunakan pemahaman hasil pemikiran sendiri".

Anggapan dirinya ingusan tadi, menurut Kant, bukan karena masyarakat kurang pandai, melainkan karena mereka belum memiliki keberanian dan sudah nyaman mematuhi manusia lain yang dianggap lebih tinggi. Kecuali itu, masyarakat awam juga sudah nyaman "nerimo" jika urusan dirinya dipikirkan pihak lain. Maka, menurut Kant lagi, agar masyarakat luas berani menggunakan pemahaman hasil bernalar sendiri perlu digaungkan kebebasan.

Ringkasnya, kebebasan bernalar mandiri merupakan cara menggelorakan Pencerahan.

Dalam hal penebaran kebebasan, sistem pendidikan memiliki peran paling strategis di masyarakat. Namun, untuk itu, sistem pendidikan perlu mentransformasi dirinya sendiri dahulu. Sistem pendidikan yang sudah berabad-abad terbiasa turut menebarkan kepatuhan sekaligus mengamini perasaan ketakberdayaan perlu berganti haluan nilai. Yang sebelumnya mengedepankan nilai mematuhi pikiran pihak yang ditinggikan berganti menjadi berani mengutamakan pernalaran sendiri.

Di luar sistem pendidikan formal terdapat dua inovasi mendasar yang turut menghela Pencerahan sekaligus mengubah kehidupan. Inovasi bersifat teknis ini secara langsung menumbuhkan makna perebutan hak belajar dan bernalar tadi dalam wujud nyata, yaitu mesin cetak dan ensiklopedia.

Sampai sebelum abad ke-15, buku harus disalin dengan ditulis tangan satu per satu. Akibatnya, buku menjadi mahal dan langka. Akhirnya, pengetahuan hanya dikuasai kelompok beruntung. Alat cetak yang ada juga tidak praktis karena cetakannya harus diukir dari papan kayu halaman per halaman.

Dengan berpikir bahwa usaha penerbitan buku berpotensi menghasilkan uang banyak, pebisnis dan pandai besi Jerman, Johannes Gutenberg, merancang alat cetak yang terdiri atas cetakan alfabet per alfabet dan terbuat dari logam. Ini membuat percetakan lebih sederhana serta tahan lama sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan cetakan yang bagus, relatif murah, dan bahkan indah.

Sebenarnya, di Korea pada tahun 1400-an sudah dibuat alat cetak sejenis, tetapi karena bahasa tulis di Korea [dan juga rumpun bahasa Sino-Tibet] memerlukan 10.000-an karakter, ide ini mandek. Sementara Gutenberg beruntung karena bahasa tulis di Eropa memerlukan kurang dari 70 aksara [termasuk huruf kecil dan besar, serta tanda baca].

Produksi berskala besar pertama Gutenberg berupa 200 kitab suci pada tahun 1455. Produk pertama ini laku keras, bahkan habis dipesan sebelum diluncurkan. Dapat dibayangkan guncangannya, kitab suci yang sebelumnya ditulis tangan satu per satu dan akibatnya hanya dapat dibaca kalangan agamawan, terobosan Gutenberg memungkinkan masyarakat turut memahami serta nantinya menafsirkan sendiri. Terobosan ini menyulut keberanian masyarakat untuk berpendapat menggunakan benaknya sendiri.

Sebelum ada mesin cetak Gutenberg, di seluruh Eropa hanya ada 30.000 buku, tetapi pada tahun 1500 sudah ada 9 juta buku [Kaku, 2011]. Ini Revolusi Informasi yang sesungguhnya.

Pada akhir abad ke-19, dengan tenaga mesin uap, industri penerbitan buku berskala industri semakin berkembang. Kemajuan penerbitan buku ini mempercepat penyebaran pengetahuan dan merombak dunia melalui revolusi radikal di sains, politik, agama, dan seni. Pesan pentingnya, kemajuan ini menyadarkan manusia bahwa ada pengembangan pengetahuan di luar keyakinan.

Setaraf dengan makna penting inovasi Gutenberg dalam peradaban manusia, filsuf Denis Diderot bersama matematikawan Jean le Rond d'Alembert menggagas ensiklopedia, yang diartikan sebagai kamus sistematis dalam sains, seni, dan kriya. Kumpulan pengetahuan mutakhir yang ditulis oleh 125 cendekiawan terkemuka Eropa dan diterbitkan tahun 1772 itu menjelmakan semangat Pencerahan dengan mengajak masyarakat mempertanyakan kepastian serta kebenaran mutlak dari masa sebelumnya berlandaskan nalar dan sains. Ensiklopedia diimpikan agar dapat menyemarakkan kasmaran belajar dan keberanian bernalar di masyarakat.

Dengan menyebarnya percetakan dan ensiklopedia itu, keran pengetahuan terbuka dan masyarakat asyik mencecap gelontoran informasi kemajuan sains dan pengetahuan lainnya.

Pemahaman bahwa pengetahuan sebagai milik publik serta bernalar sebagai hak tiap manusia terus berlanjut dan melintas rentetan gelombang zaman. Bahkan, pemahaman itu semakin terawat baik di era digital ini.

Era digital

Sekarang, penulis, percetakan, dengan pembaca sudah nyaris berada pada satu titik di ruang dan waktu. Teknologi digital memungkinkan penulis langsung berhubungan dengan calon pembaca dan mencetak tulisan di rumah pembaca, yang boleh jadi ada di pulau terpencil di tengah laut, nyaris dalam waktu sekejap. Semangat perebutan hak belajar oleh masyarakat beriringan dengan kemajuan teknologi digital.

Demikian pula dengan ensiklopedia. Walau ensiklopedia tradisional dalam wujud puluhan jilid buku tebal sudah jadi kenangan masa lalu, teknologi digital memungkinkan masyarakat hari ini mengakses pengetahuan dengan mudah dan murah. Bahkan "ensiklopedia" terlengkap dan termutakhir [baca: Wikipedia] sekarang terselip di dalam saku. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan telepon seluler [ponsel] di mana saja dan hanya butuh waktu sekian detik. Juga, sekarang masyarakat awam dapat berkontribusi turut mengisi, melengkapi, dan memvalidasi isi ensiklopedia.

Sayangnya, kemajuan di bidang pendidikan hari ini belum selaju percetakan dan ensiklopedia. Praktik pendidikan di dunia hari ini hampir masih sama seperti Zaman Pencerahan atau sebelumnya. Kemajuan pesat sains dan teknologi ternyata belum membuahkan kesepakatan bahwa kemerdekaan bernalar mandiri adalah sasaran utama sistem pendidikan. Kecakapan bernalar juga belum dibelajarkan di kelas secara sistematis.

Karena itu, institusi pendidikan perlu menggaungkan terus pembelajaran kecakapan bernalar. Masyarakat yang mandiri bernalar merupakan prasyarat pemijahan bibit toleransi sejati dalam bernegara, bermasyarakat, dan berkeyakinan di generasi mendatang.

Oleh : Iwan Pranoto, Pengajar Matematika di ITB
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi Selasa, 3 April 2018 dengan judul "Kemandirian Masyarakat Bernalar"

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Mengenal salah satu matematikawan Indonesia;
evolusi Industri sekaligus secara umum kemajuan sains dan teknologi hari ini tak dapat dil Iwan Pranoto: Kemandirian Masyarakat Bernalar



Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 28 October 2015

Rhenald Kasali: Generasi Wacana

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

ulisan dari Bapak Rhenald Kasali berikut menjadi catatan penting bagi seorang guru atau or Rhenald Kasali: Generasi WacanaTulisan dari Bapak Rhenald Kasali berikut menjadi catatan penting bagi seorang guru atau orang tua, dimana guru atau orang tua adalah salah satu pemegang faktor tumbuh kembangnya para generasi muda.

Seperti apa Bapak Rhenald Kasali menilai generasi wacana itu, mari kita simak;

Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tetapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja. Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, "Mau kuliah di mana? Swasta atau negeri?"

Bahkan, sampai menjelang lulus SMA sekalipun, masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa? Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan.

Bahkan, sarjana nuklir pun berkarir di bank, sarjana pertanian jadi wartawan, dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.

Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosis menjadi generasi wacana. Jadi, karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana. Ribut melulu. Paling jauh cuma bisa berbuat heboh di media sosial, membuat meme, tetapi tidak berani bertindak. Apalagi menggambil keputusan.

SUARANYA LANTANG
Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka dimana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan generasi wacana? Dengan gadgetnya, mereka memotret dahan itu. Juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. "Dimana dinas pertamanan kita? Ada dahan yang tumbang kok didiamkan!" Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main.

Baca Juga: Rhenald Kasali: Budaya Menghukum dan Menghakimi Para Pendidik di Indonesia
Begitulah potret generasi wacana. Padahal, kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Tidak hanya berwacana. Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada dimana-mana.

Sebagian generasi wacana tersebut memasuki dunia kerja. Karir beberapa di antara mereka meningkat dan menduduki posisi-posisi penting. Kalau diperusahaan swasta, mereka itulah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan atau ketika rupiah melemah/kembali menguat seperti sekarang ini.

Kalau didunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Biasanya kritik sana, kritik sini, tetapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.

Kalau dilingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari adu selamat. Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tetapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.

Akibatnya, kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.

WE CHANGE

Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya. Kata banyak orang, karena galau dan sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dari negara-negara lain.

Contoh gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dahulu ketimbang Malaysia dan Tiongkok. Tapi coba lihat berapa panjang jalan tol yang telah kita bangun.

Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya jalan tol Anyer Hitam. Panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan adalah BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang tol di Malaysia sudah mencapai 3.000 kilometer.

Tiongkok pun baru membangun. Jalan tol pertama pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun bernama Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini Tiongkok sudah memiliki jalan tol sepanjang 85 ribu kilometer. Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer!.

Begitulah kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.


Mari kita dukung Revolusi Mental, untuk perubahan yang lebih baik. Video ilustrasi berikut mungkin bisa mengajak kita untuk ikut berubah;
ulisan dari Bapak Rhenald Kasali berikut menjadi catatan penting bagi seorang guru atau or Rhenald Kasali: Generasi Wacana


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.