Showing posts with label Wawasan. Show all posts
Showing posts with label Wawasan. Show all posts

Friday, 21 December 2018

Kenapa Allah Senang Sekali Mengancam Manusia Dalam Al-Quran?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Ketika membaca Al-Quran, khususnya mengenai aturan perintah dan larangan dari Allah kepada manusia, maka tentu kita sering menjumpai ayat-ayat yang berisi perintah dan larangan disandingkan dengan ancaman-ancaman. Yakni ketika seorang hamba tidak mampu mengerjakan perintahnya serta juga tidak mampu meninggalkan larangannya, Allah akan mengancam mereka dengan azab, siksa, kesengsaraan bahkan api neraka.

Sehingga hal ini menjadi momok dan pertanyaan yang terngiang-ngiang dikepala umat Islam. Terlebih hal ini pula menjadi senjata bagi pembenci untuk menyerang agama Islam.

sebenarnya, permasalahannya disini adalah tentang ketidak mampuan hamba dalam memahami runtutan fase-fase atau tahapan-tahapan bagaimana cara Allah mendidik atau juga bagaimana cara Allah berbicara kepada hambanya melalui Kitab-Nya.

Dalam memerintah atau melarang hambanya, sebenarnya Allah tidak langsung memberikan ancaman dan ancaman kepada hambanya. Setidaknya ada empat fase dan tahapan yang Allah gunakan dalam hal ini, yakni tahap merenung, merefleksi, menggugah dan mengancam -bahkan ancaman sendiri merupakan tahapan terakhirnya.

1. Tahap Merenung
Tahap pertama yang Allah gunakan untuk mendidik hambanya adalah dengan cara meminta agar merenung, berfikir, bertadabbur dan mengingat. Instrumen ini Allah abadikan dalam Al-Quran dengan penggalan-penggalan ayat yang berbunyi seperti "apakah kamu tidak berfikir, apakah kamu tidak bertadabbur, apakah kamu tidak memahami" dan lain sebagainya.

Oleh karenanya ketika Allah memerintahkan sesuatu, melarang sesuatu atau mendidik hambanya Allah senantiasa mengajak agar dapat berfikir, merenung dan memahaminya. Gunanya supaya kita faham apa hikmah dan tujuan serta urgensi dari setiap perintah dan larangan Allah.

Tujuannya juga agar manusia ketika mengerjakan perintah Allah maupun larangannya, ia mengerjakannya dengan kesadaran diri, karena ia faham dan ia tahu apa hikmah dan manfaat dibaliknya. Sehingga manusia mampu melaksanakannya dengan ikhlas tanpa ada paksaan.

2. Tahap Merefleksi
Ketika membaca Al-Quran maka tentu akan banyak dijumpai ayat-ayat yang menceritakan mengenai tokoh-tokoh maupun umat-umat terdahulu, dengan berbagai tingkah-lakunya. Namun disisi lain ketika Allah menceritakan mereka ini, Allah tidak menceritakan secara gamblang, rinci dan spesifik melainkan diceritakan dengan cara umum. Gunanya adalah agar kita dapat merefleksi dan mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu serta tidak terlena dengan ceritanya sehingga luput dari esensi tujuan utama penceritaan mereka-mereka itu.

Begitu pula disaat tahap pertama tidak mampu, kita tidak mampu merenung, memahami dan mengambil hikmahnya. Allah kemudian mengajak kita agar dapat merefleksi dari umat-umat terdahulu. Bahwa beginilah contoh-contoh bagi siapa saja yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan bagi siapa saja yang melanggarnya. Allah mengajak kita agar bercermindari tokoh maupun umat terdahulu.

Karena terkadang manusia akan sadar dan yakin apabila melihat bukti empiris dan bukti nyata dari perenungan mereka. Maka itu Allah ceritakan tokoh-tokoh dan umat-umat terdahulu supaya kita dapat mengambil pelajaran dan memahaminya dalam bentuk bukti empiris.

3. Tahap Menggugah
Apabila tidak mampu mengambil pelajaran dari bukti empiris atas tokoh dan umat terdahulu, Allah kemudian menceritakan janji-janji dan jaminan-jaminan kepada hambanya apabila mereka mampu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Gunanya adalah untuk menggugah jiwa manusia agar termotivasi dari jaminan dan janji yang Allah tawarkan.

Karena manusia sangat excited dengan janji dan jaminan, dalam bentuk apapun itu. Jadi setidaknya jikalaupun tidak mampu meninggalkan perbuatan buruk karena kita sadar akan dampak buruknya, kemudian juga tidak mampu mengambil pelajaran dari umat terdahulu, setidaknya ia meninggalkannya karena termotivasi dari reward-reward yang dijanjikan oleh Allah dan berharap dengan cara itu ia mampu menjadi manusia baik.

4. Tahap Mengancam
Terakhir, jika ke-tiga tahap sebelumnya tidak mampu menyadarkan manusia, maka Allah akan menggunakan cara terakhir yakni ancaman. Walaupun Allah memberi ancaman, maka harus difahami bahwa ancaman-ancaman Allah merupakan ancaman penuh kasih dan sayang. Itu dikarenakan ancaman yang Allah berikan merupakan upaya preventif untuk mencegah manusia agar tidak terjerumus kedalam keburukan dan kesengsaraan.

Bukti jika Ancaman Allah masih menggunakan kasih sayang dapat kita lihat dari proses tahapannya, dimana tahap ancaman ini merupakan tahapan terakhir yang Allah tempuh. Disisi lain ketika Allah menceritakan kebaikannya Allah senantiasa menisbahkan kepada Diri-Nya seperti ungkapan anal ghafururrahim yang artinya Aku maha pengampun lagi maha penyayang. Namun ketika Allah menjelaskan azab, Allah tidak menjelaskan sighat seperti diatas dengan ungkapan anal mu'azzib (saya Pengazab!) akan tetapi dengan sighat inna azabi lasyadid (sesungguhnya Azabku ini pedih).

Analoginya seperti ini; saya mengatakan bahwa 'saya adalah orang baik dan pemaaf, akan tetapi saya juara dalam bidang silat, sekali saya pukul orang, langsung KO'. Nah, apakah redaksi ini menunjukkan bahwa saya seorang yang jahat? tentu tidak, saya hanya memperingatkan bahwa saya punya kemampuan silat yang demikian, however saya ini pemaaf.

Begitu juga dengan contoh tadi, walaupun ancaman azab Allah itu pedih Allah senantiasa memproklamirkan diri-Nya bahwa Ia maha pemaaf dan memaafkan siapa saya yang memohon ampun, agar terhindah dari azabnya.

Beginilah dengan 4 tahapan tadi cara Allah mendidik kita, sederhananya saya analogikan seperti ini:
  1. Tahap Merenung: Nak, belajarlah yang rajin, karena jika kamu rajin belajar kamu akan menjadi orang sukses dan mapan, kamu akan menjadi orang yang bermanfaat!
  2. Tahap Merefleksi: Nak, coba lihat tokoh-tokoh hebat itu! mereka dahulunya seorang yang giat belajar dan rajin. Sehingga sekarang kamu bisa melihat sendiri bagaimana mereka menjadi orang yang sukses. Ini merupakan tahap dimana apabila seorang anak tidak mampu merenung dan mengambil hikmah. Maka manusia cenderung ingin melihat bukti empiris agar meyakinkan mereka. Yakni caranya dengan merefleksi dan melihat dari kesuksesan seorang figur.
  3. Tahap Menggugah: Nak, belajar yang rajin ya, kalau kamu dapat nilai bagus nanti ayah ajak kamu jalan-jalan dan belanja. Tahap ini perupakan tahapan yang ditempuh untuk menggugah jiwanya. Dengan maksud agar si anak termotivasi dengan iming-iming reward. Tahap ini adalah saat seorang anak tidak mampu merenung baik juga merefleksi.
  4. Tahap Ancam: Nak, belajar yang rajin! jangan malas-malasan! kalau kamu malas-malas ayah hukum kamu ya!. Ini mrpakan tahap akhir, apabila seorang anak tidak mampu merenung, merefleksi bahkanpun tidak tergugah. Setidaknya dengan ancaman dapat memotivasi dirinya agar patuh. Bukan berarti orang tuanya jahat, melainkan tahu bahwa ada dampak buruk yang akan menimpa sehingga butuh upaya preventif walaupun akhirnya harus menempuh cara terakhir.
Tahapan-tahapan inipula seharusnya dapat diaplikasikan dalam hidup kita, baik dengan bagaimana caranya Allah mendidik hambanya maka begitu pulalah metode yang kita gunakan untuk mendidik anak, adik istri bahkan siapapu itu. Mulailah dengan tahapan merenung, merefleksi dan menggugah. Sehingga mereka melakukan atau meninggalkan hal itu adalah akibat dari kesadaran dirinya secara ikhlas, bukan dengan paksaan dan tekanan.

Oleh karenanya pandangan bahwa Al-Quran identik dengan ancaman adalah salah. Kesalah fahaman dan tidak mengertinya alur pembicaraan Al-Quranlah yang menjadikan pandangan terhadap Al-Quran menjadi negatif. Selebihnya sudah harus dapat kita fahami, bahwa alur cara Allah berbicara dan mendidik manusia dimulai dengan tahapan-tahapan yang sangat indah.
Maka, tidakkah kamu bertadabbur??

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 5 October 2018

Asal-Muasal Pertama Kali Munculnya Berhala Di Dunia

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Berhala pertama kali muncul dimasa nabi Nuh alaihisslam. Karena ini pulalah Nabi Nuh disebut-sebut sebagai Rasul pertama di dunia. 

Pada masa Nabi Adam hingga masa Nabi Nuh umat Manusia menyembah tuhan yang esa, menyembah Allah yang satu. Mereka tidak kenal patung, berhala dan semacamnya, yang mereka faham Tuhan itu tidak nampak dan Tuhan itu Esa. keyakinan umat manusia masih murni dan lurus ketika itu.

Hingga pada masa Nabi Nuh alaihissalam hiduplah lima orang shalih yang sangat giat beribadah. Saking giat beribadah, sholeh dan baik hati, kelima orang shalih ini bahkan menjadi penyemangat umat manusia ketika itu untuk beribadah, dan juga karena kebaikan kelima orang inilah kemudian masyarakat sekitar sangat mencintai kelima orang shalih ini.

Kelima orang shalih ini bernama Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, mereka adalah pemuka agama ketika itu. Dan Wadd adalah tokoh yang paling tua dari ke-4 lainnya.

Setelah kewafatan ke-5 tokoh pemuka agama yang shalih ini. Semangat ibadah dan iman mereka mulai menurun. Karena dulu ke-5 tokoh ini yang menjadi penyemangat mereka dalam ibadah.

Oleh karena itu sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Kathir dalam Kitab tafsirnya; Untuk memecut dan membakar kembali semangat mereka dalam ibadah, mereka kemudian berinisiatif membangung sebuah monumen yang berbentuk patung untuk mengenang ke-5 tokoh ini. Ibnu Abbas dalam kitab Ighasatul lahafan mengatakan; setelah kelimanya wafat, orang-orang berkumpul di dekat kubur mereka dan membuat patung-patung menyerupai kelimanya.

Ini pointnya; awalnya mereka membuat prasarti monumen berupa patung itu tujuannya bukan untuk diibadahi. Tetapi sebagai menumen dan penyemangat mereka, yakni ketika mereka melihat monumen orang-orang shalih ini mereka teringat gimana solehnya mereka sehingga itu mebuat mereka kembali bersemangatan dalam beribadah.

Kapan kemudian monument itu berubah menjadi sesembahan? yakni ketika orang-orang awal yang membangun patung itu telah wafat. generasi-generasi awal membangun prasati itu sebenarnya sebagai monumen, kemudian mereka wafat. lalu generasi berikutnya kemudian merubah cara pandang itu. Dari yang sebatas monument menjadi berhala sesembahan.

Jelas saja, karena generasi berikutnya mereka tidak kenal siapa itu Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Sedangkan generasi sebelumnya mereka kenal kalau ke-5 orang ini hanya orang saleh dan mereka membangun menumen itu untuk mengenang orang shaleh untuk menyemangati mereka dalam beribadah bukan untuk menyembahnya. Seiring berjalan generasi maka berubahlah cara pandang masyarakat, pada generasi berikutnya mereka melihat monumen itu diistimewakan lalu berubahlah fungsi monumen menjadi sesembahan.

Hal ini kemudian Allah abadikan dalam Al-Quran surah Nuh ayat 23 yang artinya:

“Dan mereka (Kaum Nabi Nuh) berkata, “Jangan kamu sekali-kali meninggalkan sesembahan-sesembahan kamu dan (terutama) janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’quq, maupun Nasr” (QS. Nuh: 23).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan dalam hadits Diriwayatkan oleh Bukhari, ia mengatakan “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syetan membisikkan kepada kaumnya, ‘Buatlah patung-patung di bekas majelis-majelis pertemuan mereka (sebagai simbol dan untuk mengenang keshalihan mereka), kemudian namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka’. Maka kaumnya melaksanakannya dan belum menyembah patung-patung tersebut. Ketika mereka meninggal, dan telah hilang ilmu, maka patung-patung tersebut disembah oleh generasi setelahnya” (Diriwayatkan oleh Bukhari, hadist no.4920).

Dalam buku Sirah Ibn Hisyam menjelaskan; Wadd kemudian menjadi sesembahan Bani Kalb, sedangkan Suwaa adalah berhala Huzail. Adapun Yaghuts adalah sesembahan Bani Gatif di Saba, dan Ya’uq adalah sesembahan Bani Hamdan. Sedangkan Nasr adalah berhala Bani Himyar [Sirah Ibnu Hisyam].

Inilah awal-mula rusaknya keimanan manusia dari menyembah Allah menjadi menyembah berhala. Karena itulah Allah mengutus nabi Nuh alaihissalam untuk meluruskan ajaran ini agar kembali menyembah Allah yang esa!.

Masa ini tidak singkat dan berjalan sangat lama. Usia nabi Nuh sendiri menurut Ibnu abbas dari Kitab Qashahsul Ambiya mencapai 1780 tahun. Nuh diangkat menjadi rasul diusia 480 tahun, dan hidup 350 tahun lagi selepas banjir besar. Nuh berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun menurut keterangan surah Al-Angkabut ayat 14. [Ibn Kathir, Kisah-Kisah Para Nabi, (Jakarta: Qisthi Press), 2015, Hal. 121]

Kalau kita hitung jarak antara Nabi Adam hingga Nabi Nuh berjarak sejauh 10 abad sebagaimana hadits Nabi [HR Ibnu Hibban no. 6190; Ath-Thabrani (Mu’jam Al-Kabir no. 5745);. 10 abad ini berbeda pendapat dari kalangan ulama. Ada yang mengatakan 10 abad ini artinya abad yakni 100 tahun ada juga yang megatakan abad ini artinya generasi.

Artinya selama 10 abad umat Manusia masih memurnikan tauhid. Dan selama 950 tahun manusia mulai mengotori ketauhidan Allah karena menyembah berhala di amsa nabi Nuh menurut informasi dalam surah al-Angkabut. Kemudian datang banjir besar yang memusnahkan kaum musyrikin dan meneggelamkan patung-patung berhala tadi. Baru kemudian manusia kembali mentauhidkan Allah.

Inilah awal mula asal-muasal munculnya penyembahan berhala. Awalnya mereka mengagungkan orang shalih, kemudian mendirikan monumen sebagai peringatan, dan kemudian generasi berikutnya dijadikannya sesembahan.

Sama seperti kasus munculnya berhala di Mekkah. Berhala Latta contohnya, Dalam Tafsir At-Tahabari menejelaskan Latta adalah berhala berbentuk segi empat yang ada di Tha’if [Tafsir Ath Thabari, 22/523]. Ibnu Kathir menjelaskan al latta adalah patung putih yang berukir. Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci. Sekelilingnya terdapat halaman. Latta di agungkan oleh penduduk Tha’if [Tafsir Ibnu Katsir (7/455)]. 

Siapa Latta itu? 
Ibn Abbas menjelaskan bahwa latta adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti untuk para jama’ah haji. Jadi Latta adalah seorang yang shalih dan dermawan, dia suka membagi-bagikan roti kepada jamaah haji. Ini jauh sebelum kelahiran rasulullah.

Kemudian sepeninggalnya, orang-orang mengenang sosok Latta ini dengan mendatangkan kuburannya dan mengambil berkah atas kuburan orang shalih. Lama-kelamaan batu nisan dari kubur ini dijadikan sesembahan. Maka jadilah ia berhala bernama Latta.

Kasus penyembahan Latta ini ternyata juga mirip dengan bagaimana awal mula penyembahan berhala di zaman nabi Nuh. Pertanyaannya, apakah Latta pernah meminta agar dibuatkan patung dan menyembah dirinya?

Itulah sebabnya Rasulullah melarang untuk membuat patung dan gambar dirinya. Karena ditakutkan dapat terjadi yang seperti ini nih. Bahkan dulu kristen generasi awal juga tidak membolehkan membuat patung. Hanya karena umat kristiani hidup berdampingan dengan penganut pagan romawi maka dilakukanlah pendekatan asimilasi. Merubah dari patung-patung pangan diganti dengan patung-patung orang suci atau disebut santo. Begitupula ada juga umat kristen yang menolak patung, Contohnya seperti Kristen Protestan. Pertanyaanya apakah Yesus atau Nabi isa pernah meminta dibuatkan patung dan gambar? well setahu tidak ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan: “Rasulullah SAW memerintahkan segala gambar tiga dimensi yakni patung dari orang mati, atau patung yang dibangun di atas kuburan agar dihancurkan, karena keduanya dapat menimbulkan kemusyrikan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 17/462)

Rasulullah bersabda, “Jangan sampai syaithan menyesatkan kalian, aku adalah Muhammad bin ‘Abdillah, seorang hamba Allah dan utusan-Nya, demi Allah, aku tidak suka jika kalian mengangkat derajatku melebihi derajat dan kedudukan yang telah Allah tetapkan bagiku.” [HR. Ahmad].

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 15 September 2018

Gurdwara, Rumah Ibadah Agama Sikh yang Mirip Masjid

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Buat teman-teman yang sering bepergian pastikan satu hal yang jangan ditinggalkan, yakni ibadah Shalat. Allah juga memberikan keringanan bagi orang yang sedang dalam perjalanan dengan dapat menjamak dan mengqasar shalat. Mungkin saja karena perjalanan kita jauh ataupun mobilitas yang tinggi. Sehingga mengharuskan kita menjamak dan mengqasar ibadah Shalat.

Kendala lain yang kita hadapi juga dimana kita kesusahan menemukan arah kiblat shalat. Solusinyanya adalah dengan mencari masjid setempat terdekat.

Tapi permasalahannya adalah, ternyata tidak semua bangunan yang berkubah ternyata masjid. Tidak semua bangunan yang secara fisik mirip dengan masjid adalah masjid.

Di Indonesia sendiri sebenarnya juga banyak bangunan-bangunan yang berkubah yang secara fisik mirip dengan Masjid. Faktanya bangunan dari foto yang teman-teman lihat tadi merupakan tempat ibadah sebuah agama yang disebut agama Sikh. Nah ini yang jadi permasalahannya, karena bangunan yang mirip dengan bangunan tempat ibadah kita ini ternyata juga tempat ibadah agama lain.

Ditakutkan kalau-kalau kita salah masuk saat kita sedang berlibur di suatu tempat. Karena tentu bangunan ini tidak menghadap kiblat, dan juga isi dalam bangunan ini mirip seperti interior masjid. Terlebih juga didalamnya tidak ada patung dan gambar, tetap saja ini bangunan tempat ibadah agama lain bukan masjid.

Bangunan rumah ibadah Sikh ini namanya Gurdwara (Gur-duara). Agama Sikh sendiri merupakan agama yang pemeluknya tergolong terbesar di India. Populasi penganut Sikh juga banyak di Malaysia, Bangladsh, Pakistan dan juga negara-negara besar seperti Amerika.

Gurdwara sendiri bisa dengan mudahnya kita jumpai di kota-kota besar di Malaysia yang terkadang membuat kita terkelabui dengan bentuk fisiknya itu. Di Indonesia sendiri berhubung populasi penganut Sikh sangat minim, maka pula kita sulit menemukan Gurdawara di Indonesia.

Di Indonesia sendiri dapat kita temui beberapa Gurdwara seperti Gurdwara Dharma Khalsa di Tanggerang, Gurdwara Guru Nanak di Jakarta Selatan, Gurdwara Guru Nanak di Pematangsiantar, Gurdwara Parbandhak Committe di Binjai, Gudwara Sikh Temple di Jakarta Pusat, Gurdwara Sri Guru Nanak Dev ji di Medan, Sikh Temple di Tanjung Priok, dan Gurdwara Guru Arjan Dev Ji di Sumatra Utara.

Ngomong-ngomong apa sih itu agama Sikh?

Oke Agama Sikh merupakan bagian dari agama Dharma yang lahir di India dan merupakan agama perpaduan atau sinkretisme antara Hindu dan agama Islam, ada juga yang menganggap Sikh merupakan sebuah aliran dalam agama Hindu karena dia pecahan dari Hindu. Didirikan oleh Guru Nanak Dev dan mencampurkan antara ajaran Hindu serta ajaran Islam.

Mereka menyembah Tuhan yang esa yang tidak memiliki nama secara spesifik namun disebut dengan Ik Ongkar. Hanya saja walaupun mereka menganut monotheis mereka meyakini konsep Tuhan yang patheistik. Memiliki kitab suci yang bernama Grand Guru Shahib.

Ciri khas agama Sikh adalah mereka mewajibkan memakai serban atau dastar serta pula memanjangkan janggutnya.

Baca Selengkapnya: Agama Sikh (Sikhism)

Lalu bagaimana sih kita dapat membedakan mana Gurdwara dan mana Masjid?

Gurdwara biasanya berkubah putih atau ke emas-emasan. Inipun sebenarnya belum bisa membuat kita dapat membedakan mana Gurdwara dan Masjid, karena Masjid juga ada yang berkubah emas dan putih. Ciri-ciri kedua adalah adanya simbol Khanda. Khanda sendiri simbol khas agama Sikh. 

Khanda

Ciri-ciri ketiga adanya tulisan khas Punjab atau tulisan India. Walaupun sebenarnya Masjid-Masjid di India juga memakai tulisan India, namun biasanya paling kurang ada tulisan Arabnya atau ada kaligrafinya. Ciri-ciri keempat adanya tulisan seperti Gurdwara, Vaheguru, Guru Nanak, Gurudwara, Sikh Temple dan tulisan-tulisan khas agama Sikh lainnya.

Ciri ke-lima adanya bendera Sikh yang disebut dengan Nishan Shahib, biasanya bendera ini berwarna biru atau kuning berbentuk segitiga dengan simbol Khanda. Jika teman-teman menjumpai kesemua ciri-ciri ini maka bangunan yang mirip Masjid itu sudah 100% bukan Masjid kita, melainkan Gurdwara.

Nishan Sahib
Sama seperti masjid sendiri, dalam Gurdwara umat Sikh beribadah dengan duduk dilantai atau lesehan. Jika dalam Masjid jamaah wanita berada di belakang jamaah laki-laki, maka di Gurdwara jamaah wanita berada di samping kiri laki-laki. Dalam Gurdwara juga ada altar tempat kitab suci mereka disimpan yang disebut dengan Darbar Shahib, yang kalau kita lihat agak mirip dengan mimbar didalam Masjid. Yang membedakannya lagi, dalam Gurdwara ada alat musik klasik India seperti tabla dan harmonika, karena mereka sembahyang dengan alat musik. Orang yang menyanyikan Shabda kitab Guru Shahib disebut Ragi.

Dibelakang Gurdwara ada ruang yang disebut Langar. Langar bukan Langgar ya! Langgar itu sebutan lain untuk Mushalla. Sedangkan Langar adalah ruang makan dalam Gurdwara, dimana setelah sembahyang mereka menuju ruang Langar untuk makan bersama-sama, dan makanan yang mereka sajikan adalah makanan vegetarian.

Gurdwara sendiri artinya Gerbang Guru. Gurdwara pertama dibangun di Kartarpur, di tepi Sungai Ravi di wilayah Punjab oleh guru Sikh pertama, Guru Nanak Dev pada tahun 1521. Sekarang terletak di Distrik Narowal Punjab barat (Pakistan). Namun ketika itu belum disebut Gurdwara, melainkan Dharamsala. Ketika populasi Sikh terus tumbuh, Guru Hargobind, guru Sikh keenam, kemudian memperkenalkan kata Gurdwara.

Gudrwara dibuka untuk umum, tapi ada beberapa aturan yang harus kalian penuhi saat memasuki Gurdwara:
  1. Melepaskan alas kaki
  2. Menutup kepala baik laki-laki maupun perempuan, dan biasanya mereka menyediakan kain penutupnya
  3. Dilarang memasukkan rokok atau tembakau dan obat-obatan
Gurdwara yang paling terkenal adalah Harmandir Shahib atau Kuil Emas di Amritsar, Punjab, India. Harmandir Shahib ini merupakan tempat suci utama bagi penganut Sikh. Sama seperti Masjidil Haram bagi kita Umat Muslim ataupun Bethamikdash di Jerusalem bagi penganut agama Yahudi.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 19 November 2017

Ternyata Ras dan Bangsa Didunia Berasal Dari Keturunan 3 Putra Nabi Nuh Ini

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Sudah menjadi kenicayaan bahwa kita hidup di dunia ini dihadapkan dengan berbagai ragam dan corak dinamikanya, termasuk dalam hal urusan dan ras dan bangsa. Hal ini juga sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (ras-etnis) supaya kamu saling kenal-mengenal (agar bisa hidup rukun). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Paling Maha Mengetahui lagi Paling Maha Mengenali. (Al Hujurat ayat 13)

Menurut A.L. Krober, ras manusia dibagi menjadi 4 golongan:
  1. Ras Mongoloid (berkulit kuning) Adalah ras manusia yang sebagian besar menetap di Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur Afrika, Beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan dan Oseania.
  2. Ras Negroid (berkulit hitam) Adalah ras manusia yang terutama mendiami benua Afrika di wilayah selatan gurun sahara. Keturunan mereka banyak mendiami Amerika Utara, Amerika Selatan dan juga Eropa serta Timur Tengah.
  3. Ras Kaukasoid (berkulit putih) Adalah ras manusia yang sebagian besar menetap di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan, dan India Utara. Keturunan mereka juga menetap di Australia, Amerika Utara, sebagian dari Amerika Selatan, Afrika Selatan dan Selandia Baru. 
  4. Ras-ras khusus yaitu ras manusia yang tidak dapat diklasifikasikan dalam keempat ras pokok, antara lain; Bushman  (Penduduk di daerah Gurun Kalahari, Afrika Selatan), Veddoid (Penduduk di daerah pedalaman Sri Lanka ), Polynesian (Kepulauan Mikronesia dan Polynesia), serta Ainu (Penduduk di daerah Pulau Karafuto dan Hokkaido, Jepang)
Ras adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok besar dan berbeda melalui ciri fenotipe, asal usul geografis, tampang jasmani dan kesukuan yang terwarisi. Namun dari manakah berasalnya ras tersebut?

Jika kita merunut kembali kepada sejarah asal-muasal manusia. Adam sendiri adalah manusia pertama dibumi sebagai orang yang pertama kali membangun peradaban di dunia bersama istrinya Hawa. Dari merekalah kemudian lahir Habil, Qabil, Syits dan seterusnya hingga Nabi Nuh. Jarak Nabi Nuh dengan Nabi adam berkisar sepuluh generasi.

Pada masa Nuh kemudian populasi manusia mengalami "perampingan" pada peristiwa air bah besar. Sehingga diyakini bahwa ummat manusia sekarang merupakan keturunan dari Nabi Nuh alaihissalam. Beliau memiliki empat orang anak laki-laki. Satunya tenggelam dalam banjir yang dan ketiga lainnya selamat. Nah, dari ketiga anak lelaki inilah kemudian lahir ras-ras yang ada didunia. 

Al-Qalqasyandi di dalam Nihayat al-Arab fi Ma′rifat Ansab al-Arab menyebutkan telah ada kesepakatan di kalangan para ahli nasab (genealogis) dan para sejarawan bahwa seluruh ras manusia yang ada setelah Nuh adalah selain orang yang bersamanya di kapal. Atas makna ini ditafsirkan firman Allah; ″(yaitu) putra cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.″ (QS. Al-Isra′ (17) : 3)

Dan bahwa mereka semua punah dan tidak menurunkan keturunan. Kemudian, mereka sepakat bahwa seluruh keturunan manusia sekarang adalah dari tiga putra Nuh. Allah berfirman: ″Dan Kami jadikan putra cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.″ (QS. Al-Shaffat(37) : 77)

Ahli tafsir di kalangan tabi’in, Imam Qatadah, menafsirkan, “Manusia semuanya adalah keturunan Nuh ‘alaihssalam”

Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab sejarah Al-Bidayah wan Nihayah (1/115),

فإن الله لم يجعل لأحد ممن كان معه من المؤمنين نسلا ولا عقبا سوى نوح عليه السلام …فكل من على وجه الأرض اليوم من سائر أجناس بني آدم ينسبون إلى أولاد نوح الثلاثة وهم سام وحام ويافث

“Allah tidak menjadikan seorangpun yang bersama Nabi Nuh dari orang-orang yang beriman anak dan keturunan kecuali Nuh ‘alaihis salam saja… Semua yang ada di muka bumi sekarang dinisbatkan kepada ketiga anak Nabi Nuh yaitu Sam, Ham dan Yafidz”

Al-Hamawi dalam Mu’jam al-Buldan, 2/84 menjelaskan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

“Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapal, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, sehingga 80 orang  tersebut meninggal kecuali Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia)”.

Keempat keturunan Nuh adalah Kan'an, Yafet, Sam, dan Ham. Kan'an tewas saat terjadi banjir bah besar maka tersisalah 3 putra Nuh dan setiap umat dari seluruh umat yang ada di bumi saat ini kembali nasab salah satu dari tiga putra Nuh, tentu saja bersama dengan beragam pendapat mengenai hal itu.

Dalam Atlas Sejarah Nabi dan Rasul karya Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, dijelaskan tentang kehidupan setelah bencana dahsyat tersebut terjadi. “Rombongan pun mulai keluar dan kemudian menetap di daerah tersebut,” tulisnya. Ini menjadi babak baru dalam peradaban manusia karena merekalah yang menjadi manusia pertama yang masih tersisa, yang masih hidup karena selamat dari bencana air bah tersebut.

Tak memutuskan untuk menetap dalam satu wilayah selamanya, rombongan ini kemudian menyebar dan mulai bermigrasi. Mereka menuju ke arah barat daya, yang kini menjadi Jazirah Arab, kemudian menyebar lagi.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nuh mendoakan ketiga putranya. Nuh mendoakan keturunan Sam menjadi nabi-nabi dan rasul. Nuh mendoakan keturunan Yafith untuk menjadi raja-raja, sedangkan dari keturunan Ham dia doakan agar menjadi abdi dari keturunan Yafith dan Sam.

Putra tertua Nabi Nuh, yaitu Yafet, memutuskan untuk bermigrasi ke arah timur. Kelompok putra Nuh yang lainnya sebagian bergerak ke arah tenggara menuju kawasan India. Kelompok lainnya bergerak menuju ke arah barat daya menuju ke Afrika. Dari sana mereka terus ke arah utara dan membangun peradaban.

Putra Nabi Nuh yang termuda yang selamat, yaitu Ham beserta istri dan keluarganya, bergerak menuju ke arah selatan, lalu memutuskan menetap di selatan Irak setelah permukaan bumi sudah mengering dan terlihat hamparan tanah subur yang sangat luas di sana.

Yafet adalah nenek moyang ras Yafetik, Ham menjadi nenek moyang ras Hamitik dan Sem adalah nenek moyang ras Semit. Ibnu Abbas menceritakan bahwa keturunan:
  • Sam menurunkan bangsa kulit putih,
  • Yafith menurunkan bangsa berkulit merah dan coklat, Sedangkan
  • Ham menurunkan bagsa Kulit hitam dan sebagian kecil berkulit putih.

1. Yafeth bin Nuh

Ibnu Thabari menyebutkan istri Yafith bernama Arbasisah binti Marazil bin Al Darmasil bin bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan darinya Yafith menurunkan 7 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan, yaitu Gomer, Marihu, Wa’il, Yawwan, Tubal, Hawshil dan Thiras sedangkan versi lain meyebutkan Gomer, Magog, Tiras, Javan (Yawan), Meshech, Tubal, and Madai. Anak perempuan dari Yafith adalah Shabokah.

Ketika Nuh menginjak usia lanjut, ia mendoakan agar keturunan Gomer menjadi raja-raja, karena mereka berdua ini melayani kakeknya disaat usianya lanjut.

Gomer (kummer) bin Yafet memiliki anak Turk dari sinilah muncul bangsa Turki. Termasuk di dalam ras mereka adalah Qabjaq, Tatar, dan Khazlajiah yang merupakan bangsa Ghuz (Kushan). Negeri-negeri Al-Shafd yaitu Ghor, Elan, Syarkes, Azkesy, dan Rusia, seluruhnya dari ras Turki. Dari sinilah lahir orang Skitia, Turkik, Armenia, Welsh, Pikt, Irlandia, Jerman. Shaqalibah (orang-orang Slaves/Slavia) dari keturunan Esykanar bin Togarma bin Gomer bin Yafet.

Dari Magog bin Yafet kemudian lahir sebuah bangsa yang kita kenal sebagai Yakjut Makjut (Gog Magog) yang masih rahasia hingga sekarang. Ras Cina, termasuk bangsa Cina, Jepang, Korea, Indo- china, Melayu, dan Indonesia (pen) dari keturunan Shin bin Magog bin Yafet.

Titas (Tyras) bin Yafet, Thirasians; tetapi orang Yunani mengubah nama mereka menjadi orang Trache. Keturunan Tiras adalah orang-rang  Traisa, Goth, Jute, Teuton. Muhammad ibn Jarir al-Tabari menceritakan bahwa Tiras memiliki seorang putra bernama Batawil, yang memiliki putri bernama Qarnabil, Bakht, dan Arsal menjadi istri Kush, Put, dan Kanaan (ketiga orang ini adalah putranya Ham bin Nuh).

Dari Yunan (Yawan) bin Yafet melahirkan bangsa Yunan dan mereka terpecah menjadi tiga kelompok. Yunan memiliki tiga anak yaitu Lathen, Greeks, dan Kuteim. Orang-orang Lithan adalah keturunan Lathen bin Yunan. Bangsa Greek, keturunan Greeks bin Yunan. Orang-orang Keitim berasal dari keturunan Kuteim bin Yunan dan kepada kelompok inilah kembali hierarki nasab bangsa Romawi.

Dari Meshech bin Yafet menurunkan Ashban. Suatu koloni dari Ishafan yang menetap di Syria, Mesir, beberapa daerah Afrika Utara yang lain dan Spanyol

Dari putra Tubal (Khatubal) bin Yafet turut serta bersama rombongan Meshech yang menghuni dataran Afrika Utara sampai ke semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dan kediaman mereka di sebelah Barat ke arah Utara di bagian Utara Laut Rum (Laut Tengah) melahirkan bangsa Leman. Yaitu orang Tabal, Georgia, Italia, Iliria, Liberia dan bangsa Sasque. Bangsa Francs (Perancis) dari putra Tubal bin Yafet.

Dari keturunan Madai bin Yafet melahirkan bangsa Daylam, yaitu orang Madea, yang oleh orang Yunani disebut Medes. Dari sini muncul orang-orang Mitani, Manai, Media, Parsi (Persia-Iran), Indo-Arya, Kurdi.

2. Sam bin Nuh

Ibnu Thabari menyebutkan istri Sam bernama Shalib binti Batawil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan darinya Sam menurunkan Arfaqsyad (Arpakhaxad), Asshur (Asyur), Lud, Elam, dan Aram. Melahirkan keturunan yang menjadi nenek moyang bangsa-bangsa besar di dunia.

Sejarawan Islam seperti Ibn Ishaq dan Ibn Hisham selalu memasukkan nama Shem dalam silsilah Nabi Muhammad.

Dari Arpakhsad/Arfaqsyad (Arpakhaxad) bin Sam melahirkan bangsa Ibrani dan Arab, dari jalur Amir bin Syalekh bin Arpakhsad bin Sam. Dari sini juga melahirkan bangsa Hind dan Sind melalui jalur Yoktan bin Eber bin Shaleh bin Arfaqsyad. Dari jalur Yoktan juga melahirkan bangsa Saba'. Melalui jalur Arfaqsyad ini banyak melahirkan Nabi seperti, Nabi Ibrahim, Daud, Isa hingga Nabi Muhammad.

Arfakhsyad inilah yang kemudian garis keturunannya menjadi cikal bakal lahirnya dua suku bangsa Arab yaitu suku Qahthan dan suku Adnan, yang mana keduanya akan bertemu pada silsilah dari ‘Abir (Eber). Suku Qahthan (Qahthaniyyun) adalah berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan bin  ‘Abir bin Syalekh bin Arfakhsyad. Suku ini disebut juga suku Arab Pribumi (Al-‘Arab Al-‘Aribah). Sedangkan suku Adnan (Adnaniyyun) adalah berasal dari silsilah Ismail (bani Ismail) melalui garis keturunannya yaitu Adnan, suku ini disebut dengan suku Arab pendatang (Al-‘Arab Al-Musta’ribah).

Dari Lud bin Sam oleh Ibnu Ishaq menyebutkan Lud kawin dengan anak perempuan Yafith yaitu Shakbah dan melahirkan baginya Faris, Jurjan, dan ras yang mendiami wilayah Persia. Kemudian dari Lud lahir pula Tasm dan Imliq (kaum ‘Amaliqah).

Imliq kemudian menurunkan bangsa Amalek yang kemudian menyebar di wilayah Uman, Hijaz, Syria dan Mesir. Dari keturunan Lud ini melahirkan bangsa bangsa perkasa di Syria yang disebut dengan bangsa Kanaanit. Dari Lud juga menurunkan Firaun Mesir, penduduk Bahrayn dan ‘Uman yang kemudian dikenal dengan bangs Jasim. Penghuni Madinah seperti Bani Huff, Sa’d bin Hizzan, Banu Matar dan Banu Al-Azraq, Penduduk Najd yaitu Badil dan Rahil, Penduduk Tayma adalah keturunan dari Lud bin Sham.

Tasm bin Lud berdiam di Yamamah (kota kuno Bahrayn). Dari keturunan Lud seperti Tasm, Amalek, Umaym dan Jasim menggunakan dialek arab, sedangkan dari keturunan Lud yang lain seperti Faris menggunakan dialek Farsi. Artinya dari jalur Faris bin Lud bin Sam bin Nuh ini kemudian juga melahirkan bahasa Persia.

Bangsa yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab adalah Imliq bin Lud setelah kepindahannya dari Babylonia.

Dari Aram bin Sam menurunkan Uz, Mash, Gether dan Hul. Kemudian Uz menurunkan Gether, ʿĀd dan Ubayl. Gether bin Aram menurunkan Tsamud dan Judays. Mereka ini berbicara dengan bahasa Arab Mudari.

Di Era kaum ʿĀd, mereka dikenal dengan ʿĀd dari Iram, ketika kaum’Ad dihancurkan maka kaum Tsamud disebut Iram. Setelah Tsamud dihancurkan keturunan Iram yang tersisa disebut dengan Arman atau Aramean.

Menurut Ibnu Hisyam, semua orang Arab adalah keturunan Isma’il bin Ibrahim dan Qahthan (yaitu Arfaqshad bin Sam). Jauh sebelum itu di kawasan Arabia pernah hidup orang-orang Arab yang lebih tua lagi, namun semuanya sudah punah. Mereka itu ialah kaum ‘Aad, kaum Tsamud (kedua-duanya disebut di dalam Al-Qur’anul-Karim), kaum Jadis, kaum kaldan dan kaum ‘Imlaq (kaum ‘Amaliqah), mereka inilah yang disebut dengan suku Arab yang punah (Al-‘Arab Al-Baidah).

Kaum Arab Ba’idah, yaitu kaum Arab terdahulu yang rincian sejarah mereka tidak dapat diketahui secara sempurna, seperti kaum ’Aad, Tsamud, kaldan dan Amaliqah (Amalek). Kaum ‘Aad atau ‘Ad merupakan suku Arab kuno yang dipimpin oleh ‘Ad ibn Kin’ad, hidup pada masa Nabi Hud As. Kaum Tsamud merupakan suku Arab kuno juga yang hidup dari 2300 SM sampai 200 SM di Gunung Athlab dan di seluruh Arab Tengah. Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Shaleh As. Kuam Kaldan hidup di masa Nabi Ibrahim As. Sedangkan kaum Amaliqah hidup bersama Nabi Ismail As.

Selain bangsa Arab, dari Aram ini juga melahirkan bangsa Suryani atau Aram (Syria). Nasabnya adalah Suriyan bin Nobet bin Mesh bin Adam bin Yafet.

Dari Ashur (Asyur) bin Sam melahirkan bangsa Asyur (Asiria), Kurdi dan bangsa Nabatea (penduduk babel/Babylonia).  

Dari Elam bin Sam ini kemudian lahirkan bangsa Iran-Kuno. Dan menjadi Persia saat berasimilasi dengan keturunan Madai bin Yafet bin Nuh.

3. Ham bin Nuh

Ibnu Thabari menyebutkan istri Ham bernama Nahlab binti Marib bin Al Darmasil bin bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan darinya Ham menurunkan 4 orang anak laki-laki, yaitu Kush, Put, Kanaan dan Qibthy atau Misraim.

Dari Kush bin Nuh, Ibnu Thabari menyebutkan istri Kush bernama Qarnabil binti Batawil bin Tiras dan darinya menurunkan Habsyah, Hind dan Sind. Pada akhirnya menetap di India. Di India mereka membentuk kerajaan-kerajaan Kuno di India, di mana kebanyakan yang menjadi raja mereka adalah keturunan Hind bin Kush bin Ham bin Nuh. 

Ketika Nuh menginjak usia lanjut, ia mendoakan agar keturunan Kush menjadi raja-raja, karena mereka berdua ini melayani kakeknya disaat usianya lanjut.

Penduduk Barqah pada masa lalu, atau yang dikenal sebagai bangsa Zawilah merupakan keturunan dari Hawilah bin Kush bin Ham.

Dari Put bin Nuh, Ibnu Thabari menyebutkan istri Phut bernama Bakht binti Batawil. Put kemudian berdiam bersama keturunan Kush yaitu Hind dan Sind di wilayah India.

Dari Kan'an bin Nuh, Ibnu Thabari menyebutkan istri Kan'an bernama Arsal binti Batawil bin Tiras dan darinya menurunkan bangsa berkulit hitam atau negro, Nubia, Fezzan, Zanj dan Zaghawah.

Dari Qibthiy (Mishraim) bin Nuh, Ibnu Thabari menyebutkan keturunan Mizraim adalah bangsa Koptik dan Barbar. Termasuk bangsa Qibty Mesir.

Abu Hanifa al Dainuri menyebutkan bahwa pada suatu masa (Raja Jamm), terjadi kekacauan bahasa (language isolates). Saat itu, putra-putra Nuh di wilayah Babel atau Babylonia atau Mosul atau Kurdi (sekarang Irak) makin memadati wilayah itu. Mereka menggunakan bahasa Suryani, bahasa yang digunakan oleh Nuh.

Namun pada beberapa masa berikutnya seiring dengan berpencarnya mereka, terjadilah kekacauan bahasa. Mereka berbicara dengan kelompoknya (keluarga, suku) memakai bahasa dan ungkapannya masing-masing, yang selanjutnya diwarisi oleh keturunannya.

Kelompok pertama yang keluar dari Babel berpencar ke Utara dan ke Timur adalah keturunan Yafet bin Nuh, mereka tujuh bersaudara yaitu; Al Turk, Al Khazar, Shaqlab (Slavia), Taris, Menesk, Kumari (Ghomari), dan Shin.

Kelompok kedua adalah keturunan Ham bin Nuh, berpencar ke arah Selatan (tenggara) dan Barat, mereka juga tujuh bersaudara yaitu; Al Sind, Al-Hind (India), Zandj, Habsy (Ethiopia), Nubah dan Kan′an (bukan Kan′an yang tenggelam saat banjir).

Kelompok ketiga adalah Sam bin Nuh, mereka tetap tinggal bersama Jamm (Raja Babel), dengan bahasanya sendiri antara lain bahasa Ibrani (Hebrew-bahasa Taurat), Suriyani (bahasa Injil) dan Arab (bahasa Al Qur′an).

Mengenai bangsa Indonesia sendiri telah mengalami pecampur bauran ras. Tidak diketahui pasti apakah keturunan yang pasti dari orang-orang melayu. Ada yang mengatakan keturunan Yafets ada yang mengatakan Ham. Namun dari website islamindonesia.id menyebutkan.
Bangsa-bangsa di Nusantara, sebagian besar merupakan hasil pembauran dari 2 komunitas ini, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Mereka merupakan zuriat (keturunan) dari Yafet bin Nuh (Haplogroup IJK), yang berkembang menjadi Haplogroup K, kemudian memunculkan ras baru Haplogroup NO. Dari Haplogroup NO inilah, kemudian muncul bangsa Nusantara (bangsa Austronesia), yang di dalam Human Y-chromosome DNA (Y-DNA) haplogroups, dikenali sebagai Haplogroup O1a-M119. Wallahualam.

Kesimpulannya adalah berbagai suku bangsa dan ras yang ada di seluruh dunia ini berasal dari satu kelompok manusia, yaitu keturunan Nabi Nuh. Ini yang menyebabkan dunia mengenal bahwa wilayah Timur Tengah merupakan ibu dan pusat dari seluruh dunia.


Nabi Nuh memiliki 4 anak yaitu Kan'an, Yafet, Sam, dan Ham. Kan'an tewas saat terjadi banjir bah besar maka tersisalah 3 putra Nuh. Nuh mendoakan keturunan Sam menjadi nabi-nabi dan rasul. Nuh mendoakan keturunan Yafith untuk menjadi raja-raja, sedangkan dari keturunan Ham dia doakan agar menjadi abdi dari keturunan Yafith dan Sam.

Yafet adalah nenek moyang ras Yafetik, Ham menjadi nenek moyang ras Hamitik dan Sem adalah nenek moyang ras Semit. Keturunan Sam menurunkan bangsa kulit putih, Yafith menurunkan bangsa berkulit merah dan coklat, Sedangkan Ham menurunkan bangsa Kulit hitam dan sebagian kecil berkulit putih

Dari Yafet muncul bangsa Turki  Yunani, jerman, Rusia, Cina, Jepang. Dari Sam melahirkan bangsa Suryani, Aramaic, Ibrani, Arab, Persia dan dari Ham melahirkan bangsa India, Afrika, Negro, Koptik (Mesir).

Abu Hanifah ad-Dainuri menganalisis mengapa seluruh penduduk dunia yang berasal dari satu keturunan ini bisa mengalami perbedaan bahasa. “Awalnya mereka menggunakan bahasa Suriyani, tetapi ungkapan yang ada pada setiap kelompok mengalami perubahan dan akhirnya diteruskan pada generasi berikutnya,” ujarnya.
Dari tulisan ini, kita bisa memahami bahwa miliaran penduduk dunia ini berasal dari satu rahim. Maka, ironis sekali jika kita mengedepankan perbedaan yang ada karena pada hakikatnya kita semua berasal dari darah yang sama, darah nabi yang mulia.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 28 October 2017

Mengenal Kosher, Konsep Halal Haram-nya Dalam Agama Yahudi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Sebagai Muslim kita pasti sudah sangat familiar dengan yang namanya Halal-Haram. Istilah yang muncul untuk makanan, pakaian, perbuatan dan sebagainya. Halal sendiri juuga dikenal dengan itilah sesuai hukum syar'i. Artinya perkara yang sesuai syari'at Islam disebut dengan halal, sedangkan yang tidak disebut dengan haram. Sedangkan perkara-perkara yang tidak jelas kehalalan dan keharamannya disebut dengan syubhat.

Dan selama ini yang berwenang untuk memberikan sertifikasi halal khususnya dalam hal makanan adalah LPPOM MUI. Makanan, minuman, kosmetik dan alat-alat lain diperlukan sertifikasi halal agar terhindar dari perkara haram atau hal syubhat bahkanpun dalam benda perkakas seperti kuas. Kuas cat sendiri menduduki titik kritis halal-haram karena ada sebagaian kuas yang dibuat dengan bulu babi.


Ternyata tidak hanya Islam, agama lain juga memiliki aturan untuk apa yang boleh yang tidak bagi pemeluk agamanya seperti larangan memakan daging bagi pemeluk Hindu, atau peraturan cara berpakaian bagi pemeluk Sikh. Bahkanpun juga agama Yahudi memiliki aturan seperti itu.

Jika didalam Islam dikenal dengan dengan istilah halal, maka dalam agama Yahudi dikenal dengan istilah Kosher. Kata 'kosher' dalam kamus Inggris - Indonesia (John M Echols dan Hassan Shadily, 1998) diterjemahkan sebagai 'halal' dengan contoh kosher meat = daging halal. Terjemahan tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan arti sesungguhnya dari kosher. Kosher atau kashrut atau kasher menurut Webster World University Dictionary, disebutkan sebagai ceremonially clean; conforming to Jewish dietary law.

Meruju pada laman wikipedia, Kosher (bahasa Ibrani: כַּשְׁרוּת kašrût), yang berasal dari kata kashrut atau kashruth (bahasa Ibrani: כָּשֵׁר kāšēr), adalah istilah dalam hukum tentang makanan Yahudi. Sesuai dengan halakha (hukum Yahudi) suatu makanan disebut kosher.

Kosher adalah istilah agama Yahudi yang kemudian menjadi hukum agama Yahudi menurut hukum Talmud mengenai aturan boleh tidaknya sesuatu untuk dimakan. Pengertian Kosher menurut Yahudi adalah hewan yang boleh dimakan. Jika kosher disamakan dengan halal, sedangkan lawannya adalah trefa, yaitu hewan yang tidak boleh dimakan.

Istilah sebenar dari kosher mengacu kepada binatang (dari spesies yang kosher, misalnya sapi atau domba) yang disembelih dengan cara yang keliru atau dilukai hingga mati oleh binatang buas dan karena itu tidak layak dimakan manusia. Yap, hampir sama seperti hukum Islam yang melarang memakan daging hewan yang matinya karena dilukai, diterkam dan kecelakaan. Di antara orang-orang Sefardi, istilah ini biasanya hanya merujuk pada daging yang tidak kosher.

Di antara berbagai peraturan dalam hukum kashrut terdapat larangan mengkonsumsi hewan yang tidak kosher seperti daging babi, kerang-kerangan (moluska maupun Krustasea), sebagian besar serangga (kecuali pada pesies tertentu misalnya belalang kosher), percampuran antara daging sapi dan susu, dan hukum yang mengatur cara menyembelih hewan mamalia dan unggas mengacu pada proses yang disebut shechita. Terdapat juga hukum mengenai produk hasil pertanian yang dapat mempengaruhi layak atau tidaknya suatu makanan dikonsumsi.

Dari buku The Naked Travler 3 yang saya kutip. Anehnya, daging dan susu tidak boleh dimakan bersamaan. Bahkan, peralatan masak dan makanannya tidak boleh sama, kulkasnya pun harus terpisah. Mereka boleh makan/minum produk susu dan turunannya enam jam setelah makan daging.

Hotel dan restoranpun harus bersertifikat Kosher. Dan biasanya rombongan Indonesia dilarang bawa makanan sendiri seperti mie instan dan sambal karena dianggap mencemari kosher.

Dari buku Dangerous Junk Food yang saya kutip pula. Masyarakat Yahudi begitu ketat dan peduli terhadap kosher ini, sehingga adanya produk-produk pangan yang tidak bersertifikat kosher akan ditolak mentah-mentah baik yang masuk ke negara Israel maupun yang dikonsumsi komunitas Yahudi dari berbagai belahan dunia.

Klasifikasi konser ini menurut pengakuan para pelaku bisnis sangatlah rumit dan berbelit. Jauh lebih kompleks dibandingkan dengan persyaratan halal. Oleh karena itu pengawasan dan proses sertifikasi konser dapat berlangsung hingga berhari-hari untuk satu jenis produk yang sangat kecil. Sebagai contoh, dalam proses penyembelihan hewan, mereka harus mengawasi dengan benar tata cara penyembelihan seperti yang mereka inginkan. Bukan saja para penyembelihnya yang harus diawasi dengan ketat, tetapi juga potongan-potongan dagingnya juga diawasi, karena mereka tidak makan bagian-bagian tertentu dari karkas.

Sama seperti sertifikat halal yang perlu lembaga khusus dalam melegalkannya, begitupula untuk kosher ini. Makanan yang dibeli di toko dapat diketahui sebagai kosher bila ada tanda hechsher (plural hechsherim), sebuah lambang grafis yang menunjukkan bahwa makanan itu telah disertifikasikan kosher oleh otoritas rabinik. Lambang yang paling sering adalah tanda "OU", yaitu huruf U dalam sebuah lingkaran (Ⓤ), yang melambangkan Jemaat-jemaat Uni Ortodoks. Namun banyak rabi dan organisasi yang mempunyai tanda pengesahan mereka sendiri-sendiri, dan lambang-lambang yang lain terlalu banyak untuk didaftarkan di sini.

Sama seperti konsep halal, kosher tidak mengendaki adanya babi dalam bahan-bahan makanan dan minuman. Selain itu hewan seperti sapi, domba, kambing, dll harus disembelih dengan menggunakan pisau tajam dan tidak boleh dimatikan dengan cara dipukul atau diterkam binatang buas.

Karena kemiripan pengertian kedua istilah tersebut, maka orang-orang Yahudi mengatakan bahwa makanan kosher adalah makanan yang halal bagi Muslim. Pengertian ini kemudian dikampanyekan dan disebarluaskan ke seluruh dunia. 

Walaupun terlihat mirip dengan konsep halal, hal yang paling penting yang ingin saya sampaikan disini adalah, tidak semua kosher itu halal dan boleh dikonsumsi oleh umat Muslim.


Ada makanan dan minuman haram bagi muslim namun kosher bagi pemeluk Yahudi. Begitupun sebaliknya, ada makanan dan minuman yang halal bagi umat muslim namun trefa (haram) bagi pemeluk Yahudi.

Contohnya makanan dan minuman yang masuk dalam kategori kosher tetapi tidak halal adalah minuman anggur (wine), semua jenis gelatin (yang memandang terbuat dari tulang atau kulit hewan apa), dan daging kosher yang meskipun disembelih tetapi tidak menyebutkan nama Allah.

sebaliknya, ada makanan yang halal bagi muslim namun haram (trefa) bagi Yahudi. Contohnya adalah kelinci, unggas liar, ikan yang tidak bersirip, kerang, dll. Dari penjelasan tersebut maka nyatalah halal dan kosher tidak sama.

Dari buku Pengetahuan Label Kemasan Pangan yang ditulis Ariani Kusuma Ningrum menjelaskan. Menurut LPPOM MUI, produk-produk impor yang menggunakan label kosher boleh dikonsumsi jika telah mendapatkan sertifikasi halal dari Lembaga Penjamin Halal Islam, karena banyak produk seperti produk babi yang mendapat label kosher tetapi tidak halal bagi konsumen Muslim. Oleh karena itu keduanya hendaklah jangan dicampuradukkan saat mengkonsumsi makanan halal dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 14 June 2013

Membakar Sampah Plastik Bisa Menyebabkan Keracunan & Kangker

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Sampah memang unik. Mengapa ? Karena dengan sampah kita bersahabat dan dengan sampah pula kita bisa berseteru. Demikian pula dengan kebiasaan membakar sampah yang masih menjadi kebiasaan banyak orang. Selain cepat, cara ini juga dianggap hemat untuk mengurangi sampah atau benda yang ingin dihilangkan. Padahal cara tersebut memiliki sejumlah bahaya bagi manusia maupun lingkungan.

Berikut ini tujuh fakta berbahaya dari aktivitas membakar sampah:
  1. Pada umumnya, terutama sampah dari rumah dibakar secara serampangan. Kegiatan ini akan menghasilkan karbomonoksida (CO) yang bila terhirup manusia dapat mengganggu fungsi kerja hemoglobin (sel darah merah) yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen (O2) ke seluruh tubuh. Kekurangan O2 ini bisa menimbulkan kematian. Sebagai gambaran kasar, satu ton sampah yang dibakar akan berpotensi menghasilkan gas CO sebanyak 30 kg.
  2. Asap dari pembakaran sampah plastik akan menghasilkan senyawa kimia dioksin atau zat yang bisa digunakan sebagai herbisida (racun tumbuhan). Selain itu, proses tersebut juga dapat menghasilkan fosgen atau gas beracun berbahaya yang pernah digunakan sebagai senjata pembunuh pada masa Perang Dunia pertama.
  3. Hasil pembakaran sampah yang mengandung klorin dapat menghasilkan 75 jenis zat beracun lain.
  4. Asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena (gas beracun penyerang jantung) sebanyak 350 kali. Zat ini ditengarai sebagai biang keladi penyebab kanker dan hidrokarbon berbahaya (seperti asam cuka) penyebab iritasi.
  5. Membakar kayu juga dapat menghasilkan senyawa yang mengakibatkan kanker. Sedangkan melamin dapat menghasilkan formaldehida (formalin) bila dibakar dengan suplai oksigen yang banyak atau HCN (asam sianida) bila kurang oksigen.
  6. Pembakaran sampah di area terbuka dapat menghasilkan partikel debu halus atau Particulate Matter(PM) yang mencapai level PM 10 (10 mikron). Dengan tingkatan tersebut, zat ini tidak dapat disaring oleh alat pernapasan manusia, sehingga bisa masuk ke paru-paru dan mengakibatkan gangguan pernapasan.
  7. Pembakaran sampah dapat menyebabkan kabut asap yang tebal dan mengurangi jarak pandang dan kenyamanan di lingkungan tempat tinggal. Yang lebih parah, bisa memicu terjadinya kebakaran dengan skala lebih besar. Kita tentu masih ingat terjadinya kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan kapal laut menabrak tebing dan menghentikan aktivitas penerbangan komersial di beberapa bandara.

Oleh karena itu, marilah kita mengelola limbah rumah tangga secara bijak, agar tidak membahayakan manusia dan selalu menjaga kenyamanan lingkungan.


Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 21 February 2013

Pohon Zaqqum Di Dunia Ada di Thaif, Saudi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Mendengar kata Arab Saudi, salah satu hal yang mungkin terbayang dalam kepala kita adalah panas. Maklum, bagaimana tidak, dataran Arab memang sudah ditakdirkan seperti itu oleh Allah swt. Tapi jangan heran, tidak demikian dengan sebuah kota bernama Thaif. Thaif, jika di Indonesia, mungkin seperti Bandung, yang sejuk.

Thaif adalah sebuah daerah yang terletak hanya 80 km dari Mekah, tetapi mempunyai iklim yang sungguh berbeda dengan Mekah. Di Mekah mungkin orang sudah kepanasan karena suhu 48 derajat celcius. Perbedaan yang tentu saja selalu membuat kening orang berkerut karena terasa jomplang sekali dikarenakan kedua kota itu berada di Saudi, dan bisa dibilang “bersaudaraan” karena jaraknya yang hanya bisa ditempuh dengan waktu hanya 1,5 jam saja mengenakan kendaraan.

Thaif terkenal sebagai pemasok sayur mayur dan buah-buahan di Arab Saudi. Thaif diberkahi dengan kesuburan tanah meski komposisi bebatuannya lebih banyak. Buah dan sayur yang terdapat di pasar tradisionalnya melimpah dan segar. Segala macam buah berada di kota ini, termasuk buah delimanya yang sangat terkenal.

Untuk memasuki Thaif, diperlukan izin khusus dan pemeriksaan yang cukup ketat. Ini mungkin karena di sana terdapat sekolah militer dan gudang senjata pemerintahan Arab Saudi.

Kota ini dikelilingi oleh pegunungan yang dingin. Dahulu, sekadar mengingatkan, di kota inilah Nabi Muhammad saw pernah diusir dan dilempar batu. Kini, di daerah ini pula tumbuh subur pohon Zaqqum, pohon yang dipenuhi duri tajam dan besar. Dalam Surah Al Waqiah ayat 52, pohon ini bakal menjadi bahan makanan penghuni neraka. Apa gerangan pohon Zaqqum ini? Samakah dengan pohon Qhorqod Yahud?

Zaqqum ( زقوم‎) adalah pohon di neraka yang buahnya menjadi makanan penghuni neraka, jika pohon ini diletakkan di dunia, maka akan hancur bumi beserta isinya. Jika dimakan rasanya akan seperti kuningan yang dicairkan bahkan lebih buruk. Buah tersebut akan membakar wajah beserta organ dalam tubuh mereka. Penghuni neraka akan selalu lapar, mereka akan selalu tergesa-gesa kedasar neraka, untuk memakan apapun yang dapat mereka temukan. Didasar neraka ini mereka akan dipaksa memakan buah dari pohon Zaqqum. Bahkan sebelum disentuh pun, bibir mereka akan terbakar sehingga nampaklah gigi mereka. Tidak hanya itu, mereka akan menelan duri yang akan merobekkan kerongkongan setelah buah itu ditelan. Sebelum buah itu sampai keperut, buah itu akan membakar dan mengeluarkan isi perut.

Istilah zaqqum ini digunakan dalam Al Quran ayat:
  • as Shafaat 62, 63, 66 dan 67, 68
  • al Israa 60,
  • ad Dhukan 43,
  • al Waqi’aah 52.
”(Makanan surga) itulah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka jahim”.(As Shaffat:62 – 68 )

Rasulullah Shallahu’alaihi wa Sallam bersabda,”Seandainya setitik dari zaqqum diteteskan di dunia niscaya akan menghancurkan kehidupan semua penghuninya. Lalu bagaimana dengan keadaan orang yang menjadikan zaqqum sebagai makanannya?” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dalam sunannya, kitab Az-Zuhud, bab Shifat An Nar, 8/4325.)

Walaupun pohon zaqqum tidak sama dengan pohon gharqad, tetapi orang-orang Yahudi sudah terkenal senang memelihara pohon ini. (sa/berbagaisumber)

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.