Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Sunday, 23 March 2025

Tuhan, Maafkan Aku yang Tetap Miskin di Hari Lebaran Ini

 


Tuhan,

di hari yang semestinya penuh syukur ini,
aku datang dengan hati yang berat,
tak ada lagi tawa dua suara di meja,
tak ada lagi pelukan hangat di sudut rumah.

Hari Lebaran yang dulu ramai dengan kehangatan,
sekarang hanya kenangan yang mengalun di sunyi,
orang tua telah pulang ke pangkuan-Mu,
meninggalkan aku dengan keterbatasan yang tak terobati
dan kerinduan yang semakin meradang di dada.

Maafkan aku, ya Tuhan,
yang tetap miskin bukan hanya dalam harta,
tapi juga dalam kehadiran mereka yang kucintai,
yang tak bisa lagi kupeluk di hari kemenangan,
yang tak lagi menertawakan langkah kecilku menuju harapan.

Aku menyusuri hari dengan seutas doa
meski sajadahku robek dan kainnya pudar,
aku menyapa kenangan lewat air mata,
mengharapkan sedikit hangat dari rahmat-Mu,
agar di tengah kehilangan, aku masih bisa bertahan.

Di balik keterbatasan ini,
aku belajar untuk mensyukuri tiap detik yang tersisa,
meski kekosongan mengisi ruang-ruang sepi,
aku percaya, kasih-Mu lebih dari cukup
untuk mengisi lubang-lubang yang ditinggalkan.

Tuhan,
di hari yang sakral ini,
kuharap agar setiap rindu yang terpendam
dapat terobati oleh kehangatan abadi-Mu,
dan aku, walau miskin dan terluka,
dapat menemukan secercah cahaya dalam gelap.

Selamat Hari Raya,
meski tanpa pelukan orang tua,
biarkan hatiku tetap terisi syukur
dan tiap doa yang kupanjatkan
mengalir sebagai penghubung jiwa yang tak pernah padam.

Bunda yang Sudah Tiada di Hari Lebaran



Sepi bergaung di ruang tamu,
ketika gema takbir mengalun lembut.
Di sudut hati, ada rindu yang menyeruak,
mengingat sosok bunda yang telah berpulang.

Dulu, hangat senyummu sambut pagi Syawal,
menyuguhkan opor dan ketupat dengan cinta.
Kini, meja terhampar sunyi,
tak lagi terasa sentuhan tanganmu.

Dalam doa yang kuucap di sajadah,
terbayang wajahmu, lembut penuh kasih.
Setiap takbir mengingatkanku,
bahwa jarak kita kini selamanya berbeda.

Air mata menetes di sela takbir,
merajut rindu yang tak terbalas.
Namun kuyakini, cinta kita abadi,
mengikat ruh yang tak lekang oleh waktu.

Selamat Hari Lebaran, bunda.
Walau kini kau tak di sisiku,
doa ini kutitipkan pada angin Syawal,
semoga sampai pada keheninganmu di sana.

Kenangan di Waktu Madrasah Aliyah: Saat Hari Lebaran

 


Dulu, waktu kita di Madrasah Aliyah,
aku mencatat lebih dari sekadar pelajaran fiqih dan bahasa.
Ada senyummu,
yang pelan-pelan kuhafal seperti ayat cinta yang tak pernah kuterjemah.

Hari-hari sekolah, kita saling tatap dalam diam,
berbalas senyum lewat kaca jendela dan bayangan.
Namun saat lebaran datang—
itu satu-satunya waktu aku bisa ke rumahmu, tanpa alasan yang dipertanyakan.

Dengan baju sederhana dan memakai sandal seadanya,
aku berjalan melewati sawah yang terhampar penuh suara takbir dalam jiwaku.
Tanganku gemetar, bukan karena takut,
tapi karena harap—aku bisa melihatmu walau hanya sekejap.

Kau keluar dari balik pintu,
dengan wajah indahmu dan senyum yang selalu kutunggu.
"Silakan masuk," katamu,
dan aku duduk canggung, menahan hati agar tak tumpah rindu.

Kita bicara soal guru, soal kelas,
tapi mataku ingin bicara soal cinta yang tak pernah lepas.
Di meja itu, ada nastar dan rempeyek,
tapi bagiku, lebaran selalu manis karena ada kamu di dekat.

Dulu waktu lebaran, aku pasti ke rumahmu,
bukan hanya untuk silaturahmi, tapi menyapa hatiku yang menunggu.
Sekarang, rumah itu mungkin sudah berbeda,
dan kamu, mungkin telah bahagia bersama dia.

Tapi kenangan itu masih kusimpan,
seperti ijazah yang kuselipkan dalam kotak impian.
Untuk kamu, yang pernah jadi alasanku pulang paling cepat,
selamat lebaran — dari seseorang yang pernah sangat dekat dan air mata yang pernah terlanjur jatuh.

Hari Raya Tanpa Baju Baru untuk Anakku

 



Anakku tersayang, maafkan ayah dan ibu,
Tahun ini tak ada baju baru.
Tak ada kain yang harum dan licin,
Seperti yang dipakai teman-temanmu di pagi yang dingin.

Bukan karena kami tak ingin,
Tapi hidup terkadang harus kami tahan dan pilih.
Untuk nasi di meja, untuk lilin yang tetap menyala,
Kami korbankan sedikit tawa di hari yang mulia.

Namun engkau tersenyum,
Dengan mata yang bening dan hatimu yang agung.
Katamu, “Tak apa, Bu… bajuku masih bersih, kan?”
Dan air mata ini jatuh dalam diam.

Anakku, engkau adalah Lebaran kami,
Bukan baju baru yang membuatmu berarti.
Tapi hati yang ikhlas, doa yang tak putus,
Dan pelukmu yang hangat seperti pelita yang menyala terus.

Di hari raya ini,
Meski sederhana dan tanpa kemewahan,
Semoga Allah cukupkan kebahagiaan,
Karena cinta kita… tak pernah kekurangan.

Bunda yang Sudah Tujuh Tahun Tiada di Hari Idul Fitri



Tujuh kali Idul Fitri tanpa hadirmu, Bunda,
Namun rasamu tak pernah pergi dari dada.
Setiap takbir yang membelah langit pagi,
Selalu membawaku kembali ke pelukmu… yang kini hanya dalam memori.

Kupakai baju yang dulu kau pilihkan,
Kumasak opor dengan resep yang kau ajarkan.
Tapi tak ada tawa kecilmu menyapa,
Hanya sunyi yang duduk di kursimu, menggantikan cerita lama.

Kubentangkan sajadah dengan gemetar,
Air mata jatuh di atas doa yang bergetar.
Ya Allah… sampaikan rinduku pada Bunda,
Peluk dia dengan cahaya surga-Mu yang paling mulia.

Di pusaramu kutitipkan bunga dan salam,
Di hatiku kutanam rindu yang tak pernah padam.
Tujuh tahun telah berlalu, tapi kasihmu abadi,
Dalam setiap Lebaran… engkau tetap di sini.

Menangis di Hari Lebaran

 



Hari ini orang-orang tersenyum cerah,
Jalanan penuh baju baru dan tawa ramah.
Namun di sudut hatiku yang sunyi,
Ada tangis yang tak mampu tersembunyi.

Tak ada tangan yang menyentuh kepala,
Tak ada suara yang berkata, “Selamat Lebaran, Nak.”
Hanya sepi menemaniku di pagi ini,
Dalam diam aku memeluk sendiri.

Kutatap langit biru yang bersih,
Takbir masih menggema penuh kasih.
Tapi rinduku menggulung seperti ombak,
Menyeret kenangan yang dulu hangat dan akrab.

Aku menangis, bukan karena lemah,
Tapi karena cinta yang terlalu dalam.
Cinta pada mereka yang tak lagi di sini,
Cinta pada rumah yang hanya bisa kuhampiri dalam mimpi.

Tuhan, izinkan air mata ini menjadi doa,
Agar aku tetap kuat meski sendiri.
Karena aku tahu, di balik tangis ini,
Ada harapan... dan kasih yang tak pernah mati.

Air Mata di Perantauan Saat Malam Takbir Tiba



Takbir menggema dari surau dan masjid,
Langit berselimut bintang, tenang dan khidmat.
Namun di kamar kecil ini aku terdiam,
Menatap malam dengan mata yang basah.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara yang biasanya kudengar di pelukan Ibu,
Kini hanya gema dari pengeras suara jauh,
Menampar rindu yang tak tahu harus ke mana.

Kota ini terang, tapi hatiku redup,
Langkah-langkah orang menuju kemenangan,
Sementara aku… hanya bisa menulis doa,
Menitipkan peluk lewat angin malam.

Tak ada ketupat, tak ada tawa,
Hanya foto keluarga di atas meja.
Tapi aku tahu, cinta mereka tak pernah jauh,
Meski raga terpisah, hati tetap bersatu.

Air mata jatuh di malam takbir ini,
Tapi bukan karena aku lemah,
Melainkan karena aku rindu…
Dan dalam rindu itu, aku menemukan kekuatan.

Malam Takbir Menggema: Allahu Akbar

 



Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Gema takbir menggetarkan malam,
Langit menangis haru dalam sunyi,
Hati bergetar oleh cinta Ilahi.

Lampu-lampu berkelip di sudut kota,
Anak-anak berlarian sambil tertawa.
Namun di dalam dada,
Ada rindu, ada syukur, ada doa.

Bulan sabit tersenyum lembut di atas,
Menjadi saksi ribuan tangan yang terangkat.
Setelah sebulan menahan lapar dan amarah,
Kini tiba saatnya merayakan berkah.

Allahu Akbar… Allah Maha Besar,
Di setiap gema ada air mata,
Ada yang bahagia berkumpul bersama,
Ada pula yang diam, sendiri di jendela.

Namun malam ini tetap suci,
Takbir menggema menghapus sepi.
Karena malam ini, seluruh bumi berseru:
Allahu Akbar, Engkaulah yang satu.

Rindu Tanpa Peluk

 



Hari Lebaran datang berseri,
Orang-orang tertawa penuh bahagia.
Tapi di sudut sunyi hati ini,
Aku hanya bisa menatap langit yang hampa.

Tak ada tangan yang menyambut pagi,
Tak ada suara Ibu membangunkan diri.
Tak ada peluk hangat dari Ayah tercinta,
Semua hanya tinggal doa dan cerita.

Baju baru tak kuinginkan,
Makanan lezat tak jadi harapan.
Yang kuinginkan hanya satu saja:
Peluk kasih dari mereka yang tiada.

Di antara takbir yang menggema,
Kututup mata, kubisikkan nama-nama.
Ya Allah, jagalah mereka di sisi-Mu,
Dan kuatkan aku di dunia-Mu.

Lebaran ini aku sendiri,
Tapi aku tahu, aku tak sendiri.
Masih ada kasih dari langit tinggi,
Dan senyum Tuhan yang selalu menemani

Monday, 10 March 2025

Puisi: Pelantikan Ditunda – Air Mata Jatuh di Bulan Puasa

 



Di bulan suci penuh doa,

aku bersimpuh dalam harapan,

menanti kabar yang kutunggu lama,

tentang mimpi yang hampir di genggaman.


Namun angin membawa kabar lain,

pelantikan tertunda entah sampai kapan,

air mata jatuh di bulan Ramadhan,

mengalir lirih tanpa suara keluhan.


Sudah kupasrahkan langkah ini,

sudah kupersiapkan hati dan diri,

tapi takdir masih menguji,

kesabaran harus lebih berarti.


Ya Allah, dalam sujud kupasrahkan,

rezeki yang Kau janjikan,

meski tertunda, aku percaya,

tak ada rencana-Mu yang sia-sia.

Sunday, 9 March 2025

Pelantikan Ditunda: Minum dan Makan Semakin Sulit

 



Hari yang dinanti kembali sirna,
janji tinggal bayang di udara,
pelantikan yang ditunggu lama,
ditunda lagi tanpa kata.

Lidah kering, tenggorokan perih,
dompet tipis, harapan letih.
Makan susah, minum pun mahal,
hidup terasa makin gamang.

Di meja hanya piring kosong,
gelas pun tinggal sisa tetesan.
Kami bertahan, tapi sampai kapan?
Sebab janji tak bisa dimakan.

Bukan sekadar seremoni,
bukan sekadar kursi empuk di atas sana,
ini tentang perut yang menjerit,
ini tentang rakyat yang butuh hidup.

Pelantikan Ditunda (Gagal Membelikan Baju Anak di Hari Lebaran)

 


Pelantikan ditunda, kabar datang tiba-tiba,

Harapan menggunung, runtuh dalam sekejap mata.

Jabat tangan yang sempat terbayang,

Kini lenyap di antara berita yang mengambang.


Di rumah, si kecil menunggu penuh gembira,

Mata berbinar, mimpi tentang baju baru di hari bahagia.

"Ayah, kapan kita ke toko?" tanyanya polos,

Aku tersenyum, menelan getir yang mencekik halus.


Di saku, janji tinggal serpihan,

Gaji tertahan, mimpi perlahan terbenam.

Bukan hanya kain yang tak terbeli,

Tapi rasa bangga yang seketika mati.


Namun, aku tak boleh menyerah,

Lebaran tetap datang membawa berkah.

Meski tanpa baju baru di badan,

Kasih sayang takkan pernah tergantikan.

Baju boleh usang, tapi cinta tetap terang.

Nak, Jangan Ada Air Mata di Lebaran

 


Pelantikan tertunda, hati pun gundah,

Harapan yang dekat kini menjauh sudah.

Di sudut kamar kau termenung,

Bertanya lirih, "Ayah, kapan kita senang?"


Nak, jangan ada air mata di Lebaran,

Meski janji itu masih tertahan.

Bukan ayah tak ingin membahagiakan,

Hanya waktu yang belum berpihak, sayang.


Baju baru mungkin tak terbeli,

Sepatu impian masih menanti.

Tapi peluk ayah tak pernah pergi,

Doa-doa kita tetap abadi.


Lebaran bukan tentang yang mewah,

Tapi hati yang tulus, jiwa yang ramah.

Bersabarlah, Nak, rezeki tak akan hilang,

Allah menunda, bukan menghilangkan.


Esok pasti ada jalan terbuka,

Kita tetap tersenyum di hari bahagia.

Pelantikan Ditunda: Perut Lapar Harus Bersabar

 


Hari ini seharusnya bahagia,

tapi kabar datang membawa luka.

Pelantikan yang dinanti tiba,

kini lenyap tanpa suara.


Di rumah, piring tetap kosong,

sendok menggigil tanpa genggaman.

Perut-perut lapar menanti,

namun makan harus ditunda lagi.


Anak bertanya, "Ayah, kapan?"

Ibu terdiam menahan sedih.

Bukan tak ingin memberi,

tapi dapur tak lagi berasap.


Sabar, sabar, kata yang usang,

diulang terus tanpa kepastian.

Namun, sabar tak bisa mengenyangkan,

dan lapar tak bisa diajak berdamai.


Kami tak butuh janji yang manis,

kami butuh kepastian hari ini.

Sebab perut yang kosong terus menjerit,

dan hidup tak bisa menunggu lagi.

Sunday, 2 March 2025

Video Puisi: Ya Taman Jogja

 



Karya: Khoirul Taqwim

Ku panggil ribuan debu di pantai selatan yang indah
Kutemukan bunga di taman Jogja
Mewarna di antara buku dan gedung-gedung kampus
Ku hadirkan surat cinta
Menemui jiwa yang telah hilang
Atas lelah hati yang terluka
Saat membakar di ujung sepucuk surat jiwa

Ya Taman Jogja
Ku kisahkan cinta yang penuh bara
Cinta yang di sia-siakan oleh zaman
Karena zaman tak mampu menaklukkan hati
Karena dia telah memilih sandaran yang berbeda
Dia lebih memilih harta dan kuasa
Sedangkan diri adalah Yatim
Penuh dengan derita
Hingga suratku tak mampu menembus angin di Kaliurang maupun di Malioboro

Ya Taman Jogja
Kebahagiaan yang ku bangun
di atas kapal kampus putih
Sirna bah di telah lahar Merapi
Hingga tak tersisa
Namun yang ada hanya riwayat dan kisahku
Tertulis di antara kertas puisi yang penuh air mata
Menggenangi di antara jiwa dan darahku

Ya Taman Jogja
Luka ku menjadi riwayat
Tentang bunga yang harum semerbak
Namun layu tanpa ada air hujan yang menyiram
Karena hatiku sudah terlanjur luka
Mencabik-cabik di setiap surat yang ku tulis untuk kekasihku
Tak pernah sampai di titik persinggahan
Namun yang ada gelap tanpa ada titik terang dalam cinta
Sampai aku pergi dalam pengasingan
Menuju Negeri yang asing selamanya

Friday, 28 February 2025

Video Puisi: Kita Temenan Aja Ya



Karya: Khoirul Taqwim 


Saat aku mengungkapkan cinta

Dia menjawab dengan sederhana

Tetapi membuat goresan yang penuh luka

Padahal jawaban itu nampak indah

Namun ternyata mengiris luka di setiap detakan nafasku 

 

Kita temenan aja ya

Hmmm...kata yang sederhana

Namun membuat hatiku pudar

Akan sebuah harapan cinta yang hancur


Saat menghirup udara 

Kita berjalan di tengah kehidupan

di bawah terik matahari yang menyengat

di situ aku titip hati dan perasaan

Bahwa aku berharap

Engkau menerima cinta suci ku

Namun jawabanmu cukup sederhana 

Kita temenan aja ya


Hmmm...bahasa nampak indah

Kita temenan aja ya

Namun membawa luka

Sepanjang nafas ini menyatu dengan tubuh

Jalan hidup kita lalui

Kita berbicara dengan hati

Mendengarkan dengan jiwa

Namun jawaban itu tetap sama

Kita temenan aja ya


Kata sederhana

Kita temenan aja ya

Membuat putus sebuah harapan

Untuk mencintaimu seutuhnya

Aku berharap Kita bisa berbagi rasa dan pikiran

Namun itu semua hanya mimpi

Matahari yang ingin memeluk sang rembulan 

Karena jawabanmu

Kita temenan aja ya

Jawaban yang memudarkan

Harapan hatiku untuk bersama denganmu selamanya

Tuesday, 11 February 2025

Video Puisi: Anak yang Disayang/Karya: Khoirul Taqwim


 

Haruskah air mata ini jatuh


Saat anak yang disayang sakit tak sembuh-sembuh


Akankah raga ini mampu berdiri 


Saat anak disayang terseok-seok raga dan jiwanya 




Tuhan


Ujian begitu berat


Saat anak yang disayang harus sakit


Akankah aku mampu melewati segala cobaan ini


Namun aku percaya


Rahmat dan kasih sayangMu


Melebihi ujian dan cobaan yang kau beri




Tuhan 


Air mata ini tanpa terasa


Mengalir di antara pipi


Menggenangi segala jalan nafasku


Hingga aku tak mampu berkata-kata


Namun yang ada


Hanya perih di jantung dan jiwa ini




Tuhan


Segala nafasku


Segala detak jantungku


Kuserahkan kepadaMu 


Namun aku punya pinta


Jika nafasku harus Engkau ambil


Sembuhkanlah dia anak yang aku cintai dan yang aku sayangi


Karena dia melebihi dari raga dan nyawaku sendiri

Thursday, 6 February 2025

Anak yang Disayang




Haruskah air mata ini jatuh

Saat anak yang disayang sakit tak sembuh-sembuh

Akankah raga ini mampu berdiri 

Saat anak disayang terseok-seok raga dan jiwanya 


Tuhan

Ujian begitu berat

Saat anak yang disayang harus sakit

Akankah aku mampu melewati segala cobaan ini

Namun aku percaya

Rahmat dan kasih sayangMu

Melebihi ujian dan cobaan yang kau beri


Tuhan 

Air mata ini tanpa terasa

Mengalir di antara pipi

Menggenangi segala jalan nafasku

Hingga aku tak mampu berkata-kata

Namun yang ada

Hanya perih di jantung dan jiwa ini


Tuhan

Segala nafasku

Segala detak jantungku

Kuserahkan kepadaMu 

Namun aku punya pinta

Jika nafasku harus Engkau ambil

Sembuhkanlah dia anak yang aku cintai dan yang aku sayangi

Karena dia melebihi dari raga dan nyawaku sendiri

Wednesday, 1 January 2025

Puisi Ibn Khaldun

 


Di padang pasir Tunisia, lahir seorang cendekiawan,

Ibn Khaldun, bapak sejarah, ilmuwan tanpa tandingan.

Dengan "Muqaddimah"-nya, ia menulis sejarah bangsa,

Menggabungkan filsafat, sosiologi, dan ilmu pengetahuan.


Dalam pemikirannya, ia melihat perubahan zaman,

Mengkritik kekuasaan, memuji kebijaksanaan.

Dengan visi jauh ke depan, ia memetakan peradaban,

Menyibak tabir masa lalu, memprediksi masa depan.


Semangat intelektualnya, tak terhenti oleh waktu,

Pemikirannya masih menginspirasi, membimbing umat.

Ibn Khaldun, sosok inspiratif, cahaya kebijaksanaan,

Warisan pemikirannya, tetap abadi, tak terlupakan.

Wednesday, 11 December 2024

Do'a dan Air Mata Para Pejuang NIP

 



Di ujung subuh

Hari masih tenggelam dalam kegelapan

Mengais sebuah aksara yang terserak di lembaran-lembaran kertas

Menyusuri dunia digital tanpa ada stasiun pemberhentian 

Mengeja kata dan bahasa 

Walaupun nampak kepayahan memahami setiap soal

Namun di ujung subuh ini

Segala kata dan bahasa harus tuntas

Menuju sebuah harapan tentang kesejahteraan yang masih jauh dari sebuah harapan


Tak terasa air mata menetes di atas sajadah

Keluar di ujung subuh dalam penantian yang panjang 

Bersama do'a dan harapan

Akankah perjuangan ini akan sia-sia?

Menjadi sebuah kenangan pahit

Ataukah perjuangan ini akan membawa rahmat dan keberkahan?

Kami para pejuang NIP masih berjibaku bersama lembaran-lembaran kertas dan jawaban

Namun yang tersisa hanya do'a dan harapan

Semua ku pasrahkan kepada Tuhan

Karena Dia yang menentukan segalanya


Biarkan langit berwarna hitam sekalipun 

Membumbung tinggi di ujung subuh

Namun hati kami harus tetap menjaga asa dan tujuan

Walaupun air mata terus membanjiri di segala penjuru arah


Biarkan udara ini pagi diselimuti hujan

Masuk menuju segala pengasingan 

Namun kami tetap bertahan dalam pembelajaran 

Menuju sebuah soal dan jawaban