Showing posts with label Debian. Show all posts
Showing posts with label Debian. Show all posts

Monday, 15 October 2018

Pengenalan DHCP Dan Cara Konfigurasi DHCP Server Pada Linux Debian

Pengenalan DHCP Dan Cara Konfigurasi DHCP Server Pada Linux Debian

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah sebuah layanan yang ada pada suatu jaringan, dimana DHCP ini memiliki peran sebagai layanan alokasi IP otomatis.

DHCP sendiri merupakan salah satu protokol jaringan yang menerapkan sistem Client-Server.
Oleh sebab itu, jaringan DHCP ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu DHCP Server dan DHCP Client.

Dimana fungsi dari DHCP Server adalah untuk memberikan alamat IP otomatis pada komputer yang terhubung pada jaringan.

Sedangkan DHCP Client adalah host jaringan yang meminta layanan berupa alokasi IP Address secara otomatis dari DHCP Server.

Jadi dengan adanya layanan DHCP ini, anda tidak perlu lagi memberikan alamat IP pada masing-masing komputer yang ada.

Anda hanya perlu mengatur layanan DHCP Server, lalu secara otomatis komputer client akan mendapatkan alamat IP sesuai yang ada di DHCP Server.


Cara Kerja layanan DHCP

Dalam sebuah layanan DHCP sendiri terdapat 4 tahapan, diantaranya:

IP Least Request

Client yang terhubung pada suatu jaringan akan mencari dan memastikan terlebih dahulu apakah didalam jaringan tersebut telah tersedia layanan DHCP.

Jika client menemukan layanan DHCP, maka ia akan meminta IP Address pada layanan DHCP Server.

IP Least Offer

Pada tahap ini, DHCP Server menerima Broadcast dari komputer client yang terhubung pada jaringan tersebut.

Kemudian DHCP Server akan memberikan penawaran mengenai alokasi alamat IP kepada client yang meminta.

IP Lease Selection

Komputer client kemudian mengirimkan pesan kepada DHCP Server untuk memberikan alamat IP yang ada.

IP Least Acknowledge

Di bagian ini, DHCP Server akan menerima pesan atau request yang diberikan oleh Client. Kemudian DHCP Server akan memberikan alamat ip yang tersedia di DHCP Pool kepada Client.

Setelah itu, komputer Client akan memetakan alamat IP yang diberikan DHCP Server, sehingga alamat IP tersebut bisa digunakan.


Keuntungan Menggunakan Layanan DHCP

  • Tidak perlu memberikan alamat IP pada masing-masing komputer secara manual
  • Menghindari kesalahan pemberian alamat IP dalam suatu jaringan
  • Selain memberikan IP Address secara otomatis, DHCP juga memberikan layanan DNS, Gateway otomatis
  • Alamat IP yang diberikan DHCP Server sudah tersusun secara urut dan rapih

Kelemahan Layanan DHCP

  • Jika DHCP Server mengalami gangguan, maka semua host yang ada juga akan terkena dampaknya

Setelah membaca dan memahami layanan DHCP diatas, maka pada kesempatan kali ini kita akan memperdalam pemahaman kita mengenai DHCP dengan melakukan konfigurasi DHCP Server pada Linux Debian:


Konfigurasi DHCP Server Pada Linux Debian

1. Buka dan jalankan sistem operasi Linux Debian anda

2. Lakukan konfigurasi IP Address dengan memasukkan perintah "pico /etc/network/interfaces" lalu ubah seperti gambar berikut:

Pengenalan DHCP Dan Cara Konfigurasi DHCP Server Pada Linux Debian

3. Lalu restart jaringan yang sudah anda buat tadi, dengan mengetik perintah "service networking restart"

4. Masukan CD/DVD Debian 2

5. Install paket DHCP Server dengan menggunakan perintah "apt-get install isc-dhcp-server"

6. Kemudian masukan perintah "pico /etc/dhcp/dhcpd.conf"

7. Cari dan edit tulisan seperti gambar dibawah ini:

Pengenalan DHCP Dan Cara Konfigurasi DHCP Server Pada Linux Debian

8. Restart layanan DHCP dengan perintah "service isc-dhcp-server restart"


Setting Dan Pengujian DHCP Client Pada Windows

1. Masuk ke "Open Network And Sharing Center">>"Change Adapter Setting"

2. Pilih jaringan yang ingin anda jadikan sebagai DHCP Client.

Jika anda menghubungkan DHCP Server dan Client dengan perantara kabel LAN, maka pilihlah jaringan Ethernet.

Namun jika anda menjalankan DHCP Server pada komputer/PC melalui software virtual seperti VMWARE ini dan ingin menjalankan DHCP Client pada komputer yang sama.

Maka pilihlah jaringan yang yang memiliki nama seperti software virtual yang anda gunakan, misal anda menggunakan VMWARE, maka carilah jaringan yang memakai nama VMWARE.

3. Masuk pada jaringan terebut, lalu pilih "Properties">>"Internet Protocol Version 4 (TCP/IPV4)".

4. Kemudian centang bagian "Obtain an IP address automatically" lalu klik "OK"

5. Untuk mengecek apakah DHCP Server dan DHCP Client bekerja dengan baik, silahkan cek IP Address yang ada pada jaringan tersebut, apakah sudah sama dengan IP Address yang ada pada range DHCP Server.

Jika IP Address yang ada sudah sesuai maka konfigurasi yang anda lakukan sudah berhasil.

Thursday, 11 October 2018

Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

SSH (Secure Shell) atau yang juga disebut sebagai Secure Socket Shell adalah sebuah tool atau paket aplikasi yang mampu menghubungkan dua device yang berbeda kedudukan, yaitu client dan server.

Menggunakan SSH merupakan pilihan terbaik apabila anda ingin menghubungkan komputer yang satu dengan komputer lainnya.

Hal ini karena SSH sendiri menggunakan protokol Cryptographic Network, dimana anda bisa dengan bebas melakukan hubungan client-server, sekalipun dalam jaringan yang kurang aman.

SSH juga kebal akan berbagai macam teknik penyadapan, seperti Packet Sniffer yang sering digunakan untuk melakukan penyadapan pada komunikasi jaringan.

Jadi kesimpulannya adalah, anda sebagai pengguna komputer akan mampu melakukan remote komputer yang berbeda hanya dengan memanfaatkan layanan SSH ini.

Suatu misal terdapat dua komputer, yaitu komputer kantor dan komputer pribadi.

Komputer kantor hanya boleh dipergunakan ketika anda sedang berada dikantor, sedangkan apabila anda sedang berada dirumah anda hanya bisa menggunakan komputer pribadi saja.

Nah lalu bagaimana jika suatu ketika pekerjaan yang sedang anda lakukan dikantor sedang dalam masa deadline, namun jam kerja anda sudah habis?

Bagaimana cara agar kita bisa melanjutkan pekerjaan yang ada di komputer server melalui komputer pribadi?

Solusinya adalah SSH

Dengan menggunakan SSH ini anda bisa mengakses, mentransfer, dan mengoperasikan data-data yang ada di komputer server hanya dengan komputer pribadi saja.

Nah untuk menghubungkan dua device yaitu client dan server, tentunya kita membutuhkan dua layanan SSH, diantaranya yaitu SSH Server dan SSH Client.

Dimana SSH Server ini akan kita gunakan pada komputer server, sedangkan SSH Client akan kita gunakan pada komputer client untuk bisa mengakses SSH Server.


Fungsi SSH

  1. Menjamin keamanan transmisi suatu jaringan
  2. Memberikan enkripsi pada paket data yang dipertukarkan
  3. Memastikan keamanan dari pengirim dan penerima paket data
  4. Menjamin bahwa paket data yang dikirim dan diterima hanya bisa diakses oleh yang berhak saja
  5. Sebagai alternativ bagi aplikasi telnet, rlogin, maupun rsh
Nah, agar anda mampu memahami lebih dalam mengenai analogi dan cara kerja dari SSH ini, berikut adalah cara konfigurasi SSH pada linux Debian:


Konfigurasi SSH Server Pada Linux Debian

1. Buka dan jalankan sistem operasi linux Debian (Saya menggunakan VMWARE)

2. Lakukan setting IP pada Linux Debian dengan mengetik perintah "pico /etc/network/interfaces" dan isikan IP Address sesuai gambar berikut:
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

3. Save (CTRL+X) dan lakukan restart dengan mengetik perintah "service networking restart"

4.Ketik perintah "apt-get install ssh" untuk menginstall paket SSH

Apabila terdapat tulisan "Please Insert The Disc Labeled..." silahkan masukan CD/DVD yang diminta.
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

Untuk paket SSH sendiri biasanya diharuskan memasukkan CD/DVD Debian 1

5. Kemudian ketik perintah "pico /etc/ssh/sshd_config" untuk mulai mengedit port SSH
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

Secara default port SSH sudah tersedia pada port 22, anda bisa mengganti port default ini atau juga tidak perlu mengubahnya.

6. Save dengan menekan CTRL+X

7. Lalu ketik perintah "ssh root@localhost" kemudian ketik "yes" dan masukan password root Debian anda

8. Terakhir, silahkan lakukan restart paket aplikasi SSH Server dengan mengetik perintah "service ssh restart"


Pengujian SSH Client di PC Windows 

1. silahkan anda download dan install terlebih dahulu software aplikasi SSH Client untuk windows.

Ada banyak software SSH Client yang bisa digunakan, namun pada kesempatan kali ini saya akan menggunakan Putty.

2. Buka software Putty yang sudah terinstall

3.  Masuk kembali ke VMWARE dan ubah Network Adapter menjadi "Host Only Adapter"
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

4. Kemudian kembali lagi ke komputer Client Windows, dan silahkan lakukan setting IP pada Network yang ada.

5. Pilih VMWARE network adapter VMnet 1 (setiap komputer mungkin dapat berbeda), intinya pilih saja yang ada nama VMWARE-nya.
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

6. Lakukan klik dua kali pada ethernet tersebut, lalu pilih "properties">>"internet protocol version 4 (TCP/IPV4)

7. Lalu ubah "Obtain an ip address automatically" menjadi "Use the following IP Address" dan masukkan IP Address dengan acuan IP Gateway adalah IP yang sudah kita buat pada Server Linux Debian.
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

8. Untuk memastikan bahwa IP address sudah terkoneksi dengan baik, silahkan lakukan "ping" pada cmd. Ping pada kedua alamat ip yang ada, yaitu IP PC Windows & IP PC Linux

9. Jika hasil dari "ping" menyatakan "Reply From.... TTL" itu artinya IP Address sudah berhasil terkoneksi satu sama lain.
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

10. Maka langkah selanjutnya adalah dengan masuk ke software Putty

11. Pada tampilan awal putty terdapat beberapa form, silahkan isi bagian "Host Name (or IP address)" dengan IP Address Linux Debian.
Cara Konfigurasi & Pengujian SSH Pada Linux Debian

Untuk Port isikan saja "22" karena kita tidak mengubah port pada konfigurasi Linux Debian. Dan "Connection Type" pilih SSH, karena kita akan menggunakan putty sebagai SSH Client.

12. Jika berhasil anda akan dihadapkan pada tampilan yang menyatakan "Login As", isikan saja "root" dan password diisi password Linux Debian anda.

13. Selesai

Friday, 28 September 2018

Konfigurasi IP Address Pada Debian GNU/Linux

Konfigurasi IP Address Debian GNU/Linux

IP Address atau Internet Protocol Address adalah sebuah alamat khusus yang diberikan kepada suatu komputer.

Pemberian alamat IP ini tidak lain dan tidak bukan adalah agar komputer yang satu dengan yang lainnya dapat saling berkomunikasi.

IP Address itu sendiri terbentuk atas 4 blok, dimana masing-masing blok dapat berisikan angka mulai dari 0-255. Dimana angka 255 ini merupakan puncak atau ujung dari IP Address.

Nah, IP Address ini bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu Net ID (Network ID) dan Host ID. Dimana masing-masing bagian ini merupakan unsur pembagun alamat IP.

Agar anda bisa membedakan antara Net ID & Host ID, berikut saya berikan contohnya:

Disini saya akan memberikan contoh sederhana agar anda bisa membedakan yang mana Net ID dan yang mana Host ID. Kali ini saya akan memakai IP Address kelas C dengan IP 192.168.20.1

Dari IP address 192.168.20.1 ini kita bisa membedakan mana yang namanya Net ID dan Host ID. Net ID pada IP tersebut yaitu dimulai dari 192.168.20, sedangkan Host ID dari IP tersebut adalah 1.

Net ID dan Host ID dalam suatu IP Address pastinya memiliki fungsinya sendiri-sendiri.

Kita bisa mengibaratkan Net ID ini sebagai nomor gang dalam suatu komplek perumahan, dan Host ID ini adalah nomor rumah yang ada di komplek tersebut.

Jadi sesuai dengan pembahasan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam pemberian IP address komputer, kita boleh memakai Net ID yang sama, namun dengan Host ID yang berbeda.

Sebab apabila Host ID memiliki nomor yang sama, maka komputer yang satu dengan komputer yang lain tidak akan bisa saling berhubungan.

Baiklah saya rasa anda sudah mulai mengenal dan memahami apa itu IP Address, apa itu Net ID & Host ID. Selanjutnya mari kita pahami pembagian kelas pada IP Address:


Kelas A : 0-127

IP Address kelas A ini memiliki jarak IP yang berkisar dari 0 sampai 127. Contoh IP Address kelas A yaitu 10.10.10.1.

Pada kelas A ini Net ID terletak pada blok pertamanya, sedangkan Host ID terletak pada bagian selanjutnya dari Net ID.

Penggunaan IP Address kelas A ini lebih cocok untuk jaringan WAN (Wide Area Network) dengan subnet 255.0.0.0


Kelas B : 128-191

IP Address kelas B berkisar antara 128-191, contohnya 128.255.129.7. Dimana pada kelas B ini Net ID berada pada 2 blok pertama IP Address dan sisanya adalah Host ID

Alamat IP pada kelas B ini lebih cocok untuk digunakan pada jaringan MAN (Metropolitan Area Network) dengan subnet 255.255.0.0


Kelas C : 192-223

IP Address kelas C ini memiliki range atau jarak antara 192 sampai 223. Contoh IP Address kelas C adalah 192.168.20.100, dimana Net ID berapa pada 3 blok pertama IP Address, dan Host ID berapa pada 1 blok terakhir IP Address.

Sedikit informasi saja, bahwa IP Address kelas C ini lebih cocok digunakan pada jaringan LAN (Local Area Network) dengan subnet 255.255.255.0


Kelas D : 224-247

Ini merupakan kelas IP yang biasanya digunakan untuk keperluan Multicasting, dimana IP Address kelas D ini memiliki range IP antara 224 sampai 247. Pada kelas D ini tidak ada yang namanya Net ID dan Host ID.


Kelas E : 248-255

IP Address kelas E ini biasanya digunakan untuk keperluan umum dan uji coba, dengan angka yang dimulai dari 248-255. Disini juga tidak dikenal yang namanya Net ID dan Host ID.


Baiklah saya rasa anda sudah mulai paham mengenai IP Address, maka selanjutnya mari kita membahas bagaimana cara melakukan konfigurasi IP Address pada sistem operasi Debian GNU/Linux. Berikut panduannya untuk anda:

1. Silahkan anda jalankan sistem operasi Debian anda. Disini saya menjalankan Debian CLI (Bukan GUI) secara Virtual dengan bantuan software yang bernama VMWARE.

Konfigurasi IP Address Debian GNU/Linux

2. Pada tampilan awal, silahkan anda ketik perintah "pico /etc/network/interfaces" kemudian Enter

Konfigurasi IP Address Debian GNU/Linux

3. kemudian masukan IP Address, Netmask, Network, Broadcast, dan Gateway

Konfigurasi IP Address Debian GNU/Linux

4. Setelah selesai, silahkan anda simpan dengan menekan tombol kombinasi "CTRL+X" kemudian tekan "Y" dan Enter

5. Lakukan Restart pada jaringan dengan cara mengetikan perintah : service networking restart
Konfigurasi IP Address Debian GNU/Linux

6. Kemudian untuk memastikan bahwa IP Address sudah terpasang, silahkan ketik perintah "ifconfig eth0" lalu Enter

Konfigurasi IP Address Debian GNU/Linux

7. Bisa dilihat pada gambar tersebut, IP Address sudah terpasang dengan benar. Itu artinya konfigurasi kita telah berhasil.


Penutup

Nah bagaimana sobat, mudah sekali bukan, cara konfigurasi IP Address pada Debian GNU/Linux?

Selain bisa melakukan konfigurasi IP Address, melalui artikel diatas anda juga sudah memahami apa itu IP Address, Net ID dan Host ID.

Jadi anda tidak hanya bisa mengkonfigurasi IP Address saja, namun juga sudah memahami IP Address dengan baik.

Baiklah saya rasa hanya itu yang dapat saya smapaikan pada kesempatan kali ini, semoga apa yang telah saya sampaikan diatas bisa memberikan manfaat untuk anda semua.

Dan jangan lupa untuk terus mengikuti update terbaru dari blog ini ya. Terimakasih dan sampai jumpa.

Thursday, 27 September 2018

Mengenal Sistem Operasi Debian GNU/Linux

Mengenal Sistem Operasi Debian GNU/Linux

Debian adalah salah satu distro Linux paling populer dan paling banyak digunakan saat ini. Ada banyak alasan mengapa Debian begitu diminati masyarakat, salah satu alasannya adalah karena performanya yang bagus dan stabil.

Sistem operasi Open Source yang bernama Debian ini merupakan sistem operasi Linux yang dikembangkan untuk kebutuhan managemen jaringan.

Jadi wajar saja jika saat ini banyak orang yang menggunakan sistem operasi ini, terlebih lagi bagi mereka yang memang pekerjaannya berurusan dengan jaringan.

Tidak hanya bisa digunakan untuk kebutuhan khusus saja, Debian juga sering dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran di berbagai sekolah yang memang memberikan mata pelajaran jaringan, sebut saja salah satunya adalah Teknik Komputer Dan Jaringan (TKJ).

Didalam mata pelajaran jaringan TKJ, sistem operasi ini bisa dijadikan sebagai salah satu media pembelajaran berbasis praktik, dimana para siswa akan diajarkan bagaimana cara melakukan installasi sistem operasi Debian, sampai melakukan konfigurasi jaringan pada sistem operasi Debian.

Yang lebih hebatnya lagi, seiring dengan meningkatnya popularitas internet di kalangan masyarakat dunia, kini Debian juga sering dijadikan sebagai salah satu acuan standar dalam kompetisi IT Networking.

Nah dengan membaca penjabaran singkat diatas, maka tentunya kita bisa menyimpulkan Debian ini merupakan sistem operasi Linux  yang sangat layak kita pelajari, khususnya bagi mereka yang memang bergelut dibidang Networking/jaringan.

Oleh sebab itu, pada kesempatan kali ini izinkanlah saya untuk memberikan beberapa materi singkat mengenai sistem operasi Debian GNU/Linux. Materi ini saya tujukan bagi anda yang memang ingin mengenal lebih dalam mengenai Debian.

Oke tanpa berlama-lama lagi, silahkan pahami dan amati penjelasan mengenai sistem operasi Debian berikut ini:


1. Pengertian Debian

Seperti yang sudah saya sampaikan pada penjelasan diatas, bahwa sistem operasi Debian ini merupakan salah satu distro Linux paling populer yang mana pengembangannya sendiri dilakukan secara terbuka.

Dimana para pengembangnya sendiri adalah para programmer sukarela yang telah bergabung dalam proyek Debian.

Tujuan dari proyek ini sendiri adalah menciptakan sistem operasi open source yang bebas dan terbuka untuk umum.

Hal itu juga yang melatar belakangi mengapa sistem operasi Debian ini desebut sebagai sistem operasi open source, yang artinya sistem operasi ini bisa dengan bebas digunakan, di modifikasi, dikembangkan lebih lanjut, dan dipublikasikan kembali.

Dalam pengembangannya, sistem operasi Debian ini menggunakan perangkat lunak yang berbasis GNU, dan menggunakan sistem kernel Linux. Oleh sebab itulah Debian sering dikenal dengan sebutan Debian GNU/Linux.

Bahkan dari pengembangan Debian sendiri sudah terlahir banyak variasi sistem operasi Linux lainnya dengan berbasiskan pada sistem Debian itu sendiri. Beberapa diantaranya adalah:

  • Ubuntu
  • BackTrack
  • Linux Mint
  • Knoppix
  • DMS (Damn Small Linux)
  • MEPIS
  • Xandros


2. Sejarah Debian

Debian pertama kali diperkenal oleh seorang mahasiswa Universitas Purdue, Amerika Serikat yang bernama Ian Murdock.

Pengengembangan Debian ini dimulai pada 16 Agustus 1993, dimana nama Debian tersebut terinspirasi oleh namanya sendiri "Ian" dan kekasihnya "Debra Lynn".

Sehingga ia memutuskan untuk memulai mengembangkan proyeknya ini dengan nama Deb & Ian, dimana nama ini kemudian sering disebut sebagai Debian.

Pada awal pengembangannya, Ian Murdock hanya berencana untuk melakukan modifikasi pada distribusi SLS (Softlanding Linux System). Namun ketika ia berhasil memodifikasinya, Ian kemudian merasa kurang puas dengan apa yang sudah ia lakukan.

Ia kemudian berpikir, "Mengapa tidak membuat sistem distribusi Linux sendiri saja dari nol?"

Berawal dari pemikiran tersebutlah akhirnya proyek Debian segera dimuai dengan beberapa bantuan dari teman-temannya yang memang membantunya secara sukarela.

Proyek Debian yang dipimpin oleh Ian Murdock ini kemudian berhasil menghasilkan seri-seri Debian, diantaranya yaitu:

  • Debian 1.1 Buzz
  • Debian 1.2 Rex
  • Debian 1.3 Bo 
  • Debian 2.0 Hamm 
  • Debian 2.1 Slink 
  • Debian 2.2 Potato
  • Debian 3.0 Woddy
  • Debian 3.1 Sarge 

Setelah 3 tahun proyek Debian ini berjalan, akhirnya kepemimpinannya diambil alih oleh Bruce Perens. Dimana pada tahun 1996, Brunce Parens mulai memfokuskan proyek ini untuk membentuk Debian Contract sekaligus Debian Free Software Guidelines.

Kemudian pada akhir tahun 2000, proyek Debian melakukan perubahan pada Archive dan Managemen rilis. Serta ditahun yang sama itu, para pengembang Debian mulai gencar melakukan konferensi dan workshop tahunan, yang disebut "Depconf".

Lalu pada tanggal 8 April 2007, proyek Debian ini akhirnya merilis sistem operasi yang bernama Debian GNU/Linux 4.0 dengan kode "Etch".

Pada tahun berikutnya, yaitu 2009 muncul versi terbaru dari Debian yang kemudian diberi nama Lenny.

Versi terbaru 5.0 yang bernama Lenny ini diluncurkan secara resmi pada 14 Februari 2009. Dimana versi Debian terbaru ini sudah dilengkapi dengan 25.000 paket perangkat lunak.

Perilisan Debian Lenny ini didedikasikan kepada salah seorang pengembang aktif proyek Debian yang bernama Thiemo Seufer.

Proyek Debian, tidak berhenti sampai itu saja, Debian terus mengeluarkan versi-versi terbaru setiap tahunnya.

Untuk pengembangan versi selanjutnya dari Debian yang dinamakan Debian 6.0 Squueze, yang mana versi terbaru ini tentunya sudah dilengkapi dengan beberapa perbaikan dan penambahan paket yang lebih baik.

Namun sayang, perilisan Debian versi Squueze ini ternyata mengalami kendala hingga akhirnya proyek pengembangannya ditunda selama dua tahun.

Setelah versi Squueze berhasil dirilis dan dipublikasikan untuk umum, akhirnya pada tahun-tahun selanjutya Debian terus konsisten mengembangkan versi-versi terbaru dari Debian.

Mulai dari Debian Wheezy sampai versi paling baru yang bernama Debian 8 Jessie.


3. Kelebihan Debian



-Open Source

dalam artian sistem operasi Debian ini bisa anda gunakan secara bebas tanpa perlu membayar, anda juga dapat memperbanyak, menyalin source program, serta memodifikasi dan bebas untuk menyebar luaskannya.


-Program Yang Stabil & Sistem Yang Telah Teruji

Jadi anda bisa menggunakan berbagai program dan layanan yang ada tanpa terkendala masalah seperti lag, maupun hang.

Anda juga bisa menjalankan program secara terus-menerus dalam waktu yang lama tanpa perlu khawatir akan mengalami gangguan sistem.


-Support Semua Tipe Komputer

Anda bisa menjalankan sistem operasi Debian ini pada hampir semua jenis perangkat komputer


-Tidak Memakan RAM

Sistem operasi Debian ini pada dasarnya tidak memerlukan spesifikasi RAM yang besar, hanya dengan kapasitas 250 MB RAM saja anda sudah bisa menjalankan sistem operasi satu ini.

Selain itu Debian juga tidak membutuhkan ruang penyimpanan Harddisk yang besar, anda hanya perlu mengatur kapasitas Harddisk sebesar 1,6 GB saja untuk Debian Server, sedangkan untuk mode Client/Workstation hanya membutuhkan 600 MB.


4. Kekurangan Debian

  • Karena sistem dari Debian itu sendiri yang sangat ketat dalam sisi keamanannya, maka untuk dapat memasukkan software versi terbaru kedalam distronya saja bisa dibilang sangatlah sulit.
  • Sistem operasi Debian ini bisa dibilang cukup sulit dikonfigurasi saat install pertama kali
  • Memerlukan kapasitas reposiroty yang cukup besar, sekitar 40 sampai 60 GB
  • Periode rilis yang lumayan konservatif


Penutup

Demikianlah ulasan singkat mengenai sistem operasi Debian GNU/Linux. Di artikel ini telah saya sampaikan beberapa pembahasan mengenai Debian diantaranya, pengertian Debian, sejarah, kelebihan dan kekurangannya.

Semoga dari adanya pembahasan diatas anda bisa lebih memahami sistem operasi Debian dan tentunya bisa menambah wawasan kita semua ya. Baik saya sendiri sebagai penulis maupun anda sebagai pembaca.

Nah munginkin hanya itu yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf. Dan jangan lupa untuk terus mengikuti update terbaru dari blog ini ya. Terimakasih.