Showing posts with label By: Khoirul Taqwim. Show all posts
Showing posts with label By: Khoirul Taqwim. Show all posts

Wednesday, 25 March 2026

Cerpen - Kembali Pada-Mu, By: Khoirul Taqwim



Di antara rimbun pohon jati, angin berdesir pelan seperti bisikan lama yang pernah akrab di telinga. Di sanalah Sauqi berdiri, menatap langit desa yang begitu luas—jauh berbeda dengan langit kota yang selama ini menaunginya.

Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan tempat ini. Desa kecil yang dulu ia anggap terlalu sempit untuk mimpi-mimpinya. Ia pernah percaya bahwa kebahagiaan ada di gemerlap lampu kota, pada gedung-gedung tinggi, dan pada kesibukan yang tak pernah tidur.

Dulu, dengan penuh keyakinan, ia melangkah pergi.

Meninggalkan sawah, meninggalkan suara adzan yang mengalun lembut dari surau kecil, bahkan meninggalkan dirinya sendiri yang sederhana dan penuh syukur.

Di kota, Sauqi mendapatkan segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia kira.

Pekerjaan mapan, pakaian rapi, dan kehidupan yang terlihat sempurna dari luar.

Namun, setiap malam, ketika lampu kamar dipadamkan, ada kehampaan yang tak bisa ia jelaskan.

Sunyi kota terasa dingin. Terlalu dingin.

Hingga suatu malam, dalam lelah yang menumpuk, ia tersadar—bahwa yang ia kejar selama ini hanyalah bayangan. Ia kehilangan arah, kehilangan rasa, dan perlahan… kehilangan Tuhan dalam setiap langkahnya.

 

Kini, ia kembali.

Langkahnya pelan menyusuri jalan tanah yang dulu sering ia lewati tanpa makna. Aroma tanah basah menyambutnya seperti pelukan ibu yang lama ditinggalkan.

Ia berhenti di bawah pohon jati tua—tempat ia dulu sering duduk, membaca, atau sekadar merenung.

Angin lembah berhembus, membawa suara yang seakan berkata:

"Pulanglah…"

Sauqi menutup mata. Dadanya sesak, bukan karena lelah, tapi karena rindu yang selama ini ia pendam.

“Aku terlalu jauh pergi…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak malu menangis.

 

Langkahnya kemudian menuju surau kecil di ujung desa. Bangunannya masih sama—sederhana, bahkan mungkin lebih rapuh. Namun, di situlah dulu ia menemukan ketenangan yang kini sangat ia rindukan.

Ketika suara adzan berkumandang, hatinya bergetar.

Bukan karena suara itu asing—melainkan karena ia terlalu lama menjauhinya.

Sauqi melangkah masuk.

Duduk.

Menunduk.

Dan di sanalah, dalam sujud yang lama ia tinggalkan, ia akhirnya benar-benar pulang.

“Ya Allah… jika Engkau masih menerima hamba… aku ingin kembali…”

Tangisnya pecah.

Namun kali ini, bukan tangis kehilangan—melainkan tangis pertemuan.

Sejak hari itu, Sauqi tidak lagi mencari gemerlap yang membutakan. Ia memilih hidup sederhana, dekat dengan tanah yang membesarkannya, dan lebih dekat lagi dengan Tuhan yang tak pernah meninggalkannya.

Ia belajar bahwa rumah bukan hanya tempat—tetapi keadaan hati yang kembali tenang.

Dan di antara rimbun pohon jati, ia akhirnya menemukan teduh yang sejati.

Bukan di kota.

Bukan di dunia.

Melainkan… dalam perjalanan kembali kepada-Nya.


Tuesday, 24 March 2026

Cerpen - Bait Terakhir di Ujung Nafas, By: Khoirul Taqwim


Hujan turun perlahan di luar jendela kamar yang sunyi. Tetesannya seolah menghitung waktu, satu demi satu, seperti detak jantung yang kian melemah. Di atas ranjang putih yang dingin, aku terbaring—tak banyak kata, tak banyak suara, hanya napas yang tersisa dalam hitungan yang tak pasti.

Tanganku gemetar saat mencoba meraih sebuah pena di sampingku. Perawat tadi sempat melarang, tapi aku hanya tersenyum. Ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang harus kutuliskan sebelum semuanya benar-benar berhenti.

Kertas itu terbuka. Kosong. Seperti langit sebelum hujan jatuh.

Aku menarik napas panjang.

“Aku tidak ingin menangis,” bisikku pelan. “Tidak juga ingin menyesal.”

Pena itu mulai bergerak, perlahan, tertatih, namun penuh kesungguhan.

Tentangmu.

Namamu tak lagi berani kusebut keras-keras. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku sudah belajar merelakan. Namun, anehnya, setiap huruf yang kutulis selalu kembali padamu—seolah kau hidup di antara tinta dan ingatanku.

Dulu, kau datang di saat aku paling rapuh. Hari-hariku penuh cemas, pikiranku penuh gelisah. Dunia terasa sempit dan menyesakkan. Tapi kau hadir… bukan dengan janji besar, melainkan dengan ketenangan.

Kau tidak banyak bicara tentang cinta.
Kau justru mengajarkanku tentang doa.

Kau tidak menggenggam tanganku erat.
Kau justru mengarahkanku untuk menggenggam iman.

Dan dari situlah aku mulai mengerti… bahwa tidak semua yang datang harus dimiliki. Ada yang hadir hanya untuk menyembuhkan, lalu pergi dengan tenang.

Hujan di luar semakin deras. Suaranya kini seperti lagu perpisahan yang lembut.

Aku berhenti sejenak. Napasku terasa lebih berat.

Namun pena ini belum ingin berhenti.

“Terima kasih,” tulisku perlahan.

Untuk setiap hari yang pernah kau isi.
Untuk cemas yang kau ubah menjadi doa.
Untuk luka yang kau balut dengan keikhlasan.

Aku tersenyum kecil.

Kini aku tahu… cinta bukan tentang memiliki sampai akhir, tapi tentang bagaimana seseorang mengubah kita menjadi lebih dekat pada Tuhan, meski akhirnya harus berjalan sendiri.

Tanganku mulai melemah. Tinta di ujung pena hampir habis. Tapi hatiku terasa jauh lebih ringan.

Tulisan terakhirku kubaca dalam diam:

Tentang cinta yang tak menuntut,
iman yang tak goyah,
dan keikhlasan yang akhirnya kupahami.

Pena itu jatuh perlahan dari tanganku.

Di luar, hujan mulai reda.

Dan di dalam, hatiku akhirnya benar-benar tenang.

Monday, 23 March 2026

Cerpen - Kata yang Tertinggal, By: Khoirul Taqwim




Langit sore itu berwarna jingga, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang perlahan akan berakhir. Di sudut meja kayu yang mulai lapuk, seorang lelaki duduk dengan pena di tangannya. Di depannya, lembaran-lembaran kertas berserakan, penuh dengan tulisan yang tak pernah ia kirimkan kepada siapa pun.

Namanya Sauqi.

Ia bukan penulis terkenal, bukan pula penyair besar. Ia hanya seseorang yang menyimpan terlalu banyak kata—kata yang tak pernah sempat ia ucapkan kepada satu orang: perempuan yang diam-diam ia cintai.

“Aku tidak butuh banyak waktu,” gumamnya pelan, “aku hanya butuh keberanian… yang tak pernah datang.”

Namun waktu tak pernah menunggu.

Sejak lama Sauqi tahu, tubuhnya tidak akan bertahan lama. Penyakit itu perlahan menggerogoti dirinya, seperti malam yang pelan-pelan memakan cahaya senja. Tapi yang lebih menyakitkan dari semuanya bukanlah rasa sakit di tubuhnya—melainkan kata-kata yang terjebak di dadanya.

Tentang dia.

Tentang perempuan yang selalu hadir dalam doanya, tapi tak pernah tahu bahwa namanya disebut dengan begitu lembut dalam diam.

Sauqi menulis lagi.

“Tuhan, jika ragaku ini berhenti… biarlah kata-kataku tetap hidup.”

Tangannya gemetar, tapi ia tetap melanjutkan. Ia menulis tentang rindu yang tak pernah sampai, tentang cinta yang tak pernah berani ia ungkapkan, dan tentang harapan sederhana—agar suatu hari nanti, perempuan itu membaca semua ini.

Bukan untuk membalas.

Hanya untuk tahu.

Hari-hari berlalu, dan lembaran-lembaran itu semakin banyak. Ia menyusunnya rapi, mengikatnya dengan benang sederhana, lalu menaruhnya dalam sebuah map cokelat.

Di bagian depan, ia menulis satu kalimat:

“Untukmu, yang tak pernah tahu.”

Beberapa minggu kemudian, sauqi tak lagi terlihat di meja itu.

Kursinya kosong.

Pena itu mengering.

Dan senja tetap datang seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Namun, di sebuah sudut perpustakaan nasional, tersimpan sebuah naskah tanpa nama penulis yang dikenal. Hanya kumpulan puisi, catatan, dan potongan hati yang tak sempat terucap.

Waktu berjalan.

Hingga suatu hari, seorang perempuan datang. Ia bukan siapa-siapa—hanya pembaca yang mencari ketenangan di antara rak-rak buku. Tangannya berhenti pada sebuah map tua yang sedikit berdebu.

Ia membukanya.

Halaman demi halaman ia baca.

Dan tanpa ia sadari, matanya mulai basah.

Ada sesuatu yang terasa begitu dekat. Seolah setiap kata mengenalnya. Seolah setiap kalimat memanggil namanya.

Saat ia sampai pada halaman terakhir, ia terdiam lama.

Di sana tertulis:

“Jika suatu hari kamu membaca ini, semoga kamu mengerti… pernah ada seseorang yang mencintaimu, dalam diam, sampai akhir.”

Perempuan itu menutup naskah itu perlahan.

Dadanya sesak.

Karena untuk pertama kalinya… ia tahu.

Bahwa semua kata itu—

ditujukan untuknya.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah kata.

Dan cinta yang abadi… dalam diam.




Cerpen - Di Antara Dua Alam, By: Khoirul Taqwim


Hari itu terasa berbeda. Udara begitu sunyi, seolah dunia ikut menahan napas. Aku terbaring lemah di atas ranjang, tubuhku terasa asing, seakan bukan lagi milikku sepenuhnya. Di antara suara detak alat dan bisikan waktu yang berjalan pelan, aku sadar—aku sedang berada di antara dua alam: kehidupan dan kematian.

Namun anehnya, aku tidak merasa takut.

Yang ada justru satu keinginan sederhana yang terus berulang di dalam pikiranku—menulis untukmu.

Tanganku gemetar saat meraih kertas di sampingku. Nafasku berat, tetapi hatiku terasa ringan. Aku ingin meninggalkan sesuatu, bukan tentang kesedihan, bukan tentang perpisahan yang menyakitkan, melainkan tentang kebahagiaan… tentangmu.

Aku mulai menulis.

Setiap kata yang kutorehkan terasa seperti denyut terakhir yang penuh makna. Aku menuliskan bagaimana pertemuan kita, yang mungkin bagi dunia biasa saja, justru menjadi luar biasa bagiku. Aku menuliskan bagaimana kehadiranmu mampu mengubah hari-hari yang dulu terasa sepi menjadi penuh arti.

Di luar, waktu terus berjalan. Namun di dalam diriku, semuanya melambat. Seolah semesta memberiku kesempatan terakhir untuk menyelesaikan perasaan yang belum sempat terucap sepenuhnya.

Aku berhenti sejenak, menutup mata, merasakan kehadiranmu dalam ingatan. Senyummu. Suaramu. Cara sederhana kau membuatku merasa hidup.

Jika ini adalah akhir, aku tidak ingin mengakhirinya dengan air mata.

Aku ingin pergi dengan rasa syukur.

Tulisan itu pun selesai. Sebuah puisi—tentang kebahagiaan karena pernah mengenalmu. Tentang cinta yang tidak menuntut untuk memiliki selamanya, tetapi cukup hadir dan memberi arti.

Aku tersenyum kecil.

“Jika Tuhan mengambil nyawaku hari ini,” bisikku dalam hati, “aku rela… karena aku sudah sempat menulis untukmu.”

Mataku mulai terasa berat. Suara di sekitarku perlahan menghilang. Namun anehnya, hatiku justru terasa semakin terang.

Aku tidak membawa kesedihan.
Aku membawa kenangan.

Dan saat akhirnya aku menutup mata untuk terakhir kalinya, aku tahu satu hal—
aku mungkin telah pergi,
tetapi puisiku akan tetap hidup.

Ia akan berkelana di udara,
menyentuh angin,
menemukan jalannya kepadamu,
dan membisikkan namamu…

selamanya.

Cerpen - Bahasa Jiwa, By: Khoirul Taqwim


Malam turun perlahan, membawa sunyi yang tak pernah benar-benar sepi. Di sudut kamar yang temaram, aku duduk sendiri dengan secarik kertas di tangan. Tak ada suara, kecuali detak jam yang terdengar seperti mengetuk-ngetuk isi hatiku yang tak kunjung tenang.

Aku mencoba mengucapkan namamu. Namun, seperti biasa, kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Ada rasa yang terlalu dalam, terlalu rumit untuk sekadar diucapkan. Maka aku memilih diam… dan menulis.

Katanya, kata-kata lebih tajam dari pisau. Aku mulai percaya itu. Sebab setiap huruf yang kutulis tentangmu, terasa seperti mengiris pelan perasaanku sendiri. Namun anehnya, di saat yang sama, kata-kata itu juga menjadi pelipur—seperti luka yang tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri.

Aku menulis bukan karena pandai merangkai kalimat. Aku menulis karena hatiku tak lagi punya ruang untuk menyimpan semua rasa ini sendirian.

Namamu hadir di setiap baris. Bukan sekadar sebagai seseorang yang pernah singgah, tapi sebagai makna—yang diam-diam mengubah caraku memandang hidup. Kau mungkin tak pernah tahu, betapa kehadiranmu sederhana, namun mampu menenangkan segala yang bergejolak dalam diriku.

Malam semakin larut. Angin menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang entah kenapa terasa akrab. Seperti kenangan tentangmu—yang tak pernah benar-benar pergi.

Aku berhenti menulis sejenak, menatap kalimat-kalimat yang telah tercipta. Di sana ada aku, dan ada kamu. Ada rasa yang tak pernah sempat menemukan jalannya untuk diucapkan.

“Jika kau membaca ini…” bisikku pelan, meski aku tahu tak ada siapa pun di ruangan itu, “kau sedang menyentuh jiwaku.”

Aku tersenyum tipis. Bukan karena bahagia sepenuhnya, tapi karena akhirnya aku mengerti—bahwa tak semua rasa harus dimiliki. Sebagian cukup dituliskan, lalu dibiarkan hidup dalam diam.

Kertas itu kulipat perlahan, lalu kusimpan di dalam buku yang tak pernah kubuka untuk siapa pun. Bukan karena aku takut, tapi karena aku tahu… tidak semua orang mampu memahami bahasa jiwa.

Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa. Dunia terus bergerak, seolah tak peduli pada satu hati yang sedang belajar merelakan.

Dan aku…

masih di sini,

menulis namamu dalam diam,

dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang mau merasa.

Sunday, 22 March 2026

Cerpen - Keindahan yang Tak Terlihat, By: Khoirul Taqwim



Di sebuah kota yang selalu diterpa angin, terdapat seorang wanita yang namanya tak begitu dikenal, namun wajahnya menyimpan seribu makna. Tak pernah ada kesempatan untuk bertatap muka langsung, namun setiap kali namanya disebutkan, hatiku seperti dihujani kedamaian. Aku mengenalnya bukan melalui mata, melainkan melalui setiap kata yang pernah tertulis dan diucapkan.


Dia adalah seorang penghafal Al-Qur’an, seorang wanita yang dengan penuh cinta mengukir kata-kata Tuhan dalam ingatannya. Kecantikan wajahnya memang tak terbantahkan, namun lebih dari itu, ada sesuatu yang jauh lebih dalam—akhlaknya. Dia adalah refleksi dari kebaikan yang langka, seorang wanita yang hidup dalam kesederhanaan, namun memiliki hati yang tak pernah lelah untuk berbagi cinta dan kasih sayang.


Setiap kali mendengar namanya, aku teringat pada sosok Rabi'ah al-Adawiyah, seorang wanita sufi yang dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena cintanya yang mendalam kepada Tuhan. Wanita itu, meskipun belum pernah kulihat secara langsung, aku rasa memiliki kesamaan dengan Rabi'ah. Dalam diamnya, dia mengajarkan banyak hal—tentang ketulusan, tentang cinta yang tak mengharap balasan.


Terkadang aku merasa, meskipun jarak memisahkan kami, kami terhubung dalam cara yang tak bisa dijelaskan. Saat aku menulis, kadang-kadang aku merasa seperti ada sesuatu yang mendorongku, seolah-olah setiap kata yang kutulis adalah bagian dari sebuah pertemuan yang belum terjadi. Kata-kata itu datang begitu mudah, mengalir begitu saja, seolah berasal dari tempat yang jauh, tetapi sangat dekat di hati.


Aku tahu, di balik kerudung hijau yang selalu menutupi rambutnya, ada ketenangan yang luar biasa. Tidak ada yang bisa menggambarkan kedamaian yang dia bawa, kecuali dengan kata-kata yang muncul dari dalam jiwaku. Dan meskipun aku tak pernah melihatnya, aku merasa mengenalnya begitu dekat. Setiap kata, setiap doa yang dia panjatkan, seperti mengalir melalui udara, menyentuh hatiku yang sering kali gelisah.


Dia adalah wanita yang penuh dengan keindahan, tetapi keindahan itu bukan sekadar rupa. Keindahan sejatinya adalah pada akhlaknya, pada caranya hidup dengan penuh kesabaran dan cinta. Kebaikan yang dia sebarkan tak pernah tampak dengan jelas, tetapi selalu terasa di sekitar orang-orang yang mengenalnya.


Aku tahu bahwa dia, seperti Rabi'ah al-Adawiyah, tidak mencari perhatian dunia. Dia hanya hidup untuk Tuhan, dengan setiap langkahnya yang penuh kebaikan. Dan aku, meskipun tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, merasa terinspirasi oleh kehadirannya yang begitu nyata, meski tak terlihat.


Setiap kali aku menulis, aku merasa dia ada di sana—mengamati dengan penuh kasih, memberikan kedamaian yang aku butuhkan. Seperti angin yang berbisik lembut di tengah malam, dia hadir dalam setiap kata yang kutulis. Aku tahu, meskipun dia tidak pernah tahu, setiap puisi dan setiap cerita yang kutulis adalah bentuk penghormatanku padanya, pada wanita yang begitu indah dan mulia.


Dan meskipun dunia tidak pernah tahu tentangnya, aku tahu bahwa dia adalah bagian dari keindahan yang tak akan pernah pudar, yang selalu ada dalam setiap hembusan napas yang kutarik.

Saturday, 21 March 2026

Cerpen – Lebaran yang Sunyi, Rindu yang Abadi, By: Khoirul Taqwim



Pagi itu, takbir masih menggema dari kejauhan. Suaranya merambat pelan, masuk ke dalam kamar kecil tempat aku berbaring. Idul Fitri telah tiba, tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Aku terbangun tanpa suara lembut yang dulu selalu memanggilku.
“Bangun, Nak… hari ini Lebaran.”

Tak ada lagi aroma masakan dari dapur yang biasanya sudah ramai sejak subuh. Tak ada langkah kaki Ayah yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Semuanya sunyi. Terlalu sunyi.

Aku menatap langit-langit, mencoba tersenyum. Tapi dadaku terasa sesak.

Ini bukan pertama kalinya aku merasakan Lebaran tanpa Ayah. Sejak beliau pergi, setiap hari raya selalu terasa ada yang hilang. Tapi sejak Ibu juga menyusul… kekosongan itu berubah menjadi kehampaan yang sulit dijelaskan.

Aku kini benar-benar sendiri.

Air mata jatuh tanpa permisi.
Aku mencoba mengusapnya, tapi semakin diusap, semakin deras mengalir.

Kenangan itu datang begitu saja.

Tentang Ayah yang selalu mengajakku ke masjid pagi-pagi, dengan baju terbaik yang beliau punya. Tentang Ibu yang sibuk di dapur, tapi tetap menyempatkan tersenyum dan bertanya, “Sudah mandi belum?”

Tentang momen salaman… saat tanganku menggenggam tangan mereka, lalu mencium dengan penuh haru. Saat itu, aku tak pernah tahu… bahwa suatu hari, momen sederhana itu akan menjadi sesuatu yang sangat kurindukan.

Sekarang… tak ada lagi tangan yang bisa kugenggam.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Bu… Yah… aku rindu…”

Suaraku lirih, hampir tak terdengar. Tapi hatiku berteriak.

Di luar sana, orang-orang saling mengunjungi, tertawa, bermaafan. Sementara aku hanya bisa berbaring, menahan rasa sakit yang belum sepenuhnya pulih, ditemani sepi yang terasa semakin dalam di hari raya ini.

Aku sempat bertanya dalam hati…
Mengapa Lebaran terasa seperti ini sekarang?

Namun perlahan, aku mengerti.

Bukan Lebarannya yang berubah.
Tapi orang-orang yang dulu menghidupkan hari itu… kini telah tiada.

Aku menarik napas panjang.

Dengan tangan gemetar, aku mengangkat kedua telapak tangan.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak hanya menangis—aku berdoa.

“Ya Allah… sampaikan rinduku pada Ayah dan Ibu…
Ampuni mereka… lapangkan kuburnya…
Dan terima kasih… karena Engkau pernah menghadirkan mereka dalam hidupku…”

Air mataku jatuh lagi. Tapi kali ini terasa berbeda.

Lebih hangat. Lebih tenang.

Mungkin… aku memang tidak bisa lagi merayakan Lebaran seperti dulu.
Tidak ada pelukan, tidak ada cium tangan.

Tapi aku masih bisa mencintai mereka—dengan cara yang berbeda.

Dengan doa.
Dengan kenangan.
Dengan rindu yang tidak akan pernah hilang.

Di tengah sunyi itu, aku tersenyum kecil.

Karena aku tahu…
walaupun mereka telah pergi,
cinta mereka tidak pernah benar-benar meninggalkanku.

Friday, 20 March 2026

Cerpen - Di Antara Sunyi dan Harapan, By: Khoirul Taqwim

 


Hari itu Jumat, 20 Maret 2026.
Langit di luar jendela rumah sakit tampak pucat, seolah ikut menanggung beban yang sama denganku. Aku terbaring, diam, memandangi langit-langit putih yang terasa begitu asing, namun kini menjadi bagian dari hariku.

Bunyi alat medis berdetak pelan, seperti pengingat bahwa tubuhku sedang berjuang. Dulu, aku hanya mengenal satu nama: hipertensi. Tekanan darah tinggi yang kadang datang diam-diam, kadang membuat tubuhku lemah. Tapi hari ini, aku mendengar satu lagi kata yang mengubah segalanya: diabetes.

Aku terdiam saat dokter menyebutkannya.

Bukan hanya dua penyakit itu.
Ada satu kata lain yang lebih berat—komplikasi.

Sejenak, dunia terasa runtuh.

Pikiranku berkelana ke masa lalu. Hari-hari ketika aku masih berjalan bebas, tertawa tanpa beban, makan tanpa pikir panjang. Aku tak pernah benar-benar menyangka bahwa tubuh ini, yang dulu terasa kuat, kini menjadi medan pertempuran yang sunyi.

Di ranjang ini, aku belajar sesuatu yang tak pernah diajarkan oleh buku mana pun:
bahwa sakit bukan hanya tentang tubuh, tapi juga tentang hati.

Ada malam-malam ketika aku bertanya dalam diam,
“Kenapa aku?”

Tapi tak ada jawaban, hanya keheningan yang memeluk.

Namun perlahan, aku mulai memahami…
bahwa mungkin ini bukan tentang “kenapa”, melainkan tentang “bagaimana”.

Bagaimana aku menghadapi ini.
Bagaimana aku tetap berdiri, meski harus dimulai dari berbaring.
Bagaimana aku tetap percaya, meski tubuhku sedang melemah.

Aku menarik napas panjang.
Perlahan, tapi pasti.

Di tengah segala keterbatasan ini, aku masih hidup.
Jantungku masih berdetak.
Harapanku—meski kecil—masih ada.

Aku memilih untuk tidak menyerah.

Aku akan minum obat, menjaga diri, menahan keinginan, dan belajar menerima. Bukan karena aku lemah, tapi justru karena aku ingin tetap bertahan.

Hari ini aku mungkin terbaring.
Tapi esok… siapa tahu aku sudah bisa melangkah lagi.

Dan jika pun langkahku nanti tak sekuat dulu,
aku akan tetap berjalan—dengan sabar, dengan ikhlas.

Karena aku tahu sekarang,
hidup bukan tentang seberapa sempurna tubuh ini,
melainkan seberapa kuat hati ini bertahan.

Di antara sunyi ruang rumah sakit ini,
aku menemukan satu hal yang tak pernah benar-benar hilang:

harapan.

Thursday, 19 March 2026

Cerpen - Satu Jam yang Menyelamatkan Separuh Hidupku, By: Khoirul Taqwim



Tanggal 17 Maret 2026, hari Selasa.
Hari itu seharusnya biasa saja.

Tubuhku mulai memberi tanda—ringan, samar, seperti bisikan yang hampir tak terdengar. Sedikit pusing, sedikit tidak nyaman. Aku mengabaikannya. Dalam pikiranku, itu hanya lelah, hanya hal kecil yang akan hilang dengan sendirinya.

Aku salah.

Malam datang dengan sunyi yang berbeda. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tapi aku tetap menenangkannya dengan logika sederhana: “Besok juga sembuh.”

Namun esok hari, Rabu, 18 Maret 2026—segalanya berubah.

Pagi itu, dunia seperti bergeser dari tempatnya.
Sisi kiriku… tiba-tiba tak lagi sama.

Tanganku melemah. Kakiku terasa asing. Aku mencoba berdiri, tapi tubuhku seperti tak mau patuh. Lebih menakutkan lagi—saat aku mencoba berbicara, kata-kata keluar dengan patah, terdengar asing di telingaku sendiri.

Aku tidak lagi sepenuhnya menguasai diriku.

Saat itu aku sadar—ini bukan kelelahan biasa.

Dalam kepanikan yang tertahan, aku bergerak. Waktu terasa berjalan cepat sekaligus lambat. Setiap detik terasa penting. Aku harus segera ke rumah sakit.

Perjalanan itu seperti pertarungan.
Bukan melawan orang lain—tapi melawan waktu.

Kurang dari satu jam.
Hanya itu jarak antara aku dan kemungkinan kehilangan segalanya.

Di ruang rumah sakit, semuanya bergerak cepat. Suara alat medis, langkah kaki tenaga kesehatan, pertanyaan-pertanyaan yang harus kujawab dengan sisa kemampuan yang ada. Aku hanya bisa berharap—semoga belum terlambat.

Hari itu, aku resmi menjadi pasien.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku terbaring di ranjang rumah sakit… bukan karena sekadar pemeriksaan, tapi karena tubuhku benar-benar sedang berjuang.

Diagnosisnya jelas:
Hipertensi yang selama ini kuanggap sepele, telah membawaku ke ambang Stroke.

Separuh tubuhku sempat pergi.

Hari itu terasa panjang. Tapi harapan belum hilang.

Lalu keajaiban kecil mulai terjadi.

Kamis, 19 Maret 2026.

Aku membuka mata dengan rasa yang berbeda. Perlahan, aku mencoba menggerakkan tangan kiriku. Masih lemas… tapi ada respon. Kakiku pun mulai bisa menopang tubuhku, walau pelan dan ragu.

Aku berdiri.
Langkahku goyah, tapi nyata.

Aku berjalan.

Bicaraku pun kembali. Kata-kata yang kemarin terasa pecah, kini mulai utuh lagi. Suaraku kembali menjadi milikku.

Di ranjang rumah sakit itu, aku tersenyum dalam diam.
Aku belum sepenuhnya pulih—tubuh kiriku masih lemah, langkahku masih pelan. Tapi aku tahu satu hal:

Aku diberi kesempatan kedua.

Satu jam itu…
Satu keputusan untuk tidak menunda…
Telah menyelamatkan separuh hidupku.

Kini aku mengerti, tubuh bukan sekadar wadah. Ia berbicara, memberi tanda, bahkan berteriak saat kita terlalu lama mengabaikannya.

Dan aku pernah hampir kehilangan segalanya—
hanya karena tidak mendengarkan.

Di antara suara alat medis dan langkah pelan di koridor rumah sakit, aku berjanji pada diriku sendiri:

Aku akan hidup lebih sadar.
Lebih menjaga.
Lebih menghargai setiap detik yang diberikan.

Karena aku tahu,
tidak semua orang mendapatkan kembali apa yang sempat hilang.

Dan aku…
adalah salah satu yang masih diberi kesempatan itu.

Wednesday, 18 March 2026

Cerpen - Bayangan di Antara Aksara, By: Khoirul Taqwim



Aku tak pernah tahu sejak kapan semuanya bermula.

Mungkin sejak pertama kali aku membaca namanya di sebuah tulisan. Atau sejak kata-katanya menyelinap pelan ke dalam pikiranku, lalu menetap diam-diam di hati. Yang jelas, aku mengenalnya tanpa pernah bertemu—dan anehnya, itu terasa cukup untuk membuatku terus mengingatnya.

Dia… seorang wanita yang tak pernah kujumpai, namun begitu dekat.

Di ujung waktuku, namanya masih tinggal.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri—dan kadang pada Tuhan dalam diam—tentang skenario apa yang sedang dijalankan dalam hidupku. Tak ada pertemuan, tak ada percakapan panjang, bahkan tak ada ikatan yang bisa kusebut sebagai alasan untuk mengingatnya.

Namun, mengapa justru dia yang selalu tinggal?

Belakangan aku tahu, dia bukan perempuan biasa.
Dia anak seorang ulama besar.
Tumbuh dalam lingkaran doa, dalam penjagaan ilmu, dalam kehormatan yang tak semua orang mampu menjangkaunya.

Dan lebih dari itu—dia adalah seorang penghafal Al-Qur’an.

Sejak saat itu, aku mulai mengerti mengapa lidahku terasa kelu setiap kali ingin menyebut namanya. Seolah ada batas tak kasat mata yang menjaga jarak antara aku dan dirinya. Bukan jarak fisik—tapi jarak takdir.

Sedangkan aku?

Aku hanyalah kuli tinta.

Seorang pengais kata.
Yang memungut makna dari tanah,
dan berharap menemukan cahaya dari langit.

Tak ada yang istimewa dariku—kecuali kebiasaan menulis. Aku menulis apa saja yang terasa di hati. Tentang rindu, tentang sepi, tentang hal-hal yang bahkan tak pernah benar-benar terjadi.

Termasuk tentang dia.

Tanpa kusadari, satu tulisan menjadi dua, dua menjadi sepuluh, hingga akhirnya lima belas buku telah lahir dari jemariku. Dan di antara semua itu, ada bayangnya yang terselip diam-diam. Tidak pernah kusebutkan secara terang, namun hadir di setiap kalimat yang terasa lebih hidup dari biasanya.

Dia menjadi inspirasi yang tak pernah meminta untuk diakui.

Kadang aku berpikir—bagaimana jika suatu hari dia tahu?

Bagaimana jika suatu saat, tanpa sengaja, ia membaca salah satu tulisanku… dan menemukan dirinya di sana? Di antara bait-bait yang kutulis dengan hati yang tak pernah berani menyapa.

Apakah dia akan tersenyum?

Atau justru tak merasa apa-apa?

Atau mungkin… tak pernah tahu sama sekali.

Namun, semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa semua ini memang bukan tentang diketahui atau tidak. Ini tentang rasa yang tumbuh tanpa izin, lalu memilih untuk tinggal tanpa tuntutan.

Tentang cinta yang tidak membutuhkan pertemuan.

Ada saat-saat di mana aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Mengapa aku bisa begitu memikirkan seseorang yang bahkan tak pernah hadir di hadapanku?

Namun setiap kali aku mencoba melupakan, justru namanya kembali dengan cara yang lebih halus—melalui tulisan, melalui doa, melalui keheningan yang tiba-tiba terasa penuh.

Seolah Tuhan mempertemukan hatiku dengannya…
bukan di dunia nyata,
melainkan di ruang yang kosong.

Ruang tanpa wujud.
Tanpa suara.
Namun penuh rasa.

Dan di ruang itulah aku hidup bersamanya—dalam diam.

Aku tak pernah berharap lebih. Tak pernah berani membayangkan sesuatu yang melampaui batasku. Aku tahu, aku hanya bayangan dalam kisahnya—bahkan mungkin bukan apa-apa.

Namun bagiku, itu sudah cukup.

Cukup untuk membuatku terus menulis.
Cukup untuk membuatku terus mengingat.

Aku hanyalah bayangan,
yang berjalan di antara huruf-huruf,
diiringi air mata
yang menjelma menjadi aksara.

Dan jika pada akhirnya ia tak pernah tahu…
biarlah.

Karena dunia ini pernah terasa begitu indah—
meski cinta itu tak pernah bertemu.

Monday, 16 March 2026

Cerpen - Duel Kata di Langit Maya, By: Khoirul Taqwim

 


Tahun 2009.
Dunia maya masih seperti kota kecil yang baru tumbuh. Tidak banyak orang yang berkeliaran di dalamnya, tetapi mereka yang ada di sana membawa pikiran yang tajam dan keberanian untuk berbicara.

Aku memasuki ruang itu lewat Facebook.
Awalnya hanya sebuah tulisan pendek—sebuah pendapat tentang kehidupan, tentang masyarakat, tentang sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.

Namun ternyata tulisan itu seperti batu kecil yang jatuh ke dalam danau.

Gelombangnya melebar.

Satu komentar datang, lalu dua, lalu sepuluh.
Sebagian setuju.
Sebagian lain menolak dengan kata-kata yang keras.

Di antara semua komentar itu, ada satu nama yang selalu muncul.
Seorang penulis yang tajam. Kalimat-kalimatnya teratur seperti pasukan yang rapi.

Ia membantah tulisanku.

Aku membaca dengan hati yang berdebar.
Bukan marah, tetapi tertantang.

Malam itu aku menulis balasan.
Kata demi kata kususun seperti menyusun batu-batu argumen.

Sejak saat itu, setiap tulisan menjadi duel gagasan.

Pertarungan itu tidak berhenti di sana.
Kami berpindah ke Kaskus, tempat forum-forum ramai dengan diskusi panjang.

Di sana, thread kami menjadi semakin panjang.
Orang-orang dari berbagai latar belakang ikut masuk: mahasiswa, aktivis, bahkan mereka yang mengaku akademisi.

Sebagian menyemangati.
Sebagian menertawakan.
Sebagian lagi mencoba menjadi penengah.

Namun duel kami terus berlanjut.

Kadang ia menyerang argumenku dengan logika yang dingin.
Kadang aku menjawab dengan kalimat yang lebih tajam.

Aneh sekali.
Semakin keras perdebatan itu, semakin aku merasa menghargainya.

Seolah-olah kami adalah dua orang petarung di arena yang sama,
yang saling menguji kekuatan pikiran.

Perjalanan itu akhirnya membawa kami ke Kompasiana.

Di sana, pertarungan berubah menjadi tulisan panjang.
Artikel demi artikel muncul seperti bab-bab dalam sebuah buku yang tak pernah selesai.

Kadang ia memuji satu bagian dari tulisanku.
Kadang aku mengakui satu argumennya yang kuat.

Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang diam-diam tumbuh:

rasa hormat.

Suatu malam aku menatap layar komputer yang redup.
Komentar masih berdatangan.

Aku tersenyum kecil.

Betapa anehnya dunia ini.

Kami tidak pernah bertemu.
Tidak pernah berjabat tangan.
Bahkan mungkin tidak pernah tahu wajah satu sama lain.

Namun lewat kata-kata,
kami telah saling mengenal cara berpikir, keberanian, dan batas-batas keyakinan.

Di dunia nyata mungkin kami hanya orang biasa.

Tetapi di dunia tulisan itu,
kami pernah menjadi petarung gagasan yang menjaga api diskusi tetap hidup.

Dan hingga hari ini, ketika aku mengingat masa itu,
aku tahu satu hal:

Di langit maya yang sederhana pada tahun 2009,
kami pernah membuat kata-kata hidup seperti api.

Cerpen - Mimpi yang Datang Setelah Lagu, By: Khoirul Taqwim

 


Malam itu sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar perlahan di kamar kecilku. Di atas meja, sebuah lagu baru saja selesai kutulis. Judulnya sederhana: Suhesti, Penutup yang Tenang.

Aku membaca kembali setiap baitnya. Ada kenangan masa muda di sana, ada cinta yang pernah tumbuh, dan ada keikhlasan yang akhirnya kupilih. Setelah puluhan tahun, aku mencoba menutup cerita itu dengan damai.

Suhesti.

Nama itu dulu begitu sering hadir dalam hari-hariku. Kami pernah berjalan di lorong kampus yang sama, tertawa di perpustakaan, dan berbagi cerita tentang mimpi-mimpi yang masih jauh dari kenyataan. Tapi hidup selalu punya jalannya sendiri. Kami tidak pernah benar-benar menjadi satu cerita.

Lagu itu kutulis bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menutupnya dengan baik.

Malam semakin larut. Setelah menatap layar ponsel beberapa saat, aku akhirnya memejamkan mata.

Dan di situlah sesuatu yang aneh terjadi.

Aku bermimpi.

Dalam mimpi itu, aku melihat sebuah rumah yang sangat familiar—rumahku sendiri. Pintu depan terbuka perlahan, dan seseorang berdiri di sana. Ketika aku mendekat, wajah itu menjadi jelas.

Suhesti.

Dia berdiri dengan senyum yang tenang, seolah tidak ada jarak waktu puluhan tahun di antara kami. Tidak ada kemarahan, tidak ada pertanyaan. Hanya tatapan yang hangat, seperti dua orang yang pernah saling mengenal dengan baik.

Kami tidak banyak bicara. Dalam mimpi itu, rasanya kata-kata tidak terlalu penting. Kehadirannya saja sudah cukup.

Lalu mimpi itu berubah.

Kini aku yang berjalan di sebuah jalan kecil menuju rumahnya. Rumah yang dulu pernah kudatangi hanya dalam bayangan. Di depan pintu rumah itu aku berhenti, seperti seseorang yang datang membawa kenangan lama.

Aku tidak mengetuk pintu. Aku hanya berdiri sebentar, lalu tersenyum kecil.

Seolah hatiku berkata, “Cukup sampai di sini.”

Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar. Aku terbangun perlahan, masih mengingat jelas mimpi semalam.

Aku duduk sejenak di tepi tempat tidur.

Aneh memang. Setelah menulis lagu tentangnya, justru dia hadir dalam mimpi. Tapi kali ini rasanya berbeda. Tidak ada kegelisahan seperti dulu. Yang ada hanya perasaan tenang.

Mungkin benar, hati manusia kadang butuh cara sendiri untuk menyelesaikan cerita yang lama.

Aku mengambil ponselku lagi dan membaca lirik lagu itu sekali lagi.

Lalu aku tersenyum.

Mungkin Suhesti tidak pernah tahu bahwa sebuah lagu pernah ditulis untuknya. Mungkin dia tidak akan pernah membacanya. Tapi itu tidak lagi penting.

Karena pada akhirnya, yang benar-benar selesai bukanlah cerita di dunia luar.

Melainkan cerita di dalam hati.

Cerpen - Rindu dan Benci Jadi Satu, By: Khoirul Taqwim

 


Di suatu pagi yang biasa di kampus Jogja, aku pertama kali melihatnya. Namanya Suhesti. Wajahnya tenang, sikapnya terlihat cuek, seolah tidak mudah didekati. Ia bukan tipe wanita yang banyak bicara atau mudah akrab dengan siapa saja. Namun entah mengapa, sejak awal aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya.

Aku sendiri bukan laki-laki yang terbiasa berjalan bersama wanita. Hidupku lebih banyak diisi dengan belajar dan kegiatan kampus. Karena itu, ketika Suhesti suatu hari tiba-tiba mengajakku berjalan di sekitar kampus, aku merasa sedikit heran sekaligus canggung.

“Temani aku sebentar,” katanya singkat.

Kami berjalan menyusuri jalan kampus, lalu naik mobil angkut yang biasa membawa mahasiswa dari satu gedung ke gedung lain. Percakapan kami tidak banyak, tetapi entah mengapa suasana terasa hangat. Sejak hari itu, ia beberapa kali mengajakku berjalan lagi.

Suatu hari, ia mengajakku pergi ke pameran buku. Aku setuju tanpa banyak berpikir. Bagiku, itu sudah terasa seperti sesuatu yang istimewa.

Di tengah keramaian pameran buku, tanpa sadar aku melihat wajahnya dari dekat. Ia terkejut, wajahnya memerah, lalu mencoba melepaskan pandangannya dengan malu. Aku pun segera mengerti bahwa mungkin aku terlalu berani menatap wajahnya.

Namun yang aneh, saat hari mulai sore dan kami hendak pulang, justru ia berkata pelan,

“Jalan sebentar lagi, ya.”

Kalimat sederhana itu membuat hatiku semakin bingung.

Di lain waktu, seorang teman wanita melihat kami bersama dan bercanda,

“Kalian ini pacaran, ya?”

Aku langsung menjawab, “Tidak.”

Aku tahu Suhesti tidak ingin menjalin hubungan cinta saat kuliah. Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin hubungan seperti itu mengganggu masa depannya.

Namun bagiku, hubungan harus jelas. Jika hanya sahabat, menurutku tidak perlu sampai sering berjalan berdua seperti ini. Aku takut jika perasaan ini terus dibiarkan, suatu hari nanti akan menjadi luka yang lebih dalam.

Akhirnya aku membuat keputusan yang berat.

Aku memilih pergi.

Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku peduli. Aku tidak ingin hubungan yang tidak jelas ini menyakiti kami berdua.

Waktu berlalu. Kami menempuh jalan hidup masing-masing.

Beberapa tahun kemudian aku mendengar bahwa Suhesti telah menikah dan memiliki anak. Aku juga telah menjalani kehidupanku sendiri.

Namun suatu hari aku membaca tulisan-tulisannya. Dalam kata-katanya, aku merasa seperti menemukan bayangan diriku di masa lalu. Ia menulis tentang seseorang yang meninggalkannya. Tentang perasaan yang bercampur antara rindu dan benci.

Mungkin ia masih mengingatku.

Aku pernah mencoba membicarakan masa itu dengannya. Ia hanya diam dan mendengarkan. Tidak ada penjelasan, tidak ada perdebatan. Hanya keheningan yang panjang.

Kini ia bahkan memblokirku dan memilih tidak berinteraksi lagi. Seolah aku benar-benar hilang dari hidupnya.

Namun dari tulisannya, aku tahu satu hal.

Kenangan itu masih hidup.

Aku meninggalkannya karena aku ingin cinta yang jelas. Ia mungkin hanya ingin persahabatan yang dekat. Perbedaan itulah yang membuat kami akhirnya berjalan di arah yang berbeda.

Dan sekarang, semua itu tinggal menjadi cerita lama.

Sebuah kisah yang tidak pernah benar-benar dimulai, tetapi juga tidak pernah benar-benar berakhir.

Kisah tentang dua orang yang pernah berjalan bersama di kampus Jogja, di antara buku-buku dan mimpi-mimpi muda.

Kisah tentang rindu dan benci yang akhirnya menjadi satu.