Monday, 16 March 2026

Cerpen - Mimpi yang Datang Setelah Lagu, By: Khoirul Taqwim

 


Malam itu sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar perlahan di kamar kecilku. Di atas meja, sebuah lagu baru saja selesai kutulis. Judulnya sederhana: Suhesti, Penutup yang Tenang.

Aku membaca kembali setiap baitnya. Ada kenangan masa muda di sana, ada cinta yang pernah tumbuh, dan ada keikhlasan yang akhirnya kupilih. Setelah puluhan tahun, aku mencoba menutup cerita itu dengan damai.

Suhesti.

Nama itu dulu begitu sering hadir dalam hari-hariku. Kami pernah berjalan di lorong kampus yang sama, tertawa di perpustakaan, dan berbagi cerita tentang mimpi-mimpi yang masih jauh dari kenyataan. Tapi hidup selalu punya jalannya sendiri. Kami tidak pernah benar-benar menjadi satu cerita.

Lagu itu kutulis bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menutupnya dengan baik.

Malam semakin larut. Setelah menatap layar ponsel beberapa saat, aku akhirnya memejamkan mata.

Dan di situlah sesuatu yang aneh terjadi.

Aku bermimpi.

Dalam mimpi itu, aku melihat sebuah rumah yang sangat familiar—rumahku sendiri. Pintu depan terbuka perlahan, dan seseorang berdiri di sana. Ketika aku mendekat, wajah itu menjadi jelas.

Suhesti.

Dia berdiri dengan senyum yang tenang, seolah tidak ada jarak waktu puluhan tahun di antara kami. Tidak ada kemarahan, tidak ada pertanyaan. Hanya tatapan yang hangat, seperti dua orang yang pernah saling mengenal dengan baik.

Kami tidak banyak bicara. Dalam mimpi itu, rasanya kata-kata tidak terlalu penting. Kehadirannya saja sudah cukup.

Lalu mimpi itu berubah.

Kini aku yang berjalan di sebuah jalan kecil menuju rumahnya. Rumah yang dulu pernah kudatangi hanya dalam bayangan. Di depan pintu rumah itu aku berhenti, seperti seseorang yang datang membawa kenangan lama.

Aku tidak mengetuk pintu. Aku hanya berdiri sebentar, lalu tersenyum kecil.

Seolah hatiku berkata, “Cukup sampai di sini.”

Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar. Aku terbangun perlahan, masih mengingat jelas mimpi semalam.

Aku duduk sejenak di tepi tempat tidur.

Aneh memang. Setelah menulis lagu tentangnya, justru dia hadir dalam mimpi. Tapi kali ini rasanya berbeda. Tidak ada kegelisahan seperti dulu. Yang ada hanya perasaan tenang.

Mungkin benar, hati manusia kadang butuh cara sendiri untuk menyelesaikan cerita yang lama.

Aku mengambil ponselku lagi dan membaca lirik lagu itu sekali lagi.

Lalu aku tersenyum.

Mungkin Suhesti tidak pernah tahu bahwa sebuah lagu pernah ditulis untuknya. Mungkin dia tidak akan pernah membacanya. Tapi itu tidak lagi penting.

Karena pada akhirnya, yang benar-benar selesai bukanlah cerita di dunia luar.

Melainkan cerita di dalam hati.

0 comments:

Post a Comment