Monday, 16 March 2026

Cerpen - Suhesti di Perpustakaan Senja, By: Khoirul Taqwim

 


Langkahku masih mengingat jalan itu.

Jalan kecil di dalam kampus yang dulu sering kami lewati bersama. Di antara gedung-gedung tua dan pohon yang menaungi trotoar, ada banyak cerita yang pernah kami tinggalkan. Cerita yang sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu dalam.

Namanya Suhesti.

Dia bukan seseorang yang datang dengan kata cinta. Justru sejak awal dia selalu berkata dengan tenang,
“Lebih baik kita sahabat saja.”

Namun anehnya, dia sering berjalan bersamaku. Kami berbicara panjang tentang banyak hal: kuliah, buku, masa depan, bahkan mimpi-mimpi kecil yang terasa begitu dekat waktu itu.

Salah satu tempat yang paling sering kami datangi adalah perpustakaan kampus.

Aku sering mengajaknya ke sana. Di antara rak-rak buku yang tinggi dan sunyi yang menenangkan, kami duduk berhadapan di meja kayu panjang. Kadang kami benar-benar membaca buku. Kadang hanya membuka halaman tanpa benar-benar membacanya, karena lebih sibuk saling bercerita.

Ada sesuatu yang hangat dalam kebersamaan itu.

Suatu hari, tanpa rencana, aku kembali ke perpustakaan. Hanya ingin mencari buku dan menghabiskan waktu seperti biasa.

Saat aku berjalan di antara rak buku, tiba-tiba aku melihat seseorang berdiri di ujung lorong.

Suhesti.

Dia juga terlihat terkejut melihatku.

Kami saling diam beberapa detik, lalu dia tersenyum kecil.

“Ketemu lagi,” katanya pelan.

Seperti biasa, pertemuan yang tidak direncanakan itu justru terasa paling istimewa. Kami duduk lagi di meja yang sama seperti dulu. Tidak banyak yang berubah, kecuali waktu yang terus berjalan.

Aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini kusimpan. Bahwa perasaan ini bukan sekadar persahabatan. Bahwa langkah-langkah kecil di kampus ini telah membuat hatiku jatuh terlalu jauh.

Namun sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, dia lebih dulu berbicara.

“Kita tetap sahabat saja, ya.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat hatiku mengerti segalanya.

Aku tersenyum, meski di dalam hati ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Hari itu senja turun perlahan di luar jendela perpustakaan. Cahaya jingga menyelinap di antara rak buku, seolah ikut menjadi saksi dari percakapan yang tak akan pernah berubah menjadi cinta.

Beberapa waktu kemudian, aku memilih pergi.

Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku terlalu peduli. Aku tahu jika terus bertahan dalam hubungan yang tidak memiliki arah, kami hanya akan saling melukai.

Waktu berjalan.

Tahun demi tahun berlalu.

Kini Suhesti telah hidup dengan dunianya sendiri. Sebuah keluarga kecil yang ia jaga dengan penuh cinta. Hidupnya berjalan seperti cerita yang seharusnya.

Sedangkan aku, masih menyimpan kenangan itu dalam bentuk yang berbeda.

Kadang saat membuka buku lama, aku teringat kembali pada perpustakaan kampus itu. Pada meja kayu panjang, pada senyuman sederhana, dan pada pertemuan-pertemuan yang seolah dipertemukan oleh takdir.

Ada cinta yang tidak pernah menjadi milik kita.

Namun anehnya, justru cinta seperti itu yang sering hidup paling lama di dalam ingatan.

Dan setiap kali mengingatnya, aku hanya bisa tersenyum pelan.

Karena aku tahu, di suatu tempat dalam hidupku, selalu ada satu kenangan yang bernama Suhesti.

0 comments:

Post a Comment