Monday, 16 March 2026

Cerpen - Sepucuk Surat untuk Arina, By: Khoirul Taqwim

 



Di dunia yang penuh keramaian kata-kata, aku mengenalnya dari sesuatu yang sederhana: tulisan. Bukan pertemuan di sebuah kota, bukan juga tatapan mata di sebuah ruang, tetapi dari kalimat-kalimat pendek tentang iman, keikhlasan, dan kehidupan.

Namanya Arina.

Aku pertama kali membaca tulisannya di dunia maya. Kalimatnya sederhana, tetapi terasa seperti doa yang berjalan perlahan di dalam hati. Ia menulis tentang keimanan tanpa berlebihan, tentang keikhlasan tanpa menggurui. Dari situ aku tahu, perempuan ini tidak sedang mencari pujian—ia sedang menulis dari hatinya.

Beberapa waktu kemudian aku mengetahui bahwa Arina adalah penghafal Al-Qur’an, dan abahnya seorang kyai yang dihormati di pesantren. Aku tidak terkejut. Ada ketenangan dalam setiap kata yang ia tulis.

Suatu hari ia mengirim pesan kepadaku.

“Bolehkah kamu menulis profil keluarga kami?”

Aku terdiam beberapa saat. Aku seorang penulis, telah menerbitkan banyak buku, tetapi permintaan itu terasa berbeda. Ada tanggung jawab yang tak biasa ketika menulis tentang keluarga seorang ulama.

Aku menulisnya dengan sederhana—tentang rumah yang penuh kitab, tentang abahnya yang mengajar santri, tentang kehidupan yang dijaga oleh adab dan doa.

Ketika aku mengirimkan tulisan itu, Arina berkata,

“Terima kasih. Kamu menulisnya dengan hati.”

Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Bukan kedekatan yang gaduh, melainkan kedekatan yang tumbuh lewat tulisan dan percakapan tentang makna hidup.

Suatu malam ia berkata lagi,

“Bisakah kamu menulis puisi?”

Aku tersenyum. Puisi adalah rumah bagi perasaan yang tidak selalu bisa diucapkan.

Maka aku menulis sebuah puisi yang sangat dalam bagiku:

“Aku Sang Lelaki Pendamba Wanita Surga.”

Dalam puisi itu aku menulis tentang seorang lelaki yang mencintai seorang perempuan dengan cara yang sunyi. Ia tahu perempuan itu seperti bintang—indah, tetapi jauh. Ia tahu mungkin ia tidak akan pernah menjadi miliknya, tetapi ia tetap mencintainya dengan doa.

Ketika puisi itu sampai kepadanya, Arina menjawab dengan kalimat yang sederhana:

“Semoga kamu mendapatkan bidadari seperti yang kamu tulis.”

Kalimat itu seperti angin yang lembut, tetapi juga membawa jarak yang nyata.

Waktu berjalan.

Dari inspirasi tentangnya lahirlah banyak tulisan. Puisi-puisi itu kemudian terkumpul menjadi sebuah buku berjudul “Rahasia Wanita di Balik Jilbab.” Buku itu beredar di berbagai marketplace, dibaca orang-orang yang mungkin tidak pernah tahu bahwa di baliknya ada seorang perempuan bernama Arina.

Aku juga menulis lagu dan puisi berjudul “Sepucuk Surat Arina.”

Surat yang mungkin tidak pernah benar-benar dikirim, tetapi hidup dalam kata-kata.

Namun takdir berjalan dengan caranya sendiri.

Arina akhirnya menikah.

Di lingkungan pesantren, anak seorang kyai sering mengikuti jalan yang telah dijaga oleh tradisi keluarga.

Ketika aku mendengar kabar itu, hatiku tidak hancur seperti kisah-kisah cinta dalam drama. Justru ada ketenangan yang aneh—seperti seseorang yang memahami bahwa tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki.

Aku tetap menulis.

Kadang Arina masih membaca tulisanku. Kadang ia juga mendengarkan lagu yang kutulis. Ia pernah berkata bahwa ia bahagia membaca puisi-puisi itu.

Teman-temannya bahkan pernah mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang spesial dalam hidupnya.

Tetapi aku tahu tempatku.

Aku hanyalah seorang penulis yang pernah berjalan sebentar di dekat hatinya.

Kini, setiap kali aku menulis tentang cinta, iman, dan keikhlasan, aku tahu dari mana sebagian kata-kata itu lahir.

Dari seorang perempuan yang mungkin tidak pernah menjadi milikku, tetapi telah menjadi inspirasi bagi banyak karyaku.

Namanya Arina.

Dan di antara halaman-halaman buku yang kutulis, ia tetap hidup—

seperti doa yang tidak pernah selesai diucapkan. 

0 comments:

Post a Comment