Wednesday, 25 March 2026

Cerpen - Kembali Pada-Mu, By: Khoirul Taqwim



Di antara rimbun pohon jati, angin berdesir pelan seperti bisikan lama yang pernah akrab di telinga. Di sanalah Sauqi berdiri, menatap langit desa yang begitu luas—jauh berbeda dengan langit kota yang selama ini menaunginya.

Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan tempat ini. Desa kecil yang dulu ia anggap terlalu sempit untuk mimpi-mimpinya. Ia pernah percaya bahwa kebahagiaan ada di gemerlap lampu kota, pada gedung-gedung tinggi, dan pada kesibukan yang tak pernah tidur.

Dulu, dengan penuh keyakinan, ia melangkah pergi.

Meninggalkan sawah, meninggalkan suara adzan yang mengalun lembut dari surau kecil, bahkan meninggalkan dirinya sendiri yang sederhana dan penuh syukur.

Di kota, Sauqi mendapatkan segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia kira.

Pekerjaan mapan, pakaian rapi, dan kehidupan yang terlihat sempurna dari luar.

Namun, setiap malam, ketika lampu kamar dipadamkan, ada kehampaan yang tak bisa ia jelaskan.

Sunyi kota terasa dingin. Terlalu dingin.

Hingga suatu malam, dalam lelah yang menumpuk, ia tersadar—bahwa yang ia kejar selama ini hanyalah bayangan. Ia kehilangan arah, kehilangan rasa, dan perlahan… kehilangan Tuhan dalam setiap langkahnya.

 

Kini, ia kembali.

Langkahnya pelan menyusuri jalan tanah yang dulu sering ia lewati tanpa makna. Aroma tanah basah menyambutnya seperti pelukan ibu yang lama ditinggalkan.

Ia berhenti di bawah pohon jati tua—tempat ia dulu sering duduk, membaca, atau sekadar merenung.

Angin lembah berhembus, membawa suara yang seakan berkata:

"Pulanglah…"

Sauqi menutup mata. Dadanya sesak, bukan karena lelah, tapi karena rindu yang selama ini ia pendam.

“Aku terlalu jauh pergi…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak malu menangis.

 

Langkahnya kemudian menuju surau kecil di ujung desa. Bangunannya masih sama—sederhana, bahkan mungkin lebih rapuh. Namun, di situlah dulu ia menemukan ketenangan yang kini sangat ia rindukan.

Ketika suara adzan berkumandang, hatinya bergetar.

Bukan karena suara itu asing—melainkan karena ia terlalu lama menjauhinya.

Sauqi melangkah masuk.

Duduk.

Menunduk.

Dan di sanalah, dalam sujud yang lama ia tinggalkan, ia akhirnya benar-benar pulang.

“Ya Allah… jika Engkau masih menerima hamba… aku ingin kembali…”

Tangisnya pecah.

Namun kali ini, bukan tangis kehilangan—melainkan tangis pertemuan.

Sejak hari itu, Sauqi tidak lagi mencari gemerlap yang membutakan. Ia memilih hidup sederhana, dekat dengan tanah yang membesarkannya, dan lebih dekat lagi dengan Tuhan yang tak pernah meninggalkannya.

Ia belajar bahwa rumah bukan hanya tempat—tetapi keadaan hati yang kembali tenang.

Dan di antara rimbun pohon jati, ia akhirnya menemukan teduh yang sejati.

Bukan di kota.

Bukan di dunia.

Melainkan… dalam perjalanan kembali kepada-Nya.


0 comments:

Post a Comment