Hujan turun perlahan di luar jendela kamar yang sunyi. Tetesannya seolah menghitung waktu, satu demi satu, seperti detak jantung yang kian melemah. Di atas ranjang putih yang dingin, aku terbaring—tak banyak kata, tak banyak suara, hanya napas yang tersisa dalam hitungan yang tak pasti.
Tanganku gemetar saat mencoba meraih sebuah pena di sampingku. Perawat tadi sempat melarang, tapi aku hanya tersenyum. Ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang harus kutuliskan sebelum semuanya benar-benar berhenti.
Kertas itu terbuka. Kosong. Seperti langit sebelum hujan jatuh.
Aku menarik napas panjang.
“Aku tidak ingin menangis,” bisikku pelan. “Tidak juga ingin menyesal.”
Pena itu mulai bergerak, perlahan, tertatih, namun penuh kesungguhan.
Tentangmu.
Namamu tak lagi berani kusebut keras-keras. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku sudah belajar merelakan. Namun, anehnya, setiap huruf yang kutulis selalu kembali padamu—seolah kau hidup di antara tinta dan ingatanku.
Dulu, kau datang di saat aku paling rapuh. Hari-hariku penuh cemas, pikiranku penuh gelisah. Dunia terasa sempit dan menyesakkan. Tapi kau hadir… bukan dengan janji besar, melainkan dengan ketenangan.
Dan dari situlah aku mulai mengerti… bahwa tidak semua yang datang harus dimiliki. Ada yang hadir hanya untuk menyembuhkan, lalu pergi dengan tenang.
Hujan di luar semakin deras. Suaranya kini seperti lagu perpisahan yang lembut.
Aku berhenti sejenak. Napasku terasa lebih berat.
Namun pena ini belum ingin berhenti.
“Terima kasih,” tulisku perlahan.
Aku tersenyum kecil.
Kini aku tahu… cinta bukan tentang memiliki sampai akhir, tapi tentang bagaimana seseorang mengubah kita menjadi lebih dekat pada Tuhan, meski akhirnya harus berjalan sendiri.
Tanganku mulai melemah. Tinta di ujung pena hampir habis. Tapi hatiku terasa jauh lebih ringan.
Tulisan terakhirku kubaca dalam diam:
Pena itu jatuh perlahan dari tanganku.
Di luar, hujan mulai reda.
Dan di dalam, hatiku akhirnya benar-benar tenang.







0 comments:
Post a Comment