Showing posts with label Cerita Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Motivasi. Show all posts

Thursday, 10 January 2019

Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS
Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S2 di New York (Dok: Robinson Sinurat)
Karena cerita ini sangat baik untuk dibaca para siswa yang mempunyai mimpi berkuliah di luar negeri tetapi ekonomi orangtua tidak mendukung jadi cerita inspiratif ini sangat baik kita simpan dan bagikan kembali disini.

Perjuangan Robinson Sinurat (Obin), anak petani di Tanjung Beringin, Sumatera Utara, berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dari universitas ternama, Columbia University, di New York, Amerika. Dengan berpegang teguh dengan pedoman hidupnya, "Be Honest. Be Brave. Be Willing", Obin berhasil mencapai impiannya.

Kisah perjuangan seorang anak dari keluarga petani asal Tanjung Beringin di Sumatera Utara untuk meraih pendidikan S2 di universitas bergengsi di Amerika Serikat merupakan sebuah bukti pencapaian sebuah impian. Robinson Sinurat yang akrab dipanggil Obin berhasil lulus dari universitas prestisius, Columbia, di kota New York, NY.

"Be honest. Be brave. Be willing." Itulah moto hidup yang selalu ia tanamkan.

Gigih Berjuang Demi Pendidikan

Perjuangan gigih Obin untuk meraih pendidikan pun tidak lepas dari semangat orang tuanya yang adalah petani kopi dan sayur. Sejak kecil Obin yang adalah anak ke-5 dari tujuh bersaudara terpaksa tinggal berjauhan dari orang tua di kota Medan, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik

Selama bersekolah pun Obin yang punya keinginan untuk bisa masuk ke sekolah bonafit seperti sekolah swasta berfasilitas lengkap, mengaku selalu terkendala masalah keuangan, mengingat orang tuanya sudah kehabisan biaya setelah menyekolahkan kakak-kakaknya. Namun, Obin percaya bahwa rezeki masing-masing pasti berbeda.

“Ketika di giliran aku mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP, mau masuk SMA, selalu terkendala dengan keuangan. Jadi mereka selalu bilang coba ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keuangan kita bisa mencukupi,” papar Obin saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.

Selagi duduk di bangku SMP di Medan, ia juga sempat tinggal bersama adik-adiknya yang masih SD. Belajar, memasak, dan mencuci baju menjadi tugas hariannya, hingga akhirnya orang tua Obin memutuskan untuk memindahkan adik-adiknya ke tempat kakaknya di pulau Jawa.

Mengikuti pesan Bapak dan Mamak, begitulah Obin memanggil orang tuanya, ia selalu semangat untuk belajar hingga menjadi juara. Saat kelas 3 SMA, Bapak dan Mamak berpesan kepadanya.

“Kalo kamu enggak masuk negeri kuliahnya, kita enggak sanggup biayain. Jadi kamu harus masuk negeri. Kalau enggak ya belajar lagi setahun lagi,” kenangnya.

Pesan itu menjadi semangat baru baginya untuk berjuang masuk ke universitas negeri. Ia mengikuti ujian SMBPTN dan mendaftar ke Universitas Padjadjaran, Bandung dan Universitas Sriwijaya, Palembang. Awalnya, ia mengira akan berakhir kuliah di Bandung. Namun, akhirnya ia diterima di Universitas Sriwijaya di Palembang, jurusan Fisika, jurusan yang bukan ia inginkan.

“Menurut aku pribadi bukan masalah apa pun jurusannya, tapi pola pikirnya, mindset kita itu gimana ketika kita kuliah, jauh dari orang tua juga. Jadi OK ambil ajalah, yang pasti masuk perguruan tinggi negeri, orang tua sanggup membayar,” kata pria kelahiran tahun 1990 ini.

Namun, saat sudah diterima, Obin kembali dihadapi kendala biaya. Orang tua Obin mengatakan tidak ada biaya dan menganjurkannya untuk mencoba lagi tahun depan. Mengingat banyak anak-anak Indonesia yang bercita-cita masuk ke perguruan tinggi negeri tetapi tidak lolos, Obin menganggap ini merupakan kesempatan berharga baginya. Ia pun memutuskan untuk meminjam uang tiga juta rupiah ke teman dekatnya, untuk membayar uang pendaftaran sekitar 2,4 juta rupiah dan tiket naik bis dari Bandung ke Palembang.

Awal Baru di Kampus Sriwijaya

Setibanya ia di kampus Universitas Sriwijaya, ia pun harus memikirkan cara untuk membayar uang kos dengan sisa uangnya yang tinggal sekitar 250 ribu rupiah. Siapa yang menyangka ketika menemani temannya mencari rumah kos, ia lalu ditawari untuk tinggal bersama salah seorang penjaga kos di salah satu tempat yang mereka datangi.

“Kalau memang kamu mau, kamu tinggal sama saya aja, tapi ya namanya juga kamar penjaga kos-an ya, enggak ada apa-apa, dan sempit. Nanti kamu bayarnya terserah aja berapa dan kapan. Kalau kamu ada uang aja dibayar, tapi kalau uang listrik bayarlah ya, maksudnya paling cuman 10 apa 20 puluh ribu per bulan gitu,” katanya.

Satu masalah selesai, ia pun harus memikirkan uang untuk membayar buku praktikum dan biaya hidup, khususnya untuk makan. Untuk menyiasati hal ini, Obin membuat strategi hanya makan satu kali sehari di kantin kampus di waktu sore hari, agar bisa mengganjal rasa lapar hingga keesokan harinya. Untuk sepiring nasi dengan lauknya, Obin harus membayar sekitar 6-7 ribu rupiah.

“Jadi dulu itu strateginya adalah aku beli nasi banyak, sepiring gede terus pakai sayur, pakai ikan atau daging apa gitu bayarnya kan cuman itu doang,” jelasnya.

Untuk mengatasi rasa lapar yang biasa melanda di tengah malam, Obin menyimpan biskuit kelapa di kamarnya.

“Aku ambil 1-3 biji, makan, sambil nangis,” kenangnya.

“Aku enggak pernah kasih tahu (orang tua), kalau aku itu nggak makan. Tapi kalau yang bahagia-bahagianya aku kasih tahu. Karena kalau menurut aku, kalaupun aku kasih tahu aku susah segala macam, toh memang kalo mereka enggak ada (biaya) ya mau gimana, kan?” lanjutnya.

Agar bisa meneruskan kuliah, Obin lalu dianjurkan oleh dosen pembimbing dan dekan untuk mendaftar beasiswa dari PPA (Peningkatan Prestasi Akdemik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). Nilainya yang selalu bagus sejak SMA serta doa orang tua membuahkan beasiswa di semester dua hingga lulus. Untuk bertahan hidup, ia pun mencari peruntungan kerja dengan mengajar fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat kota Palembang, yang berjarak sekitar satu jam dari kampusnya. Pernah satu kali ia mengirimkan batik untuk orang tuanya dari hasil kerjanya.

“Mereka terharu dong,” ujar pria yang hobi jogging dan berenang ini.

Terjun ke Bidang Sosial di Palembang

Minat Obin di bidang sosial tumbuh saat tinggal di Palembang. Obin yang supel dikenal sangat aktif berorganisasi. Ia tergabung di Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist, menjadi ketua perkumpulan warga Batak, dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika.

Setelah lulus, ia pindah ke Jakarta untuk menerima tawaran kerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation. Setelah itu di Jakarta ia juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan. Kerap kali ia mengikuti konferensi-konferensi baik di tingkat nasional maupun internasional yang pernah membawanya hingga ke Malaysia.

Mengejar Impian Hingga ke Negeri Paman Sam

Obin lalu memiliki cita-cita yang baru, yaitu pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Setelah empat kali mencoba mendaftar beasiswa untuk program Young Southeast Asian Leaders Initiative dari pemerintah Amerika Serikat, ia lalu berhasil memperolehnya. Selama lima minggu ia digodok di University of Nebraska di kota Omaha, untuk belajar mengenai pengembangan keterlibatan warga (Civic Engagement) dan kepemimpinan.


Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

“Yang pertama itu sih aku merasa bangga, karena aku pola pikirnya berubah, lebih baik, terus leadership skils-nya juga, dan public speaking juga, karena harus ngomong di depan teman-teman dan yang paling pentingnya lagi adalah aku harus practice bahasa inggris setiap hari sama teman-teman yang lain,” cerita Obin yang pernah bertemu dengan mantan presiden Amerika, Barack Obama saat mengikuti konferensi di Malaysia.

Tahun 2015 Obin kemudian terpilih untuk mengikuti program dari Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI) untuk pergi ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari 45 ribu orang yang mendaftar hanya 33 yang terpilih, termasuk dirinya. Kunjungannya ke Ende kemudian mendatangkan gagasan untuk membuat perpustakaan untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA di Ende.

Sesuai dengan rencananya, tak lama kemudian Obin memutuskan untuk mendaftar beasiswa untuk studi S2.

“Karena aku dulu waktu pertama kerja aku udah membuat semacam goal satu target, dalam waktu dua tahun aku mau lanjut lagi s2 di bidang sosial, karena pekerjaan aku selama ini sosial tapi karena background aku itu fisika kadang orang merasa kalau aku prakteknya udah banyak, cuman di teori enggak ada. Nggak ada degreenya di teorinya,” jelas Obin yang juga pernah bekerja untuk organisasi nirlaba American Voices di Indonesia dan mengikuti program Rumah Perubahan Rhenald Kasali.

Melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan), Obin berhasil diterima di berbagai universitas di Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Inggris.

"(Mamak) kalau enggak salah lagi metik cabe, terus katanya dia langsung kayak berlutut gitu, ucapan syukur gitu lho. Di deket pohon cabe,” kenangnya sambil tertawa.

“Terus dia nangislah, (katanya) ‘selamat ya nak’,” lanjutnya.

Dari seluruh universitas yang menerimanya, Obin memutuskan untuk memilih Columbia University, sebuah universitas prestisius atau Ivy League di New York. Jurusan 'social work' (pekerjaan sosial) menjadi pilihannya.

“Yang lucunya aku cerita ke orang tua, ke Bapak sama Mamak kan, aku lolos Columbia University di Amerika. Terus kata mereka, bukannya di ucapin selamat, ini enggak. ‘Loh kenapa ke Amerika lagi? Bukannya kemaren mau ke inggris?” ujarnya lagi sambil tertawa.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Robinson Sinurat bersama orang tuanya di depan Gedung Putih, Washington, D.C. (Dok: Robinson Sinurat)
Sesampainya di Amerika Serikat dan memulai kuliah di tahun 2016, Obin mendapat tantangan baru. Bacaan yang banyak dan tugas yang menumpuk sempat membuatnya patah semangat dan ‘badan kurus kerempeng.’ Tetapi, dengan kemampuan bahasa Inggris yang menurutnya masih menjadi kendala, ia tetap berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus Amerika. Kali ini strateginya adalah mempersiapkan diri dan berpartisipasi di dalam kelas.

“Aku udah targetin, setiap mata kuliah itu aku at least nanya satu atau jawab satu. Kalau memang bisa lebih lebih bagus, tapi at least satu,” jawabnya.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS
Robinson Sinurat lulusan Columbia University di AS (Dok: Robinson Sinurat)

Menurutnya dosen di Amerika Serikat sudah seperti teman sendiri. Jika ada pertanyaan, boleh langsung mengirim e-mail atau datang ke kantornya di saat jam kerja.

Seperti saat kuliah di Universitas Sriwijiaya dulu, Obin kembali aktif di kampus. Ia menjadi salah satu tim pemasaran untuk PERMIAS (Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dan mendirikan International Student Caucus di kampus bersama teman-temannya.

Cita-cita Obin untuk lulus S2 pun tercapai di tahun 2018. Impian lainnya? Mendatangkan Bapak dan Mamak ke Amerika untuk wisudanya, dengan hasil tabungannya selama ini.

“Akhirnya tercapailah mimpi aku itu. Aku bilang harus berdua, karena waktu S1 kan cuman (Mamak). Jadi kalau kali ini harus berdua,” paparnya.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS
Robinson Sinurat bersama artis Tasya Kamila (tengah) dan Kania (kanan) saat wisuda S2 (Dok: Obin)

​Lulus dari Columbia University, Obin kini bekerja di lembaga nirlaba, Queens Community House di New York, sebagai Counseling Specialist.

Pencapaian Obin selama ini kembali lagi kepada pedoman hidupnya. “Be honest. Be brave. Be willing.” Jujur. Berani. Mau berjuang.

“Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup. Dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana? Karena jujur sama diri sendiri itu penting. Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” ujarnya.

Tak lupa menurut Obin, yang juga tak kalah penting adalah kemauan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

“Jadi aku sih berharapnya gitu. Makanya aku bikin itu jadi moto aku sendiri. Be honest. Be brave. Be willing,” pungkasnya. [di]


Cerita yang sangat mengsinspirasi ini sebelumnya sudah dishare oleh www.voaindonesia.com. Semoga Robinson Sinurat yang dikenal dengan panggilan Obin, semakin sehat dan sukses sehingga bisa memberikan inspirasi lebih banyak lagi kepada generasi muda.

Jangan Lupa Untuk Berbagi 🙏Share is Caring 👀 dan JADIKAN HARI INI LUAR BIASA! - WITH GOD ALL THINGS ARE POSSIBLE😊

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Everything Starts With A Dream;
Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 5 August 2018

Meme Kreatif Ini Sangat Memotivasi Anak-anak Kelas XII (Dua Belas)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Wednesday, 23 May 2018

Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS
Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S2 di New York (Dok: Robinson Sinurat)
Karena cerita ini sangat baik untuk dibaca para siswa yang mempunyai mimpi berkuliah di luar negeri tetapi ekonomi orangtua tidak mendukung jadi cerita inspiratif ini sangat baik kita simpan dan bagikan kembali disini.

Perjuangan Robinson Sinurat (Obin), anak petani di Tanjung Beringin, Sumatera Utara, berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dari universitas ternama, Columbia University, di New York, Amerika. Dengan berpegang teguh dengan pedoman hidupnya, "Be Honest. Be Brave. Be Willing", Obin berhasil mencapai impiannya.

Kisah perjuangan seorang anak dari keluarga petani asal Tanjung Beringin di Sumatera Utara untuk meraih pendidikan S2 di universitas bergengsi di Amerika Serikat merupakan sebuah bukti pencapaian sebuah impian. Robinson Sinurat yang akrab dipanggil Obin berhasil lulus dari universitas prestisius, Columbia, di kota New York, NY.

"Be honest. Be brave. Be willing." Itulah moto hidup yang selalu ia tanamkan.

Gigih Berjuang Demi Pendidikan

Perjuangan gigih Obin untuk meraih pendidikan pun tidak lepas dari semangat orang tuanya yang adalah petani kopi dan sayur. Sejak kecil Obin yang adalah anak ke-5 dari tujuh bersaudara terpaksa tinggal berjauhan dari orang tua di kota Medan, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik

Selama bersekolah pun Obin yang punya keinginan untuk bisa masuk ke sekolah bonafit seperti sekolah swasta berfasilitas lengkap, mengaku selalu terkendala masalah keuangan, mengingat orang tuanya sudah kehabisan biaya setelah menyekolahkan kakak-kakaknya. Namun, Obin percaya bahwa rezeki masing-masing pasti berbeda.

“Ketika di giliran aku mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP, mau masuk SMA, selalu terkendala dengan keuangan. Jadi mereka selalu bilang coba ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keuangan kita bisa mencukupi,” papar Obin saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.

Selagi duduk di bangku SMP di Medan, ia juga sempat tinggal bersama adik-adiknya yang masih SD. Belajar, memasak, dan mencuci baju menjadi tugas hariannya, hingga akhirnya orang tua Obin memutuskan untuk memindahkan adik-adiknya ke tempat kakaknya di pulau Jawa.

Mengikuti pesan Bapak dan Mamak, begitulah Obin memanggil orang tuanya, ia selalu semangat untuk belajar hingga menjadi juara. Saat kelas 3 SMA, Bapak dan Mamak berpesan kepadanya.

“Kalo kamu enggak masuk negeri kuliahnya, kita enggak sanggup biayain. Jadi kamu harus masuk negeri. Kalau enggak ya belajar lagi setahun lagi,” kenangnya.

Pesan itu menjadi semangat baru baginya untuk berjuang masuk ke universitas negeri. Ia mengikuti ujian SMBPTN dan mendaftar ke Universitas Padjadjaran, Bandung dan Universitas Sriwijaya, Palembang. Awalnya, ia mengira akan berakhir kuliah di Bandung. Namun, akhirnya ia diterima di Universitas Sriwijaya di Palembang, jurusan Fisika, jurusan yang bukan ia inginkan.

“Menurut aku pribadi bukan masalah apa pun jurusannya, tapi pola pikirnya, mindset kita itu gimana ketika kita kuliah, jauh dari orang tua juga. Jadi OK ambil ajalah, yang pasti masuk perguruan tinggi negeri, orang tua sanggup membayar,” kata pria kelahiran tahun 1990 ini.

Namun, saat sudah diterima, Obin kembali dihadapi kendala biaya. Orang tua Obin mengatakan tidak ada biaya dan menganjurkannya untuk mencoba lagi tahun depan. Mengingat banyak anak-anak Indonesia yang bercita-cita masuk ke perguruan tinggi negeri tetapi tidak lolos, Obin menganggap ini merupakan kesempatan berharga baginya. Ia pun memutuskan untuk meminjam uang tiga juta rupiah ke teman dekatnya, untuk membayar uang pendaftaran sekitar 2,4 juta rupiah dan tiket naik bis dari Bandung ke Palembang.

Awal Baru di Kampus Sriwijaya

Setibanya ia di kampus Universitas Sriwijaya, ia pun harus memikirkan cara untuk membayar uang kos dengan sisa uangnya yang tinggal sekitar 250 ribu rupiah. Siapa yang menyangka ketika menemani temannya mencari rumah kos, ia lalu ditawari untuk tinggal bersama salah seorang penjaga kos di salah satu tempat yang mereka datangi.

“Kalau memang kamu mau, kamu tinggal sama saya aja, tapi ya namanya juga kamar penjaga kos-an ya, enggak ada apa-apa, dan sempit. Nanti kamu bayarnya terserah aja berapa dan kapan. Kalau kamu ada uang aja dibayar, tapi kalau uang listrik bayarlah ya, maksudnya paling cuman 10 apa 20 puluh ribu per bulan gitu,” katanya.

Satu masalah selesai, ia pun harus memikirkan uang untuk membayar buku praktikum dan biaya hidup, khususnya untuk makan. Untuk menyiasati hal ini, Obin membuat strategi hanya makan satu kali sehari di kantin kampus di waktu sore hari, agar bisa mengganjal rasa lapar hingga keesokan harinya. Untuk sepiring nasi dengan lauknya, Obin harus membayar sekitar 6-7 ribu rupiah.

“Jadi dulu itu strateginya adalah aku beli nasi banyak, sepiring gede terus pakai sayur, pakai ikan atau daging apa gitu bayarnya kan cuman itu doang,” jelasnya.

Untuk mengatasi rasa lapar yang biasa melanda di tengah malam, Obin menyimpan biskuit kelapa di kamarnya.

“Aku ambil 1-3 biji, makan, sambil nangis,” kenangnya.

“Aku enggak pernah kasih tahu (orang tua), kalau aku itu nggak makan. Tapi kalau yang bahagia-bahagianya aku kasih tahu. Karena kalau menurut aku, kalaupun aku kasih tahu aku susah segala macam, toh memang kalo mereka enggak ada (biaya) ya mau gimana, kan?” lanjutnya.

Agar bisa meneruskan kuliah, Obin lalu dianjurkan oleh dosen pembimbing dan dekan untuk mendaftar beasiswa dari PPA (Peningkatan Prestasi Akdemik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). Nilainya yang selalu bagus sejak SMA serta doa orang tua membuahkan beasiswa di semester dua hingga lulus. Untuk bertahan hidup, ia pun mencari peruntungan kerja dengan mengajar fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat kota Palembang, yang berjarak sekitar satu jam dari kampusnya. Pernah satu kali ia mengirimkan batik untuk orang tuanya dari hasil kerjanya.

“Mereka terharu dong,” ujar pria yang hobi jogging dan berenang ini.

Terjun ke Bidang Sosial di Palembang

Minat Obin di bidang sosial tumbuh saat tinggal di Palembang. Obin yang supel dikenal sangat aktif berorganisasi. Ia tergabung di Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist, menjadi ketua perkumpulan warga Batak, dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika.

Setelah lulus, ia pindah ke Jakarta untuk menerima tawaran kerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation. Setelah itu di Jakarta ia juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan. Kerap kali ia mengikuti konferensi-konferensi baik di tingkat nasional maupun internasional yang pernah membawanya hingga ke Malaysia.

Mengejar Impian Hingga ke Negeri Paman Sam

Obin lalu memiliki cita-cita yang baru, yaitu pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Setelah empat kali mencoba mendaftar beasiswa untuk program Young Southeast Asian Leaders Initiative dari pemerintah Amerika Serikat, ia lalu berhasil memperolehnya. Selama lima minggu ia digodok di University of Nebraska di kota Omaha, untuk belajar mengenai pengembangan keterlibatan warga (Civic Engagement) dan kepemimpinan.


Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

“Yang pertama itu sih aku merasa bangga, karena aku pola pikirnya berubah, lebih baik, terus leadership skils-nya juga, dan public speaking juga, karena harus ngomong di depan teman-teman dan yang paling pentingnya lagi adalah aku harus practice bahasa inggris setiap hari sama teman-teman yang lain,” cerita Obin yang pernah bertemu dengan mantan presiden Amerika, Barack Obama saat mengikuti konferensi di Malaysia.

Tahun 2015 Obin kemudian terpilih untuk mengikuti program dari Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI) untuk pergi ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari 45 ribu orang yang mendaftar hanya 33 yang terpilih, termasuk dirinya. Kunjungannya ke Ende kemudian mendatangkan gagasan untuk membuat perpustakaan untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA di Ende.

Sesuai dengan rencananya, tak lama kemudian Obin memutuskan untuk mendaftar beasiswa untuk studi S2.

“Karena aku dulu waktu pertama kerja aku udah membuat semacam goal satu target, dalam waktu dua tahun aku mau lanjut lagi s2 di bidang sosial, karena pekerjaan aku selama ini sosial tapi karena background aku itu fisika kadang orang merasa kalau aku prakteknya udah banyak, cuman di teori enggak ada. Nggak ada degreenya di teorinya,” jelas Obin yang juga pernah bekerja untuk organisasi nirlaba American Voices di Indonesia dan mengikuti program Rumah Perubahan Rhenald Kasali.

Melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan), Obin berhasil diterima di berbagai universitas di Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Inggris.

"(Mamak) kalau enggak salah lagi metik cabe, terus katanya dia langsung kayak berlutut gitu, ucapan syukur gitu lho. Di deket pohon cabe,” kenangnya sambil tertawa.

“Terus dia nangislah, (katanya) ‘selamat ya nak’,” lanjutnya.

Dari seluruh universitas yang menerimanya, Obin memutuskan untuk memilih Columbia University, sebuah universitas prestisius atau Ivy League di New York. Jurusan 'social work' (pekerjaan sosial) menjadi pilihannya.

“Yang lucunya aku cerita ke orang tua, ke Bapak sama Mamak kan, aku lolos Columbia University di Amerika. Terus kata mereka, bukannya di ucapin selamat, ini enggak. ‘Loh kenapa ke Amerika lagi? Bukannya kemaren mau ke inggris?” ujarnya lagi sambil tertawa.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Robinson Sinurat bersama orang tuanya di depan Gedung Putih, Washington, D.C. (Dok: Robinson Sinurat)
Sesampainya di Amerika Serikat dan memulai kuliah di tahun 2016, Obin mendapat tantangan baru. Bacaan yang banyak dan tugas yang menumpuk sempat membuatnya patah semangat dan ‘badan kurus kerempeng.’ Tetapi, dengan kemampuan bahasa Inggris yang menurutnya masih menjadi kendala, ia tetap berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus Amerika. Kali ini strateginya adalah mempersiapkan diri dan berpartisipasi di dalam kelas.

“Aku udah targetin, setiap mata kuliah itu aku at least nanya satu atau jawab satu. Kalau memang bisa lebih lebih bagus, tapi at least satu,” jawabnya.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS
Robinson Sinurat lulusan Columbia University di AS (Dok: Robinson Sinurat)

Menurutnya dosen di Amerika Serikat sudah seperti teman sendiri. Jika ada pertanyaan, boleh langsung mengirim e-mail atau datang ke kantornya di saat jam kerja.

Seperti saat kuliah di Universitas Sriwijiaya dulu, Obin kembali aktif di kampus. Ia menjadi salah satu tim pemasaran untuk PERMIAS (Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dan mendirikan International Student Caucus di kampus bersama teman-temannya.

Cita-cita Obin untuk lulus S2 pun tercapai di tahun 2018. Impian lainnya? Mendatangkan Bapak dan Mamak ke Amerika untuk wisudanya, dengan hasil tabungannya selama ini.

“Akhirnya tercapailah mimpi aku itu. Aku bilang harus berdua, karena waktu S1 kan cuman (Mamak). Jadi kalau kali ini harus berdua,” paparnya.

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS
Robinson Sinurat bersama artis Tasya Kamila (tengah) dan Kania (kanan) saat wisuda S2 (Dok: Obin)

​Lulus dari Columbia University, Obin kini bekerja di lembaga nirlaba, Queens Community House di New York, sebagai Counseling Specialist.

Pencapaian Obin selama ini kembali lagi kepada pedoman hidupnya. “Be honest. Be brave. Be willing.” Jujur. Berani. Mau berjuang.

“Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup. Dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana? Karena jujur sama diri sendiri itu penting. Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” ujarnya.

Tak lupa menurut Obin, yang juga tak kalah penting adalah kemauan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

“Jadi aku sih berharapnya gitu. Makanya aku bikin itu jadi moto aku sendiri. Be honest. Be brave. Be willing,” pungkasnya. [di]


Cerita yang sangat mengsinspirasi ini sebelumnya sudah dishare oleh www.voaindonesia.com. Semoga Robinson Sinurat yang dikenal dengan panggilan Obin, semakin sehat dan sukses sehingga bisa memberikan inspirasi lebih banyak lagi kepada generasi muda.

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Everything Starts With A Dream;
Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS



Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 24 August 2017

Hilman Fajrian: Belajar Dari First Travel dan Definisi Kesuksesan Kita

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Belajar Dari First Travel dan Definisi Kesuksesan Kita Hilman Fajrian: Belajar Dari First Travel dan Definisi Kesuksesan KitaSesungguhnya apa yang dilakukan Andika Hasibuan adalah sesuatu yang mulia. Melalui First Travel, ia membantu begitu banyak orang bertamu ke rumah Allah dengan biaya yang sangat terjangkau. Ia memecahkan masalah kelompok muslim yang bermimpi bisa umroh tapi tak punya banyak uang. Kelompok ini luar biasa besarnya.

Sampai pada titik ini, FT adalah sebuah perusahaan dengan noble purpose atau tujuan yang mulia dan mampu memberi dampak pada begitu banyak orang. Terlebih, pemecahan masalah itu adalah soal kebutuhan spiritual manusia yang bagi mayoritas kita adalah kebutuhan tertinggi dalam hidup.
Itulah sociopreneurship; kewirausahaan yang lahir dari niat dan tujuan untuk memecahkan masalah orang banyak dan memberi dampak besar.

Sociopreneurship terdiri atas 2 suku kata: social dan entrepreneurship. Sebagai kewirausahaan tentu saja sebuah usaha harus mendapatkan uang agar bisa terus bertahan dan berkembang demi melayani orang lebih baik lagi.

Bila saja FT dijalankan dengan cara yang baik, maka sampai hari ini kita bisa mengenal Andika sebagai role model sociopreneurship di Indonesia.
Namun apa yang sekarang terkuak pada FT membuat kita mempertanyakan apa niat dan tujuan awal Andika mendirikan FT: untuk membantu orang lain atau untuk menciptakan kekayaan?

Dua hal ini sangat penting dipertanyakan, termasuk kepada diri kita sendiri yang sedang memulai atau memiliki usaha. Purpose adalah jiwa sekaligus hati sebuah usaha dan hidup seorang manusia dijalani. Ia akan membimbing kita dalam memilih jalur atau cara yang mesti ditempuh, dan itu adalah sebuah perjalanan yang panjang.

Mari kita bertanya, mana yang datang lebih dulu: membantu orang lain, atau menciptakan kekayaan?

Dua hal ini merupakan purpose yang amat kontras dan digerakkan oleh motif yang berbeda. Yang satu customer driven, satu lagi self driven. Membantu orang lain selalu berorientasi pada orang lain tersebut. Sementara menciptakan kekayaan hanya berorientasi pada diri kita sendiri. Membantu orang lain tentu saja bisa bisa menjadi cara untuk memenuhi kesejahteraan hidup. Mark Zuckerberg, Sergey Brin, Nadiem Makarim, adalah contoh para sociopreneur dengan jumlah kekayaan yang luar biasa. Namun kekayaan pribadi dan perusahaan Facebook, Google, Gojek, tak pernah jadi purpose dan tujuan perusahaan-perusahaan ini. Tapi mereka tetap perlu mendapatkan uang yang lebih banyak lagi agar bisa membantu orang lebih baik dan lebih banyak lagi.

Dari sini kita tahu bahwa purpose menciptakan sebuah perbedaan yang teramat besar akan bagaimana sebuah perusahaan dijalankan dan cara seseorang menjalani hidupnya.

DEFINISI KESUKSESAN

Menghasilkan uang untuk bisa tetap melanjutkan hidup [make money for living] dalam kacamata kewirausahaan adalah purpose yang berada di tangga paling dasar. Motif ini sama sekali tidak salah. Sebagaimana seorang pedagang bakso kaki lima menjalankan kewirausahaan agar bisa menafkahi keluarga. Selama uang masih bisa dipertukarkan dengan barang dan jasa, selama itu juga uang penting. Bila membaca kisah hidup Andika dan keluarganya, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa make money for living adalah purpose mereka dalam memulai FT. Dan ini sama sekali tidak salah. Miliaran orang di dunia juga melakukannya.

Ketika purpose kita adalah memenuhi kebutuhan lewat apa yang bisa dipertukarkan dengan uang sementara kebutuhan manusia itu tak terbatas, maka orientasi kita menjadi jelas: kekayaan. Kekayaan ini bersifat sangat individualistis dan self-oriented. Ketika kekayaan menjadi tujuan akhir, maka sangat mungkin ia ditempuh dengan cara-cara yang tak patut. Korupsi, penggelapan, perampokan, penipuan dsb.

Begitu banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan menjadi kaya. Bisa merasakan duduk di mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, makan enak, tidur di hotel bintang 5, menyekolahkan anak ke sekolah terbaik dll. Semua itu tidak salah. Namun bagi banyak orang memiliki, merasakan, mengalami, membeli --- sebagai manfaat yang bisa didapatkan atas kekayaan --- tidaklah cukup. Dalam hiearki kebutuhan Maslow, ada kebutuhan atas pengakuan. Sehingga, kaya saja tidak cukup. Tapi orang lain mesti tahu dan mengakui bahwa kita kaya.
Kenapa pengakuan dari orang lain ini begitu penting?

Karena di masyarakat kita kekayaan adalah indikator utama atas kesuksesan atau keberhasilan hidup. Kita dianggap belum sukses bila belum memiliki segala sesuatu yang diklaim sebagai simbol-simbol kesuksesan: mobil mewah, tas mahal, rumah besar. Itu sebabnya kita silau melihat seorang pejabat memiliki mobil seharga miliaran dan menganggap mereka orang sukses, tanpa memikirkan bagaimana ia bisa membeli mobil mewah yang jauh dari pendapatannya sebagai seorang PNS. Bila kekayaan dan kepemilikan menjadi purpose, maka seringkali caranya tidak penting lagi. Selama orang lain tidak tahu bahwa kita mewujudkan kekayaan itu dengan cara yang salah, maka kita masih menjadi orang sukses.

Hari-hari belakangan kita melihat begitu banyak foto-foto Andika dan istrinya yang berasal dari media sosial mereka yang menunjukkan cara mereka menggunakan kekayaan yang berhasil mereka kumpulkan. Kepada orang banyak mereka menunjukkan betapa suksesnya mereka.
Kenapa mereka mendemonstrasikannya?

Karena masyarakat kita percaya bahwa itulah bukti hidup yang sukses: rumah bak istana, liburan mewah ke luar negeri, pakaian dan tas mahal, dsb. Bila saja hari ini belum terungkap masalah di balik FT, kemungkinan besar kita masih akan memandang Andika sebagai orang sukses karena segala sesuatu yang dimilikinya itu.

For the love of money is a root of all kinds of evil. Selama kita dan masyarakat kita tak mengubah paradigma dalam menilai kesuksesan, selama itu pula kita masih akan melihat keserakahan berserakan di dunia yang kita dan kelak anak-cucu kita tinggali ini.[*Hilman Fajrian]

Video pilihan khusus untuk Anda 😏 Apa yang kita lakukan hari ini adalah Membangun Masa Depan;
 Belajar Dari First Travel dan Definisi Kesuksesan Kita Hilman Fajrian: Belajar Dari First Travel dan Definisi Kesuksesan Kita


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 17 March 2017

Orang Tua Polos dan Sederhana Ini, Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang Guru

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang Guru Orang Tua Polos dan Sederhana Ini, Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang GuruSalah satu manfaat dari media sosial adalah berbagi hal-hal baik kepada lingkungan media sosial kita, yang mudah-mudahan bisa kita praktekkan di dunia nyata.

Kisah nyata dari seorang teman guru yang bisa kita jadikan inspirasi atau motivasi menjadi guru yang profesional, mari kita simak kisah inspiratif yang sudah tersebar luas di media sosial, saya juga dapat dari facebook teman yang juga seorang guru.

Seperti biasa setiap pagi sebagai upaya pendidikan karakter di sekolah kami terjadwal bapak/ibu guru untuk berjabat tangan dengan para siswa secara bergantian.

Hal ini sebenarnya bukan hal baru atau terobosan yang spektakuler alias sudah lumrah dilakukan oleh sekolah-sekolah apalagi untuk tingkat SD dan SMP. Namun di SMA pun sekarang juga sudah membiasakan kegiatan ini berlangsung.

Saya yang kebetulan waktu itu ditugasi sebagai wakil kepala sekolah urusan kesiswaan tiap hari harus melaksanakan kegiatan jabat tangan berbarengan dengan bapak/ibu guru yang mendapat jadwal bertugas. Saya selalu menempatkan diri di paling ujung dekat pemberhentian para siswa yang diantar oleh orang tua atau siswa yang naik angkot.

Sekolah saya termasuk sekolah yang notabene favorit di tingkat kabupaten sehingga siswa kami memang mayoritas dari kalangan ekonomi menengah keatas [untuk tingkat kabupaten lho]. Pengantar ada yang menggunakan mobil mewah, sedang, naik angkot bahkan juga ada yang menggunakan sepeda motor buthut.

Buat saya sebenarnya tidak begitu memperhatikan kendaraan apa yang digunakan oleh siswa, yang terpenting adalah siswa datang ke sekolah tidak terlambat, makanya saya tidak pernah hiraukan secara khusus kendaraan apa yang digunakan oleh siswa [orang tua siswa].

Namun ada hal yang sangat menarik buat saya adalah ada orang tua mengantar anaknya menggunakan sepeda motor BMW [bebek merah warnanya] kira-kira buatan tahun1975. Setelah anaknya masuk di pintu gerbang sekolah orang tersebut lantas duduk di trotoar di samping sepeda motornya sambil menulis di buku kecil.

Semula saya juga tidak menaruh perhatian terhadap orang tersebut, pikirku beliau sedang merencanakan sesuatu kemudian ditulisnya. Namun karena hampir setiap hari orang ini selalu di tempat yang sama dengan kegiatan yang dilakukan juga hampir sama saya kemudian muncul rasa penasaran untuk tahu apa yang dilakukannya.

Suatu hari setelah saya selesai lakukan tugas jabat tangan lantas menedekati beliau sambil menanyakan nama, alamat dan juga putrinya kelas berapa...ya layaknya sebagi tuan rumah lah kira –kira begitu, sambil saya mengamati sepeda motor yang digunakan untuk mengantar putrinya.

Terlihat jelas di bagian depan sepeda motor ada bungkusan [bagor] terlihat isinya benda-benda keras.

Setelah jabat tangan dan kenalan kemudian saya beranikan diri bertanya:
Saya : “pak mohon maaf ya... saya kok setiap hari melihat bapak sehabis antarkan anak lalu duduk di sini sambil urak-urik... apa yang bapak lakukan?”
Beliau: “iya pak... anak saya itu dulu waktu di SMP selalu juara 1 dari kelas 1 sampe kelas 3 [waktu itu belum 7,8 dan 9 red.] saya kemudian menyekolahkan ke SMA ini karena kata orang sekolah ini favorit”
Saya : “lalu apa hubungannya dengan yang bapak lakukan tiap hari di sini?”
Beliau: ”pak... anak saya itu sudah piatu, hidup bersamaku dengan ala kadarnya, bungkusan di motor saya itu adalah daganganku berupa alat pertanian dan rumah tangga: arit, gathul, obeng cethok dll, itu yang saya gunakan untuk hidup dan menyekolahkan anakku, aku ingin anakku bisa memperbaiki nasib dan masa depannya jangan sampai nasib orang tuanya ini menurun ke anakku... makanya aku mati-matian menyekolahkan anakku ke SMA ini yang katanya favorit.... aku ingin buktikan benar nggak sekolah ini dapat membantu mengubah masa depan anakku...
setiap pagi aku menulis di buku kecil ini berisi tentang kedisiplinan guru, berapa banyak guru yang datang terlambat.... bagaimana mungkin bisa meraih prestasi sebaik mungkin kalau gurunya saja banyak yang datang molor... terus terang pak saya sangat berharap melalui sekolah ini masa depan anakku akan lebih baik dari aku... tolong pak sampaikan kepada kepala sekolah juga kepada bapak/ibu guru bahwa di luar sana [aku] sangat berharap banyak terhadap pendidikan di sekolah ini untuk mengantarkan masa depan anakku..”

Mendengar jawaban dan uraian harapan orang itu terasa ditampar mukaku, sesak rasa di dada dan seakan lunglai tiada tenaga. Apa yang disampaikan orang itu adalah salah satu saja dari sekian wakil orang tua siswa. Ingatanku tertuju pada anakku yang waktu itu juga masih SMP dan SD, jangan-jangan di sekolah anakku juga gurunya datang molor, tidak menguasai materi, dan tidak kompeten. Lalu bagaimana bisa mengantarkan cita-cita anakku kalau gurunya tidak kompeten? Jika itu yang terjadi di sekolah anakku demi Alloh aku tidak rela menyekolahkan anakku di sekolah itu.

Anganku kemudian tertuju pada diriku, seribu pertanyaan berkecamuk, bagaimana diriku, kedisplinanku, keteladananku, kompetensiku dan seterusnya dan saya yakin kalau orang tua siswa tahu bahwa di SMA ku gurunya tidak profesional mereka pun pasti tidak rela anaknya diajar oleh guru yang tidak profesional. Mungkin ini juga sama bahayanya dengan dokter yang salah mendiagnosa penyakit, mal praktek juga ada mal ngajar.

Percakapan kemudian saya lanjutkan.
Saya : “pak... tolong berikan masukan buat sekolah agar apa yang bapak harapkan bisa menjadi kenyataan”
Beliau :”maaf pak... di kelas anakku ada beberapa guru yang bagus menurut anakku [sambil menyebutkan namanya] tapi juga banyak guru yang masih memprihatinkan [sambil menyebutkan namanya juga]... saya mengucapkan trimakasih kepada bapak/ibu guru yang bagus semoga beliau dan keluarganya mendapat balasan dari Alloh atas kebaikannya dan saya juga mohon dengan hormat bapak/ibu guru yang belum bagus agar lebih baik [profesional:red], saya mohon pamit pak mau menjajakan dagangan saya... nuwun”
Saya:” baik pak... terima kasih telah memberikan masukan yang sangat berharga untuk saya dan sekolah...”

Saya masih belum beranjak dari tempat ngobrol tadi, sambil memandang beliau ngeslah “BMW” perasaan hatiku berkecamuk. Saya ingat kata-katanya : anaknya piatu, ingin memperbaiki masa depan, berharap sekolah bisa mengantarkannya, mendoakan guru yang sudah baik... Ya Alloh ya Robb... ampuni hambaMu ini... kami mendapat rezeki dari-MU yang saya gunakan untuk menafkahi keluargaku lantaran saya jadi guru... tapi apakah aku ini seorang guru yang sudah bisa memenuhi harapan orang tua siswa seperti harapan bapak tadi?

Bapak/ibu guru yang seprofesi denganku mari kita renungkan dan mari bersikap untuk lebih baik karena semua yang kita lakukan dan kita peroleh akan ada hitungannya di hari akhir. Mari berbagi hal-hal baik, agar semakin banyak hal baik di lingkungan kita.

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Pesan Bapak Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sangat menginspirasi untuk para guru;
 Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang Guru Orang Tua Polos dan Sederhana Ini, Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang Guru


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 30 September 2016

BUMN Mengajar: Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Sukses (*Taklukkan Keterbatasanmu)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

rogram BUMN mengajar tahun ini yang diprogramkan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium  BUMN Mengajar: Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Sukses (*Taklukkan Keterbatasanmu)Program BUMN mengajar tahun ini yang diprogramkan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium [Persero] dilaksanakan di SMA Negeri 2 Lintongnihuta. Program BUMN mengajar ini menceritakan banyak hal mulai dari pengenalan tentang BUMN sampai kepada pencerahan kepada siswa tentang bagaimana kita Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Sukses.

Lahir, Tumbuh, Berkembang, Sukses dan Taklukkan Keterbatasanmu adalah yang kita diskusikan. Materi ini disampaikan oleh Bapak Sigalingging dari PT INALUM. Secara penampilan Bapak Sigalingging sekilas seperti Bapak Andy F Noya pembawa acara Kick Andy di salah satu stasiun TV.

Dimulai dengan menaklukkan keterbatasan, tokoh yang dipilih adalah Lee Hee – Ah sang Penakluk Keterbatasan. Perempuan asal Korea Selatan ini disebut sang penakluk keterbatasan karena beliau;
  • Lahir tahun 1985 dengan 4 jari (lobster claw syndrome – Jari capit udang)
  • Kaki hanya sebatas lutut sejak lahir
  • Memiliki Down syndrom.
  • Baginya kekurangannya adalah “Anugrah spesial dari Tuhan”.
  • Piawai memainkan piano “Concerto-21 Mozzard, Karya-karya Chopin, karya-karya Franz Schubert

Menaklukkan keterbatasan itu pastinya tidaklah mudah, dan bagaimana caranya?, juga kembali ke kita pribadi lepas pribadi bagaimana kita mengalahkan keterbatasan kita.

Menjadi "Drivers of Change" adalah hasil yang mungkin kita peroleh setelah menaklukkan keterbatasan. Beberapa orang yang sudah termasuk "Drivers of Change" diantaranya Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Chairul Tanjung, Susi Pudjiastuti dan sebagainya yang bisa Anda tambahkan.
Bagaimana menjadi Drivers of Change?
  • Rasa takut adalah manusiawi.
    Jangan biarkan rasa takut menaklukkan keinginan Anda mencapai sasaran besar. Jangan berfokus pada rintangan.
  • Berani mencoba hal-hal yang baru.
    Orang-orang yang banyak akal bukanlah karena mereka jenius, melainkan karena ia selalu mau mencoba hal-hal baru dan berani keluar dari selimut rasa nyamannya.
  • Tetap berupaya menemukan pintu.
    Bagi winner, pada setiap dinding selalu ada pintunya. Tugasnya adalah mencari dan menemukan pintu-pintu itu. Sedangkan loser selalu berpikir pada setiap pintu yang ia buka selalu akan ditemui dinding-dinding tembok.
  • Tentukan, siapakah saya?
    rogram BUMN mengajar tahun ini yang diprogramkan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium  BUMN Mengajar: Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Sukses (*Taklukkan Keterbatasanmu)
  • Jangan Katakan Tidak Mampu
  • Kegigihan dan Ketekunan Dibutuhkan Untuk Keberhasilan
  • Berani mencoba adalah awal keberhasilan
  • Berani mencoba adalah awal keberhasilan
  • Kembangkan kemampuan seperti air membelah bukit
  • Latihan meningkatkan kemampuan
  • Semua ada waktunya, tetaplah bergerak maju
  • Pergunakan waktu dan teknologi dengan cerdas
  • Hidup Sukses adalah Pilihan dan Hidup Apa Adanya juga Pilihan
  • Keluarlah Dari Zona Nyaman
  • Pupuk Rasa Kebersamaan dan Kerukunan
  • Saling Bantu, Saling Mendukung dan Pelihara Nasionalisme
Apa yang disampaikan pada sesi motivasi sangat banyak, tidak bisa tertulis semua, sehingga apa yang ada diatas adalah garis-garis besarnya saja.

Sebagai penutup yang saya rasa baik untuk kita lakukan dan masih sangat mungkin kita lakukan setiap hari tanpa kita harus memikirkan menjadi orang-orang berhasil atau tidak yaitu Lingkaran pikiran.
rogram BUMN mengajar tahun ini yang diprogramkan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium  BUMN Mengajar: Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Sukses (*Taklukkan Keterbatasanmu)
Apa yang bisa kita lakukan dari penjelasan sederhana gambar diatas KITA MULAI DARI APA YANG KITA PIKIRKAN.

Pernah dengar PT.Inalaum, coba simak video perkenalan dari PT.INALUM ini siapa tahu Anda nanti bisa berkarya disana;
rogram BUMN mengajar tahun ini yang diprogramkan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium  BUMN Mengajar: Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Sukses (*Taklukkan Keterbatasanmu)


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 17 February 2016

Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!Pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya, selesai pekerjaan yang satu lalu datang pekerjaan yang berikutnya lagi, itulah indahnya jadi guru. Yang buat lebih indahnya lagi penghasilan tidak bertambah meskipun pekerjaan bertambah.

Tetapi meskipun pekerjaan terus berdatangan harus tetap semangat dan bersyukur apalagi setelah ketemu artikel pada forums merdeka berikut. Mari berbagi cerita apalagi ceritanya mungkin dapat menyemangati oleh orang-orang di sekitar kita;

Tepat pukul 7 malam, orang tua murid mulai masuk ke dalam ruangan kelas di sekolah. Beberapa orang tua terlihat penuh sopan santun, ada juga orang tua yang kelihatannya sombong, ada juga yang terlihat sangat berhati-hati. Pada saat guru mulai menutup pintu dan mulai berbicara, pintu yang baru saja ditutup terbuka kembali perlahan-lahan, seorang pria paruh baya, badannya kotor penuh dengan debu muncul dibalik pintu.

Dengan wajah yang tersenyum dia meminta maaf karena datang terlambat. Kehadirannya menarik perhatian orang tua murid lainnya. Dia mengenakan pakaian kerja yang sudah luntur serta penuh bercak cat. Celananya pekat dengan debu, dia memakai sepatu boot yang penuh dengan lumpur. Dia kelihatan seperti baru pulang dari kerja bangunan.

Guru itu berkata: "Permisi, Bapak siapa?" Pria paruh baya itu berkata: "Saya ayahnya Aminudin" Guru itu terlihat kaget, tapi segera meminta pria itu menandatangani buku kehadiran. Ayah dari Aminudin dengan muka yang tertunduk berkata: "Maaf, Pak Guru, saya tidak dapat membaca dan menulis..." Para orang tua murid lainnya terdengar ada yang mulai menertawakan, sang guru tersebut pun berkata: "Tidak apa-apa, saya yang akan membantu Bapak tanda tangan."

Kemudian guru tersebut mulai menjelaskan, tujuan diadakannya rapat orang tua murid adalah supaya setiap orang tua dapat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mendidik anak serta kesannya selama mendidik anak. Ada 2-3 orang tua murid membagikan pengalaman mereka dalam mendidik anak-anak mereka, yaitu bagaimana mereka mendidik anak mereka dengan ketat, supaya mereka mau menulis pr mereka, membantu anak-anak mereka mencarikan guru les tambahan, dll.

Pada saat guru tersebut meminta ayah dari Aminudin untuk berbicara, ia memperkenalkan, "Aminudin adalah seorang murid teladan dengan nilai terbagus di kelas. Pelajaran matematika selalu beroleh nilai terbaik, ia tidak pernah terlambat, selalu bersikap baik terhadap teman-temannya. Mari sama-sama kita dengarkan bagaimana ayah dari Aminudin mendidik anaknya."

Tidak sedikit orang tua murid lainnya tampak kaget. Bapak yang tidak terpelajar namun mempunyai anak yang hebat. Ayah Aminudin dengan agak sedikit canggung mulai berjalan ke depan. Ia sedikit tertunduk, tidak begitu berani menatap mata para orang tua murid lainnya. Ini perkataannya:

Saya hanya suka melihat anak saya mengerjakan PR nya. Setiap kali sepulang kerja, tidak peduli seberapa capeknya saya, saya pasti akan duduk di samping dia untuk melihatnya mengerjakan PR yang ada. Suatu hari, anak saya bertanya kepada saya,

"Ayah, setiap hari melihat saya mengerjakan PR, apa Ayah mengerti apa yang saya kerjakan?" Saya berkata "Ayah tidak mengerti." Kemudian anak saya bertanya: "Ayah, jika Ayah tidak mengerti bagaimana Ayah tahu saya mengerjakannya dengan benar atau tidak?"

Saya berkata: "Jika kamu mengerjakannya dengan cepat, maka Ayah tahu bahwa soal ini sangat mudah; jika kamu menyalakan kipas angin, mengambil minum, maka Ayah tahu bahwa soal tersebut susah."

Saya seorang buruh bangunan. Suatu kali saya mengangkat wajah saya dan melihat bangunan tinggi yang saya bangun, saya bertanya kepada anak saya, apakah kamu mau tinggal di rumah yang tinggi, yang besar, rumah yang indah? Mengendarai mobil bagus? Anak saya menganggukkan kepalanya. Saya berkata: "Oleh karena itu kamu harus belajar dengan baik."

Saya tidak sekolah, tidak dapat membaca dan menulis, saya tidak tahu bagaimana cara-cara hebat mendidik anak. Saya hanya suka bercakap-cakap dengan anak saya. Anak saya senang jongkok di samping saya pada saat saya bekerja. Saya tidak memberikan uang jajan kepada anak, ia tidak bermain internet, juga tidak belanja macam-macam. Dia sering di rumah membantu saya mencuci pakaian.

Setelah selesai berbicara, dia membungkuk untuk memberikan hormat kepada sang guru! Orang tua murid lainnya terpaku tak bergeming, hati mereka sangat tersentuh oleh perkataannya. Ayah ini meskipun tidak mempunyai pendidikan yang tinggi dan tidak dalam keadaan ekonomi yang cukup, tetapi ia sangat hormat kepada guru. Dia juga senang menemani anaknya. Ini adalah caranya bagaimana dia berhasil dalam mendidik anak!

Kebenaran cerita diatas mungkin masih kita ragukan, tetapi kita punya beberapa catatan penting dari cerita diatas untuk kita terapkan dan kita bagikan kepada orang sekitar kita terkhusus kepada orang yang kita cintai.

Artikel sudah dishare diberbagai media dan forum diskusi salah satunya Forums Merdeka [http://forums.merdeka.com/threads/curhat/38760-pakai-pakaian-lusuh-saat-rapat-wali-murid-ucapan-bapak-ini-membuat-semua-orang-malu.html]

Konser Seribu Seruling di Humbang Hasundutan yang berlangsung sukses;
Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 16 January 2016

Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

erasaan galau kembali menghampiri pelajar kelas XII SMA secara umum Dendam Sang Ayah dan Ujian NasionalPerasaan galau kembali menghampiri pelajar kelas XII SMA secara umum, karena Ujian Nasional tinggal beberapa minggu kedepan. Meskipun Ujian Nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan tetapi trauma Ujian Nasional ketika kelas IX SMP masih saja melekat, sehingga ketika mendengar Ujian Nasional menjadi sesuatu yang menakutkan.

Beberapa hari yang lalu mendapat cerita yang baik di media sosial, dimana cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi dari Bapak Yat Lessie. Pengalaman pribadi dari Bapak Yat Lessie ini sudah di share di facebook, ini mungkin dapat kita jadikan sebuah catatan agar anak tidak terlalu takut dalam menghadapai Ujian Nasional dan sebagai orang tua atau guru kita tidak memaksakan anak-anak untuk "hasil tertentu" pada Ujian Nasional.

Mari kita simak ceritanya;
Mampus aku...
Benar benar aku mati konyol, saat Pa Ubes, guru aljabar [matematika sekarang] SMPN 1 Cimahi, barusan berujar mantap. ....Anak-anak, keluarkan sehelai kertas, kita ulangan sekarang tentang pelajaran minggu kemarin....

Mati aku, minggu lalu aku absen sakit, dan aku belum sempat secuilpun membuat salinan pelajaran minggu lalu itu. Lalu sejam ulangan itu membuat berasa dalam neraka. Soal-soal yang tak kumengerti karena benar benar baru …..

Esoknya, jam istirahat, emang pesuruh sekolah mendatangiku, ….
Kamu dipanggil kepala sekolah , sekarang ! …. Kata si emang, tanpa basa basi. Temanku pada melongo, ada kepentingan apa aku dipanggil kepala sekolah. Aku berangkat, masuk ke ruang beliau, dan duduk dikursi didepannya.

Apa ini ? ….
Beliau menyodorkan selembar kertas. Aku menengok …. Dan wuiih, itu kertas lembaran soal ulangan aljabar kemaren. Diatasnya tertera angka 55 dibulati tinta merah. Urusan hasil ulangan buruk saja, sampe kepala sekolah yang turun tangan, buseeet dah !….

Lalu aku jelaskan saja seadanya, dan beliau paham. Maklum, kepala sekolah SMPN 1 ini, alm Bpk Juju Sayid adalah ayahku sendiri. Jadi sekali saja hasil ulanganku buruk, tak ada ampun, dipanggil sama kepala sekolah .. he he

Kamu sudah kelas 3, sebentar lagi ujian akhir nasional …. beliau menjelaskan.
Siap pak …. Aku cuma bisa menggangguk dengan segumpal malu di benakku.

Bekal malu itu yang membuat 3 bulan menjelang ujian nasional, aku selalu membawa buku pelajaran kemanapun pergi, buat dibaca jika ada waktu senggang. Saat kami ngumpul di rumah Kang Heryadi Rahmat [sekarang Geolog terkemuka, pengarang buku “ Tambora menyapa dunia”] yang jadi markas bersama. Lalu bersepeda ontel keliling kota, lewat rumah teh Weni yang jadi gebetan cinta monyetku waktu itu. Bahkan bersarang dibatang pohon jambu batu, ambil posisi enak, makan jambu dan … baca buku.
erasaan galau kembali menghampiri pelajar kelas XII SMA secara umum Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional
Tak ada stress berlebih. Tak ada istigozah yang meratap ratap. Tak ada kesibukan mencari bocoran soal. Tak ada ortu yang mengancam-ancam kalau tak lulus. Tak ada guru atau kepala sekolah yang bicara target kelulusan. Semuanya biasa saja, ujian nasional berlangsung dan nilaipun keluar dengan serempak. Ada yang lulus dan ada yang tidak. Semuanya berjalan dengan biasa biasa saja, tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Bahkan gagal ujianpun hanya punya satu opsi, yaitu mengulang untuk tahun depan....

Saat lembar ijazah dan nilai akhir ujian nasional kuperlihatkan kepada ayah, sesuai dengan janjiku memperbaiki nilai Aljabar, ayah bersikap biasa juga…. Sok sekarang siapkan syarat pendaftaran ke SMAN 1 , dan sana pergi daftar sendiri. ….. hanya itu pesan ayah.

Ayah tentu gembira melihat hasil ujianku. Namun hasil ujian bukan tujuannya. Beliau lebih melihat proses ketimbang hasil / result. Beliau lebih suka, ketika aku enjoy duduk dibatang pohon jambu didepan rumah, dengan buku ditangan, dibaca habis sampai “ngelotok” ….

Yang ayah ajarkan bukan nilai 10 yang sempurna, namun “there is a will there is a way “. Sebuah kesungguhan yang beliau sendiri perlihatkan dalam keteladanan, dalam kehidupan kesehariannya. Saat uang sekolah terkumpul, beliau tak pernah pegang uang. Beliau panggil guru guru untuk menghadap, dan bertanya tentang kesulitan hidup. Lalu guru boleh mengambil bahan kebutuhan pokok untuk dibayar di saat gajian nanti. Saat uang cukup, beliau membuat 2 lapang basket di SMPN 1 dan SMPN 2 cimahi. Tujuannya sederhana saja, yaitu membuat anak peserta didik lancar dalam mengikuti proses pendidikan, sementara hasil akhir hanya konsekwensi logis, dan bukan semata tujuan.

Memang benar, ketika David Mc Leland ahli psikososial berujar, dalam sebuah negara yang tengah berkembang secara ekonomi, dibutuhkan 2 kriteria pokok. Yaitu munculnya masyarakat yang “achievement oriented” dan ke wira-usaha an. Ketika hal ini dibawa ke sistem pendidikan, maka orientasi achievement berubah menjadi “target kelulusan” . Menjadi sebuah “harga-mati”, dimulai dari sang menteri, gubernur, walikota, bupati, kepala dinas, kepala sekolah, guru , dst ….

Penekanan berantai, dari atas menekan yang dibawahnya, sebuah threats motivation. Sampai pada kepala sekolah, guru dan tentu saja murid-murid di kelas-kelas akhir. Mereka harus menanggung beban, yang seharusnya bukan menjadi tanggungan mereka. Karena seringkali “target kelulusan” itu bukan diwilayah pendidikan, namun berada pada tataran politik, dimana sang pejabat membutuhkan dukungan untuk status-quo nya selama ini.

Acuannya, jelas berupa nilai akhir ujian nasional. Segelintir angka yang konon bicara tentang “kecerdasan” dan sekaligus sebagai bukti keberhasilan para pemegang otoritas. Jika tidak “achieved” maka mutasi ketempat terpencil dan gersang menjadi ancamannya. Padahal tak ada seorangpun yang mau berhadapan dengan resiko tadi. Lalu semua jurus dimainkan. Mulai dari bocoran soal, sampai kutak katik nilai akhir, dan tentu saja selalu dengan bumbu penyedap aliran uang. Mau sistem manual pake kertas, atau CBT [Computer Base Test] yang paperless…. Sama saja , karena apapun itu, hanya sekedar alat , sekedar the gun, dan bukan “ the man” behind it ….

Saat kertas ijasah lusuh itu kugenggam kini, 46 tahun sudah terlewati. Lalu aku mafhum mengapa ayah bersikap biasa biasa saja melihat angka nilai kelulusanku. Karena angka itu hanya sekedar penguasan terhadap hardskills, dimana setiap orang juga bisa melakukannya. Ayah tidak hanya mengajarkan itu, karena yang terlebih penting adalah pada wilayah softskills, dimana will dan skills digabung menjadi kesatuan integratif.

Wilayah pendidikan harus keluar dari sistem dagang , sebuah dunia komersial layaknya salesman yang “achievment oriented “, dan kembali pada “process oriented”. Tak ada pemahaman tentang softskills yang sekedar dibaca dan dihapalkan, karena softskills hanya mampu dipahami dengan cara dilakukan saja. Hanya going in to the object it self, artinya cuma pendekatan proses saja yang mampu menumbuhkannya.

Saat itu dilakukan, tak ada lagi stress pada anak-anak didik saat masuk ke ujian nasional. Semua akan mengalir dengan begitu saja. Karena sistem pendidikan kembali pada fitrahnya, yaitu semata mata belajar tentang arti dan makna sebuah KESUNGGUHAN.

Kesungguhan yang sama,
yang beliau perlihatkan, saat dipanggil kehadirat Nya.
Tepat pada rakaat kedua sembahyang Isya.
Disana, diatas sajadah, beliau tersungkur lalu terbujur
Nafas dan detak jantungnya sudah tak ada.
Namun
pelajaran tentang kesungguhannya
masih berdetak keras
masih mengalun deras
masih mengilhami kepala …..
Salam rindu buat ayah tercinta ….
Yat Lessie

Apa yang kita lakukan hari ini adalah Membangun Masa Depan;
erasaan galau kembali menghampiri pelajar kelas XII SMA secara umum Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 30 November 2015

Ceritanya Pelanggaran Sederhana Tetapi Menggambarkan Karakter Sebenarnya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Ceritanya Pelanggaran Sederhana Tetapi Menggambarkan Karakter Sebenarnya Ceritanya Pelanggaran Sederhana Tetapi Menggambarkan Karakter SebenarnyaHari ini upacara bendera berlangsung hikmat seperti biasa yang di lakukan di sekolah-sekolah pada umumnya, tetapi selesai mengheningkan cipta suasana hikmat sedikit terganggu.

Suasana hikmat terganggu sedikit karena ada beberapa siswa membentuk barisan baru karena mereka tadinya berada di dalam kelas dan tidak melaksanakan upacara bendera padahal mereka dalam keadaan sehat.

Pelaksanaan upacara bendera merupakan hal sederhana yang secara rutin dilaksanakan setiap hari senin di sekolah-sekolah pada umumnya. Meskipun upacara bendera merupakan sebuah rutinitas sederhana bukan berarti semata-mata kita atau para siswa dengan berbagai alasan menjadi kita hindari.

Pelanggaran "masalah sederhana" seperti Upacara Bendera mengingatkan kita terhadap sebuah artikel yang sudah banyak di share di berbagai media sosial tentang Etika "sepele".

Banyaknya yang share artikel ini tanpa mencantumkan sumber mengaburkan sumber asli artikel yang sebenarnya dan begitu juga dengan saya. Jika Anda mengetahui sumber artikel ini mohon di konfrirmasi di kotak komentar :). Seperti apa ceritanya mari kita simak;

Etika "Sepele"?

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Dia harus sambil kerja dan sambil kuliah. Dia perhatikan bhw sistem transportasi di tempat menggunakan sistem "otomatis", artinya anda beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Setiap perhentian kendaraan umum pakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan periksa insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada.

Setelah dia temukan kelemahan sistem ini, dengan kelicikannya dia perhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kepintarannya.

Dia juga menghibur dirinya karena dia anggap dirinya adalah murid miskin, dan kalo bisa irit ya irit.
Namun, dia tidak sadar dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruh karirnya...

Setelah 4 tahun berlalu,
dia tamat dari fakultas yang ternama dengan angka yang sangat bagus. Ini membuat dirinya penuh dengan keyakinan. Dia mulai memohon kerja di perusahan yang ternama di Paris dengan pengharapan besar untuk diterima. Pada mulanya, semua perusahan ini menyambut dia dengan hangat.
Namun berapa hari kemudian,
semuanya menolak dia untuk berkerja.

Kegagalan yang terjadi berulang kali membuat dia sangat marah.
Dia mulai anggap perusahan-perusahan ini rasis, tidak mau terima warga negara asing. Akhirnya, dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja utk bertemu dengan managernya.
Dia ingin tahu alasan apa perusahan menolak bekerja.
Ternyata, penjelasannya diluar sangkaan dia...

Berikutnya adalah dialog mereka...

Manager: Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkanmu. Pada saat anda mohon bekerja di perusahan, kami terkesan dengan pendidikan dan pencapaian anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya pekerja yang kami cari-cari.

Wanita: Kalau begitu, kenapa perusahan tidak terima aku bekerja?

Manager: Karena kami periksa sejarahmu, ternyata anda pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.

Wanita: Aku mengakuinya, tapi masa karena perkara kecil ini perusahan menolak pekerja yang mahir dan banyak kali tulisannya terbit di majalah?

Manager: Perkara kecil? Kami tidak anggap ini perkara kecil.
Kami perhatikan pertama kali anda melanggar hukum terjadi di minggu pertama anda masuk di negara ini. Petugas percaya dengan penjelasan bhw anda masih belum mengerti sistem pembayaran. Diampuni, tapi anda tertangkap 2x lagi setelah itu.

Wanita: Oh karena tidak ada uang kecil saat itu.

Manager: Tidak, tidak. Kami tidak bisa terima penjelasan anda.
Jangan anggap kami bodoh.
Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.

Wanita: Itu bukan kesalahan mematikan kan? Kenapa harus begitu serius? Lain kali saya berubah kan masih bisa.

Manager: Saya tidak anggap demikian. Perbuatan anda membuktikan dua hal:
  1. Anda tidak mengikuti peraturan yang ada
  2. Anda pintar mencari kelemahan dlm peraturan dan memanfaatkan utk diri sendiri.
  3. Anda tidak bisa dipercaya
  4. Banyak pekerjaan di perusahan kami tergantung pada kepercayaan. Jika anda diberikan tanggung jawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka anda akan diberikan kuasa yang besar. Demi ongkos, kami tidak sanggup memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa pakai anda. Saya berani katakan, di negara kami bahkan seluruh Eropa, tidak ada perusahan yang mau pakai anda.

Pada saat itu, wanita ini seperti bangun dari mimpinya dan sangat menyesal. Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya gentar.

Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran.

Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk..!!!

Apa yang kita lakukan hari ini adalah Membangun Masa Depan;
Ceritanya Pelanggaran Sederhana Tetapi Menggambarkan Karakter Sebenarnya Ceritanya Pelanggaran Sederhana Tetapi Menggambarkan Karakter Sebenarnya


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 15 July 2015

Berapa Gaji Ayah (Anda) Satu Jam?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

erita motivasi untuk keluarga ini sudah banyak beredar melalui sosial media Berapa Gaji Ayah (Anda) Satu Jam?Cerita motivasi untuk keluarga ini sudah banyak beredar melalui sosial media, forum-forum internet atau mailing list, dan kita masing-masing bisa mengambil makna yang berbeda untuk bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Seperti apa ceritanya mari kita simak;

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab,

“Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayoo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.
“Wah, pinter kamu matematika. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.
“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew
“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.

Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,- makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Makna atau pesan yang kita petik dari cerita diatas berbeda-beda, tetapi pesan dasar yang bisa disampaikan adalah agar kita menghargai waktu yang kita punya. Kita diharapkan tetap bisa membagikan waktu kepada orang-orang yang kita cintai terlebih kepada orang yang mencintai kita.

Segera hentikan aktivitas browsing atau bercengkrama di dunia maya Anda sekarang dan segera menyapa orang yang Anda cintai sekarang, berbagilah cerita ini agar semakin banyak orang bahagaia karena disapa oleh orang-orang yang mencintai mereka.

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Bagaiamana video seorang anak yang mengatakan ayahnya pembohong;
erita motivasi untuk keluarga ini sudah banyak beredar melalui sosial media Berapa Gaji Ayah (Anda) Satu Jam?


Sumber https://www.defantri.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.