Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Friday, 9 October 2026

Staycation in Surabaya: Hotel 88 Embong Kenongo

Cabang Hotel 88 di Embong Kenongo, Surabaya
Untuk menghindari berisik suara terompet, kembang api swadaya dan knalpot brong di malam tahun baru, kami memutuskan staycation di hotel (murah) di Surabaya.

Sebenarnya rencana staycation ini tidak sengaja. Ketika saya cek akun Agoda, ternyata poin saya bakal hangus per 31 Desember 2013 kalau tidak digunakan. Sayang banget kan poin-poin yang didapat dari bantu teman-teman backpacker yang belum punya kartu kredit untuk booking hotel ini hilang begitu saja. Iseng-iseng saya cari hotel yang bisa ditukar dengan 12,500 poin Agoda, dan ketemu hotel ini. Saya pesan dua bulan sebelumnya tanpa membuat rencana malam tahun baru sama sekali. Kalaupun nanti nggak jadi ya gakpapa, toh nggak rugi apa-apa.

Hotel ini relatif baru, salah satu cabang Hotel 88 yang banyak saya lihat di Singapore. Review-nya bagus. Lokasinya oke, di jalan Embong Kenongo 17, dekat dan bisa jalan kaki ke Plaza Surabaya (Delta), Monumen Kapal Selam, Pasar Bunga Kayoon, TIC (Tourism Information Centre), Perpustakaan Kota dan Es Krim Zangrandi. Yang nggak mau jalan kaki, taksi Blue Bird mangkal di depan hotel. Rate standar hotel ini sekitar 350 ribu, sudah termasuk sarapan. Kami dapatnya gratis pakai poin Agoda, jadi ya lumayan, pake banget :p



Enaknya pesan hotel di Indonesia, gak perlu pusing dengan aturan maksimal berapa orang per kamar. Asal muat dan mau empet-empetan aja, monggo, dipersilahkan, haha. Ketika cek in, saya hanya diminta menunjukkan KTP, tanpa ditanya berapa orang yang ikut menginap. Kamar superior kami terletak di lantai dua, untuk non-smoking room. Kamarnya mini banget sih, cuma 17 meter persegi, dengan satu king bed tanpa jendela. Tapi apalah artinya jendela kalau di kamar ada sambungan wifi yang cepat dan gratis. 

Fasilitas kamar ini standar, ada TV kabel, meja kerja, toilet dengan shower terpisah. Air minum botolan, handuk, sabun, shampo, sikat gigi dan sandal hotel juga disediakan. Tapi di kamar tidak ada mini bar (kulkas) dan alat pembuat teh/kopi. Nggak masalah sih, karena di tiap lantai ada dispenser air panas dan dingin. Di lobi juga disediakan teh dan kopi panas setiap saat. Bahkan di malam tahun baru ini ada bonus camilan kacang rebus, ubi dan singkong rebus dan wedang ronde, meski rasa wedangnya tidak karu-karuan :))

Seminggu sebelum malam tahun baru, saya baru tahu kalau di Surabaya diadakan Car Free Night di beberapa ruas jalan. Salah satunya adalah Jalan Jenderal Sudirman yang cuma 50 meter dari hotel ini. Wah, kebetulan banget. Karena anak-anak tidak mau keluar dan memilih menonton film di kamar, saya punya kesempatan pacaran dengan Si Ayah, menengok keramaian di CFN malam tahun baru. 

CFN-nya ramai, dan berisik tentu saja. Tapi saya sudah pakai senjata noise-cancelling earphone. Di sepanjang Jl Sudirman, sampai tugu bambu runcing, berjajar gerai makanan, promosi produk dan komunitas. Di titik-titik tertentu ada atraksi dari berbagai komunitas: capoeira, sepeda lipat, cosplay, ular tangga raksasa, atraksi ular raksasa (beneran). Warga Surabaya tumblek blek di sini, semakin malam semakin ramai saja. Setelah berhasil membelikan nasi kuning untuk makan malam Precils, kami menikmati last supper kami, berupa lontong kikil, sambil menonton sirkus sepeda motor yang ahli menjungkirbalikkan tunggangan mereka. Haha, cara melewatkan tahun baru yang aneh.

Breakfast station di lantai 2

Meski harus berdempetan berempat tidur di satu ranjang, untungnya, kamar hotel kami lumayan kedap suara, jadi kami bisa tidur nyenyak tanpa terganggu kemeriahan pesta jalanan tahun baru di luar sana. 

Pagi harinya, sarapan disediakan mulai jam enam, di lantai dua dan lantai tiga. Saya senang sekali dengan pemisahan ini, karena bisa sarapan dengan nyaman tanpa terganggu asap rokok. Pilihan menu sarapan sederhana: bubur ayam, nasi goreng, pecel dan roti panggang dengan selai. Minumnya ada teh, kopi dan jus jeruk. Pilihan buah hanya ada semangka. Untuk pencuci mulut disediakan singkong rebus dengan gula merah. Saya mencoba bubur ayam dan rasanya lumayan enak.

Karena tempat terbatas, kami tidak bisa berlama-lama di area sarapan ini. Begitu piring atau gelas kami kosong, pelayan dengan cepat mengambilnya. Bahasa halusnya tentu saja ingin mengusir kami karena memang harus bergantian dengan tamu lain. Untung kamar kami dekat dengan area sarapan ini, jadi bisa ambil ini itu dan dimakan di kamar.

Happy New Year 2014!
Mobil tamu bisa parkir gratis di hotel ini. Kalau tempat parkir di depan hotel habis, bisa parkir di pinggir jalan sekitarnya, keamanan dijamin pihak hotel 12 jam. Layanan cek out hotel ini secepat kilat. Saya cukup menyerahkan kartu kunci dan beres sudah karena sudah dibayar oleh Agoda. Little A cukup senang tinggal di sini, meski dia lebih senang lagi kalau hotelnya ada jendelanya. Big A juga senang karena wifinya bisa untuk streaming YouTube tanpa jeda. Si Ayah senang karena bisa numpang mengerjakan PR. The Emak ikut senang karena semua senang. Setelah meninggalkan hotel ini jam 11.30 siang, Little A langsung bertanya, "Kapan kita ke hotel gratis lagi, Mommy?"

Keluarga The Precils mengucapkan Selamat tahun baru 2014. Semoga semua destinasi impian bisa tercapai tahun ini. Cheers.

 ~ The Emak

Baca juga: 
Staycation Surabaya: Hotel Swiss Belinn Manyar

Parkir Inap di Bandara Juanda Surabaya

Suasana cek in di Terminal 2 Juanda Airport
Home airport baru kami, bandara Juanda Surabaya terminal 2 mulai beroperasi 14 Februari 2014, tepat ketika Gunung Kelud meletus. Waktu itu, bandara yang baru saja dibuka, terpaksa ditutup kembali. Seluruh penerbangan dibatalkan, termasuk penerbangan kami ke Johor Bahru.

Setelah mengganti jadwal terbang, kami pun berkesempatan mencoba bandara baru ini. Saya dengan pedenya bilang ke Si Ayah bahwa terminal 2 letaknya di sebelah terminal 1. Mobil kami pun melenggang ke terminal 1 dan rencananya kami akan parkir inap di sana. Ternyata oh ternyata, letak terminal 2 ini jauh banget dari terminal 1. Dan karena ini Indonesia, tidak ada sky train atau moda transport cepat apapun yang menghubungan terminal 1 dan 2. Perlu setengah jam dalam kondisi jalan ramai. Saya uring-uringan karena kondisi jalan menuju bandara Juanda terminal 2 ini jelek banget, jalan kampung, tanpa petunjuk arah. 


"Jalan ini lurus, belok kiri, trus belok kiri lagi. Itu lho, bekas bandara Juanda lama, puspenerbal." Begitu kira-kira kalau kita tanya jalan ke orang, dikiranya semua orang tahu letak bandara lama yang sekarang menjadi bandara baru setelah direnovasi.

Saya menyayangkan minimnya informasi bandara baru ini. Bahkan di website resminya, tidak ada keterangan lokasi. Ketika mencari tahu tentang parkir inap pun, saya tidak menemukan info apa-apa. Akun twitter resmi mereka pun tidak merespon ketika ditanya. Meh!

Minimal, kalau info di website belum beres, petunjuk jalan di lapangan sudah harus ada. Saya tidak menemukan satu papan petunjuk pun, dari terminal 1 ke terminal 2. Satu-satunya 'clue' bahwa kita menuju jalan yang benar adalah gerbang besar Pusat Penerbangan TNI AL (puspenerbal). 

Berikut peta dari bandara Juanda terminal 1 dan 2. Kapan ya, mereka akan membuat sky train?

Dari T1 ke T2: tujuh km, setengah jam.

Begitu melihat gerbang T2, saya mulai lega. Tampak dari luar memang cukup bagus. Nggak kalah dengan bandara di Sydney. Masuk ke gerbang parkir otomatis, kami mengambil tiket. Tidak ada petugas yang bisa ditanyai apakah bisa parkir menginap, letaknya di mana dan berapa biayanya. Baiklah, kami nekat saja, cari parkir biasa dan langsung masuk untuk cek in.

Gedung bandara baru terasa luas dan lebih lega. Di luar gedung, meski ada tanda tidak boleh merokok, beberapa orang tetap merokok. Ya gimana ya, memang sudah tradisi warisan leluhur? :p Kami juga melihat ada fasilitas air siap minum, fountain persis yang kami temui di Australia dan Singapura. Big A senyum-senyum tidak percaya. "Is it really safe to drink?" Padahal biasanya dia semangat minum dari pancuran :D
 
Dekorasi toko-toko yang ada di luar konter cek in tampak baru dan cemerlang. Kami paling suka dengan toko Bon Bon, dengan mas-mas bercelemek pink. Gorjes! Tempat cek in juga luas dan nyaman. Setelah cek in, kami naik ke atas menuju imigrasi dan ruang tunggu. Sebelum imigrasi, ada pemeriksaan keamanan, dipisah antara laki-laki dan perempuan. Saya tidak masalah dengan pemisahan ini, karena memang perempuan akan diperiksa petugas perempuan kalau perlu. Hanya saja karena precils dua-duanya perempuan, saya jadi lebih repot, harus saya yang bawa anak-anak. Solusinya, tas serahkan semua ke Si Ayah, biar saya melenggang badan aja, bareng dengan anak-anak tentunya.

Pemeriksaan imigrasi lancar, hanya ada dua konter, tapi memang antrean pas tidak banyak. Sampai kami ke sana akhir April, baru beberapa toko yang buka setelah imigrasi. Duty Free belum buka, penukaran uang juga belum ada. Hanya ada starbucks, burger kings, hokben dan beberapa tempat makan lainnya.


T2 Juanda ini dibuka untuk mengurangi beban T1 yang sudah penuh banget. Terminal 1 tetap beroperasi melayani penerbangan domestik, sementara Terminal 2 melayani penerbangan domestik untuk airline tertentu dan semua penerbangan internasional.

Berikut daftar maskapai di Juanda Airport.
Terminal 1:
Domestik: Citilink, Lion Air, Batik Air, Wings Air, Kaltstar, Trigana, Sriwijaya, Express Air.

Terminal 2:
Domestik: Garuda Indonesia, Air Asia, Mandala Tiger Air
Internasional: Garuda Indonesia, Air Asia, Mandala Tiger Air, Lion Air, Jetstar/Valuair, Silk Air, Singapore Airlines, Cathay Pacific, Royal Brunei Airlines, Saudia, Eva Air, China Airlines.

Yang saya senangi di T2 ini, semua pesawat dilengkapi garbarata alias belalai gajah, jadi tidak perlu naik turun tangga, atau bahkan harus naik bis ke landasan karena parkirnya jauh. Fasilitas seperti ini sudah sepantasnya, karena Juanda ini termasuk airport yang pajaknya paling mahal, Rp 75.000 untuk domestik dan Rp 200.000 untuk penerbangan internasional. Jadi, jangan seneng dulu kalau dapat tiket murah ke LN dari bandara Juanda, masih harus bayar 200 ribu, hehehe.

Pulangnya, ada travelator yang membantu kita berjalan menuju imigrasi. Travelator ini sangat membantu untuk orang-orang tua dan anak-anak (dan Emak-emak yang males :p). Layanan imigrasi sekarang juga lebih cepat, lebih banyak konter yang dibuka. Selepas imigrasi, pemeriksaan custom/cukai juga cepat. Setelah menyerahkan kartu kedatangan, berisi deklarasi barang-barang yang kita bawa, seluruh tas penumpang tinggal dilewatkan ke pemeriksaan X-Ray. 

Surprise, toilet (baru) di T2 Juanda ini lebih bagus dari bandara Senai dan Penang. Hore! Di dekat pintu keluar, sudah ada layanan pemesanan taksi dengan argo. Bagus lah, memang kayaknya bandaranya jadi lebih baik. Tinggal asap rokoknya itu lho... Nggak tau deh bagaimana mengendalikan 'tradisi' yang satu ini.

travelator
imigrasi
pemesanan taksi
Alhamdulillah, mobil kami masih ada di tempat parkir, setelah dua hari ditinggal. Biaya parkir baru kami ketahui setelah kami melewati loket parkir. Untuk 44 jam, kami membayar Rp 60.000. Sedangkan pengalaman kami yang kedua, masuk Jumat pagi jam 8 dan keluar Minggu sore jam 4, bayar Rp 75.000. Coba deh hitung sendiri berapa tarif per jam atau per harinya :)) Kami tidak begitu peduli, yang penting kami tahu bahwa parkir menginap di T2 Juanda memang bisa, cukup gampang, nyaman dan aman. Tarif parkir inap lebih murah daripada kalau naik taksi pp ke rumah. Tentu saja, kalau dibandingkan tarif parkir di Sydney airport, Juanda murah banget. Di Sydney, Rp 75.000 (AUD 7) cuma bisa untuk parkir setengah JAM :p

We love Surabaya!


~ The Emak
 

Monday, 4 May 2026

Staycation Surabaya: Hotel Swiss Belinn Manyar

Little A jumping on the bed
Senin pagi, ketika kami pulang dari berakhir pekan di Malang, kami mendapati jalan di depan rumah kami sudah dipasangi terop. Rupanya tetangga mau punya hajatan. Acaranya mulai jam 6 sore. Kami tahunya juga dari spanduk yang terpasang karena si tetangga tidak bilang permisi sama sekali ke kami. Yo wes, nanti tinggal pergi aja sorenya biar nggak pusing kena bising. E ternyata cek sound sudah dimulai jam 9 pagi, dengan suara dentuman speaker raksasa yang menggetarkan jendela rumah kami. Little A yang kebetulan libur karena ada UN SD sampai takut dan teriak-teriak. Waduh, kalau begini caranya harus keluar rumah nih, sebelum gendang telinga kami meledak. Saya dengan cepat mengais-ngais promo/kupon/poin yang saya punya untuk booking hotel. Mendadak Staycation!

Saya ingat punya voucher dari apps booking hotel di HOTELQUICKLY. Apps yang bisa dipasang di iOS maupun Android ini memang khusus untuk pemesanan hotel yang mendadak, untuk malam ini atau besok malam. Jadinya harga mereka bisa lebih murah, tentu saya sudah cek di toko sebelah :D Tambah diskon lagi. Lumayanlah, saya tinggal bayar harga setelah diskon dengan saldo Paypal hasil jualan voucher hadiah airbnb. Emak-emak nggak mau rugi banget! Booking via HotelQuickly prosesnya gampang, tampilan apps-nya pun sederhana dan menarik. Cuma ada beberapa pilihan hotel yang tersedia, jadi lebih cepat memutuskan. Saya pilih staycation di hotel yang cukup dekat dengan rumah: Swiss Belinn Manyar.


Oh, iya, yang pengen dapat voucher hotel juga sebesar Rp 170.000, bisa langsung pasang apps HotelQuickly di handphone dan masukkan promo code dari The Emak ya: AKUMA72. Lumayan kan diskon 170 ribu.



Kami naik taksi, dan nggak sampai setengah jam kemudian sudah sampai di hotel Swiss Belinn di Jalan Kertajaya (Manyar Kertoarjo). Little A seneng banget diajak nginep di hotel. Tidak lupa saya packing bikini Little A untuk berenang di sore hari. Untuk baju ganti Si Ayah dan Big A, saya ambil sembarangan saja karena terburu-buru. Mereka akan menyusul nanti sore sepulang kerja dan sekolah. Saya memberi tahu Si Ayah juga setelah mendapat kunci kamar. Biar dia pasrah manut saja, hahaha.

Meski cek in resminya baru bisa jam 2 siang, kami sudah boleh masuk kamar jam 11 siang, karena sudah ada kamar yang siap. Kata Mbak Resepsionis, untuk kamar non-smoking tinggal yang dua single bed, tapi bisa didempetkan. Ya udah, daripada kamar bau asap rokok kan? Cek in dengan pesanan dari HotelQuickly juga gampang kok, saya tinggal berikan print bookingan saya yang dikirim via email. Cukup perlihatkan KTP. Hotel ini tidak meminta uang deposit.



Kami mendapat kamar di lantai 11, paling tinggi. Lantai ini non-smoking floor, jadi tidak tercium asap rokok sama sekali. Alhamdulillah, kami alergi asap rokok je, bisa bengek nanti kalau ada asap sedikit saja. Kamarnya cukup luas, bersih, dengan dekorasi minimalis modern. Single bed-nya cukup lebar: 120 cm, jadi buat keluarga kami yang berukuran mini ini bisa cukup untuk berdua. Malah dua kasur didempetkan ini lebih nyaman buat kami berempat daripada berdesakan di satu kasur queen bed. Kasurnya King Koil, sudah jaminan mutu dan terasa sangat nyaman. Little A juga puas lompat-lompat di kasur :)

Kamar mandi dan toilet standar, tapi bersih. Tidak ada bathtub, hanya mandi pancuran. Amenities-nya juga standar: sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi. Handuk bersih, tebal dan lembut. Ada safety deposit box untuk menyimpan barnag-barang berharga. Ada ketel listrik untuk menjerang air. Sayangnya teh dan kopinya minimalis banget, hanya ada satu teh celup dan dua sachet kopi plus creamer dan gula.

Fasilitas yang tidak ada di kamar ini adalah mini bar, jadi kami tidak bisa menyimpan makanan di kulkas mini. Tapi tidak begitu penting sih karena hanya menginap semalam. Yang penting, fasilitas TV kabelnya lengkap, ada chanel untuk anak-anak. Little A bisa anteng nonton Nickelodeon sementara Emaknya istirahat.



Untuk staycation kali ini, saya pilih hotel yang ada kolam renangnya, biar bisa berenang, nggak cuma numpang nginep doang. Swiss Belinn punya kolam renang di lantai lima, tapi tidak ada fasilitas gym. Setelah Si Ayah dan Big A menyusul ke hotel sorenya, kami berenang sampai matahari tenggelam. Dari kolam renang, kami bisa melihat apartemen yang belum jadi di sebelah rumah kami, dan juga bisa melihat atap sekolah Big A dan Little A. Haha, memang dekat sih hotelnya.

Lokasi Swiss Belinn cukup strategis. Di sebelah-sebelahnya banyak pilihan restoran, jadi kalau mau makan malam di luar hotel tinggal jalan. Restoran di dekat hotel dalam jarak jalan kaki 5-15 menit antara lain: KFC, Zenbu, Little Chicken, Steak Hut, Ayam Bakar Primarasa, Pondok Jenggolo, Restaurant Pantai Seafood dan Layar Seafood. Kami pilih makan di Primarasa, Si Ayah jelas lebih doyan masakan tradisional.


Di ujung kanan terlihat apartemen di sebelah rumah kami.



Bufet sarapan yang dihidangkan hotel cukup beragam, ala Barat dan ala Indonesia. Mulai dari roti, pastry, salad, nasi goreng, mie goreng, pecel, soto, tahu telor, sampai jajanan angkringan. Kami tentu pilih yang sehat-sehat dong. Si Ayah aja sarapan salad (ronde pertama sih, hehe). Duo lidah bule sarapan roti oles mentega. Sementara The Emak makan pecel, tanpa nasi!

Buah dan minuman yang disediakan juga beragam. Ada Mas-Mas yang menawarkan jamu beras kencur, kunir asam dan sinom. Ini rasanya seger banget. Tapi sayangnya, kopinya nggak enak. Nggak tahu deh, negeri penghasil kopi tapi jarang ada kopi enak terhidang di hotel. Missing link-nya di mana ya?


Kami tidak bisa berlama-lama sarapan karena Big A dan Si Ayah harus kembali ke sekolah. Setelah mereka pergi, saya dan Little A melanjutkan sarapan dengan makan banyak buah dan sayur. Little A habis semangkuk brokoli rebus!

Oh, iya, sebenarnya jatah sarapan hanya untuk dua orang per kamar. Karena anak-anak sudah besar, saya harus tambah ekstra. Biaya sarapan di Swiss Belinn Rp 110.000 per orang, sudah termasuk pajak. Untuk anak-anak antara 5-12 tahun bayar 50%. Kalau kalian booking hotel di HotelQuickly, cek dulu apakah tarif sudah termasuk sarapan apa belum. Karena ada beberapa hotel yang sudah termasuk sarapan, ada yang belum.





Swiss Belinn Manyar hotel yang relatif baru, jadi interior dan dekorasinya masih tampak fresh. Hotel ini juga dekat (15 menit naik taksi) dengan ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, jadi bisa jadi alternatif kalau ada kerabat yang wisuda atau menghadiri pernikahan di gedung ITS. Tapi nanti kalau apartemen kami di Pakuwon City sudah jadi, mending nginep di apartemen kami aja ya kalau liburan di Surabaya, bakalan nyaman untuk sekeluarga.

~ The Emak

Baca juga: 
Staycation in Surabaya: Hotel 88 Embong Kenongo

Pengalaman Naik China Airlines Rute Surabaya - Singapura

Menu sarapan China Airlines rute Surabaya-Singapura

Sekarang ini, pilihan maskapai yang melayani rute Surabaya - Singapura semakin banyak. Untuk penerbangan budget ada Tiger Air dan Jetstar (Air Asia masih dihentikan), sementara untuk penerbangan reguler ada Garuda Indonesia, Silk Air, Singapore Airlines dan China Airlines. Maskapai yang terakhir ini punya jadwal berangkat paling pagi dari Surabaya, jam 06.05 dan pulang paling akhir dari Singapura, jam 21.45. Jadi kalau ingin menghemat penginapan ketika jalan-jalan di Singapura, bisa memilih China Airlines.

Kami pertama kali naik China Airlines ketika pulang dari jalan-jalan ke Eropa. Waktu itu kami naik Emirates via Singapura. Tiket dari Singapura ke Surabaya saya beli sendiri, dan jadwal yang nyambung adalah China Airlines. Harga tiket one way waktu itu (Juli 2014) sebesar SGD 128 atau Rp 1.251.700 per orang. Saya membeli tiket langsung dari website China Airlines menggunakan kartu kredit keluaran bank di Indonesia. Jangan lupa untuk membawa kartu kredit yang digunakan untuk membeli karena akan diverifikasi ketika cek in di bandara Changi.

Ketika diundang oleh Singapore Tourism Board minggu lalu untuk merayakan HUT Emas atau Golden Jubilee, saya dibelikan tiket China Airlines karena jadwalnya sesuai. Dengan maskapai ini, saya mendarat di Changi jam 9.25 pagi dan bisa langsung jalan-jalan bekerja. Tiket pp untuk China Airlines sekarang ini sekitar Rp 3 jutaan, sudah termasuk pajak bandara, makan dan bagasi 20 kg. Harga tiket penerbangan full service ini masih lebih murah daripada Garuda Indonesia atau Singapore Airlines.


Pesawat untuk rute ini menggunakan Airbus 330-300. Di kelas ekonomi, penataan kursinya 2-4-2. Kursinya sendiri cukup nyaman, dengan sandaran kepala yang bisa diatur. Mirip-mirip lah dengan kursi Garuda. Penumpang juga diberi bantal dan selimut. Sistem entertaintment mereka standar saja, masih kalah dengan Garuda. Headset sudah disediakan. Saya sempat mencoba mendengarkan lagu-lagu grammys. Pengen nyoba nonton film, eh kok menunya balik terus ke bahasa Mandarin :)) Jadinya pasrah aja mendengarkan mas Sam Smith nyanyi.

Pramugari yang melayani penumpang maskapai ini cukup cekatan, meski bahasa Inggris mereka tidak fasih (dari pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa pramugari). Semua berwajah oriental dan cantik-cantik (ya iyalah, kan perempuan).

Makanan yang disuguhkan di penerbangan dari Surabaya cukup enak. Mungkin karena kateringnya Indonesia ya, jadi cocok sama lidah saya. Menu sarapannya opor ayam dengan ketupat dan sedikit buncis dan jagung sayur. Masih ditambah buah potong dan muffin pisang. Untuk minuman panas tersedia teh atau kopi. Tehnya tawar dan encer tanpa gula, bukan nasgitel :)

Sebenarnya rute pesawat ini adalah Surabaya - Singapura - Taipei. Ketika cek in, saya bareng dengan mbak-mbak TKI yang akan ke Taipei. Mereka masih muda-muda, bisa antre boarding dengan tertib dan tidak berisik. Berbeda banget dengan pengalaman saya dan keluarga pulang dari Singapura menuju Surabaya. Waktu itu, kami sudah capek dari penerbangan dari Paris, sementara China Airlines tidak bisa menerima cek in awal. Konter baru buka 3 jam sebelum penerbangan. Setelah cek in, kami langsung ke ruang tunggu boarding. Di situ kami dikejutkan oleh dengungan mbak-mbak TKI yang mau pulang mudik dari Taipei. Mereka ngobrol nonstop penuh sukacita dengan bahasa daerah masing-masing. Tidak hanya ketika menunggu boarding, ketika di dalam pesawat pun dengungan mbak-mbak ini tidak reda. Saya yang sudah terlalu capek hanya sanggup memejamkan mata, tapi telinga tetap berdenging. Sajian makan malam yang diberikan pramugari tidak saya sentuh (menunya ayam juga) saking capeknya. Menu makan untuk anak-anak kelihatan lebih enak, karena ada camilan, cokelat dan susu. Tapi sayang, Little A juga sudah ketiduran. Jam 11 malam, kami tiba kembali di Surabaya, menyaksikan pelukan kangen antara mbak-mbak penyumbang devisa dengan keluarga yang menjemputnya.

China Airlines bisa jadi maskapai pilihan untuk ke Singapura untuk yang mencari penerbangan full service tapi harganya tidak terlalu mahal. Apalagi dengan jadwal pergi pagi pulang malam, kita bisa menghemat penginapan di Singapura. Oh, ya, karena maskapai ini termasuk anggota Skyteam, kita bisa mendapatkan miles dari keanggotaan Garuda Miles. Cukup tunjukkan kartu atau sebut nomor Garuda Miles kita saat cek in. Lumayan, nanti poinnya bisa buat terbang lagi :)







 
Disclaimer:
My China Airlines ticket from Surabaya to Singapore was paid by Singapore Tourism Board. But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

Thursday, 30 April 2026

Staycation: Ascott Waterplace Surabaya


Kalau saldo Paypal lagi banyak, The Emak bawaannya pengen staycation melulu, hehe. Jangan ditiru ya. Seperti minggu kemarin ketika saya memutuskan membawa anak-anak nginep di apartemen mewah di Surabaya Barat. Tapi ini ada alasan rasionalnya kok. Selama dua minggu ini kan Big A bertugas menjadi jurnalis di acara Deteksi Jawa Pos, jadi tiap hari wajib ke DetCon yang diadakan di PTC Supermall. Dari rumah kami di Surabaya ujung timur, Supermal ini jauh banget, mana macet pula. Jumat malam Big A harus meliput acara sampai malam, dan siangnya sudah harus ke sana lagi. Karena Si Ayah juga sedang ke luar kota, ya sudah lah, Emak jadi punya alasan untuk booking hotel ;)

Saya memesan Ascott Waterplace ini via Agoda, karena bisa dibayar dengan saldo paypal. Tarif semalam untuk apartemen 1 bedroom waktu itu sebesar $79,48. Saya sudah cek via hotelscombined, harga di website lain juga sama. Gak mau rugi, kan? Saya memilih Ascott ini dari segi kepraktisan saja karena lokasinya persis di depan PTC Supermal, jadi tinggal menyeberang jalan. Ada sih beberapa pilihan hotel di sekitar situ yang lebih murah, tapi sama saja tidak walking distance, tetap harus naik taksi.


Jumat sore setelah menjemput Little A dari sekolah, kami berdua naik taksi menuju Ascott. Kami masuk ke lobinya yang mewah dan disambut dengan ramah. Proses cek in cukup gampang dan cepat. Setelah menyerahkan voucher Agoda, kami langsung dapat kunci kamar.


Big A ngecek tulisannya di Deteksi Jawapos

Little A, pecinta penginapan mewah, langsung terbelalak dan kagum begitu kami sampai di kamar. Dekorasinya memang tampak mewah. Ada satu kamar tidur dengan queen bed, dilengkapi TV dan lemari tanam. Ruang keluarga terpisah dari kamar, dilengkapi sofa besar dan nyaman, plus TV kabel dengan saluran lengkap. TV-nya ada dua ya, jadi The Emak nggak akan rebutan remote sama Little A, hahaha. Di ujung ruang keluarga terdapat dapur, lengkap dengan kompor, microwave, dispenser air panas dingin, peralatan masak, kulkas besar dan meja kursi. Bahkan ada mesin cuci juga. Kelihatannya apartemen ini sangat nyaman untuk tinggal dalam waktu lama. Sayangnya kami tidak menggunakan semua fasilitas tersebut. Ngapain masak kalau makanan enak tinggal beli di mal sebelah?

Wifi juga disediakan gratis. Meski kami stay di lantai atas, wifi masih bisa nyambung. Kecepatannya lumayan, bisa digunakan Big A untuk mengerjakan PR.













Tarif yang saya bayarkan sudah termasuk sarapan. Setelah bisa tidur nyenyak bertiga di kasur empuk, Sabtu paginya kami turun untuk sarapan. Menu sarapannya standar, tidak ada yang terlalu istimewa. Seperti biasa Little A minta roti panggang dengan olesan. Big A minta salad sayuran yang lumayan segar dengan dressing yang cukup enak. Saya pesan omelet jamur yang dimasak di tempat, cukup enak lah. Kopinya biasa saja, tidak nendang, tapi cukupan untuk memulai pagi hari.

Setelah lumayan kenyang, saya menemani Little A untuk main-main air di kolam renangnya yang ternyata luas banget. Sebenarnya lebih mirip mini waterpark daripada kolam renang biasa. Setelah melihat sendiri, saya baru ngeh kenapa namanya Ascott Waterplace :) Di sini ada kolam untuk bayi, kolam yang seperti pantai, kolam dengan permainan air (seluncuran) dan kolam renang biasa untuk olahraga. Sepertinya ada lazy river-nya juga tapi kok airnya nggak bergerak. Waktu kami menginap di sana hari Sabtu, suasana tidak terlalu ramai. Hanya ada dua keluarga yang bermain dan beberapa orang yang berenang beneran. Padahal apartemen ini juga jadi satu dengan hunian, fasilitas kolam bukan hanya untuk tamu apartemen saja. 

Karena Big A tidak ikut main air, Little A cuma sebentar bermain di sini. Tapi untuk staycation, fasilitas mini waterpark ini cukup mewah juga, jadi nggak perlu keluar ke waterpark beneran.









Yang paling kami suka dari Ascott ini adalah fasilitas kamar mandinya yang mewah banget. Ada bak mandi (bath tub) yang tampaknya masih baru. Amenities yang disediakan adalah merk L'occitane. Duh, wanginya sedep banget, dengan senang hati sisanya saya bawa pulang :)) Cuci tangan aja pakai L'occitane *berasa jadi horang kaya*. Sayangnya sebotol kecil shower gel-nya cuma cukup untuk dua kali berendam.

Selepas berenang, Little A dan Big A berendam bersama. Mereka main-main di bak mandi lama banget sampai saya harus memaksa mereka untuk keluar. Mandi air hangat dengan sabun wangi emang enak sih ;)





Serviced apartment ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang memang punya acara di Surabaya bagian barat. Soalnya lokasinya cukup jauh dari kota. Kalau jalanan macet, satu jam perjalanan mungkin belum sampai ke tengah kota. Tarif apartemen ini memang lebih mahal dibandingkan hotel, tapi sepadan dengan fasilitas yang diberikan, antara lain dapur agar bisa memasak/menghangatkan makanan sendiri dan mini waterpark-nya yang pasti membuat anak-anak puas bermain.

~ The Emak