Tuesday, 25 August 2026

Lagu - Pujangga Dalam Jiwa, Karya: Khoirul Taqwim

 



Apakah engkau seorang pujangga,

yang menyentuh hati lewat kata,

membuka luka yang lama terjaga,

hingga air mata berubah doa.


Bahasamu lembut menembus jiwa,

membuat benci belajar cinta,

mengubah gelap menjadi cahaya,

di sudut hati yang terluka.


Di atas sajadah aku bertanya,

siapa yang menitipkan makna,

dalam bait yang sederhana,

namun mengguncang seluruh jiwa.


Pujangga bukan karena nama,

bukan karena tepuk manusia,

tetapi karena mampu menjaga,

hati tetap penuh cinta.


Kata-katamu menjadi jembatan,

antara luka dan pengampunan,

antara tangis dan ketenangan,

antara manusia dan Tuhan.


Walau waktu terus berjalan,

kata tulus takkan tenggelam,

ia hidup dalam ingatan,

menjadi cahaya sepanjang zaman.


Kini aku tahu dalam doa,

pujangga bukan sekadar bahasa,

ia adalah hati yang berbicara,

membawa jiwa pulang kepada-Nya.

Lagu — Air Mata Berlayar di Antara Takdir, Karya: Khoirul Taqwim

 


Kusebut namamu di antara luka,

Di saat hatiku mulai tak berdaya,

Engkau datang membawa cahaya,

Menghibur jiwa yang lama terluka.


Awal bertemu begitu indah terasa,

Senyummu menenangkan segala lara,

Kukira engkau jawaban dari doa,

Ternyata hanya persinggahan sementara.


Kini kau pergi meninggalkan air mata,

Membawa separuh harapan yang kupunya,

Aku mencoba tersenyum dalam kecewa,

Meski hatiku hancur tanpa suara.


Jika memang ini jalan takdir-Nya,

Akan kuterima meski pedih rasanya,

Takkan kupaksa sesuatu yang bukan milikku,

Sebab Tuhan lebih tahu akhir kisahku.


Biarkan air mata ini berlayar,

Membawa rinduku menuju entah di mana,

Di antara harapan yang perlahan pudar,

Dan kematian rasa yang pernah kujaga.


Mungkin kehilangan adalah cara Tuhan,

Mengajariku arti sebuah keikhlasan,

Bahwa yang datang tak selalu untuk menetap,

Dan yang pergi tak selalu harus disesalkan.


Kini kusebut namamu dalam doa,

Bukan agar kau kembali kepadaku,

Tapi agar hatiku mampu menerima,

Bahwa cinta terindah adalah melepaskanmu.

Friday, 14 August 2026

Lagu - Tuhan, Terima Kasih Bukan Aku, Karya: Khoirul Taqwim

 




Tuhan, kulihat senyumnya hari ini,

Bersanding mesra dengan pilihan hati.

Aku tersenyum meski hati bergetar,

Kulepas doa bersama air yang mengalir.


Bukan cintaku yang telah menghilang,

Hanya langkahku belum mampu berjuang.

Tanganku masih kosong tanpa kepastian,

Tak ingin cintaku menjadi beban.


Aku ingin memberinya langit yang cerah,

Namun hidupku masih penuh arah yang lelah.

Lebih baik aku mundur dengan ikhlas,

Daripada membuatnya menangis tanpa batas.


Terima kasih, Tuhan, atas keputusan-Mu,

Meski perih, kutahu ini yang terbaik bagiku.

Engkau memilih jalan yang berbeda,

Agar kami sama-sama menemukan bahagia.


Kini dia telah sah dengan pilihannya,

Semoga damai selalu menyertai rumahnya.

Tak ada dendam, tak ada sesal,

Hanya doa yang kupanjatkan setiap malam.


Bila suatu hari namaku teringat,

Biarlah hanya menjadi kisah yang hangat.

Karena cinta sejati bukan memiliki,

Melainkan rela melihat yang dicintai bahagia meski bukan dengan diri ini.


Tuhan, kuatkan langkahku menatap hari,

Percayaku takkan pernah berhenti.

Sebab di balik luka yang kini kurasa,

Engkau sedang menyiapkan cinta yang lebih indah pada waktunya.

Lagu - Maafkan Calonmu, Karya: Khoirul Taqwim

 





Maafkan calonmu 
Dulu pernah kupinjam hatinya
Menyusuri bahagia muda
Dalam cerita sederhana

Tawa pernah tercipta
Air mata berbicara
Cinta tanpa kepastian
Tetap hidup diam

Novel belum selesai
Aksara terus berjalan
Bait tak berujung
Kenangan tetap tinggal

Bila dia bahagia
Menjadi pendampingmu nanti
Jangan pernah marah
Itu masa lalu

Jika masih mengingat
Di sela sujudnya
Bersama air mata
Maafkan dirinya

Aku telah pergi
Membawa seluruh rindu
Meninggalkan kenangan
Tanpa kata benci

Api dan air
Tak pernah menyatu
Namun kisah kami
Abadi dalam doa