Showing posts with label Imunologi. Show all posts
Showing posts with label Imunologi. Show all posts

Monday, 19 June 2017

Kajian Lengkap: Toleransi Imunologi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Toleransi Imunologi (Immunological Tolerance) adalah ketidakmampuan dari sistem imunitas untuk memberikan respons (unresponsiveness) terhadap suatu antigen dikarenakan induksi dari antigen yang sama sebelumnya. Sel limfosit yang berhadapan dengan antigen dapat menjadi aktif dan menghasilkan respons imun, ataupun dapat menjadi tidak aktif atau tereliminasi dan menghasilkan toleransi. Antigen yang menyebabkan toleransi disebut tolerogen (tolerogenic antigens). Toleransi terhadap antigen yang diproduksi tubuh (self-antigen) disebut sebagai self-tolerance (Abbas, dkk 2007).

Sistem imun pada dasarnya dipegang oleh dua sel utama, yakni sel limfosit B (berperan dalam respons humoral) dan sel limfosit T (berperan dalam respons seluler). Ketidakmampuan kedua sel tersebut dalam memberikan respons terhadap antigen spesifiknya dikenal dengan istilah anergy. Lymphocyte anergy (disebut clonal anergy) adalah kegagalan dari klona sel B ataupun sel T untuk bereaksi terhadap antigen dan menjadi representasi terhadap mekanisme untuk mempertahankan toleransi imunologi tubuh sendiri (Cruse & Lewis, 2003).

Dasar dari mekanisme toleransi imunologi ditemukan sekitar tahun 1945 dimana, Owen melakukan observasi terhadap kembar sapi non-identik (dizygotic) yang saling berbagi sirkulasi plasental yang sama dan mengembangkan toleransi terhadap antigen dari sel darah satu sama lain. Fenomena ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh Burnet dan Fenner. Mereka menduga bahwa suatu antigen yang mencapai sel limfoid, dimana perkembangan imunitasnya belum matang, akan menekan respons terhadap antigen yang sama saat paparan berikutnya dan hewan tersebut secara imunologi telah matang. Percobaan lebih lanjut dilakukan oleh Medawar, Brent, dan Billingham menggunakan transplantasi kulit pada tikus. Medawar dan rekannya menemukan prinsip penting bahwa toleransi imunologi dapat terjadi karena adanya induksi dari suatu antigen pada suatu masa perkembangan limfosit dan proses induksi tersebut dapat dilakukan secara buatan (artificial) (Roitt & Delves, 2001).

Gambar 1. Percobaan yang dilakukan oleh Medawar, Brent, dan Billingham
menggunakan transplantasi kulit pada tikus.


Proses induksi toleransi (induced tolerance) ini kemudian dijelaskan dalam dua tipe, yakni toleransi sentral (central tolerance) dan toleransi peripheral (peripheral tolerance). Toleransi sentral dijelaskan sebagai toleransi yang timbul selama perkembangan dari sel limfosit, sementara toleransi peripheral dijelaskan sebagai toleransi yang timbul setelah sel limfosit meninggalkan organ perkembangan primer (Shetty, 2005). Toleransi sentral (central tolerance) terjadi pada organ primer/sentral dari perkembangan sel limfosit, yakni thymus pada sel T dan sumsum tulang pada sel B. Selama perkembangan sel B dan sel T di sumsum tulang dan thymus, kehadiran antigen yang terdapat pada organ tersebut umumnya hanya berupa antigen sendiri (self-antigen). Hal ini dikarenakan antigen asing dari lingkungan luar, tidak akan ditrasport ke dalam timus, melainkan ditangkap dan ditransportasikan menuju organ limfoid perifer (Abbas, dkk 2007).

Paparan terhadap antigen sendiri dengan dosis tinggi akan memicu sel limfosit muda (immature) mengalami beberapa kemungkinan selama toleransi sentral, yakni sel tersebut akan apoptosis (disebut juga clonal deletion), beberapa sel B muda yang tidak mati akan mengalami perubahan pada reseptor mereka sehingga tidak mengenali antigen sendiri (proses ini disebut juga receptor editing), dan beberapa CD4+ akan berdeferensiasi menjadi sel T regulator (biasa disebut sel T suppressor) yang kemudian bermigrasi ke organ perifer dan mencegah respons terhadap antigen sendiri. Toleransi peripheral terjadi saat limfosit dewasa yang mampu mengenal antigen sendiri akan kehilangan kemampuannya dalam memberikan respons (disebut anergy), turunnya viability sel, dan terinduksi memicu apoptosis (Abbas, dkk 2007).

Sel B dapat menjadi toleransi terhadap suatu antigen melalui empat tahapan peristiwa, yaitu clonal abortion, clonal exnaustion, functional deletion, dan tahap terakhir adalah AFC blockade. Clonal abortion adalah peristiwa ketika pertama kali sel B yang belum matang bertemu dengan suatu antigen dalam jumlah yang kecil. Kondisi seperti ini diduga dapat memicu pembatalan pematangan sel B untuk memicu respons imun, hal tersebut mengakibatkan tidak terjadinya respons imun terhadap antigen tersebut. Peristiwa clonal exhaustion terjadi jika terjadi paparan terhadap suatu antigen yang bersifat T-independent dapat menyebabkan terjadinya clonal exhaustion. Hal tersebut mengakibatkan AFC dari sel B yang terbentuk berusia pendek dan akhirnya tidak lagi tersedia sel yang dapat merespons antigen. Peristiwa delesi fungsional disebabkan oleh keberadaan antigen yang dependent terhadap sel T maupun yang bersifat independen. Terjadinya delesi fungsional disesbabkan oleh tidak adanya bantuan dari sel T untuk melawan antigen tersebut sehingga sel B tidak dapat merespons secara normal. Dosis antigen yang sangat besar dapat mengakibatkan terjadinya penghambatan pembentukan sel AFC sehingga antibodi tidak terbentuk.

Jalur toleransi pada sel T secara umum memiliki kemiripan dengan sel B. Terdapat tiga tahapan yaitu clonal abortion, functional deletion, dan suppression sel T. Clonal abortion adalah tahapan dimana sel T yang belum matang dapat dihambat proses pematangannya dengan cara yang mirip dengan sel B. Functional deletion terjadi saat sel T yang matang fungsinya dihambat oleh paparan terhadap antibodi. Sel T suppression bekerja dengan melepaskan materi penekan sel T sehingga dapat menghambat fungsi sel T yang telah matang untuk mengenali antigen.

Sel T dan sel B memiliki karakteristik toleransi yang berbeda antar satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan karakteristik tersebut meliputi waktu induksi, dosis antigen, keberadaan antigen, spesifisitas antigen, dan durasi antigen. Waktu induksi yang dimiliki oleh sel T berbeda dengan sel B dan bergantung pada jenis antigennya. Pada antigen dependent sel T, sel T dapat terinduksi dengan cepat sedangkan sel B terinduksi dalam waktu yang lebih lama, yaitu sekitar empat hari. Sedangkan pada antigen yang independent terhadap sel T, antigen tersebut lebih cepat menginduksi toleransi pada sel B.

Dosis antigen yang diberikan juga akan berpengaruh pada induksi terhadap toleransi. Dosis antigen yang diperlukan untuk menginduksi toleransi sel B perlu lebih banyak dibandingkan jumlah antigen yang diperlukan untuk menginduksi toleransi sel T. Diperkirakan perlu antigen sejumlah 100-1000 kali lebih banyak untuk menginduksi sel B dibandingkan jumlah antigen yang diperlukan untuk menginduksi sel T. Keberadaan suatu antigen juga dapat sangat memengaruhi toleransi yang terbentuk sehingga akan berpengaruh juga terhadap waktu lamanya paparan suatu antigen.

Spesifisitas suatu antigen juga berpengaruh terhadap respons toleransi yang terbentuk. Diketahui bahwa suatu toleransi terbentuk secara spesifik untuk epitope tertentu, bukan terhadap antigen tertentu. Hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya toleransi terhadap berbagai jenis antigen yang memiliki kesamaan determinan.

Obat imunosupresif tidak dapat memproduksi toleransi antigen-spesifik jika obat tersebut berfungsi secara seimbang pada klona yang mudah dirangsang. Beberapa obat imunosupresif dapat berfungsi secara spesifik terhadap derivat limfosit, contohnya cyclosporin A mempengaruhi hanya sel T. Obat imunosupresif dapat membuat keadaan antigen-spesifik dengan melibatkan elemen antigen spesifik pada tolerizing regimen, yaitu saat obat berfungsi sebagai kofaktor dalam tolerogenesis. Obat imunosupresif dapat bekerja dengan salah satu dari dua cara berikut: Pertama, dengan merendahkan level dimulainya induksi toleransi. Kedua, dengan memblok sekuen yang berdiferensiasi pada sel yang dipicu oleh antigen.

Obat imunosupresif seperti cyclophosphamide bekerja pada sel T dan B yaitu meningkatkan sensitivitas sel B terhadap tolerogenesis terhadap mekanisme normal dan aktivitas tersebut berhubungan dengan ketidakmampuan sel B diobati dengan cyclophosphamide untuk meregenerasi reseptor immunoglobulin untuk antigen pada permukaan sel B. Sel B neonatal tidak dapat meregenerasi reseptor permukaan setelah mengadakan kontak dengan antigen dan proses capping. Capping merupakan prosedur yang permukaan dari immunoglobulin teragregasi saat dilapisi oleh anti-immunoglobulin sehingga membran bebas dari reseptor immunoglobulin.


Referensi:
  • Abbas, A. K., dkk. 2007. Cellular and Molecular Immunology. 
  • Cruse, J. M. & Lewis, R. E. 2003. Illustrated Dictionary of Immunology. 
  • Cruse, M. J., dkk. 2004. Immunology Guidebook. London. 
  • Roitt, I. M & P. J. Delves. 2001. Roitt's Essential Immunology 10th ed. 
  • Shetty, Nandini. 2005. Immunology: Introductory Textbook. 

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Imunologi Transplantasi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Transplantasi adalah proses pemindahan suatu organ atau jaringan tubuh (graft) dari jaringan atau organ pendonor ke penerima. Proses pemindahan penggantian suatu jaringan atau organ yang rusak dengan organ donor yang sehat mampu untuk meningkatkan kualitas hidup bagi banyak pasien. Transplantasi ginjal yang sukses untuk pertama kali terjadi pada tahun 1954 (Suthanthiran, dkk 2001).

A.Klasifikasi Pemindahan Jaringan/Organ (Graft)
Berdasarkan hubungan antara donor dan resipien, pemindahan jaringan/organ terbagi atas empat tipe yaitu:
  1. Autograft (Autologous Graft) adalah proses pemindahan jaringan/organ yang berasal dari suatu individu dan digunakan untuk dirinya sendiri.
  2. Allograft (Allogeneic Graft) / Allogeneic adalah proses pemindahan jaringan/organ antarindividu dimana individu-individu tersebut masih satu spesies.
  3. Isograft (Isogeneic Graft) / Syngeneic adalah proses pemindahan jaringan/organ antarindividu yang secara genetic kembar identik.
  4. Xenograft / Xenogeneic adalah proses pemindahan jaringan/organ antarindividu yang berbeda spesies (Shetty 2005).
Gambar 1. Tipe Transplantasi (Burmester & Pezzuto, 2003).

B.Mekanisme Penolakan Jaringan/Organ
Histocompatibility adalah kesesuaian suatu jaringan pada jaringan/organ tertentu untuk ditransplantasikan dari pendonor ke resipien. Gen yang menyandikan antigen, yang mengatur penyesuaian suatu pemindahan jaringan/organ untuk bertahan dalam tubuh resipien, terletak dalam daerah Major Histocompability Complex (MHC). Pada manusia, MHC terletak pada lengan pendek kromosom enam, sementara pada tikus terletak pada kromosom tujuh belas. Letak gen spesifik pada kromosom yang mengode antigen histocompatibility disebut histocompability locus. Pada manusia, histocompability loci disebut HLA (Human Leukocyte Antigen). MHC class I dan II berperan penting dalam transplantasi jaringan, semakin besar kecocokan antara donor dan resipien, semakin besar pula kemungkinan tandur untuk bertahan ditubuh pendonor.

Gambar 2. Lokus Histokompabilitas Mayor pada Berbagai Spesies (Cruse, dkk 2004).

Reaksi imun yang dapat menimbulkan penolakan terhadap transplan bersifat spesifik yang disertai dengan memori. Contohnya adalah allograft pertama pada kulit ditolak dalam 10--14 hari, maka allograft kedua dari individu yang sama dicangkokkan lagi maka resipien akan menolak lebih cepat lagi yaitu dalam 5-7 hari (Baratawidjaja, 1991)

Gambar 3. Mekanisme Penghancuran Sel Target (Roitt & Delves 2001).

Reaksi penolakan ditimbulkan oleh sel T helper resipien yang mengenal antigen MHC alllogeneic. Sel tersebut akan menolong sel T sitotoksik yang juga mengenal antigen MHC allogeneic dan membunuh sel sasaran. Kemungkinan lain yaitu makrofag menuju tempat transplan atas perintah limfokin dari sel T helper sehingga menimbulkan kerusakan. Reaksi penolakan disebut juga Graft versus Host Reaction (Baratawidjaja 1991). Rekasi penolakan tersebut antara lain:
  1. Penolakan hiperakut. Penolakan tersebut terjadi setelah beberapa menit sampai beberapa jam setelah transplantasi. Penolakan terjadi karena perusakan oleh antibodi yang sudah ada terhadap transplan. Antibodi tersebut mengaktifkan komplemen yang menimbulkan edema dan pendarahan interstisial dalam jaringan transplan sehingga mengurangi aliran darah ke seluruh jaringan. Gejala umum yang terlihat pada penolakan hiperakut adalah trombosis dengan kerusakan endotil dan nekrosis. Selain itu adalah badan mengalami panas, leukositosis dan produksi urin sedikit. Urin mengandung elemen seluler seperti eritrosit.
  2. Penolakan akut. Merupakan penolakan yang terlihat pada resipien yang sebelumnya tidak tersensitasi terhadap transplan. Merupakan penolakan umum yang terjadi pada resipien yang menerima transplan yang mismatch (tidak cocok) atau yang menerima allograft dan pengobatan imunosupresif yang tidak efisien dalam usaha mencegah penolakan. Penolakan dapat terjadi beberapa hari setalah transplantasi. Akibatnya adalah fungsi ginjal yang tidak berfungsi, perbesaran ginjal disertai rasa sakit, penurunan fungsi dan aliran darah, dan adanya se darah dan protein dalam urin. Penolakan akut dapat dihambat dengan cara imunosupresi oleh serum antilimfosit, steroid, dan lainnya.
  3. Penolakan kronik. Penolakan yang dapat terjadi pada transplantasi allograft beberapa bulan sesudah organ berfungsi normal dan disebabkan oleh sensitivitas yang timbul terhadap antigen transplan. Jika terdapat infeksi maka akan mempermudah timbulnya penolakan kronik. Pengobatan dengan imunosupresi tidak banyak berguna karena kerusakan sudah terjadi. Contoh dari penolakan kronik adalah gagal ginjal yang terjadi perlahan-lahan dan progresif karena terjadi prolifersai sel inflamasi pada pembuluh darah kecil dan penebalan membran glomerulus basal.
  4. Reaksi allograft. Transplantasi organ atau jaringan dari donor syngeneic (isograft) dengan cepat diterima resipien dan berfungsi normal. Transplan organ dari donor allogeneic akan diterima untuk sementara waktu dan mengalami vaskularisasi. Penolakan tergantung pada derjat inkompabilitasnya. Reaksi penolakan umumnya terjadi sesuai respons CMI. Reaksi yang terjadi adalah invasi transplan oleh limfosit dan monosit melalui pembuluh darah dan menimbulkan kerusakan pembuluh darah dan nekrosis.
  5. Penyakit Graft versus Host (GvHD). Merupakan keadaan yang terjadi jika sel yang imunokompeten asal donor mengenal dan memberikan respon imun terhadap jaringan resipien. Jika sel T yang matang dan imuokompeten ditransfusikan kepada resipien yang allogeneic dan tidak ada yang menolaknya maka sel tersebut bereaksi dengan hospes dan menimbulkan reaksi CMI diberbagai tempat. Sel-sel yang diserang adalah sel MHC kelas II. Gejala dari reaksi GvH adalah pembesaran kelenjar limfoid, limpa, hati, diare, radang kulit, rambut rontok, berat badan menurun, dan meninggal. Kematian disebabkan oleh kerusakan sel penjamu (punya antigen MHC kelas II) dan jaringan akibat respons CMI yang berlebih. Reaksi GvH dapat terjadi akibat transplantasi sumsum tulang kepada resipien dengan supresi sistem imun atau akibat transfusi darah segar kepada neonatus yang imunodefisien. Hal tersebut mudah terjadi jika sebelum transplantasi atau transfusi, usaha menghilangkan sel T matang yang imunokompeten tidak maksimal. Oleh karena itu penolakan normal oleh resipien terhadap limfosit yang ditransfusikan tidak terjadi (Baratawidjaja 1991)

C.Pencegahan terhadap Penolakan Jaringan/Organ
Uji Histokompatibilitas (Histocompability testing) adalah uji untuk menentukan dari tipe MHC class I dan class II pada jaringan/organ yang akan ditransplantasi, baik pada donor maupun resipien. HLA tissue typing adalah indentifikasi dari antigen Kompleks Histokompabilitas Mayor (MHC) kelas I dan II pada limfosit dengan teknik serologis dan selular. Class-I typing melibatkan reaksi antara sel limfosit yang ingin diuji dengan antisera dari HLA yang telah diketahui spesifitasnya dengan kehadiran komplemen. Class-II typing mendeteksi antigen HLA-DR mengunakan preparasi sel B yang telah dipurifikasi. Pengujian tersebut didasarkan pada disrupsi membran sel limfosit yang antibody-specific dan complement-dependent (Cruse, dkk 2004). Prinsip dari pengujian secara serologis adalah microlymphocytotoxicity menggunakan piring mikrotiter (microtiter plate) yang didalamnya terdapat predispensed antibody dengan spesifitas terhadap HLA dari limfosit yang akan diuji, dan ditambah dengan komplemen kelinci dan pewarna vital. Metode ini digunakan untuk pengujian organ transplan seperti allotransplantasi ginjal. Pada transplantasi sumsum tulang (bone-marrow), prosedur yang digunakan disebut Mixed Lymphocyte Reaction. Prosedur ini digunakan untuk mengukur derajat relatif dari histokompabilitas antara pendonor dan resipien (Cruse & Lewis 2003)

Tes cross-match (Cross-matching test) adalah salah satu metode pengujian yang digunakan untuk mendeteksi kehadiran dari antibody preformed (presensitization) pada antigen HLA pendonor menggunakan serum dari pasien dan sel limfosit pendonor. Hasil tes cross-match yang positif menjadi kontraindikasi terhadap transplantasi, hal ini karena hasil dari tes cross-match dapat diasosiasikan dengan episode penolakan yang tak terkontrol, yang berujung pada kehilangan jaringan permanen (irreversible graft loss) (Suthanthiran, dkk 2001).

Selain melakukan pengujian terhadap histokompabilitas antigen yang dilakukan sebelum (prior) transplantasi, hal yang dapat dilakukan juga dengan pemberian obat imunosupresan. Imunosupresan dapat digunakan untuk mengontrol penolakan tandur dengan cara menekan respon imun tubuh resipien. Obat-obatan yang digunakan untuk menekan penolakan antara lain:



Adapun, mekanisme imunosupresan dalam mengontrol penolakan tandur dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4. Agen Immunosuppressive digunakan untuk mengontrol penolakan jaringan (Roitt & Delves 2001)

Gambar 5. Mekanisme Imunosupresan Cyclosporin, FK506 and Rapamycin (Roitt & Delves 2001)

Referensi:
  • Bratawijaya, KG & Rengganis, I. 2009. Imunologi Dasar. 
  • Burmester, G. R & A. Pezzuto. 2003. Color Atlas of Immunology. 
  • Cruse, M. J. dkk. 2004. Immunology Guidebook. 
  • Cruse, M. J. & Lewis, R. E. 2003. Illustrated Dictionary of Immunology 2nd ed. 
  • Roitt, I. M & P. J. Delves. 2001. Roitt's Essential Immunology 10th ed. 
  • Shetty, Nandini. 2005. Immunology: Introductory Textbook. 
  • Suthanthiran, Manikkam, dkk. 2001. Clinical Transplantation in Medical Immunology, 10th ed. 

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 16 June 2017

Materi LENGKAP Reaksi Hipersensitivitas

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

1. Apakah yang dimaksud dengan hipersensitivitas?
Pengertian hipersensitivitas adalah reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan terhadap antigen sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi hipersensitivitas dapat berupa respon humoral yaitu intermediate hypersensitivity atau respon seluler (cell- mediated) yaitu delayed hypersensitivity. Kehipersensitivan menandakan tingginya reaksi imun terhadap antigen

2. Sebutkan klasifikasi reaksi hipersensitivitas!
Reaksi hipersensitivitas diklasifikasikan oleh Coombs dan Gell pada tahun 1963. Klasifikasi tersebut dibagi menjadi 4 macam reaksi, yaitu:
  • Tipe I, yaitu reaksi hipersensitivitas alergi biasa akibat terpapar oleh alergen. Reaksi ini diperkenalkan oleh Portier dan Richet. 
  • Tipe II, yaitu reaksi hipersensitivitas yang terjadi akibat reaksi antigen-antibodi, termasuk reaksi sitotoksik.
  • Tipe III, yaitu reaksi imun kompleks yang terdeposit di jaringan tubuh, termasuk reaksi komplemen;.
  • Tipe IV, yaitu reaksi hipersensitivitas yang terjadi akibat antigen mensensitisasi sel T dalam penglepasan limfokin. Sitokin tersebut dapat menginduksi terjadinya reaksi imflamasi dan mengaktifkan makrofag yang nantinya akan menyebabkan penglepasan mediator imflamasi.

3. Apakah yang dimaksud dengan alergi?
Alergi terjadi karena terpapar dengan reaksi pada kontak kedua kali dengan antigen. Saat ini, alergi lebih dikenal dengan istilah reaksi hipersensitivitas tipe I. Alergi juga terjadi karena terdapat induksi dari allergen, yaitu agen (pollen, debu, bulu hewan, dll) yang dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas yang diperantarai oleh antigen IgE.

4. Jelaskan mengenai mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I!
Reaksi hipersensitivitas tipe I adalah reaksi anafilatik. Reaksi tipe I disebut juga reaksi cepat atau reaksi alergi karena timbul segera setelah bdan terpapar dengan alergen. Alergi adalah reaksi pejamu yang berubah jika terpapar dengan bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. Alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon imun dengan dibentuknya IgE. Urutan kejadiannya adalah
  • Fase sensitisasi: Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan basofil.
  • Fase aktivasi: Waktu selama terjadi pemaparan ulang dengan antigen yang spesifik, mastosit melepas isinya yang berisikan granual yang menimbulkan reaksi.
  • Fase efektor: Waktu terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek bahan-bahan yang dilepas mastosit dengan aktivitas farmakologik.

Secara umum, reaksi hipersensitivtas mempunyai urutan reaksi yaitu antigen merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel Th. IgE kemudian diikat oleh mastosit atau basofil melalui reseptor Fc. Apabila tubuh terpapar ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit atau basofil. Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit atau basofil mengalami degranulasi dan melepaskan mediator antara lain histamin, yang menimbulkan gejala pada reaksi hipersensitivitas tipe I.





Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Teori Pembentukan Antibodi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.




1. Akhir-akhir ini banyak teori tentang pembentukan antibodi. Pada prinsipnya setiap teori antibodi harus dapat menerangkan berbagai fakta yang sudah diketahui. Sebutkan fakta-fakta tersebut!
  • Antibodi bersifat spesifik pada antigen, termasuk pembuatannya.
  • Hewan dapat merespon pemasukan antigen dalam jumlah besar secara stimultan.
  • Satu sel umumnya membentuk antibodi yang homogeny dan bersifat spesifik.
  • Pembentukan antibodi terdiri atas dua fase, yaitu fase induksi dan fase produksi.
  • Informasi spesifik dari respons anamnestik terdapat pada sel limfoid.
  • Toleransi terhadap “antigen diri sendiri” terdapat selama hidup.
  • Toleransi terhadap antigen dari luar dapat diinduksi secara artificial.
  • Kemampuan hewan untuk membuat suatu antibodi atas antigen tertentu ditentukan secara genetis.
  • Pemasukan dari antigen tertentu dapat secara kompetitif menghalangi respons antibodi terhadap antigen lain.
  • Peningkatan kekuatan ikatan pada antibodi kelas tertentu diikuti perpanjangan stimulasi oleh antigen.
  • Tempat reaksi antibodi ditentukan oleh urutan asam amino yang memiliki porsi yang beragam pada rantai berat dan ringan.
  • Antigen belum terdeteksi pada sel pembentuk antibodi.
  • Autoantibodi mungkin terbentuk terhadap antigen yang tidak terakses.
  • Jumlah sel yang terstimulti oleh sebuah antigen berukuran kecil.

2. Ada tiga kategori umum tentang pembentukan antibodi. Sebutkan dan jelaskan satu persatu dari teori itu!
  • Teori instruksi. Teori ini pertama kali diformulasikan untuk menyesuaikan bahwa fakta terdapat begitu banyak antigen yang dapat direspon oleh tubuh hewan, jumlahnya bahkan bisa mencapai ribuan. Diperkirakan bahwa sel yang memproduksi antibodi tidak memiliki informasi genetis sebanyak itu untuk mengenali seluruh antigen secara spesifik. Teori ini menjelaskan bahwa sel dimungkinkan memproduksi antibodi yang sesuai dengan antigen karena antigen masuk dan memberikan istruksi ke dalam sel untuk memproduksi antibodi. Berdasarkan teori ini dikatakan bahwa determinan dari antigen berperan sebagai template untuk membuat konfigurasi paratope yang sesuai. Berdasarkan pengamatan sekarang ini diketahui bahwa antibodi yang memiliki spesifisitas yang berbeda memiliki perbedaan urutan dan komposisi asam amino pada rantai peptida nya. Diketahui juga bahwa molekul antibodi tetap bisa terbentuk menjadi spesifik melalui proses pelipatan protein bahkan tanpa adanya keberadaan antigen, artinya spesifisitas dari antibodi tidak dipengaruhi oleh adanya molekul antigen atau tidak.
  • Teori Seleksi. Teori seleksi dinyatakan oleh Elrich dan menyatakan bahwa setiap sel pada tubuh memiliki konfigurasi permukaan yang dinamakan sebagai rantai sampingan. Rantai sampingan itu bisa bereaksi secara selektif dengan berbagai materi. Pada kasus proses pembentukan antibodi diketahui bahwa sel distimulasi oleh antigen untuk membentuk rantai sampingan dalam jumlah besar berupa antibodi.
  • Teori Germ-line. Berdasarkan teori germ-line dikatakan bahwa gen structural yang mengatur proses pembentukan antibodi ditransmisikan dari sel bakteri ke sel somatic, termasuk di dalamnya adalah sel lymphoid, dan turunannya. Sehingga menurut teori ini setiap sel yang telah terinduksi diasumsikan mengandung informasi genetis dari bakteri untuk memproduksi antibodi yang sesuai dengan bakteri.

3. Apakah Burnet’s modified clonal selection theory itu? Atas dasar apakah teori ini dibuat?
Teori pembentukan antibodi menurut Burnet’s modified clonal selection theory menyatakan bahwa stem sel menghasilkan “inducible cell” yang bersifat sangat mudah bermutasi dalam jumlah yang banyak. Setiap selnya memiliki kemampuan untuk memberi respons terhadap antigen determinan yang diberikan. “Inducible cell” yang telah merespons antigen determinan akan berproliferasi menjadi sangat banyak dan berdiferensiasi. Produk dari diferensiasi adalah berupa antigen yang disekresikan. Dasar dari teori modified clonal selection theory antara lain:
  • Inducible cell dalam jumlah yang banyak dan dalam berbagai jenis yang berbeda-beda terdapat dalam hewan dewasa, setiap selnya membawa molekul yang menyerupai antibodi dan mampu bereaksi secara spesifik dengan antigen determinan.
  • Hasil reaksi induksi menunjukkan pembentukan antibodi
  • Setiap inducible cell dapat bereaksi dengan beberapa jenis dari antigen determinan yang berkaitan. Apabila ikatan antara antigen dan antibodi tidak terlalu cocok maka akan tetap berikatan namun dengan kekuatan yang lemah, dan reaksi yang terjadi juga lemah.
  • Tingkat toleransi yang terdapat pada embrio lebih tinggi dibandingkan pada usia dewasa.

Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Materi Lengkap Respon Imun Humoral

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

1.Sebutkan kelas antibodi yang dibentuk bila antigen diberikan lewat suntikan dan lewat mukosa!
Saat antigen diintroduksi dalam tubuh via membran mukosa dan suntikan akan membantu proses produksi dari antibody IgM dan IgG.

2.Bagaimana dengan IgA dan IgE?
Pemaparan antigen terhadap transmukosa akan menstimulasi produksi dari antibody IgA dan/atau antibody IgE dalam kondisi in situ.

3. Jelaskan mengenai The Primary Response Immune!
Saat vertebrata yang secara imunologi kompeten di introduksi terhadap suatu antigen untuk pertama kalinya, maka respon imun primer akan muncul. Dalam jangka waktu 24-48 jam pertama, stimulasi terhadap antigen pertama kali tidak dideteksi antibody, antibodi akan muncul dalam plasma tergantung dengan kesensitifan deteksi. Umumnya antibodi (sebagian besar terdiri dari IgM) dapat terdeteksi saat 4-5 hari setelah antigenik menyerang. Saat hari ke 6--7, antibodi IgG dapat dideteksi (mempunyai titre yang lebih tinggi). Biasanya IgM berkurang sebelum IgG mencapai puncaknya (umumnya saat hari ke 14-15). Setelah IgG sampai pada puncaknya, jumlah antibodi total akan mulai berkurang dan tidak terdeteksi lagi sampai 30-40 hari setelah penyerangan antigen.

4. Jelaskan juga mengenai The Secondary Response Immune!
Pemaparan kedua (booster) terhadap antigen akan berujung pada perkembangan terhadap respon imunitas sekunder. Pada awalnya, produksi dari IgM akan berlangsung dengan lambat, tetapi fase IgM pada saat ini bila dibandingkan dengan respo primer berlangsung lebih cepat. Peningkatan IgG dalam respon sekunder juga mengalami akselerasi dan mencapai jumlah yang lebih tinggi dengan waktu bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan respon primer. Selain itu, respon ini juga secara alternative disebut sebagai respon anamneutic (anamnesia = remembrance) karena sistem lymphoid yang memiliki kemampuan untuk “mengingat” sejak kontak pertamanya dengan antigen.

5.Apakah yang dimaksud dengan adjuvants? Jelaskan tentang zat ini!
Adjuvants adalah campuran atau senyawa yang dapat menstimulasi pertambahan antibodi saat bercampur dengan substansi antigenik. Selain itu, adjuvants tidak perlu bersifat antigenik. Adjuvants umumnya bekerja dengan cara menurunkan jumlah antigen, menurunkan penyerapan antigen, dan mendorong infiltrasi dari sel inflammatory seperti, makrofag masuk ke dalam antigen. Contoh dari adjuvant antara lain:
  • Freund’s Complete Adjuvant terdiri dari campuran minyak mineral dengan Myobacteria yang telah mati kemudian diemulsikan dengan antigen pada aqueous base.
  • Freund’s Incomplete Adjuvant memiliki komposisi yang sama seperti complete adjuvant tetapi tidak mengandung Myobacteria dan jugga umumnya kurang efisien dibandingkan complete adjuvant.
  • Calcium Alginate Adjuvant (Algivant) merupakan campuran atas 6% sodium alginat dan antigen yang dimasukkan ke depot yang diinginkan kemudian diikuti dengan penyuntikan Ca2+ (biasanya digunakan Calcium Gluconate) pada situs pengendapan antigen, yang kemudian menghasilkan pengendapan dengan cepat antigen dalam matriks gel kalsium alginat yang tidak dapat larut.
  • Alum Precipitates yang merupakan cairan antigen dicampur dengan larutan alum aqueous. pH kemudian diatur untuk mengendapkan antigen yang disuntikkan. Pada banyak kasus, dosis tunggal antigen ketika disuntikkan sebagai campuran antigen-adjuvant dapat memunculkan baik respon primer maupun respon sekunder sedangkan pada dosis antigen yang sama yang diberikan tanpa adjuvant hanya dapat memberikan respon primer.
  • Laevo-Tetramisole (Laevomisole, Decaris) Laevo-isomer dari tetramisole merupakan agen anthelminthic yang efektif untuk menyerang infeksi nematoda pada manusia dan mamalia domestik.

6.Ceritakan tentang aspek-aspek selularnya pada respons imun humoral!
Sel-sel utama yang berperan dalam sintesis antibody dan immunoglobulin secara morfologi merupakan anggota dari plasmacytic series.Selain itu, definisi limfosit belum ada persetujuan bersama karena sel-sel tersebut tidak memiliki penanda histokimia dan ultrastruktural yang spesifik. Saat ini meskipun ‘limfosit’ pada literatur imunologi digolongkan sebagai kelompok sel-sel yang secara fungsional heterogen, beberapa limfosit merupakan thymus dependent (sel T) dan yang lainnya merupakan anggota kelompok sel B. Karakter morfologi untuk membedakan antara “lymphocytoid” dengan limfosit T ataupun plasmasitoid dengan limfosit B belum jelas. Sel-sel yang berperan dalam ekspresi imunitas selular disebut sel T sedangkan sel-sel limfoid yang mensintesis dan mensekresikan antibodi humoral adalah sel B.

7.Bagaimanakan kooperasi antara sel-T, sel-B, dan makrofag pada respons imun humoral itu?


Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan mengaktifkan sel B. Jika antigen dapat langsung dikenali oleh sel B, maka sel B akan berkembang menjadi sel plasma yang akan mensintesis antibodi untuk mendegradasi antigen. Selain menjadi sel plasma, sel B juga akan berdiferensiasi menjadi sel B memori yang berfungsi sebagai memori jika tubuh terinfeksi oleh antigen yang sama untuk kedua kalinya.

Sel T sitotoksik yang teraktivasi oleh antigen akan berikatan dengan antigen dan akan melisiskan sel yang terinfeksi, kemudian akan berkembang menjadi sel T memori. Pada antigen sel T dependen, antigen difagositosis menjadi makrofag yang nantinya berperan sebagai APC (Antigen Presenting Cell). Kemudian makrofag tersebut dipresentasikan kepada T helper, sel T helper tersebut memberi tahu sel B sehinga sel B berdiferensiasi dan terbentuklah antibodi.



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 15 June 2017

Pengertian, Macam, dan Fungsi Sistem Komplemen, Penjelasan LENGKAP

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

1. Apa yang dimaksud dengan komplemen?
Kompelemen adalah sistem enzimatik dari protein yang diaktivasi oleh berbagai reaksi antigen dan antibodi dan memiliki peranan yang penting dalam peristiwa hemolisis dan bakteriolisis. Kompelemen juga berperan penting dalam beberapa proses lain seperti fagositosis, opsonisasi, kemotaksis, dan sitolisis. Kompelemen terdiri dari sistem dari 11 protein yang ditemukan dlam konsentrasi yang berbeda-beda dalam serum.

2. Sebutkan peranan komplemen dalam reaksi biologis!
Komplemen dalam reaksi biologis memiliki peranan sebagai: (1) kemotaksis (C5a adalah kemotaktik untuk makrofag dan polimorph); (2) opsonisasi dan aktivasi sel (C3a dan C5a dapat mengaktivasi sel mast dan basofil, dan C3b penting untuk opsonisasi); (3) melisiskan sel target; (4) memprimerkan respon imun adaptif (kompleks imun mengikat C3b akan sangat efisien dalam memprimerkan sel B); (5) dapat membunuh mikroorganisme secara langsung (sistem membran attack complex berdampak langsung membunuh bakteri dan virus enveloped).

3. Sebutkan penyusun activation of complement!
Sistem komplemen tersusun dari dua puluh macam protein yang terdapat dalam plasma dan cairan tubuh lainnya. Komponen utama dari sistem komplemen terbagi atas Sembilan komponen protein, yakni dari C1 – C9. Protein-protein ini berperan besar dalam proses fagositosis dan kompleks imun lainnya. Aktivasi dari komplemen dapat berlangsung dalam dua jalur utama, yakni Classical pathway dan Alternative pathway. 

4. Terdiri dari apa saja sistem komplemen?
Suatu sistem komplemen terdiri dari fragmen-fragmen komplemen (C1-C9) dimana masing-masing fragmen tersebut memiliki fungsi biologisnya masing-masing. Selain itu, suatu system komplemen terdiri dari reseptor komplemen (CR1-CR4) yang dapat berikatan dengan fragmen dan membentuk suatu reaksi. Anafilatoksin juga merupakan bagian dari system komplemen yang merupakn suatu peptida komplemen dapat menyebabkan sel mast mengalami degranulasi dan kontraksi otot halus. Dalam system komplemen juga terdapat enzim-enzim yang dapat merubah dan menstimulasi pemecahan fragmen-fragmen komplemen, dan membrane attack complex (MAC) yang dapat memberikan dampak langsung terhadap bakteri dan virus.

5. Apa manfaat sistem komplemen?
Sistem komplemen merupakan pusat dari perkembangan reaksi inflammatory dan salah satu bentuk dari system imunitas atau pertahanan tubuh. Komplemen bertujuan untuk melabelkan patogen dan zat-zat toksik yang terdapat dalam tubuh untuk segera dieliminasi dari dalam tubuh.

6. Kelas immunoglobulin apa saja yang dapat mengaktifkan sistem komplemen?
Imunoglobulin-G (IgG) dan immunoglobulin-M (IgM)

7. Bagian struktur immunoglobulin apa yang berperanan dalam hal aktivasi sistem komplemen?
Perbedaan struktur Fc dari tiap kelas immunoglobulin menyebabkan hanya IgG dan IgM saja yang mampu berikatan dengan C1.

8. Bagaimana dengan subkelas IgG, apakah mempunyai kemampuan yang sama dalam mengaktifkan sistem komplemen?
IgG1 dan IgG3 dapat berikatan secara baik dengan komplemen, IgG2 sederhana, dan IgG4 tidak dapat berikatan dengan baik.

9. Jelaskan mengenai komponen komplemen yang pertama (C1)!
C1 adalah molekul protein dengan berat molekul 750 kDa yang terdiri atas satu subkomponen C1q, dua subkomponen C1r, dan dua subkomponen C1s. C1q, C1r, C1s ini membentuk C1 kompleks yang bergantung pada ketersediaan Ca2+. C1q memiliki konsentrasi dalam serum sekitar 100-200 μg/ml, dengan berat molekul 400 kDa, memiliki thermoability, dan terdapat dalam gamma globulin pada saat dilakukan immunoelectrophoresis. 



10. Berapa macam immunoglobulin yang diperlukan untuk mengaktifkan sistem komplemen?
Setidaknya dua dari subunit pengikatan-Ig (Ig binding subunit) yang tersusun dari rantai peptida harus berikatan dengan situs CH2 immunoglobulin untuk mengaktivasi C1q.

11. Jelaskan mekanisme aktivasi komplemen classical pathway pada gambar berikut!



Mekanisme rekasi pada classical pathway yakni, C1 teraktivasi saat berikatan dengan kompleks antigen-antibodi. C1 yang telah teraktivasi akan merangsang pembelahan C2, menjadi C2a dan C2b, serta pembelahan C4, menjadi C4a dan C4b. C2b dan C4b bergabung dan membentuk senyawa protease yang dikenal sebagai C3-convertase. C3-convertase ini kemudian berperan dalam pembelahan C3 menjadi C3a dan C3b. C3a berperan dalam reaksi inflamasi karena mampu merangsang pelepasan histamine dari sel mast. C3b dapat menjadi C3-convertase dengan bantuan Factor D dan Factor B ataupun C3b berikatan dengan dinding sel bakteri, dimana sel fagosit memiliki kemampuan pengenalan terhadap situs C3b, hal ini disebut opsonization.

12 Mekanisme alternative pathway dapat diaktifkan oleh apa saja?
Alternative pathway dapat dipicu oleh dinding sel polisakarida, seperti endotoxin dari bakteri dan zymosan dari yeast.

13. Apakah yang dimaksud dengan anaphylatoxin?
Anaphylatoxin merupakan senyawa yang dilepaskan oleh C3a dan C5a. Senyawa ini dapat memberikan stimulasi pada sel mast untuk melepaskan histamine, histamine berperan dalam meningkatkan permeabilitas pembuluh dan kontraksi otot polos.

14. Apakah yang dimaksud dengan immune adherence?
Immune adherence adalah proses pengikatan kompleks antibodi-antigen, kompleks antibodi-bakteri, atau partikel lain yang membawa C3b dan C4b, dengan sel ekspresi reseptor komplemen satu (Complement Reseptor 1 [CR1] expressing cells). 

15. Ceritakan tentang kemampuan biologis pada C3a dan C5a!
C3a dan C5a berperan dalam inflamasi (inflammation) hal ini berkaitan dengan keduanya yang mampu melepas senyawa kimia, anaphylatoxin, yang merangsang sel mast untuk melepaskan histamine. Selain itu, C5a juga memiliki peranan sebagai chemoattractant bagi sel fagosit.

16. Apakah yang dimaksud dengan chemotaxis?
Kemotaksis (Chemotaxis) adalah sebuah proses dimana suatu senyawa kimia menyebabkan perubahan arah dan orientasi dari pergerakan suatu sel. Kemotaksis dinyatakan positif jika pergerakan sel menuju arah asal zat kimia, dan sebaliknya. 

17. Apa saja komponen pada komplemen dalam reaksi alternative pathway?
Komponen komplemen terutama dalam reaksi “alternative pathway” adalah C3. Hal ini karena C3 dengan bantuan C3-convertase menjadi C3a yang berperan dalam inflamasi dan C3b yang berperan dalam opsonization dan pembentukan C5-convertase. Selain C3 komponen penting komplemen lainnya berupa Faktor D, Faktor B, C5, properdin, C6-C9.

18.Jelaskan yang dimaksud dengan jalur alternatif!

  • Antibodi tidak perlu berperan sebagai mekanisme pemicu.
  • Faktor inisiasi berupa properdin.
  • Properdin mengaktivasi faktor D.
  • Faktor D mengaktivasi C3 melalui proses pembelahan produk faktor B, sebanding dengan C2.
  • C3 merupakan protein utama yang berperan, sama halnya dengan jalur biasa.
  • C3 berfungsi sebagai donor B pada sistem properdin dan meningkatkan proses aktivasi, sementara C3b menghambat aktivasi.
19.Jelaskan mekanisme aktivasi komplemen alternative pathway pada gambar berikut!


Mekanisme tentang proses aktivasi komplemen melalui jalur alternatif yakni,  jalur alternatif biasanya terpicu oleh adanya polisakarida berupa endotoksin. Endotoksin mengaktifkan C3 convertase yang akan mengaktifkan C3 melalui rangakaian proses. Endotoksin mengaktifkan properdin. Properdin akan mengaktifkan faktor D. Faktor D bersama dengan ion Mg2+ akan mengaktifkan aktivator C3, yaitu C3bB

20. Jelaskan peranan sistem kompelemen pada sistem pertahanan!
Dalam sistem pertahanan, kompelemen berperan dalam proses:
  • Sitolisis. Komplemen sistem yang lengkap akan mengakibatkan kerusakan membrane sel bakteri. Pada bakteri gram negative, kerusakan membrane dapat mengakibatkan bacteriolysis dengan bantuan dari enzim lysozyme .
  • Adherensi C3b. C3b memiliki peranan dalam membantu proses fagositosis dari mikroorganisme setelah proses aktivasi kompelemen melalui jalur alternative. C3b mengakibatkan makrofag dapat mengenali antigen. Setelah proses fagositosis, C3b akan mengaktifkan pengeluaran enzim lisozyme.
  • Immunoconglutinin. Proses ini dilakukan dengan melakukan aglutinasi dari sejumlah kompleks kecil yang tertempel oleh C3, sehingga dapat dikenali oleh fagosit.
  • Inflamasi. Aktivasi sistem kompelemen akan mengakibatkan beberapa bentuk respons, misalnya adalah timbulnya inflamasi.
21. Jelaskan pengertian the cascade method of complement action?

  • Antibodi menempel dengan determinan dari antigen pada membran sel.
  • Komponen kompelemen C1 menempel pada antibodi. C1 mengenali antibodi dan mengaktifkan sistem.
  • Komponen C1 berikatan dengan C2 dan C4. Kompleks ini berikatan dengan permukaan sel dan melepaskan C-kinin. Proses ini diikuti dengan pembengkakan jaringan.
  • Kompleks C4 dan C2 memproduksi tryptic convertase yang mengaktivasi C3. C3 terbagi menjadi C3a dan C3b. C3b bergabung dengan C4b dan C2a untuk mengaktifkan permukaan sel.
  • C3 bergabung dengan sel mast dan menghasilkan histamine.
  • C3 yang menempel pada permukaan sel mengaktifkan C5, C6, dan C7 kemundian membentuk kompleks dan akan berfungsi untuk menarik sel darah merah sebanyak mungkin.
  • C8 dan C9 menyerang makromolekul dan mempercepat kerusakan sel melalui lisis.


22. Jelaskan hubungan reaksi antigen-antibodi dengan sistem komplemen?
Hubungan antara anigen-antibodi dengan system komplemen adalah: (1) hanya permukaan yang berikatan dengan antibody IgG dan IgM yang dapat mengaktifkan komplemen (activator komplemen); (2) sel B yang belum matang secara langsung mengikat partikel luar melalui rsesptor sel B yang mengenali antigen spesifik pada partikel, dan melalui CR2 mengenali C3d – ini adalah co-ligasi yang menstimulasi pematangan sel B yang selanjutnya akan bermigrasi ke organ limfoid; (3) organ limfoid akan menangkap antigen melalui fragmen C3 dan menggunakan hal ini untuk memilih aktivasi sel B yang benar dan mengubahnya ke pematangan dan proliferasi selanjutnya.

23. Bagaimana pembentukan komplemen dalam tubuh?
(a) Jalur klasik. Jalur ini diinisiasi oleh antibody yang terikat pada permukaan sel target (antigen). Kompleks imunnya mengandung IgM, IgG1, IgG2, dan IgG3. (b) Jalur alternatif. Jalur ini dijelaskan pada tahun 1950. Jalur ini menyediakan mekanisme antibody bebas untuk aktivasi komplemen pada permukaan patogen. Jadi pada system ini terlibat C3 dan faktor B, D, P, H, dan I yang akan berinteraksi di sekitar permukaan permukaan activator untuk membantuk jalur ini. (d) Jalur lectin. Jalur aktivasi komplemen ini diinisiasi oleh mannan binding lectin yang akan memotong jalur klasik.

24. Jelaskan sejarah istilah dari komplemen!
Jules J. Border merupakan orang yang pertama kali menemukan sistem kompelemen, tetapi baru dinamai kompelemen oleh Paul Eldrich. Sistem tersebut diberi nama kompelemen dikarenakan bekerja secara kompelementer dengan respons imun antibodi, setelah terjadi reaksi spesifik antigen-antibodi.

25. Sebutkan reaksi akhir dari aktivasi sistem komplemen!
Reaksi yang terjadi adalah proses rangkaian reaksi yang mengakibatkan peristiwa sitolisis tanpa adanya proses pengikatan terhadap antibodi. Hasil akhir dari aktivasi sistem kompelemen adalah penghancuran sel.

26. Bagaimana mekanisme kerja complement fixation test?
Pertama, serum diisolasi dalam hal ini serum dari Guinea-pig. Kemudian dalam serum diberikan antigen yang ingin diuji-cobakan (antigen of interest). Terakhir serum tersebut diberikan sel darah merah domba (Sheep red blood cells; sRBCs). Jika dalam serum terdapat antibodi terhadap antigen yang diberikan, maka pada saat antigen diberikan akan terbentuk kompleks antigen-antibodi dan menghabiskan complement protein sehingga tidak terjadi lisis pada sRBCs. Tetapi jika tidak ada antibodi terhadap antigen yang dimasukan, maka kompleks antibody-sRBCs akan dilisis oleh complement protein.


Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Penjelasan LENGKAP Reaksi Antigen-Antibodi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

1. Bagaimana metode reaksi antigen-antibodi secara in-vitro?
Reaksi antigen-antibodi secara in-vitro atau yang dikenal juga dengan metode serology adalah metode yang dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit dan untuk melakukan identifikasi serta kuantisasi dari suatu antigen dan antibodi.

2. Bagaimanakah caranya untuk menemukan titer antibodi di dalam serum?
Cara untuk menemukan titer antibodi di dalam serum dapat dilakukan dengan melakukan suatu pengukuran dengan antigen yang sudah diketahui. Titer tersebut dapat digunakan untuk melakukan diagnosa atau pre-diagnosa terhadap suatu penyakit. Misalnya saja peningkatan titer dari suatu antibodi pada plasma di bagian tertentu dapat menunjukkan adanya indikasi suatu penyakit.

3. Untuk apakah titer antibodi itu diketahui?
Titer antibodi perlu diketahui untuk keperluan melakukan diagnosa ataupun pra-diagnose suatu penyakit. Misalnya saja peningkatan titer dari suatu antibodi pada plasma di bagian tertentu dapat menunjukkan adanya indikasi suatu penyakit.

4. Hal-hal apakah yang memengaruhi ikatan antara antigen dengan antibodi?
Ikatan atara antigen dengan antibodi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan, pH, kadar garam, dan temperatur. pH memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan ikatan. Pada pH yang cenderung asam, ikatan antara antigen-antibodi cenderung lemah, sedangkan pada pH yang agak basa ikatan antara antigen dan antibodi cenderung lebih kuat. Temperatur juga memiliki peranan yang penting, terdapat temperature tertentu yang menjadikan interaksi antara antigen-antibodi menjadi lebih kuat.

5. Apakah agglutinin, lysinine, precipitations, dan antitoxins?
  • Aglutinin adalah antibodi yang dapat menggabungkan antigen selular menjadi gumpalan-gumpalan.
  • Lysinine adalah antibodi yang dapat mengakibatkan disolusi dari membrane sel.
  • Presipitin adalah antibodi yang dapat menghasilkan endapan dari antigen yang sudah terlarut.
  • Antitoxin adalah antibodi yang dapat menetralisasi toksin.

6. Untuk apakah reaksi aglutinasi itu?
Reaksi aglutinasi dilakukan untuk mendeteksi, mengkuantisasi, dan menghitung antigen seluler. Aglutinin merupakan antibodi yang menggumpalkan (aglutinasi) suatu antigen. Aglutinin bereaksi dengan antigen selular, seperti bakteri, sel darah putih, sel darah merah, dan semua antigen lain yang berbentuk sel.

7. Apakah yang dimaksud opsonisasi itu?
Opsonisasi adalah meningkatnya kemampuan suatu antigen untuk terfagositosis. Ketika sel asing berikatan dengan suatu antibodi yang sesuai, maka mereka akan terkumpul bersama-sama kemudian membesar sampai cukup besar untuk dibedakan.

8. Mengapa aglutinasi dapat timbul? berikanlah gambar skemanya!
Peristiwa aglutinasi timbul karena antibodi bersifat bivalen. Antibodi tersebut memiliki dua daerah penggabungan dengan antigen. Dua daerah perikatan antara antibodi dengan daerah ikatan yang banyak pada antigen akan menimbulkan kristalisasi, yang dapat mengakibatkan ukuran kompleks menjadi semakin membesar.



9. Bagaimana cara kita melihat ada tidaknya reaksi aglutinasi?
Aglutinasi dapat dilihat secara langsung pada tube reaksi antara antigen dan antibodi. Selain itu, proses aglutinasi juga dapat dilihat di slide mikroskop.

10. Apakah slide agglutination itu?
Pengamatan proses aglutinasi suatu antigen oleh antibodi dengan melihatnya menggunakan slide mikroskop. Slide yang mengandung bakteri dan serum antibodi akan terlihat seperti terdapat gumpalan-gumpalan.

11. Apakah widal test? Untuk apakah test tersebut?
Salah satu cara untuk melihat adanya reaksi aglutinasi adalah dengan melakukan uji Widal. Uji Widal biasanya digunakan untuk melakukan diagnose terhadap tifus. Pada tes ini, jumlah antibodi dalam serum pasien dihitung dengan menambahkan sejumlah antigen berupa bakteri Salmonella typhi ke dalam serum secara seri. Setelah diinkubasi beberapa waktu, tube reaksi kemudian diamati untuk melihat proses aglutinasi yang terjadi.

12. Bagaimanakah terjadinya hemolisis? Bagaimana bedanya dengan bakteriolisis?
Perisitwa terjadinya lisis umumnya disebabkan oleh karena adanya aktivitas suatu kompelemen. Aktivitas kompelemen mengakibatkan naiknya aktivitas esterase sehingga mengakibatkan kerusakan membrane sel antigen. Pada kasus sel darah merah, hal tersebut menyebabkan hemolisis. Hemolisis merupakan fenomena yang biasa ditemukan dalam compelement fixation test. Sama juga halnya dengan sel bakteri, pada kondisi tertentu juga dapat mengalami peristiwa immune lysis. Lysis yang seperti ini disebut juga bakteriolisis.

13. Ceritakanlah tentang precipitation secara lebih terperinci lagi, dan berikanlah gambar ‘curve precipitation’.
Presipitasi terjadi pada antigen yang terlarut. Ketika antigen yang terlarut mengalami kontak dengan antibodi yang spesifik, mereka mengalami agreagsi, sehingga akan terjadi pengendapan. Jika grafik diplotkan, perbandingan antara jumlah antigen dengan antibodi akan menghasilkan grafik sebagai berikut:



14. Apakah yang dimaksud zone of antibody excess dan apakah zone antigen excess serta apakah zone of equivalent?
  • Zone of antibody excess adalah kondisi ketika konsentrasi antigen sangat rendah dibandingkan jumlah antibodi. Dalam kondisi ini, proses pembentukan kompleks tetap terjadi, tetapi endapan tetap dalam jumlah sedikit dan terdapat pada supernatant.
  • Zone of equivalent adalah kondisi ketika konsentrasi antigen mulai meningkat dan mulai terbentuk endapan akibat terbentuknya Kristal oleh reaksi antigen dengan antibodi.
  • Zone of excess antigen adalah ketika jumlah antigen banyak tetapi antibodi sedikit. Akibatnya proses presipitasi tidak berjalan dengan sempurna. Pada kondisi tertentu, ini dapat menyebabkan penyakit pada manusia yang disebut dengan serum sickness.


15. Apakah pengertian pro-zone dan post-zone?
Pro-zone adalah daerah ketika konsentrasi antigen sangat rendah, sedangkan konsentrasi antibodi banyak yang akan membentuk formasi komplek, akan tetapi endapan antigen-antibodi tetap berada di supernatan dan presipitasi mulai meningkat. Post-zone adalah daerah dimana konsentrasi antigen sangat tinggi, sedangkan konsentrasi antibodi menurun (rendah) dan presipitasi menurun.

16. Dengan metode apa saja reaksi presipitasi dapat dilihat?
Proses presipitasi dapat diamati pada tabung reaksi melalui metode immuno diffusion. Ke dalam tube dimasukkan sejumlah antiserum dan antigen dimasukkan ke atasnya. Setelah beberapa waktu, akan terlihat lapisan seperti garis endapan pada permukaan reagen yang digunakan. Reaksi ini disebut juga ring test.

17. Apa saja perbedaan garis presipitasi yang terbentuk antara identity, nonidentity, dan parsial identity?
Nonidentity ditandai oleh garis pengendapan saling bersilangan. Partial identity ditandai dengan terbetnuknya spur formation, mengindikasikan adanya reaksi silang antigen. Pada reaksi identity, lapisan membentuk dua lapisan chevron.

18. Apakah perbedaan antara immune diffusion dengan immune electrophoresis, serta radial immune diffusion?
Immune diffusion adalah metode yang digunakan untuk memisahkan antigen dengan menggunakan presipitasi, sehingga memebentuk seperti lapisan cincin. Immune electrophoresis adalah pemisahan antigen yang tercampur secara kompleks dengan menggunakan elektroforesis. Radial immunodfiffusion merupakan variasi dari uji immunodiffusion yang dapat menghasilkan penghitungan jumlah antigen.

19. Apakah countor-immunoelectrophoresis itu?
Metode ini pertama kali digunakan untuk mendeteksi antigen hepatitits. Teknik countor-immunoelectrophoresis secara umum sangat mirip dengan metdoe difusi berganda, tetapi dengan menggunakan arus listrik yang lebih kuat. Arus listrik ini dapat mempercepat presipitasi antigen dan memperbesar daerah presipitasi sehingga mudah terlihat.

20. Apakah Schick test itu?
Schick test merupakan test yang digunakan untuk menguji keberadaan antibodi untuk toksin difteri. Pada kondisi ada antibodi, seharusnya tidak terjadi reaksi. Hasil test yang positif ditandai oleh tidak ditemukannya antibodi.

21. Apakah neutralization test itu?
Neutralization test adalah tes untuk mendetaksi antitoksin secara netralisasi in vitro. Contohnya adalah serum yang mengandung antitoksin dicampur dengan toksik secara in vitro. Kemudian setelah beberapa menit, campuran tersebut diinjeksikan kepada hewan percobaan, maka hewan tersebut akan mempunyai pertahanan terhadap efek toksik tersebut.

22. Apakah yang dimaksud VDRL? Apa kegunaan tes tersebut?
VDRL adalah Venereal Disease Research Laboratory. Tes tersebut bertujuan untuk diagnosis sifilis dengan menggunakan antigen heterophile yang merupakan gabungan antara antigen spirochete sifilis dengan antigen hati sapi.

23. Bagaimana cara melakukan flocculation test itu.
Flocculation test dilakukan dengan cara melakukan VDRL dengan menggunakan antigen heterophile yang merupakan gabungan antara antigen spirochete sifilis dengan antigen hati sapi. Antigen yang digunakan bersifat water-insoluble cardiolipin yang jika terdapat kehadiran substansi yang menyerupai antibodi pada serum dari penderita sifilis akan membentuk agregat-agregat. Tes flocculation test dapat dilakukan pada glass slide atau pada commercialy available cards melalui tes RPR (Rapid Plasma Reagin).

24. Buatlah gambar skematik serta jelaskan cara membuat radial-immunodiffusion, immuno-electrophoresis, dan counter-immunoelectrophoresis!
  • Radial-immunodiffusion. Dengan menggunakan agar-coated slide, agar tersebut digabungkan dengan antibodi. Jika sampel serum diletakkan pada well di agar maka sampel antibodi akan membentuk halo of precipitate yang akan berdifusi melalu agar dan encounter antibodi. Diameter dari halo of precipitate berkorelasi dengan konsentrasi antibodi pada sampel.
  • Immuno-electrophoresis. Antigen a dan serta antigen b dan c masing-masing ditaruh pada titik yang berbeda, tetapi sejajar satu sama lain. Kemudian melakukan elektroforesis selama 60 menit. Setelah itu diberikan antiserum terhadap antigen a,b, dan c. Setelah itu melakukan immunodifusi selama 24 jam pada suhu 24°C. Kemudian akan terjadi migrasi pada antigen.
  • Counter-immunoelectrophoresis. Antigen dan antibodi ditaruh pada well dan elektris telah dipersiapkan. Pada buffer yang cocok, maka antigen yang bermuatan negatif akan bergerak mengarah ke anoda, sedangkan antibodi tanpa muatan akan bergerak ke arah yang berlawanan.

Prosedur immuno-diffusion




Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Materi Antigen, Imunogen dan Imunisasi Lengkap

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Antigenicity and Immunization

1. Apa perbedaan dan persamaan Antigen dan Immunogen? 
Persamaannya: Antigen dan Immunogen merupakan materi yang dapat menginduksi respon imun.
Perbedaannya: Immunogen tidak dapat bereaksi dengan produk dari respon imun, sedangkan antigen dapat bereaksi dengan produk dari respon imun.

2. Apakah pengertian Antigenicity dan Immunogenicty?
Antigenicity adalah kemampuan suatu materi untuk bereaksi dengan produk dari respon imun. Immunogenicty adalah kemampuan suatu materi untuk menginduksi respon imun.

3. Ceritakan tentang sifat-sifat fisika suatu antigen!
  • Ukuran: Complete antigen (immunogen) biasanya mempunyai berat molekul yang besar. Immunogen alami juga dapat mempunyai berat molekul yang kecil, tetapi tetap berkemampuan menginduksi respon imun. Immunogen merupakan kompleks yang terbentuk dari molekul kecil (hapten) dan protein inang (pembawa). Situs pada antigen yang bereaksi dengan antibodi lebih kecil daripada situs yang menginduksi pembentukan antibodi. Informasi ukuran dan karakteristik area antigen yang bereaksi dengan antibodi (faktor antigenik) diperoleh dari penentuan kemampuan senyawa pada berat molekul yang rendah untuk menghambat reaksi antibodi dengan complete antigen. Molekul yang lebih besar biasanya tetap merupakan syarat untuk menginduksi respon imun dan penting untuk bereaksi secara sempurna dengan antibodi.
  • Bentuk: bentuk faktor antigen sangat penting. Komponen tertentu, seperti DNP pada DNP-L-lysine memberi bentuk pada molekul yang terbukti tidak ditemukan pada polimer homolog. Kopolimer dari dua asam amino termasuk immunogenik untuk beberapa spesies, sementara polimer dari tiga atau empat asam amino dibutuhkan oleh spesies lain. Adanya lebih dari satu asam amino pada polimer menghasilkan konfigurasi yang tidak tersedia pada polimer asam amino tunggal. Lokasi suatu struktur pada faktor antigen juga penting. Antibodi, pada beberapa kasus, dapat mengikat lebih kuat dengan struktur tertentu pada determinantnya daripada struktur lain. Pada beberapa kasus, antibodi dapat mengikat lebih kuat dengan struktur tertentu pada determinant dibandingkan struktur lain. Terminal alanin ditemukan bertanggung jawab terhadap sebagian besar pengikatan antibodi. Kelompok D-alanine pada kasus tersebut dinyatakan sebagai bagian immunodominant dari determinant.
  • Kekakuan: peranan kekakuan dan lokasi determinant dalam antigenicity dinyatakan oleh Sela mengenai perubahan dalam immunogenicity dan antigenicity gelatin dengan menambahkan poly- L-tyrosine pada tulang belakang gelatin. Gelatin, yang mempunyai berat molekul sangat besar, hampir semuanya bersifat nonimmunogenic. Penambahan 1% tyrosine meningkatkan immunogenicity dan antigenicity gelatin, dan spesifisitas antibodi dihasilkan langsung terhadap gelatin. Penambahan tyrosine terbukti membuat struktur gelatin lebih stabil atau kaku. Penambahan 3-10% tyrosine kepada gelatin tampak berpengaruh pada produksi antibodi dengan spesifisitas langsung terhadap tyrosine, yaitu seluruh aktivitas antibodi dapat dipindahkan oleh poly- L-tyrosine dan sama sekali bukan oleh gelatin.
  • Lokasi determinant: determinant antigenik yang penting kemungkinan terpisah dalam molekul besar dan dapat muncul pada molekul yang tidak tergulung. Denaturasi protein biasanya menurunkan atau menghancurkan immunogenicity dan antigenicity. Denaturasi sebagian dapat menyebabkan terbukanya konfigurasi molekular berbeda, memperlihatkan perubahan pada struktur tersier molekul berupa pembentukan determinant antigenik yang baru.
  • Struktur tersiernya: Struktur tersier protein (spatial folding) penting dalam menentukan spesifisitas respon antibodi. Antibodi menghasilkan rantai A insulin tidak beeaksi dengan molekul alami. Reduksi dan reoksidasi pada kondisi ribonuklease terkontrol menghasilkan campuran molekul protein berbeda hanya pada struktur tiga dimensi. Beberapa antisera untuk ribonuklease alami tidak reaktif terhadap molekul yang terdenaturasi; antisera lain untuk molekul alami bereaksi terhadap bentuk terdenaturasi. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa struktur tersier immunogen dikenali oleh sistem reaksi imunitas. Kehancuran immunogen belum akan terjadi sebelum dikenali oleh sel reaktif yang spesifik. Jika katabolisme terjadi, struktur tersier immunogen akan dihancurkan.
  • Katabolisme: aktivitas optikal antigen sintetik memberi kesan bahwa kemampuan untuk memecah atau menghancurkan antigen penting untuk induksi respon imun. Asam L-amino heteropolimer dapat dikatabolisme dan immunogenik, sementara asam D-amino heteropolimer tidak dapat dikatabolisme dan kurang immunogenik. Immunogenisitas polimer asam D-amino tergantung pada dosis. Kegagalan untuk mendeteksi respon terhadap rendahnya katabolisme D-isomer kemungkinan disebabkan seleksi dosis imunisasi yang tidak tepat. Antibodi yang terbentuk akibat immunogen yang katabolismenya kurang, kemungkinan sulit untuk bekerja karena halangan atau pengikatan oleh antibodi yang terbentuk pada serum masih mengandung antigen yang tidak mengalami katabolisme.

4. Ceritakan tentang imunisasi!
  • Sumber antigennya. Sumber antigen tergantung dari tujuan imunisasi tersebut. Individu dapat diimunisasi dengan agen infeksi yang telah mati atau ekstrak tidak beracun untuk respon imun protektif. Individu pada situasi eksperimental dapat diimunisasi dengan serum protein atau jaringan dari individu spesies yang sama ataupun berbeda, atau dengan materi hasil sintesis buatan, seperti polipeptida.
  • Persiapan antigen. Persiapan akhir dari antigen yang digunakan untuk imunisasi tergantung pada derajat spesifisitas yang diinginkan. Contoh: imunisasi untuk kelinci dengan seluruh limpa dari tikus menghasilkan antiserum yang bereaksi dengan macam-macam populasi sel dalam limpa (eritrosit, limfosit, makrofag) dan dengan sebanyak 30 protein plasma berbeda. Antiserum kelinci yang yang bereaksi dengan protein serum tikus dapat diperoleh dengan pemindahan elemen seluler secara hati-hati atau melalui imunisasi dengan serum tikus (plasma tikus yang tidak mengandung fibrin). Persiapan antigen yang mengandung hanya satu protein serum dapat diperoleh dengan sebagian kecil serum tikus. Sebagian kecil molekul antigenik dapat diselesaikan dengan menghancurkan molekul menjadi unit-unit yang lebih kecil dan antiserum yang bereaksi hanya dengan bagian molekul dapat diperoleh.
  • Bentuk antigen yang diberikan. Bentuk antigen yang diberikan dapat bervariasi. Protein serum dapat diberikan dalam bentuk yang dapat larut. Protein serum tersebut dapat dipresipitasi dengan tawas untuk mendapatkan respon antibodi yang lebih baik. Filtrasi satu inti secara intensif pada tempat injeksi diinduksi oleh injeksi antigen tergabung ke dalam emulsi dengan Freund’s adjuvant (minyak paraffin dan ”aquaphor”). Myobakteria juga ditambahkan ke dalamnya. Banyak variasi lain dapat digunakan untuk memodifikasi alam dan memperluas respon imun.
  • Rute/jalan masuk dalam imunisasi. Rute dalam imunisasi termasuk intradermal, subcutaneous, intramuscular, intraperitoneal, intravaskular, dan injeksi intrakranial, juga injeksi pada organ-organ. Imunisasi dapat dikerjakan melalui ingestion, pernafasan, penggunaan kulit, infusi rectal atau infusi intratracheal. Tipe datangnya respon imun tergantung pada rute yang digunakan. Rute-rute tersebut, yang menuju distribusi ke ruang pembuluh, biasanya menuju pembentukan antibodi humoral. Rute-rute yang menuju sekeliling jaringan limfoid (injeksi intradermal atau permukaan kulit) memimpin perkembangan sensitivitas selular. Inokulasi dalam organ sekresi eksternal, seperti kelenjar saliva, payudara atau mukosa hidung dapat menhasilkan produksi antibodi dari kelas immunoglobin yang berbeda (IgA) daripada yang dapat ditemukan setelah injeksi intramuscular (IgG).
  • Dosis antigen. Jumlah antigen yang diberikan sangat penting. Jumlah terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat menyebabkan hilangnya respon imun. Beberapa miligram antigen biasanya cukup untuk menginduksi respon imun. Jumlah yang lebih sedikit sebenarnya lebih efektif, tergantung pada asal antigen. Jika antiserum tertentu diinginkan, sejumlah kecil persiapan antigen harus digunakan. Penggunaan jumlah besar dapat menyebabkan sedikit kontaminasi dengan antigen yang tidak diinginkan, sehingga produksi antiserum akan memiliki banyak spesifisitas.
  • Interval antara imunisasi dan pengujian dideteksi. Antibodi dapat dideteksi dalam beberapa jam setelah imunisasi jika menggunakan teknik deteksi yang sangat sensitif. Akan tetapi, peredaran antibodi pada imunisasi yang terkontrol tidak muncul dalam jumlah nyata hingga 7--10 hari setelah imunisasi. Kelas immunoglobin dalam produksi antibodi juga dapat berubah seiring waktu. Antibodi awal cenderung kelas IgM, sementara antibodi yang terbentuk kemudian termasuk kelas IgG. Antibodi yang terbentuk kemudian dapat mengikat lebih kuat pada antigen daripada antibodi awal. Jumlah antibodi yang diproduksi biasanya mulai menurun setelah 3--5 minggu, sehingga analisis darah akhir memberikan titer antibodi yang lebih rendah.
  • Jumlah imunisasi yang diberikan. Jumlah antibodi yang terbentuk setelah injeksi antigen yang kedua (sekunder atau respon memori) biasanya jauh lebih banyak daripada yang terbentuk setelah satu kali injeksi (respon primer). Jika menginginkan titer antiserum yang banyak, rangkaian injeksi akan diberikan. Titer antibodi setelah tiga atau lebih injeksi kemungkinan lebih sedikit dibandingkan setelah hanya dua injeksi. Antibodi yang terbentuk setelah injeksi antigen kedua (penyokong) cenderung termasuk dalam kelas IgG dan lebih aktif (mengikat antigen lebih kuat) daripada antibodi yang terbentuk setelah injeksi pertama (kemungkinan kelas IgM). Setiap analisis darah hewan yang diimunisasi menghasilkan antibodi dengan titer yang berbeda, keaktifan yang berbeda, dan kemungkinan spesifisitas yang berbeda. Setiap sampel darah harus diuji secara terpisah untuk memastikan bahwa hasil yang didapat dari darah berbeda dapat dibandingkan.
  • Tipe prosedur uji yang dilakukan. Uji yang digunakan untuk deteksi antibodi berbeda nyata dalam kemampuan untuk mengukur aktivitas antibodi. Jika bakteri atau uji tahap netralisasi digunakan, sejumlah kecil antibodi dapat terdeteksi dalam beberapa jam imunisasi. Jika teknik difusi ganda dalam agar mengandung protein antigen yang dapat larut digunakan, jutaan antibodi diperlukan untuk mendeteksi yang terjadi. Antibodi dalam beberapa situasi dapat dideteksi secara in vivo (melalui tes kulit atau anaphylaxis), sementara hasil uji in vitro adalah negatif. Penemuan antibodi setelah imunisasi sangat tergantung pada uji yang digunakan untuk deteksi tersebut.
  • Susunan genetik pada respon hewan. Kemampuan untuk memberi respon imun dan tipe respon dihasilkan oleh beberapa antigen di bawah kontrol genetik.
  • Kondisi respon hewan. Variasi faktor yang mungkin mempengaruhi respon imun sangat banyak. Hewan dewasa muda yang sehat digunakan untuk mendapat hasil yang terbaik. Hewan yang terlalu muda atau terlalu tua tidak dapat bereaksi dengan baik terhadap antigen yang diberikan. Penyakit, agen immunosuppressive, dan makanan dapat mengubah reaksi imun.
  • Adanya produk bakterial pada campuran kekebalan. Bakteri atau produk bakteri ditambahkan pada antigen spesifik yang diketahui, seperti serum albumin yang dapat meningkatkan produksi antibodi berikutnya terhadap albumin. Mekanisme kerja agen yang menghasilkan peningkatan respon imun tidak diketahui, tetapi dipercaya bahwa agen tersebut tidak secara spesifik menyebabkan pengerahan lebih banyak sel pembentuk antibodi spesifik.

5. Apa yang dimaksud Antigenic Specificity?
  • Struktur kimia. Spesifisitas (kekhususan) antigenik dari immunogen sangat tepat jika langsung dihubungkan dengan struktur kimia yang dapat diuraikan. Kekhususan antibodi hasil dapat digunakan untuk menentukan sebagian struktur kimia molekul yang tidak diketahui. Heidelberg menghubungkan kekhususan antibodi dalam polisakarida pneumococcal tipe SII pada D-glukosa bergabung dalam 1, 4, 6-linkages. Heidelberg mereaksikan antisera anti-SII dengan glikogen, glikogen terbatas dekstran, dan amylopektin, semua yang mengandung 1, 4, 6 linkages, dan semua reaksi silang dengan antisera anti-SII. Struktur kimia yang tidak diketahui diprediksi dengan penemuan bahwa struktur tersebut bereaksi dengan anti-SII sera, dan analisis kimia kemudian menguji keberadaan 1, 4, 6- linkages yang tidak diketahui.
  • Kekhususan fungsional. Serum protein dengan aktivitas fungsional yang berbeda mempunyai kekhususan antigenik berbeda. Albumin, α-globulin, dan immunoglobulin dari spesies yang diberikan tidak mempunyai kekhususan antigenik. Albumin anti-human kelinci tidak bereaksi dengan immunoglobulin manusia, dan sebaliknya. Albumin dari spesies yang berbeda dapat mengandung determinant biasa. Albumin antihuman kelinci dapat bereaksi dengan albumin bovine. Jadi, serum protein yang menunjukkan fungsi serupa pada spesies berbeda mungkin berbagi kekhususan antigenik.
  • Kekhususan spesies. Albumin antihuman pada kelinci bereaksi lebih kuat dengan albumin manusia dibandingkan dengan albumin spesies lain. Albumin manusia dan serum protein manusia lainnya mengandung kekhususan antigenik unik untuk 
  • Allospesifisitas. Beberapa individu dari spesies berbeda mempunyai antigenik khusus yang tidak sama dengan individu lain dalam spesies yang sama. Kekhususan tersebut tergantung pada perbedaan kecil struktur. Contoh terbaik yaitu kekhususan kelompok darah ABO. Sel darah merah dari beberapa individu pada spesies manusia memiliki kekhususan antigenik secara umum, sementara sel darah merah individu lain mempunyai kekhususan antigenik yang berbeda. Usaha untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan antigen allospesifik dalam jaringan solid penting bagi kemajuan transplantasi jaringan manusia.
  • Spesifisitas heterogenik. Spesifisitas antigenik yang identik terkadang ditemukan dalam jaringan spesies yang berbeda tanpa diketahui alasannya. Contoh klasik yaitu Forssman antigen. Antibodi anti-Forssman dihasilkan dari injeksi


Antigen

1. Apakah pengertian antigen? Berikanlah definisi yang tepat!
Antigen adalah substansi yang menstimulasi respon imun atau pembentukan antibodi saat introduksi ke dalam inang.

2. Apakah yang dimaksud dengan Autologous antigen, Homologous antigen, dan Heterologous antigen?
Autologous antigen adalah antigen yang diperoleh dari individu yang sama yang merupakan inang antigen. Homologous antigen adalah antigen yang diperoleh dari individu lain yang jenisnya sama. Heterologous antigen adalah antigen yang diperoleh dari individu yang beda jenis.

3. Apakah yang dimaksud dengan antigen bersifat multivalen dan antibodi bersifat bivalen?
Multivalen berarti antigen tersebut memiliki beberapa bilangan valensi. Bivalen berarti antibodi tersebut memiliki dua bilangan valensi.

4. Faktor-faktor apa sajakah yang menentukan struktur suatu antigen?
Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur antigen adalah sekuen rantai asam amino pada rantai peptida, ikatan dari rantai tersebut, dan konfigurasi molekul antigen.

5. Apakah yang dimaksud dengan antigenic determinant suatu molekul antigen?
Determinant adalah kemampuan dari permukaan molekul antigen untuk bertanggung jawab atas kombinasi spesifik dengan antibodi.

6. Apakah complete antigen dan incomplete antigen?
Complete antigen adalah antigen yang dapat menimbulkan respon imun dan dapat bereaksi dengan produk hasil respon. Incomplete antigen adalah substansi kimia aktif dengan berat molekul kecil yang tidak dapat menimbulkan respon imun tetapi dapat berikatan dengan molekul yang lebih besar sehingga timbul sifat imunogenic.

7. Apakah yang dimaksud tentang Hapten dan Carrier Hapten Complex! Apakah keguanaan Carrier protein itu? Berikanlah contoh-contoh tentang efek suatu hapten dalam kehidupan sehari-hari!
Hapten adalah struktur kimia sederhana dari antigen yang belum sempurna. Carrier hapten complex adalah suatu protein yang dapat berikatan dengan hapten. Carrier tersebut berfungsi untuk menstimulasi terbentuknya antibodi. Contohnya hapten berupa asam arsenilik dengan carrier protein bovine serum albumin, berpasangannya hapten dan carrier tersebut menimbulkan antibodi.

8. Apakah yang dimaksud dengan hapten merupakan univalen antigen! Bagaimana efeknya bila bereaksi dengan antibodi? Apa bedanya dengan reaksi antara antigen (multivalen) dengan antibodi?
Hapten merupakan univalen antigen berarti hanya memiliki satu bilangan valensi, jadi hanya dapat berikatan secara spesifik. Hapten yang bersifat univalent antigen, jika berhubungan dengan pasangan antibodi, soluble antigen-anibodi terbentuk. Multivalen dapat berikatan lebih bebas daripada univalen.

9. Apakah yang dimaksud dengan simple hapten dan complex hapten?
Simple hapten adalah struktur kimia sederhana yang merupakan antigen yang belum lengkap. Complex hapten adalah hapten dengan struktur lebih komplek, contoh lipid dan asam nukleat.

10. Apakah cojugated antigen itu?
Cojugated antigen adalah peristiwa berpasangan hapten dan serum yang memproduksi senyawa kimia yang menimbulkan antigenic specificity baru atau berbeda.

11. Apakah Van der Waals Forces itu?
Van der Waals Forces adalah interaksi atau atraksi molekular yang berfungsi untuk mengikat molekul antigen dan antibodi secara bersamaan.

12. Ceritakan tentang simple chemicals dalam menimbulkan reaksi hipersensitivitas (alergi) dalam tubuh.!
Simple chemicals dalam menimbulkan reaksi hipersensitivitas (alergi) dalam tubuh merupakan model untuk tipe sensitivitas immediate dan delayed. Simple chemicals adalah substansi yang mempunyai berat molekul ringan (500-1000). Kulit merupakan rute terbaik untuk menginduksi sensitivitas terhadap simple chemicals. Hal tersebut dikarenakan penyerapan oleh kulit lambat atau sifat antigenitas yang dipengaruhi oleh kombinasi antigen dengan lipid kulit yang mirip dengan adjuvant. Peninjeksian simple chemicals didaerah kulit dapat menyebabkan reaksi radang. Contoh zat yang dapat mensintesis produksi antibodi kulit adalah penisilin, sulfonamid, kloramin-T dan phthalic anhidrat. Reaksi immediate menunjukkan bahwa simple chemicals dapat berikatan dengan asam amino secara in vivo yang kemudian berubah menjadi bersifat antigenik. Sensitivitas anaphylatik dapat terjadi karena adanya injeksi simple chemicals secara berulang kali diintrakutaneus yang dipengaruhi oleh kemampuan unuk membuat protein terkonjugasi yang dapat membentuk antibodi. Respon antibodi terjadi jika terdapat pembawa (carrier) protein autologus, homologus, atau heterologus.

13. Apakah adjuvants itu? dan ceritakan seluk beluk tentang zat ini!
Adjuvants adalah substansi yang jika ditambahkan kepada antigen dapat meningkatkan kualitas antigenik. Produksi antibodi ditingkatkan oleh radang didaerah yang diinjeksikan antigen. Injeksi tersebut berupa cairan antigen yang diemulsikan oleh minyak dengan mycobakteria hidup (complete adjuvant) atau tanpa mycobakteria hidup (incomplete adjuvant) yang dapat meningkatkan sensitifitas dan respon imun. Pencampuran antigen dengan mineral oil (sebagai adjuvant) dapat meningkatkan sintesis antibodi.

14. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi antigenitas suatu molekul antigen?
Faktor-faktor yang mempengaruhi antigenitas suatu molekul antigen antara lain adalah ukuran, berat, bentuk, konfigurasi molekul, jumlah titik reaktif dipermukaan, dan derajat solubilitas:
  • Ukuran, semakin besar molekul antigen maka semakin tinggi frekuensi antigenitasnya. Molekul antigen kecil merupakan antigen yang lemah. Antigen dapat menjadi lebih potensial jika diabsorbsi dalam partikel inert besar seperti collodion.
  • Konfigurasi molekul, konfigurasi molekul antigen cocok dengan bagian komplementer dari antibodi.
  • Titik reaktif, sebagian antigen dapat bekerja secara efisien jika bersifat intravenously (masuk pembuluh darah vena) dan sebagian lagi bekerja efisien jika bersifat subcutaneously (dibawah kulit). Absorbsi rendah antigen dapat menyebabkan produksi titer antibodi menjadi tinggi. Oleh karena itu rute intradermal lebih efektif pada banyak antigen.
  • Dosis antigen dan sifat fisiknya, antigenitas meningkat jika antigen dikombinasikan dengan garam alumunium atau alumunium hidroksida. Campuran antara antigen dengan molekul lain lebih efektif dibandingkan antigen yang bekerja sendiri Contohnya adalah vaksin influenza water-in-oil¬ dapat memproduksi titer antibodi yang lebih tinggi daripada vaksin dalam suspensi cair.

15. Apakah yang dimaksud dengan biologically related antigen?
Antibodi yang distimulasi oleh biologically related antigen akan menyebabkan reaksi silang. Contohnya terjadi antara horse serum dengan horse dander dan reaksi silang antara antigen botanikal seperti kol dan cauliflower. Contoh lainnya adalah horse serum dapat bereaksi pada guinea pig, tetapi tidak bereaksi terhadap kuda itu sendiri. Serum albumin dan globulin dapat bereaksi silang secara signifikan.

16. Apa yang dimaksud dengan species-spesific antigen dan organ-spesific antigen?
Species-spesific antigen berarti setiap spesies mempunyai kesensitifan tersendiri terhadap antigen. Contohnya adalah hewan yang sensitif terhadap horse serum, tidak sensitif terhadap serum dari spesies lain. Hal tersebut dikarenakan komposisi kimia dari horse serum berbeda dengan serum dari anjing dan lain-lain. Oleh karena itu pasien yang alergi terhadap produk biologi seperti insulin dapat mengambil insulin dari spesies berbeda. Dilain pihak, terdapat kesamaan antara struktur protein dari organ yang diambil dari spesies berbeda yang secara antigenikal sama. Contohnya adalah protein lensa pada kelinci sama pada spesies lain. Hal tersebut dinamakan organ-spesific antigen. Terdapat 30% reaksi silang antara manusia dengan bovine gamma globulin dan antisera terhadap manusia dengan bovine globulin.

17. Apakah yang dimaksud dengan heterophile antigen?
Heterophile antigen adalah antigen yang tidak spesies-spesific. Contohnya adalah antigen alfa dan beta protein lensa kristalin yang sangat spesifik tiap spesies. Contoh lainnya adalah antigen organ dan jaringan dan Forssman. Terdapat 3 heterophile antigen yaitu Forssman, infeksi mononukleosis, dan serum disease antigen. Forssman dapat diisolasi dari eritrosit kambing sedangkan infeksi mononukleosis dan serum disease antigen dapat ditemukan pada sel ox (sejenis banteng).

18. Apakah yang dimaksud dengan cross reactivity atau reaksi silang dalam imunologi?
Area reaktif pada permukaan molekul antigen bersifat identik secara spasial maupun secara elektrikal dengan molekul antigen lainnya. Hal tersebut menyebabkan antibodi yang diproduksi terhadap antigen pertama bereaksi dengan antigen kedua atau melakukan reaksi silang. Contohnya adalah ovalbumin bebek bereaksi silang dengan ovalbumin ayam dan cauliflower bereaksi silang dengan kol.

19. Ceritakan tentang nasib (fate) suatu antigen dalam tubuh!
Antigen dapat dilabeli dengan feritin, yang dapat dikenali dalam jaringan dengan menggunakan mikroskop elektron. Antigen juga dapat dilabeli dengan iodin sehingga kehadirannya dalam jaringan dapat dideteksi oleh dengan autoradiografi. Antigen dapat berada dalam tubuh selama 4 bulan atau tahunan. Kadang-kadang antigen muncul dijaringan dalam keadaan terdegradasi, tetapi tetap mempunyai kespesifitasannya. Nasib dari antigen dapat ditentukan dengan derajat eliminasinya yaitu dengan dideteksi dengan teknik precipitin dan complement-fixation test. Awalnya antigen secara umum didistribusikan ke jaringan-jaringan, kemudian antigen menghilang secara perlahan dan dikatabolisme. Setelah itu terjadi eliminasi antigen dan secara bersamaan muncul antibodi didalam sirkulasi. Eliminasi dihitung dengan cara persatuan antara kompleks antigen-antibodi dan penghilangan komplek antigen-antibodi didalam sirkulasi. Antibodi dapat dideteksi didalam sirkulasi dan dikatabolisme. Metabolisme antigen dan antibodi berhubungan dengan respon imun. Antigen dapat menyebabkan respon anamnestik kemudian disusul dengan produksi antibodi.


Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.