Showing posts with label Transportasi. Show all posts
Showing posts with label Transportasi. Show all posts

Saturday, 10 October 2026

Mini Guide to Australia

Suasana Sydney Opera House di malam hari
Jalan-jalan ke Australia enaknya ke mana ya? Kalimat tersebut sering di-google orang dan akhirnya mendarat di blog ini. Yang baru pertama kali wisata ke Australia biasanya juga bingung merancang itinerary, kota mana saja yang layak dikunjungi, apakah waktu dan budget cukup untuk destinasi tersebut. Saya juga sering ditanya sebaiknya naik moda transportasi apa dari kota satu ke kota lainnya. Apakah naik kereta lebih ekonomis daripada naik pesawat? Sering kali tidak. Apakah dari Perth ke Sydney bisa ditempuh dengan bis? Bisa, tapi lamaaaa banget :)

Yang perlu dicatat, Australia itu besar banget. Bahkan merupakan benua tersendiri. Seringkali, karena jatah liburan terbatas, kita harus pandai-pandai memilih destinasi. Biasanya destinasi akan tergantung anggaran dan lama liburan. Untuk memudahkan, saya akan membagi destinasi Australia menjadi kota-kota di pantai Timur dan kota-kota di pantai Barat. Budget penginapan, transportasi dalam kota, makanan dan atraksi di kota-kota ini kurang lebih sama, yang membedakan adalah harga tiket pesawatnya. Tujuan di pantai Barat seperti Darwin dan Perth bisa menghemat biaya pesawat daripada tujuan di pantai Timur: Brisbane, Gold Coast, Sydney dan Melbourne. Sebagai contoh, selisih harga tiket pesawat Garuda pp tujuan Perth dibandingkan tujuan Brisbane/Sydney/Melbourne bisa mencapai USD 75 - 150 per orang. Begitu juga tarif Air Asia, selisih tiket tujuan Darwin dan Sydney sampai sekitar Rp 1,5 juta.

Kota-kota di Australia
Pantai Barat
Darwin dan Perth relatif lebih dekat dari Indonesia daripada kota-kota di pantai Timur. Tapi dua kota ini, terutama Darwin, belum menjadi tujuan wisata yang populer di Australia.

Darwin bisa dicapai dalam 2 jam 45 menit dengan pesawat dari Denpasar. Dua maskapai yang melayani jalur ini adalah Air Asia dan Jetstar. Harga normal tiket DPS - DRW pp Air Asia mulai Rp 3.350.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.200.000. Kalau bisa mendapatkan tiket di bawah harga tersebut, berarti cukup murah. Bulan Juni tahun 2012 kami terbang dengan Jetstar dari Darwin ke Denpasar dengan tiket seharga AUD 99, di bawah 1 juta rupiah.

Apa yang bisa dilihat di Darwin? Banyak. Pengalaman kami yang paling berkesan adalah mengunjungi Aquascene, memberi makan ratusan ekor ikan liar di tepi laut. Sorenya kami jalan-jalan di Mindil beach market sekaligus menyaksikan matahari terbenam. Sunset di pantai Mindil ini, sampai saat ini adalah sunset paling spektakuler yang pernah saya nikmati. Dari Darwin, kita juga bisa day trip ke Litchfield National Park yang punya banyak air terjun dan billabong bening untuk berenang. Bagi yang suka berpetualang (seperti kami), ajak anak-anak mengunjungi Kakadu National Park, 3 jam bermobil dari Darwin. Di sana, kami ikut Yellow Water cruise menyusuri sungai dan menyaksikan beragam margasatwa (termasuk buaya!) langsung di habitatnya. Rasanya seperti melakukan sendiri ekspedisi NatGeo :)

Perth, tujuan yang lebih populer bagi orang Indonesia, bisa dicapai 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Maskapai yang melayani rute ini adalah Garuda Indonesia, Air Asia, Jetstar dan Virgin Australia. Tarif Early Bird Garuda pp dari Jakarta ke Perth mulai USD 588, sementara dari DPS ke Perth mulai USD 503. Kalau ingin menghemat anggaran tiket pesawat, pilihlah budget airline. DPS - PER pp Air Asia mulai Rp 3.700.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.350.000. Pengen lebih murah lagi? Berlanggananlah nawala (newsletter) dari masing-masing airline dan tunggu harga promo :)

Kami pernah naik Garuda dari Surabaya ke Perth via Denpasar. Harganya memang lebih mahal daripada naik budget airline, tapi waktu itu saya lebih mementingkan kenyamanan karena kami hanya pergi bertiga dengan Precils, tanpa Si Ayah.

Apa yang bisa dilihat di Perth? Banyak banget. Tapi karena waktu kami terbatas, kami cuma sempat mengunjungi pusat kota dan: 1) Kings Park, taman yang asyik banget untuk piknik dan bisa melihat kota Perth dari atas; 2) Fremantle, kota lawas dengan dermaga cantik; 3) Art Gallery, untuk melihat koleksi Picasso dan Warhol. Saya agak menyesal belum sempat ke Cottesloe beach yang kabarnya punya sunset cantik itu.

Kota Perth dan Darwin ini lebih dekat ke Denpasar daripada ke Sydney. Jadi maklum saja kalau orang-orang Perth atau Darwin lebih sering liburan ke Bali daripada ke kota-kota di pantai timur. Dari Darwin ke Sydney perlu waktu 4 jam 45 menit naik pesawat. Jangan dibayangkan berapa lama kalau jalan darat :p Dari Perth ke Sydney, lama penerbangannya 4 jam 5 menit. Saya dan precils pernah naik Qantas PER - SYD dengan tiket promo one way AUD 199. Kota 'terdekat' dari Perth adalah Adelaide, jaraknya 2793 km. Kalau satu hari cuma sanggup menyetir 5 jam, perjalanan Perth - Adelaide baru selesai dalam enam hari. Kami sendiri, hanya sanggup melakukan road trip dari Adelaide ke Melbourne via Kangaroo Island dengan total jarak tempuh 1500 km. Inipun kami tempuh selama sembilan hari :)

Sunset di dermaga Fremantle, Perth
Spectacular sunset at Mindil Beach, Darwin
Pantai Timur 
Banyak maskapai penerbangan yang menghubungkan kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di pantai Timur Australia, baik secara langsung atau transit di KL atau Singapore. Garuda Indonesia mempunyai direct flight dari Jakarta atau Denpasar ke Sydney, Melbourne dan rute terbaru Brisbane. Dua budget airline asal Aussie, Jetstar dan Virgin Australia juga mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar ke Sydney dan Melbourne. Virgin juga melayani rute DPS - BNE. Tapi hati-hati, meskipun memproklamirkan diri sebagai budget airline, tiket regular mereka kadang tidak lebih murah daripada Early Bird Garuda. Jadi, kalau tidak dapat tiket promo Jetstar atau Virgin, mending naik Garuda. Ingat ya, selalu cek harga toko maskapai sebelah :p

Tiket Early Bird Garuda untuk penerbangan empat bulan sebelumnya cukup murah untuk ukuran penerbangan reguler, termasuk makan dan bagasi. Ini catatan saya ketika menulis postingan ini (Juli 2013). Tiket Garuda Indonesia pp ke Brisbane dari Jakarta USD 694, dari Denpasar USD 573. Tiket ke Melbourne pp dari Jakarta USD 700, dari Denpasar USD 629. Tiket ke Sydney dari Jakarta USD 728, dari Denpasar USD 657. 

Bagaimana dengan Air Asia? Kalau bisa mendapatkan tiket promonya, memang lebih murah daripada Garuda. Air Asia mempunyai rute penerbangan dari kota-kota di Indonesia menuju Gold Coast, Sydney dan Melbourne, dengan transit di Kuala Lumpur. Ini harga tiket normal Air Asia untuk penerbangan pp dari Jakarta low season, ke Melbourne mulai Rp 4.100.000, ke Sydney mulai Rp 4.850.000, ke Gold Coast mulai Rp 5.000.000.

Saya punya banyak pengalaman memesankan tiket untuk ortu dan mertua yang ingin berkunjung ke Sydney. Januari tahun 2013 ini, mertua mendapat tiket SUB - SYD pp sekitar USD 600 per orang. Januari tahun 2012, mertua saya termasuk penumpang pesawat Air Asia pertama yang mendarat di Sydney, harga tiket pp SUB - SYD sekitar 5,5 juta rupiah per orang. September 2011 adalah rekor saya memesan tiket termurah, Surabaya - Gold Coast pp hanya Rp 3,5 juta per orang. Sayangnya, tarif segini sepertinya jarang terulang lagi.

Dari Brisbane ke Gold Coast, kita bisa naik kereta selama 1 jam. Dari Gold Coast ke Sydney, jaraknya sekitar 1000km, bisa ditempuh dengan road trip, seperti yang pernah kami lakukan, selama total 12 jam perjalanan. Saya dan precils juga pernah naik kereta dari Sydney ke Brisbane dan sebaliknya, selama 14 jam. Waktu itu saya mau menempuh 14 jam perjalanan itu karena ada promo tiket kereta untuk anak-anak hanya $1. Kalau dihitung-hitung, total biaya perjalanan lebih murah daripada tiket pesawat. Tapi kalau tidak ada promo, lebih baik saya keluarkan tambahan sedikit untuk membeli tiket pesawat Sydney - Brisbane dan cukup terbang satu setengah jam.

Jarak dari Sydney ke Melbourne juga sekitar 1000 km dan bisa ditempuh dengan mobil selama total 12 jam. Kalau memang tidak ingin mampir-mampir, lebih baik naik pesawat dengan lama penerbangan hanya 1 jam 20 menit. Tiket pesawat dari Melbourne ke Sydney dan sebaliknya cukup murah, pilihannya juga banyak. Untuk membandingkan harga tiket pesawat domestik Australia, gunakan website Webjet. Sebenarnya ada juga kereta dari Sydney ke Melbourne, dari perusahaan yang sama yang melayani rute Sydney - Brisbane. Cek tarif dan lama perjalanan kereta di website mereka: Countrylink.

Biasanya, yang liburan membawa anak kecil akan menyertakan Gold Coast dalam itinerary mereka. Nggak heran sih, karena Gold Coast dengan Theme Park-nya memang tempat bersenang-senang. Plus, garis pantai yang panjang dan suhu yang relatif hangat menjadikan kota ini destinasi idaman. 

Tapi, jangan tanya ke saya, mending pilih Sydney atau Melbourne? Jawabannya bakalan subyektif karena saya telanjur cinta sama kampung halaman asuh (adopted hometown) saya ini. Sydney punya harbour keren dan pantai-pantai cantik. Melbourne punya sungai Yarra dan lorong-lorong unik. Sydney punya feri, Melbourne punya trem. Sydney is beautiful, Melbourne is charming. Kalau ragu, mending kunjungi dua-duanya :)


Surfer Paradise, Gold Coast
Bathing boxes at Melbourne

Bagaimana dengan kota-kota lain yang belum saya sebutkan di atas? 
Canberra, ibukota Australia ini tidak mempunyai penerbangan langsung dari kota-kota di Indonesia. Sebaiknya destinasi ini digabung dengan kota Sydney, bisa dicapai 3 jam naik mobil/coach. Waktu terbaik mengunjungi Canberra adalah musim semi, ketika ada festival bunga Floriade. Selain itu, tujuan Canberra ini bisa digabung kalau ada yang ingin bermain salju di Snowy Mountain. Resort salju ini bisa dicapai 6 jam dengan mobil dari Sydney, atau 3 jam dari Canberra.

Kota Adelaide mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar, dioperasikan oleh Virgin Australia. Biasanya keluarga Indonesia mengunjungi kota ini kalau ada teman atau saudara yang kebetulan tinggal atau kuliah di sana. Kami sempat singgah di kota yang sepi dan tenang ini ketika memulai road trip dengan campervan menuju Melbourne. Kami terbang dari Sydney ke Adelaide dengan Jetstar (2 jam 10 menit) dengan tiket seharga AUD 125 (dengan bagasi) one way. Adelaide juga menjadi kota transit untuk mengunjungi Kangaroo Island. 

Bagaimana dengan Tasmania? Saya menyebutnya sebagai destinasi istimewa. Pulau yang terpisah dari daratan Australia ini alamnya paling indah dibandingkan destinasi lain di Australia. Pulau ini juga paling cocok untuk road trip atau campervanning. Jalan-jalan ke Tasmania bisa digabung dengan destinasi Melbourne. Dari Melbourne, kita bisa naik pesawat ke Hobart (1 jam 15 menit, mulai AUD 40 one way) atau Launceston (1 jam 5 menit, mulai AUD 39 one way). Tiket pesawat ke dua kota ini lebih murah daripada tiket feri plus kabin dari Melbourne ke dermaga Devonport. Di Tasmania, kami sempat mengunjungi Pabrik Cadbury di Hobart, makan fish n chips terenak (versi the Emak) di warung apung dan trekking di Cradle Mountain National Park.


The Precils family at Cradle Mountain National Park
Sudah cukup jelas anak-anak? Hehe... Yuk, kerjakan PR, bikin rancangan itinerary dan budget sendiri :)

~ The Emak


Quick Links:
The Precils di Sydney
The Precils di Melbourne
The Precils di Canberra
The Precils di Brisbane
The Precils di Gold Coast
The Precils di Hobart
The Precils di Darwin
The Precils di Perth
The Precils di Adelaide


Tip Mengajukan Visa Aussie 
Aturan Custom Aussie
Mencari Pesawat Murah ke Aussie
Menyewa dan Menyetir Mobil di Aussie
Campervanning di Aussie

Changi Airport, Terbaik di Dunia?


Kami baru menginjakkan kaki ke belasan bandara sih, dan masih terbatas ke empat negara. Jadi penilaian tentang Changi ini sangat subyektif berdasar pengalaman kami. Tapi sejauh ini, bandara Changi sudah berhasil mencuri hati kami sebagai bandara terbaik. Pelayanan dan kenyamanan di Changi melampaui standar bandara-bandara di Australia dan New Zealand.

Kelelahan karena proses cek in Jetstar di bandara Juanda, kami berempat tertidur di pesawat sampai hampir mendarat. Dari balik kaca jendela, saya melihat langit Singapura yang keruh akibat hadiah kiriman asap dari Riau. Tetangga yang baik. Meski psi reading menunjukkan kualitas udara semakin membaik, saya tetap was was kalau kabut asap ini naik lagi dan memaksa kami memilih tempat wisata indoor saja.

Mendarat dengan mulus, saya segera move on dari kekesalan layanan cek in Jetstar dan menikmati kenyamanan Changi. Meski jarak dari pesawat landing menuju layanan imigrasi cukup jauh, anak-anak (dan Emaknya) tidak rewel karena ada travelator. Little A dan Big A ketawa ketiwi dan malah balapan menuju imigrasi. 


Imigrasi dan Custom
Sebelum melewati imigrasi, kita diminta mengisi kartu kedatangan dulu, yang tersedia banyak di meja layanan sebelum loket imigrasi. Ada petugas yang bisa berbahasa Melayu yang akan membantu kita mengisi kalau ada pertanyaan yang belum jelas. Tapi isiannya mudah kok: identitas diri sesuai paspor, alamat (penginapan) yang dituju dan tujuan datang ke Singapura. Kartu kedatangan ini kita selipkan ke paspor untuk diperiksa petugas imigrasi. Saya salut dengan layanan Changi yang membuka banyak sekali loket imigrasi sehingga tidak terjadi antrean panjang. Waktu paspor dan kartu kami diperiksa, petugas tidak menanyakan apa-apa dan langsung memberikan cap kedatangan. Yay! resmi masuk Singapura, negara keempat di paspor Precils. Petugas juga memberikan potongan dari kartu kedatangan untuk kita serahkan lagi di petugas imigrasi ketika kita keluar dari Singapura nantinya. Kalau sampai potongan kecil ini hilang, repot urusannya.

Btw, yang belum tahu, pemegang paspor Indonesia TIDAK memerlukan visa (izin masuk suatu negara) ketika berkunjung ke Singapore. Jadi tinggal bawa paspor yang masih berlaku minimal enam bulan.

Custom Singapura juga tidak seribet di Aussie dan NZ. Kami lenggang kangkung tidak perlu declare (diperiksa) apa-apa karena nggak bawa barang-barang berbahaya. Kami juga tidak bawa uang setara atau lebih dari SGD 30.000, jadi aman-aman saja tidak perlu lapor.

Kami tidak membawa koper yang masuk bagasi, jadi tidak perlu menunggu antrean ambil bagasi yang letaknya setelah pintu imigrasi dan sebelum custom. Sekarang tinggal cari cara menuju hotel.

Dari dan Ke Bandara
Kebingungan diawali setelah kami melewati custom. Saat itu kami belum memutuskan mau naik bis atau MRT menuju hotel. Taksi ($21) atau airport shuttle ($9 dewasa, $6 anak-anak) bukan pilihan, karena kami pengen yang lebih murah. Setelah sempat nyasar dan tidak menemukan halte bis, kami memutuskan naik MRT. Nah, bodohnya, saya tidak tahu kalau stasiun MRT ada di Terminal 3 Changi, dan bukan di Terminal 1. Dari terminal 1, kami harus naik Skytrain (gratis) ke Terminal 3. Setelah itu, baru deh ketemu stasiun MRT yang akan membawa kami ke kota.

Di Singapore ada website ajaib banget untuk mencari rute dan memberikan alternatif transportasi, plus besaran biayanya. Coba cek gothere.sg. Saya berkali-kali menggunakan website ini untuk merencanakan perjalanan, naik MRT atau bis jalur mana. 

Di stasiun MRT di dalam Terminal 3 Changi, saya membeli kartu Ez Link seharga $12 per orang. Little A masih gratis karena tingginya pas banget 90 cm. Di atas itu harus bayar sendiri. Kartu ini bisa untuk naik bis dan MRT. Cara pakainya tinggal disentuhkan ke card reader di gerbang stasiun atau yang terpasang di bis kota, setiap kali naik dan turun. Nanti si kartu pintar ini akan menghitung dan mengambil sendiri ongkos yang diperlukan.

Harus ganti jalur MRT dua kali dan jalan kaki 15 menit menuju hotel membuat kami kelelahan dan terkapar begitu membuka kamar Novotel. Begitulah harga yang dibayar kalau mau ngirit, hehe. Tapi gakpapa juga sih, bonus pengalaman.



Ternyata pengalaman kami naik MRT dari bandara Changi tidak membuat kami kapok ketika kembali lagi ke sana setelah selesai jalan-jalan. Untungnya kali ini kami tidak perlu berganti stasiun, jadi perjalanan cukup mulus sampai di Terminal 3. Sisa uang di kartu Ez Link dapat ditukarkan kembali di stasiun MRT di terminal 3 ini. Jadi tidak rugi kalau isi ulang kita terlalu banyak. Kartu Ez Link-nya bisa kita simpan sebagai souvenir :)

Cek In, Shopping & Boarding
Proses cek in Jetstar di Changi sangat cepat, tanpa antre. Boarding pass juga dicetak, tidak ditulis tangan :p Setelah beres cek in dan imigrasi, kami menunggu boarding sambil mengagumi instalasi seni, taman dan Social Tree yang cukup menghibur. Di Social Tree, kita bisa foto-foto narsis, dihias dan diunggah ke social media. Little A dan Si Ayah sempat bernarsis ria nampang di Social Tree. Sementara Big A sudah tidak bisa diganggu gugat kalau sudah membaca buku.

Kami sempat makan early lunch di food court. Nasi lemak dan nasi ayam yang yummy membuat saya hampir lupa kalau belum membeli 'oleh-oleh' untuk tetangga. Duh, kebiasaan selama ini nggak pernah beli apa-apa untuk tetangga selama jalan-jalan di Oz dan NZ. Begitu jadi penduduk Indonesia, rasanya kok nggak nyaman kalau ketahuan jalan-jalan tapi gak bawain apa-apa. 

Karena waktu boarding sudah mepet, saya buru-buru membeli cokelat di The Cocoa Tree. Anak-anak dan Si Ayah saya suruh berlari duluan menuju gate. Saya menyusul kemudian. Menuju gate, sudah ada tulisan berjalan: boarding closed. Ini membuat Big A panik sekali. Ketika sampai di depan gate, ternyata kami termasuk yang pertama boarding. Tapi memang tulisannya: boarding closed. Hmm.. mungkin agar penumpang di sini cepat datang dan tidak nyangkut di tempat belanja? 

Ketika melewati security check, gadget kami (laptop, iPad, handphone) harus dilewatkan X-Ray satu persatu dan diberi kupon, tapi tidak sampai diperiksa apa-apa. Petugas menyilakan penumpang yang membawa anak-anak untuk boarding terlebih dahulu. Senang kalau ada layanan seperti ini, tidak perlu 'rebutan' jalan dengan penumpang yang pengennya masuk pesawat duluan, padahal nanti berangkatnya juga sama-sama satu pesawat, haha.


Kami sudah ke beberapa bandara di empat negara, dan memang layanan Changi paling baik, terutama dalam kesigapan menangani security check, imigrasi dan custom. Mereka menempatkan banyak petugas sehingga tidak terjadi tumpukan penumpang. Ini beda jauh dengan pelayanan imigrasi di Bali atau Juanda yang kadang hanya menempatkan dua petugas. Begitu juga di Sydney Airport, layanan imigrasinya selalu membuat frustasi, apalagi pelayanan petugas custom-nya. Tapi tentu saja bandara di Oz dan NZ masih jauh di atas Indonesia dalam hal kebersihan toiletnya. Bahkan toilet di lounge berbayar di Denpasar masih kalah jauh dengan toilet umum gratis di bandara Avalon, kota kecil dekat Melbourne.

Daftar bandara, urut jelek, menurut keluarga Precils ;)

14. Ngurah Rai Airport, Bali, Indonesia
13. Abdul Rahman Saleh Airport, Malang, Indonesia
12. Adi Sucipto Airport, Yogyakarta, Indonesia 
11. Juanda Airport, Surabaya, Indonesia
10. Sydney Airport, Australia
09. Perth Airport, Australia
08. Tullamarine Airport, Melbourne, Australia
07. Adelaide Airport, Australia
06. Hobart Airport, Australia
05. Darwin Airport, Australia
04. Avalon Airport, Melbourne, Australia
03. Christchurch Airport, New Zealand
02. Queenstown Airport, New Zealand
01. Changi Airport, Singapore

Kalau menurut pengalaman kalian bagaimana?

~ The Emak 

Baca juga:

Friday, 9 October 2026

Keliling Singapura Naik MRT dan Bus

Menunggu kereta MRT di stasiun
"How do we get to our hotel, Mom?" tanya Big A sesaat setelah kami mendarat di Changi.
"Naik bis atau kereta," jawab saya.
"Oh, I forgot THERE IS public transport," sambar Big A sambil nyengir.

Maksud Big A tentu transportasi umum yang nyaman dan nyambung ke mana-mana. Setelah pindah ke Surabaya setahun belakangan ini, satu-satunya transportasi umum dalam kota yang kami gunakan adalah taksi. Padahal selama lima tahunan tinggal di Sydney dan ketika jalan-jalan di kota-kota di Australia, kami pemakai transportasi umum yang setia.

Setelah sempat nyasar di Terminal 1 Changi Airport, kami akhirnya menemukan stasiun MRT di Terminal 3. Saya menghampiri loket dan membeli kartu Ez Link yang bisa digunakan untuk membayar tiket kereta dan bus. Satu kartu baru harganya SGD 12, termasuk 'pulsa' sebesar 7 dolar. Harga kartunya sendiri $5. Selain di loket stasiun MRT, kartu Ez Link ini juga bisa dibeli di toko 7-eleven dan kantor pos.   

Setiap orang dewasa dan anak-anak yang tingginya di atas 90 cm wajib mempunyai kartu sendiri. Ketika itu Little A tingginya sedikit di atas 90 cm, ketika saya tanyakan ke petugas, dia bilang 'no need ticket'. Little A tampak sedih belum boleh punya kartu sendiri. Sementara Emaknya bersyukur, alhamdulillah, ngirit satu kartu :))

Penggunaan Ez Link mudah sekali, kartu ini cukup ditempelkan di pintu stasiun kereta sampai berbunyi "tiiit" dan palang pintu membuka. Segera masuk stasiun sebelum palang menutup kembali. Karena cuma punya satu kartu, saya harus menggendong Little A setiap kali masuk dan keluar stasiun. Little A dengan senang hati bertugas untuk menempelkan kartu. Sementara di bus, kartu ini ditempelkan di mesin pembaca kartu ketika naik bus dan sebelum turun dari bus. Nanti si kartu pintar ini akan menghitung sendiri biaya yang dibutuhkan untuk jarak yang kita tempuh. Kalau masih ragu-ragu menggunakan kartu ini, ikuti saja orang-orang di depan Anda :)

Saya senang dengan cara kerja kartu Ez Link ini karena tidak perlu repot-repot menghitung dan menyiapkan uang kecil untuk naik kendaraan umum. Juga tidak perlu membeli tiket di loket atau sopir bus setiap kali ingin naik kendaraan umum. Tinggal tap in tap out aja. Nanti kalau saldo kita menipis, bisa kita isi ulang di mesin pengisian ulang di stasiun atau di loket. Kartu ini akan 'marah' mengeluarkan bunyi berisik ketika saldonya tinggal sedikit tapi tetap kita pakai di stasiun atau bus. Lebih baik diisi ulang sebelum saldonya ludes karena sisa saldo yang tidak digunakan bisa kita minta kembali ketika kita meninggalkan Singapura. Pengalaman kami, masing-masing kartu diisi ulang (top up) 1 kali sebesar $10. 

Cara isi ulangnya gampang banget. Nggak perlu pinter bahasa Inggris untuk mengerti cara top up kartu ini karena petunjuknya mudah dimengerti dan kelihatan banget. Kita juga bisa memilih tampilan bahasa Melayu. Tinggal letakkan kartu di tempat yang disediakan. Mesin otomatis memberi tahu saldo kartu kita. Kalau ingin top up, tinggal sentuh pilihan top up. Lalu kita masukkan uang kertas atau koin di tempat yang disediakan. Kalau top up berhasil, kartu akan menampilkan saldo baru. Beres dan siap untuk dipakai jalan lagi. Kartu Ez Link ini secanggih Go Card yang dipakai di Brisbane. Sydney aja belum secanggih ini, hehe.

Little A selalu dapat kursi di MRT
Top Up Ez Link
Jalur MRT di Singapura mudah dimengerti dan stasiunnya dilengkapi banyak tanda yang jelas, jadi asal tahu stasiun tujuan dan jalur yang akan kita pakai, dijamin tidak nyasar. Kalau ingin langsung naik kereta dari bandara Changi, naiklah dari Terminal 3 menggunakan jalur hijau. Untuk sampai di kota, kita perlu pindah kereta (bukan pindah jalur) satu kali di stasiun Tanah Merah. Dari stasiun Tanah Merah, kita tetap memakai jalur hijau menuju kota. Kalau penginapan kita di daerah Bugis atau Lavender, tidak perlu pindah ke jalur yang lain. 

Pengalaman kami, yang paling merepotkan adalah ketika harus pindah jalur. Misalnya, karena kami menginap di Novotel Clarke Quay, dari bandara kami harus pindah jalur dari jalur hijau ke jalur ungu di stasiun Outram Park dan akhirnya turun di stasiun Clarke Quay. Untuk pindah jalur, kami harus berjalan jauh banget dan naik turun eskalator. Beda banget dengan stasiun-stasiun di Sydney yang jarak antar jalurnya tidak terlalu jauh. Malah kita bisa melihat trek dan kereta dari jalur lain yang simpang siur dari tangga atau eskalator. Ini karena jalur MRT di Singapura lebih mengutamakan keselamatan. Penumpang tidak bisa melihat trek kereta dan pintu menuju hanya terbuka ketika kereta sudah datang. Jadi nggak ada ceritanya orang bisa menyeberang rel kereta :p  

Kalau memilih MRT untuk keliling Singapura, sebaiknya ketika memilih akomodasi juga menyesuaikan dengan jalur kereta yang akan kita perlukan. Usahakan penginapan paling jauh jaraknya 5 menit jalan kaki dari stasiun terdekat. Perlu diingat, kalau kita membawa anak-anak, jarak lima menit jalan kaki bisa menjadi dua kali lipat. Ketika memilih menginap di Novotel Clarke Quay dan Hostel Boat Quay, saya kurang begitu mempertimbangkan jarak ke stasiun MRT. Toh, kami sudah biasa jalan kaki di Sydney. Ternyata... setelah setahun tinggal di Surabaya dan tidak pernah jalan kaki ke mana-mana (karena jarang ada trotoar), jalan kaki sepuluh menit saja rasanya pegal banget. Dari stasiun Clarke Quay, kami perlu jalan kaki sekitar 20 menit ke Novotel. Aduh biyung, apalagi setelah capek keluyuran seharian. Begitu juga dengan hostel tempat kami menginap, perlu waktu sekitar 20 menit jalan kaki (dengan Precils) dari stasiun Raffles Place. Ketika jalan sih tidak terasa, karena sambil lihat suasana resto-resto cantik di pinggir sungai, tapi setelah sampai di hostel, kaki cenat-cenut tidak karuan :p 


Peta jalur MRT. Klik untuk memperbesar.

Singapura punya website 'ajaib' yang bisa memberi tahu pilihan rute yang bisa kita lalui menuju tempat tertentu, lengkap dengan pilihan naik mobil, taksi, bus atau kereta, plus perkiraan waktu dan ongkosnya. Saya kagum dengan website gothere.sg ini. Website pemkot Sydney saja kalah jauh, terlalu rumit untuk dipakai. Sebelum berangkat ke Singapura, saya sudah menyiapkan rute-rute yang akan kami lalui, saya cetak dari website Go There. Dari Novotel ke Science Centre, dari Novotel ke Singapore Zoo, dari hostel ke Garden by The Bay dan lain-lain. Berbekal peta rute ini, saya tidak perlu nanya tukang tambal ban di pinggir jalan :D

Saya dan The Precils lebih suka naik kereta daripada naik bus. Mungkin karena kereta jalannya lurus dan stabil, jadi tidak membuat pusing. Di kereta MRT, saya dan Little A selalu mendapat tempat duduk. Atau kalau tidak ada tempat kosong, pasti ada penumpang yang memberi kami tempat duduk yang memang khusus disediakan untuk orang disabel, orang tua, ibu hamil atau anak-anak. Kereta MRT bersih dan nyaman. Selain cepat, kereta ini juga memberi pengumuman yang jelas rute yang akan dituju dan akan berhenti di stasiun mana, jadi kalau nyasar, bisa cepat-cepat turun, hehe. Pengumuman di kereta ini disampaikan dalam empat bahasa: Inggris, Melayu, Mandarin dan India. Saya lihat Big A dan Little A senyum-senyum sendiri mendengar pengumuman dalam bahasa yang tidak mereka mengerti.

Selain menggunakan MRT, kami sempat naik bus juga untuk keliling Singapura. Halte terdekat dari Novotel tempat kami menginap ada di seberang jalan, tinggal menyeberang jembatan saja. Malam itu kami naik bus jalur 195 dari Novotel menuju Makan Sutra Gluttons Bay untuk cari makan malam. Kami turun di depan Pan Pacific Hotel dan melanjutkan jalan kaki keliling-keliling sambil melihat suasana malam kota ini. Singapura di malam hari memang cantik. Untungnya, pulangnya, ada halte bus tepat di depan Makan Sutra (semacam kumpulan warung tenda) dan kami bisa turun tepat di depan pintu Novotel. Malam itu perut kenyang dan kaki senang.

Saya tidak ingat membayar berapa untuk tiket bus karena tinggal membayar dengan kartu. Bus di Singapore bagus, bersih dan nyaman. Malam itu penumpang sepi sekali, hanya kami berempat dan satu dua penumpang lain. Naik bus bisa menjadi alternatif keliling-keliling kota ini, terutama untuk jarak dekat. Kelebihan bus dibanding kereta, kita bisa melihat pemandangan, tidak berjalan di bawah tanah. Halte bus juga bisa ditemui di mana-mana. Peta rute bus bisa dilihat di setiap halte, atau kita cari online di website Go There.

Ketika mengunjungi Science Centre, saya dan The Precils juga naik bus dari stasiun Jurong East dan turun tepat di halte depan Science Centre. Begitu juga ketika kami mau ke Singapore Zoo, kami naik kereta dulu ke stasiun Ang Mo Kio, dilanjutkan dengan naik bus 138 ke kebun binatang. Tapi sebenarnya kalau mau ke Singapore Zoo lebih mudah dan lebih cepat naik bus ekspres SAEX (bus swasta). Bus SAEX ini seperti shuttle yang berhenti di depan beberapa hotel kenamaan dan membawa penumpang langsung menuju Singapore Zoo. Waktu itu kami tidak naik bus ini menuju Zoo karena precils tidak bisa bangun pagi, keenakan tidur di Novotel :| Pulang dari Zoo, kami memutuskan naik bus SAEX dan membayar 2x $5. Little A gratis. Untuk rute, jadwal dan tarif bus SAEX, cek di sini.
 
Selama lima hari di Singapura, kami mengeluarkan uang untuk membeli 3 kartu Ez Link sebesar $36, plus isi ulang $30. Tapi setelah kami pakai sampai ke stasiun MRT di Terminal 3 bandara Changi, kami bisa memperoleh refund (kembalian) sebesar $12,40. Jadi kalau dihitung, pengeluaran kami untuk transportasi umum di Changi untuk 4 orang (Little A gratis) = $53,60. Nggak mahal kan?



~ The Emak

Baca Juga:


Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore  [review penginapan]

Tip Membawa Bayi Naik Air Asia


Dila bersama Baby K di dalam pesawat Air Asia

Guest post by The Tante*

Rencana terbang bareng Baby K sudah ada sebelum doi lahir. Niatnya kami mau mengunjungi rumah Oma Opanya di Malaysia, tepatnya di Negeri Perlis, Malaysia bagian utara yang berbatasan dengan Thailand. Dengan gegap gempita saya pun cari tiket murah AirAsia-idolaku jauh-jauh hari dengan rute Jogja-Kuala Lumpur-Alor Setar. Waktu itu lumayan dapat murah deh, Jogja-Kuala Lumpur sekitar 300ribu, trus Kuala Lumpur-Alor Setar cuma sekitar 90ribu. Aha! Saya pun mulai klak klik klak klik itu form booking. Trus pas bagian baby K, data yang diperlukan sama kok, cukup nama dan tanggal lahir. Setelah saya isi, tiba-tiba muncul keterangan: Invalid! Your baby have a future birthdate. Hakakaka, baru sadar saya Baby K belum punya tanggal lahir, alias waktu itu saya karang sendiri pakai hari perkiraan lahir, kekeke. Yaah, gagal deh booking tiket murah. Eh belakangan saya baru tahu, ternyata bisa booking dulu buat ortunya, lalu booking untuk baby-nya bisa ditambahkan di manage booking, seperti kalau kita mau nambah beli makanan di pesawat. Huhuhu, ndeso banget saya nggak tahu -_-“.  Akhirnya kami  beli tiket agak mepet waktu berangkat, saat itu Baby K berusia 2 bulan. Untung harganya tetep sama, hahaha, rejeki emang nggak kemana ya cyinski ;).


Menu 'tambah bayi' di halaman profil -> manage my booking
Biasanya, kami melakukan web check in sebelum berangkat agar hemat waktu dan biaya. Beberapa bandara biasanya nambah ongkos untuk cek in di counter. Tapi, ternyata kalau kita bawa baby, dilarang web check in. Duh, males kan yah harus cek in di bandara, tapi tetap kami patuhi. Ternyata disuruh cek in di bandara cuma untuk nge-tag stroller pakai tag Air Asia. Setahu kami sih begitu, nggak tahu deh apa alasan sebenarnya nggak boleh web check in, mungkin ada alasan keselamatan atau apa yang harus dicek dulu. Tapi, nyatanya surat keterangan dokter bahwa baby K sehat juga nggak ditanyain, bahkan sampai di dalam pesawat. Jadi, nggak usah khawatir ada larangan bayi terbang atau minimal boleh terbang usia 6 bulan atau apa itu. Sejauh pengalaman saya sih nggak ada aturan begitu, kalau pakai AirAsia-idolaku.

Pengaturan tempat duduk saat membawa baby di AirAsia-idolaku juga nggak ada. Maksudnya enggak terus diistimewain gratis ditempatin di depan sendiri. Kita harus tetap beli kursi hot seat kalau mau depan sendiri biar lebih lega. Tahu sendiri kan ya, meski idolaku, kursi Air Asia itu sempit banget dan bikin leher rasanya mau patah :D. Penting banget untuk bawa bantal leher kalau ingin merasa damai dan tentram di perjalanan. Apalagi dengan adanya pertumbuhan berat badan yang signifikan setelah melahirkan T.T. Berhubung kami keluarga yang hemat pangkal kaya *nyerempet ke pelit* kami nggak beli kursi baik hot seat maupun biasa, kekeke, bodo amat ntar pasrah dapetnya pas cek in.

Alhamdulillah kami dapet jejeran bertiga *yeyeye lalalala*. Dan, ternyata kursi hot seatbanyak yang kosong. Bahkan, kami sempet pindah duduk di kursi hot seat dengan sembarangan waktu menghibur baby K biar nggak bosen. Pramugari juga nggak menegur, bener-bener kayak di angkot ya ;). Jejeran bertiga maksudnya saya terbang bareng suami, Uti-mama saya, dan baby K. Iya, baby nggak dapat seat tapi bayar 150 ribu per sektor. Jadi kalau terbang pakai transit di KUL seperti kami, ongkos bawa babynya 4x 150rb = 600 ribu. Padahal kan aturannya dipangku nggak bayar yah *angkot style*. Begitulah, jadi si baby K itu saya pangku sepanjang perjalanan Jogja-Kuala Lumpur selama 2 jam, lebih tepatnya digendong karena doi belum bisa duduk. Nggak ada sabuk pengaman khusus untuk bayi ya, jadi siap-siap aja deh tuh kalau take off, landing, turbulance pegangin erat-erat tuh baby biar nggak ngglundung :))).

Saking takutnya di pesawat superdingin, saya pun memberikan perlindungan ekstra kepada baby K. Pakai baju tebel, dibungkus bedong, selimut, dan gendongan, pakai topi. Nggak tahunya doi malah protes kepanasan alias kemringet -_-“, agak lebay emang emaknya. Akhirnya ya repot sendiri lepas-lepasin itu baju di kursi AA yang sempit.

Sepanjang perjalanan, saya berusaha nyusuin baby K, terutama pas take off dan landing. Mungkin karena itu juga, jackpot, si baby K pakai acara muntah segala di pesawat! Karena males harus bersih-bersih dan ganti di toilet pesawat yang juga sempit ribet berdiri goyang-goyang, saya ganti aja on the spot di kursi, dibantu Uti. Jadi, itu bayi taruh aja di meja makanan :))). Belakangan, pas perjalanan pulang Kuala Lumpur-Jogja, baby K saya taruh di meja makanan terus. Puegel Cyin gendongin terus sempit-sempitan. Tapi, tetep dijagain yah ;). Eh, tapi baiknya jangan dicontoh sih, cukup bahaya jika tidak terpaksa. Selain muntah, nggak ada masalah berarti buat baby K jagoanku. Doi nggak nangis sama sekali, nggak ngamuk juga, alhamdulillah. Pasti ini karena emaknya yang berprestasi ahaha, err maksudnya Utinya yang juga canggih sih.

Ada resep rahasia kenapa baby K anteng bersahaja *meski muntah sekali -_-“. Jadi, saya beli online earplug for kids, merknya Macks, harganya 65 ribu saja, Gan. Nggak tahu sih apakah memang itu yang bikin doi anteng, tapi saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa sumpelan di kupingnya itu yang membuat doi lebih nyaman, selain karena dekapan hangat emaknya yang berprestasi ;). Lalu, pas take off dan landing baby K saya dekap erat-erat, kupingnya ditutup lagi pakai tangan, siapa tahu earplugcopot-copot, dibantu sama suami yang juara dan setia *penting.

Pas keluar pesawat juga nggak ada perlakuan khusus apapun, tetep antri berbondong-bondong sama penumpang lain yang pada nggak sabaran itu, hihihi. Turun dari pesawat, kami minta lagi stroller yang tadi dititipkan petugas, disimpan di bagasi pesawat, GRATIS ;). Jadi, kami nggak perlu beli bagasi untuk stroller. Cukup titipkan stroller ke petugas yang berjaga di bawah pesawat. Itu stroller nggak masuk ke kabin. Bener-bener idola kan AirAsia ini hehehe. Nah, baru deh pas di pengecekan dokumen di Kuala Lumpur LCCT karena kami bawa baby, kami diistimewain disuruh pakai counter flight attendant. Meski tetep antri, tapi nggak separah antrian di counter biasa.

Untuk rute Kuala Lumpur-Alor Setar, karena domestik jadi lebih simpel. Dan, pas cek in kami tetep disuruh web check in di mesin cek in. Petugasnya bilang, “kalau di counter bayar loh!” tentunya pakai bahasa Melayu yang sudah saya terjemahkan. Stroller juga nggak ditag lagi -_-“. Kayak naik bus. Atas dasar pengalaman inilah, pas perjalanan pulang Alor Setar-Kuala Lumpur-Jogja akhirnya kami web check in, dan tetep bisa tuh lenggang kangkung sampai di Jogja, ehehehe. Kami nekat karena waktu transitnya cukup mepet, takutnya kalau cek in di bandara nggak ngejar.

Kalau ingin menyusui baby saat nunggu boarding, di LCCT ada ruangan menyusui dan ganti popok. Tapi, saya nggak pakai karena udah merasa canggih nyusuin baby K sambil digendong pakai gendongan baik duduk maupun berdiri, ditutupin jilbab. Saya sempat ke ruangan menyusui itu waktu mengganti popok baby K. Ruangannya nggak bagus, sempit, pengap, dan nggak begitu bersih. Daaaaan, saat saya ganti popok baby K, tahu-tahu ada pria India nyelonong masuk ngisi botol air pakai dispenser yang ada di dalam ruangan. Helooow, kalau ada yang lagi nyusuin piyeee? Gendeng juga tuh orang -_-“.

Berangkat dari rumah jam 10 pagi, sampai di rumah Perlis jam 12 malam. Lama ya? Sama aja kayak naik kereta. Habis waktu di persiapan, transit, dan perjalanan dari bandara Alor Setar ke rumah Perlis makan waktu 1 jam. Sangat amat tepar berjamaah! Saya nggak bisa bayangin kalau Utinya Kala nggak ikut. Pasti tobat berjamaah bersama suami saya, huhuhu. Sebagai pengalaman, lain kali kalau bawa baby ke Perlis, mending stay one night dulu deh di Kuala Lumpur.
bersama suami siaga :p
breasfeeding sambil berdiri #akurapopo #wesbiyasa


Tips bawa baby naik Air Asia

1.  Nggak usah rempong bawa-bawa tentengan, agar tangan kita bebas mengurus bayi. Atau kalau terpaksa bawa barang agak banyak, aturlah pembagian tugas sebelum berangkat. Misalnya, ayah bertanggung jawab atas tas dan koper, ibu bertanggungjawab atas bayi, dan seterusnya.

2.  Pilihlah suami yang juara dan bertanggungjawab, langkah ini bisa dilakukan jauh hari sebelum keberangkatan banget, hehehe. Jadi, acara pergi-pergi dengan baby akan selalu menyenangkan.

3.  Pastikan baby kenyang sebelum menginjakkan kakinya ke dalam pesawat biar nggak ngamuk.

4.  Pakailah bantal leher, sumpah ini penting banget untuk kursi Air Asia.

5.  Bersiaplah dengan earplug baby, terutama di lapangan terbang. Suara mesin pesawat di luar pesawat lebih memekakkan telinga. Jangan lamban bergerak, segeralah masuk pesawat atau masuk ke gedung bandara.

6.  Pastikan ibu pakai baju khusus menyusui, enggak perlu pesan ke desainer mahal, yang murah pun boleh. Ini biar nggak ribet menyusui di lahan sempit.

7.  Lakukanlah simulasi proses perjalanan di dalam otak, bersama suami atau yang menemani terbang, agar kebayang nanti apa yang harus dilakukan.

8.  Jika mampu, pilihlah kelas penerbangan yang lebih baik, ehehehe.

Enjoy your flight!
~ The Tante (@diladol)
* The Tante alias Tante Dila adalah adik The Emak yang baru saja melahirkan anggota terbaru keluarga Precils, baby K. Prestasi baby K: sukses terbang pertama kali ke luar negeri umur 2 bulan, naik pesawat low cost carrier, dengan anteng dan bersahaja :p 
Baby K, Tante Dila dan Suami Juara tinggal di Yogyakarta.

Baca juga:
Pengalaman The Emak Membawa Bayi Naik Garuda

Johor Bahru With Kids: Itinerary & Budget


The Precils (dan ortunya) fans berat Lego. Begitu tahu Legoland Theme Park Malaysia (pertama di Asia) buka di Johor Bahru, saya langsung memasukkan 'jalan-jalan ke Legoland' ke bucket list, sembari mengincar tiket murah dari Surabaya ke Johor Bahru tentunya.

Dari Surabaya, sementara ini hanya Air Asia yang punya rute langsung ke Johor Bahru. April tahun lalu (2013) saat ada Sale, saya berhasil dapat tiket 0 rupiah pp untuk penerbangan Februari 2014. Tiket Rp 0 bukan berarti kita nggak bayar sama sekali ya. Penumpang masih harus membayar pajak dan fuel surcharge. Alhasil, total harga tiket SUB - JHB pp per orang Rp 400.000. Itu baru tiket saja, belum termasuk bagasi, pilih kursi atau beli makan. Tapi kami nggak beli bagasi karena cuma pergi akhir pekan saja. Rencana awalnya, kami berangkat ke Johor Bahru Jumat pagi jam 10.30, sampai sana jam 2 siang. Pulangnya Minggu siang jam 2.30, sampai di Surabaya lagi jam 4 sore. Penerbangan dari Surabaya ke Johor Bahru perlu waktu dua setengah jam, sementara perbedaan waktunya, Johor Bahru satu jam lebih awal daripada waktu Surabaya (WIB).

Tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi di Johor Bahru, kota di Malaysia yang paling dekat dengan Singapura ini. Tiga atraksi wisata andalannya:  

1. Legoland Theme Park,  
2. Puteri Harbour Family Theme Park (Hello Kitty Town) dan  
3. Johor Premium Outlet (JPO) untuk yang doyan belanja. 

Satu akhir pekan cukup untuk menjelajahi ketiganya. Saya yang tidak begitu doyan belanja, tidak memasukkan JPO dalam itinerary. Yang memang ngincer jalan-jalan ke JPO, coba intip blog Tesya yang pernah (window) shopping ke sana.

Karena sudah dapat tiket pesawat yang murah banget, saya pengennya cari hotel yang lumayan bagus. Incaran saya adalah Legoland Hotel yang persis di sebelah theme park dan Traders Hotel Puteri Harbour, persis di sebelah Hello Kitty town. Lumayan kan, bisa menghemat ongkos taksi dan hemat waktu. Tapi Si Ayah sebagai penyandang dana tidak setuju :p Akhirnya saya mengalah dan memilih menginap dua malam di Tune Hotel Danga Bay, pesan family room yang muat dua dewasa dan dua anak-anak. Berikut budget awal yang saya buat untuk Johor Bahru Trip dengan anak-anak.


BUDGET
MYR
IDR
Air Asia SUB – JHB pp 4 pax (inc. seat + meal)

1.889.200
Airport tax, 4x Rp 150.000

   600.000
Shuttle Senai airport – Tune hotel, 3x RM 8
      24

Tune hotel Danga Bay, family room, 2 nights RM 389,76

1.492.001
Taksi Tunes ke Hello Kitty pp
      80

Tiket Hello Kitty, 4x RM 75
    300

Hello Kitty souvenir
      30

Dinner Day 1
      50

Breakfast Day 2, 4x RM 12
      48

Shuttle Tune hotel – Legoland pp 4x RM 15
      60

Tiket Legoland Combo 3 adults + 1 child RM 532

2.036.875
Lunch Day 2
     75

Lego souvenir
     75

Dinner Day 2
     50

Breakfast Day 3, 4x RM 12
     48

Shuttle Tune hotel – Senai airport, 3x RM 8
     24

Parkir inap Juanda airport

     50.000



Sub Total
   865
6.068.076
TOTAL
IDR 9.278.956

Seperti biasa, booking saya lakukan online melalui website masing-masing: Air Asia, Tune Hotel Danga Bay, dan Legoland Malaysia. Tiket Hello Kitty belum saya beli karena harga online sama saja dengan beli langsung. Rencananya, dari Senai airport Jumat siang, kami langsung ke Tune hotel dengan shuttle mereka, cek in, lalu naik taksi ke Puteri Harbour dan main-main di Hello Kitty Town sampai tutup jam 6 sore. Hari Sabtunya kami akan naik shuttle dari Tune hotel ke Legoland, dan akan seharian bermain di theme park dan waterpark-nya. Hari Minggu kami cuma akan istirahat di hotel sampai cek out dan kembali ke Surabaya jam 2.30 siang. Tapi, siapa tahu Si Ayah berhasil dibujuk mampir ke JPO ;) 

Malam Jumat, semua urusan sudah beres, koper dan ransel sudah dipak.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Saya bangun pagi mendapati hujan abu tipis menyelimuti halaman belakang kami. Pada hari H tersebut, Gunung Kelud meletus, abunya sampai ke Jogja, Solo, Malang dan tentu saja Surabaya. Pagi itu saya was-was dan mencari-cari berita tentang penerbangan kami. Melihat langit yang sangat kelabu dan hujan abu yang tidak berhenti, kami tetap bertahan di rumah, tidak pergi ke bandara. Setengah jam sebelum jadwal penerbangan, kami baru tahu kalau penerbangan dibatalkan dan bandara Juanda ditutup. Liburan gagal total!

Saya kecewa nggak jadi berlibur. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan, emangnya mau marah sama Tuhan? Precils kembali bermain (sekolah ditutup), Si Ayah malah berangkat kerja (nggak jadi cuti) dan saya ngejar-ngejar Air Asia agar dapat refund :) Alhamdulillah uang tiket saya kembali utuh dalam bentuk credit shell, seminggu kemudian. Booking Tune hotel bisa di-cancel dengan membayar denda RM 30. Tiket Legoland, sesuai T&C, hangus.

Saya menghubungi manajemen Legoland untuk meminta sponsorship. Mereka bersedia memberi free night di Legoland hotel dan tiket combo untuk keluarga. Whoa! *sujud syukur* Saya langsung semangat cari-cari lagi jadwal yang pas (maksudnya yang harga pesawatnya pas murah). Akhirnya saya dapat tiket pesawat murah dari Tiger Air, tapi mendarat di Changi airport, Singapore. Dari Changi kami akan naik free shuttle bus sampai JB Sentral, kemudian lanjut naik taksi ke Legoland. Penerbangan dari Surabaya jam 10 malam, sampai di Changi jam 1 dini hari. Rencananya kami akan nginep di emperan Changi :D Karena berangkat Jumat malam, Precils dan Si Ayah nggak perlu bolos cuti sekolah. 

Yang saya sebel, tidak ada tiket murah untuk pulangnya. Terpaksa saya beli tiket Air Asia dari Senai airport, Johor Bahru dengan harga penuh, full price. Sebagian memang dibayar dari credit shell pengembalian tiket saya sebelumnya, tapi tetap aja, nggak tega rasanya bayar tiket harga segitu, hiks. Karena waktu mepet, kami hanya sempat ke Legoland Theme Park. Sorry, Hello Kitty, maybe next time :| Tapi kami punya pengalaman seru banget nginep di hotel Lego. Keluarga Precils diberi Pirate Room, kamar bertema bajak laut. Kami saya juga ketagihan berdisko di lift hotel. Little A sampai menangis nggak mau pulang. 

Dalam perjalanan pulang dari Legoland menuju Senai airport, kami melewati JPO. Pak sopir taksi yang kami tumpangi cerita kalau dia pernah mengantar tamu dari Indon Indonesia yang meminta mereka mampir di JPO. Tidak untuk belanja, hanya untuk foto-foto di depannya untuk diunggah di facebook. Ahaha, bisa ditiru tuh triknya :p

Berikut ini pengeluaran liburan kami ke Johor Bahru, dua dewasa dua anak, dua hari satu malam. 
Note: nginep di emperan bandara Changi gratis ^_^


PENGELUARAN
MYR
IDR
Tiger Air SUB – SIN 4 pax

1.337.000
Airport Tax 4x Rp 150.000

    600.000
Breakfast Mc D Changi Airport SGD 23

    217.000
Bus TS1 Changi Airport to JB Sentral - free transfer

                0
Air mineral + permen
      6

Taksi JB Sentral - Legoland
    35

Legoland Hotel 1 night - sponsored
      0

Tiket Legoland combo family – 1 day pass - sponsored
      0

Lunch (free voucher RM 50 – sponsored)
    22,50

Air mineral
      3

Sewa loker Legoland waterpark
    20

Lego souvenir
    59,95

Dinner at Mall of Medini
    50

Buffet breakfast at Bricks family restaurant - sponsored
      0

Taksi Legoland  - Senai airport
    90

Air Asia JHB – SUB 4 pax RM 952,87
 
 3.537.098
Lunch Air Asia

      95.000
Parkir inap  T2 Juanda airport

      60.000



Sub Total
286,45
5.846.098
TOTAL
IDR 6.909.400

Tunggu cerita selanjutnya ya.

~ The Emak
 

Catatan:
Kurs Maret 2014
SGD 1 = IDR 9434
MYR 1 = IDR 3712

Baca juga:
Ke Legoland Malaysia: Via Changi Atau Senai? 
Review Hotel Legoland
Legoland Themepark & Waterpark, Asyiknya Dobel!
Galeri: Foto-foto Miniatur dari Lego