Showing posts with label Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Tuhan. Show all posts

Sunday, 22 June 2025

Tuhan, dalam perang suci ini

 



Aku tak pernah takut kematian.

Darah dan debu telah lama jadi saudaraku,

dan denting pedang bagai doa-doa yang melangit.


Namun, Tuhan,

yang mengguncang dadaku bukan akhir,

melainkan kemungkinan bahwa kemenangan

jatuh ke tangan mereka

yang tak pernah menyebut nama-Mu,

yang tak pernah bersujud dalam gelap,

yang tak pernah menangis karena rindu pada-Mu.


Jika panji mereka dikibarkan lebih tinggi,

apakah aku harus meragukan rencana-Mu?

Atau inikah ujian iman yang paling dalam,

saat Engkau diam

dan surga seolah menunduk?


Tuhan,

berikan padaku keteguhan,

bukan hanya untuk bertahan,

tapi untuk percaya

bahwa di balik kekalahan pun,

Engkau tetap menang.

Sunday, 23 March 2025

Tuhan, Maafkan Aku yang Tetap Miskin di Hari Lebaran Ini

 


Tuhan,

di hari yang semestinya penuh syukur ini,
aku datang dengan hati yang berat,
tak ada lagi tawa dua suara di meja,
tak ada lagi pelukan hangat di sudut rumah.

Hari Lebaran yang dulu ramai dengan kehangatan,
sekarang hanya kenangan yang mengalun di sunyi,
orang tua telah pulang ke pangkuan-Mu,
meninggalkan aku dengan keterbatasan yang tak terobati
dan kerinduan yang semakin meradang di dada.

Maafkan aku, ya Tuhan,
yang tetap miskin bukan hanya dalam harta,
tapi juga dalam kehadiran mereka yang kucintai,
yang tak bisa lagi kupeluk di hari kemenangan,
yang tak lagi menertawakan langkah kecilku menuju harapan.

Aku menyusuri hari dengan seutas doa
meski sajadahku robek dan kainnya pudar,
aku menyapa kenangan lewat air mata,
mengharapkan sedikit hangat dari rahmat-Mu,
agar di tengah kehilangan, aku masih bisa bertahan.

Di balik keterbatasan ini,
aku belajar untuk mensyukuri tiap detik yang tersisa,
meski kekosongan mengisi ruang-ruang sepi,
aku percaya, kasih-Mu lebih dari cukup
untuk mengisi lubang-lubang yang ditinggalkan.

Tuhan,
di hari yang sakral ini,
kuharap agar setiap rindu yang terpendam
dapat terobati oleh kehangatan abadi-Mu,
dan aku, walau miskin dan terluka,
dapat menemukan secercah cahaya dalam gelap.

Selamat Hari Raya,
meski tanpa pelukan orang tua,
biarkan hatiku tetap terisi syukur
dan tiap doa yang kupanjatkan
mengalir sebagai penghubung jiwa yang tak pernah padam.