Tubuhku mulai memberi tanda—ringan, samar, seperti bisikan yang hampir tak terdengar. Sedikit pusing, sedikit tidak nyaman. Aku mengabaikannya. Dalam pikiranku, itu hanya lelah, hanya hal kecil yang akan hilang dengan sendirinya.
Aku salah.
Malam datang dengan sunyi yang berbeda. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tapi aku tetap menenangkannya dengan logika sederhana: “Besok juga sembuh.”
Namun esok hari, Rabu, 18 Maret 2026—segalanya berubah.
Tanganku melemah. Kakiku terasa asing. Aku mencoba berdiri, tapi tubuhku seperti tak mau patuh. Lebih menakutkan lagi—saat aku mencoba berbicara, kata-kata keluar dengan patah, terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku tidak lagi sepenuhnya menguasai diriku.
Saat itu aku sadar—ini bukan kelelahan biasa.
Dalam kepanikan yang tertahan, aku bergerak. Waktu terasa berjalan cepat sekaligus lambat. Setiap detik terasa penting. Aku harus segera ke rumah sakit.
Di ruang rumah sakit, semuanya bergerak cepat. Suara alat medis, langkah kaki tenaga kesehatan, pertanyaan-pertanyaan yang harus kujawab dengan sisa kemampuan yang ada. Aku hanya bisa berharap—semoga belum terlambat.
Separuh tubuhku sempat pergi.
Hari itu terasa panjang. Tapi harapan belum hilang.
Lalu keajaiban kecil mulai terjadi.
Kamis, 19 Maret 2026.
Aku membuka mata dengan rasa yang berbeda. Perlahan, aku mencoba menggerakkan tangan kiriku. Masih lemas… tapi ada respon. Kakiku pun mulai bisa menopang tubuhku, walau pelan dan ragu.
Aku berjalan.
Bicaraku pun kembali. Kata-kata yang kemarin terasa pecah, kini mulai utuh lagi. Suaraku kembali menjadi milikku.
Aku diberi kesempatan kedua.
Kini aku mengerti, tubuh bukan sekadar wadah. Ia berbicara, memberi tanda, bahkan berteriak saat kita terlalu lama mengabaikannya.
Di antara suara alat medis dan langkah pelan di koridor rumah sakit, aku berjanji pada diriku sendiri:







0 comments:
Post a Comment