Monday, 16 March 2026

Cerpen - Rindu dan Benci Jadi Satu, By: Khoirul Taqwim

 


Di suatu pagi yang biasa di kampus Jogja, aku pertama kali melihatnya. Namanya Suhesti. Wajahnya tenang, sikapnya terlihat cuek, seolah tidak mudah didekati. Ia bukan tipe wanita yang banyak bicara atau mudah akrab dengan siapa saja. Namun entah mengapa, sejak awal aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya.

Aku sendiri bukan laki-laki yang terbiasa berjalan bersama wanita. Hidupku lebih banyak diisi dengan belajar dan kegiatan kampus. Karena itu, ketika Suhesti suatu hari tiba-tiba mengajakku berjalan di sekitar kampus, aku merasa sedikit heran sekaligus canggung.

“Temani aku sebentar,” katanya singkat.

Kami berjalan menyusuri jalan kampus, lalu naik mobil angkut yang biasa membawa mahasiswa dari satu gedung ke gedung lain. Percakapan kami tidak banyak, tetapi entah mengapa suasana terasa hangat. Sejak hari itu, ia beberapa kali mengajakku berjalan lagi.

Suatu hari, ia mengajakku pergi ke pameran buku. Aku setuju tanpa banyak berpikir. Bagiku, itu sudah terasa seperti sesuatu yang istimewa.

Di tengah keramaian pameran buku, tanpa sadar aku melihat wajahnya dari dekat. Ia terkejut, wajahnya memerah, lalu mencoba melepaskan pandangannya dengan malu. Aku pun segera mengerti bahwa mungkin aku terlalu berani menatap wajahnya.

Namun yang aneh, saat hari mulai sore dan kami hendak pulang, justru ia berkata pelan,

“Jalan sebentar lagi, ya.”

Kalimat sederhana itu membuat hatiku semakin bingung.

Di lain waktu, seorang teman wanita melihat kami bersama dan bercanda,

“Kalian ini pacaran, ya?”

Aku langsung menjawab, “Tidak.”

Aku tahu Suhesti tidak ingin menjalin hubungan cinta saat kuliah. Ia pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin hubungan seperti itu mengganggu masa depannya.

Namun bagiku, hubungan harus jelas. Jika hanya sahabat, menurutku tidak perlu sampai sering berjalan berdua seperti ini. Aku takut jika perasaan ini terus dibiarkan, suatu hari nanti akan menjadi luka yang lebih dalam.

Akhirnya aku membuat keputusan yang berat.

Aku memilih pergi.

Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku peduli. Aku tidak ingin hubungan yang tidak jelas ini menyakiti kami berdua.

Waktu berlalu. Kami menempuh jalan hidup masing-masing.

Beberapa tahun kemudian aku mendengar bahwa Suhesti telah menikah dan memiliki anak. Aku juga telah menjalani kehidupanku sendiri.

Namun suatu hari aku membaca tulisan-tulisannya. Dalam kata-katanya, aku merasa seperti menemukan bayangan diriku di masa lalu. Ia menulis tentang seseorang yang meninggalkannya. Tentang perasaan yang bercampur antara rindu dan benci.

Mungkin ia masih mengingatku.

Aku pernah mencoba membicarakan masa itu dengannya. Ia hanya diam dan mendengarkan. Tidak ada penjelasan, tidak ada perdebatan. Hanya keheningan yang panjang.

Kini ia bahkan memblokirku dan memilih tidak berinteraksi lagi. Seolah aku benar-benar hilang dari hidupnya.

Namun dari tulisannya, aku tahu satu hal.

Kenangan itu masih hidup.

Aku meninggalkannya karena aku ingin cinta yang jelas. Ia mungkin hanya ingin persahabatan yang dekat. Perbedaan itulah yang membuat kami akhirnya berjalan di arah yang berbeda.

Dan sekarang, semua itu tinggal menjadi cerita lama.

Sebuah kisah yang tidak pernah benar-benar dimulai, tetapi juga tidak pernah benar-benar berakhir.

Kisah tentang dua orang yang pernah berjalan bersama di kampus Jogja, di antara buku-buku dan mimpi-mimpi muda.

Kisah tentang rindu dan benci yang akhirnya menjadi satu.

0 comments:

Post a Comment