Aku tak pernah tahu sejak kapan semuanya bermula.
Mungkin sejak pertama kali aku membaca namanya di sebuah tulisan. Atau sejak kata-katanya menyelinap pelan ke dalam pikiranku, lalu menetap diam-diam di hati. Yang jelas, aku mengenalnya tanpa pernah bertemu—dan anehnya, itu terasa cukup untuk membuatku terus mengingatnya.
Dia… seorang wanita yang tak pernah kujumpai, namun begitu dekat.
Di ujung waktuku, namanya masih tinggal.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri—dan kadang pada Tuhan dalam diam—tentang skenario apa yang sedang dijalankan dalam hidupku. Tak ada pertemuan, tak ada percakapan panjang, bahkan tak ada ikatan yang bisa kusebut sebagai alasan untuk mengingatnya.
Namun, mengapa justru dia yang selalu tinggal?
Dan lebih dari itu—dia adalah seorang penghafal Al-Qur’an.
Sejak saat itu, aku mulai mengerti mengapa lidahku terasa kelu setiap kali ingin menyebut namanya. Seolah ada batas tak kasat mata yang menjaga jarak antara aku dan dirinya. Bukan jarak fisik—tapi jarak takdir.
Sedangkan aku?
Aku hanyalah kuli tinta.
Tak ada yang istimewa dariku—kecuali kebiasaan menulis. Aku menulis apa saja yang terasa di hati. Tentang rindu, tentang sepi, tentang hal-hal yang bahkan tak pernah benar-benar terjadi.
Termasuk tentang dia.
Tanpa kusadari, satu tulisan menjadi dua, dua menjadi sepuluh, hingga akhirnya lima belas buku telah lahir dari jemariku. Dan di antara semua itu, ada bayangnya yang terselip diam-diam. Tidak pernah kusebutkan secara terang, namun hadir di setiap kalimat yang terasa lebih hidup dari biasanya.
Dia menjadi inspirasi yang tak pernah meminta untuk diakui.
Kadang aku berpikir—bagaimana jika suatu hari dia tahu?
Bagaimana jika suatu saat, tanpa sengaja, ia membaca salah satu tulisanku… dan menemukan dirinya di sana? Di antara bait-bait yang kutulis dengan hati yang tak pernah berani menyapa.
Apakah dia akan tersenyum?
Atau justru tak merasa apa-apa?
Atau mungkin… tak pernah tahu sama sekali.
Namun, semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa semua ini memang bukan tentang diketahui atau tidak. Ini tentang rasa yang tumbuh tanpa izin, lalu memilih untuk tinggal tanpa tuntutan.
Tentang cinta yang tidak membutuhkan pertemuan.
Ada saat-saat di mana aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Mengapa aku bisa begitu memikirkan seseorang yang bahkan tak pernah hadir di hadapanku?
Namun setiap kali aku mencoba melupakan, justru namanya kembali dengan cara yang lebih halus—melalui tulisan, melalui doa, melalui keheningan yang tiba-tiba terasa penuh.
Dan di ruang itulah aku hidup bersamanya—dalam diam.
Aku tak pernah berharap lebih. Tak pernah berani membayangkan sesuatu yang melampaui batasku. Aku tahu, aku hanya bayangan dalam kisahnya—bahkan mungkin bukan apa-apa.
Namun bagiku, itu sudah cukup.







0 comments:
Post a Comment