Pagi itu, takbir masih menggema dari kejauhan. Suaranya merambat pelan, masuk ke dalam kamar kecil tempat aku berbaring. Idul Fitri telah tiba, tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tak ada lagi aroma masakan dari dapur yang biasanya sudah ramai sejak subuh. Tak ada langkah kaki Ayah yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Semuanya sunyi. Terlalu sunyi.
Aku menatap langit-langit, mencoba tersenyum. Tapi dadaku terasa sesak.
Ini bukan pertama kalinya aku merasakan Lebaran tanpa Ayah. Sejak beliau pergi, setiap hari raya selalu terasa ada yang hilang. Tapi sejak Ibu juga menyusul… kekosongan itu berubah menjadi kehampaan yang sulit dijelaskan.
Aku kini benar-benar sendiri.
Kenangan itu datang begitu saja.
Tentang Ayah yang selalu mengajakku ke masjid pagi-pagi, dengan baju terbaik yang beliau punya. Tentang Ibu yang sibuk di dapur, tapi tetap menyempatkan tersenyum dan bertanya, “Sudah mandi belum?”
Tentang momen salaman… saat tanganku menggenggam tangan mereka, lalu mencium dengan penuh haru. Saat itu, aku tak pernah tahu… bahwa suatu hari, momen sederhana itu akan menjadi sesuatu yang sangat kurindukan.
Sekarang… tak ada lagi tangan yang bisa kugenggam.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Bu… Yah… aku rindu…”
Suaraku lirih, hampir tak terdengar. Tapi hatiku berteriak.
Di luar sana, orang-orang saling mengunjungi, tertawa, bermaafan. Sementara aku hanya bisa berbaring, menahan rasa sakit yang belum sepenuhnya pulih, ditemani sepi yang terasa semakin dalam di hari raya ini.
Namun perlahan, aku mengerti.
Aku menarik napas panjang.
Air mataku jatuh lagi. Tapi kali ini terasa berbeda.
Lebih hangat. Lebih tenang.
Tapi aku masih bisa mencintai mereka—dengan cara yang berbeda.
Di tengah sunyi itu, aku tersenyum kecil.







0 comments:
Post a Comment