Showing posts with label Geografi Kota. Show all posts
Showing posts with label Geografi Kota. Show all posts

Wednesday, 13 March 2019

Dampak Interaksi Desa Dan Kota Bagi Desa

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Desa dan kota merupakan sebuah fenomena wilayah yang unik. Kedua wilayah dengan perbedaan karakter ini selalu berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara desa dan kota memiliki unsur timbal balik. Walaupun demikian, arah atau arus pengaruh itu masih juga tergantung pada kekuatan dominasi dari salah satu pihak. Interaksi ini meninggalkan dampak positif maupun negatif bagi kedua pihak. 

Urbanisasi, ruralisasi, sirkulasi, ulang-alik adalah berbagai wujud dari hubungan atau interaksi antar-desa kota. Sejatinya pengaruh kota saat ini begitu kuat terhadap wilayah desa. Baca juga: Faktor Kepadatan Penduduk
Desa dan kota merupakan sebuah fenomena wilayah yang unik Dampak Interaksi Desa Dan Kota Bagi Desa
Kota Semakin Padat, pic:http://msutoday.msu.edu/

Pengaruh positif dari penetrasi kota ke desa adalah:
1. Pemerintah; dalam hal ini melewati petugas-petugas pemerintah, lembaga atau instansi pemerintah, mass media seperti harian, radio, televisi.
2. Mahasiswa; dalam hal ini mahasiswa yang melaksanakan tugas akademis KKN di desa-desa, pelaksanaan survei kecil.
3. Tenaga Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) yang telah sejak lama membantu pemerintah desa di bidang pembangunan desa.
4. ABRI yang dalam progam manunggalnya dengan rakyat pedesaan telah banyak membantu dan mengajak masyarakat pedesaan bersama-sama membina wilayah desanya. 
5. Migrasi atau mobilitas yang terjadi antar kota–desa seperti urbanisasi, sirkulasi, dan nglaju yang membawa juga arus teknologi, kebudayaan, dan gaya hidup dari kedua belah pihak.
6. Lembaga swasta yang juga nampak ikut aktif dalam membina masyarakat pedesaan.
7. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat.
8. Kemajuan di bidang pendidikan desa.
9. Meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi karena perkembangan transportasi.
10. Kemajuan teknologi membantu pengembangan sektor pertanian.
11. Kemajuan dalam pelestarian lingkungan karena banyaknya interaksi dengan ahli dari berbagi ilmu.
12. Meningkatnya wiraswasta.
13. Pengetahuan dan kesadaran pentingnya keluarga kecil.
14. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial.

Pengaruh negatif yang dialami daerah pedesaan:
1. Pengaruh fashion trend dari kota menyebabkan orientasi ke pertanian berubah.
2. Pengaruh televisi memberikan gambaran tentang kejahatan yang meningkatkan kriminalitas.
3. Banyaknya pemuda yang bekerja ke kota menyebabkan desa kekurangan tenaga produktif.
4. Masuknya investor mengubah tata guna lahan desa menjadi pemukiman maupun bangunan lain.
5. Penetrasi kebudayaan kota yang tidak sesuai cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6. Problem pangan, problem pengangguran, problem lingkungan, dll. Baca juga: Faktor Interaksi Wilayah

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 3 January 2018

Perbedaan Top-Bottom dan Bottom-Up Pembangunan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Sejak era Indonesia merdeka hingga saat ini pembangunan ekonomi terus berjalan. Perbedaan era pemerintahan berdampak pada perbedaan pola pembangunan itu sendiri. Secara umum pendekatan pembangunan di Indonesia dikategorikan ke dalam 2 pendekatan utama yaitu Pendekatan Pembangunan dari Atas (Top- Down), Pendekatan Pembangunan dari Bawah (Bottom-up).

Baca juga:
Mekanisme angin fohn dan dampaknya
Faktor infiltrasi air tanah
Piramida penduduk ekspansi, stasioner dan konstruktif
a. Pendekatan Pembangunan dari Atas (Top-Down)
Konsep pendekatan Top-Down yaitu perencanaan pembangunan yang segala keputusan penting dan jenis kegiatannya telah ditentukan oleh pemerintah. Dalam hal ini masyarakat bersifat pasif hanya menerima segala sesuatunya dari pusat. Peran aktif masyarakat di daerah tidak terasa dan pemangku kepentingan dianggap sudah tahu tentang segala masalah dan solusi yang terdapat pada daerah yang bersangkutan. Di Indonesia konsep pendekatan ini sangat melekat pada era orde baru dari tahun 1970an hingga akhir 1990an. Beberapa kelebihan dan kekurangan dari pendekatan ini diantaranya:
Kelebihan
1. Masyarakat tidak perlu repot untuk memberikan masukan dan ide kepada pemangku kebijakan karena program sudah berjalan sendiri.
2. Hasil program pembangunan bisa optimal karena biaya ditanggung oleh pemerintah pusat.
3. Para pelaksana kebijakan di pusat dapat berkerja dengan optimal.
Kelemahan
1. Masyarakat kurang diberikan ruang untuk memberikan gagasan dalam pembangunan di daerahnya.
2. Masyarakat tidak mengetahui dengan detail tentnag jalannya program dari awal hingga akhir.
3. Ada beberapa kalangan masyarakat yang nantinya merasa kecewa dengan kegiatan pembangunan karena tidak sesuai dengan harapannya

Pembangunan mall marka di kota besar
b. Pendekatan Pembangunan dari Bawah (Bottom-Up)
Pendekatan Bottom-up adalah perencanaan pembangunan dimana masyarakat lebih berperan dalam memberikan gagasan dari awal hingga pelaksanaan evaluasi. Dalam hal ini pemerintahan hanya berperan sebagai fasilitator pembangunan. Beberapa kelebihan dan kekurangan dari pendekatan ini diantaranya adalah:
Kelebihan
1. Masyarakat berperan aktif dalam memberikan gagasan/ide mengenai program yang akan dilaksanakan.
2. Peran masyarakat lebih dominan dibandingkan masyarakat.
3. Masyarakat mengetahui dengan detail pelaksanaan pembangunan dari mulai awal hingga evaluasi.
Kelemahan
1. Peran pemerintah tidak bergitu optimal dan cenderung hanya menjadi penonton.
2. Sering terjadi kesalahpahaman antara masyarakat dengan pemerintah karena perbedaan pandangan.
3. Hasil pembangunan belum tentu baik dikarenakan di tingkat pusat pendidikan pegawai cenderung lebih tinggi dibandingkan di daerah.

Baca juga: Backwash dan spread effect pembangunan
Gambar: disini

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 4 July 2016

Indonesia Perlu Manajemen Transportasi Mudik Untuk Hindari Macet Parah

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Setiap kali lebaran tiba, pastinya fenomena macet akan menghiasi kabar di televisi atau media lainnya. Mengapa hal ini selalu terjadi setiap tahun dan apakah fenomena macet ini bisa diatasi?. Tentunya setiap orang ingin perjalanan mudiknya lancar, aman dan tanpa hambatan lain. Jalan tol sudah dibuat, transportasi umum sudah cukup, lalu mengapa macet tetap saja ada?. 

Coba anda rasakan berada di jalan selama 24 jam tanpa bergerak, bagaimana rasanya?. Lelah, Capek, Bete, Stress dan Frustasi pasti melanda. Ada beberapa fenomena yang saya amati sejak dari dahulu diantaranya: Dahulu titik kemacetan terjadi di wilayah jalur pantura atau nagreg. Sekarang ini setelah Tol Cipali sekalipun dibangun, macet tetap terjadi di pintu keluar Brebes. Jadi pembangunan tol semata-mata hanya memindahkan lokasi kemacetan saja. Lantas faktor apalagi yang membuat kemacetan parah ini bisa terjadi? Apakah gara-gara si Komo lewat?. Jika tidak diantisipasi dari sekarang maka tahun selanjutnya hal serupa pasti akan terjadi. Saya coba membuat analisa asal-asalan, daripada tidak posting sama sekali hari ini.

Pertama, pada dasarnya panjang jalan di Pulau Jawa relatif masih cukup untuk menampung kendaraan agar bisa bergerak normal. Masalahnya ada ketidaknormalan bisa terjadi bila jalan tersebut dipenuhi ratusan hingga jutaan kendaraan dalam satu waktu. Mau sebagus apapun rekayasa lalu lintas, tetap saja macet tidak bisa dicegah.
Kedua, pertumbuhan kendaraan di Indonesia sangat cepat, saya tidak tahu persis angkanya. Yang jelas setiap tahu pasti pemilik kendaraan bermotor akan bertambah. Apalagi fasilitas kredit yang mudah membuat orang kini sangat gampang membeli kendaraan. 
Ketiga, banyak pertemuan jalur yang menimbulkan kemacetan. Misalnya di Brebes ada pertemuan arus darri pentura dan cipali. Ya sudah pasti akan bertemu dan tidak bisa bergerak. Artinya perlu dibangun flyover untuk mengatasi hal ini. Saya sendiri sering melihat, lampu lalu lintas di Indonesia ini memang ajaib, lampu merah nya 60 detik, lampu hijaunya 20 detik.
Keempat, banyak pasar tumpah di sepanjang jalur mudik. Dimana-mana yang namanya pasar pasti padat dan tentu menimbulkan kemacetan. Lalu bagaimana?. Mau dilarang jualan?. Nanti melanggar HAM lagi.
Kelima, jumlah pendatang yang pergi ke Jabodetabek tiap tahunnya meningkat. Kenapa sih nyari kerja harus di Jakarta?. Ya, terserah gue, lu pikirin aja hidup lu sendiri?. Ini menandakan masih adanya ketimpangan pertumbuhan wilayah di Jawa. Kota Jakarta dan sekitarnya berkembang jauh dibanding daerah lain. Hal ini berdampak pada arus urbanisasi yang besar akibatnya Jakarta menjadi lautan manusia pendatang (imigran).

 pastinya fenomena macet akan menghiasi kabar di televisi atau media lainnya Indonesia Perlu Manajemen Transportasi Mudik Untuk Hindari Macet Parah
Macet Lagi, pic: http://berita.suaramerdeka.com/
Setiap orang pada dasarnya berhak mencari rezeki dimanapun, tidak ada yang melarang. Namun bagaimana mengatasi persoalan kemacetan ini yang selalu terjadi di kala lebaran tiba. Saya pikir manajemen transportasi mudik perlu ditingkatkan. Menurut saya cara terbaik adalah membagi jadwal mudik para pekerja?. Apakah bisa?. Saya tidak tahu, barangkali saja ada ahli yang bisa menjawab. Kelancaran perjalanan tergantung pada level normal jumlah kendaraan yang melewati jalan itu sendiri. Artinya setiap ruas jalan punya level kritis. Jika sudah melewati batas level tersebut maka terjadilah macet.

Balik lagi bisakah mudik ini dimanage alias di jadwal?. 
Misalkan ada 100.000 penduduk di Jakarta sedangkan satu panjang ruas jalan hanya bisa lancar jika dilalui maksimal 20.000 kendaraan sehari maka ada 5 waktu perjalanan yang dialokasikan. Artinya nanti setiap penduduk yang mudik wajib mendaftar baik pekerja kantoran, wiraswasta atau gembel sekalipun alias di data terlebih dahulu. Setelah itu akan direkap dan diberikan jadwal waktu mudiknya. Jika melanggar maka akan kena sanksi, gitu aja kok repot?. Masalah lainnya lagi adalah waktu libur karyawan, nah ini tentunya harus disikapi masing-masing bagaimana solusinya. Yang jelas pasti setiap orang ingin mudik nyaman, lancar jaya tanpa macet. Kalau begitu ya harus diatur donk. 

Mau mudik H-3, H-10 ke ya terserah saya, ngapain ngurusin?. Ya memang hal ini terkesan formal sekali, atau mungkin melanggar HAM. HAM lagi HAM lagi, enek saya mendengar HAM. Lalu KAM alias Kewajiban Asasi Manusia udah dijalankan belum?.Haaa. 
Saya hanya bias berdoa semoga yang mudik selamat sampai tujuan dan kalau terjebak kemacetan, maka kesabaran anda sedang diuji. Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 3 July 2016

Mudik dan Ketimpangan Pusat Pertumbuhan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Mudik adalah sebuah fenomena mobilitas penduduk di Indonesia dan menjadi tradisi tersendiri. Setahun merantau di tanah orang, maka sudah keharusan saat Idul Fitri untuk kembali ke kampung halaman bertemu kerabat untuk saling bersilaturrahim. Jutaan manusia akan bergerak dalam waktu yang bersamaan dan pastinya akan menimbulkan kepadatan di mana-mana.

Memang fokus utama untuk pengelolaan arus mudik terutama berada di Jawa karena penduduk Jawa paling banyak. Bagi saya, semakin banyaknya pemudik setiap tahun menandakan semakin besarnya ketimpangan pembangunan pusat pertumbuhan di Jawa. Lihat saja, Jabodetabek yang sudah penuh sesak oleh lautan manusia. Memang tidak ada yang salah dengan mudik, dan di negara lain seperti China pun ada tradisi semacam ini. Namun mudik juga harus dimanage agar keselamatan lebih utama. Mobilitas tinggi tentunya menambah besar resiko kecelakaan lalu lintas. Angka kematian tertinggi justru disumbang dari kecelakaan lalu lintas, buka dari penyakit atau lainnya. Bagaikan sebuah efek domino, semakin banyak penduduk maka > kebutuhan kendaraan besar dan > angka kematian di jalan semakin tinggi. Hal ini tentu harus menjadi perhatian bagi semua masyarakat. Daripada naik motor bawa barang banyak beresiko dan menempuh ratusan kilometer, lebih baik duduk santai di rumah kan?. Tapi jelas yang namanya manusia Indonesia, tidak afdol rasanya jika lebaran tidak di kampung. 

Fasilitas transportasi umum saat ini memang masih belum bisa menampung banyaknya jumlah pemudik. Padahal fasilitas transportasi umum lebih nyaman dan aman. Balik lagi kaitan antara mudik dan ketimpangan pusat pertumbuhan. Sejak era kemerdekaan hingga kini, Ibukota Jakarta dan kota satelit di sekitarnya menjadi magnet yang menggiurkan banyak pendatang. Uang ada di sana dan manusia menyukainya. Lantas kenapa harus Jabodetabek, kemana kota-kota lainnya?. Inilah yang menjadi pusat perhatian kita bersama untuk merencanakan pembangunan yang merata dan tidak egosentrik. Kota-kota lain berhak untuk tumbuh dan menjadi magnet baru sehingga penyebaran kaum pendatang bisa dikelola dan tidak menumpuk di satu titik. Apakah perlu nantinya mendata dulu calon pendatang agar dipilihkan lokasi hijrah nya?. Mungkin suatu saat perlu juga agar satu kotak tidak diisi oleh seratus bola sekaligus dan lebih baik di bagi menjadi 5 kotak atau berapa. Masalahnya dimana 5 kotak lain tersebut dan bisakah 5 kotak baru tersebut memberikan pengharapan seperti kotak pertama (Jakarta dsk).
Mudik adalah sebuah fenomena mobilitas penduduk di Indonesia dan menjadi tradisi tersendir Mudik dan Ketimpangan Pusat Pertumbuhan
Mudik Yuk, pic:http://www.bumn.go.id/
Itulah Indonesia, walau bagaimanapun kita harus bersyukur hidup di negeri yang damai dan tidak ada konflik. Bagi yang mau mudik, hati-hati di jalan tetap waspada dan beristirahatlah jika lelah karena keluarga sangat menunggu jiwa raga anda dalam keadaan sehat di rumah. Bagi yang perlu peta mudik silahkan lihat di situ berikut. Peta Mudik 2016. Dan untuk mengetahui kondisi beberapa ruas jalan utama mudik silahkan buka situs Lewatmana.com

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 5 July 2015

Faktor-Faktor Terjadinya Urbanisasi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Urbanisasi adalah suatu fenomena yang umum terjadi di berbagai negara dunia.
Urbanisasi sebenarnya menyangkut proses menjadi kawasan perkotaan, migrasi masuk kota, berubah profesi dari bertani ke yang lain dan juga menyangkut perubahan dalam pola perilaku manusia. Pemukiman kota cenderung tumbuh terus baik dalam hal luas maupun jumlahnya dan mengakibatkan proporsi penduduk dunia lebih banyak di kota baik kota kecil maupun kota besar. 

Baca juga:
Perhitungan sudut bearing dan azimuth
Rumus iklim Schmidt Ferguson
Perbedaan lokasi absolut dan relatif
Genesa batu basal, ciri dan bentuknya
Menghitung proyeksi penduduk geometrik

Mengapa urbanisasi bisa terjadi?, terdapat delapan faktor yang mendasari terjadinya pergerakan penduduk tersebut. Charles Whynne-Hammond dalam bukunya Elements of Human Geography (1979) mengurutkannya sebagai berikut:

Urbanisasi adalah suatu fenomena yang umum terjadi di berbagai negara dunia Faktor-Faktor Terjadinya Urbanisasi
Urbanisasi terjadi dimana-mana saat ini

1. Kemajuan di bidang pertanian
Adanya mekanisasi di bidang pertanian mendorong dua hal: Pertama, tersedotnya sebagian tenaga kerja agraris ke kota untuk menjadi buruh industri:kedua, bertambahnya hasil pertanian untuk menjamin kebutuhan penduduk yang hidupnya dari pertanian.
2. Industrialisasi
Dikarenakan industri-industri bergantung pada bahan mentah dan sumber tenaga, maka pabrik-pabriknya didirikan di lokasi sekitar bahan mentah demi mengontrol biaya produksi. Selain itu diperlukan tenaga buruh yang banyak sehingga lambat laun akan berkembang membentuk kota baru. 
3. Potensi Pasar
Berkembangnya industri ringan melahirkan kota-kota yang menawarkan diri sebagai penyalur barang terusan kepada desa. Kota-kota perdagangan tersebut lalu menarik pekerja-pekerja baru di pedesaan dan dengan begitu kota akan bertambah besar.
4. Peningkatan kegiatan pelayanan
Industri tersier dan kuarter tumbuh dan meningkatkan rasio perdagangan, taraf hidup dan memacu munculnya organisasi ekonomi dan sosial. Berbagai jenis jasa kemudian tumbuh di perkotaan seperti hiburan, catering, telekomunikasi dan lainnya.
5. Kemajuan transportasi
Bersamaan dengan perkembangan telekomunikasi, pertumbuhan transportasi juga sangat pesat demi menunujang mobilitas penduduk yang semakin pesat. Jalan, jembatan dan sarpras pendukung lain mulai diperbaiki di setiap desa.

Baca juga:
Jenis-jenis lipatan pegunungan yang unik 
Ciri khas bentang alam sungai/fluvial
Faktor kandungan air tanah berbeda-beda
Jenis-jenis pencemaran di lingkungan

6. Tarikan sosial dan kultural
Di kota banyak hal yang menarik seperti bioskop, museum dan tempat rekreasi lain yang pada dasarnya tidak ditemui di desa. Hal tersebut akan menarik minat penduduk desa yang penasaran akan hal tersebut.
7. Kemajuan pendidikan
Tak hanya sekolah-sekolah yang menarik kaum muda untuk pindah ke kota, namun juga media komunikasi massa yang berpusat di kota seperti koran, tv atau radio makin menyadarkan masyarakat pedesaan akan pentingnya pendidikan sebagai kebutuhan hidup dan investasi mencapai kesuksesan di masa depan.
8. Pertumbuhan penduduk alami
Tingkat kesehatan yang semakin baik akan membuat pertumbuhan penduduk alami semakin besar yang berdampak pada ketidakseimbangan lapangan kerja dengan sumber daya manusia di desa. Jalan satu-satunya adalah pergi ke kota untuk mencari penghidupan lain. 

Baca juga: 
Pewilayahan formal dan fungsional itu apa?
4 Fase perkembangan budaya masyarakat Sunda
Makna wawasan nusantara bagi integrasi bangsa
Fenomena terbentuknya angin passat dan antipassat
Kaitan komposisi penduduk dengan demografi

Sumber dan Gambar:
Daldjoeni. Geografi Desa dan Kota

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 25 February 2015

Sejarah Pusat Pinggiran Waktu ke Waktu

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pembangunan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari sebuah negara. Untuk melaksanakan kegiatan pembangunan diperlukan material, alat, kendaraan dan orang
untuk melaksanakan pembangunan sehingga nantinya munculah Kota Pusat Pembangunan. Sayangnya tidak sema pendatang dapat menikmati hasil pembangunan tersebut karena berbagai faktor seperti ketidakseimbangan kebutuhan jumlah pekerja dengan laju pendatang. Kelompok pendatang inilah yang kemudian tersingkir ke daerah penggiran kota. 


Konsep pusat pinggiran dinyatakan dalam berbagai pandangan oleh ilmuwan sosial. John Friedman (1966) membagi dunia ke dalam dua bagian besar yaitu Pusat yang dinamis dan pinggiran yang statis dan mengusulkan 4 wilayah sebagai berikut:
1. Daerah Pusat
Merupakan daerah dengan pengkonsentrasian metropolitan dengan kapasitas tinggi untuk inovasi dan perubahan. Dalam hal ini jaringan hirarki terlihat dari ibukota negara sampai daerah terpencil. Di tingkat dunia, Eropa dan Amerika Utara merupakan pusat daerah pengembangan di dunia barat.
2. Daerah Peralihan Atas.
Daerah ini merupakan batas dengan wilayah pusat dan cocok sebagai pengembangan eksploitasi sumber daya. Ciri khas daerah peralihan ini adalah pengembangan di sepanjang jalan raya dan kota besar. Contoh di dunia adalah Rio De Janeiro dan Sao Paolo.
3. Daerah Batas Sumber Daya
Merupakan wilayah pinggiran pemukiman baru, contohnya seperti pemukiman di lereng Alaska.
4. Daerah Peralihan Atas
Merupakan daerah yang stagnansi atau menurun kemampuannya contohnya daerah pemukiman pedesaan dan pemukiman liar di kota.

Dalam catatan sejarah abad XV, Spanyol dan Portugis memulai suatu perekonomian dunia yang terpadu dengan pengembangan persenjataan dan kapal layar setelah itu melakukan ekspansi ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan mengeksploitasi tambang di sana dengan sistem kerja tanam paksa. Negara Eropa lainnya yang menyusul untuk menjadi daerah pusat adalah Inggris, Perancis dan Jerman. Inggris dengan revolusi Industrinya mulai menguasai perdagangan daratan Amerika di akhir abad ke XII dengan produk andalan yaitu tekstil. 
Tahun 1890an disebut juga sebagai awal dari imperialisme dan selam itu terjadi 3 proses yang saling berhubungan dan membentuk masa depan dunia hingga saat ini.
Pertama, peningkatan kolonialisme yang cepat oleh beberapa negara untuk memperoleh modal investasi. Inggris dan Perancis memasukan daerah di Pasifik, Asia Tenggara dan Afrika dalam koloni mereka. Belanda menjajah Hindia Timur, Jepang mencaplok Taiwan dan lainnya.
Kedua, adalah terjadinya pergeseran dari modal kompetitif ke arah monopoli. Di pertengahan abad ini perdagangan bebas cocok untuk perusahaan kapitalis yang kompetitif dan kolonialisme tidak begitu dibutuhkan. Namun ketika Inggris kehilangan keuntungan produktifnya dan mengingingkan keamanan sumber suplai bahan mentah serta jaminan pembayaran barang ekspor maka monopoli dan kolonialisme dibutuhkan lagi.
Ketiga, peningkatan ekspor modal Eropa keluar negeri sampai 577% antara 1874-1913. Ekspor modal ini pada gilirannya memberikan keuntungan besar kepada Inggris, Perancis, Jerman dan negara lain yang ikut dalam permainan.



Sumber dan Gambar:
Nurhadi. Konsep Teori Pembangunan Pusat Pinggiran Dalam Kajian Geografi

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 24 November 2014

Faktor-Faktor Munculnya Masalah Kota di Indonesia

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Kota-kota di Indonesia saat ini tumbuh dengan sangat cepat seiring dengan pertumbuhan
manusia. Perkembangan kota di Indonesia memang banyak memberikan dampak positif khususnya di bidang ekonomi namun di sisi lain dampak negatif juga sering dirasakan dari perkembangan kota-kota besar di Indonesia seperti banjir, sampah, polusi, hingga kemiskinan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi terhadap munculnya beberapa masalah di kota-kota Indonesia, diantaranya:

1. Tata Ruang Tidak Sesuai
Setiap pembangunan kota tentunya memerlukan perencanaan yang matang dan sesuai dengan kondisi wilayah yang bersangkutan. Seringkali kota-kota di Indonesia dibangun tidak sesuai dengan kondisi fisiknya sehingga berdampak buruk bagi kualitas kota itu sendiri. Contohnya adalah kota Jakarta yang merupakan daerah dataran rendah pada dasarnya merupakan wilayah limpasan air dari hulu sehingga harusnya Jakarta didesain memiliki perencanaan tata air yang baik agar tidak banjir ketika hujan. 

Namun saat ini Jakarta dipenuhi bangunan-bangunan beton mulai dari pusat kota sampai pinggir kali sehingga ketika hujan maka air akan meluap dan membanjiri kota. Hal inilah yang mengindikasikan Jakarta tidak dirancang dengan tata ruang wilayah yang handal. Pembangunan hanya berorientasi pada faktor ekonomi dan bisnis semata tanpa memikirkan dampak ekologis yang muncul kemudian. 

2. Urbanisasi Tidak Terkendali
Urbanisasi merupakan proses perpindahan penduduk yang hampir terjadi di berbagai negara khususnya negara berkembang. Di mata kaum urban (sebutan untuk pendatang dari desa) kota adalah sebuah impian yang bisa mendatangkan kemakmuran. Padahal banyak para kaum urban yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan sehingga mereka nantinya kalah bersaing dan hidup di pinggiran kota membentuk slum area.

3. Ketimpangan Pembangunan Kota dan Desa
Masalah di kota sebenarnya bisa berawal dari wilayah desa itu sendiri. Pembangunan yang timpang antara kota dan desa akhirnya memaksa masyarakat desa untuk mencari tempat mengais rezeki. Hal ini menandakan ada kegagalan dari pemerintah untuk membangun sebuah desa yang nyaman dan dapat menjadi sumber kehidupan masyarakat selama hidupnya. Banyak anggapan saat ini bahwa tinggal di desa bagi beberapa orang adalah menyia-nyiakan waktu. Sebenarnya desa memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan agar tidak semua masyarakatnya pergi ke kota. 

4. Budaya Masyarakat
Kota didiami oleh berbagai macam tipe manusia atau heterogen. Masyarakat Indonesia memang memiliki sifat-sifat negatif yang sebenarnya mengancam kehidupan kota itu sendiri seperti paling sederhana adalah buang sampah. Contohnya adalah sungai-sungai di Jakarta saat ini selalu penuh oleh sampah bekas aktivitas masyarakat. Hal tersebut seakan sudah menjadi budaya yang mengakar pada masyarakat Indonesia. 

Sampah yang menumpuk di sungai tentunya akan mengakibatkan aliran air terhambat dan mengakibatkan banjir. Selain itu budaya berlalu-lintas masyarakat Indonesia masih buruk akibatnya banyak kecelakaaan, pelanggaran dan etika-etika lalu lintas lain yang dilanggar sehingga lalu lintas kota menajdi semrawut.

5. Lemahnya Hukum
Penegakan hukum di Indonesia memang menjadi persoalan hingga saat ini sehingga masyarakat tidak akan jera ketika melanggar aturan seperti buang sampah sembarangan, berkendara tidak patuh aturan, mendirikan bangunan tanpa izin dll.

Ambil contoh di Singapura jika seseorang membuang sampah maka denda besar akan menanti di depan mata oleh sebab itu masyarakat Singapura tidak akan berani melanggar karena denda yang besar. Beda halnya dengan di Indonesia yang masih berpikir ulang mengambil kebijakan tersebut sehingga masyarakat tidak akan jera dan budaya negatif tetap akan terpelihara.
Sudut Jakarta
Sumber dan Gambar:disini
Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 18 November 2014

Faktor dan Sejarah Terbentuknya Slum Area (Area Kumuh Kota)

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Pernahkah kalian melihat deretan pemukiman kumuh di pinggir
sungai/bawah kolong jembatan atau tempat lain di daerah perkotaan?Mengapa hal tersebut bisa terjadi?Tentunya hal ini berkaitan erat dengan interaksi desa dengan kota. Kota secara kasat mata menjadi daya tarik yang besar bagi kaum-kaum di pinggiran. Banyak dari mereka yang tergoda untuk pergi ke kota meski tanpa modal keahlian apapun. Migrasi desa kota yang sifatnya massal, ditambah dengan pertumbuhan penduduk alami yang dimiliki kota itu sendiri, serta kesulitan pendatang untuk menemukan pekerjaan yang menjamin hidup berkecukupan, kesemuanya itu telah melahirkan situasi miskinnya kebanyakan penghuni di kota. Mereka tak ada uang untuk mendirikan rumah tinggal sehingga mereka terpaksa hidup di sembarang tempat. muncullah perkampungan yang berisi gubuk-gubuk dari bahan kertas karton, tripleks, besi, kaleng, plastik dan sebagainya. Ada juga orang-orang yang terpaksa tidur di los pasar, terminal bus, trotoar dan dibawah jembatan.

Setiap negara memiliki istilahnya sendiri untuk perkampungan miskin yang serba liar itu dan di Indonesia disebut daerah kumuh. Dalam bahasa geografi perkotaan pada umumnya lebih disukai kata Bidonvilles (bahasa perancis) dan kadangkala disebut Shanty Towns dalam bahasa Inggris.

Shanty town berasal dati Amerika Serikat pada dasawarsa 30an ketika krisis ekonomi mendorong munculnya kampung-kampung kaum miskin di berbagai kota di sana. Jika masih ada saat ini, istilah slum lebih berarti "kampung jorok" yaitu bagian kota yang gedung-gedungnya telah tua dan ditinggal penghuninya sehingga tidak terawat dan kusam. Sebelum pemerintah membongkarnya untuk diganti dengan bangunan lain, gedung tersebut cepat didiami oleh kaum miskin dan di sana sekaligus menjadi pusat  kriminal.
Juppenlatz seorang berkebangsaan Australia pernah melakukan riset terhadap kota di negara-negara berkembang dan hasilnya pertumbuhan tahunan jumlah penduduk slum area lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk kota yaitu diatas 6%.

Hal tersebutlah yang dinamakan urban catastrophe atau bencana perkotaan. Mengapa kita kaget melihat kepincangan kota yang berupa pemukiman kumuh di negeri Indonesia?. Karena orang Indonesia menganggap bahwa kota sebagai pusat kemajuan dan kesejahteraan tak layak memiliki gejala tersebut padahal kesengsaraan ini juga terdapat di pedesaan. Dari sanalah mereka tergiring untuk pergi ke kota dengan berbagai harapan dan impian yang semu. Masalah kemiskinan kota jelas tidak dapat dilepaskan dari masalah yang terjadi di pedesaan.


Slum Area 
Slum Area

Geograf Prancis George (1970) dalam menelaah kehidupan di Bidonvilles dan kerumitan permasalahannya menyimpulkan bahwa keterlambatan pemerintah di berbagai negeri di dunia ketiga dalam menambah persediaan perumahan bagi pendatang baru di perkotaan, menyebabkan telah terjadinya perkembangan lanjut dari komplek bidonvilles. Di samping akibat meluasnya akibat negatif yakni kemiskinan penghuninya, ada juga kemajuan fisiknya, karena tak semua orang yang  masuk ke wilayah tersebut adalah orang miskin. Pendatang yang memiliki pekerjaan tetap dan uang cukup pun ikut mendirikan rumah disana. Mereka seringkali mendidik dan memimpin kaum miskin untuk hidup teratur, sehingga lahir semacam perkampungan yang agak normal.

Apabila pemecahan masalah bidonvilles hanya berupa pemindahan ke kompleks lain, dimana penghuni mendapatkan tanah baru untuk mereka beli, hanya yang mampu saja yang dapat selamat, tulis George. Lagi pula di tempat baru para pekerja di sektor informal menjadi dijauhkan dari lokasi kegiatan mereka sehari-hari sehingga mungkin menjadi penganggur dan lebih miskin lagi dibandingkan dengan semula. Pemecahan masalah bidonvilles dimana-mana memang tak mudah.

Sumber dan Gambar:
Geografi Desa Kota. Daldjoeni.
Interaksi Desa Kota. Bintarto
disini
disini
Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 12 September 2013

Faktor Penarik dan Pendorong Urbanisasi

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Urbanisasi adalah suatu fenomena gerakan penduduk dari wilayah agraris (desa) ke wilayah industri (kota). Urbanisasi hampir terjadi di seluruh negara dan menjadi gejala yang global dan lumrah terjadi. Baca juga: Sumber daya alam pulau Jawa

Di Indonesia urbanisasi mulai meningkat di era setelah kemerdekaan dengan munculnya pembangunan kota-kota besar khususnya di Pulau Jawa. Ada 2 faktor yang melandasi terjadi pola gerakan urbanisasi ini yaitu faktor penarik (pull factors) dan faktor pendorong (push factors).

Baca juga:

1. Faktor penarik
Kota sebagai suatu wilayah industri dan pusat pelayanan jasa tentunya memberikan magnet tersendiri bagi masyarakat desa untuk hijrah dan mencari peruntungan. Beberapa hal yang menarik dari kota sehingga banyak orang rela meninggalkan desanya antara lain:
  • Upah kerja di kota lebih tinggi 
  • Kota banyak menyediakan lapangan pekerjaan mulai dari tenaga kasar hingga profesional
  • Fasilitas pelayanan sosial mudah didapatkan seperti pendidikan, kesehatan, perbelanjaan
  • Kota memiliki gaya hidup relatif bebas dibanding desa
  • Sarana transportasi mudah didapat
2. Faktor pendorong
Faktor pendorong berkaitan dengan kondisi di desa yang mengakibatkan masyarakatnya ingin pergi meninggalkan desa seperti
  • Kurangnya lapangan kerja
  • Upah di desa relatif rendah
  • Tidak tersedianya fasilitas pelayanan sosial di desa
  • Adat istiadat desa sangat mengekang dan membuat masyarakat tidak berkembang
  • Motif ingin mencari pengalaman
Urbanisasi
Itulah beberapa faktor yang membuat terjadinya fenomena urbanisasi. Hal tersebut menandakan bahwa ada ketimpangan pembangunan antara desa dengan kota. Di negara maju ketimpangan tersebut dikendalikan dengan adanya program mekanisasi pertanian dan peningkatan fasilitas perkebunan dan peternakan agar hasil yang didapatkan lebih besar. 

Baca juga: 
Terbentuknya batu intan di bumi
Pengaruh vulkanisme bagi kehidupan
Contoh soal studi kasus geografi dan jawabannya
Perkembangan kota-kota besar di Indonesia 
Zero population dan kemakmuran suatu negara
Bentuk negara kesatuan dan federasi
Jenis-jenis erosi di permukaan bumi
Benarkah jumlah pohon di bumi ini ada 3 trilyun buah?
Fenomena pra dan pasca vulkanisme

UPDATE QUIPPER
Nilai ulangan harian dan pemahaman belajar kamu masih belum meningkat di kelas?. Gak mau kan nilai kamu kalah terus dengan teman kamu?. Yuk gabung Quipper Video sekarang. Hampir 1 juta siswa Indonesia telah menggunakan Quipper untuk membantu pengayaan belajar di rumah. Materinya lengkap banget
1. Dapat materi SMP + SMA (IPA dan IPS) + UN + SBMPTN
2. Ada ribuan video belajar keren dari tutor terbaik
3. Bank soal dan intensif UN dan SBMPTN
4. Tips dan Trik menjawab soal cepat
5. Dan masih banyak lagi keunggulannya
Yang lebih keren lagi, Quipper masih ada diskon harga lho dengan menggunakan kode diskon dari mitra resmi. Cek di whatsapp saya di bawah untuk dapatkan kode diskonnya. Sumber: Youtube Quipper. Baca : Testimoni perbandingan Quipper dengan Ruangguru
Urbanisasi adalah suatu fenomena gerakan penduduk dari wilayah agraris  Faktor Penarik dan Pendorong Urbanisasi

Sumber https://geograph88.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.