Showing posts with label Biokimia. Show all posts
Showing posts with label Biokimia. Show all posts

Tuesday, 3 October 2017

Ayam atau Telur Duluan? Biomineralisasi Jawabannya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Sudah berapa kali kita mendengar pertanyaan "ayam atau telur duluan?" yang terkadang pertanyaan tersebut sudah dianggap tidak memiliki jawaban. Namun dengan memahami proses terbentuknya telur secara fisiologis maupun biokimianya, maka jawaban mengenai pertanyaan ini dapat dibuktikan secara ilmiah.

Secara anatomi, ayam betina memiliki ovarium yang mampu menghasilkan telur yang bermuara di kloaka. Selama proses yang berada di saluran reproduksi inilah telur yang semula masih berupa yolk (kuning telur) dan selanjutnya akan dibungkus dengan cangkang. Proses pembentukan telur secara ringkas disajikan dalam tabel berikut:


Saluran reproduksi ayam betina
Komposisi utama cangkang telur ayam adalah kalsium karbonat. Proses pembentukan cangkang berada di bagian uterus atau rahim ayam betina. Berdasarkan penelitian biomineralisasi proses kristalisasi kalsium karbonat menjadi bahan penyusun cangkang telur dipengaruhi oleh protein Ovocleidin-17 (OC-17).

Ovocleidin-17 adalah protein yang ditemukan di bagian uterus yang berfungsi sebagai katalisator proses perubahan kalsium karbonat amorfik menjadi kalsium karbonat yang mengkristal. Kristalisasi kalsium karbonat tersebut tidak dapat dilakukan jika tidak ada protein tersebut.

Kesimpulan: Protein Ovocleidin-17 (OC-17) ditemukan di uterus ayam untuk pembentukan cangkang telur. Jika telur dahulu diciptakan, maka proses kristalisasi cangkang telur tidak memungkinkan karena tidak ada protein tersebut untuk proses pembentukan telur. Jadi ayam terlebih dahulu diciptakan.

Referensi:
Colin L. Freeman, John H. Harding, David Quigley, and P. Mark Rodger. Structural Control of Crystal Nuclei by an Eggshell Protein. Angew. Chem. 2010, 122, 5261–5263.



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 24 May 2016

20 Jenis Asam Amino

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Asam amino adalah monomer dari peptida / protein. Peranan protein dalam mahluk hidup sangat komplek seperti katalisator (enzim), transport (darah, perotein membran), nutrien (ovalbumin, kasein, whey), kerangka (kolagen, keratin, fibroin), imunitas (imunoglobulin, fibrinogen, trombin), dan pengatur (hormon).

Silahkan dibaca juga meteri: Struktur Protein dan Fungsi Protein


Ciri-ciri asam amino adalah sebagai berikut:Terdiri dari 20 macam asam amino standar / primer pembentuk protein
  1. Asam amino memiliki gugus karboksil gugus asam amino
  2. Semua dalam keadaan asimetris kecuali Glisin
  3. Perbedaan asam amino ditentukan oleh gugus R
  4. Asam amino dalam protein berbentuk L


Berdasarkan struktur asam amino tersebut, gugus R memiliki perbedaan dalam hal struktur, ukuran, muatan, dan kelarutan. Dengan demikian jenis-jenis asam amino memiliki kelompok golongan polar, nonpolar, asam, basa, bermuatan positif, bermuatan negatif, dan memiliki gugus aromatik. 

20 jenis asam amino standar tersebut yakni alanin, arginin, asparagin, asam aspartat, sisten, glutamin, glisin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, prolin, serin, treonin, triptofan, tirosin, dan valin




Selain asam amino standar, juga ada jenis asam amino bukan standar yakni:
  • 4-hydroxyproline (contoh: pada dinding sel tumbuhan)
  • 5-hydroxylysine (contoh: pada kolagen)
  • N-methyllisine  (contoh: pada myosin)
  • γ-carboxyglutamate (contoh: pada protrombin)
  • Selenocysteine  (contoh: pada glutation peroksidase)
  • Ornithine dan citrullin (contoh: pada semangka)




Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 13 July 2015

Eduard Buchner - Penemu Fermentasi Tanpa Sel

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Eduard Buchner ialah seorang kimiawan dan zymologist Jerman Eduard Buchner - Penemu Fermentasi Tanpa Sel
Eduard Buchner
Lahir: 20 Mei 1860 Munich, Konfederasi Jerman

Meninggal: 13 Agustus 1917 (umur 57) Munich, Kekaisaran Jerman

Kebangsaan: Jerman

Bidang: Biokimia

Alma mater: University of Munich

Pembimbing doktoral: Otto Fischer, Adolf von Baeyer

Dikenal dalam: Reaksi Mannich

Penghargaan: Nobel Kimia (1907)
Eduard Buchner ialah seorang kimiawan dan zymologist Jerman. Pada tahun 1907 ia memenangkan Nobel Kimia untuk karyanya pada fermentasi. Banyak yang menyangka kalau labu Büchner ditemukan oleh Eduard. Sebenarnya alat laboratorium kimia ini ditemukan oleh seorang kimiawan industri Ernst Büchner.

Ia lahir di München pada 20 Mei 1860, merupaka anak seorang dokter dan dokter Luar Biasa Kedokteran Forensik. Ia adik dari Hans Ernst August Buchner.

Pada tahun 1884, ia mulai belajar kimia kepada Adolf von Baeyer dan botani kepada Profesor C. von Naegeli, di Botanic Institute di Munich. Setelah masa kerja dengan Hermann Emil Fischer di Erlangen, Buchner dianugerahi gelar doktor dari University of Munich pada tahun 1888.


Penelitian

Eduard Buchner mengamati pembentukan etanol dan karbon dioksida ketika ekstrak bebas sel ragi ditambahkan ke larutan gula. Dengan demikian, ia membuktikan bahwa sel-sel tidak penting untuk proses fermentasi dan komponen yang bertanggung jawab untuk proses tersebut dilarutkan dalam ekstrak. Dia memberi nama zat tersebut ‘zymase’.

Pada tahun 1897, Eduard Buchner memulai kajiannya mengenai kemampuan ekstrak ragi untuk memfermentasi gula walaupun ia tidak terdapat pada sel ragi yang hidup. Pada sederet eksperimen di Universitas Berlin, ia menemukan bahwa gula difermentasi bahkan apabila sel ragi tidak terdapat pada campuran. Ia menamai enzim yang memfermentasi sukrosa sebagai "zymase" (zimase). Pada tahun 1907, ia menerima penghargaan nobel dalam bidang kimia atas riset biokimia dan penemuan fermentasi tanpa sel yang dilakukannya. Mengikuti praktek Buchner, enzim biasanya dinamai sesuai dengan reaksi yang dikatalisasi oleh enzim tersebut. Umumnya, untuk mendapatkan nama sebuah enzim, akhiran -ase ditambahkan pada nama substrat enzim tersebut (contohnya: laktase, merupakan enzim yang mengurai laktosa) ataupun pada jenis reaksi yang dikatalisasi (contoh: DNA polimerase yang menghasilkan polimer DNA).

Proses fermentasi telah dimodifikasi di Jerman selama Perang Dunia I untuk menghasilkan gliserin untuk membuat peledak nitrogliserin. Demikian pula, program persenjataan militer menemukan teknologi baru dalam industri makanan dan kimia yang membantu mereka memenangkan pertempuran dalam Perang Dunia Pertama. Misalnya, mereka menggunakan bakteri yang mengubah jagung atau molasses menjadi aseton untuk membuat mesiu peledak.


Kehidupan pribadi

Buchner menikah dengan Lotte Stahl pada tahun 1900. Selama Perang Dunia I , Buchner menjabat sebagai Mayor di lini depan rumah sakit lapangan di Focşani, Rumania. Dia terluka pada 3 Agustus 1917 dan meninggal karena luka sembilan hari kemudian di Munich pada usia 57.


Sumber:

Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 19 May 2015

Adolf Windaus - Penemu Struktur Sterol

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Adolf Otto Reinhold Windaus ialah seorang kimiawan Jerman yang memenangkan Nobel Kimia pa Adolf Windaus - Penemu Struktur Sterol
Adolf Otto Reinhold Windaus
Lahir: 25 Desember 1876 Berlin, Kekaisaran Jerman

Meninggal: 9 Juni 1959 (umur 82) Göttingen, Jerman Barat

Kebangsaan: Jerman

Bidang: Kimia organik, biokimia

Mahasiswa doktoral: Adolf Friedrich Johann Butenandt

Penghargaan: Hadiah Nobel dalam Kimia (1928)
Adolf Otto Reinhold Windaus ialah seorang kimiawan Jerman yang memenangkan Nobel Kimia pada tahun 1928 untuk karyanya pada sterol dan hubungannya dengan vitamin. Ia merupakan penasihat doktoral bagi Adolf Butenandt yang kelak menerima Hadiah Nobel Kimia pada tahun 1939.


Biografi

Adolf Windaus lahir di Berlin pada 25 Desember 1876. Minatnya dalam kimia bangkit oleh karena kuliah dari Hermann Emil Fischer. Ia mulai belajar kedokteran dan kimia di Berlin dan kemudian di Freiburg. Ia mendapatkan gelar doktor pada awal tahun 1900 dan berfokus pada kolesterol dan sterol lain di Universitas Albert Ludwig Freiburg. Pada tahun 1913, ia menjadi profesor kimia di Universitas Innsbruck namun 2 tahun kemudian ia pindah ke Universitas Göttingen dan tetap di sana sampai pensiun pada tahun 1944.

Ia terlibat dalam penemuan transformasi kolesterol melalui beberapa tahap ke vitamin D3 (kolekalsiferol). Ia memberikan patennya ke Merck dan Bayer dan mereka mengeluarkan obat Vigantol pada tahun 1927.

Adolf Otto Reinhold meninggal di Göttingen, Jerman Barat padad 9 Juni 1959 saat berusia 82 tahun.


Penemuan Struktur Kimia Kolesterol

Pada tahun 1905 saat Adolf Windaus masih menjadi seorang mahasiswa tingkat doktoral di Institut Kimia Universitas Freiberg, Jerman, ia mencoba menentukan struktur kimia kolesterol. Bersama peneliti lainnya, pada tahun 1910, Adolf Windaus menyatakan bahwa jaringan jantung bisa rusak disebabkan aterosklerosis yang mengandung kolesterol tinggi dibandingkan dengan jaringan yang normal.

Riset yang luar biasa membuat Windaus di anugerahi hadiah Nobel pada tahun 1928. Meskipun kemudian diketahui bahwa penjelasan tentang struktur molekul kolesterol ternyata salah, panitia penganugerahan hadiah Nobel tidak mencabut hadiah tersebut dan Windaus tetap mencoba meneruskan penelitian untuk memperbaikinya. Dua puluh tahun kemudian, para ilmuwan menemukan struktur kimia kolesterol yang benar.

Sumber:
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Adolf_Windaus
  • http://kliklkm.co.id/sejarah-penemuan-kolesterol.html

Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 20 March 2015

Alexander Oparin - Penggagas Teori Kehidupan Berasal dari Laut

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Penggagas Teori Kehidupan Berasal dari Laut Alexander Oparin - Penggagas Teori Kehidupan Berasal dari Laut

Alexander Oparin
Lahir: 2 Maret 1894 Uglich, Kekaisaran Rusia

Meninggal: 21 April 1980 (umur 86) Moskow, Rusia RSFS, Uni Soviet

Kewarganegaraan: Uni Soviet

Kebangsaan: Rusia

Bidang: Biokimia

Lembaga: Moscow State University ; USSR Academy of Sciences

Alma mater: Moscow State University

Dikenal untuk: Kontribusi terhadap teori asal usul kehidupan ; coacervates

Penghargaan: Pahlawan Buruh Sosialis (1969) ; Lenin Prize (1974) ; Kalinga Prize (1976) ; Medali Emas Lomonosov (1979)
Alexander Ivanovich Oparin (Александр Иванович Опарин, dalam bahasa Inggris, Aleksandr Ivanovich Oparin) adalah biokimiawan Soviet yang terkenal karena belum terujinya teori tentang asal-usul kehidupan, dan untuk bukunya yang berjudul "The Origin of Life."


Biografi

Alexander Ivanovich Oparin lahir di Uglich, Kekaisaran Rusia pada 2 Maret 1894. Ia lulus dari Universitas Negeri Moskow pada tahun 1917, di sana ia menjadi profesor biokimia pada tahun 1927. Banyak tulisan awal bercerita seputar enzim tanaman dan perannya dalam metabolisme.

Pada tahun 1924 ia mengajukan hipotesis yang menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi dikembangkan bertahap melalui evolusi kimia dari karbon berbasis molekul dalam sup purba bumi. Pada tahun 1935, bersama dengan akademisi Alexey Bakh ia mendirikan Biokimia Institut Academy of Sciences Soviet. Pada tahun 1939, Oparin menjadi Anggota dari Akademi, dan pada tahun 1946 menjadi anggota penuh. Antara tahun 1940-an dan 1950-an ia mendukung  teori pseudo-ilmiah Trofim Lysenko dan Olga Lepeshinskaya, yang membuat klaim tentang "asal-usul sel dari materi noncellular". "Mengambil partai line "membantu memajukan karirnya. Pada tahun 1970 ia terpilih sebagai Presiden dari Masyarakat Internasional untuk Studi Origins of Life.

Oparin menjadi Pahlawan Buruh Sosialis pada tahun 1969, menerima Hadiah Lenin pada tahun 1974 dan dianugerahi Medali Emas Lomonosov pada tahun 1979 "untuk prestasi luar biasa dalam biokimia". Ia juga penerima lima kali dari Order of Lenin.

Alexander Oparin meninggal pada 21 April 1980 (umur 86) di Moskow, Rusia RSFS, Uni Soviet dimakamkan di Pemakaman Novodevichy di Moskow.


Teori Evolusi Biokimia

Teori ini mencoba menggali informasi asal usul makhluk hidup dari sisi biokimia. Menurut Oparin dalam bukunya yang berjudul The Origin of Life (1936) menyatakan bahwa asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi beserta atmosfernya.

Oparin menjelaskan bahwa pada mulanya atmosfer bumi purba terdiri atas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan gas hidrogen (H2). Oleh karena adanya pemanasan dan energi alam, berupa sinar kosmis dan halilintar, gas-gas tersebut mengalami perubahan menjadi molekul organik sederhana, sejenis substansi asam amino.

Selama berjuta-juta tahun, senyawa organik itu terakumulasi di cekungan perairan membentuk primordial soup, seperti semacam campuran materi-materi di lautan panas. Tahap selanjutnya, primordial soup ini membentuk monomer. Monomer bergabung membentuk polimer. Polimer membentuk agregasi berupa protobion. Protobion adalah bentuk awal sel hidup yang belum mampu bereproduksi, tetapi mampu memelihara lingkungan kimia dalam tubuhnya.

Di samping itu, protobion juga telah memperlihatkan sifat yang berhubungan dengan makhluk hidup, seperti dapat melakukan metabolisme, kemampuan menerima r4ngsang, dan bereplikasi sendiri. Terbentuknya polimer dari monomer-monomer telah dibuktikan oleh Sydney W. Fox. Dalam percobaannya, Fox memanaskan 18–20 macam asam amino pada titik leburnya dan didapatkan protein.

Pendapat Alexander Oparin mendapat dukungan dari ahli kimia Amerika Serikat, bernama Harold Urey. Urey menyatakan bahwa atmosfer bumi purba terdiri atas gas-gas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan gas hidrogen (H2). Dengan adanya energi alam (berupa halilintar dan sinar kosmis), campuran gas-gas tersebut membentuk asam amino.


Karya-karya besar
  • "The External Factors in Enzyme Interactions Within a Plant Cell"
  • "The Origin of Life on Earth"
  • "Life, Its Nature, Origin and Evolution"
  • "The History of the Theory of Genesis and Evolution of Life"
Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Alexander_Oparin
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 14 January 2015

Gertrude B. Elionp - Penemu Obat Penghambat Proses Leukemia

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran  Gertrude B. Elionp - Penemu Obat Penghambat Proses Leukemia
Gertrude B. Elion

Lahir: Gertrude Belle Elion 23 Januari 1918, New York City, Amerika Serikat
Meninggal: 21 Februari 1999 (umur 81), Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat
Kewarganegaraan: AS
Lembaga: Burroughs Wellcome, Duke University
Alma mater: Hunter College
Penghargaan: Garvan-Olin Medal (1968), Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran (1988), National Medal of Science (1991), 
Lemelson-MIT Prize (1997), National Inventors Hall of Fame (1991) (Wanita pertama yang dilantik)
Gertrude Belle Elion adalah biokimiawati dan farmakolog Amerika Serikat. Ia adalah salah satu penerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran (1988), bersama dengan James Whyte Black dan George Hitchings, atas jasanya merancang studi yang menimbulkan perumusan banyak obat-obatan baru yang kini digunakan untuk menghambat proses leukemia. Kerjanya juga menyingkap fungsi ADN. Ia juga wanita pertama yang dipilih ke National Inventor's Hall of Fame (1991), yang menghormati tokoh seperti Thomas Alva Edison.


Biografi

Elion lahir pada 23 Januari 191 di New York City, orangtuanya Bertha (Cohen), seorang imigran dan Robert Elion, seorang dokter gigi. Ketika ia berusia 15 tahun, kakeknya meninggal karena kanker. Ia lulus dari Hunter College pada tahun 1937 dengan gelar Kimia dan (M.Sc.) di New York University pada tahun 1941. Ia bekerja sebagai asisten laboratorium dan seorang guru SMA. Ketika Perang Dunia II pecah, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk bekerja di laboratorium ilmiah sehingga ia pergi untuk bekerja sebagai asisten George Hitchings di perusahaan farmasi Burroughs Wellcome-(sekarang GlaxoSmithKline). Dia tidak pernah memperoleh gelar Ph.D. secara resmi, namun kemudian diberikan sebuah kehormatan Ph.D dari Politeknik University of New York pada tahun 1989 dan gelar kehormatan SD dari Harvard universitas pada tahun 1998. Dia menghadiri Brooklyn Polytechnic Institute (sekarang dikenal sebagai Polytechnic University of New York), tetapi tidak lulus.

Gertrude Elion meninggal di North Carolina pada tahun 1999, saat berusia 81 tahun. Dia pindah ke Research Triangle pada tahun 1970, dan untuk sementara waktu menjabat sebagai profesor riset di Duke University. Dia juga pernah bekerja untuk National Cancer Institute, American Association for Cancer Research dan Organisasi Kesehatan Dunia. Dari tahun 1967 sampai tahun 1983, dia adalah Kepala Departemen of Experimental Therapy untuk Burroughs Wellcome. Elion tidak pernah menikah, punya anak, dan memiliki hobi 'mendengarkan musik'.


Pekerjaan

Daripada mengandalkan trial-and-error, Elion dan Hitchings menggunakan perbedaan biokimia antara sel normal manusia dan patogen (agen penyebab penyakit) untuk merancang obat yang bisa membunuh atau menghambat reproduksi patogen tertentu tanpa merugikan sel-sel inang. Sebagian besar pekerjaan awal Elion berasal dari penggunaan dan pengembangan purin


Penemuan Elion meliputi:
  • 6-merkaptopurin (Purinethol), pengobatan pertama untuk leukemia dan digunakan dalam transplantasi organ.
  • Azathioprine (Imuran), pertama agen-immuno penekan, digunakan untuk transplantasi organ.
  • Allopurinol (Zyloprim), untuk gout.
  • Pirimetamin (Daraprim), untuk malaria.
  • Trimethoprim (Septra), untuk meningitis, septicemia, dan infeksi bakteri dari saluran kemih dan saluran pernafasan.
  • Acyclovir (Zovirax), untuk virus herpes.
  • Nelarabine untuk pengobatan kanker.

Selama 1967 dia menduduki posisi kepala Departemen perusahaan Eksperimental Terapi dan resmi pensiun pada tahun 1983. Meskipun pensiun, Elion terus bekerja hampir penuh waktu di laboratorium, dan mengawasi adaptasi azidotimidin (AZT), yang menjadi obat pertama yang digunakan untuk pengobatan AIDS.


Penghargaan dan Honors

Pada tahun 1988 Elion menerima Hadiah Nobel Kedokteran, bersama-sama dengan Hitchings dan Sir James Hitam.

Dia terpilih menjadi anggota National Academy of Sciences pada tahun 1990, anggota dari Institute of Medicine pada tahun 1991, dan anggota dari American Academy of Arts dan Ilmu juga pada tahun 1991.Penghargaan lainnya adalah National Medal of Science (1991), Lemelson-MIT Lifetime Achievement Award (1997), dan Garvan-Olin Medal (1968). Pada tahun 1991 ia menjadi wanita pertama yang dilantik di National Inventors Hall of Fame.

Sumber: Wikipedia
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 22 November 2014

Biografi Luis Federico Leloir - Penemu Jalur Metabolisme Dalam Laktosa

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 adalah seorang dokter dan Biokimiawan Argentina yang menerima penghargaan Nobel Kimia tah Biografi Luis Federico Leloir - Penemu Jalur Metabolisme Dalam Laktosa
Luis Federico Leloir
[Gb. Wikipedia]
Lahir: 6 September 1906, Paris, Prancis

Meningga: 2 Desember 1987 Buenos Aires, Argentina

Tempat tinggal: Buenos Aires, Argentina

Kebangsaan: Argentina Argentina

Bidang: Biokimia

Lembaga:
  • University of Buenos Aires
  • Washington University di St Louis (1943-1944)
  • Columbia University (1944-1945)
  • Fundación Instituto Campomar (1947-1981)
  • University of Cambridge (1936-1943)

Alma mater: University of Buenos Aires

Dikenal untuk:
  • Galaktosemia
  • Intoleransi laktosa
  • Metabolisme karbohidrat

Penghargaan:
  • Louisa Gross Horwitz Prize (1967)
  • Nobel Kimia (1970)
  • Legion of Honour (1982)
Luis Federico Leloir adalah seorang dokter dan Biokimiawan Argentina yang menerima penghargaan Nobel Kimia tahun 1970 untuk penelitiannya pada nukleotida gula dan perannya dalam biosintesis karbohidrat.

Leloir lahir di Perancis namun ia menerima sebagian besar pendidikannya di Universitas Buenos Aires dan menjadi direktur di grup penelitian swasta Fundación Instituto Campomar hingga kematiannya pada tahun 1987. Meski laboratoriumnya sering terganggu oleh kurangnya bantuan uang dan peralatan tingkat dua, penelitiannya tentang nukleotida gula, metabolisme karbohidrat dan hipertensi ginjal mendapatkan perhatian dan kepopuleran internasional dan telah menimbulkan langkah maju dalam pemahaman, diagnosis dan penanganan penyakit bawaan galaktosemia.


Biografi

Luis Federico Leloir lahir di Paris, Prancis pada 6 September 1906, dari pasangan Federico Leloir dan Hortensia Aguirre de Leloir. Ia lahir di sebuah rumah tua di Jalan Víctor Hugo no. 81 di Paris, beberapa blok jauhnya dari Arc de Triomphe.

Sejak kecilnya, Luis senang mengamati fenomena alam dengan kepentingan tertentu. Di sekolah ia senang membaca buku tentang hubungan antara ilmu alam dan biologi. Ia pernah mengenyam penmdidikan di Escuela General San Martín (SD), Colegio lacordaire (sekolah menengah), dan selama beberapa bulan di Beaumont College di Inggris.

Di tahun 1920 Leloir menemukan salsa golf (golf saus). Setelah udang disajikan dengan saus yang biasa menjadi menu saat makan siang dengan teman-temannya di Ocean Club di Mar del Plata, Leloir datang dengan kombinasi aneh dari saus tomat dan mayones untuk membumbui makanannya.

Luis Federico Leloir meninggal di Buenos Aires, Argentina pada 2 Desember 1987.


Nukleotida gula

Pada awal tahun 1948, Leloir dan timnya mengidentifikasi mendasar tentang nukleotida gula untuk metabolisme karbohidrat, mengubah Instituo Campomar menjadi lembaga biokimia terkenal di seluruh dunia. Segera setelah itu, Leloir menerima Argentine Scientific Society Prize, salah satu dari banyak penghargaan yang ia terima baik di Argentina maupun internasional. Selama ini, timnya mendedikasikan dirinya untuk mempelajari glikoprotein ; Leloir dan rekan-rekannya menjelaskan mekanisme utama metabolisme galaktosa (sekarang diciptakan jalur Leloir) dan menentukan penyebab galaktosemia, kelainan genetik serius yang mengakibatkan intoleransi laktosa.

Tahun berikutnya, ia mencapai kesepakatan dengan Roland Garcia, Kepala Departemen Ilmu Pengetahuan Alam di UBA, yang bernama Leloir, Carlos Eugenio Cardini dan Enrico Cabib sebagai profesor tituler di Universitas yang baru didirikan Institut Biokimia. Institute akan membantu mengembangkan program ilmiah di perguruan Argentina serta menarik peneliti dan akademisi dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Perancis, Spanyol, dan negara-negara Amerika Latin lainnya.


Karir selanjutnya

Leloir melanjutkan posisi mengajar di Departemen Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Buenos Aires, mengambil cuti hanya untuk menyelesaikan studinya di Cambridge dan di Laboratorium Penelitian Enzim di Amerika Serikat.

Pada tahun 1983, Leloir menjadi salah satu anggota dari pendiri Third World Academy of Sciences, kemudian berganti nama menjadi  TWAS.


Hadiah Nobel

Pada tanggal 2 Desember 1970, Leloir menerima Hadiah Nobel untuk Kimia dari Raja Swedia untuk penemuan jalur metabolisme dalam laktosa, menjadi orang Argentina ketiga untuk menerima penghargaan bergengsi dalam bidang apapun.


Penghargaan
  • 1943 Third National Science Award
  • 1958 T. Ducett Jones Memorial Award
  • 1965 Bunge and Born Foundation Award
  • 1966 Gairdner Foundation Award
  • 1967 Columbia University's Louisa Gross Horwitz Prize
  • 1968 Benito Juárez Award
  • 1968 Honorary Doctorate from Universidad Nacional de Córdoba
  • 1968 Argentina Chemistry Association's Juan José Jolly Kyle Award
  • 1969 Honorary member of the English Biochemical Society
  • 1970 Nobel Prize in Chemistry
  • 1971 Legion de Honor “Orden de Andrés Bello”
  • 1976 Bernardo O'Higgins en el Grado de Gran Cruz
  • 1982 Legion of Honour
  • 1983 Diamond Konex Award: Science and Technology


Karya yang diterbitkan
  • "Suprarrenales y Metabolismo de los hidratos de carbono", (1934)"Farmacología de la hipertensina", (1940)
  • "Hipertensión arterial nefrógena, (1943)
  • "Perspectives in Biology", (1963)
  • "Renal Hipertensión", (1964)
  • Mordoh J, Leloir LF, Krisman CR (January 1965). "In vitro Synthesis of Particulate Glycogen". Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 53: 86–91. doi:10.1073/pnas.53.1.86. PMC 219438. PMID 14283209.
  • Parodi AJ, Krisman CR, Leloir LF, Mordoh J (September 1967). "Properties of synthetic and native liver glycogen". Arch. Biochem. Biophys. 121 (3): 769–78. doi:10.1016/0003-9861(67)90066-5. PMID 6078102.
  • — (1983). "Far away and long ago". Annu. Rev. Biochem. 52: 1–15. doi:10.1146/annurev.bi.52.070183.000245. PMID 6351722.
  • "Lipid-bond Saccharides containing glucose and galactose in agrobacterium tumefaciens", (1984)
  • Zorreguieta, A.; Ugalde, R.A.; Leloir, L.F. (January 1985). "An intermediate in cyclic beta 1-2 glucan biosynthesis". Biochem. Biophys. Res. Commun. 126 (1): 352–7. doi:10.1016/0006-291X(85)90613-8. PMID 3970697.
  • Tolmasky, M.E.; Staneloni, R.J.; Leloir, L.F. (1982). "Structural correspondence between an oligosaccharide bound to a lipid with the repeating unit of the Rhizobium meliloti". Anales de la Asociación Química Argentina 70: 833–842.
  • Tolmasky, M.E.; Takahashi, H.K.; Staneloni, R.J.; Leloir, L.F. (1982). "N-glycosilation of the proteins". Anales de la Asociación Química Argentina 70: 405–411.
  • Staneloni, R.J.; Tolmasky, M.E.; Petriella, C.; Leloir, L.F. (November 1981). "Transfer of Oligosaccharide to Protein from a Lipid Intermediate in Plants". Plant Physiology 68 (5): 1175–9. doi:10.1104/pp.68.5.1175.
  • Staneloni, R.J.; Tolmasky, M.E.; Petriella, C.; Ugalde, R.A.; Leloir, L.F. (10 January 1980). "Presence in a plant of a compound similar to the dolichyl diphosphate oligosaccharide of animal tissue". Biochemical Journal 191 (1): 257–260. PMC 1162206. PMID 7470095.
  • Tolmasky, M.E.; Staneloni, R.J.; Ugalde, R.A.; Leloir, L.F. (August 1980). "Lipid-bound sugars in Rhizobium melilotii". Archives of Biochemistry and Biophysics 203 (1): 358–364. doi:10.1016/0003-9861(80)90187-3.
(Sumber: Wikipedia)

Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 16 September 2014

Selman Waksman - penemu Streptomisin, Antibiotik Pertama Untuk TBC

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran  Selman Waksman - penemu Streptomisin, Antibiotik Pertama Untuk TBC
Selman Abraham Waksman 
Lahir: 22 Juli 1888, Nova Pryluka, dekat Kiev, Ukraina, Kekaisaran Rusia

Meninggal: 16 Agustus 1973 (umur 85,) Woods Hole, Barnstable County, Massachusetts, Amerika Serikat

Kewarganegaraan: Amerika Serikat (Setelah 1916)

Bidang: Biokimia dan Mikrobiologi

Almamater: Rutgers University, University of California, Berkeley

Penghargaan: Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran (1952), Leeuwenhoek Medal (1950)

Pasangan: Deborah B. Mitnik (1 anak)
Selman Abraham Waksman adalah seorang penemu, Biokimiawan, dan ahli mikrobiologi Amerika Serikat kelahiran Ukraina yang dikenal karena penelitiannya mengenai streptomisin dan beberapa antibiotik lainnya. Waksman juga dikenal telah menciptakan istilah antibiotik.

Selama menjadi seorang profesor biokimia dan mikrobiologi di Universitas Rutgers selama empat dekade, ia menemukan lebih dari dua puluh antibiotik (kata yang ia diciptakan). Keuntungan yang diperoleh dari perizinan paten nya digunakan untuk mendanai penelitian mikrobiologi, mendirikan Waksman Institut Mikrobiologi yang terletak di Rutgers University Busch Campus di Piscataway, New Jersey (AS). Pada tahun 1952 ia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada pengakuan "untuk penemuan" streptomisin, "antibiotik aktif pertama untuk TBC." Waksman kemudian dituduh melakukan penipuan oleh Albert Schatz , seorang mahasiswa PhD yang bekerja di lab - yang menerbitkan makalah pertama tentang Streptomisin dengan Waksman sebagai co-author sekunder.

Pada tahun 2005 Selman Waksman telah ditunjuk sebagai ACS National Historical Chemical Landmark sebagai pengakuan atas kerja yang signifikan dari laboratorium dalam mengisolasi lebih dari lima belas antibiotik, termasuk streptomisin, yang merupakan pengobatan efektif pertama untuk TB.


Biografi

Selman Waksman lahir pada 22 Juli 1888, di Nova Pryluka, Podolia Governorate, di Kekaisaran Rusia, sekarang Vinnytsia Oblast, Ukraina. Dia adalah anak dari Fradia (London) dan Jacob Waksman. Ia berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1910, tak lama setelah menerima diploma matrikulasi dari Fifth Gymnasium di Odessa, enam tahun kemudian ia menjadi warga negara Amerika yang dinaturalisasikan.

Waksman lulus dari Universitas Rutgers pada tahun 1915 dengan gelar Bachelor of Science (BSc) di Pertanian. Dia melanjutkan studinya di Rutgers dan menerima gelar Master of Science (MSc) pada tahun berikutnya. Selama studi pascasarjana, Ia mengadakan penelitian dalam bakteriologi tanah di bawah bimbingan Dr. J.G. Lipman di Stasiun Penelitian Pertanian New Jersey sebelum dianugerahi gelar M.Si. pada 1916.
Waksman kemudian diangkat sebagai Research Fellow di University of California, Berkeley dari mana ia dianugerahi Doctor of Philosophy (PhD) dalam bidang Biokimia pada tahun 1918.

Kemudian ia bergabung dengan fakultas di Rutgers University di Departemen Biokimia dan Mikrobiologi. Di Rutgers bersama timnya, Waksman menemukan beberapa antibiotik, diantaranya: actinomycin, clavacin, streptothricin, streptomycin, grisein, neomycin, fradicin, candicidin, candidin, dan lain-lain. Dua di antaranya, streptomisin dan neomisin, telah digunakan secara luas dalam pengobatan berbagai penyakit menular.
Streptomisin adalah antibiotik pertama yang dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit TBC. 
Setelah tahun 1940 banyak penghargaan dan gelar kehormatan telah diberikan untuk Waksman setelah, terutama Hadiah Nobel pada tahun 1952; Bintang Rising Sun, dianugerahkan dengan kaisar Jepang, dan pangkat Commandeur di Prancis Legio d'honneur.

Selman Waksman meninggal pada 16 Agustus 1973 dan dimakamkan di Pemakaman Crowell di Woods Hole , Barnstable County, Massachusetts.

Kontribusi lainnya yang dikenal dari Selman Waksman adalah cat anti-fouling untuk Angkatan Laut, penggunaan enzim dalam deterjen, dan penggunaan Concord akar anggur untuk melindungi Vineyards Perancis dari infeksi jamur.


Streptomisin

Waksman telah mempelajari keluarga organisme Streptomyces sejak menjadi mahasiswa dan telah mempelajari organisme Streptomyces griseus . Streptomisin diisolasi dari S. griseus dan ditemukan efektif terhadap TBC oleh salah satu mahasiswa pascasarjana Waksmanyakni, Albert Schatz.


Kontroversi

Rincian dan kredit untuk penemuan streptomisin dan kegunaannya sebagai antibiotik yang kuat diperebutkan oleh Schatz, akhirnya mengarah pada proses pengadilan.Waksman dan Rutgers menyelesaikan masalahnya di luar pengadilan dengan Schatz, sehingga remunerasi keuangan dan hak untuk "hukum dan ilmiah kredit sebagai co-penemu streptomisin. "

Percobaan sistematis untuk menguji beberapa strain antibiotik terhadap beberapa organisme penyakit yang berbeda yang berlangsung di laboratorium Waksman pada saat itu. Pendekatan klasik mereka adalah untuk mengeksplorasi matriks lengkap dengan baris yang terdiri dari antibiotik dan kolom yang terdiri dari berbagai penyakit. Bakteri yang menghasilkan antibiotik streptomisin ditemukan oleh Schatz di tanah pertanian di luar lab, dan diuji oleh dia. Akhirnya Waksman datang untuk mengklaim kredit tunggal untuk penemuan.


Neomycin

Neomycin berasal dari actinomycetes yang ditemukan oleh Waksman dan Hubert A. Lechevalier, salah satu mahasiswa pascasarjana Waksman. Penemuan ini diterbitkan dalam jurnal Science.


Hadiah Nobel

Waksman dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1952 "untuk penemuan streptomisin, antibiotik pertama yang efektif melawan tuberkulosis." Dalam pidato penghargaan, Waksman disebut "salah satu donatur terbesar bagi umat manusia," sebagai hasil dari penemuan streptomisin. Schatz protes karena tidak dilibatkan dalam penghargaan, tapi komite Nobel memutuskan bahwa dia adalah seorang asisten lab hanya bekerja di bawah seorang ilmuwan terkemuka.

Pada tahun 1951, dengan menggunakan setengah dari paten royalti pribadinya, Waksman menciptakan Yayasan Waksman untuk Mikrobiologi. Pada pertemuan dewan Pembina Yayasan, yang diselenggarakan pada bulan Juli 1951 ia mendesak pembangunan fasilitas yang berguna untuk mikrobiologi, bernama Waksman Institut Mikrobiologi, yang terletak di kampus Busch dari Rutgers University di Piscataway, New Jersey. Presiden Pertama Yayasan, Waksman digantikan posisinya oleh anaknya, Byron H. Waksman, 1970-2000.


Publikasi

Selman Waksman adalah penulis atau co-author dari lebih dari 400 makalah ilmiah, serta dua puluh delapan buku dan 14 pamflet ilmiah.
  • Enzim (1926)
  • Humus: asal, komposisi kimia, dan penting dalam alam (1936, 1938)
  • Prinsip Mikrobiologi Tanah (1938)
  • Hidupku dengan Mikroba (1954) (otobiografi)
Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Selman_Waksman
Sumber https://blogpenemu.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 9 May 2014

Racun Kimia Penyebab Kegemukan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Racun atau bahasa kerennya toksin memang tak pandang bulu Racun Kimia Penyebab Kegemukan

Racun atau bahasa kerennya toksin memang tak pandang bulu, entah Anda orang kurus, gemuk, ideal, atlet, atau orang yang merasa sehat sekalipun pasti hari terpapar toksin dari udara, air, makanan, bahkan perlengkapan rumah Anda. Sesuai namanya toksin atau racun pasti akan membuat tubuh kita melemah dan berakibat ke suatu penyakit degeneratif.

Banyak yang tidak tahu ternyata toksin juga bisa menyebabkan kegemukan atau gemuk dalam arti kadar lemak dalam tubuh Anda tinggi meskipun secara fisik tubuh Anda ideal atau bahkan kurus. Toksin yang menyebabkan kegemukan dikenal dengan istilah OBESOGEN (1).  Dalam rumah, zat yang sering kita jumpai ada di kaleng makanan, botol minum bayi, perlengkapan masak, kosmetik, dan mainan anak-anak. 

Kebanyakan dari toksin tersebut mengganggu Sistem Endrokin atau dalam bahasa inggris disebut ED (Endocrine Distruptor) yang berpengaruh ke hormon tubuh kita (2). Zat kimiawi dari toksin tersebut bekerja dengan mengaktifkan reseptor estrogen yang berbahaya baik bagi pria maupun wanita. Reseptor estrogen tersebut sifatnya "liar" yang artinya mampu mengikat sel apapun dalam tubuh kita (3). Lihat Gambar 1.

 Racun atau bahasa kerennya toksin memang tak pandang bulu Racun Kimia Penyebab Kegemukan
Gambar 1. ED yang berikatan dengan sel secara acak (Sumber: precisionnutrition)

Obesogen tersebut mampu membuat ukuran sel lemak semakin membesar (Gambar 2). Disamping itu, obesogen tidak hanya  menyebabkan kegemukan  melainkan bisa menyebabkan cacat pada janin, gadis yang cepat puber, demaskulinasi pada pria, kanker payu dara, dan gangguan yang lain. Setidaknya ada sekitar 20 zat kimia yang dikategorikan sebagai obesogen (4), namun dalam artikel ini akan dijelaskan 5 obesogen yang sering dijumpai di rumah.

 Racun atau bahasa kerennya toksin memang tak pandang bulu Racun Kimia Penyebab Kegemukan
Gambar 2. Proses membesarnya sel lemak.



Berikut adalah 5 contoh Obesogen yang sering dijumpai di rumah kita

1. Bisphenol-A (BPA) – Dijumpai di Botol Minun Bayi, Plastik dan Kaleng Makanan serta Dikaitkan dengan Obesitas dan Kanker

BPA merupakan zat sintetis yang sering dijumpai dalam berbagai produk seperti botol bayi, plastik makanan dan minuman. Penelitian menunjukkan bahwa BPA sangat berbahaya bagi hewan maupun manusia (5).  Struktur BPA menyerupai hormon estradiol pada wanita. Di dalam tubuh, BPA akan mengaktifkan reseptor estrogen (6).

Dari penelitian menujukkan bahwa BPA mampu menaikkan berat badan dan obesitas baik pada hewan maupun manusia (7). Disamping itu BPA juga mampu menambah jumlah sel lemak (8) serta mampu mempengaruhi resistensi insulin, penyakit pembuluh darah, diabetes, gangguan saraf, disfungsi tiroid, kanker dan malformasi pada alat kelamin (9, 10, 11, 12).

2. Phthalates – Bahan Kimia yang Banyak Dijumpai di Plastik yang Dikaitkan dengan Kegemukan Perut dan Malformasi Kelamin pada Anak Laki-laki



Phthalates digunakan untuk plastik yang fleksibel yang sering dijumpai di kemasan produk makanan, mainan, dan cat. Bahan kimia ini mudah melepas dan mengkontaminasi makanan, air bahkan udara yang kita hirup (13). 

Peneliti dari Swedia menemukan bahwa anak kecil dapat menyerap phthalate dari material plastik di lantai melalui kulit dan saluran pernafasan (14).

Phthalate memberikan kontribusi terhadap kelebihan berat badan akibat pengaruh reseptor hormon PPARs yang terlibat dalam metabolisme (15). Banyak penelitian juga menyebutkan bahwa tingginya kadar phthalate dalam tubuh akan mempengaruhi lemak perut, peningkatan lingkar pinggang, dan resistensi insulin, terutama pada pria (15, 16, 17).

3. Atrazine – Sejenis Herbisida yang Dikaitkan dengan Cacat pada Bayi, Kerusakan Mitokondria, dan Kegemukan


Atrazine merupakan herbisida yang bisa mencemari air bawah tanah. Toksin ini juga tergolong "endocrine disruptor" dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara Atrazine dengan cacat pada bayi (18).

Zat tersebut juga dapat merusak mitokondria pada hewan uji tikus serta adanya penurunan laju metabolisme dan peningkatan kegemukan pada perut (19).









4. Organotin – Bahan Kimia yang Digunakan untuk Fungisida yang Dapat Menyebabkan Penaikan Berat Badan dan Pembentukan Lemak Liver


Organotin merupakan bahan kimia buatan yang penggunaannya sangat luas dalam industri. Salah satu jenis organotin adalah tributyltin (TBT) yang digunakan sebagai fungisida dalam cat. Beberapa ilmuwan percaya bahwa tributyltin dan jenis organotin lainnya dapat memberikan kontribusi peningkatan jumlah sel lemak (20)

Terdapat juga bukti bahwa tributyltin dalam janin dapat mengirim sinyal multipotensi stem cells menjadi sel lemak  (21). Dalam sebuah uji coba dengan menggunakan tikus, pemberian tributyltin dapat menyebabkan penambahan berat badan dan kerusakan liver (22)

5. Perfluorooctanoic Acid (PFOA) – Toksin yang Dijumpai di Perlengkapan Memasak yang Dapat Menyebabkan Kanker dan Penambahan Lemak Tubuh


PFOA banyak ditemukan di peralatan dapur seperti teflon dan microwave. Hampir 98% penduduk Amerika Serikat darahnya mengandung toksin ini (23). Zat tersebut juga dapat mengganggu tiroid dan ginjal kronis (24, 25).

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa PFOA juga dapat meningkatkan insulin, leptin, dan berat badan saat usia paruh baya (26).





Bagaimana Cara Meminimalisir Efek Endocrine Distruptor Akibat Obesogen?


Berikut beberapa tips untuk mengurangi efek obesogen yang ada di sekitar kita:

  1. Makanlah makanan organik.
  2. Hindari makanan dan minuman dengan mengunakan wadah plastik.
  3. Gunakan wadah yang terbuat dari stainless steel atau alumunium sebagai pengganti plastik.
  4. Untuk bayi Anda, jangan menggunakan botol minuman susunya yang terbuat dari plastik. Gunakan berbahan gelas sebagai penggantinya.
  5. Gunakan alat masak yang terbuat dari stainless, keramik, atau logam besi
  6. Gunakan bahan kosmetik yang alami dan organik



Sumber https://www.generasibiologi.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.