Showing posts with label PTBK. Show all posts
Showing posts with label PTBK. Show all posts

Tuesday, 7 July 2015

PENGERTIAN METODE PENELITIAN KUALITATIF

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Inilah Pengertian Metode Penelitian Kualitatif - Sahabat BK mengingat kembali saat saya dulu mencoba memahami tentang jenis metode penelitian, yang terdapat 2 jenis penelitian yaitu Kuantitatif dan Kualitatif. Nah khusus artikel kali ini saya bahas tentang pengertian kualitatif. Menurut Sukmadinata (2005) dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka (Danim, 2002).

Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian penelitian kualitatif tersebut adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).Metode Penelitian Kualitatif
Inilah Pengertian Metode Penelitian Kualitatif PENGERTIAN METODE PENELITIAN KUALITATIF

Ada  lima ciri pokok karakteristik metode penelitian kualitatif yaitu:

1. Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data

Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung.

2. Memiliki sifat deskriptif analitik

Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data.

3. Tekanan pada proses bukan hasil

Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentaransformasi data menjadi angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan teori sebagai suatu temuan atau hasil penelitian tersebut.

4. Bersifat induktif

Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan.

5. Mengutamakan makna

Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang keberhasilan dan kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru, mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru) diungkap oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara sahih dan tepat.

Berdasarkan ciri di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik maknanya dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa harus menggunakan angka, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami. Generalisasi tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks dan situasi tertentu. Realitas yang kompleks dan selalu berubah menuntut peneliti cukup lama berada di lapangan.

Sejalan dengan pendapat di atas, Bogdan dan Biklen (1992) menjelaskan bahwa bahwa ciri-ciri metode penelitian kualitatif ada lima, yaitu:
  1. Penelitian kualitatif mempunyai setting yang alami sebagai sumber data langsung, dan peneliti sebagai instrumen kunci.
  2. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih banyak kata-kata atau gambar-gambar daripada angka
  3. Penelitian kualitatif lebih memperhatikan proses daripada produk. Hal ini disebabkan oleh cara peneliti mengumpulkan dan memaknai data, setting atau hubungan antar bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
  4. Peneliti kualitatif mencoba menganalisis data secara induktif: Peneliti tidak mencari data untuk membuktikan hipotesis yang.mereka susun sebelum mulai penelitian, namun untuk menyusun abstraksi.
  5. Penelitian kualitatif menitikberatkan pada makna bukan sekadar perilaku yang tampak.
Atas dasar penggunaanya, dapat dikemukakan bahwa tujuan penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan yaitu untuk:
  • Mendeskripsikan suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukenali kekurangan dan kelemahan pendidikan sehingga dapat ditentukan upaya penyempurnaannya.
  • Menganalisis dan menafsirkan suatu fakta, gejala dan peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks ruang dan waktu serta situasi lingkungan pendidikan secara alami.
  • Menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan berdasarkan data dan informasi yang terjadi di lapangan (induktif) untuk kepentingan pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kuantitatif.
Bidang kajian penelitian kualitatif dalam pendidikan antara lain berkaitan dengan proses pengajaran, bimbingan, pengelolaan/manajemen kelas, kepemimpinan dan pengawasan pendidikan, penilaian pendidikan, hubungan sekolah dan masyarakat, upaya pengembangan tugas profesi guru, dan lain-lain. Selain penelitian kualitatif yang digunakan dalam bidang pendidikan adalah penelitian tindakan kelas.

Demikian informasi yang bisa saya bagikan untuk sahabat BK tentang Pengertian Metode Kualitatif Menurut Ahli. Semoga dapat membantu kalian dalam memahami penelitian dengan menggunakan metode kualitatif.

Sumber https://www.maribelajarbk.web.id/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 6 July 2015

METODE PENGUMPULAN DATA

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Apa Saja Metode Pengumpulan Data Dalam Penelitian ? - Dalam penelitian yang dilakukan ada 2 jenis penelitian yang ada, yaitu Peneltian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif. Untuk perbedaannya kedua penelitain tersebut bisa di baca disini. Kedua penelitian tersebut memang berbeda, namun dalam metode pengumpulan data bisa sama. 

Kemudian saat melakukan suatu penelitian baiknya kalian menggunakan lebih dari satu atau minimal 2 alat pengumpulan data. Hal ini berguna sebagai referensi data yang cukup akurat dan dapat dipercaya dalam proses pelaksanaan penelitian kalian. Metode pengumpulan data mencakup dua sumber, untuk lebih jelasnya silahkan baca di bawah ini :
Apa Saja Metode Pengumpulan Data Dalam Penelitian  METODE PENGUMPULAN DATA

Sumber Data Dan Metode Pengumpulan Data
Ada dua sumber data dan metode pengumpulan data, dua hal tersebut yaitu :

1.   Data Primer
Data penelitian yang diperoleh sendiri melalui

  • Wawancara, Observasi, Tes,
  • Kuesioner (Daftar Pertanyaan)
  • Pengukuran Fisik
  • Percobaan Laboratorium

2.   Data Sekunder
Data yang diperoleh dari sumber kedua, dokumentasi lembaga

  • Biro Pusat Statistik (BPS)
  • Rumah sakit
  • Lembaga atau institusi

Metode Pengumpulan Data

1. Kuesioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden. Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam kuesioner kemudian dicatat/direkam

2. Observasi
Pengamatan melibatkan semua indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pembau, perasa). Pencatatan hasil dapat dilakukan dengan bantuan alat rekam elektronik

3. Wawancara
Pengambilan data melalui wawancara /secara lisan langsung dengan sumberdatanya, baik melalui tatap muka atau lewat telephone, teleconference. Jawaban responden direkam dan dirangkum sendiri oleh peneliti.

4. Dokumen
Pengambilan data melalui dokumen tertulis mamupun elektronik dari lembaga/institusi. Dokumen diperlukan untuk mendukung kelengkapan data yang lain.

Demikian informasi dari saya sahabat BK, kali ini saya membahas tentang Metode Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif. Semoga informasi yang sedikit ini dapat bermanfaat. Adapun pertanyaan silahkan kalian ajukan di kolom komentar.

Kalian bisa mendapatkan buku tentang metode penelitian dari Suharsimi Arikunto, Sugiyono dll

Sumber https://www.maribelajarbk.web.id/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 13 January 2014

LATAR BELAKANG PTBK

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Kenapa mesti ada PTBK....???
 
Coba kita simak sepenggel latar belakang dari terjadinya PTBK,

Pada suatu hari bu Ghani Guru BK/ Konselor di SMA "Dahlia" terlihat begitu risau sehabis memberikan layanan Bimbingan Klasikal di kelas XI D. Di ruang BK bu Ghani tampak membolak-balik materi layanan yang baru dilakukan. Sebentar-sebentar pandangannya dilayangkan jauh ke depan sambil manggut-manggut seperti ada sesuatu yang menggeayutinya. Beliau mulai bertanya-tanya kepada dirinya : "Tadi saya memberikan informasi tentang peranan konsep diri dalam pilihan karir. Tetapi mengapa anak-anak tidak begitu tertarik dengan materi itu. Padahal materi itu sangat penting bagi mereka". Sesaat bu Ghani menarik napas panjang ingin merefleksikan apa yang barusan dilakukan, beliau merasa risau dan mulai bertanya kepada dirinya : "Apa metode ceramah yang saya gunakan kurang tepat ? Tampaknya begitu. Tadi si Gita dan Nabila tampak ngomong sendiri, juga Ganjar dengan Gio tampak bermain dengan HP nya. Tambah lagi Aji dengan Nanik usul supaya pelajaran bimbingan di LKS kan saja. Padahal ini bukan pelajaran". Tapi kemudian bu Ghani nampak tersenyum dan bergegas keluar dari ruangan BK. 

Coba kita simak sepenggel latar belakang dari terjadinya PTBK LATAR BELAKANG PTBK
Dalam hatinya beliau terucap:” Saya akan menghadap Wakasek Bidang Kurikulum. Beliau kan sudah menyandang gelar Doktor. Beliau tentu tahu apa yang saya rasakan ini. Saya akan bertanya dan meminta penjelasan kepada beliau tentang model-model pembelajaran atau metodik khusus pembelajaran. Mungkin penjelasan beliau bermanfaat untuk memperbaiki proses penyelenggaraan layanan BK. Yahh..saya harus merubah cara saya memberikan layanan....agar mutu layanan BK menjadi lebih baik dan siswapun puas...”Ilustrasi di atas mnggambarkan betapa seorang Konselor (tentu sebagai profesional) dengan kejujurannya mengakui kelemahannya dalam menyelenggarakan layanan BK dan berusaha untuk memperbaikinya agar mutu layanan BK menjadi lebih baik. Berusaha menjaga mutu kinerja adalah sesuatu yang baik bagi profesional apalagi menjadikannya sebagai budaya profesi dalam keseharian sangatlah membantu pengembangan profesi (Zi Orga. 2003 dalam Taufik.2009;7). Pelaku profesi yang tidak memiliki komitmen untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan mutu layanan profesinya lambat laun akan menurunkan kualitas keprofesionalan dan bila hal ini dibiarkan saja maka pada akhirnya profesi akan menuju kepada kondisi “born-out profession” (mati profesi). 

Setelah menyelenggarakan kegiatan profesionalnya bu Dhani merefleksi diri atas kerisauan yang dirasakan dari hasil yang dicapai dalam kegiatan profesionalnya. Bu Dhani sebagai profesional sadar betul bahwa layanan profesional yang kurang bermutu harus diubah menjadi layanan yang lebih bermutu sehingga dirinya dan siswa sebagai pengguna jasa profesionalnya juga merasa puas. Kesadaran seperti ini bukan sesuatu yang mudah di dapat. Di kalangan Guru, pun Konselor apabila hasil pembelajaran atau hasil layanan BK tidak mencapai hasil seperti yang diinginkan, kecenderungannya selalu menunjuk kepada sumber masalah di luar dirinya misalnya siswa sebagai sumber kesalahan dengan memberikan label-label kepada siswa sebagai siswa bandel, siswa nakal, siswa tak bisa diatur, bahkan siswa bodoh, siswa kurang ajar dan sebagainya. 

Apa yang dilakukan bu Ghani sebenarnya adalah awal suatu kegiatan penelitian. Mungkin kita pernah mendengar istilah penelitian tindakan (action research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara memberikan suatu perlakuan terhadap suatu kondisi. Schumacher, S & cMillan, J.2001, Carr & Kemis (dalam Wardhani.2007: 1.4) lebih jauh menjelaskan:



action research is a form of self-reflective enquiry undertaken by participans (teachers, students, or principals, for example) in social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (1) their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices, and (3) the situations (and institutionss) in wich the practices are carried out.
 Pengertian tersebut mengandung beberapa ide pokok seperti di bawah ini :
  1.  Penelitian tindakan adalah suatu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
  2. Penelitian tindakan dilakukan oleh orang yang terlibat dalam situasi yang diteliti seperti konselor, guru,konseli, dan sebagainya
  3. Penelitian  tindakan dilakukan dalam situasi sosial termasuk pelayanan bimbingan dan konseling
  4. Tujuan penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan suatu praktik, pemahaman terhadap praktik, dan situasi di mana praktik itu diselenggarakan.
Perlu dipahami bahwa penyelenggaraan Penelitian Tindakan (selanjutnya disingkat PT) untuk guru bidang studi atau guru kelas menjadi semakin mudah dilaksanakan karena guru bidang studi di SD,SMP ataupun SMA memiliki kelas dalam mana mereka melaksanakan tugasnya. Guru kelaspun (umumnya di SD) sangat memungkinkan karena biasanya guru kelas mengajar di kelas yang tetap (tidak berpindah-pindah). Dengan demikian guru bidang studi dan guru kelas memiliki fasilitas yang tersedia setiap saat untuk melaksanakan PT di kelas yang kemudian dikenal dengan istilah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri. PTK seyogyanya dilakukan  berkolaborasi dengan teman sejawat atau lebih baik lagi dengan para pakar di bidangnya. Atas dasar pemikiran ini maka PTK merupakan   penelitian yang bersifat kolaborasi yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. 

Layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki karakteristik  yang berbeda dengan kegiatan pembelajaran. Ini disebabkan karena Guru Pembimbing di sekolah / konselor sekolah tidak memiliki kelas yang “tetap” sebagaimana guru bidang studi ataupun guru kelas. di samping itu  deskripsi tugas Guru Pembimbing/Konselor berbeda dengan Guru Bidang Studi atau Guru Kelas. Guru Pembimbing di sekolah/Konselor sekolah (Untuk selanjutnya penulis menggunakan istilah konselor) dalam melaksanakan tugasnya dapat berskala setting kelas atau  settingdi luar kelas, bisa bersifat individual maupun klasikal. Oleh karena itu penelitian tindakan dalam setting bimbingan dan konseling atau disebut dengan istilah penelitian tindakan – bimbingan dan konseling (PTBK) dapat  didefinisikan sebagai “penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh konselor melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki mutu layanan BK agar kesejahteraan mental siswa meningkat”.  

Dilihat sepintas, definisi penelitian tindakan kelas (PTK) dan penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK) tampak memiliki konsep yang hampir bersamaan. Memang benar demikian, karena PTBK awalnya berangkat dari PTK. Namun karena layanan bimbingan dan konseling berbeda secara prinsip dengan pelaksanaan pembelajaran maka konsep PTK dikembangkan menjadi PTBK. Pengembangan ini telah dilakukan oleh para pakar pembelajaran dan pakar layanan bimbingan dan konseling melalui proses, diskusi, simulasi, dan pemikiran yang panjang. Dan hasilnya seperti yang diuraikan dalam penjelasan di atas.

Sumber https://www.maribelajarbk.web.id/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 9 January 2014

KARAKTERISTIK PTBK

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Inilah Karakteristik PTBK Khusus PTK Guru BK - Selamat pagi sahabat Guru BK, kali ini saya akan membagikan sedikit pengetahuan saya tentang karakteristik PTBK yang saya peroleh dari salah satu buku pedoman saya. Ada beberapa karakteristik yang melekat pada PTBK yang harus Bapak dan Ibu Guru BK pahami sebelum membuat suatu Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Lebih jelasnya silahkan Bapak dan Ibu Guru BK baca di bawah ini :
Inilah Karakteristik PTBK Khusus PTK Guru BK KARAKTERISTIK PTBK

Karakteristik PTBK seperti berikut :
  1. PTBK merupakan penelitian kolaboratif yaitu suatu penelitian kerjasama antara konselor dan teman sejawatnya di mana ia bekerja. teman sejawatnya disini bisa dari teman seprofesi (sesama konselor), guru bidang studi, atau pimpinan terkait. Sangat disarankan teman sejawat diambil dari lembaga keilmuan yang memiliki  lembaga penelitian, misalnya staf pengajar (dosen) pada ilmu sejenis dari perguruan tinggi. PTBK yang dilakukan secara mandiri (tidak melibatkan pihak lain) hasilnya ditenggarai akan sangat subyektif.
  2.  PTBK dilakukan oleh konselor pada mata layanan yang telah diselenggarakan. 
  3. Setting PTBK. Karena layanan BK settingnya bisa klasikal, kelompok, maupun individual maka PTBK juga dapat diselelnggarakan dalam setting klasikal, kelompok, maupun individual. Di kelas ataupun di luar kelas, dalam jam belajar ataupun di luar jam belajar, bahkan di sekolah ataupun di luar sekolah. 
  4. Dasar diselenggarakannya PTBK adalah karena adanya keseriusan, kegalauan, rasa tidak puas konselor atas layanan yang diselenggarakan. Mungkin disebabkan karena metode penyampaian yang kurang tepat, mungkin materi yang kurang menarik, mungkin karena pengelolaan kelas yang kurang baik, mungkin karena penugasan yang kurang menantang, dan sebagainya. Semua kegalauan yang dirasakan direfleksikan secara jujur sebagai dasar untuk penyelenggaraan PTK. Refleksi yang tidak   disertai dengan kejujuran menyebabkan tindakan perbaikannya kelak tidak tepat. Refleksi memang merupakan proses pembelajaran. Konselor disarankan untuk senantiasa melakukan refleksi atas mutu layanan yang diselenggarakan. Beberapa pertanyaan yang dapat membantu untuk refleksi diri seperti:
    a.    Apakah rapport yang saya bangun sudah bagus?
    b.    Apakah teknik pemahaman konseli yang saya gunakan sudah benar? 
    c.    Apakah saya sudah mendeskripsikan masalah konseli dengan benar?
    d. Apakah saya sudah memberikan kesempatan yang memadai bagi konseli untuk mengungkapkan diri?
    e. Apakah saya sudah menumbuhkembangkan potensi diri konseli dengan benar?
    f.  Apakah alternatif pemecahan masalah yang saya twarkan kepada konseli sudah baik?
    g.    Apakah bahasa komunikasi yang saya gunakan mudah dipahami konseli?
    h.    Apakah pendekatan dan teknik konseling yang saya gunakan sudah tepat?
    i.      Apakah tujuan layanan sudah tercapai?
     
  5. Ada kesadaran dan kemauan untuk memperbaiki keadaan yaitu keadaan mutu layanan. Professional seyogyanya secara terus menerus berusaha untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan mutu layanan. Upaya seperti ini harus dibiasakan di kalangan professional. Karena budaya menjaga mutu merupakan kebiasaan baik (Zi Orga. 2003 dalam Taufik.2009:45) yang senantiasa perlu diupayakan oleh professional termasuk konselor. 
  6. Hasil PTBK berdampak kepada semakin meningkatnya kesejahteraan mental siswa yang ditandai dengan: (a) hasil belajar siswa meningkat semakin baik, (b) hubungan siswa – siswa, siswa – guru, siswa – orang tua murid menjadi harmonis, (c) memiliki pandangan positif terhadap masa depannya. 
  7. Adanya perasaan puas pada konselor atas keberhasilan upaya perbaikan  yang dilakukan dalam proses bimbingan dan konseling serta perasan puas pada konseli (siswa) atas tindakan yang diterima dari konselor. 
  8. PT-BK dilakukan dalam proses layanan BK sehingga fokus penelitiannya berada pada proses layanan BK yang melibatkan konselor dengan konseli. PT-BK tampaknya hanya bisa diselenggarakan oleh orang yang benar-benar berlatar belakang pendidikan Bimbingan dan Konseling. Artinya, meskipun ada staf BK tetapi berlatar belakang pendidikan non BK mereka dipastikan kurang mampu bahkan mungkin tidak dapat melakukan PT-BK. Karena staf BK yang berpendidikan non BK tidak dapat menghayati “roh” BK. Penelitian tindakan merupakan suatu cara untuk menggabungkan teori dengan praktik menjadi satu kesatuan: ide-dalam-praktikyang dilakukan konselor untuk memperoleh perspektif yang lebih luas (evidence-based practice) mengenai praktik BK-nya dan dalam kerangka mengembangkan profesi dan pribadi konselor ke arah pribadi altruistik (Triono.2009.1)
Dengan uraian-uraian tersebut dapatlah kiranya Anda membedakan pengertian PTK dengan PT-BK,  menggambarkan bagaimana sosok penelitian PT-BK, mendeskripsikan siapa yang melakukan dan dimana dilakukan PT-BK, menggambarkan bagaimana melakukan PT-BK, mendeskripsikan harapan apa yang diinginkan dari hasil PT-BK, mengemukakan alasan mengapa konselor / Guru BK tidak mempunyai kelas yang permanen, menyebutkan perbedaan karakteristik kelas konvensional dengan kelas imajiner. Apabila Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan benar berarti Anda telah memahami konsep dasar PT-BK. Pemahaman terhadap PT-BK akan lebih baik apabila Anda mambaca sumber-sumber bacaan lainnya yang relevan sehingga wawasan Anda tentang PT-BK menjadi semakin luas yang dengan demikian kemampun Anda untuk meningkatkan mutu kinerja profesinya menjadi semakin terbuka.


Sumber https://www.maribelajarbk.web.id/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.