Showing posts with label Karya: Khoirul Taqwim. Show all posts
Showing posts with label Karya: Khoirul Taqwim. Show all posts

Tuesday, 13 October 2026

Lagu - Jejak Tiga Puluh Menit, Karya: Khoirul Taqwim


Tiga puluh menit kuhias mimpi

Kira hatimu mulai terpaut

Ternyata hanya sebuah ilusi

Yang membawaku perlahan larut



Maaf jika aku terlalu percaya

Membaca sinyal yang tak pernah ada

Hingga suratku menyita waktu

Menguras tenang di dalam dadamu



Kutahu membalasnya terasa berat

Rangkaian kata yang penuh syarat

Namun terima kasih atas santunmu

Meski ragu menyelimuti hatimu



Kini kuterima semua salah paham

Tanpa dendam yang terendam

Kecewa ini akan kuterima

Sebagai jeda yang penuh makna



Tak apa jika kita tak bersatu

Tak apa jika jalanmu tak denganku

Keberanian ini takkan kusesali

Pernah berharap pada jiwa yang murni



Sebab percayalah pada satu hal

Di antara takdir yang tak berujung bekal

Ikatan yang tak pernah bertaut nyawa

Kadang bertahan seumur masa



Kini kubiarkan hatiku istirahat

Melepas asa yang sempat melekat

Menyimpan jejak cerita singkat ini

Sebagai kenangan yang hangat di hati

Lagu — Satu Jam yang Meruntuhkan Segalanya, Karya: Khoirul Taqwim

 



Bertahun-tahun kita berjalan bersama,

Menyusuri jalanan kota yang penuh cerita,

Engkau mengajakku melihat indahnya dunia,

Seolah ada harapan di antara kita berdua.


Engkau mengajakku menatap kampus menjulang,

Gedung-gedung tinggi berdiri begitu megah,

Kita berjalan berdampingan tanpa merasa asing,

Membuatku percaya ada rasa yang mulai merekah.


Engkau mengajakku ke pameran buku,

Menyusuri lembar demi lembar pengetahuan,

Di antara riuh manusia dan waktu yang berlalu,

Diam-diam kusimpan harapan dalam kebersamaan.


Lalu untuk apa semua perjalanan itu,

Jika akhirnya hanya sebatas teman bagimu?

Mengapa begitu indah jalan yang kita lalui,

Jika ternyata tak ada tempat untukku di hatimu?


Hanya satu jam kita duduk berbicara,

Namun cukup untuk mengubah seluruh cerita,

Segala prasangka, harapan, dan tanda tanya,

Runtuh seketika oleh sebuah kenyataan.


Aku tak menyalahkanmu atas jawaban itu,

Sebab perasaan tak pernah bisa dipaksa menyatu,

Hanya saja aku masih mencoba memahami,

Mengapa kebersamaan begitu mudah kusalahartikan sendiri.


Kini biarlah semua menjadi kenangan,

Tentang dua insan yang pernah berjalan berdampingan,

Kau pulang membawa keputusanmu,

Aku pulang membawa cerita untuk kutulis dalam buku.

Lagu — Lima Menit yang Terlambat, Karya: Khoirul Taqwim


 

Lima menit akhirnya kutahu,  

Engkau telah bertunangan dengannya,  

Dia yang selama ini kau impikan,  

Sementara cintaku terlambat terucapkan.  


Maafkan aku yang terlambat mengenalmu,  

Terlambat memahami indah senyummu,  

Saat kusimpan cinta di dalam dada,  

Ternyata hatimu telah memilih dia.  


Bila langit masih bertabur bintang,  

Engkau bagai cahaya yang bersinar terang,  

Indah terlihat dari kejauhan,  

Namun tak tersentuh oleh kedua tanganku.  


Maafkan aku yang terlambat berkata,  

Bahwa namamu pernah mengisi jiwa,  

Ada cinta yang tak sempat kusampaikan,  

Kini hanya menjadi kenangan.  


Masih kuingat saat kuantar dirimu,  

Sepulang mengajar di senja yang syahdu,  

Engkau tersenyum, tampak begitu bahagia,  

Dan aku pun bahagia berada di dekatmu kala itu.  


Tak pernah kusesali pertemuan kita,  

Meski akhirnya bukan aku pilihanmu,  

Sebab pernah mengantarmu pulang dengan bahagia,  

Adalah kenangan indah yang kusimpan di dada.  


Biarlah cerita kita tertulis di sanubari,  

Menjadi rahasia yang tak lekang oleh hari,  

Tak perlu dunia tahu bagaimana akhirnya,  

Cukuplah Tuhan yang mengetahui segalanya.

Lagu — Batu yang Tak Lagi Bicara, Karya: Khoirul Taqwim


Jika tak ada cinta, pergilah saja,  

Bersama mimpi dan bunga mawar yang kau puja,  

Tak perlu bertahan bila hati tak merasa,  

Sebab cinta tak tumbuh hanya karena bersama.

  

Untuk apa kita harus dipertemukan,  

Jika rasa tak hadir dalam setiap tarikan napas,  

Mengapa jalan kita pernah disatukan,  

Jika akhirnya berpisah tanpa bekas?


Kau mengejar mawar di taman impian,  

Sedang aku terdiam memeluk kenyataan,  

Kupikir pertemuan adalah awal harapan,  

Ternyata hanya singgah dalam perjalanan.

 

Tak ingin kupaksa hatimu untuk mencinta,  

Tak ingin kutahan langkahmu yang menjauh,  

Jika bahagiamu bukan denganku akhirnya,  

Pergilah, biar rinduku perlahan meluruh.


Biarkan kisah ini menjadi batu,  

Diam membisu di sudut waktu,  

Tak lagi bergerak mengejar bayangmu,  

Tak lagi bicara tentang cinta yang semu.

  

Kelak bila mawar itu mekar di tamanmu,  

Semoga bahagia tumbuh di setiap harimu,  

Tak perlu kau ingat luka yang pernah berlalu,  

Sebab aku belajar mengikhlaskan dirimu.

 

Kini cerita kita telah selesai,  

Kubiarkan kenangan perlahan terkulai,  

Tak semua pertemuan harus sampai ke tujuan,  

Ada cinta yang cukup menjadi kenangan.

Tuesday, 25 August 2026

Lagu - Pujangga Dalam Jiwa, Karya: Khoirul Taqwim

 



Apakah engkau seorang pujangga,

yang menyentuh hati lewat kata,

membuka luka yang lama terjaga,

hingga air mata berubah doa.


Bahasamu lembut menembus jiwa,

membuat benci belajar cinta,

mengubah gelap menjadi cahaya,

di sudut hati yang terluka.


Di atas sajadah aku bertanya,

siapa yang menitipkan makna,

dalam bait yang sederhana,

namun mengguncang seluruh jiwa.


Pujangga bukan karena nama,

bukan karena tepuk manusia,

tetapi karena mampu menjaga,

hati tetap penuh cinta.


Kata-katamu menjadi jembatan,

antara luka dan pengampunan,

antara tangis dan ketenangan,

antara manusia dan Tuhan.


Walau waktu terus berjalan,

kata tulus takkan tenggelam,

ia hidup dalam ingatan,

menjadi cahaya sepanjang zaman.


Kini aku tahu dalam doa,

pujangga bukan sekadar bahasa,

ia adalah hati yang berbicara,

membawa jiwa pulang kepada-Nya.

Lagu — Air Mata Berlayar di Antara Takdir, Karya: Khoirul Taqwim

 


Kusebut namamu di antara luka,

Di saat hatiku mulai tak berdaya,

Engkau datang membawa cahaya,

Menghibur jiwa yang lama terluka.


Awal bertemu begitu indah terasa,

Senyummu menenangkan segala lara,

Kukira engkau jawaban dari doa,

Ternyata hanya persinggahan sementara.


Kini kau pergi meninggalkan air mata,

Membawa separuh harapan yang kupunya,

Aku mencoba tersenyum dalam kecewa,

Meski hatiku hancur tanpa suara.


Jika memang ini jalan takdir-Nya,

Akan kuterima meski pedih rasanya,

Takkan kupaksa sesuatu yang bukan milikku,

Sebab Tuhan lebih tahu akhir kisahku.


Biarkan air mata ini berlayar,

Membawa rinduku menuju entah di mana,

Di antara harapan yang perlahan pudar,

Dan kematian rasa yang pernah kujaga.


Mungkin kehilangan adalah cara Tuhan,

Mengajariku arti sebuah keikhlasan,

Bahwa yang datang tak selalu untuk menetap,

Dan yang pergi tak selalu harus disesalkan.


Kini kusebut namamu dalam doa,

Bukan agar kau kembali kepadaku,

Tapi agar hatiku mampu menerima,

Bahwa cinta terindah adalah melepaskanmu.

Friday, 14 August 2026

Lagu - Tuhan, Terima Kasih Bukan Aku, Karya: Khoirul Taqwim

 




Tuhan, kulihat senyumnya hari ini,

Bersanding mesra dengan pilihan hati.

Aku tersenyum meski hati bergetar,

Kulepas doa bersama air yang mengalir.


Bukan cintaku yang telah menghilang,

Hanya langkahku belum mampu berjuang.

Tanganku masih kosong tanpa kepastian,

Tak ingin cintaku menjadi beban.


Aku ingin memberinya langit yang cerah,

Namun hidupku masih penuh arah yang lelah.

Lebih baik aku mundur dengan ikhlas,

Daripada membuatnya menangis tanpa batas.


Terima kasih, Tuhan, atas keputusan-Mu,

Meski perih, kutahu ini yang terbaik bagiku.

Engkau memilih jalan yang berbeda,

Agar kami sama-sama menemukan bahagia.


Kini dia telah sah dengan pilihannya,

Semoga damai selalu menyertai rumahnya.

Tak ada dendam, tak ada sesal,

Hanya doa yang kupanjatkan setiap malam.


Bila suatu hari namaku teringat,

Biarlah hanya menjadi kisah yang hangat.

Karena cinta sejati bukan memiliki,

Melainkan rela melihat yang dicintai bahagia meski bukan dengan diri ini.


Tuhan, kuatkan langkahku menatap hari,

Percayaku takkan pernah berhenti.

Sebab di balik luka yang kini kurasa,

Engkau sedang menyiapkan cinta yang lebih indah pada waktunya.

Lagu - Maafkan Calonmu, Karya: Khoirul Taqwim

 





Maafkan calonmu 
Dulu pernah kupinjam hatinya
Menyusuri bahagia muda
Dalam cerita sederhana

Tawa pernah tercipta
Air mata berbicara
Cinta tanpa kepastian
Tetap hidup diam

Novel belum selesai
Aksara terus berjalan
Bait tak berujung
Kenangan tetap tinggal

Bila dia bahagia
Menjadi pendampingmu nanti
Jangan pernah marah
Itu masa lalu

Jika masih mengingat
Di sela sujudnya
Bersama air mata
Maafkan dirinya

Aku telah pergi
Membawa seluruh rindu
Meninggalkan kenangan
Tanpa kata benci

Api dan air
Tak pernah menyatu
Namun kisah kami
Abadi dalam doa

Tuesday, 23 June 2026

Lagu - Mencintaimu Tanpa Wujud, Karya: Khoirul Taqwim

 

Di seberang jalan duniaku bermula Menatap jendela di lantai kedua Ada tirai putih yang selalu terjaga Menyimpan rahasia yang tak pernah kubuka. Aku tak pernah tahu warna matamu Juga tak pernah mendengar tawamu Hanya bayanganmu yang bergerak syahdu Saat lampu malam mulai menyapamu. Setiap Selasa ada bunga matahari Diletakkan tenang di ambang jemari Seolah kau kirim pesan yang tersembunyi Untuk jiwaku yang setia menanti. Mereka bilang ini cinta yang gila Mencintai bayang yang tak kasat mata Namun hati ini punya bahasanya Mengenal hadirmu lewat petikan nada. Aku mencintaimu di dalam senyap Tanpa ada kata yang sanggup kuucap Bagai puisi lama yang kian mengendap Tulus dan pasrah, namun tetap menetap. Namun di dada ada satu harapan Bukan meminta sebuah keajaiban Hanya percaya pada takdir Tuhan Bahwa jarak ini kan berujung pertemuan. Suatu hari nanti tirai kan tersingkap Angin kan membawa tatapan yang genap Hingga cerita yang kumulai senyap Akan kita selesaikan dengan pelukan erat.

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu Duet - Sabda Rasa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langit berhenti, dunia sejenak sunyi Saat sabda rasa ini mulai bernyanyi Menggugah jiwa yang lama telah mati Membasahi kalbu yang gersang dan sepi Bukan sekadar kata manis di bibir Tapi darah yang deras mengalir Kutolak derita agar tak kau lihat tangisku Kubungkam ratap agar tak dengar perihku Kau tolak cintaku dengan begitu sempurna Namun senyum ini tetap mekar di dada Gedung menjulang jadi saksi yang bisu Aku tetap tabah di ujung lukaku Hunuskan cintamu tepat ke jantung hati Jangan kau biarkan layu dalam mimpi Walau pintunya terkunci sangat rapat Ketuklah kuat sampai seribu kali Sebab menyerah adalah sebuah dusta Dan kesatria takkan lari dari rasa Biarlah samudra darah ini kuseberangi Asal cinta suci kan kuraih nanti Cukup satu pujaan untuk jiwa raga Bukan semua hati yang kau coba sapa Karena sabda rasa tak mengenal dusta Menuntun kita ke ujung tulusnya cinta Garis takdir kita memang telah digariskan Ada yang bersatu dalam kebahagiaan Ada pula yang harus bertepuk sebelah tangan Namun tertolak bukan akhir dari cerita Ambil hikmahnya, balut setiap luka Pasrahkan semua pada Pemilik Rasa Kau laksana bidadari di antara ribuan Bukan karena parasmu yang menawan Tapi jiwa lembutmu menembus malam Dalam kerudung putih yang kau kenakan Tersimpan keindahan yang tak terkatakan Membuat runtuh seluruh pertahanan Kuukir namamu dalam setiap sajakku Terukir abadi di detak jantungku Hingga napas terakhir, rasa ini kujaga Suka dan duka melebur satu warna Air mata dan senyum dalam harmoni Sebab cinta ini adalah anugerah Ilahi

Lagu - Rindu Beratap Doa, Karya: Khoirul Taqwim

 

Hatiku usang, rapuh ditelan zaman Aku ingin tenggelam di sungai cintamu Biar hanyut, biar patah, biar remuk Karena tanpamu, aku sudah mati sebelum mati Rindu tak berbentuk tapi seberat gunung Ia duduk di dadaku, tak mau pergi meski kuusir Setiap detik tanpa dirimu adalah satu abad Dan aku masih menghitung — sampai kapan? Jarak bukan penghalang — hati punya sayap Setiap malam aku terbang menuju pelukmu Setiap sujud kuselipkan namamu dalam doa Doa menjadi atap yang teduh dan tak pernah bocor Aku bukan pilihan kedua Bukan pelabuhan sementara Jika kau tak bisa memilihku sepenuh hati Lebih baik aku pergi — dengan hati utuh meski remuk Rindu ini seperti luka yang tak pernah sembuh total Tapi anehnya, bekas itu tak terasa sakit Dia hanya menjadi pengingat di dinding dada Bahwa aku pernah benar-benar mencintai — dan masih Jika suatu hari kau bahagia tanpaku Aku tak akan marah — aku akan tersenyum Karena bahagiamu adalah bahagiaku Meskipun artinya aku patah hati terus-menerus Sungai tak pernah berhenti mengalir Rindu tak pernah benar-benar pergi Doa menjadi atap yang melindungi Aku masih ada — di ujung sungai yang sama Masih mencintaimu, masih berharap, masih di sini Masih ada jalan untuk rindu ini Sampai sungai ini kering — atau sampai kamu kembali

Lagu - Panitia Surga, Karya: Khoirul Taqwim

 

Langkah kaki tegap di atas sajadah Memandang dunia dengan tatapan rendah Merasa paling suci, paling tak bernoda Menghitung dosa orang dengan jemari yang ada Kau sebut dirimu pemegang kunci gerbang Menghakimi yang sesat, menilai yang bimbang Siapa masuk neraka, siapa yang mulia Seolah kau ketua dari segala panitia Namun ingatkah kau pada kisah yang lama? Sebelum bumi riuh oleh anak cucu Adam Ada yang paling taat di antara para malaikat Berdiri di saf depan, memimpin segala berkat Iblis terusir bukan karena dia mabuk Bukan karena judi yang membuatnya terpuruk Bukan pula zina yang meruntuhkan tahta Tapi satu penyakit yang tak kasat mata Dia keluar dari indahnya surga Bukan karena maksiat lahiriah yang nyata Namun karena setitik ego di dalam dada "Aku lebih baik dari dia yang dari tanah!" Maksiat raga mungkin berujung tangis tobat Namun sombongnya hati membuat hidayah tersumbat Merasa lebih mulia dari sesama manusia Adalah warisan nyata dari sang pendosa pertama Maka turunkan sedikit dagumu yang mendongak Jangan jadi panitia surga yang suka berteriak Sebab penentu akhir bukanlah jubah dan gelar Melainkan hati yang bersih saat dunia mulai pudar

Lagu - Sinopsis Buku Tinta, Karya: Khoirul Taqwim

 

"Dia tidak punya apa-apa. Bukan siapa-siapa. Tidak lahir dari keluarga kaya. Tidak mewarisi harta atau jabatan. Yang dia punya hanyalah: sebatang pensil tinggal separuh, sebuah buku tulis yang halamannya menguning, dan mimpi yang terus-menerus dikatakan gila oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi dia tidak peduli. Karena dia tahu: setiap orang akan mati. Tapi tulisannya... tulisannya akan tetap hidup. Ini adalah kisah tentang seorang pemuda dari desa yang memilih menulis di atas kardus daripada diam di atas kenikmatan. Tentang seorang guru tua yang memberikan pusaka berupa pena murah. Tentang seorang kakak yang tidak pernah lelah menyemangati. Dan tentang sebuah negeri imajiner — 'Negeri Para Penulis' — tempat di mana setiap orang bebas menggores aksaranya masing-masing. Apakah kamu juga punya mimpi yang ingin kau tuliskan? Bacalah buku ini. Lalu ambil pena. Karena sekarang giliranmu yang menulis."

Lagu Duet - Tinta, Karya: Khoirul Taqwim


Dia tak punya apa-apa di dunia ini, Bukan siapa-siapa yang dikenal hari ini, Pensil separuh dan buku yang menguning, Namun mimpinya tetap terbang menjulang tinggi. Orang berkata mimpinya hanyalah khayalan, Menertawakan langkah dan harapan, Tapi hatinya tak pernah goyah sedikit pun, Karena ia percaya pada tujuan kehidupan. Setiap manusia pasti akan pergi suatu hari, Meninggalkan jejak yang tak kembali, Namun tulisan akan terus hidup dan bernyanyi, Menembus waktu, mengarungi abad demi abad nanti. Di atas kardus ia menulis cerita, Saat yang lain larut dalam kenyamanan semata, Dari desa kecil lahir cahaya cita-cita, Mengubah luka menjadi rangkaian kata. Seorang guru tua memberikan pena sederhana, Bukan emas, bukan pula permata, Namun di dalamnya tersimpan makna luar biasa, Bahwa mimpi besar bisa lahir dari yang sederhana. Ada kakak yang selalu memberi semangat, Saat langkah lelah dan hati terasa berat, Menjadi pelita di malam yang pekat, Menguatkan mimpi agar terus melekat. Di Negeri Para Penulis semua bebas berkarya, Menorehkan aksara sesuai warna jiwanya, Jika kau punya mimpi, jangan hanya menyimpannya, Ambillah pena sekarang, karena giliranmu menulis cerita. Tulislah mimpimu di langit yang luas, Jangan biarkan takut membatasi langkah, Walau dunia berkata kau tak pantas, Tetaplah menulis hingga sejarah bersaksi jelas. Ambillah pena, jangan ragu melangkah, Biarkan aksaramu hidup selamanya, Karena saat semua telah tiada, Tulisanmu akan tetap menyala.

Lagu - Novel Setenang Embun Pagi Tiba, Karya: Khoirul Taqwim

 

Di kota riuh nalar mati terbunuh Langkah pulang ke desa yang sunyi Sujud di batu kali sepertiga malam Mencari Tuhan di antara hening yang nyata Kau Arumi telaga penuh rahasia Surat-surat tua di lemari usang Kau pilih aku di antara dua cinta Kini aku belajar mencintaimu dengan sungguh Para pemecah batu di kaki gunung Keringat darah untuk keluarga tercinta Musuh datang dengan niat jahat Aku berdiri melawan meskipun takut Gerimis malam membawa Rayya kembali Cinta pertama yang pernah hancurkan hati "Maafkan aku," katanya dengan sesal Namun masa lalu takkan kembali lagi Di tepi sungai kau dan aku berdiri Antara dua dunia yang berbeda Aku menatap matamu yang basah "Cintaku telah pulang," kataku lirih Maret tiba dengan hujan yang deras Kebersamaan di warung kopi desa Kau Arumi dan Alif kecilku Adalah pelabuhan terakhir jiwaku Setenang embun pagi yang tiba Menyegarkan hati yang gundah Kepasrahan pada Sang Maha Kuasa Keluarga adalah cinta sejati kita Pulanglah, pulanglah kau jiwa Kepada cinta yang tak pernah dusta Setenang embun pagi tiba Membawa damai dari-Nya

Perenungan - Sinopsis Buku Tinta, Karya: Khoirul Taqwim

 


"Dia tidak punya apa-apa.

Bukan siapa-siapa.

Tidak lahir dari keluarga kaya.

Tidak mewarisi harta atau jabatan.

Yang dia punya hanyalah:

sebatang pensil tinggal separuh,

sebuah buku tulis yang halamannya menguning,

dan mimpi yang terus-menerus dikatakan gila oleh orang-orang di sekitarnya.

Tapi dia tidak peduli.

Karena dia tahu:

setiap orang akan mati.

Tapi tulisannya...

tulisannya akan tetap hidup.

Ini adalah kisah tentang seorang pemuda dari desa yang memilih menulis di atas kardus daripada diam di atas kenikmatan.

Tentang seorang guru tua yang memberikan pusaka berupa pena murah.

Tentang seorang kakak yang tidak pernah lelah menyemangati.

Dan tentang sebuah negeri imajiner — 'Negeri Para Penulis' — tempat di mana setiap orang bebas menggores aksaranya masing-masing.

Apakah kamu juga punya mimpi yang ingin kau tuliskan?

Bacalah buku ini.

Lalu ambil pena.

Karena sekarang giliranmu yang menulis."

Saturday, 2 May 2026

Lagu - Mimpi Tentangmu Lagi, Karya: Khoirul Taqwim

 

Di bangku lama yang kini jadi kenangan Namamu masih diam di sudut ingatan Tak sengaja hadir dalam tidur malam Membawa rasa yang pernah kupendam Kita dulu hanya dua insan biasa Bertukar tawa tanpa banyak kata Namun hatiku diam-diam berbicara Menyimpan cinta yang tak sempat terucap Kini kau datang lewat mimpi semu Menyapaku seolah tak pernah berlalu Ada tanya yang tak pernah terjawab Tentang kita yang hilang tanpa sebab Mengapa kamu hadir lagi Saat aku mulai pergi Apakah ini hanya mimpi Atau hatiku yang belum berhenti Penasaran ini kian mengganggu Tentang dirimu yang dulu ku rindu Apakah kau baik-baik saja di sana Atau juga pernah ingat tentang kita Aku sadar waktu tak bisa kembali Dan kita bukan seperti dulu lagi Biarlah rasa ini jadi cerita Yang tersimpan rapi tanpa suara Jika suatu hari kita bertemu Cukup senyum tanpa membuka waktu Karena yang dulu biarlah berlalu Dan mimpi itu… cukup aku yang tahu

Lagu - Bukan Karena Aku Tak Pantas, Karya: Khoirul Taqwim

 

Aku berdiri di sisi yang sunyi Melihat dunia tak pernah adil Mereka datang dengan segalanya Aku hanya bawa hati yang tulus Kau memilih jalan yang terang Bersama dia yang penuh harta Aku hanya bisa diam menatap Menelan luka tanpa suara Katanya cinta tak pandang rupa Tak lihat harta dan juga tahta Namun kenyataan berbicara lain Aku tertinggal di belakang cerita Aku bukan tak mampu mencinta Aku hanya belum punya dunia Yang bisa membuatmu yakin Bahwa aku layak untuk dipilih Tapi malam mengajarkanku kuat Bahwa luka bukan akhir cerita Yang pergi bukan berarti salahku Mungkin kita memang tak sama Biarlah aku berjalan perlahan Membawa mimpi yang sederhana Suatu hari kan ada seseorang Yang mencinta tanpa bertanya harta Kini ku tahu nilai diriku Bukan dari apa yang kupunya Jika kau pergi karena dunia Berarti aku pantas yang lebih setia