Showing posts with label Al-Quran. Show all posts
Showing posts with label Al-Quran. Show all posts

Tuesday, 9 August 2022

[MERDU] Murottal Al-Quran Surah Al fatihah (Surah Pembuka atau Ummul Qur'an)






Murottal Al-Quran Surah Al fatihah, surah pembuka dalam Al quran atau juga bisa disebut Ummul Qur'an yang terdiri dari 7 Ayat


Saturday, 30 July 2022

Murottal Surat al-Mulk - Syekh Misyari al Afasi






Murottal Surat al-Mulk with Syekh Misyari al Afasi

Surat al-Mulk  atau juga disebut surat tabarok yang memiliki arti kerajaan, surat ke-67 dalam al-quran, kelebihan surat Al Mulk jika dibaca sebelum tidur akan menghindari orang yang mengamalkan dari siksa kubur dan memberi banyak kebaikan.

"Rasulullah tidak tidur sebelum membaca surat As-Sajdah dan Al Mulk. (HR. Ahmad)"


Friday, 21 December 2018

Kenapa Allah Senang Sekali Mengancam Manusia Dalam Al-Quran?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Ketika membaca Al-Quran, khususnya mengenai aturan perintah dan larangan dari Allah kepada manusia, maka tentu kita sering menjumpai ayat-ayat yang berisi perintah dan larangan disandingkan dengan ancaman-ancaman. Yakni ketika seorang hamba tidak mampu mengerjakan perintahnya serta juga tidak mampu meninggalkan larangannya, Allah akan mengancam mereka dengan azab, siksa, kesengsaraan bahkan api neraka.

Sehingga hal ini menjadi momok dan pertanyaan yang terngiang-ngiang dikepala umat Islam. Terlebih hal ini pula menjadi senjata bagi pembenci untuk menyerang agama Islam.

sebenarnya, permasalahannya disini adalah tentang ketidak mampuan hamba dalam memahami runtutan fase-fase atau tahapan-tahapan bagaimana cara Allah mendidik atau juga bagaimana cara Allah berbicara kepada hambanya melalui Kitab-Nya.

Dalam memerintah atau melarang hambanya, sebenarnya Allah tidak langsung memberikan ancaman dan ancaman kepada hambanya. Setidaknya ada empat fase dan tahapan yang Allah gunakan dalam hal ini, yakni tahap merenung, merefleksi, menggugah dan mengancam -bahkan ancaman sendiri merupakan tahapan terakhirnya.

1. Tahap Merenung
Tahap pertama yang Allah gunakan untuk mendidik hambanya adalah dengan cara meminta agar merenung, berfikir, bertadabbur dan mengingat. Instrumen ini Allah abadikan dalam Al-Quran dengan penggalan-penggalan ayat yang berbunyi seperti "apakah kamu tidak berfikir, apakah kamu tidak bertadabbur, apakah kamu tidak memahami" dan lain sebagainya.

Oleh karenanya ketika Allah memerintahkan sesuatu, melarang sesuatu atau mendidik hambanya Allah senantiasa mengajak agar dapat berfikir, merenung dan memahaminya. Gunanya supaya kita faham apa hikmah dan tujuan serta urgensi dari setiap perintah dan larangan Allah.

Tujuannya juga agar manusia ketika mengerjakan perintah Allah maupun larangannya, ia mengerjakannya dengan kesadaran diri, karena ia faham dan ia tahu apa hikmah dan manfaat dibaliknya. Sehingga manusia mampu melaksanakannya dengan ikhlas tanpa ada paksaan.

2. Tahap Merefleksi
Ketika membaca Al-Quran maka tentu akan banyak dijumpai ayat-ayat yang menceritakan mengenai tokoh-tokoh maupun umat-umat terdahulu, dengan berbagai tingkah-lakunya. Namun disisi lain ketika Allah menceritakan mereka ini, Allah tidak menceritakan secara gamblang, rinci dan spesifik melainkan diceritakan dengan cara umum. Gunanya adalah agar kita dapat merefleksi dan mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu serta tidak terlena dengan ceritanya sehingga luput dari esensi tujuan utama penceritaan mereka-mereka itu.

Begitu pula disaat tahap pertama tidak mampu, kita tidak mampu merenung, memahami dan mengambil hikmahnya. Allah kemudian mengajak kita agar dapat merefleksi dari umat-umat terdahulu. Bahwa beginilah contoh-contoh bagi siapa saja yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan bagi siapa saja yang melanggarnya. Allah mengajak kita agar bercermindari tokoh maupun umat terdahulu.

Karena terkadang manusia akan sadar dan yakin apabila melihat bukti empiris dan bukti nyata dari perenungan mereka. Maka itu Allah ceritakan tokoh-tokoh dan umat-umat terdahulu supaya kita dapat mengambil pelajaran dan memahaminya dalam bentuk bukti empiris.

3. Tahap Menggugah
Apabila tidak mampu mengambil pelajaran dari bukti empiris atas tokoh dan umat terdahulu, Allah kemudian menceritakan janji-janji dan jaminan-jaminan kepada hambanya apabila mereka mampu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Gunanya adalah untuk menggugah jiwa manusia agar termotivasi dari jaminan dan janji yang Allah tawarkan.

Karena manusia sangat excited dengan janji dan jaminan, dalam bentuk apapun itu. Jadi setidaknya jikalaupun tidak mampu meninggalkan perbuatan buruk karena kita sadar akan dampak buruknya, kemudian juga tidak mampu mengambil pelajaran dari umat terdahulu, setidaknya ia meninggalkannya karena termotivasi dari reward-reward yang dijanjikan oleh Allah dan berharap dengan cara itu ia mampu menjadi manusia baik.

4. Tahap Mengancam
Terakhir, jika ke-tiga tahap sebelumnya tidak mampu menyadarkan manusia, maka Allah akan menggunakan cara terakhir yakni ancaman. Walaupun Allah memberi ancaman, maka harus difahami bahwa ancaman-ancaman Allah merupakan ancaman penuh kasih dan sayang. Itu dikarenakan ancaman yang Allah berikan merupakan upaya preventif untuk mencegah manusia agar tidak terjerumus kedalam keburukan dan kesengsaraan.

Bukti jika Ancaman Allah masih menggunakan kasih sayang dapat kita lihat dari proses tahapannya, dimana tahap ancaman ini merupakan tahapan terakhir yang Allah tempuh. Disisi lain ketika Allah menceritakan kebaikannya Allah senantiasa menisbahkan kepada Diri-Nya seperti ungkapan anal ghafururrahim yang artinya Aku maha pengampun lagi maha penyayang. Namun ketika Allah menjelaskan azab, Allah tidak menjelaskan sighat seperti diatas dengan ungkapan anal mu'azzib (saya Pengazab!) akan tetapi dengan sighat inna azabi lasyadid (sesungguhnya Azabku ini pedih).

Analoginya seperti ini; saya mengatakan bahwa 'saya adalah orang baik dan pemaaf, akan tetapi saya juara dalam bidang silat, sekali saya pukul orang, langsung KO'. Nah, apakah redaksi ini menunjukkan bahwa saya seorang yang jahat? tentu tidak, saya hanya memperingatkan bahwa saya punya kemampuan silat yang demikian, however saya ini pemaaf.

Begitu juga dengan contoh tadi, walaupun ancaman azab Allah itu pedih Allah senantiasa memproklamirkan diri-Nya bahwa Ia maha pemaaf dan memaafkan siapa saya yang memohon ampun, agar terhindah dari azabnya.

Beginilah dengan 4 tahapan tadi cara Allah mendidik kita, sederhananya saya analogikan seperti ini:
  1. Tahap Merenung: Nak, belajarlah yang rajin, karena jika kamu rajin belajar kamu akan menjadi orang sukses dan mapan, kamu akan menjadi orang yang bermanfaat!
  2. Tahap Merefleksi: Nak, coba lihat tokoh-tokoh hebat itu! mereka dahulunya seorang yang giat belajar dan rajin. Sehingga sekarang kamu bisa melihat sendiri bagaimana mereka menjadi orang yang sukses. Ini merupakan tahap dimana apabila seorang anak tidak mampu merenung dan mengambil hikmah. Maka manusia cenderung ingin melihat bukti empiris agar meyakinkan mereka. Yakni caranya dengan merefleksi dan melihat dari kesuksesan seorang figur.
  3. Tahap Menggugah: Nak, belajar yang rajin ya, kalau kamu dapat nilai bagus nanti ayah ajak kamu jalan-jalan dan belanja. Tahap ini perupakan tahapan yang ditempuh untuk menggugah jiwanya. Dengan maksud agar si anak termotivasi dengan iming-iming reward. Tahap ini adalah saat seorang anak tidak mampu merenung baik juga merefleksi.
  4. Tahap Ancam: Nak, belajar yang rajin! jangan malas-malasan! kalau kamu malas-malas ayah hukum kamu ya!. Ini mrpakan tahap akhir, apabila seorang anak tidak mampu merenung, merefleksi bahkanpun tidak tergugah. Setidaknya dengan ancaman dapat memotivasi dirinya agar patuh. Bukan berarti orang tuanya jahat, melainkan tahu bahwa ada dampak buruk yang akan menimpa sehingga butuh upaya preventif walaupun akhirnya harus menempuh cara terakhir.
Tahapan-tahapan inipula seharusnya dapat diaplikasikan dalam hidup kita, baik dengan bagaimana caranya Allah mendidik hambanya maka begitu pulalah metode yang kita gunakan untuk mendidik anak, adik istri bahkan siapapu itu. Mulailah dengan tahapan merenung, merefleksi dan menggugah. Sehingga mereka melakukan atau meninggalkan hal itu adalah akibat dari kesadaran dirinya secara ikhlas, bukan dengan paksaan dan tekanan.

Oleh karenanya pandangan bahwa Al-Quran identik dengan ancaman adalah salah. Kesalah fahaman dan tidak mengertinya alur pembicaraan Al-Quranlah yang menjadikan pandangan terhadap Al-Quran menjadi negatif. Selebihnya sudah harus dapat kita fahami, bahwa alur cara Allah berbicara dan mendidik manusia dimulai dengan tahapan-tahapan yang sangat indah.
Maka, tidakkah kamu bertadabbur??

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 24 March 2018

Kenapa Nabi Muhammad Tidak Bisa Membaca & Menulis?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.



Nabi Muhammad tidak bisa membaca?, Loh,.. nabi kok tidak bisa membaca.

Jadi tetmen-temen beberapa minggu yang lalu ada yang berkomentar di channel youtube saya, jadi ada umat Muslim yang murtad hanya karena Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis, kebetulan komentarnya lupa saya screen shoot karena uda tenggelem...

Nah, saya rasa alasan murtad karena hanya Nabi tidak bisa membaca merupakan alasan yang sangat sepele. Apalagi ia belum mengerti alasan, hikmah dan kenapa Rasulullah tidak bisa membaca maupun menulis.

Sehingga ia mudah terpengaruh dengan syubhat-syubhat seperti, “lihat nabi Muhammad gabisa membaca, masa seorang nabi gabisa membaca?”. Ingat temen-temen, para pendengki Islam selalu memiliki cara untuk menanamkan kegundahan dalam hati-hati kita ini yang Muslim dengan retotika cara bicaranya, apalagi yang awam.

Itulah sebabnya dalam Al-Quran memerintahkan agar bertanya kepada orang yang mengerti jika ada hal-hal yang meragukan seperti ini. Dan juga ini menunjukkan agar kita Muslim lebih banyak mengenal lagi agama Islam lebih dalam. Nah, seharusnya kita muslim mengenal banyak agama kita supaya tidak mudah ditipu dan dibodoh-bodohi oleh orang lain.

Nah, lalu kenapa sih Muhammad sebagai Nabi Allah tidak menjadikannya bisa membaca dan menulis?. Informasi bahwa Nabi tidak bisa membaca dan menulis juga termuat dalam surat Al-Araf ayat 157 dan Al-Angkabut ayat 48.

Oke jadi begini temen-temen. Pada masa itu, bahkan sebelum lahirnya Muhammad bangsa Arab belum mengenal struktur dan tata-bahasa yang baku. Maksudnya begini, jika kita pelajari bahasa Inggrs ada yang namanya grammar sbgai ilmu yang mempelajari tata bahasa inggris sehingga kita tahu bagaimana cara menulis dan membaca bahasa inggris yang bener. Begitu juga bahasa Indonesia, kita pernah mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia yang berisi aturan dalam bahasa-bahasa indonesia baik cara menulis maupun membaca. Jadi gimana cara baca yang bener, cara menulis yang bener ada patronnya, ada aturannya, ada ilmu yang membahasnya.

Namun Bahasa Arab pada masa itu, khususnya dimasanya Rasulullah, belum ada yang namanya ilmu begini nih. Kalau sekarang ilmu tata-bahasa Arab disebut Nahwu dan Sharaf, dulunya pada masa Nabi belum ada ilmu ini temen-temen.

Oleh karenanya pada masa itu sangat jarang orang menulis, ya karena tidak ada aturan bakunya. Nah, kalau orang yang menulis aja jarang. Gimana lagi dengan orang membaca? Apanya yang mau dibaca kalau tulisannya langka. Sehingga banyak orang yang tidak dapat membaca ketika itu karena tidak ada tulisan untuk dibaca maupun dipelajari.

Jadi ketika itu hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menulis dan membaca. Namun walaupun mayoritas mereka disebut masyarakat yang ummiy yakni tidak bisa menulis. Faktanya Rasulullah dikelilingi oleh para sahabat-sahabatnya yang mahir menulis yang disebut dengan Kaatib Rasul atau Sekretaris Rasulullah. Diantaranya Zaid bin Tsabit yang bertugas menulis surat-surat kepada Raja, Ali bin Abi Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, Mughirah bin Syu'bah yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang mendadak. Abdullah ibn Arqam yang bertugas menulis utang piutang dan akad-akad lainnya. Dan Hanzalah yang digelari Al-Kaatib karena berprofesi sebagai sekretaris umum.

Selain bisa menulis, sahabat Nabi juga ada yang bisa menterjemahkan bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit. Beliau kerap kali bertugas sebagai penerjemah surat-surat yang berbahasa non-arab kepada Rasul seperti bahasa Ibrani dan Suryani. Dan Zaid mampu mempelajari bahasa Ibrani selama 16 hari serta bahasa Suryani selama 17 hari saja. atas permintaan rasulullah SAW.

Dan sahabat wanita atau Shahabiyah yang dapat membaca dan menulis salah satunya Asy-Syifa binti Abdullah. Sedangkan Istri Nabi yang dapat membaca dan menulis adalah Hafsah dan Ummu Kultsum, sedangkan Aisyah hanya bisa membaca saja.

Dalam Kitab Al-Intishar disebutkan rasulullah memiliki 43 sekretaris. Namun sekarang temen-temen dapat membaca buku 65 Sekretaris Nabi SAW karya Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami yang nama berisi ke-65 biografi sekretaris Rasul.

Nah, oleh karena faktor tadi jadinya pada masa itu orang-orang arab mengagung-agungkan penyair. Karena para penyair dapat menulis dan menciptakan sebuah sastra Arab yang indah, yang mana pada saat itu belum ada aturan baku dalam bahasa Arab. Oleh karenanya mereka mengagung-agungkan penyair. Bahkan orang-orang yang dapat menulis pada masa Itu digelari Al-Kamiil yakni orang-orang yang sempurna.

Selain itu, pada masa itu tulis-menulis itu juga hanya untuk hal-hal yang penting saja seperti tulisan syair, hukum, aturan maupun surat. Nah dibawah ini merupakan contoh surat-surat yang ada pada masa itu. Dapat kita lihat bagaimana tulisan bahasa Arab ketika itu sangat berbeda dengan masa sekarang, tidak ada baris maupun titik. Sehingga selain orang Arab ketika itu tidak bisa membedakan huruf ba, ta, tsa, kha, ja, da, dza dan lain-lain karena tidak ada titik.


Nah, Sehingga karena jarang orang yang menulis dan membaca maka langka pula alat tulis seperti pena dan kertas. Oleh karenanya ketika itu saat Al-Quran turun para sahabat menulis ayat-ayat mereka dengar dalam media-media yang tersedia ketika itu seperti lempengan, tulang, kulit kayu, pelepah kurma dan lain-lain. Jadi salah jika ada yang mengatakan Al-Quran ditulis pada masa Utsman, karena faktanya Al-Quran sudah ditulis sejak masa rasulullah hidup dengan mendektekannya yang kemudian pada masa Abu bakar dikumpulkan hingga masa Utman di bukukan secara resmi.

Nah walaupun mayoritas bangsa Arab ketika itu tidak bisa membaca maupun menulis. Mereka terkenal dengan tradisi menghafalnya. Jadi bangsa Arab terkenal dengan kekuatan hafalan. Itulah sebab Al-Quran ketika di kumpulkan lebih banyak diambil dari hafalan sahabat. Nabi Muhammad sendiri sering mengulang-ngulang hafalan pada bulan ramadhan bersama Jibril.

Disisi lain dapat kita lihat bagaimana ulama kalau mau melihat keotentikan suatu hadits yang dinilai itu kualitas hafalan perawi sanadnya. Oke begini, temen-temen pasti pernah mendengar hadits dan ada bunyinya seperti “Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair berkata, Telah menceritakan kepadaku Al Laits berkata, Telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Hamzah bin Abdullah bahwa Ibnu Umar berkata: aku mendengar Rasulullah saw. ”

Itu artinya hadits ini diceritakan oleh Sa’id bin ‘Ufair, dia mendengar ceritanya kepada Al Laits, dan Al Laits mendengar ceritanya dari ‘Uqail, ‘Uqail dari Ibn Syihab, Ibn Syihab dari Hamzah dan beliau mendengar langsung dari Rasulullah.

Nah ini namanya sanad hadits. Jadi lafadz haditsnya dihafal oleh fulan, fulan fulan, fulan. Jadi kalau mau melihat keotentikan Hadits bukan dari tanggal kapan ditulisnya, tapi dari tokoh perawi sanadnya. Misalnya apakah mereka kuat hafalannya dsb.

Nah, itulah alasan secara sosial-historisnya kenapa Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis. Bahwa ketika itu memang mayoritas orang Arab tidak bisa menulis dan membaca. Loh apanya yang mau dibaca? Tulisannya aja langka? Dan mau tulis gimana? Aturan tulis yang baku aja ga ada. Maksdnya begini, saya mau tulis buku nih, nah masalahnya gimana cara saya nulisnya kalau aturan dalam menulisnya aja tidak ada? Oleh karenanya orang-orang Arab saat itu mengagungkan syair-syair indah. Mereka berfikir, kok ada yang bisa buat bahasa yang begitu indah, kurang lebih begitu lah. Contohnya Labeid bin Rabia, jika ia membacakan puisinya menyebabkan orang-orang Arab bersujud di hadapannya karena merasa kagum dengan syairnya itu. Segitu agungnya syair ketika itu.

Nah, alasan lain kenapa Rasul tidak bisa membaca dan menulis untuk membuktikan bahwa Al-Quran ini dari Tuhan. Maksudnya begini, bagaimana bisa seorang yang tidak bisa membaca dan menulis bisa menciptakan suatu kalimat yang memiliki sastra tinggi melebihi syair-syair bangsa Arab ketika itu, Nabi Muhammad kan tidak dikenal sebagai penyair.. lah nulis aja gabisa apalagi mebaca tulisannya. Tapi kok bisa loh menciptakan ayat dengan syair-syair indah seperti Quran?

Jadi ada cerita dimana pembesar-pembesar mekkah yang kafir ketika itu sering nguping bacaan-bacaan Quran Nabi Muhammad secara diam-diam dimalam hari. Suatu malam Abu Jahal keluar secara diam-diam ke rumah ponakannya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Dia diam-diam secara sembunyi2 menyimak bacaan Al Qur’an keponakannya itu, dan saking nikmatnya tanpa terasa hari menjelang subuh. Merasa kuatir tindakannya diketahui orang lain, Abu Jahal pulang dengan langkah yang hati-hati. Akan tetapi pucuk dicinta ulam pun tiba ditengah perjalanannya itu ia bertemu dengan dua temannya, yaitu Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq.

Kaget dong sekaligus menggelikan, ternyata mereka baru saja melakukan hal yang sama, mencuri-curi lantunan bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan mereka.

Namun nyatanya, malam kedua mereka kembali lagi. Mereka mengingkari janji mereka lagi. Dan Allah pun mempertemukan mereka kembali di jalan, semakin malulah mereka. Lalu mereka membuat janji lagi untuk tidak mengulanginya. Tapi apa yang terjadi?

Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri lantunan bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di rumahnya. Dan, mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, berjanji lagi, dan lagi. Masing-masing mereka berjanji akan mengakhiri perbuatan mereka itu.

Kejadian itu membuat Akhnas bin Syuraiq bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti itu? Akhnas bin Syuraiq tidak bisa menahan dirinya untuk meminta pendapat tentang apa yang dirasakan oleh kedua temannya. Abu Sofyan juga mengakui kehebatan ayat Al-Quran, hanya saja Abu Jahal dengan sombong tidak mau mengakuinya.

Akhirnya Akhnas dan Abu Sofyan masuk Islam bahkan Abu Sofyan temasuk tokoh yang menulis Al-Quran, namun tidak Abu Jahal dengan kesombongannya.

Hal ini juga membuat Labeid bin Rabia tokoh penyair ulung terkagum-kagum dengan Quran. Membuat Tufayl penyair ulung dari suku Douse masuk Islam setelah mendengat surat Al-Falaq. Inilah juga sebab yang menjadi Umar, manusia yang paling ditakuti pada masa itu masuk Islam. Karena mendengar adiknya membaca Quran pada surat Thaha. Ya, temen-temen bisa nonton di youtube tentang eksperimen non-muslim mendengar Al-Quran. Nah, itu orang non-arab yang mendengar saja takjub. Apalagi orang-orang arab ketika itu.

Pembesar-pembesar Arab itu tidak ingin masuk Islam bukan karena faktor agamanya. Mereka tidak mau masuk Islam karena mereka menganggap nanti jabatan mereka akan turun, jabatan mereka akan diambil oleh Nabi Muhammad, atau faktor kelas sosial yang saling gengsi satu sama lain. Padahal tidak begitu. Itulah sebabnya di awal-awal dakwah, yang masuk Islam dari kalangan orang miskin dan lemah.

Nah, inilah yang namanya Mukjizat Al-Quran. Dimana bahasa-bahasa Al-Quran hadir begitu indah dari orang yang kalau difikir-fikir tidak mungkin dapat menciptakan syair seindah ini.

Lalu dari mana juga ilmu tata bahasa Arab yang sekarang. Tahukah temen-temen, ilmu tata bahasa Arab ini diekstrak dari Al-Quran oleh Abu Aswad Ad-Duali, Yahya bin Ya’mur, Khalil Fahadiri, Subawaiyh dan tokoh-tokoh terkenal lainnya. Jadi bukannya Al-Quran yang mengikuti aturan kebahasaan Arab, melainkan aturan tata bahasa arab mengikuti aturan yang dikestrak dalam Al-Quran. Termasuk Alkitab atau Bible dalam bahasa Arab. Jadi kalau ada yang bilang ada ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan tata bahasa Arab, ya.. malah faktanya tata bahasa Arab dikestrak dari Al-Quran.

Dan kalau ada yang tanya kenapa sih Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab? Salah satu jawabannya; malah Al-Quran sediri yang menciptakan bahasa Arab. Iya, kalau kalian ke negara-negara Arab. Ternyata, bahasa Arab dengan bahasa Al-Quran sangat berbeda. Bahkan jika kalian berbicara dengan bahasa Arab seperti bahasa Arab yang kalian pelajari di sekolah dan pesantren mereka akan bilang Shadaqallahul ‘azdhim karena dikira kita membacakan Ayat Al-Quran.

Di Arab itu ada dua model bahasa Arab. Bahasa ‘Amiyah atau bahasa sehari-hari dan bahasa Fushah yakni bahasa formal. Nah secara tata bahasa juga berbeda antara bahasa ‘amiyah atau bahasa sehari-hari dengan bahada fushah atau bahasa formal yang diekstrak dari Al-Quran. 

Contohnya, jika saya bertanya dimana alamatmu? dalam bahasa arab sehari-hari ‘Unwaanak feyn dalam bahasa arab fushah Ma ‘unwaanuka. Ya, jauh yaa antara ‘Unwaanak feyn dan Ma ‘unwaanuka. Antara bahasa Arab sehari2 dengan bahasa Arab yang diekstrak dari Quran.

Jadi jika ada yang mengatakan Al-Quran itu berbahsa Arab, sebenarnya bahasa Al-Quran sesuatu yang berbeda dengan bahasa Arab orang Arab sehari-hari. Itu faktanya.

Terus kalau Nabi tidak bisa membaca, bagaiaman beliau membaca Al-Quran? Nabi tidak perlu membaca teks Al-Quran. Karena beliau menghafal seluruh isi Al-Quran temen-temen. Jadi Al-Quran ini sebenarnya kitab berbasis hafalan. Berbeda dengan Alkitab yang berbasis teks, artinya kalau ada teks yang hilang maka hilanglah dia. tetapi jika kitab Al-Quran ini hilang maka dalam jangka waktu 2 hari bisa dikembalikan dan ditulis kembali, ini bentuk bukti bahwa Allah menjaga Al-Quran dengan menjadikan kitab ini berbasis hafalan bukan berbasis teks. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk menghafal Al-Quran.

Oleh karenanya ketidak mampuan nabi Muhammad dalam membaca bukan suatu bentuk kecacatan seorang Nabi, tetapi sebagai bentuk bukti dan kemukjizatan atas status kerasulan beliau bahwa Al-Quran yang dibawakan oleh beliau benar-benar dari Tuhan.

Nah, semoga jawaban saya bisa menjawab kegundahan-kegundahan hati temen-temen selama ini. Dan juga kalau misalnya temen-temen menjumpai syubhat-syubhat yang menimbulkan kegundahan dalam hati. Jangan langsung dipercayai, bertanya dulu, dan berilmu dulu supaya kita mengerti dan faham apa hikmah dibalik itu semua.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kalau Taurat & Injil Sudah Diubah, Kenapa Kita Muslim Wajib Mengimaninya?

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Kita tahu jika Taurat dan Injil merupakan kita yang diperuntukkan bagi umatnya Nabi Musa dan Nabi Isa pada masanya. Namun sekarang di era modern kedua kitab ini merupakan bagian dari kitab-kitab suci umat Yahudi maupun Nasrani.

Dalam Islam sendiri khusus Al-Quran memerintahkan umatnya agar menginami kitab-kitab yang diturunkan Allah seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran. Sebagai mana yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 136 dan 285, Ali-Imran ayat 84, An-Nisa ayat 136, Al-Maidah ayat 48 dan Al-Angkabut ayat 46. Ayat-ayat ini memerintahkan kita agar mengimani kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil.

Artinya, kesempurnaan iman kepada kitabullah adalah disaat kita mengimani jika Allah sudah mewahyukan kitab kepada Nabi Muhammad dan kepada Nabi-Nabi terdahulu.

Hanya saja, karena pendeknya akal. Ayat-ayat ini kemudian digunakan oleh pemeluk agama terkait sebagai dalil mereka dan propaganda mereka untuk mendoktrin umat muslim, atau untuk mempengaruhi umat muslim agar meninggalkan Islam dan beriman kepada keyakinan mereka dan kitab-kitab mereka saat ini.

Jadi cara mereka pengaruhi begini,..

Kamu muslimya?
iya!
Mengimani Al-Quran dong?
iya!
Nah, Dalam Al-Quran disuruh umat muslim agar mengimani Taurat Dan Injil, ini ayatnya loh..
wah…
Nah ini Injil!, dalam Injil nabi Isa itu Tuhan loh! Kalau kamu mengimani injil juga seperti yang diperintahkan Quran kamu harus mengimani Isa sebagai tuhan loh!

Yap, kalau kamu muslim yang awam pastinya mudah terpengaruh. Nah, hanya saja mereka ini menggunakan standar ganda. Artinya, ketika mereka menggunakan ayat-ayat tadi sebagai dalil untuk “membenarkan” kandungan kitab agama mereka untuk saat ini. Mereka lupa jika dalam Al-Quran Isa disebutkan sebagai Nabi dan haram menyebutnya tuhan. Jadi mereka hanya mengambil ayat-ayat yang dikira cocok untuk doktrin mereka, lalu membuang ayat-ayat yang dapat mengamcam keyakinan mereka untuk memurtadkan umat Muslim.

Disisi lain, disaat mereka mengklaim bahwa kitab-kitab mereka harus diimani umat Muslim, mereka malah membuang ayat-ayat yang menyatakan kalau Taurat dan Injil sudah diubah-ubah. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 79, Ali-Imran ayat 78, Al-Maidah ayat 41 dan An-Nisa ayat 46.

Sehingga ada yang mengatakan, Al-Quran tidak konsisten. Disatu ayat menyuruh mengimani Taurat dan Injil, di ayat Lain disebutkan kalau kitab ini tidak otentik, gimana ini.

Lucunya begini, disatu kondisi mereka menampilkan diri sebagai orang yang setuju dengan ayat Al-Quran seperti kasus yang pertama tadi, dimana mereka menggunakan dalil-dalil Quran untuk membenarkan doktrin mereka. Nah, saat kedoknya ketahuan disatu kondisi yang lain mereka malah menyerang Al-Quran dengan alasan yang lain seperti yang sudah kita jelaskan tadi. Disatu sisi mereka mengatakan, woh kitab kami masih otentik, lihat saja Al-Quran suruh mengimaninya. Disatu disisi mereka tampil dengan wajah lain dengan menyerang Al-Quran. Ini namanya standar ganda, standar ganda ini ciri-ciri orang munafik.

Terus pertanyaanya, kenapa disatu sisi Al-Quran memerintahkan kita mengimani kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Namun disisi yang lain Al-Quran juga mengatakan kitab-kitab yang tersebutkan tadi tidak lagi otentik karena sudah diubah-ubah oleh penganutnya. Sebenarnya apa sih, yang ingin Allah sampaikan? sebenarnya apa maksud dari ayat-ayat ini. Jika memang kitab-kitab ini sudah tidak otentik, lalu kenapa kita disuruh mengimaninya?

Dengan pertanyaan tadi, Sebagian orang yang memiliki sumbu pendek terlalu labil untuk mengambil kesimpulan, ditambah lagi doktrin-doktrin oleh orang-orang sebelah sana.

Sebenarnya, jawabannya sangat sederhana temen-temen. sangat sderhana.

Jadi sebenarnya Allah menginginkan kita agar mengimani dan meyakini bahwa Allah pernah mewahyukan kitab kepada umat terdahulu, khususnya kepada umat nabi Musa dan Nabi Isa. Bahwa Allah tidak mentelantarkan mereka, dan memerikan kitab kepada mereka sebagai wahyu dari tuhan dan pedoman hidup bagi mereka pada saat itu.

Artinya Allah menyuruh kita mengimani khabarnya, jika Allah memang pernah menurunkan kitab-kitab ini. Namun bukan mengimani isi kandungannya seperti yang ada sekarang. Sekali lagi, Allah memerintahkan kita mengimani jika Allah pernah mewahyukan kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Namun bukan menimani isi dan hukum-hukumnya yang ada sekarang.

Itu dikarenakan kitab-kitab terdahulu tidak lagi otentik, kemudian kitab-kita itu juga hanya diperuntukkan bagi bani Israil termasuk juga Injil. Makanya dalam al-maidah ayat 46 mengatakan kalau Injil itu petunjuk dan cahaya, loh kok begitu? iya bagi umatnya Nabi Isa ketika itu. Taurat juga petunjuk, bagi umat Nabi Musa pada saat itu.

Lalu apakah umat selain Bani Israil tidak diberikan kitab? berdasarkan Surat Al-Hadid Ayat 25 menyebutkan bahwa umat-umat lain juga diberikan wahyu dan kitabnya. Hanya saja kita tidak tahu apa-apa saja kitab itu karena tidak disebutkan dalam Al-Quran.

Alasan lain kenapa kita hanya boleh mengimani bahwa Allah pernah menurunkan kitab-kitab kepada umat terdahulu, namun tidak boleh mengimani isi kandungannya adalah, karena Allah telah mewahyukan Al-Quran, dan disaat Al-Quran telah diwahyukan hukum-hukum dalam kitab-kitab terdahulu tidak lagi berlaku. Yang berlaku adalah isi kandungan Quran seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Maa’idah :48. Petunjuk dan cahaya sekarang ini adalah Al-Quran, dan hukum yang dipakai adalah hukum Al-Quran.

Jadi jelas, ngga ada yang salah disini. Yang salah itu salah dalam memahaminya. Setelah ini jika ada orang yang mengatakan seperti diatas kita cukup senyum-senyum aja, karena lagi-lagi mereka salah kaprah. Dan kita sudah mengetahui alasannya, sudah tahu jawabannya. Maka setelah ini kita tidak akan lagi dibohong-bohongi serta dibodoh-bodohi oleh mereka-mereka ini.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Monday, 12 February 2018

Sisi Lain dari Al-Quran Yang Jarang Diketahui

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Secara keseluruhan Al-Quran ini memiliki beberapa kandungan umum yang termaktub didalamnya. Diantaranya menjelaskan mengenai Aqidah, hukum, ibadah, akhlak, muamalah dan juga cerita-cerita sejarah ummat terdahulu.

Sedangkan yang akan kita bahas kali ini merupakan sisi lain dari AlQuran yang jarang diketahui oleh ummat muslim, yakni mengenai Akhlaq Al-Quran.

Mungkin kita beranggapan akhlaq Al-Quran itu mengenai pengajaran tentang akhlak yang termaktub didalam Al-Quran, seperti berhusnuzan, menjaga mulut, mata dan perbuatan, atau menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan lain sebagainya. Bahkan Nabi Muhammad dalam hadits riwayat Muslim dari Aisyah mengatakan bahwa beliau memiliki Akhlak Al-Quran.

Iya, yang sebenarnya kita tahu itu adalah akhlak yang tersurat dalam Al-Quran, yang tertulis dalam Al-Quran. Namun pembahasan kita bukan sebatas itu, sisi lain Al-Quran ini merupakan akhlak yang tersirat dalam dalam Al-Quran. Yang mana untuk mengetahuinya harus melalui perenungan, tadabbur dan pemahaman. Oleha karenanya dalam Al-Quran selalu ada bunyi ayat perintah untuk menghayati, memerhatikan dan mentadabburi Quran, seperti afala ta’qilun (Maka tidaklah kamu berpikir?), la’allakum tatafakkarun (agar kamu berfikir), in kuntum ta’qilun (jika kamu memahaminya), afala yatabaaruun (Maka apakah mereka tidak memperhatikan), afala tatazakkarun (Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?), dan lain sebagainya.

Nah, diantara akhlak Al-Quran yang dapat kita renungi adalah bagaimana cara Al-Quran memberikan contoh atau perumpamaan serta juga cara Al-Quran mencerikana cerita-cerita ummat terdahulu.

Jika Al-Qur’an menceritakan ucapan, kisah dan perilaku buruk orang-orang tertentu, maka mereka disebut dengan cara “mubham” tanpa nama seperti “alladzina kafaru”, “alladzina zholamu”, “alladzina asy-roku”, “alladzina istakbaru”, al-mala’, sadatana, kubaro-ana, adh-dhollun, al-maghdhub ‘alaihim, dan lain-lain.

Tokoh besar yang disebut berulang-ulang dalam Al-Quranpun hanya disebut gelarnya. Misalnya Fir’aun. Istilah ini adalah sebutan untuk gelar raja Mesir kuno, mirip seperti gelar Kisro di Persia, Qoishor di Romawi, dan An-Najasyi di Habasyah.

Hanya sedikit dalam Al-Qur’an yang menyebut nama langsung orang-orang buruk seperti Qorun, Jalut, Abu Lahab, dan Azar. Itupun karena mereka terkait dengan perkara-perkara besar yang hikmahnya diketahui Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.

Selebihnya tokoh-tokoh yang dikisahkan perbuatan buruknya tidak disebutkan secara gamblang, contoh seperti habil dan qabil, nama ini tidak disebutkan dalam Al-Quran, Zulaikha yang ceritanya menggoda yusuf juga tidak disebutkan namanya secara lugas dalam Al-Quran melainkan dengan sebutan imraatul aziz yakni istri pembesar. Istri nabi Nuh dan Luth yang durhaka hanya disebutkan dengan sebutan imraata nuh dan imraata luth (istrinya nuh dan istrinya luth). Nama mereka tidak disebutkan dengan lugas dan diekpose.

Sebaliknya, jika menyebut orang baik, maka Allah menyebut dengan lugas namanya, bahkan disebut berulang kali dalam banyak ayat. Contohnya Adam, Idris, Hud, Nuh, Sholih, Ibrahim, Ishaq, Isma’il, Ya’qub, Yusuf, Zakariyya, Yahya, Musa, Ayyub, Idris, Maryam, Isa, Muhammad, Zaid, Dzulqornain, dan lain-lain.

Nah, dari fakta ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, Al-Quran mengajarkan kita untuk menjaga aib orang lain. Sebagaimana cara Al-Quran menjelaskan dan menceritakan sebuah kisah. Apabila kisah tersebut kisah yang buruk untuk diambil pelajarannya Al-Quran tidak menyebutkan pelakunya secara gamblang. Kecuali beberapa tokoh karena mereka terkait dengan perkara-perkara besar yang hikmahnya diketahui Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.

Kedua, Kisah-kisah Mereka diceritakan hanya untuk diambil ibrohnya agar tidak ditiru, bukan mendorong orang untuk “kepo” menyelidiki biografi mereka sehingga malah mempopulerkannya. Artinya Al-Quran mengajarkan kita agar fokus pada tujuannya. Maksdnya jika Al-Quran menceritakan sebuah kisah atau perumpamaan, maka tujuan yang ingin disampaikan dari ayat itu adalah agar kita mengambil pelajaran dari kisah mereka agar tidak mengulanginya. Dan menyibukkan diri dengan memperbaiki diri, bukan malah sebaliknya mencari tahu detail dari kisahnya hingga kita luput dari tujuan utamanya.

Ketiga, Al-Quran mengajarkan kita agar senantiasa mempopulerkan tokoh-tokoh baik. Gunanya agar banyak orang yang mengenal sehingga banyak orang yang meniru kebaikan dan teladannya. Dan juga sebaliknya, Al-Quran malah menyembunyikan tokoh-tokoh buruk agar tidak di populerkan.

Nah fenomena sekarang kita malah keseringan mempopulerkan tokoh-tokoh sesat, nyeleneh, pemburu ketenaran, orang fasik dan munafik daripada orang-orang baik.

Caranya juga bermacam seperti menshare statusnya, dibuatkan statusnya, dibuatkan berita, dibuatkan video, broadcast dan lain sebagainya. memang niat kita baik, yakni untuk memperlihatkan tokoh buruk kepada masyarakat agar ditindak kalau dia ini telah berbuat keburukan seperti meghina agama, kelompok, ras dan lain sebagainya.

Namun disisi lain kita juga tidak sengaja mempopulerkannya. Bayangkan misalnya ada tokoh nyeleneh, awalnya tidak terkenal. Namun karena ia nyeleneh, kemudian kita share dan kita populerkan. Akhirnya dia punya banyak follower. Kemudian karena dia tidak sengaja terkenal. Orang-orang lain yang sepemikiran dengan dia pun ikut nimbrung. Akhirnya yang awalnya tokoh ini bukan siapa-siapa, sekarang malah punya pengikut, pendukung dan memiliki pengaruh. Salah kita juga karena kita tidak sengaja mempopulerkannya.

Ditambah lagi dengan kondisi negara kita yang tidak menentu, contohnya saja sekarang banyak ulama yang di kriminalisasi. Disisi lain tokoh-tokoh nyeleneh banyak dibiarkan bahkan kasus-kasusnya saja tidak ada kelanjutan. Ya bisa kita lihat, seperti ustadz duda yang awalnya bukan siapa-siapa lalu karena kita share sehingga terkenal dan populer hingga akhirnya sekarang dia punya pengikut dan pengaruh, ada lagi yang muncul dari tokoh politik hingga dosen di suatu Universitas.

Ya, beda kondisinya apabila negara kita sigap dan tanggap serta mengerti lah. Tapi kita tidak perlu banyak berharap pada negara kita. Karena faktanya berbeda dengan harapan.

Akhirnya kita disibukkan untuk mengurusi tokoh-tokoh ini. Padahal dalam Al Quran kita disuruh mempopulerkan orang-orang shalih.

Andai saja prinsip ini dipegang oleh pemilik-pemilik TV dan radio di negeri ini sehingga tahu mana tokoh yang diberi panggung dan mana yang tidak…

Andai saja prinsip ini dipegang oleh pemegang kebijakan di kampus sehingga bisa tahu siapa yang layak dijadikan pengajar mahasiswa dan mana yang tidak, siapa yang layak diundang dalam diskusi ilmiah dan mana yang tidak…

Andai saja prinsip ini dipegang oleh pemilik koran, majalah dan media cetak di negeri ini sehingga bisa tahu tulisan siapa yang layak dipopulerkan dan mana yang tidak…

Andai saja prinsip ini dipegang oleh pemilik percetakan dan pemodal industri buku sehingga tahu karya siapa saja yang layak diorbitkan dan mana yang tidak…

Andai saja prinsip ini dipegang oleh para pemuda berbakat yang bisa membuatkan video-video dan meme-meme menarik terkait dakwah dari ilmu para ulama-ulama salih itu, sehingga Youtube, Instagram dan berbagai media sosial lainnya penuh dengan tebaran ilmu manfaat… bukan malah sibuk mengurusi tokoh-tokoh dengan perilaku nyelenehnya

…Niscaya umat akan lebih terbimbing dengan hidayah, tidak bingung dengan tokoh-tokoh palsu, dan tidak dikacaukan dengan para penyesat.

Terimakasih untuk website, irtaqi.net untuk inspirasinya.


Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 18 November 2017

Keajaiban Al-Quran Tentang Cahaya Bulan & Sinar Matahari, Kehebatan Sains Al-Quran

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

 Bulan dan matahari merupakan dua benda langit ciptaan Allah yang dapat kisa saksikan Keajaiban Al-Quran Tentang Cahaya Bulan & Sinar Matahari, Kehebatan Sains Al-Quran

Bulan dan matahari merupakan dua benda langit ciptaan Allah yang dapat kisa saksikan. Kedua benda ini pula menjadi tanda kapan tadangnya malam dan tibanya pagi. Saat pagi bumi disinari oleh sinar Matahari dan pada malam hari bumi diterangi dengan cahaya bulan.

Kita tentunya pasti pernah belajar ilmu sains dasar dimana disebutkan bahwa bulan itu bercahaya dikarenakan sinar matahari. Diketahui, objek alam semesta yang dapat memancarkan cahayanya sendiri hanyalah bintang dan Matahari yang kita sebut juga sebagai bintang. Sebuah bintang bisa menyala karena ada reaksi fusi nuklir pada inti atau jantungnya. Sinaran cahaya matahari kemudian terpapar bulan sehingga bulan kemudian bercahaya saat kita menyaksikannya dibumi.

Soal sinar matahari dan cahaya bulan sudah jelas menurut ilmu sains. Masalah baru muncul saat para orientalis mencoba mencari-cari kesalahan Al-Quran dan membenturkannya dengan ilmu sains. Lalu berjumpalah dengan ayat-ayat berikut yang menjadi alasan-alasan mereka bahwa Al-Quran tidak sejalan dengan sains. Allah berfirman,..

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً
 "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya..."(Surah Yunus : 5)

Tidak hanya dalam surat Yunus ayat 5 saja, hal serupa juga disebutkan dalam dalam surat Nuuh ayat 16 dan Al-Furqan ayat 61.

جَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا
"Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita" (Surah Nuh: 16)

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا
"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya." (Surah Al-Furqan: 61)

Mereka lalu berkata, "hey, lihat ada kesalahan dalam Al-Quran. Disebutkan jika bulan bercahaya, padahal ilmu sains membuktikan bahwa cahaya bulan adalah pantulan dari matahari". Mereka menganggap bahwa ayat-ayat ini sama sekali tidak ilmiah karena tidak sejalan dengan Al-Quran.

Apa benar? mari kita cari tahu.

Bulan dalam bahasa Arab disebut dengan qamar (قَمَر), dan matahari disebutkan dengan syamsun (شَمْس) karena acap kali saat Al-Quran menyebutkan bulan juga bergandengan dengan matahari. Berdasarkan penelusuran saya, Bulan disebutkan sebanyak 27 kali dalam Al-Quran dan Matahari 33 kali. Itu belum termasuk penyebutan-penyebutan yang tidak langsung (tidak tertulis/tersirat), contohnya pada surat Al-Furqan ayat 61 seperti yang tersebut diatas dan An-Naba ayat 13 dimana ayat ini menjelaskan tentang matahari walaupun lafadz syamsun tidak termaktub.

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا
"dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)" (An-Naba: 13)

Nah jika kita perhatikan, kata syamsun (شَمْس) dalam Al-Quran selalu dibarengi dengan kata dhiyaa'a, siraaja, dan wahhaja. Sedangkan qamar (قَمَر) dalam Al-Quran selalu dibarengi dengan kata nuur dan munira.

Dalam kamus Al-Ma'aniy  menjelaskan bahwa kata dhiyaa'a (ضِيَاء) berarti bersinar dengan cahaya. Siraaja (سِرَاجًا) berarti lampu, pelita, obor, dan penerang. Wahhaja (وَهَّاجًا) berarti sangat terang. Di dalam Hans Wehr: A Dictionary Of Modern Written Arabic, Siraaja (سِرَاجًا) diartikan sebagai pelita dan lampu dan Wahhaja (وَهَّاجًا) adalah membakar, menyala, berapi.

Maksudnya, apabila matahari disebutkan dengan kata dhiya'a, siraaja, dan wahhaja itu berarti sinaran matahari merupakan sinaran yang muncul dari dirinya sendiri.

Sedangkan kata nuur (نُورًا) dan munira (مُنِيرًا) artinya menerangi atau memberi penerangan. Dengan maksud, kata nur bermakna pantulan cahaya dan munira bermaknya cahaya yang dipinjamkan.

Maksudnya, apabila bulan disebutkan dengan kata nur dan munira itu bermakna bahwa cahaya yang dimaksud merupakan cahaya pantulan. Dalam hal ini berarti cahaya (nur) bulan adalah pantulan dari sinar (dhiya'a, siraaja, dan wahhaja) Matahari.

Karena secara etimologis, cahaya adalah sesuatu yang menyinari suatu objek sehingga objek tersebut menjadi jelas dan terang. Menurut pakar tata bahasa Arab Ibrahim Anis dalam al-Mujam al-Wasth, nur adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat. Sementara itu, Muhammad Mahmud Hijazi, seorang ahli tasawuf mengatakan, nur adalah cahaya yang tertangkap oleh indra dan dengannya mata dapat melihat sesuatu.

Dalam artian seperti ini, bukankan objek yang dapat kita lihat itu dikarenakan ada paparan sinar? dan saat gelap objek tersebut tidak dapat kita lihat karena tidak ada sinar. Buku yang dapat kita baca itu karena ada sinar yang menyinarinya, baik itu sinar matahari maupun sinar lampu. Nah cahaya menyilaukan yang keluar dari lembaran putih buku itu dikarenakan pantulan dari sumber sinar (matahari, lampu, lilin, dll), bukan kertasnya yang bercahaya sendiri. Inilah yang kemudian terjadi kepada bulan.

Imam mufassir Al-Baidhawi menafsirkan surat Yunus : 5 diatas, beliau mejelaskan gambaran matahari dan bulan bahwa, “Allah swt memberikan pengetahuan kepada kita, bahwasanya matahari bersinar dengan dirinya sendiri, sementara bulan bersinar karena menerima pantulan sinar matahari dan menyerapnya.”

Lalu bagaimana dengan bintang? Allah berfirman,

النَّجْمُ الثَّاقِبُ
"(yaitu) bintang yang cahayanya menembus" (Surah At-Thariq: 3)

Kata Arab untuk Bintang adalah An-Najm (ٱلنَّجْمُ)  dan cahayanya digambarkan dengan Tsaqib (ٱلثَّاقِبُ), Dia menembus kegelapan dan menghabiskan diri nya sendiri. Jadi, bintang adalah benda angkasa yang memiliki cahayanya sendiri. Dan salah satu dari bintang adalah Matahari, berarti Mataharipun punya cahaya sendiri sama seperti bintang lainnya. Memang benar, bahwa bintang memiliki cahaya sendiri. Ini sebagaimana yang saya baca dari buku Menjelajahi Bintang Galaksi Dan Alam Semesta karya A. Gunawan Admiranto pada halaman 43. Bahwa bintang dapat bersinar sendiri karena adanya reaksi fusi termonuklir.

Kesimpulannya adalah tidak ada yang salah dengan Al-Quran terkhusus kepada ayat-ayat yang menerangkan tentang bulan ini. Melainkan kedunguan dan ketololan para kafir pendengki yang mencoba memanfaatkan kesempatan untuk mempengaruhi kaum muslimin.

Faktanya sudah kita fahami, bahwa kehebatan linguistik Al-Quran telah menjelaskan bahwa memang matahari dan bintang bersinar dan memiliki cahaya sendiri yang kemudian dipantulkan kepada bulan hingga bulan bercahaya. Ini merupakan pembahasan astronomi. Akan tetapi, pada masa Rasulullah SAW ketika wahyu ini diturunkan belum ada ilmu astronomi apalagi astronot ke bulan. Lalu bagaiamana bisa Al-Quran dapat sedetail itu? jelas ini membuktikan bahwa Al-Quran merupakan wahyu ilahi yang benar-benar dari Allah, tuhan semesta alam. Apalagi yang harus diragukan?

Jadi jika ditanya kenapa matahari disebutkan dengan lafadz dhiya'a, siraaja, dan wahhaja? jawabannya karena matahari sinarnya bersumber dari dirinya sendiri. Sedangkan bulan disebutkan dengan nuuran dan munira karena cahaya bulan adalah merupakan cahaya pantulan.

Saya sendiri bingung, ini postingan masuk kedalam kategori keajaiban linguistik Al-Quran atau termasuk keajaiban saintifik Al-Quran, gimana menurut teman-teman?. Yang pasti, semoga tulisan ini membuat hati kita semakin tenang, semakin yakin dan beriman serta semakin nikmat dalam membaca dan mentadabburi Al-Quran.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Sunday, 29 October 2017

Keajaiban Komposisi Cincin Dalam Ayat Kursi, Kehebatan Komposisi Ayat Al-Quran

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Pada postingan sebelumnya kita sudah membahas mengenai komposisi cincin dalam surat Al-Baqarah. Bahwa surat ini dapat dibagikan kepada 9 topik utama dan kesembilan topik ini dapat dibagi kepada kedua term disama satu sama lain saling merefleksikan.


Disebutkan bahwa, ke 9 bagian komposisi tersebut juga terdiri dari sub komposisi cincin. Sehingga dalam satu surat terdapat komposisi cincin dalam cincin.

Surah al-Baqarah ayat 255 yang disebut ‘Ayat Kursi’ adalah ayat terbaik yang perlu dihafalkan. Ayat ini menunjukkan susunan desain yang akurat sesuai prinsip ring composition; ketepatan strukturnya menempatkan tema kunci surat terdapat pada pusat surat.

Dipostingan kali ini, kita akan membahas komposisi cincin dalam ayat kursi atau surat Al-Baqarah ayat 255. Pembahasan topik ini sudah dijelaskan oleh Mehdi Azaiez dan Ustadz Nauman Ali Khan pada sebuah seminar di Malaysia.

Allah berfirman

ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ‌ۖ وَلَا يَـُٔودُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ

Jika diperhatikan, maka ayat kursi ini dapat dibagi kepada 9 kalimat yang kita konsepkan dalam ring composition sebagai berikut;

A. ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ
B. لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ
C. لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ
D. مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِ
E. يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ
E’.  وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۖ
D’. وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ
C’. وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ‌ۖ
B’.  وَلَا يَـُٔودُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ
A’. وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ

Terjemahan:


A. Allah, tidak ada yang patut disembah selain Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).
B. tidak mengantuk dan tidak tidur.
C. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.
D. Tiada yang dapat memberi syafa‘at di sisi Allah tanpa izin-Nya.
E. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka.
E’. dan di belakang mereka.
D’. dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
C’. Kursi Allah meliputi langit dan bumi
B ‘. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya.
A’. dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Dari urutan diatas dapat diformasikan menurut metode chiastic dan ring composition bahwa ke-9 kalimatnya ini memiliki kesinambungan antara satu sama lain (sesuai konsep ring composition) dan saling merefleksikan.

Hubungan antara unit-unit merupakan salah satu identitas: istilah dan segmen memiliki makna yang sama, dan masing-masing segmen merespon atau sesuai dengan pasangannya.

Segmen pertama (A dan A’) memiliki tiga kata masing-masing. Keduanya menggunakan sinonim yang sesuai dengan sifat-sifat Allah (al-ḥayyu al-qayyūmu [saling] menanggapi dengan al-‘aliyyu al-‘aẓīmu). kedua segmen ini saling merefleksikan mengenai sifat-sifat Allah.

Segmen kedua (B dan B’) menyoroti peran Allah sebagai salah satu yang mempertahankan keberadaan alam semesta bahwa Allah tidak mengantuk (sinah) dan tidak tidur (naum) dan tidak merasa berat memelihara keduanya (yaitu langit dan bumi), karena apabila seseorang mengalami kelelahan maka ia akan mengantuk dan tidur. Hal ini meyoroti fungsi dari Rububiyah Allah. 

Paralelisme dari segmen ketiga (C, C’) mengacu pada kepemilikan dan kedaulatan Allah. Kosmologi terungkap dalam ungkapan langit dan bumi pada dua segmen ini yang merupakan bagian dari bentuk kedaulatan dan kepunyaan Allah (maalik (kepemilikan) dan malik (raja)). Segmen pertama menceritakan mengenai kepemilikan Allah (maalik) dan segmen kedua menceritakan kekuasaan Allah (malik). Sebagaimana kita ketahui, apabila kita memiliki sesuatu maka kita berkuasa atas sesuatu itu. Namun sebaliknya penguasa tidak mampu untuk memiliki sesuatu dalam hal tertentu, maksudnya bukankan presiden tidak berhak memiliki rumah yang kita miliki. Namun Allah memiliki maalik (kepemilikan) dan juga dia malik (raja).

Paralelisme dari segmen keempat (D, D‘) mengenai kehendak (freewill) Allah. Pada segmen pertama Allah menceritakan bahwa syafa'at atas izin dan kehendak Allah. Pada segmen ke-dua juga menceritakan bahwa ilmu pengetahuan (apalagi ilmu Allah) hanya diberikan atas kehendak-Nya. Sehingga kedua segmen ini saling berkorelasi menjelaskan perihal kehendak Allah.

Dan akhirnya yang paling unik pada segmen (E, E'). Allah berfirman; "Allah mengetahui apa-apa yang di depan mereka dan di belakang mereka.". Uniknya kalimat ini berada di tengah-tengah ayat sebagai seolah-olah pemisah anatara kedua kelompok segmen tadi.


Keempat topik utama ciri-ciri Tuhan ini, kuasa Allah, kedaulatan Allah, dan kehendak Allah – terpusat di satu ide sentral: pengetahuan Allah mencakup semua hal.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Friday, 27 October 2017

Keajaiban Komposisi Cincin Dalam Surat Al-Baqarah, Kehebatan Komposisi Ayat Al-Quran

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Al-Quran merupakan kitab yang secara strukturnya tidak sistematis secara pemberitaan isinya. Terkadang suatu topik dijelaskan secara terpotong-potong dan terbagi-bagi pada beberapa ayat dan surat tertentu. Berbeda dengan Bible yang strukturnya berurutan. Hal inilah yang menjadi bahan perbincangan dan juga senjata untuk menyerang ummat Muslim secara ideologi oleh para pendengki.

Namun dibalik "ketidak teraturan" ayat-ayat Al-Quran, dikit demi sedikit terkuak misteri dibaliknya. Hal diluar nalar dan tanpa sadar kita muncul secara perlahan untuk menjawab itu semua. Dan ternyata dibalik "kesemrawutan" susunannya, jika diteliti dan disaksikan secara seksama maka membentuk sebuah formasi yang unik ambuat siapapun terkagum.

Hal inilah yang akan kita bahas pada artikel ini, mengenai formasi susunan Al-Quran. Ustad Nauman Ali Khan menjelaskan ada dua model komposisi struktur dalam Al-Quran, yaitu komposisi paralel dan komposisi chiasmus atau ring compisotion (komposisi cincin).

Chiasmus (diucapkan kai-az-muhs; plural ‘chiasmi‘) kadang-kadang juga disebut sebagai “paralelisme terbalik”. Kali ini kata-katanya disajikan dan kemudian diulang dalam urutan terbalik – A B B A.

Contoh dalam Al Qur’an pada Al-An’am ayat 95:

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ

A : Dia mengeluarkan yang hidup
B : dari yang mati
B ‘: dan mengeluarkan yang mati
A’ : dari yang hidup.

Sementara itu, istilah ini tidak selalu digunakan secara konsisten, kata “chiasmus” sering digunakan pada skala kecil, seperti kalimat tingkat-klausul. Namun pada jumlah tulisan yang lebih besar, bahkan seluruh narasi atau seluruh buku, juga dapat merupakan struktur chiastic.

Jenis yang paling menarik dari struktur chiastic adalah komposisi cincin. Sebuah komposisi cincin (atau struktur cincin) adalah struktur chiastic di mana “Sebuah pusat menghubungkan sisi berlawanan dari paralelisme terbalik,”.

Mary‬ Douglas dalam bukunya “Thinking in Circles: An Essay on Ring Composition” menjelaskan bahwa dalam Ring composition adalah pola khas yang dapat digambarkan A, B, C, D, C’, B’, A’. Kaitan antara awal dan akhir tulisan terbagi dua dengan menempatkan cermin di tengah sehingga bagian kedua adalah cermin bagian pertama dengan urutan terbalik. Sedangkan makna intinya ada di pusat.

Baru-baru ini akademisi Al-Qur’an di Inggris dan Perancis telah mengamati bahwa seluruh surah dalam Al-Qur’an adalah komposisi cincin. Dan kali ini kita mencoba menelaah ring composition pada surat Al-Baqarah.

Surat Al-Baqarah merupakan surat kedua dalam posisi Al-Quran dan merupakan surat terpanjang dari surat-surat lainnya. Surat yang memiliki arti "sapi betina" ini merupakan termasuk dari bagian surat Makkiyah dan memiliki jumlah total 286 ayat. Dikenal juga sebagai ayat Zahrawain (dua bunga) bergandengan dengan Ali Imran.

Kandungan‬ al-Baqarah ternyata dapat dibagi menjadi 9 topik utama dengan komposisi sebagai berikut:

A : Keimanan dan Kekafiran (ayat 1 – 20).
B : Penciptaan dan pengetahuan (ayat 21 – 39).
C : Hukum untuk Bani Israil (ayat 40 – 103).
D : Ibrahim diuji (ayat 104 – 141).
E : Perubahan arah kiblat (ayat 142 – 152).
D’: Muslims diuji (ayat 153 – 177).
C’: Hukum untuk Muslim (ayat 178 – 253).
B’: Penciptaan dan pengetahuan (ayat 254 – 284).
A’: Keimanan dan kekafiran (ayat 285 – 286).

Jika diperhatikan, maka susunan surat Al-Baqarah ini membentuk sebuah komposisi atau formasi cincin A, B, C, D, E, D', C', B', A'. Dimana ayat 1-20 (A) memiliki korelasi dengan ayat 285-286 (A') menceritakan mengenai keimanan dan kekafiran. Ayat 21-39 (B) memiliki korelasi dengan ayat 254-284 (B') mengenai proses penciptaan dan pengetahuan. Ayat 40-103 (C) memiliki korelasi dengan ayat 178-253 (C') mengenai hukum bagi umat Israil dan Muslim. Ayat 104-141 (D) berkorelasi dengan ayat 153-177 (D') mengenai diuji oleh Allah. Dan ditengah-tengah ayat 142-152 menceritakan proses berputarnya arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Ka'bah.

Ayat pertengahan dari Al-Baqarah adalah ayat ke 143 (dari 286 ayat) yang berbunyi: 

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam); umat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Luar biasanya, ayat yang menceritakan ummat pertengahan ini berada di tengah-tengah surat Al-Baqarah.



Apabila diurutkan A-A', B-B', C-C', D-D' dan E maka akan membentuk cincin dengan E (ayat 142-152) di tengah-tengahnya. Sedangkan yang lain saling merefleksikan dan mengkorelasikan antar sesama.

Ke 9 bagian komposisi tersebut juga terdiri dari sub komposisi cincin. Sehingga dalam satu surat terdapat komposisi cincin dalam cincin.

Surah al-Baqarah ayat 255 yang disebut ‘Ayat Kursi’ adalah ayat terbaik yang perlu dihafalkan. Ayat ini menunjukkan susunan desain yang akurat sesuai prinsip ring composition; ketepatan strukturnya menempatkan tema kunci surat terdapat pada pusat surat. Pada postingan berikutnya akan kita bahas komposisi cincin pada ayat ini.

‎Struktur‬ Ring tidak hanya mengikat teks bersama tapi juga memberikan fokus kepada kita untuk memperhatikan kata dan tema penting yang terdapat di tengah yang menjadi pesan inti. Ring composition juga sebagai alat bantu untuk menghafal surat al baqarah yang panjang.

‎Ring‬ composition memberikan estetika sekaligus fungsi yang membantu kita menghapal dengan bahasa syair yang memudahkan kita mengingat sesuai formula dasar.

Sehingga jelas, bahwa struktur Al-Quran bukan semata-mata semrawut yang kita kita. Ada nilai estetika yang unik dan berbeda dengan kitab lain. Bagaimana bisa ini terjadi, tentu jelas ini bukan kerjaan manusia apalagi Nabi Muhammad dikenal tidak bisa membaca dan menulis apalagi ahli dalam bidang sastra.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Thursday, 26 October 2017

Menjawab Kesalahan Al-Quran Pada surat Asy-Syu'ara & Kehebatan Linguistik Al-Quran

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Hanya ilustrasi, foto: crisismagazine.com
Masih dalam pembahasan Ijaz Al-Qurani dalam hal kehebatan Linguistik Al-Quran. Pada kesempatan ini kita mencoba menjawab sebuah tuduhan yang dilayangkan kepada Al-Quran oleh kaum-kaum pendengki. Mereka selalu mencoba mencari-cari kesalahan dalam Al-Quran untuk dijadikan bahan olok-olokan.

Pada dasarnya pertanyaan yang diajukan adalah bentuk dari kurangnya mengerti dalam memahami Al-Quran. Akhirnya, selain kita mencoba menjawab tuduhan-tuduhan itu kita juga sembari mentadabburi Al-Quran dan mengenal sisi kekaguman darinya.

Pertanyaan yang diajukan adalah mengenai ayat-ayat yang terdapat dalam surat Asy-Syu'ara. Tepatnya pada ayat ke 105, 160, 123, 141, 176 yang artinya sebagai berikut:

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 105)

Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 160)

Kaum 'Aad telah mendustakan para rasul. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 123)

Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 141)

Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 176)

Pada ayat-ayat diatas disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh dan Luth telah mendustakan para rasul. Kaum 'Aad, Tsamud dan Aikah telah mendustakan para Rasul.

Muncul pertanyaan, kenapa kaum Nabi Nuh dan Luth disebutkan sebagai mendustakan para rasul? bukankah kedua ummat ini diutus kepada mereka masing-masing satu Rasul yaitu Nuh dan Luth?. Kenapa kaum 'Aad, Tsamud dan Aikah telah disebutkan sebagai mendustakan para Rasul?. Bukankah untuk kaum 'Aad hanya diutus satu Rasul yaitu nabi Hud, Tsamud diutus kepada mereka satu rasul yaitu nabi Shalih, dan Aikah pada mereka diutus satu rasul yaitu nabi Syu'aib?. Lalu kenapa Al-Quran menyebutnya dengan lafadz "para rasul atau rasul-rasul" yang konotasinya jamak (lebih satu)?.

Banyak yang menggunakan pertanyaan menjebak ini sebagai senjata ampuh untuk menyerng Al-Quran. Namun Al-Quran tidak selemah itu, ia hadir dengan segudang keajaiban.

Jawabannya sangat sederhana. Sebelumnya harus kita fahami dahulu bahwa ke-25 Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah adalah menyeru kepada aqidah yang sama yaitu mentauhidkan Allah. Baik itu  Nuh, Lusth, Syu'aib, Shalih dan Hud kesemuanya diutus dalam misi yang sama yaitu mentauhidkan Allah.

Dengan begitu boleh difahami bahwa penyebutan mendustakan para rasul disini adalah mendustakan dalam hal penyampaian misinya (mentauhidkan Allah). Maka ajaran semua Nabi adalah sama, berarti mendustakan satu Nabi dan Rasul saja sama dengan mendustakan semua rasul. Dalam hal ini Allah hendak menjelaskan bahwa semua mereka itu adalah sama dan menyeru pada ajaran aqidah yang sama. Jikalau mendustakan Nabi Nuh, maka itu sama dengan juga mendustakan Nabi Luth, Syu'aib, Shalih maupun Hud. Artinya ummat-ummat ini baik dia hidup dizamannya Nabi Luth, Syu'aib, Shalih maupun Hud mereka tetapakan mendustakan rasulnya, terserah siapapun Rasul itu sendiri.

Allah berfirman :
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. An-Nisaa’ : 163)
Dari sini kita boleh faham bahwa lafadz yang dimaksud bukan sebuah kesilapan, dan juga sulit apabila dikatakan sebuah kesilapan karena tidak hanya disebutkan satu ayat saja melainkan sampai 5 ayat disebutkan hal yang sama. Artinya, apa mungkin kesilapan dapat berulang berkali-kali jika bukan dikarenakan sengaja?

Inilah salah satu sisi kemu'jizatan Al-Quran dalam segi kehebatan kebahasaanya. Jikapun nantinya kita menjumpai "kesilapan" yang kita anggap, jangan dulu salahkan Al-Qurannya tapi salahkan dahulu ilmu kita yang belum sampai kesana. Makanya coba peka siki untuk memahami Al-Quran, karena Al-Quran ingin dimengerti.

Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tuesday, 31 May 2016

Ternyata Mushaf Quran Standar Internasional Ditulis Dengan Tangan & Bukan Diketik

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.


Jika ada kerabat kamu atau orang terdekat kamu pulang dari Haji, biasanya oleh-oleh yang tidak ketinggalan adalah Mushaf Quran. Ciri khasnya secara umum berwarna hitam atau biru atau hijau kehitaman dengan ornamen dan nama Al-Quran yang serupa. Mushaf ini merupakan mushaf standar internasional atau disebut dengan Mushaf Madinah.

Bahkan sekarang ini jika kamu mendownload mushaf Quran berupa software dan apps dari smartphone umunya memakai jenis tulisan yang sama. Yaitu memakai standar mushaf internasional atau mushaf madinah. Artinya dalam penempatan halaman sama semua dengan versi aslinya.

Tahukah kamu, mushaf madinah yang ditulis begitu rapi dan indah itu ternyata bukan dari hasil tulisan ketik komputer, melainkan murni tulisan tangan.

Ya mungkin kamu terkejut, bagaimana mungkin tulisan yang rapi dan indah itu dengan halaman ratusan itu ditulis dengan tangan. Saya sendiri sebagai mahasiwa dari Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir merasa kagum dan merinding setelah mengetahui fakta ini. Amazing, luar biasa dan tidak kebayang sebelumnya. Keindahan tulisan itu tidak menyangka bahwa itu tulisan tangan dan bukan ketikan komputer.

Syaikh Sedang Tahapan Penulisan
Penulisnya bernama Syaikh Utsman Husain Thaha, seorang kelahiran Aleppo, Suriah 1934 M. Beliau pertama kali menulis mushaf pada tahun 1970. Lalu pada tahun 1988, saat berkunjung ke Saudi, beliau ditunjuk sebagai penulis mushaf yang akan dijadikan mushaf standar. Beliau kemudian menulisnya di Madinah.

Untuk menulis satu mushaf, beliau membutuhkan waktu kurang lebih 3 tahun. Dan dalam kurun waktu 30 tahun beliau telah menyelesaikan 10 jenis mushaf dalam riwayat yang berbeda.

Ayah beliau bernama Syaikh Abduh Husain Thaha, seorang imam dan khatib, juga ahli khath (kaligrafi) yang ternama di Aleppo. Utsman Thaha mempelajari dasar-dasar ilmu khath dari ayahnya yang menekuni khath riq’ah.

Beliau mempelajari ilmu khath langsung kepada para masyayikh di Kampus Syari’ah Al Khasrawiyyah di Aleppo setelah menamatkan pendidikan dasarnya, gurunya antara lain: Muhammad Ali Al Maulawi, Muhammad Al Khathib, Husain Husni At Turki, serta Al Khatthath Syaikh Abdul Jawwad. Terakhir beliau juga belajar kepada Prof. Ibrahim Ar Rifa’i seorang ahli khath di Aleppo.

Utsman Thaha melanjutkan studi beliau ke Universitas Damaskus. Di sana beliau mendapatkan gelar license (Lc.) dari Fakultas Syari’ah pada tahun 1964 (1383 H) dan gelar diploma dari Fakultas Tarbiyah pada tahun 1965 (1384 H).

Beliau berkenalan dengan Prof. Muhammad Badawi Ad Dirani, seorang ahli khath di Syam ketika di Damaskus dan mendalami khath farisi serta khath tsuluts dari tahun 1960-1967. Kemudian, masih di Damaskus, Utsman Thaha juga mendalami khath tsuluts dan khath nasakh pada Prof. Hasyim Muhammad Al Baghdadi, seorang ahli khath dari Irak.

Pada tahun 1973 (1392 H), Utsman Thaha mendapatkan sertifikat bidang khath dari guru besar ilmu khath tingkat dunia, yakni Syaikh Hamid Al Amidi. Dari sinilah beliau mulai dikenal luas secara internasional, dan para pakar mengakui keahlian beliau dalam bidang ilmu khath. Maka, sejak tahun 1988 (1408 H), beliau ditunjuk sebagai anggota tim juri Lomba Kaligrafi Internasional di Istanbul-Turki yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

Dalam melengkapi keilmuannya di bidang khath, Utsman Thaha mempelajari serta memperdalam ilmu desain kaligrafi dan dekorasi dari Prof. Sami Burhan serta Prof. Na’im Isma’il yang terkenal pakar di bidang ini. Ini semakin mengasah kemampuan beliau, dan memantapkan beliau sebagai ulama pakar khath tingkat dunia yang telah diakui keahliannya oleh ulama secara internasional.

Rupanya hal ini pulalah yang telah menarik perhatian Kerajaan Saudi Arabia. Karena di tahun yang sama (1988), beliau ditunjuk sebagai penulis resmi di Komplek Percetakan Al Qur’an Raja Fahd di Madinah. Sebenarnya Utsman Thaha telah menulis Mushaf pertama kali pada tahun 1980 untuk Kementerian Wakaf Syria. Kemudian menulis satu mushaf lain dengan riwayat Hafs untuk penerbit Darus Syamiyah.

Komplek Percetakan Al Qur’an Raja Fahd (Mujjama’ al Malik Fahd Lithiba’atil Mushaf As Syarif atau King Fahd Glorious Quran Printing Complex (KFGQPC)) didirikan oleh Kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1982 (1403 H) di Madinah, dan merupakan percetakan Al Qur’an terbesar di dunia. Komplek percetakan tersebut mengerjakan proyek yang sangat besar, yakni melakukan standarisasi Al Qur’an untuk Umat Islam di seluruh dunia.

Komplek Percetakan dibangun di atas tanah yang luasnya ratusan hektar dan mempekerjakan ribuan karyawan profesional yang ahli di bidangnya. Percetakan tersebut telah mencetak jutaan Al Qur’an yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Semuanya dibagikan secara gratis. Komplek Percetakan Al Qur’an Raja Fahd telah mengeluarkan dana yang sangat besar untuk proyek standarisasi tersebut. Di sanalah Utsman Thaha terlibat sebagai penulis utama Mushaf Madinah.

Mushaf rasm Utsmani adalah standar penulisan mushaf Al-Quran yang diseragamkan pada masa Kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhu. Penulisan ini berkaitan dengan masalah itsbat-hadzf, maqthu-maushul, ta’aat, dan lainnya.

Adapun khat atau font yang digunakan secara resmi sebagai standar penulisan mushaf modern adalah Khat Utsman Thaha, jenis khat yang diambil dari nama penulisnya dikarenakan tulisannya berbeda dengan khat yang lain. Pada mushaf kuno rasm Utsmani sendiri memakai khat Kufi dalam penulisannya. Dimana Tanpa titik dan motif apa pun yang menjadi ciri khas penulisan Alquran pada masa Utsmani. Tak heran bila ukurannya tebal dan lebar. Terdiri dari 1.087 lembar halaman dengan ukuran 57x68 cm dan 12 baris untuk tiap halamannya. Beratnya sekitar 80 kg, mushaf ini dapat dilihat di Museum el-Huseini, Kairo, Mesir, diklaim sebagai satu dari tujuh salinan mushaf yang dikeluarkan oleh Utsman bin Affan, menyusul peristiwa kodifikasi Alquran pada abad ke-7 M.

Beliau juga bertutur bahwa ia tidak menulis Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Selama menulis beliau tidak banyak bergaul dengan orang-orang agar pikiran terjaga dan selalu jernih sehingga tidak terjatuh pada kesalahan. Menurut beliau kesalahan dalam Al-Qur’an tidak dapat diterima oleh alasan apapun.

Dalam sebuah wawancara, beliau ditanya bagaimana perasaan beliau ketika menulis mushaf, “… Adapun perasaan saya ketika menulis, saya melihat diri saya berada dalam dunia ayat-ayat yang mulia yang mana saya mengutip dari ayat-ayat itu sebuah ilmu dan meningkatkan spiritual saya. Sebuah dunia yang bukan dunia manusia yang disibukkan oleh kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat yang memberi kabar gembira dan ayat-ayat yang memberi peringatan. Kisah-kisah yang menarik dan indah seperti kisah-kisah para nabi yang mulia dan kisah kaum-kaum masa lalu.” ungkapnya.

Beliau melanjutkan, “Saya tidak terasa oleh perjalanan waktu dan saya tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekeliling saya. Ayat-ayat Al-Qur’an menguasai saya. Saya tenggelam dalam alam cahaya dan nurani; tak tertipu oleh dunia dan saya berbekal untuk akhirat saya. Saya berbuat amal-amal shalih agar dapat mencapai Surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa (dengan rahmat Allah dan ampunan-Nya). Dan saya menjauhi setiap apa yang membawa saya pada neraka (naudzu billahi). Di dalamnya ada perasaan takut dan harapan. Saya senantiasa berdoa kepada Allah agar menjadikan pekerjaan saya ikhlas karena Allah semata.”

Mushaf Madinah yang dikerjakan oleh Utsman Thaha memiliki karakteristik tersendiri, yang membedakannya dari mushaf yang lain. Di antara perbedaan tersebut adalah:

  1. Penulisan Mushaf secara lengkap telah dilakukan lebih dari sepuluh kali, semuanya dalam rasm Utsmani, untuk menghasilkan karya yang terbaik. Sebagian besar versi Mushaf Madinah ini  telah dicetak dan tersebar di seluruh dunia Islam.
  2. Mengkomparasikan khath versi standar akademis dengan gaya klasik dalam berbagai versinya, sehingga melahirkan gaya baru yang berbeda dari penulisan Al Qur’an pada umumnya, seperti misalnya:
    • Menghindari cara penulisan huruf yang terlalu bertumpuk, sehingga terjaga dari kerumitan dalam pembacaan serta terhindar dari penyimpangan kaidah penulisan yang benar.
    • Meniadakan penggunaan variasi dari pola-pola huruf tertentu untuk menghindari kerancuan antara satu huruf dengan huruf lain yang mirip cara penulisannya, seperti: bentuk “ha besar yang terbuka”, bentuk “mim kecil yang tertutup” dengan berbagai ragamnya, bentuk “ra’ yang panjang melengkung”, dan lain-lain.
    • Menggunakan pola penulisan huruf yang melebar dari satu huruf ke huruf selanjutnya, agar penulisan harakat pada setiap huruf tampak jelas dan tidak bertumpuk. Pola ini digunakan dalam khath Kufi yang menjadi standar penulisan Al Qur’an di jaman para sahabat dahulu.
    • Memiliki standar baris pada tiap halaman yang tidak dimiliki oleh mushaf yang lain, sehingga terdapat keseragaman dalam setiap juznya. Aturannya adalah: Satu juz selalu terdiri dari 20 halaman (kacuali juz 30 yang terdiri dari 23 halaman) dan satu halaman selalu terdiri dari 15 baris. Akhir halaman juga selalu akhir ayat atau akhir surat.
    • Dikaji ulang secara teliti oleh para ‘ulama tingkat dunia yang pakar dalam bidang Al Qur’an dan dibentuk menjadi tim khusus, sehingga penulisannya sempurna dan dapat dipertanggungjawabkan.

Mushaf Madinah ini selain telah dibagikan secara percuma, kini juga hadir dalam bentuk software digital yang langsung dibuat oleh King Fahd Glorious Quran Printing Complex (KFGQPC) dengan nama Mushaf Madinah An-Nabawiyah maupun software yang dibuat oleh King Saud University dengan nama Ayat.

Beliau juga menulis mushaf dengan riwayat Qalun dimana telah dievaluasi dan siap untuk dicetak. Sebelumnya Utsman telah menulis sebuah mushaf dengan riwayat Ad-Dury dan telah dicetak serta didistribusikan atas pertolongan Allah. Kemudian beliau ikuti dengan penulisan mushaf-mushaf hingga jumlahnya lebih dari sepuluh mushaf hingga sekarang. Satu mushaf yang beliau tulis menghabiskan waktu sekitar dua setengah tahun dengan evaluasi (tashih) terus menerus yang menyertai penulisan.

Maha Suci Allaah yang mengumpulkan dua Utsman pada satu mushaf. Ya, mushaf kita ditulis berdasarkan rasm Utsmani dan Khat Utsman Thaha.

Ketika beliau ditanya tidak mungkinkah komputer menggantikan penulisan dengan tangan? Beliau menjawab, “Komputer adalah sebuah alat yang menakjubkan dan sebuah penemuan raksasa yang diperlukan oleh setiap insan terpelajar. Komputer pada hakekatnya adalah mukjizat abad keduapuluh. Sebuah alat bening bagai cermin yang dapat memantulkan apa yang diletakkan di dalamnya. Namun kita tidak dapat mengatakan bahwa komputer dapat menggantikan penulis khat. Karena penulis khat adalah orang yang berkreasi. Sebagaimana komputer mengandalkan pada penyusunan huruf-huruf, sedangkan penyusunan huruf-huruf itu mengandalkan kaligrafi horizontal. Dan kesemua ini mengurangi keindahan khat. Cara terbaik bagi penulisan Al-Qur’an adalah dengan tulisan tangan. Karena ia kuat, teratur, memiliki daya tarik, bagus, keindahan yang selalu dibutuhkan.”

Perhatikanlah bentuk tulisan pada mushaf Madinah, maka kamu akan melihat dengan jelas adanya sedikit perbedaan antara huruf yang satu dengan yang lainnya, antara harakat atau tanda baca yang satu dengan yang lainnya. Ini menunjukkan bahwasanya mushaf tersebut ditulis dengan tulisan tangan, bukan hasil tik komputer. Luar biasa ya, amal jariyyah yang kekal hingga akhir zaman.


Sumber http://www.zulfanafdhilla.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.