Tahun 2009.
Dunia maya masih seperti kota kecil yang baru tumbuh. Tidak banyak orang yang berkeliaran di dalamnya, tetapi mereka yang ada di sana membawa pikiran yang tajam dan keberanian untuk berbicara.
Aku memasuki ruang itu lewat Facebook.
Awalnya hanya sebuah tulisan pendek—sebuah pendapat tentang kehidupan, tentang masyarakat, tentang sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.
Namun ternyata tulisan itu seperti batu kecil yang jatuh ke dalam danau.
Gelombangnya melebar.
Satu komentar datang, lalu dua, lalu sepuluh.
Sebagian setuju.
Sebagian lain menolak dengan kata-kata yang keras.
Di antara semua komentar itu, ada satu nama yang selalu muncul.
Seorang penulis yang tajam. Kalimat-kalimatnya teratur seperti pasukan yang rapi.
Ia membantah tulisanku.
Aku membaca dengan hati yang berdebar.
Bukan marah, tetapi tertantang.
Malam itu aku menulis balasan.
Kata demi kata kususun seperti menyusun batu-batu argumen.
Sejak saat itu, setiap tulisan menjadi duel gagasan.
Pertarungan itu tidak berhenti di sana.
Kami berpindah ke Kaskus, tempat forum-forum ramai dengan diskusi panjang.
Di sana, thread kami menjadi semakin panjang.
Orang-orang dari berbagai latar belakang ikut masuk: mahasiswa, aktivis, bahkan mereka yang mengaku akademisi.
Sebagian menyemangati.
Sebagian menertawakan.
Sebagian lagi mencoba menjadi penengah.
Namun duel kami terus berlanjut.
Kadang ia menyerang argumenku dengan logika yang dingin.
Kadang aku menjawab dengan kalimat yang lebih tajam.
Aneh sekali.
Semakin keras perdebatan itu, semakin aku merasa menghargainya.
Seolah-olah kami adalah dua orang petarung di arena yang sama,
yang saling menguji kekuatan pikiran.
Perjalanan itu akhirnya membawa kami ke Kompasiana.
Di sana, pertarungan berubah menjadi tulisan panjang.
Artikel demi artikel muncul seperti bab-bab dalam sebuah buku yang tak pernah selesai.
Kadang ia memuji satu bagian dari tulisanku.
Kadang aku mengakui satu argumennya yang kuat.
Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang diam-diam tumbuh:
rasa hormat.
Suatu malam aku menatap layar komputer yang redup.
Komentar masih berdatangan.
Aku tersenyum kecil.
Betapa anehnya dunia ini.
Kami tidak pernah bertemu.
Tidak pernah berjabat tangan.
Bahkan mungkin tidak pernah tahu wajah satu sama lain.
Namun lewat kata-kata,
kami telah saling mengenal cara berpikir, keberanian, dan batas-batas keyakinan.
Di dunia nyata mungkin kami hanya orang biasa.
Tetapi di dunia tulisan itu,
kami pernah menjadi petarung gagasan yang menjaga api diskusi tetap hidup.
Dan hingga hari ini, ketika aku mengingat masa itu,
aku tahu satu hal:
Di langit maya yang sederhana pada tahun 2009,
kami pernah membuat kata-kata hidup seperti api.







0 comments:
Post a Comment